Unexpected Love

Unexpected Love-ver2 (EGD Immocha Req)Immocha Present

Virus Chajin: Unexpected Love

Park Chanyeol (EXO Chanyeol) & Kim Hyojin (OC)

Credit Poster by Dorkyharin Art

Dentingan suara piano menggema di seluruh ruangan penuh warna coklat kayu yang diperuntukkan sang pemilik sebagai ruang bersantai. Kali ini entah instrument apa yang hendak pria itu mainkan di balik parlor grand piano di sudut ruangan.

“Jadi ini salah satu dari musik yang kau buat, oppa?”

Seorang gadis berambut hitam panjang keluar dari sebuah ruangan, ia sibuk menyisir rambutnya dengan tangan.

“Iya. Jadi bagaimana menurutmu?”

“Kurasa tidak terlalu buruk. Kau hanya perlu memoles di beberapa bagian dan aku yakin hasilnya akan sempurna.”

“Jadi aku berbakat menjadi seorang komposer?” Chanyeol memberi tatapan polos layaknya sang anak yang meminta pujian pada sang Ayah.

“Bisa jadi,” ujarnya sambil menggendikkan bahu seolah tak terlalu peduli.

Hyojin menghempaskan tubuhnya di sofa, matanya masih terus tertuju pada lelaki yang telah setahun menjadi kekasihnya itu.

“Opp-a”

Ia sedikit ragu untuk memanggilnya, tapi tetap meluncur dengan sempurna dari bibirnya.

“Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Jean?”

“Apakah Yifan gege benar-benar pergi meninggalkan kalian?”

Chanyeol terdiam sejenak lalu menghembuskan nafas pelan, “Entahlah. Kita terus di sibukkan latihan menjelang konser perdana EXO. Kau pasti datang kan Jean?”

“Tentu saja, oppa.”

Hyojin tampak ingin berkata jujur namun pertanyaan yang terlayangkan dari mulutnya malah tentang Kris. Berulang kali Hyojin mengutak atik handphonenya, seolah ada yang lebih menarik ketimbang Chanyeol yang saat ini duduk di sampingnya. Ia masih asik menggerakan kedua ibu jarinya di layar touch screennya. Karena suasana sunyi yang tiba-tiba saja menyergap mereka, Chanyeol menggeser duduknya, sepertinya lelaki ini mulai tidak nyaman dengan sikap acuh yang dilakukan Hyojin.

“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan Vj?” protesnya kesal.

“Hanya mengirim pesan singkat pada Ahri. Kau ingat? Dia sedang mengagumi seseorang.” Jawab Hyojin antusias.

“Benarkah? Jadi kau senang karena temanmu dekat dengan seseorang, lalu mengabaikan aku yang sedari tadi disini?”

“Oh Tuhan, ayolah Park Chanyeol. Kenapa kau selalu berubah-ubah seperti ini sih? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan hal sepeleh lagi?”

“Benar, tetapi ditengah jadwal sibukku, aku rela berlari kesini dan menghabiskan waktu bersamamu dibandingkan meringkuk nyaman di atas kasurku.”

“Jadi, sekarang kau tak rela membuang waktu tidurmu. Baiklah Park Chanyeol, kau bisa pulang sekarang. Beristirahatlah, kau lelah dan aku tak ingin lingkar matamu menyaingi Tao gege.”

Hyojin memutuskan untuk beranjak dari duduknya, berjalan menuju pintu apartemennya bersiap mempersilahkan kekasihnya untuk segera pergi dari sana. Lain halnya dengan Chanyeol yang sekarang gelisah dengan tindakan tak terduga yang dilakukan Hyojin. Biasanya gadis itu akan merajuk agar Chanyeol tetap tinggal disana sedikit lebih lama sebelum ia melakukan jadwal pemotretannya atau Hyojin akan meremas ujung kemeja atau kaos Chanyeol untuk menahannya.

Kini gadis itu sudah berdiri di samping pintu, tangan kanannya memegang knop. Hyojin menatap Chanyeol, menunggu kekasihnya yang tak segera berjalan keluar dari apartemennya.

“Lalu, apalagi yang kau tunggu oppa?” Hyojin menggendikkan kepalanya, memberi syarat agar chanyeol segera keluar.

“Baiklah, jika itu maumu,” Chanyeol mendesah sebelum ia berdiri dan berjalan menghampir Hyojin.

“Lekaslah istirahat, makan-makanan yang bergizi dan jangan lupa minum suplemen secara teratur, aku tak mau kekasihku mirip zombie,” celoteh Hyojin yang sekarang terdengar jauh lebih menyebalkan dari acara commersial break di televisi, tangannya merapikan hoodie dan masker yang dikenakan Chanyeol. Berapa pun tingkat kekesalan Hyojin pada kekasihnya, gadis itu masih tidak bisa mengabaikan kebiasaannya untuk mengingatkan Chanyeol. Hyojin tetap saja mencurahkan perhatiannya walaupun masih memperlihatkan raut muka yang sedikit lebih dingin daripada sebelumnya.

“Sekarang pulanglah, hati-hati di jalan oppa– sayang,” lanjutnya sambil menepuk pelan pipi Chanyeol, apa yang ia katakan betul-betul bukan seperti kata ‘mengusir’.

Chanyeol pasrah dengan semua perlakuan Hyojin, sedikit bergidik mendengar kata ‘sayang’ yang diucapkan Hyojin penuh penekanan. Ia berjalan lemas menuju ambang pintu, di balik maskernya bibirnya mengerucut sebal. Otaknya berputar lebih cepat memikirkan kenapa keadaan seperti balik menyerangnya sekarang? Chanyeol hampir putus asa karena tidak mengerti mengapa Hyojin tiba-tiba kesal padanya. Saat gadis itu akan menutup pintu apartemen, laki-laki bertubuh jangkung itu seolah tersadar dan dengan segera tangan besar Chanyeol menahan Hyojin agar tidak segera menghilang dari pandangannya. Membuat Hyojin sempat mundur beberapa langkah karna terkejut. Dengan segera Hyojin menatap kekasihnya dengan penuh tanya.

“Ayo kita pergi kencan Jean.”

Mata Hyojin terbelalak, dia baru saja mengusirnya dan sekarang lelaki ini mengajaknya kencan. Seringaian khas Park Chanyeol kini membuat Hyojin sedikit bergidik ngeri, Chanyeol terlihat begitu bersemangat dengan binar dimatanya.

Tanpa menunggu respon dari Hyojin, Chanyeol langsung saja menarik keluar gadisnya.

“Tunggu oppa, aku tidak membawa kunci mobil.”

“Oh! Baiklah. Cepat ambil dan jangan membohongiku atau kau akan menanggung akibatnya, Jean,” Chanyeol kini terdengar semakin bersemangat karna Hyojin yang tidak menolak diajak berkencan.

“Aku tahu.”

.

.

.

“Kita kemana oppa?”

“Entahlah, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu.”

Oppa tidak ada jadwal latihan?”

“Sebenarnya sih ada, tapi masih ada waktu tiga jam untuk kencan denganmu. Vj, kau ingin pergi kemana?”

“Eum, ke tempat yang sedikit orang mengenalimu oppa. Aku tak ingin di serbu fans EXO jika paparazi mengambil foto kencan kita hari ini,” Hyojin memutar bola matanya membayangkan hal menyebalkan itu.

“Oke. Let’s go dating!” seru Chanyeol bersemangat.

Setelah 20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah cinema. Chanyeol dengan sigap segera membenahi penyamarannya.

“Kau yakin kita kencan disini, oppa?”

“Iya. Apa ada yang salah?”

“Tidak. Hanya sedikit mengkhawatirkanmu.”

“Ayo keluar, atau kau mau kita berkencan di dalam mobil seperti di film-film yang sering kau tonton?” goda Chanyeol.

“Oh, no! Jangan berpikir yang tidak-tidak,” Hyojin sedikit berteriak kecil kemudian turun dari mobil disusul dengan Chanyeol. Mereka berjalan beriringan, tak jarang Chanyeol melirik ke arah Hyojin yang cemas setengah mati karena keberadaan mereka di tempat yang terbilang tak sepi ini. Chanyeol tersenyum di balik maskernya, tangannya menggenggam pasti tangan Hyojin, menyalurkan energi positif pada kekasihnya serta mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan gadisnya.

Hyojin melirik tangannya, sentuhan hangat yang di berikan Chanyeol membuat bibirnya melengkung sempurna. Memang ini bukan pertama kalinya tangan Hyojin digenggam erat oleh Chanyeol. Tapi, ini kali pertama Chanyeol menggenggam erat tangan Hyojin di tempat umum yang cukup ramai.

Mereka mengantri untuk membeli tiket, mereka sepakat untuk menonton film bergenre action setelah beberapa menit yang lalu mereka sibuk beradu argumen tentang film apa yang akan mereka tonton di kasir penjual popcorn. Dan karena kegaduhan yang mereka buat, Chanyeol nyaris ketahuan dan itu membuat mereka harus bertindak layaknya orang bodoh di sana.

Oppa, aku ingin ke toilet sebentar sebelum kita memasuki teater.”

“Baiklah, aku akan menunggumu di sana,” Chanyeol menunjuk sebuah kursi tunggu tepat di depan studio teater dimana film kalian akan di putar.

Chanyeol terus menatap tiket film mereka, sesekali menengadahkan kepalanya kemudian menatapnya lagi. Tangannya yang lain kemudian merogoh saku jaketnya–ia meninggalkan handphonenya disana–ia menekan panggilan terakhir yang tersimpan di ponselnya dan menempelkan benda persegi panjang itu ke telinga. Ia tak perlu menunggu ringtone yang menjadi nada tunggu panggilannya terlalu lama hingga panggilannya di jawab.

Hyung, bagaimana ini?”

“Bagaimana bisa? Aku sudah menunggu di depan pintu masuk teater, mana mungkin aku akan meninggalkannya begitu saja sekarang?”

“Kau yakin dia akan mengiyakan begitu saja? Baiklah, akan aku coba nanti. Aku tutup teleponnya.”

Oppa, siapa yang menelponmu?” tanya Hyojin yang entah sejak kapan gadis itu sudah berdiri disamping Chanyeol.

“Joonmyun hyung.” Chanyeol berkilah sambil membenarkan maskernya, ia yakin jika masker ini tak menutupi wajahnya Hyojin pasti tak akan percaya.

“Tumben sekali Joonmyun oppa menelponmu. Apa ada sesuatu yang penting? Kita bisa berkencan di lain waktu.”

“Tidak, bukan seperti itu–” ucapan Chanyeol terputus, ia mendesah pelan namun masih cukup terdengar di telinga Hyojin.

“Oke, tapi untuk apa oppa mendesah seperti itu?”

“Bukan apa-apa. Ayo, filmnya akan segera diputar.”

Chanyeol menggenggam tangan Hyojin menuntunnya untuk memasuki studio teater, lelaki itu mengalihkan pikiran Hyojin atau rencananya akan berantakan. Kini mereka sudah duduk bersebelahan dengan sekotak besar popcorn diantara mereka dan dua buah gelas softdrink berukuran large.

Chanyeol yang duduk gelisah menarik perhatian Hyojin. Sekali, dua kali, Hyojin masih membiarkan kekasihnya tapi tidak untuk ketiga kalinya. Hyojin sedikit terganggu dengan tingkah Chanyeol.

Oppa, kenapa? Apa kau ingin pergi ke toilet?”

“Apa boleh aku pergi ke toilet sekarang?”

“Tentu saja. Cepat sebelum kau melakukannya disini,” Hyojin menjitak gemas kepala Chanyeol. Bagaimana bisa lelaki setinggi dan sebesar Chanyeol harus meminta izin padanya untuk pergi ke toilet.

“Dasar bodoh,” gerutu Hyojin. Gadis itu memindahkan sekotak popcornnya diatas pangkuaanya. Ya, dengan senang hati ia menikmati popcornnya. Kemudian ia kembali fokus pada film yang dimainkan tanpa tahu apa yang sedang Chanyeol rencanakan.

Chanyeol berbohong kali ini, ia tidak sedang pergi ke toilet. Kegelisahannya yang terjadi pada dirinya sebenarnya karena ia cemas kejutan kecil yang ia persiapkan akan gagal. Kejutan sekaligus permohonan maaf karena ia tak sempat melakukannya di perayaan satu tahun hari jadi mereka.

Chanyeol pergi ke salah satu toko boneka yang terletak di seberang bioskop. Ia ragu untuk masuk ke toko itu, takut jika salah seorang pramuniaga di toko itu merupakan EXO fans, pasti ia akan mudah di kenali. Tapi ini demi Hyojin, demi memberi gadisnya kejutan kecil. Chanyeol mengelilingi luar toko untuk memilih boneka mana yang akan dia pilihkan untuk kekasihnya. Aneh memang, tetapi menurut Chanyeol itu lebih aman ketimbang dia harus memasuki toko dan berkeliling di dalamnya dengan muka tertutup masker. Chanyeol mengangguk yakin, ia sudah menentukan pilihan pada sebuah teddy bear putih berukuran cukup besar.

“Permisi Nona, saya menginginkan boneka beruang putih yang di pojok kanan,” Tunjuknya pada si gadis pramusaji.

Gadis itu mengangguk, mengambil tangga untuk membantunya mengambil boneka berukuran besar itu, dengan susah payah ia membawa boneka itu di depan Chanyeol. Chanyeol malah terkekeh geli melihat gadis pramusaji itu tertutup boneka, benar-benar tak terlihat.

“Oh, terima kasih nona. Maaf merepotkanmu. Aku sedang dalam misi rahasia memberi kejutan untuk kekasihku. Apakah aku tak dikenali?” gadis pramusaji itu mengangguk.

“Bagus. Doakan agar misiku berhasil ya nona. Bukankah aku mirip artis yang sedang menyamar?”

Gadis pramusaji hanya mengiyakan saja pertanyaan Chanyeol seraya terkekeh yang segera ditutupi oleh telapak tangannya. Alih-alih merasa tidak sopan menertawakan pelanggannya. Chanyeol menyerahkan beberapa lembar uang kepada si gadis pramusaji, kemudian memeluk erat boneka itu.

Untung saja Chanyeol tertolong berkat tinggi badannya, jika ia setinggi Kyungsoo, tentu saja ia tertutup oleh bonekanya sendiri. Kini ia tersenyum senang karna kejutannya bisa dibilang akan berhasil seratus persen.

Ia kembali ke dalam teater. Tak sedikit ia mengucapkan kata maaf dan permisi kepada penonton yang lain karena ulahnya yang dianggap mengganggu. Tapi, ia tak peduli akan gerutuan itu yang paling penting untuknya hanya Hyojin untuk saat ini.

“Kim Hyojin, maaf karena aku melewatkan begitu saja perayaan hari jadi pertama kita. Semoga kau tidak pernah menyalahkan aku di kemudian hari. Kau lihat aku membawa beruang raksasa ini sebagai permintaan maafku. Bagaimana? Kau suka?”

Chanyeol menyerahkan beruang itu saat film di putar, dan ia berlutut di samping Hyojin untuk mengurangi gerutuan penonton yang lain. Ia bahkan tak memeperdulikan penonton yang melihat aneh kepada mereka.

“Astaga Tuan Virus, sudah berapa kali ku katakan padamu, asal kau ingat hari jadi kita, tanpa perayaan pun tak jadi masalah untukku.”

“Tapi kau suka?”

“Aku suka semua tentangmu, darimu.”

Chanyeol membuka maskernya dan tanpa mengucapkan apa-apa ia langsung mengecup bibir Hyojin yang membuat pipinya bersemu layaknya tomat. Secepat yang ia bisa ia kembali memasang masker itu.

“Kita harus pergi sekarang oppa, aku tak ingin mereka mengetahui identitasmu karena kebodohanmu sendiri,” bisik Hyojin di telinga Chanyeol.

“Ayo, kita harus pulang oppa.”

Mereka menertawai kebodohan mereka sendiri. Ya, mereka merasa seperti pasangan kekasih normal lainnya, yang bercanda, saling mengolok dan tentu saja saling mencintai. Chanyeol terus mengganggu, meski Hyojin tak sepenuhnya tertutupi boneka beruangnya, tapi ia cukup kesusahan membawanya.

Oppa, bagaimana jika aku mengantarmu terlebih dahulu ke dorm. Aku ingin membawakan sedikit makanan untuk member EXO.”

“Tak masalah, jadi apa yang harus kita bawakan untuk mereka?”

“Ayam.”

Chiken is not my style.”

Hyojin tertawa mendengar celotehan Chanyeol. Kalimat itu memberi kesan mendalam bagi mereka untuk seorang yang mereka sayangi.

Oppa, menurutmu apakah Yifan gege baik-baik saja? Maksudku–”

“Ya, kurasa dia baik-baik saja. Kita harus membeli banyak ayam untuk mereka. Kau tau kan?”

“Tentu.”

.

.

.

.

Chanyeol mematikan mesin mobil saat mereka sampai. Ia melepas seatbeltnya, menyuruh Hyojin turun terlebih dahulu agar mereka bisa bertukar posisi.

Oppa, aku dan Ahri mungkin akan pergi berlibur sebentar.”

“Kenapa selalu mendadak?”

“Awalnya aku berniat untuk tidak memberitahumu.”

Aish, bocah ini benar-benar keterlaluan.”

“Tapi, mungkin aku juga tidak bisa cepat kembali ke Seoul. Kau mengerti betul maksudku jadi jangan mengeluarkan apa yang sedang kau pikirkan sekarang, oppa.”

Hyojin menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya pelan. Keputusan ini berat, untuknya, Chanyeol dan hubungan mereka. Tetapi, kali ini ia harus membicarakan semuanya pada Chanyeol.

“Aku berjanji akan kembali secepatnya. Tapi, jika oppa merasa semua ini terlalu susah untuk di lalui, mungkin lebih baik kita fokus dengan kesibukan masing-masing untuk sementara.”

Chanyeol terdiam, ia masih mendengarkan semua ucapan Hyojin dengan teliti dan tanpa ada yang terlewatkan satu pun.

“Semua keputusan ada padamu, oppa. Aku akan mengabarimu jika aku sampai nanti. Latihanlah dengan semangat! Chanyeol oppa, fighting!”

Hyojin segera melaju dengan mobilnya, meninggalkan Chanyeol yang masih belum sempat mengatakan apapun. Di dalam perjalanan, Hyojin tersenyum miris. Ia lalu menelpon sahabat lamanya, Song Ahri.

“Ahri, bisa kita bertemu? Kau tidak lupa rencana kita bukan?”

Iklan

2 thoughts on “Unexpected Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s