Marquee Reflection – Reflection

marquee-reflection-poster-second-version

7th │Marumero │ Kim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun,  EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

Tidak mungkin wanita itu adalah saudara Sehun ataupun memiliki hubungan darah dengannya karena mereka berciuman singkat. Lalu kenapa Sehun menciumnya?

Ha! Aku diselingkuhi lagi.

Kenapa hal ini kembali terjadi padaku? Apakah aku tampak begitu gampang diselingkuhi? Ini bukan pertama kalinya aku diselingkuhi, hal seperti ini sudah menjadi makanan wajib sejak dulu, sejak aku masih berpacaran dengan Jongin. Bukan hal biasa lagi.

Aku masih terus bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi, terkadang aku masih menganggap semua yang kulihat semalam hanyalah halusinasi belaka, meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi malam mungkin saja aku hanya membayangkan sedang melihat Sehun dan berharap orang yang semalam ku temui sedang bersama wanita lain selain diriku itu bukanlah Sehun.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku mengamini kenyataan bahwa lelaki itu memang benar-benar Sehun. Aku mengenal dengan baik Sehun setidaknya selama dua bulan terakhir. Aku tau apa saja yang ia lakukan dan kami juga sering melakukan banyak hal bersama.

Apa yang salah denganku sehingga Sehun memutuskan untuk berselingkuh?

Aku selalu menuruti apapun permintaannya, aku tidak melakukan kesalahan fatal yang membuat Sehun sebegitu mudahnya berpaling dariku dan apa yang terjadi antara aku dan Jongin tidak mempengaruhi hubungan kami sebegitu besar.

Kecurigaanku terus bertambah saat aku menyadari beberapa hari terakhir Sehun jarang berkunjung ke tempatku dan ia punya banyak sekali alasan untuk tinggal di luar. Aku mendengus pelan saat mengingat alasan Sehun tidak ke tempatku adalah karena urusan pekerjaan. Tentu saja bukan itu, kan.

Tentu saja karena ia sudah punya wanita lain.

“Sesuatu sedang terjadi?” tanya Sehun padaku saat malam tiba dan ia mampir ke tempatku. Sehun langsung mengetahui sesuatu sedang terjadi karena aku tidak lagi menyambutnya seperti biasa dan raut wajahku yang sedikit berubah.

Aku hanya terdiam, merasa tidak enak hati ingin menanyakan kebenaran tentang wanita itu karena aku masih belum percaya dengan yang terjadi malam sebelumnya.

Sehun duduk bersamaku di atas ranjang dan menjejerkan punggungnya di samping punggungku. “Sepertinya ada yang tidak beres, ceritakan padaku.” Ia menggenggam tanganku dan mulai mendekatkan wajahnya untuk menciumku. Tapi aku langsung menyentuh dagu Sehun dan menghentikannya.

“Boleh aku menanyakan sesuatu?” tanyaku langsung setelah mengumpulkan tekad untuk berani menanyakannya. Sehun masih berhenti di tempat, aku bisa merasakan matanya menelusuri wajahku di bawah cahaya lampu. Aku tidak sanggup menatap matanya dan hanya memandangi hidung dan bibirnya.

“Tidak biasanya kau menanyakan sesuatu padaku tentang hal yang serius begini. Tentu, tanyakan saja.” Jawabnya santai.

Aku menarik napas pelan dan memberanikan diri untuk menatap Sehun, namun tatapanku kembali lagi ke hidungnya. “Sehun,” aku berhenti, masih merasakan keraguan yang mendekam karena pertanyaanku. “Apa.. apa kau selingkuh di belakangku?” lalu aku menatap matanya intens, mencari jawaban yang bisa ku baca dari tatapannya sebelum ia menjawab pertanyaanku dengan jujur, tapi aku tidak mendapatkan apapun dari matanya.

Sehun membenarkan posisi duduknya dan membalas tatapanku. “Apa maksudmu?” Sehun bertanya.

Pertanyaannya membuatku bingung karena sebelumnya aku berpikir mungkin Sehun akan langsung menjawab pertanyaanku. Keheningan lalu muncul di antara kami yang masih saling tatap.

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Sehun menambahkan.

Yang membuatku berpikir seperti ini? Tentu saja karena kejadian kemarin malam, kan? Aku menanyakan pertanyaan itu pada Sehun, aku mempunyai kemungkinan jawaban yang sebenarnya terjadi, tapi aku tidak benar-benar ingin meyakini kenyataan yang ada. Aku tidak ingin mendengar jawaban Sehun, tapi aku ingin tau kepastiannya.

“Kemarin… kemarin malam, aku melihatmu bersama … seorang wanita.” Aku menjawabnya ragu dan masih terus menatap matanya.

Ada perubahan dalam wajah Sehun, raut wajahnya berubah menjadi kebingungan dan mengerutkan kening dalam. Seperti sedang mencerna perkataanku dengan lambat. Matanya mengerjap-ngerjap cepat, lalu Sehun menanggapi.

“Kemarin malam?” tanyanya seolah sedang mengingat apa yang telah ia lakukan. “Wanita itu Junhee, Eunjoo.” Lanjutnya.

Sekarang giliran aku yang mengerutkan kening dalam dan mengerjap-ngerjapkan mata bingung. “Siapa Junhee?” tanyaku kebingungan.

Junhee? Siapa Junhee? Aku baru pernah mendengar nama itu.

Sehun melongo dan menatapku tak percaya. “Pacarku?” ucapnya lagi.

Bagaikan tersengat listrik, tubuhku menyentak ringan dan aku menegakkan punggungku. Menatap Sehun penuh kebingungan dan ketidakpercayaan. Aku masih belum mencerna apa yang Sehun katakan dan aku seperti mobil oleng yang mendadak tidak bisa berfungsi. Aku tidak bisa menjalankan pikiranku yang mentok karena jawaban Sehun.

Pacar Sehun? Bagaimana mungkin ia pacar Sehun? Bukannya aku yang pacar Sehun?

“Pacarmu?” tanyaku dengan suara yang melengking tinggi.

Sehun menyapukan jari-jarinya ke rambut, kembali menatapku tak percaya.

“Kau tidak ingat Junhee?” suara Sehun ikut melengking dan aku masih menatapnya kosong. “Dia anak kelas sebelah saat kita SMA. Pemenang olimpiade Sains tingkat nasional saat kelas dua. Kau tidak ingat?”

Apa? Wanita itu satu sekolah denganku? Dengan kami semua? Bagaimana mungkin?

Mendadak kepalaku pening dan barang-barang di dalam ruangan seolah berputar-putar membuatku semakin pening. Aku memejamkan mata membayangkan seperti apa Junhee yang Sehun maksud. Aku tidak punya gambaran sama sekali tentang wanita ini, ia tidak pernah ada dalam ingatan SMA-ku. Perutku mual dan mataku mulai memanas.

Aku menggelengkan kepala pelan, mementalkan jawaban-jawaban Sehun yang tidak ingin ku terima.

“Sudah berapa lama kalian berpacaran?” tanyaku menahan tangis.

“Lama.” ucapnya, “Sejak tahun ketiga saat SMA.” Lanjutnya datar.

Rasanya bagaikan sedang di palu di jantung hingga aku bisa merasakan suara dentingannya sampai ke telinga. Tanganku bergetar hebat, antara menahan amarah dan menahan tangis yang tertahan.

Sejak tahun ketiga saat SMA? Itu berarti sudah enam tahun yang lalu? Apa-apaan ini? Aku merasa terhianati.

Aku menatap Sehun garang dan rasanya aku ingin mengamuk di tubuhnya, tapi segala emosi masih terus ku tahan untuk menjaga suaraku tetap stabil.

“Bagaimana bisa aku tidak tahu?” tanyaku datar.

“Kau tidak tahu?” suaranya penuh dengan keheranan dan aku tidak mempedulikannya.

Aku menggeleng dan mulai ngos-ngosan.

“Aku kira kau tahu, Eunjoo.” Sanggahnya enggan.

Jadi itu kenapa Sehun ingin merahasiakan hubunganku dengannya? Jadi itu juga kenapa kami selalu pergi ke pinggiran kota ketimbang ke pusat kota yang penuh dengan orang-orang yang kami kenal? Jadi itu juga alasan kenapa Sehun tidak cemburu saat melihat Jongin mendatangiku?

Kemudian aku mengulas kembali semua kejadian yang telah aku lakukan bersama Sehun dua bulan terakhir, sejak awal aku seharusnya sudah tahu kemungkinan ini. Tapi ternyata aku terlalu buta.

Aku terlalu buta karena sangat mudah jatuh pada hati Sehun dan begitu tergesa-gesa menyimpulkan perasaanku pada Sehun adalah cinta. Tapi ku rasa satu hal ini tidak salah, aku memang mencintai Sehun dan aku tidak bisa menerima apa yang terjadi.

“Aku tidak pernah tahu, Sehun.” Aku menggeleng pasrah. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Kau juga tidak menanyakannya padaku, Eunjoo.” Sehun membela diri. “Lagipula semua orang tahu tentang hubunganku dengan Junhee, jadi aku tidak tahu kalau ternyata kau bahkan tak mengenal Junhee.”

“Aku tidak mengenal semua teman-teman di kelas lain selain kelas kita.” Ujarku menimpali.

“Tentu saja, karena kau terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Jongin, jadi kau tidak tahu apa yang terjadi di sekitarmu selain tentang kalian sendiri.”

Sehun benar. Masa SMA-ku adalah tentang Jongin. Dan masa remajaku hanyalah tentang Jongin.

Sehun tidak menanggapiku lagi saat aku menundukkan kepala kemudian dan menatap kakiku sendiri di antara tumpukan bantal. Keheningan meliputi kami dan aku meringis pahit, mengetahui akulah satu-satunya yang menjadi selingkuhan, bukan Sehun yang berselingkuh di belakangku, melainkan akulah yang selingkuhannya.

Tapi apa yang harus aku lakukan sementara aku telah terlanjur mencintai Sehun dan rasanya aku tak ingin hidup tanpanya. Aku bergidik ngeri saat membayangkan Sehun nantinya akan meninggalkanku dan aku hidup tanpanya. Aku tidak pernah berpikir sedikitpun hubungan kami berdua bisa berakhir dan berujung dengan kejadian seperti ini.

Ia tidak pernah menunjukkan padaku sedikitpun bahwa ia mempunyai pacar ataupun semacamnya. Yang aku tau, dalam kehidupan Sehun−selama dua bulan terakhir−hanya ada aku. Tidak pernah terbayang sedikitpun Sehun ternyata memiliki wanita lain, yang jauh lebih penting daripada diriku sendiri. Junhee lah permaisurinya, aku hanya selir yang memenuhi kebutuhannya dan dalam saat yang sama Sehun juga memenuhi kebutuhanku.

Dan ya!

Aku ingat saat aku menanyakan pertanyaan pada Sehun di pagi pertama saat kami bertemu malamnya. Sehun tidak menjawab pertanyaanku dengan jelas saat aku menanyakan apakah kami berdua berpacaran. Secara tidak langsung sebenarnya ia tidak pernah menjawabnya. Dan aku begitu bodoh karena mempercayai Sehun sebegitu mudahnya.

Dan memang betul ia hanya menganggapku sebagai kebutuhan, karena Sehun tidak pernah sedikitpun menganggapnya sebagai cinta, hanya sebatas kebutuhan.

Perutku semakin mual dan kepalaku semakin pening menyimpulkan kejadian-kejadian tersirat dari semua perkataan Sehun. Ia sangat hati-hati mengucapkan kata-katanya dan aku tidak ingat Sehun pernah mengatakan ia mencintaiku. Yang ada, aku yang mengucapkan kalimat itu padanya.

Kecanggungan dan keheningan masih berlangsung. Aku menatap Sehun yang ikut terdiam sepertiku. Aku sudah terlanjur mencintai lelaki ini, lalu apa yang harus aku lakukan?

“Jadi…” aku memulai, membuatnya menoleh padaku. “Aku selingkuhanmu?” tanyaku getir, menyelipkan tawa kecil setelahnya.

Sehun menatapku memelas dan aku menatapnya penuh sayang, bagaimanapun juga, Sehun menyembuhkan beberapa luka di dalam hatiku. Walaupun aku tidak tau lagi sekarang seperti apa bentuk hatiku karena Sehun menambahkan beberapa luka baru di sana.

“Maafkan aku…” ujar Sehun. Aku menggelengkan kepala. Merasa itu bukan kalimat paling tepat yang terlontar dari mulutnya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu buta, Sehun.” Tegasku, masih terus mencoba membuat Sehun tidak buruk dimataku. Mengalihkan perhatian agar hatiku tidak terluka karena perbuatan Sehun.

Entah aku harus menyalahkan siapa. Aku ingin menyalahkan diriku sendiri, tapi aku merasa tidak bersalah. Aku ingin menyalahkan Sehun, tapi aku tak bisa. Aku ingin menyalahkan Jongin karena ia membuatku tergila-gila padanya dulu dan tidak tahu apa yang terjadi selain di kehidupan kami berdua.

Jadi ini maksud Jongin tentang Sehun adalah lelaki brengsek? Kenapa ia tidak memberitahuku saja sejak awal jika Sehun telah memiliki pacar dan memberiku alasan yang jelas mengapa aku harus meninggalkannya daripada harus mengusik hidupku dan membuatku jengkel.

“Kau tahu aku lebih membutuhkanmu.” Sehun mengucapkannya tulus.

Ya karena akulah kebutuhanmu.

Aku menarik Sehun mendekat padaku dan aku menciumnya hangat di bibir. Aku mendekapnya dan menciumnya lebih dalam. Sehun merespon ciumanku dan membiarkanku terbuai oleh perlakuannya yang menenangkan.

Aku tidak bisa membiarkannya menjadi milik orang lain. Sehun hanya milikku.

Keesokkan paginya, aku tahu sedikit banyak dengan kenyataan yang semalam terungkap telah merubah perlakuan Sehun padaku. Sehun tidak berpamitan saat pulang dan itu membuatku sedih.

Pada akhirnya aku kembali kesakitan setelah beberapa luka di dalam hatiku telah tertambal rapat, kini luka itu mengelupas perlahan dan kesakitan itu akan muncul dengan sendirinya.

Seperti pagi ini saat aku menatap diriku dalam cermin, maratapi nasibku sendiri mengapa mengalami kejadian hidup yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ketika di masa lalu aku di selingkuhi dan di masa sekarang justru aku yang menjadi selingkuhan. Apa salahku, ya Tuhan?

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena aku terjatuh kembali dalam kesakitan cinta yang memuakkan, tapi demi cintaku pada Sehun yang ingin ku pertahankan, aku akan berjuang sekuat tenaga.

Ternyata tekadku berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, ketika aku justru merosot ke lantai dan memegangi dadaku yang terasa di tusuk-tusuk karena kepedihan yang melanda. Tega-teganya Sehun melakukan ini padaku?

Aku tau ia membutuhkanku seperti aku juga membutuhkannya. Tapi dengan rasa cintanya yang hampir tak pernah ada untukku membuatku semakin tersayat. Membayangkan Sehun akhirnya memutuskan untuk pergi dariku dan aku di tinggal sendiri bersama dengan cinta yang ku ambil dari hatinya. Berdarah-darah seperti beberapa tahun lalu.

Aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri kembali pada kesakitan seperti dulu.

Tangisku pecah beriringan dengan suara tangis yang keluar menyeruak ke seluruh ruangan, mengumandangkan kepedihan hati yang sangat menyakitkan.

Dengan masih sesenggukan aku menyambar ponselku dan mencari kontak nomor seseorang yang dulu pernah sangat ku kenal. Ia langsung mengangkatnya dalam sekali panggilan, tentu saja.

“Jongin,” aku menghela napas panjang, menyeimbangkan suaraku yang parau. “Kurasa kau benar tentang Sehun.”

.

.

A/N: Jadi… seperti itu yang terjadi 😦 gimana menurut kalian? Heuheuheu

Keep reading, comment, like, review! Love you darlings and keep loving our EGD ♥

Btw, poster barunya gimana? 😀

Iklan

3 thoughts on “Marquee Reflection – Reflection

  1. aku udah ngerasa banget OSH jahat dari part 3 dan 4 ketika Eunjoo ketemu Jongin dia nyante2 aja -_- dan sekarang Eunjoo jadi budak se* nya sehun

  2. Sehun teganyaaa ckck
    tuhkan akhirnya kejawab juga doh bikin greget parah
    apalagi sama eunjoo nya juga gegara dia keras hati pas kai ngingetin kmprt kerennn ((:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s