AB Style : Bitter Sweet Coffee [Last Taste]

Bitter Sweet Coffee

 

Writer:  hellospringbreeze

Huang Zitao (EXO) & Park Jiyoung (OC) | Romance | 2.744words

Please read Park Ji Young’s Profile first

Lovely Song: Unkiss Me – Maroon 5

.

We fall in love and end up getting hurt.

Ini malam kedua Ji Young dimana ia hanya bisa menatap nanar langit-langit kamar. Menahan setiap air mata yang hampir jatuh dan mengingat setiap perkataan Il Soo beberapa hari lalu, kata-kata yang membuat Ji Young mati rasa. Ia hanya tersenyum, meski hatinya berteriak pada Il Soo, ia tak ingin kembali ke Thailand dan meninggalkan semua kehidupan Korea-nya.

Meninggalkan semua hal yang membuatnya terbiasa dan nyaris membuat hidup menjadi sempurna.

Terutama meninggalkan sebuah nama yang selalu membuatnya penuh tawa bahagia.

Huang Zi Tao.

——88——-

Ji Young mengerjapkan mata, lalu menatap tirai putih yang terayun perlahan oleh angin laut, suara ombak terdengar samar ditelinganya. Butuh beberapa saat untuk sadar sedang apa dan dimana ia sekarang. Dengan sisa-sisa nyawa yang telah kembali pada tubuhnya, ia mengetuk layar ponsel yang ada di samping kepalanya, sudah pukul sembilan pagi rupanya.

Gadis itu mengeliat merenggangkan otot-ototnya sampai ia merasa lega. Ketika berniat untuk beranjak dari tidur, Ji Young baru menyadari bahwa ada satu lengan kaku yang melingkari tubuhnya. Mendapati dirinya yang masih ada dalam dekapan Zi Tao, gadis ini menepuk dahinya pelan, ia merasa begitu bodoh.

Sangat bodoh, semalam pasti ia merengek tak karuan dan menangis tak berkesudahan. Entah mengapa, Ji Young merasa malu untuk mengingat apa yang ia lakukan semalam. Ya setidaknya apa yang ia lakukan semalam bisa membuat Tao tetap tidur di sampingnya dan mendekapnya sepanjang malam. Meski Ji Young tahu ini tak akan terulang, Ji Young merasa begitu— ah rasa yang tak bisa dikatakan karna ia terlalu malu bahkan hanya untuk memikirkannya.

Jangan bilang jika aku bicara hal-hal yang menjijikan semalam.

Batin Ji Young terus menyalahi dirinya sendiri. Semalam ia terlalu hanyut dalam suasana hati sehingga membiarkan kata-kata meluncur begitu saja dari mulutnya. Ji Young bahkan tak ingat apa saja yang telah ia katakan semalam, yang ia tahu hanya matanya bengkak hebat tanda ia menangis semalaman suntuk.

Perlahan Ji Young melepaskan pelukan Zi Tao, merangkak dengan sangat hati-hati sampai ia turun dari tempat tidur. Ia menguap kemudian duduk di bangku dekat jendela kamar. Ia tahu seharusnya mereka bangun sangat pagi hari ini, berkendara seharian hingga malam nanti mereka akan kembali ke Seoul.

Tapi, siapa yang peduli?

Ji Young tak peduli jika mereka akan terlambat kembali ke Seoul, jika bisa ia bahkan tak ingin kembali kesana. Ia tak akan membangunkan Tao dari tidur nyenyaknya, dan tak akan mengeluarkan bunyi berisik agar laki-laki itu tetap terperangkap di alam mimpinya.

Ji Young memejamkan matanya, membiarkan rambut panjangnya tertiup angin, aroma laut yang begitu asin membuatnya tersenyum. Entah darimana, hari ini dia seolah-olah punya semangat yang baru.

Orangtuaku bukan hakim bagi kita.

——88——-

Gadis itu mempererat pelukannya di pinggang Tao. Wanita mana yang tak takut saat berada di atas motor dengan kecepatan melebihi 100 cc? Tao bahkan sampai lupa jika saat ini Ji Young masih berada di belakangnya, ia terlalu marah pada dirinya sendiri. Bangun terlambat dan kini harus mengejar jam-jam yang terbuang begitu saja. Setelah berkali-kali menahan dirinya sendiri, kini Tao mengurangi kecepatannya. Ini bukan salah Ji Young yang tak membangunkannya. Ji Young memang tak ingin kembali ke Seoul, bukan? Sama seperti keinginan mendasar di lubuk hatinya.

Tao merasa telapak tangannya sudah sangat pegal akibat terlalu lama menahan gas motornya. Kalau boleh jujur, Tao ingin sekali kembali ke tempat tidurnya, tapi ia harus menepati janjinya pada Il Soo untuk membawa Ji Young pulang malam ini.

Sudah lima jam berlalu dengan suara motor yang begitu mengganggu telinga. Mereka sudah bosan melihat jalanan yang tak kunjung putus, melihat begitu banyak tebing yang mereka lewati, melihat begitu banyak kendaraan yang hilir mudik entah dari mana dan akan kemana. Ji Young bahkan tak pernah merasa begitu bosan dengan perjalanan yang panjang, tapi kali ini ia benar-benar ingin segera sampai di Seoul—hanya karna ia bosan, bukan karna ia ingin bertemu Il Soo. Selama di perjalanan Ji Young hanya bisa menyandarkan wajahnya di punggung Tao yang terbalut oleh jaket kulit berwarna coklat, melihat jalanan yang mereka tinggalkan begitu saja. Ia tak ingin memikirkan apa yang akan ia hadapi setelah ini, ia hanya ingin menyibukan diri dengan mengagumi Zi Tao.

“Apa kau lelah?” Ji Young akhirnya bisa benar-benar berbicara setelah berjam-jam hanya begumam tak jelas dengan lagu favorit-nya.

Hm?” Ia tahu jika Tao tak akan meresponnya lebih, Tao bahkan terlalu serius hingga lupa jika saat ini Ji Young belum bisa merenggangkan tangannya di pinggang Tao.

“Aku tak ingin kembali, ge,” Tao tak menjawabnya. Ia bahkan tak menunjukan gerak tubuh sedikit pun.

Ji Young merasakan kecepatan motor semakin berkurang. Tao menghentikan motornya di sisi jalan yang berseberangan dengan ladang gandum. Ji Young turun lalu merenggangkan otot-ototnya.

“Haus?” ujar Tao sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya yang begitu pegal.

Ji Young sedang tak bersemangat untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki yang sedari tadi tak menjawab perkataannya, ia hanya menggeleng samar. Gadis itu tidak lagi merasa kaget atau bahkan risih saat Tao mengeluarkan sekotak cigar dari saku jaketnya. Ia hanya memainkan sepatu bertalinya di pasir yang ada di pinggir jalan, baginya itu lebih menarik dari pada menatap Tao yang begitu membosankan hari ini.

“Kau lelah Meiliji?”

“Tidak.”

“Bagaimana jika kita beristirahat sejenak.”

‘Terserah saja,” jawab Ji Young acuh sambil menatap langit sore di perbatasan kota.

Kini ia mulai melangkah ke arah kanan, menjauhi Zi Tao dan asap cigarnya. Menyadari itu, Tao segera menghisap cigarnya dalam, lalu membuangnya ke tanah dan membiarkan sepatu bootnya memadamkan sisa api disana.

“Kau marah? Aku sangat lelah, kau tahu?”

“Aku tak peduli, karna kau juga tak peduli,” Ji Young belum pernah menampilkan ekspresi begitu menyebalkan sebelumnya.

“Oh ya, sekarang aku harus mengembalikan seorang gadis ke Seoul dengan perjalanan lebih dari enam jam, mengendarai motor sport yang begitu berat, jika tidak maka aku akan dicaci-maki oleh Park Il Soo, dan kau tahu wanita yang kubawa pulang kembali ini pun bahkan tak peduli denganku!” Tao kini menaikkan nada bicaranya, ia menatap Ji Young dalam, ia hanya ingin Ji Young mengerti.

“Oh bagiku sangat pantas jika ia tak peduli pada laki-laki yang juga tak memperdulikannya,”

“Jika aku tak peduli, aku pasti tak akan rela mengendarai motor besar ini sampai disini!”

“Kalau begitu tinggalkan saja aku, aku bisa kembali sendiri! Tanpamu!” Ji Young bicara penuh penekanan, lalu berjalan meninggalkan Zi Tao di belakangnya.

“Jangan bodoh!”

“Aku memang bodoh, dan kau jauh lebih bodoh karna ingin membuat wanita sepertiku bahagia!” Ji Young menoleh ke belakang, melihat Zi Tao yang kini tinggal berjarak beberapa langkah saja di belakangnya. “Kau begitu bodoh membawaku sejauh ini, kau tinggalkan aku begitu banyak hal yang tak akan mungkin bisa aku lupakan, kau buat aku semakin sulit meninggalkan semua ini, tapi kau biarkan aku pergi begitu saja! Kau bodoh! Manusia paling bodoh yang pernah aku temui!” Kini Ji Young membuat Tao tertegun, ini puncak dari rasa lelah mereka.

“Kau bodoh karna tetap mencintai laki-laki brengsek sepertiku,” kini mereka berdua terdiam untuk waktu yang lama, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Ji Young terpaku melihat Zi Tao, masih jelas di ingatannya bagaimana ia jatuh cinta dengan laki-laki ini, laki-laki dengan garis wajah yang tegas, yang kini menatapnya dalam dengan mata yang begitu lelah, sangat lelah. Ji Young menelusuri manusia yang sedang ada di hadapannya saat ini. Rambut hitamnya yang tertiup angin, wajah yang selalu membuat hatinya berdegup kencang di awal pertemuan mereka. Ji Young tahu, sampai saat ini pun Huang Zi Tao selalu membuatnya jatuh cinta.

“Kau lihat itu?” Ji Young menunjuk kebelakang Zi Tao, membuat laki-laki itu menoleh dengan segera.

Seoul, South Korea

57 km

“Kita hanya punya sisa waktu satu setengah jam lagi, dan aku mengacaukannya semuanya,” Ji Young tersenyum kaku.

Maaf.

Ji Young tak bisa mengatakannya saat ini, di saat seperti ini entah mengapa lidahnya begitu kelu untuk mengucapkan kata, maaf. Tak ada lagi kata yang bisa Tao katakan, ia hanya pergi medekati Ji Young lalu memeluknya.

Tao tak butuh kata maaf, ia hanya butuh Ji Young.

——88——-

Kini mereka sampai di depan sebuah restoran china di Seoul. Tubuh mereka sudah sangat pegal dan lelah. Tao menggenggam tangan Ji Young kemudian melangkah masuk kedalam restoran. Tak lama, Tao melepaskan tangan Ji Young agar menjauh dari tangannya, Ji Young hanya menatap heran Tao yang tersenyum manis. Lalu laki-laki itu memasukan kedua telapak tangannya di saku jaket.

Ji Young tak tahu jika di balik saku jaket kulit berwarna coklat itu tangan Tao bergetar hebat, bukan karna lelah dengan gas motor sportnya.

Zi Tao ketakutan.

Mereka menaiki mesin elevator menuju lantai lima, pergi kesudut restoran tempat dimana teman-teman China Line Tao telah menunggu mereka berdua. Ji Young tak pernah bertemu orang-orang ini sebelumnya, kecuali tiga member EXO, Victoria, Amber, Zhoumi, Henry, dan Zhang Liyin yang sering ia temui di SM building.

Mereka mengenakan pakaian yang begitu rapi, membuat Ji Young sempat membuang mukanya saat berjalan kearah mereka. Gadis ini bisa saja marah dengan Zi Tao karna tak memberi tahunya yang akan dibawa menemui teman-temannya terlebih dahulu.

“Halo selamat datang!” Amber berteriak membuat semua member China Line menoleh kearah mereka.

Zi Tao maju beberapa langkah meninggalkan Ji Young di belakangnya. Good, lihat betapa kesalnya Ji Young saat Tao meninggalkannya di tengah orang-orang yang tak ia kenal baik. Ji Young bukan tipe anak perempuan yang mudah bergaul, dan Tao tahu itu. Tapi mengapa kini ia membiarkan Ji Young mematung di belakangnya yang sibuk berpelukan dengan teman-temannya, belum lagi Tao yang mencium pipi kanan Ji Ah.

Ji Young mengambil napas dalam, mungkin karna Ji Ah adalah leader China Line pikirnya.

Mereka menggunakan bahasa yang Ji Young tak mengerti, ia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan yang pasti saat ini semua teman-teman Tao meliriknya heran lalu segera mengabaikannya. Tao bahkan lupa saat ini Ji Young masih berdiri tegak beberapa meter dari meja mereka. Ia tak sempat memperhatikan Ji Young, dan kini sibuk tak memperdulikannya.

Gadis itu hanya bisa menatap sepatunya, entah mengapa sekarang ia malah ingin menangis. Ia sudah sangat lelah, belum lagi ini hari terakhirnya bisa bertemu Tao. Dan sekarang ia punya alasan yang kuat untuk menangis, karna Tao mengabaikannya juga mencium wanita lain dihadapannya.

Ji Young terkesiap merasakan satu tangan yang menyentuhnya intim, mendorongnya perlahan kearah sofa, kemudian mempersilahkannya duduk.

Kris.

Oh ya, sekarang Ji Young punya alasan untuk tersenyum. Karna paling tidak Kris sadar akan keberadaan Ji Young.  Kris duduk di sampingnya, namun tetap tak mengatakan apapun. Ia hanya menegak beberapa gelas minuman yang entah apa, tapi Ji Young tak ingin ikut menelannya.

Ji Young melepaskan pandangannya dari wajah Kris yang kini berubah merah padam, kemudian mengernyit. Kini Ji Young yakin itu bukan minuman yang baik untuk dia minum. Ia mengalihkan pandangannya pada sofa berwarna maroon di arah jam dua, Tao dan Ji Ah. Entah mengapa, malam ini Ji Young begitu sensitif, tak biasanya ia cepat merasa cemburu.

Ji Young hanya bisa mengalihkan pandangannya menuju luar jendela, menatap city light yang begitu menakjubkan. Tak begitu lama, Ji Young mulai bosan dengan semuanya, ia mengeluarkan ponselnya yang baru hari ini ia aktifkan kembali. Ada sekitar 50 pesan yang masuk dari Il Soo namun ia mengabaikannya. Ji Young menulis pesan singkat yang akan ia kirim pada Zi Tao.

Aku bosan..

Ji Young mengalihkan pandangannya pada Zi Tao, namun tak ada respon sama sekali, Tao bahkan tak menyentuh ponselnya sedikit pun. Ji Young kemudian mencoba lagi.

Zi Tao aku bosan!

.

.

Namun, hasilnya nihil, Zi Tao tak menyentuh ponselnya sedikit pun. Ia malah sibuk tertawa bersama Ji Ah, sungguh mereka berdua bertingkah seolah hanya ada mereka disini. Zi Tao bahkan mulai menghisap cigarnya lagi, belum lagi Ji Young sempat melihat Tao menegak beberapa gelas minuman yang sama dengan yang Kris minum tak berapa lama sebelum ini.

Ji Young sangat marah kali ini, ia muak dengan semua tingkah Tao. Ia bisa saja berdiri kemudian menarik lengan Zi Tao, tapi ia bukan tipe wanita seperti itu.

Ji Young menekan speed dial untuk menelpon Zi Tao, ia betul-betul berharap kali ini laki-laki itu akan meresponnya, kini mata Ji Young tak lepas dari Tao. Setelah menunggu beberapa lama, dengan nada sambung yang terdengar begitu menyebalkan, akhirnya Tao mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia sempat menatap lama nama yang tertera disana.

Merasa perbincangan mereka putus di tengah jalan, Ji Ah menarik ponsel itu dari tangan Zi Tao dan meletakannya ke atas meja.

.

.

Seharusnya Tao tetap mengangkat telpon itu, atau paling tidak menoleh kearah Ji Young. Tapi ia seolah-oleh lupa dan acuh lalu kembali menatap Ji Ah dan tersenyum manis.

Kali ini Ji Young tak bisa menahan dirinya, ia segera berdiri dan berniat meninggalkan tempat ini.

“Halo,” sapa Lu Han hangat.

Ji Young memberi salam dan membungkuk, tapi ia tak bisa menyembunyikan amarah dari wajahnya.

“Terburu-buru?”

“Tidak,” kali ini Ji Young tersenyum hangat, ia tipe gadis yang tak ingin siapapun tahu tentang masalahnya dengan Tao.

“Kudengar  kalian pergi jauh dari Seoul untuk berkencan?”

“Ya begitulah,” Ji Young tersenyum hangat, kemudian tertawa kecil.

“Kau tahu, dia sudah merencanakan semua itu sejak lama. Meski terkadang ia menyebalkan, tapi ia juga laki-laki yang baik bukan?”

“Tentu,” kini Ji Young menoleh ke belakang, menatap Tao dalam, kemudian tertegun. Pujian yang baru saja ingin ia ucapkan untuk Tao terhenti di ujung lidahnya.

Lu Han pun menoleh ke belakang Ji Young, menatap gadis yang sedang mematung itu dengan begitu iba. Tangan Ji Young kini bergetar hebat melihat apa yang baru saja Tao lakukan di hadapannya.

.

.

.

Tao mencium bibir Ji Ah di sudut restoran, dan entah apa yang selanjutnya mereka lakukan karena pandangan Ji Young begitu kabur.

Ada banyak air mata yang menetes.

“Maaf, sebenarnya ini sudah lama terjadi,” Lu Han bicara dengan sangat hati-hati. Kini ia menundukan kepalanya dalam.

Namun kini Ji Young menghapus air matanya. Dan tersenyum, “Terima kasih telah memberitahuku siapa dia sebenarnya.”

Ji Young segera berlari kencang menuju mesin elevator, menahan setiap emosi yang membuncah di hatinya. Dadanya sangat sesak. Baru tadi pagi ia merasakan hangatnya tangan Zi Tao melingkar di tubuhnya. Setelah apa yang ia lihat, ia menyesal membiarkan Tao merebut ciuman pertamanya. Ia merasak jijik dengan dirinya sendiri.

Ia mengerjap berkali-kali. Hatinya belum pernah begitu sakit sebelum ini. Tapi mengapa kini Ji Young merasakan sakit yang luar biasa? Mengapa kini matanya begitu egois karna tak kunjung menurut saat Ji Young ingin berhenti menangis?

Mengapa Zi Tao membiarkannya pergi dengan luka yang begitu dalam?

——88——-

Saat ini Ji Young berada di depan sebuah apartemen yang ia tempati dulu. Kini ia betul-betul lelah dan kacau. Sampai saat ini pun air matanya belum berhenti, apalagi rasa sakit hatinya. Ia menakan sembarang bel yang ada di samping pintu.

Tak lama laki-laki dengan pakaian tidurnya membuka pintu dari dalam, menatapi Ji Young heran dan iba. Ji Young tak dapat menahan emosinya, ia memeluk Il Soo erat kemudian menangis dengan kencang.

Ji Young tak dapat berkata banyak, hatinya sangat hancur saat ini. Mengapa ia jatuh hati pada orang yang salah? Mengapa ia bisa mencintai orang yang terus menyakitinya? Mengapa Tao begitu manis dan meninggalkan setiap jejak yang begitu membekas di hatinya? Dan mengapa, sampai saat ini, meski hatinya betul-betul hancur, tak bisa ia pungkiri ini ia masih mencintainya, mencintai Huang Zi Tao.

Kau bodoh karna tetap mencintai laki-laki brengsek sepertiku

“Il Soo, mengapa aku begitu bodoh?”

Il Soo merengkuh Ji Young erat, ini salahnya mengapa tak bisa menjaga Ji Young dengan baik.

“Tidak Ji Young, jangan berkata seperti itu,”

Malam itu, hari terakhir dari kencan mereka. Dari perjalanan panjang mereka yang gila, dari semua kenangan yang terabadikan di polaroid putih yang selalu Tao genggam. Siapa yang tahu jika akhir kencan manis ini tak semanis apa yang mereka harapkan.

——88——-

Saat Ji Young mengira kini Tao sedang bersuka cita dan berpesta semalam suntuk bersama Ji Ah, Tao malah menangis sekuat tenaga di toilet restoran, membiarkan jari-jarinya memar akibat memukul dinding berkali-kali. Ia bahkan duduk bersimpuh menangisi Ji Young, ia tak akan mungkin bisa melewati hari-harinya setelah ini.

Chine Line member yang lain hanya bisa duduk terdiam mendengar Zi Tao yang tak kunjung berhenti berteriak. Mereka hanya bisa menatap kosong sisa-sisa pesta ‘buatan’ mereka. Belum lagi Ji Ah yang ikut menangis, ia merasa tak enak hati pada Ji Young yang harus meninggalkan kesan buruk untuknya.

Saat Tao mengusap air matanya kemudian duduk di antara member yang lain ia berkata, “Terima kasih sudah membantuku. Jangan menangis noona, Ji Young bukan anak jahat yang akan menghujatmu,” ia tersenyum miris.

Kris menepuk pundak Tao, “Kau laki-laki yang baik, dude.

Ji Young tak tahu jika saat ini mereka berdua sama-sama menangis, memutar kembali kenangan mereka, merasa sakit yang begitu dalam di hati masing-masing.

Mianhae,”

Bisik Zi Tao pada dirinya, berharap suatu saat Ji Young akan mengerti dan memaafkannya.

_TBC_

Sorry for typo(s) i hope u enjoy, like, leave a comment and follow this blog

I Have nothing to say, I hope you like it. Thanks for so much help for everyone.

Iklan

2 thoughts on “AB Style : Bitter Sweet Coffee [Last Taste]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s