Marquee Reflection – Big Thing

marquee-reflection-poster-second-version

6th Marumero │ Kim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun,  EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

“Lepaskan aku.”

Usahaku untuk menghindar dari Jongin runtuh seketika saat lengannya menangkap lenganku yang berjalan di depannya. Aku mendelik−yang sama sekali tidak ia pedulikan−padanya, membuat mataku perih karena menahan kesal. Aku melirik Kyungsoo dan Yoomi yang bediri di seberang ruangan memandang ke arahku dan Jongin khawatir, bahkan Yoomi telah beranjak dari tempat duduknya.

“Tidak.” Ucap Jongin tegas.

Aku menggerakkan tanganku, mencoba melepaskan diri dari genggaman tangannya tapi aku tak bisa. Suara gumaman pelan para pengunjung mulai terdengar di sekitar meja di mana kami berdiri, aku melirik cepat pada mereka dan Jongin juga melakukan hal yang sama, lalu detik berikutnya Jongin menarikku keluar dari ruangan dan membawaku ke bagian depan kafe. Aku memandang Yoomi yang mengikuti di belakangku bersama Kyungsoo, memberinya tatapan permintaan tolong.

“Aku hanya ingin berbicara dengan Eunjoo, tolong beri kami waktu.” kata Jongin pada Yoomi dan Kyungsoo saat mereka masih mengikuti di belakang kami. Jongin meyakinkan mereka dan kembali membawaku ke tepi jalan.

“Lepaskan aku, Jongin. Jangan sentuh aku.” Aku berkata ngotot padanya, ia hanya menanggapiku dengan tatapannya yang penuh kekesalan dan frustasi.

“Aku ingin kau mendengarkanku, Eunjoo. Jauhi laki-laki itu! Aku tidak ingin kau bersamanya.”

“Kenapa? Kenapa kau ingin sekali aku berpisah dengannya? Untuk apa, Jongin?” aku menyanggahnya frustasi, terbawa suasana yang dibuat oleh Jongin.

Aku melihat Yoomi bersama Kyungsoo di kejauhan dan merasa sedikit khawatir jika mereka bisa mendengar pembicaraan kami. Aku hanya berharap semoga Jongin tidak menyebut nama Sehun sama sekali atau jika ia mengucapkan nama Sehun, semuanya akan langsung terbongkar.

“Kau.. kau hanya tidak tau dia yang sebenarnya, jadi tolong jauhi dia. Aku tidak ingin kau terus bersamanya.” Jongin menatap mataku serius, memberitahuku melalui kata-kata dan tatapan matanya yang sangat sarat makna. Aku tidak mengerti kenapa Jongin sebegitu ngototnya ingin memisahkan aku dengan Sehun. Tapi itu bukan hal yang benar menurutku, aku tau apa yang aku inginkan, bersama Sehun. Aku tidak bisa mengikuti apa yang Jongin inginkan, lagipula ia tak punya hak sama sekali untuk memgatur hidupku lagi, itu yang menyebalkan.

“Itu urusanku, Jongin. Tidak seharusnya kau merecoki urusanku, ini adalah urusan pribadiku.” Aku menekankan.

Jongin menatapku semakin frustasi, satu tangannya yang bebas mengacak rambutnya kesal. Aku memandanginya garang, marah karena Jongin bertingkah semaunya sendiri.

Frustasi Jongin yang aku tidak tau alasan sebenarnya karena apa akhirnya terlontar dalam teriakan kecil, membuatku sedikit terkejut dan menciut. Aku akan tetap berani jika saja tanganku tidak lagi dalam genggamannya, tapi dalam situasi seperti ini, aku tak bisa berbuat banyak.

Yoomi dan Kyungsoo menatap kami berdua semakin khawatir setelah teriakan Jongin.

“Dia… dia itu brengsek, Eunjoo. Harus ku katakan berapa kali lagi untuk membuatmu mengerti?” geramnya menatapku lurus di mata. “Oke, aku minta maaf karena aku telah merecoki urusanmu, tapi ini demi kebaikanmu. Aku tidak ingin kau…” Jongin menghentikan kata-katanya.

Aku terdiam. Jongin masih menggantungkan kata-katanya.

Lalu Jongin hanya menghela napas panjang dan mengendurkan pegangannya di lenganku. Aku menatapnya bingung.

Saat ia mengucapkan kata-kata selanjutnya, nadanya merendah dan ia maju selangkah lebih mendekati tubuhku.

“Intinya, aku ingin kau menjauh darinya.” Ucapnya.

Aku masih tidak habis pikir kenapa Jongin ingin sekali memisahkan aku dengan Sehun, aku tidak ingin ia terus berharap padaku dan membuatku mencintainya lagi dengan merecoki urusanku dengan lelaki lain selain dirinya. Aku benci Jongin yang terus mendesakku menjauhi Sehun. Sehun lelaki pertama yang dekat denganku setelah kami putus, apakah jika aku dekat dengan laki-laki lain selain Sehun, Jongin juga akan melakukan hal yang sama? Merecoki urusan pribadiku?

Aku membuang muka, tidak ingin menggubris apa yang Jongin katakan.

Di tepi jalan, saat itulah terdapat taksi yang melintas tertangkap oleh mataku dan pegangan Jongin yang terus mengendur memberiku kesempatan untuk kabur darinya. Lalu saat taksi itu melintas di depanku, aku menghentikannya.

“Jongin, aku tidak ingin mendengarkanmu lagi.” Ucapku padanya saat aku menyentakkan lenganku dari genggamannya dan terlepas.

Jongin meneriakkan namaku saat aku masuk ke dalam taksi. Mengetuk-ngetuk kaca mobil tapi aku memberitahu kepada si sopir untuk melaju. Jongin tidak bisa mencegahku pergi dan dalam saat yang sama Yoomi memanggil Jongin, Kyungsoo menahannya untuk tidak pergi mengejarku. Bahkan aku melihat Minseok juga ikut keluar di ambang pintu. Jongin selalu membuat onar.

Aku membanting tasku keras-keras sesampainya di apartemen, amarahku memuncak seiring dengan ketakutanku yang meningkat, kenapa Jongin membuatku seperti ini?

Aku tidak suka kehadirannya yang sangat mengganggu hidupku sekarang. Dan juga, kenapa Jongin datang lagi ke hidupku sekarang? Ketika aku sedang membangun hubungan baruku bersama lelaki lain? Apa Jongin benar-benar berencana menghancurkan hidupku yang sudah sangat hancur ini, membuatnya semakin tak berharga? Tegakah Jongin melakukan itu padaku, sungguhkah ia melakukan semua ini untuk lebih menyakiti hatiku?

Kenapa Jongin ingin merecoki hubunganku dengan Sehun? Itu yang membuatku sebal, kesal dan jengkel sampai ke ubun-ubun. Jongin tidak punya hak lagi untuk mengatur hidupku, tapi dengan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini, membuatku semakin muak padanya. Membuat hubungan baik yang ingin ku bangun bersamanya hancur lebur. Tak ada kesempatan lagi bagi Jongin untuk dekat dengan kehidupanku, menutup kemungkinan aku bisa menganggapnya sebagai teman dan aku semakin membencinya.

Aku terenyak di atas sofa di tengah ruangan, merosot ke lantai, menahan diri untuk mengontrol diriku sendiri dari serangan kesakitan yang muncul di dada. Aku tidak suka membayangkan−ataupun mengulas kembali potongan-potongan episode saat hubunganku berakhir dengan Jongin. Bagaimana ia membuatku sangat berdarah-darah dan… aku tidak ingin merasakannya lagi. Tidak saat aku baru saja menemukan kebagiaan lain. Kesakitan ini tidak pantas muncul di antara hubungan baruku yang bahagia, Jongin tidak pantas hadir di tengah-tengah hubunganku dan Sehun. Tapi Jongin telah melakukannya.

Kenapa ada orang berhati seperti Jongin, ya Tuhan? Kenapa ada orang yang sangat ingin membuatku hancur berkali-kali seperti Jongin? Tidak bisakah ia membiarkanku bahagia dengan orang lain? Aku tau ia mungkin masih mencintaiku, tapi tidak bisakah ia merelakanku bahagia juga, dengan orang lain? Ini hidupku, kenapa Jongin membuat susah hidupku?

Kuseka wajahku yang akhirnya basah karena air mata, segala tentang Jongin pada akhirnya membuatku selalu kesakitan, tidak peduli dengan kebahagiaan dan kesenangan yang dulu kami buat, akan terabaikan seketika saat mengingat apa yang terjadi di penghujung hubungan kami.

Kenangan yang Jongin tinggalkan dalam lembar hidupku menjadi menghitam dan sekarang dengan perbuatannya yang seperti ini membuatnya semakin hitam.

Ponselku berdering dari dalam tas, aku menyambarnya dan melihat siapa si pemanggil dari layar ponsel. Jongin yang menelepon, aku mengerang jengkel, ku letakan ponselku sembarang, tidak ingin mengangkatnya dan tidak akan pernah mengangkatnya.

Ponselku terus berdering sampai berpuluh-puluh panggilan yang tak ku angkat. Aku memandang kosong ke arah ponselku yang berkelap-kelip, sama sekali tidak punya keinginan untuk mengangkatnya, memandangi nama Jongin yang terus terpasang di layar.

Saat berikutnya, nama yang tertera di layar berganti menjadi Yoomi, lalu aku menyambar ponselku dan segera mengangkatnya.

“Yoomi… “ kataku penuh sesal, mengingat apa yang terjadi sebelumnya saat aku langsung pergi meninggalkannya bersama Kyungsoo.

“Eunjoo…” aku terkejut saat mendengar suara yang bukan miliknya, aku mengecek kembali layar ponselku dan tidak salah itu adalah nomor Yoomi. Aku langsung mengenali suara yang ada di seberang telepon, aku langsung menjauhkannya dari telingaku dan hampir menutup telepon saat Jongin kembali melanjutkan. “Tunggu Eunjoo, jangan di tutup, maafkan aku karena begitu lancang padamu, dan tolong, aku ingin bicara baik-baik padamu, jadi biarkan aku tetap bicara.”

Jongin meminta izin, aku terlalu muak dan sudah tau apa yang akan ia bicarakan, tidak lain dan tidak bukan adalah tentang Sehun pastinya. Tapi karena Jongin terus memohon padaku, akhirnya aku memberi kesempatan untuk membiarkannya bicara walaupun aku tidak meresponnya sama sekali.

“Aku… aku minta maaf dari hatiku yang paling dalam dengan apa yang ku lakukan padamu, aku tidak tau lagi harus bagaimana menghadapimu, untuk membuatmu tersadar dan… menjauhi lelaki itu.” Aku mendengar suara Jongin yang terlihat sangat di jaga, aku yakin karena Yoomi ada di sana sedang mengawasi. Setitik dalam hati aku berterima kasih pada Jongin karena telah menyembunyikan identitas Sehun dengan terus menyebutnya ‘lelaki itu’. Dan itu menandakan Jongin benar-benar mengerti apa yang terjadi antara aku dan Sehun, termasuk hal tentang Sehun ingin menyembunyikan hubungan kami terlebih dulu. Dan bagaimana Jongin bisa tahu?

“Kau tau aku telah membuat hidupmu sangat berantakan, Eunjoo. Aku telah menghancurkannya. Dan aku tidak ingin melihatmu lebih hancur lagi setelah apa yang telah ku lakukan padamu dulu. Aku tidak ingin lelaki itu ikut menghancurkanmu juga.” Aku menegakan punggungku bersandar pada sofa. Apakah Jongin ingin mengungkit lagi kisah dua tahun lalu? Tidak ingin Sehun ikut menghancurkanku juga? Kurasa Sehun tidak berniat sedikitpun untuk menghancurkanku. “Aku mencintaimu, masih mencintaimu. Aku tau kau tidak bisa membalasnya lagi, terlebih saat lelaki itu datang dan memberimu sebentuk cinta yang kau butuhkan. Tapi tidak bisakah kau memikirkannya ulang dan menjauh dari lelaki itu?”

Aku terdiam, tidak menyahuti perkataan Jongin. Tidak tau bagaimana harus meresponnya. Dan juga karena aku dan Jongin sama-sama tau aku tak bisa, tak ingin meninggalkan Sehun. Yang membuatku bingung adalah, kenapa Jongin menganggap Sehun sebagai ancaman karena nantinya akan menghancurkan hidupku? Kenapa?

“Kau menyakitiku, Eunjoo.” Katanya lagi. Aku mengernyit heran, bagaiamana bisa aku yang menyakitinya?

“Aku? Menyakitimu?” kataku akhirnya bersuara.

“Ya. Dengan perbuatanmu yang seperti ini, kau membuatku kesakitan.” Ulangnya penuh nada sedih. Aku menggeleng tak percaya. Sakit? Darimana datangnya kesakitan Jongin? Yang ada ia yang menyakitiku, bukan? Amarahku kembali naik ke ubun-ubun setelah beberapa waktu lalu sedikit menurun. Dimana otak Jongin? Bisa-bisanya ia bicara begini? Akulah yang tersakiti dan kesakitan. Dan ia satu-satunya orang yang membuatku seperti ini dan sekarang ia membalikkannya padaku? “Sejak dua tahun yang lalu dan sekarang, kau menyakitiku.” Lanjut Jongin.

“KAU YANG BERSELINGKUH DI BELAKANGKU DAN MEMBOHONGIKU SETIAP WAKTU, JONGIN! SELAMA LIMA TAHUN KAU TERUS MELAKUKANNYA!! KAULAH SATU-SATUNYA YANG MENYAKITIKU!!!!” aku berteriak pada ponselku, meluapkan amarah yang tertahan dan langsung memutus sambungan. Menahan napasku tetap stabil karena naik turun menahan amarah, membiarkan air mata semakin mengalir di pipiku, merasakan kesakitan yang semakin menusuk-nusuk di dada.

Malam-malam berikutnya Sehun kembali rutin berkunjung, walau tidak sesering saat awal, karena kami lebih sering menghabiskan waktu berdua di luar. Kejadian beberapa waktu lalu dengan Jongin membuatku gelisah beberapa hari, tapi dengan kehadiran Sehun, membuatnya lebih mudah untuk dilalui.

Kami pergi ke beberapa tempat, membuat kenangan di sekeliling jalanan pinggiran kota. Kami lebih sering pergi dari keramaian kota yang sangat menjenuhkan dan berkunjung ke taman-taman indah yang sepi pengunjung, menenteng kopi panas sambil berjalan-jalan di jalanan bersalju yang semakin menebal setiap harinya. Musim sudah berganti dan kulalui bersama Sehun. Dan aku masih merahasiakan apa yang terjadi antara aku dengan Jongin beberapa waktu lalu.

Kami membicarakan banyak hal tentang kami sendiri. Bercerita tentang hal-hal yang kami kuasai dan kami sukai.

Aku benar-benar seperti orang asing yang baru bertemu dengan Sehun, karena aku sama sekali tidak mengerti apapun tentang Sehun, padahal dalam beberapa hal ia tau tentang diriku, karena ia berteman dengan Jongin dan dulu mereka sering bersama.

Sehun membuatku merasa kembali utuh karena perlakuannya, apapun yang ia lakukan untuku rasanya penuh cinta dan itu membuatku bahagia karena aku merasa dicintai. Hal lama yang tidak lagi ku temukan. Setiap hari di dalam otakku hanyalah Sehun, Sehun dan Sehun. Aku seperti di mabuk asmara karena ia memang sangat memabukkan. Dan aku juga senang saat melihat ekspresi yang sama sepertiku di wajah Sehun.

Kami beberapa kali pergi ke taman itu karena tempatnya sangat nyaman dan bisa mendekatkan kami berdua.

Di penghujung tahun, sebelum Natal, kami berdua jadi jarang bertemu karena Sehun sibuk mengurusi dokumen-dokumen akhir tahun, ternyata aku juga mendapat kesibukan yang sama di toko. Karena toko kami menjadi dua bagian yaitu bagian CD dan buku, akhirnya Jimin memintaku untuk datang ke toko suatu waktu, memohon untuk membantunya yang sedang kualahan.

Jadilah aku datang ke toko sehari sebelum Natal, menangani penghitungan tahunan. Susahnya bukan main membantu Jimin, sebagai lulusan sarjana perairan, hitung-menghitung uang bukanlah bidang yang sangat ku kuasai, tapi karena tuntutan profesi aku harus melakukannya dengan baik.

Setelah bertahan di kantor dari pagi hingga malam, akhirnya setengah pekerjaan telah di selesaikan. Aku dan Jimin sepakat untuk melanjutkannya nanti setelah Natal karena kami akan rehat sementara waktu. Aku menyetujuinya.

“Apa kau lapar? Ayo makan bersama.” ajak Jimin setelah kami berkemas-kemas.

Aku mengecek ponselku dan membaca pesan Sehun yang baru ku terima, ia tidak bisa bersamaku malam ini karena ia masih ada urusan. Jadi ku iyakan ajakan Jimin.

“Baiklah. Beri aku sesuatu yang menyegarkan otak kalau begitu.” Kataku nyengir, Jimin tertawa dan kami mulai berjalan meninggalkan toko.

Kami berjalan-jalan dulu sebelum makan, menikmati jalanan malam sebelum Natal yang ramai dan juga karena salju tipis sedang turun, membuat malam ini menjadi indah.

Jimin mengajakku makan di tempat makan di pusat kota yang dulu sering kami kunjungi bertiga, bersama kakakku ketika kecil. Tempatnya sudah banyak berubah karena mengikuti perkembangan jaman, tapi tidak merubah kenangan kami dulu.

Kapan aku terakhir berkunjung ke sini? Sudah lama sekali, ya ampun.

“Setahun sebelum Hyunwoo hyung meninggal, kami makan bersama di sini dan ia membicarakan tentangmu.” Mulai Jimin saat kami sudah mulai makan.

Aku tidak pernah mendengar cerita yang ini dari Jimin, ia baru pernah mengungkitnya. Aku menatapnya bingung dan curiga, menerka apa yang kira-kira kakakku katakan.

“Tentang apa?” tanyaku penasaran.

“Tentang kau dengan pacarmu saat itu, siapa namanya? Aku lupa.” Katanya sambil mengunyah makanannya.

“Jongin?” ujarku ragu-ragu.

“Ya, iya itu namanya. Kau tidak berpacaran lagi dengan anak itu? Kurasa kakakmu sangat menyukainya.”

Kakakku menyukai Jongin? Sejak kapan mereka jadi akrab?

“Tidak, kami sudah putus sejak kakakku meninggal. Kenapa kakkaku menyukainya?” tanyaku semakin penasaran.

Jimin mengangkat bahu, tidak begitu yakin dengan jawaban yang akan ia lontarkan. “Menurut kakakmu ia orang yang menyenangkan dan bisa menjagamu dengan baik. Entahlah aku tidak begitu memahami perkataannya karena saat itu kami sedang minum bersama.”

Aku mendengus pelan. Menjagaku dengan baik dari mana? Dia yang menyayat-nyayat hatiku, kan.

Pertanyaan tersendiri bagiku bagaimana bisa kakakku bertemu dengan Jongin dan kakakku bisa menyukai Jongin. Aku menggeleng tak percaya.

Beberapa menit kemudian, kami selesai makan dan aku menolak tawaran Jimin untuk mengantarku sampai ke apartemen, aku memilih untuk pulang sendiri lagipula jalur bus kami berbeda arah. Dan juga karena aku ingin menikmati beberapa saat di tempat yang sudah lama tidak aku kunjungi ini. Aku berjalan di trotoar dan melihat-lihat ke sekeliling.

Aku menyipitkan mata saat tiba-tiba aku melihat Sehun keluar dari sebuah butik−bersama sesorang. Aku sudah mengangkat tanganku tinggi untuk memanggil Sehun, tapi saat aku melihat ada seseorang yang sedang berjalan di sebelahnya aku langsung menurunkan tanganku dan menajamkan pandanganku. Sehun berjalan bersama seorang wanita yang aku tidak tau itu siapa. Dengan gerakan refleks, aku mencari tempat perlindungan dan bersembunyi di balik pohon di tepi jalan.

Mereka sedang tertawa bersama, satu lengan Sehun melingkar di pinggang wanita itu dan satu tangannya yang lain menenteng tas berisi barang belanjaan. Jantungku mulai berdegup kencang. Aku mengamati mereka dalam diam, melihat sejauh mana ini akan berlanjut.

Saat mereka berdua sampai di depan mobil Sehun, si wanita tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher Sehun dan Sehun mengecupkan bibirnya singkat di sana. Aku tercenung, mataku membelalak lebar melihat apa yang terjadi.

Kakiku hampir bergerak maju menghampiri mereka tapi kutahan dengan sekuat tenaga agar aku tak beranjak seikitpun. Jantungku berdebar hebat, seperti sedang menonton film horor thriller.

Mereka pergi dan aku keluar dari balik pohon. Kakiku melemas. Apa yang kau lakukan di belakangku, Sehun?

.

.

A/N: hihihi~ lagu Beast yang No More, bener-bener bikin mood sesuatu banget waktu bikin chapter ini, makasih ya Junhyung ^^

Aku senang akhirnya banyak yang notice cerita ini dan aku juga senang karena keputusanku untuk membuat cerita ini nggak terlalu vulgar adalah keputusan yang tepat, menurutku sih 😀 JongSeJoo semakin pelik! XD

Monggo di like, komen, share, masukan apapun akan aku terima 😀 keep reading, keep loving our EGD dan terima kasih ♥

Iklan

2 thoughts on “Marquee Reflection – Big Thing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s