DaeHee Entrée – Stay in Love

Stay in Love Cover - Eunroro13

DaeHee Entrée – Stay in Love

by. Eunroro13

Kim Jongdae (EXO Chen) & Shin Eunhee (OC)

Romance, General, Oneshot

.

Previous : The Last Word

.

Eunhee setuju dengan pendapat dari salah satu penulis novel kesayangannya yang berkomentar tentang mengapa saat sang tokoh patah hati akan langsung dikisahkan pada kejadian beberapa bulan kemudian atau bahkan bertahun-tahun setelahnya. Pendapat yang mengatakan jika percuma saja waktu itu diceritakan lebih lanjut, benar-benar membosankan karena tidak ada hal penting atau bahkan menarik untuk dijabarkan. Gadis itu merasakannya sendiri, hari-hari dimana ia hidup layaknya manusia biasa tapi kau sendiri sebenarnya tidak merasakan apapun. Mengutip kalimat sindiran yang sering dilontarkan Mi Ri, Eunhee hanyalah selongsong tubuh kosong tak bernyawa yang bekerja layaknya robot. Hanya bisa menurut disuruh dan dibawa kemana-mana tanpa memiliki jiwa sedikitpun.

Seandainya Mi Ri tahu jika ia benar-benar kehilangan jiwanya.

Gwangchul berpendapat yang sama. Melihat adiknya yang kembali menjadi sosok Eunhee lima tahun yang lalu membuatnya pusing seketika, dan hal ini juga yang membuatnya memutuskan untuk pindah serta menyelesaikan studi di negara kelahirannya saja. Walaupun sebenarnya Gwangchul sedikit bingung mengapa adiknya kembali bertingkah bagai zombie, laki-laki bermarga Shin itu masih bisa menebak-nebak apa akar masalahnya. Sekalipun geram dan ingin menghajar laki-laki yang sudah bersumpah untuk menjaga adiknya, Gwangchul memilih untuk diam sampai Eunhee yang memintanya. Sekali lagi Gwangchul tidak ingin gegabah seperti yang dulu.

Untuk ini, Eunhee berterima kasih karena sang kakak memahami dan mengerti apa yang menjadi keinginannya.

Gadis yang mulai kehilangan pipi chubby-nya itu berterima kasih dengan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Sekalipun penasaran dengan wajahnya yang terus mengulas senyum pura-pura, orang-orang itu sabar untuk tidak bertanya dan berakhir mengungkit luka yang ia rasakan. Seungwoo dengan ledekannya terus berusaha membuat Eunhee tertawa. Sama seperti yang disebutkan sebelumnya, sekalipun Mi Ri terus menyindir gadis itu setiap waktu berusaha mengingatkannya untuk menjaga diri dan berkata bahwa ia selalu siap menyodorkan bahunya untuk Eunhee. Membuat Eunhee lagi-lagi berterima kasih memiliki dua orang sahabat yang benar-benar membuatnya merasa sebagai orang yang paling disayangi. Sosok laki-laki yang sering disebutnya ‘eomma’ juga ikut andil. Di sela-sela jadwal padatnya, Dongwoo terbilang sering datang secara mengejutkan di sekolah, berniat menjemputnya sekaligus membawa Eunhee berpetualang menjelajahi kuliner menggiurkan. Eunhee tertawa karena Dongwoo begitu paham dengan selera makannya. Satu orang lagi adalah Jinyoung. Laki-laki itu selalu berpura-pura disuruh atau dipaksa Dongwoo untuk ikut, padahal diam-diam dia lah yang merencanakan semuanya -menurut penuturan Dongwoo sendiri.

Sedikit banyak hati Eunhee mulai menghangat.

Memikirkan ini semua membuat Eunhee mencoba kuat dan mengesampingkan kesedihan yang ia rasakan. Dengan memikirkan itu semua, gadis ini yakin jika ia bisa hidup bahagia setelahnya. Perasaan hampa yang ada dalam hatinya hanyalah permulaan supaya ia tetap kuat. Eunhee terus mensugesti dirinya jika ia baik-baik saja. Gadis itu mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Memainkan jari membuat pola kunci pada layar dan beralih membuka menu pesan teks disana. Hampir seribu pesan yang tidak pernah gadis itu hapus sejak dulu, bertengger di dalamnya. Eunhee meringis, pantas saja ponselnya sedikit melambat jika dibuka. Maka ia memutuskan untuk menghapus beberapa pesan di dalamnya.

19th January, 2013, 00:54 AM

From : Dae Oppa

Babo,  cepat tidur!

Eunhee termenung sebentar membaca pesan itu. Ia memang selalu tidur larut malam karena membaca novel, menonton video idolanya, atau hanya karena menjelajah di dunia maya. Sampai sekarangpun kebiasaan buruk itu masih berlanjut, bahkan lebih parah. Dulu ia selalu punya alasan pasti kenapa ia tidak bisa tidur. Eunhee betah berlama-lama terjaga karena melihat foto atau video laki-laki itu sepanjang waktu. Sesekali merona karena memikirkan betapa tampannya laki-laki yang ia puja dan berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang berdegup tak karuan. Alasan lainnya karena waktu itulah yang paling nyaman untuk saling bertukar cerita via telepon maupun pesan singkat. Laki-laki itu akan selalu menelponnya lebih dulu. Niat awal memang menyuruhnya untuk tidur, tetapi selalu berakhir panjang karena asik mengobrol. Dahulu hal ini terasa begitu manis untuk dipikirkan, tetapi bagi Eunhee sekarang ini sungguh menyesakkan.

Gadis itu tak lagi terjaga karena telepon atau pesan singkat yang ia tunggu-tunggu, juga bukan karena foto maupun video yang selalu berhasil membuatnya mengulas senyum. Eunhee hanya tidak bisa tidur, mungkin karena sudah terbiasa. Sekalipun gadis itu berhasil terlelap, tak berapa lama berselang ia akan terbangun dan menangis terisak. Eunhee selalu bermimpi, dan sialnya mimpi itu selalu berhubungan dengan seseorang yang masih ingin terus ia jauhi.

30th May, 2013, 2:28 PM

From : Dae Oppa

Aku tunggu di halte biasa. Kita pulang bersama.

Sebuah hembusan nafas keras terdengar keluar dari mulut Eunhee. Hal ini juga selalu membuatnya ingat pada laki-laki itu. Saat dimana ia duduk di halte bus yang tak jauh dari gedung sekolahnya, dan tanpa sadar menunggu seseorang yang tak akan pernah datang. Pernah sekali Gwangchul kelimpungan mencari sang adik yang hingga pukul delapam malam tak kunjung pulang. Kekhawatiran itu ditambah dengan ponsel Eunhee yang tidak bisa dihubungi. Beruntung kakak Eunhee itu berhasil menemukan adiknya memejamkan mata, merunduk, dan masih duduk berdiam diri di halte yang terbilang sunyi. Maka Gwangchul langsung menghampiri adiknya itu dan memeluknya erat berusaha menenangkan Eunhee dengan bahunya yang berguncang.

Eunhee tidak mengerti mengapa laki-laki itu begitu memegang peranan penting dalam hidupnya. Bahkan hanya untuk melupakan sosoknya saja sudah terasa begitu menyakitkan. Gadis itu berasumsi mungkin karena hampir bersama dalam kurun waktu dua tahun sehingga membuatnya merasa terbiasa dan sulit melupakannya. Tetapi sialnya, Jinyoung mematahkan asumsi itu kala ia tak sengaja mencurahkan isi hatinya beberapa minggu yang lalu.

“Apa dulu kau juga begitu? Maksudku saat kita juga berpisah dulu.”

Ditanya seperti itu membuat Eunhee terhenyak sesaat. Sejujurnya tidak sama. Ia mungkin juga begitu berat melepaskan apa yang sudah membuatnya nyaman dan terbiasa, kala itu berpisah dengan Jinyoung yang menemaninya hampir tiga tahun lamanya. Tapi situasi kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena ia merasa telah terbiasa, tetapi juga karena ada sesuatu dalam hatinya yang begitu tak rela apabila hal itu dilupakan begitu saja.

Buktinya saat Jinyoung memanggilnya dengan sebutan bocah, sebutan yang sama seperti saat mereka masih bersama. Dahulu Eunhee akan kesal walaupun merona karena berbunga-bunga. Ditambah saat Jinyoung dengan tawa khasnya mengacak rambut gadis itu setengah bercanda. Kali ini, saat Jinyoung melakukannya kembali, Eunhee hanya merasa bernostalgia dengan kebiasaan dulu. Selebihnya, itu terasa biasa. Berbeda situasinya saat Eunhee membaca pesan berikutnya. Pesan yang isinya tak lebih membuatnya terhenyak daripada sebelumnya.

25th August, 2013, 7:41 PM

From : Dae Oppa

Aku merindukanmu, Eunbee-ah

Air mata yang sedari tadi Eunhee tahan akhirnya lolos begitu saja. Eunhee mengerti sekarang. Sekalipun dirinya mati-matian mencoba untuk membantah, tetapi Eunhee tidak bisa memungkiri jawaban dari rasa sesak yang selama ini ia rasakan. Jawaban mengapa dirinya berubah menjadi seorang manusia tanpa nyawa. Itu semua bermuara pada satu hal, karena ia begitu merindukan seseorang di seberang sana.

Dan sialnya, Eunhee memang tidak bisa berbohong lagi. Bahwa ia masih sangat mencintai laki-laki satu itu.

Minseok menggelengkan kepala melihat tingkah laku teman satu grup yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Pulang tengah malam dengan wajah lusuh, lalu setelahnya langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring tak berdaya. Belum lagi saat mendengar laporan mengadu dari namdongsaeng-nya yang lain, kalau laki-laki yang kini menutup seluruh tubuhnya dengan selimut itu terus memaksakan diri dari latihan menari yang begitu sulit untuk dikuasai. Minseok bukannya tidak tahu akan apa yang terjadi sampai Chen bisa bertingkah semenyedihkan ini. Ia tak sengaja mendengar ocehan adik laki-lakinya itu saat tengah mabuk beberapa minggu yang lalu. Awalnya Minseok memutuskan untuk diam tak ingin bermaksud ikut campur. Tapi lama-lama Minseok dibuat jengah melihat Chen terus menyiksa dirinya sendiri.

“Ayolah. Tinggal temui dia apa susahnya?”

Tidak ada jawaban dari laki-laki yang tergelung selimut itu. Membuat Minseok mendesah dan beralih duduk di ranjang seberangnya.

“Sampai kapan kau bertingkah seperti ini? Yang ada Eunhee tidak akan kembali padamu, Jongdae-ah.”

Setidaknya kalimatnya tadi berhasil membuat Chen menyibak selimutnya. Membalik arah menghadap Minseok dan berbicara dengan nada lirih yang membuatnya sedikit merasa bersalah.

“Dia memang tidak akan kembali padaku, hyung. Semuanya sudah berakhir.”

Minseok menghela nafas sejenak, “Kau laki-laki, Jongdae. Kau mencintainya bukan? Kalau kau masih ingin bersama Eunhee, rebut dan pertahankan apa yang menjadi milikmu. Bukan dengan berdiam diri seperti ini.”

“Apa aku bisa? Bahkan Eunhee sendiri yang ingin semuanya berakhir. Dan hyung, aku memang tak mungkin akan bersamanya lagi. Eunhee sudah bersama orang yang lebih bisa menyayanginya dibanding aku, hyung.”

“Kau bahkan belum mencobanya,” debat Minseok.

“Tak perlu hyung. Melihatnya tertawa bersama laki-laki itu sudah cukup menjelaskan semuanya.”

Baru kali ini Minseok melihat Chen tak bisa menahan emosinya, itu terlihat dari bagaimana Chen mengusap sudut matanya yang berair. Minseok juga bisa merasakan bagaimana frustasinya Chen menghadapi situasi seperti sekarang. Sekaligus heran bagaimana bisa laki-laki itu begitu pandai menyembunyikan kesedihannya dengan terus memasang senyum lebar di hadapan publik. Padahal di waktu senggang, laki-laki itu akan berubah menjadi sosok pemuram yang selalu mengikuti gadisnya diam-diam.

“Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Ayolah, kau benar-benar menyedihkan.”

Minseok terpaksa berkata jujur demi membuat adiknya itu bisa bangkit seperti dulu. Sementara Chen hanya memandang hyung nya itu dalam diam, lalu setelahnya kembali membenamkan wajahnya dalam kungkungan selimut tebal miliknya.

“Aku tak tahu hyung. Rasanya seperti mau mati saja.”

Eunhee sedikit terkejut ketika mendapati seseorang tengah menunggunya di depan halte. Orang itu bahkan tanpa banyak bicara langsung menyeretnya menaiki bus dan membawanya pergi entah kemana. Bukan sang kakak ataupun Jinyoung dan Dongwoo yang ia yakini pasti sangat sibuk dengan sesi promosi album mereka, melainkan Hyojin yang ia kenal sebagai sosok yang selalu mendampingi Chanyeol. Eunhee kenal dan bahkan akrab memanggil Hyojin dengan sebutan eonni. Tapi gadis itu masih belum bisa mencerna apa yang membuat Hyojin menemuinya seperti sekarang.

“Kita mau kemana?” tanya Eunhee yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Hyojin tersenyum anggun ke arah Eunhee, membuat gadis itu terpana dan terdiam mendengarkan jawabannya, “Jalan-jalan. Aku bosan.”

Eunhee akhirnya mengangguk walaupun sedikit aneh dengan jawaban yang ia dengar. Mendapati raut wajah Eunhee yang mencurigainya, Hyojin tertawa lalu mencubit gemas pipi gadis itu.

“Temani aku jalan-jalan. Ada satu restoran yang ingin aku datangi. Katanya sih enak.”

Walaupun sedikit sebal karena pipinya dicubit, Eunhee hanya mangut-mangut saja merespon kalimat dari Hyojin. Apapun alasan dibalik Hyojin mengajaknya jalan-jalan, Eunhee senang karena setidaknya ia bisa menikmati suasana baru sembari mencoba melupakan apa yang ia rasakan. Gadis itu pun akhirnya menurut dalam beberapa jam ke depan saat dimana tangannya ditarik Hyojin masuk dari restoran yang satu ke restoran yang berikutnya. Mereka mengobrol hal apa saja yang bisa mereka bicarakan, dan sesekali tertawa. Hyojin mampu membuat Eunhee merasa nyaman dan terus membuatnya tersenyum lebar. Rasanya ia harus berterima kasih pada Hyojin setelahnya.

Tapi lambat laun Eunhee mengerti apa maksud Hyojin sebenarnya. Gadis itu seharusnya sudah bisa merasakan sejak awal mengapa tiba-tiba Hyojin mengajaknya jalan-jalan. Sialnya Eunhee tidak bisa menolak melihat Hyojin yang terus mencoba memintanya untuk menemani gadis bermarga Kim itu.

Di perjalanan ke tempat yang dijanjikan Hyojin sebagai tempat terakhir yang mereka kunjungi, Eunhee tak bisa menyembunyikan perasaan gelisah yang menyerpa tubuhnya. Berbagai macam pikiran berputar di benak gadis itu. Bagaimana dan apa yang harus ia lakukan nantinya. Sampai tangannya digenggam hangat oleh Hyojin yang seolah mengerti apa yang sedang Eunhee pikirkan.

“Tenang saja. Everything is okay at the end. If it’s not okay, then it’s not the end.”

Entah berapa bulan lamanya Eunhee tidak berhadapan dengan pintu coklat di depannya sekarang. Jika bukan karena Hyojin yang membawanya, Eunhee tidak yakin ia akan bisa berhadapan dengan pintu itu. Hatinya berdegup tak menentu kala Hyojin memencet bel di depan mereka, mengisyaratkan sang pemilik pintu untuk berbaik hati membukakan pintunya. Eunhee menggigit bibir menanti-nanti apa yang akan ia dapati di balik pintu itu. Masih menggenggam tangan Hyojin, gadis itu mengeratkan genggamannya seolah bertanya apa tidak apa-apa jika ia ikut masuk nantinya. Hyojin tersenyum sejenak lalu berbisik menenangkan.

“Sebentar saja kok. Aku jamin tidak lebih dari satu jam. Jangan gugup seperti itu. Kita kan bukan masuk ke kandang singa, Eunhee-ya.”

Hyojin tertawa, membuat Eunhee sedikit terperangah. Setelahnya Eunhee tergelak singkat walaupun masih belum bisa menyingkirkan kekalutan yang bersarang di hatinya sekarang. Baiklah, ia pasti bisa menghadapinya. Lagipula hanya satu jam, seperti janji Hyojin. Eunhee yakin bisa melewatinya dengan baik.

Perlahan tapi pasti, pintu coklat di hadapan mereka itupun terbuka. Eunhee yang begitu takut melihat siapa yang berada di balik pintu itu hanya bisa merundukkan wajahnya. Sejenak keheningan menyelimuti suasana di antara mereka. Tidak ada yang bicara baik Eunhee, Hyojin atau bahkan orang yang membukakan pintu untuk mereka. Membuat jantung Eunhee semakin berdegup kencang karena merasa gelisah.

“Boleh kami masuk?” Hyojin bertanya sambil memegang kedua bahu Eunhee yang masih setia berada dalam posisi sedikit menunduk.

Sedikit lama, seseorang yang tadi ditanya oleh Hyojin akhirnya menjawab, “Silahkan.”

Tubuh Eunhee menegang. Tak perlu melihatpun Eunhee begitu kenal dengan suara yang bicara barusan. Perlahan karena desakan dalam hatinya yang ingin melihat wajah dari pemilik suara itu, Eunhee mengangkat kepalanya pelan. Gadis itu akhirnya bisa melihat sosok nyata dari orang yang selama ini ia rindukan. Sedikit menutup-nutupi keinginannya untuk memandang wajah itu lebih lama.

Hyojin sedikit tersenyum melihat dua manusia yang berada di dekatnya. Perlahan ia meraih tangan Eunhee masuk ke dalam, sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan bersama Chanyeol dan member EXO lainnya. Tentu saja. Untuk apa lagi ia membawa Eunhee kemari selain untuk menuntaskan misi membuat dua orang keras kepala itu kembali bersama lagi.

Di samping itu, Chen akhirnya paham mengapa Chanyeol begitu bersikukuh menyuruhnya membukakan pintu untuk Hyojin. Mulai karena alasan ia sedang malas, sampai memelas menyuruhnya membantu Hyojin membawa sesuatu di depan sana. Padahal Hyojin didapatinya sama sekali tidak membawa apa-apa. Kecuali satu hal, gadis itu membawa gadis lain bersamanya. Hyojin datang bersama gadis yang terlampau ia kenal, gadis yang selama ini diam-diam dirindukannya.

Chen bisa menghirup aroma lily favoritnya kala Eunhee dan Hyojin berjalan melewatinya. Laki-laki itu berusaha lebih keras untuk tidak menarik Eunhee ke dalam pelukannya, mati-matian menahan rasa rindu yang selama ini hanya bisa ia pendam. Diam-diam pula Chen mengamati wajah Eunhee yang dinilainya berbeda dari waktu terakhir ia lihat, sekitar dua minggu yang lalu kala ia harus menahan diri melihat Eunhee menangis di pelukan laki-laki bernama Jung Jinyoung. Chen beralih mengamati pipi merah yang dulu sering ia cubit bahkan ia curi ciuman disana. Mengapa terlihat menirus? Apa selama ini Eunhee hidup dengan baik? Bukankah gadis itu bahagia bersama laki-laki yang dipilihnya? Segala pikiran yang berkembang di otak Chen harus terinterupsi akibat suara nyaring nan ribut yang dihasilkan oleh Baekhyun. Siapa lagi sumber keributan di dorm ini selain laki-laki itu.

“Ya Shin Eunhee! Sombong sekali kau tidak pernah kemari.”

Eunhee yang terkejut mendengar seruan dari Baekhyun hanya mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, sebelum tersenyum kaku menjawab kalimat Baekhyun.

“Aku sibuk belajar, oppa.”

Mata Baekhyun membulat dengan begitu menyebalkan, “Sejak kapan kau rajin belajar?”

Eunhee langsung saja melirik sinis ke arah Baekhyun yang hanya menyengir tanpa dosa. Laki-laki itu selalu saja membuatnya kesal. Tapi tidak bisa dipungkiri Eunhee rindu dengan hal seperti ini.

“Apa sibuk belajar membuatmu terlihat kurus Eunhee-ya?” tanya Luhan.

Melihat Eunhee yang sepertinya tampak terpana, membuat Baekhyun leluasa menyela, “Eunhee diet? Eyy~ sejak kapan?”

Jika saja membunuh itu tidak berdosa, Eunhee tanpa banyak babibu lagi akan langsung membelah Baekhyun menjadi beribu-ribu bagian. Ia jadi menyesal sudah berpikiran merindukan ejekan Baekhyun tadi.

“Sepertinya memang begitu oppa. Tadi saat makan bersamaku saja, Eunhee tampak tidak berselera. Makannya sedikit sekali,” lapor Hyojin yang kali ini ikut menimpali.

Minseok yang datang dengan segelas coklat hangat di tangannya langsung menyerahkan gelas itu kepada Eunhee dan beralih duduk di sampingnya, “Tumben sekali. Sejak kapan kau tidak tertarik dengan makanan?”

Eunhee menatap Minseok sejenak dan bergumam terima kasih, “Bukan begitu. Tadi aku sudah makan siang di sekolah. Jadinya sedikit kenyang, hehehe.”

Semua orang yang mendengarkan penuturan Eunhee hanya mangut-mangut sebagai jawaban. Tapi tidak dengan Chen yang memilih memunggungi keadaan itu dengan duduk di kursi makan. Tangan laki-laki itu menggenggam gelas berisi coklat hangat yang sama dengan yang tengah Eunhee genggam. Ia tahu persis bagaimana nada suara Eunhee ketika gadis itu berbohong atau berkata jujur.

Daebak! Eunhee sepertinya berusaha menyaingi Tao. Lihat kantung matanya. Wah! Kau benar-benar giat belajar rupanya.”

Chen tidak tahan lagi dengan semua ini. Dihentakkannya gelas yang ia genggam ke atas meja makan, menggeser kursi yang ia duduki hingga berderit keras, lalu berjalan dan menarik tangan Eunhee pergi dari dorm mereka. Semua yang menyaksikan hal itu hanya bisa terdiam sampai terdengar bunyi hempasan kencang dari pintu di depan sana. Baekhyun tersenyum puas sama seperti Chanyeol dan yang lainnya.

Well, sisanya serahkan saja pada mereka berdua.”

Eunhee tak habis pikir mengapa Chen tiba-tiba menariknya begitu saja, melewati tangga demi tangga dan beralih membawanya ke atap gedung apartemen dimana laki-laki itu tinggal. Gadis itu mencoba melepaskan tangannya yang terasa berdenyut karena ditarik kasar barusan. Tapi tidak semudah itu karena rengkuhan Chen benar-benar erat di tangannya.

“Lepaskan! Kau pikir apa yang kau lakukan barusan?”

Chen menatap Eunhee tak kalah tajam, membuat Eunhee mati-matian berusaha untuk tetap menatap balik laki-laki itu.

“Berapa kali sudah kukatakan jangan pernah melewatkan waktu makan mu, huh?! Apa seasik itu bermesraan dengan Jinyoung sampai kau lupa jam makan dan istirahat? Harusnya aku yang tanya apa saja yang kau lakukan?!”

Eunhee mendengus mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Chen kepadanya.

“Apa pedulimu? Terserah aku mau berbuat seperti apa. Memangnya kau siapa?”

Pada akhirnya Eunhee membiarkan emosi menguasai dirinya. Sekalipun ia sendiri tidak percaya dengan apa yang ia katakan barusan, tapi setelahnya gadis itu memilih untuk tidak ambil pusing dengan pandangan kosong yang ditunjukkan Chen padanya. Dengan mudah Eunhee melepas genggaman tangan Chen di tangannya. Eunhee memutuskan untuk segera pergi dari sana dan pulang ke rumah secepatnya .

Gadis itu bahkan hanya berjalan beberapa langkah terbebas dari Chen sebelum laki-laki itu kembali menariknya untuk mendekat. Kali ini tak tanggung-tanggung. Chen memeluknya erat dari belakang dan membuat tubuh gadis itu meremang seketika. Eunhee berubah tak memiliki kekuatan sama sekali untuk meloloskan tubuhnya dari pelukan laki-laki itu. Bagaimana bisa? Ia bahkan terkejut menerima pelukan yang dirindukannya itu.

“Aku mengkhawatirkanmu, bodoh.”

Degup jantungnya sama dengan degup jantung Chen yang bisa ia rasakan. Degupan itu bahkan meningkat seiring dengan Chen yang membenamkan wajahnya di bahu milik Eunhee, menyesap aroma favorit laki-laki itu yang sudah lama tidak ia lakukan. Eunhee hanya bisa menahan nafasnya. Ia bahkan berdiri kaku dalam diam tidak membalas perlakuan Chen sedikitpun. Tangannya setia tergontai di samping kiri dan kanan tubuhnya.

“Kau sudah berjanji tidak membuatku khawatir sekalipun aku tidak ada bukan? Jadi bisakah setidaknya kau tepati janji itu saja?”

Eunhee menggigit bibir mencoba menahan tangisnya. Ia ingat, bahkan terlampau ingat dengan janji yang selalu ia ucapkan setiap kali mereka bertemu. Tapi tahukah laki-laki itu karena siapa ia tidak bisa menepati janjinya?

Seolah tersadar dengan kalimat yang diucapkan Chen barusan, Eunhee buru-buru kembali berusaha melepaskan diri. Ia berusaha berontak dari kukungan erat Chen pada tubuhnya. Nihil, yang ada Chen semakin erat memeluk tubuhnya.

 “Lepas−“

“Sebentar saja,” potong Chen. “Setidaknya sebentar lagi saja. Aku benar-benar merindukanmu, Eunbee-ah,” lanjut laki-laki itu.

Tubuh Eunhee rasanya nyaris merosot jika saja Chen tak memeluknya erat. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan dan mengalir begitu saja. Mimpinya selama ini serasa begitu nyata. Ia bahkan bisa merasakan detak jantung laki-laki itu dari jarak dekat dan menghirup aroma maskulin yang dirindukannya. Eunhee hanya bisa diam sambil memejamkan mata mencoba merekam memori demi memori yang mungkin ke depannya tak akan bisa ia rasakan.

Mendapati Eunhee yang hanya terdiam dalam pelukannya, membuat Chen dengan mudah membalikkan tubuh gadis itu agar bisa berhadapan dengannya. Chen ingin memuaskan diri untuk melihat dan mengingat wajah gadis itu. Menyentuhkan jarinya di pipi milik Eunhee, merasakan hangatnya pipi gadis itu. Lalu perlahan setelah tangannya sampai di dagu Eunhee, ia mengangkatnya pelan lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Eunhee yang kini tengah memejam erat.

Detik berikutnya, Chen berusaha sebisa mungkin menyampaikan lewat bibirnya jika ia begitu mencintai gadis itu.

Sebisa mungkin juga menyampaikan kesan jika ia tak rela gadis itu terlepas dari genggamannya.

Nb: Thanks to ka Echa yang mau minjamin Hyojin sebentar. Lalu buat Waijimaji yang bantu bikin poster dengan tutorialnya. Dan buat Jongdae yang makin hari semakin tampan ❤

Entah ini bakalan jadi entree terakhir atau tidak. Yang pasti ke depannya aku mau fokus sama DaeHwa Project (klik). Sampai ketemu di ff berikutnya, terima kasih sudah mau membaca 🙂

Iklan

5 thoughts on “DaeHee Entrée – Stay in Love

  1. Aku nangis, aku nangis nih TT
    Tolong tanggung jawab tolong..
    Sedih bngt sih, knp gini bngt 😦
    Tp pas di ending itu msh ada harapan kan yah dan itu bukan yg bener2 ending kan, pasti ada kelanjutannya kaan?
    Semangat terus ya nulisnya! Tetep nulis ff pokonya disela2 kesibukan hehe. Fighting!
    Salam lope lope~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s