Marquee Reflection – Disturbance

marquee-reflection-poster

5th Marumero │ Kim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun,  EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

Aku kembali masuk ke dalam gedung dan menyeka wajahku yang basah karena air mata setibanya di dalam lift. Aku menyentuh dadaku, merasakan sakit yang seolah-olah menggerogoti jantungku, merasakan sakit yang selama ini terus aku hindari dengan susah payah.

Kenapa Jongin? Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau mendatangiku kembali untuk menyakitiku? Itukah tujuanmu?

Aku tidak habis pikir dengan apa yang Jongin lakukan, ia mendatangiku setelah pertemuan terakhir kami sekitar dua bulan yang lalu, bahkan itu bukan kesengajaan. Kami bertemu saat sedang berkunjung ke kafe Minseok, kebetulan kami datang seorang sendiri, jadi kami bergabung minum bersama. Saat itulah terakhir kalinya kami bertemu, kami baik-baik saja, terus menjaga sikap untuk memperbaiki hubungan kami yang tidak baik sejak kami putus. Pertemuan terakhir kami sangat baik, hingga beberapa saat lalu ketika ia tiba-tiba berdiri di depan pintu kamarku, mengacaukan semuanya dan menyakiti hatiku lagi. Kenapa Jongin?

Aku mencoba sebisaku untuk memperbaiki hubungan kami berdua, tapi apa yang Jongin lakukan? Ia justru merusaknya.

Kakiku melangkah dengan lesu saat denting lift berbunyi menandakan aku telah sampai di lantai yang aku tuju. Aku mengusap seluruh air mata yang tersisa di wajahku, menarik napas dalam-dalam dan menghelanya, menyeimbangkan suaraku yang parau karena tangis. Aku tidak ingin Sehun melihatku seperti ini.

Tanganku membeku di ganggang pintu sejanak saat melihat Sehun berdiri menggenggam segelas air putih di depan jendela, ia melihat yang terjadi. Taman sangat terlihat jelas dari balik jendela dan Sehun telah berdiri di sana, sejak kapan? Aku tidak tau sejak kapan Sehun berdiri di sana, mungkin memang benar ia melihat semua yang terjadi antara aku dengan Jongin.

Kututup pintu dan berjalan pelan ke arah Sehun.

“Kalian sering bertemu?” tanya Sehun mengejutkanku. Wajahnya masih menatap ke luar jendela, kedua tangannya memutar-mutar bibir gelas.

Aku menelan ludah. Merasa gugup karena Sehun melihat kami berdua.

“Tidak. Hanya beberapa kali. Itupun karena tidak disengaja.” Jelasku dan membela diri.

Wajahnya yang keras dan kaku kembali terpasang, mimik yang sangat tidak ku suka dari Sehun. Ia terlihat sangat dingin sekarang dan itu membuatku tidak nyaman.

Karena kedatangan Jongin pagi ini, membuat mood kami jadi berantakan. Sehun pun merasakan hal yang sama. Kenapa?

Mungkinkah Sehun cemburu? Benarkah Sehun cemburu?

Aku penasaran memikirkan kira-kira akan seperti apa saat Sehun sedang cemburu. Dan aku tergoda untuk memastikannya.

“Apa tidak apa-apa jika aku bertemu dengannya?” aku bertanya hati-hati. Memancingnya sedikit untuk menunjukan sikap cemburunya.

Sehun berbalik perlahan, satu tangannya masuk ke dalam saku celana dan satu tangannya masih menggenggam gelas. Lalu ia tersenyum dan menatapku hangat, membuatku bingung karena perubahan sikapnya yang begitu drastis dalam waktu singkat. Aku menaikkan kedua alisku. Apa Sehun bersikap seperti ini jika sedang cemburu?

“Tentu saja. Apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Jangan merasa terbatasi karena ada aku sekarang.”

Kurasa bukan seperti itu jawaban seseorang yang sedang cemburu. Lalu apa maksud kata-kata Sehun barusan? Itu tidak ada indikasi ia cemburu atau semacamnya.

“Bukan. Bukan itu maksud−“ aku memotong perkataanku sendiri saat menatap wajah Sehun yang tidak menggambarkan seseorang yang sedang cemburu, lalu aku tau jawaban dari pertanyaanku sendiri. Sehun tidak cemburu. “Baiklah. Aku mengerti.”

Sehun meletakkan gelas air putihnya di atas meja di dekat jendela.

“Aku harus pergi sekarang.” Katanya.

Aku sedikit terkejut mendengarnya, walau sebenarnya aku juga tidak ingin bersama Sehun saat sedang dalam keadaan seperti ini. Jongin sangat merusak suasana hatiku saat ini, parahnya aku tak bisa mengatasi itu dengan kehadiran Sehun. Tidak saat Sehun mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Jongin di taman. Lalu apa jadinya jika Sehun tau apa yang kami berdua bicarakan? Mendengar Jongin telah mengetahui hubunganku dengannya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa raut wajahnya sekarang jika ia tau.

 Sehun berjalan menghampiriku yang sekarang duduk di tepi ranjang, ia berdiri di depanku dan meraih sisi wajahku. Mengusap bekas air mata yang beberapa waktu lalu mengalir di pipiku, seolah-olah air mataku masih ada di sana dan ia menyingkirkannya pelan. Mata kami saling pandang, matanya yang begitu hangat membuatku merasa lega sesaat. Membuat perasaanku yang buruk menghilang entah kemana.

Dan rasanya salah jika aku harus membiarkannya pergi saat ini. Aku membutuhkannya.

Membutuhkannya untuk menenangkan perasaanku dan menghangatkan hatiku. Aku tidak ingin Sehun pergi. Aku menggenggam tangannya yang terkulai di samping badannya, Sehun membungkukkan tubuhnya dan mencium bibirku lembut. Ia merebahkan tubuhku ke atas ranjang perlahan dan tubuhnya menindihku, aku memeluknya dan memainkan tanganku di punggungnya, Sehun tersenyum kecil disela-sela ciuman kami.

Aku menarik kepalanya lebih dekat, mengalungkan kedua tanganku ke belakang lehernya, menciumnya lebih dalam dan menahan Sehun selama mungkin untuk tetap bertahan. Aku tidak ingin Sehun pergi. Sehun terus menciumku dan aku pun sebaliknya, sampai Sehun melepaskan kedua lenganku yang masih menggantung di lehernya, yang enggan untuk beralih.

“Aku. Harus. Pergi.” Ucapnya terengah-engah di depan wajahku. Aku memandangi wajahnya. Memberinya pengertian aku tidak ingin ia pergi melalui tatapan mataku. Sehun melihatnya dan menggeleng pelan.

“Ada hal yang harus ku urus, Eunjoo. Aku tidak bisa.” Katanya masih menatapku.

Aku menarik punggungnya erat-erat. Sehun menipiskan jarak tubuh kami lagi dan kembali menciumku singkat, lalu ia beranjak dari ranjang.

Aku tidak bisa menahannya pergi. Sehun mengemasi barang-barangnya dan aku mengerucutkan bibir sebal. Sehun tertawa dan menuntunku untuk mengantarkannya ke depan pintu.

“Jangan bersedih. Kau bisa memanfaatkan hari ini untuk pergi ke toko atau pergi bersama Yoomi dan teman-temanmu.” Katanya sambil merangkul pinggangku dan aku merebahkan kepalaku di bahunya. “Percayalah, aku juga masih ingin berlama-lama denganmu.” Goda Sehun, aku mendengus pelan.

Ia membuka pintu dan berbalik menghadapku. “Kembalilah secepat mungkin.” Kataku menghampirinya lebih dekat dan menciumnya singkat di bibir. Sehun tergelak dan mengusap pipiku pelan.

“Tentu.”

Lalu Sehun pergi dan meninggalkan rumah. Aku berbalik menghadap ruangan dan memandangi seluruh isi ruangan yang sangat sepi, kosong. Aku menghela napas panjang, memunguti barang-barang yang berjatuhan di lantai dan menatanya kembali ke tempat semula.

Aku tidak tau akan melakukan apa hari ini. Kebiasaan bersama Sehun selama beberapa minggu ini membuatku ketergantungan. Aku jadi terbiasa melakukan segala sesuatunya bersama Sehun, lalu ketika saat-saat seperti ini terjadi, aku tidak tau lagi ingin melakukan apa. Mungkin Sehun benar aku bisa memanfaatkan hari ini untuk pergi ke toko ataupun pergi bersama Yoomi. Dan yang jelas tidak dengan teman-temanku seperti yang dikatakan oleh Sehun, aku tidak lagi punya teman, teman baru setidaknya. Teman-temanku hanya berasal dari masa lalu. Walaupun aku punya teman baru saat kuliah, mereka tidak benar-benar temanku, hanya sekedar teman sekelas ataupun teman satu kelompok saat tugas. Lagipula mereka juga tidak ingin berteman denganku tentu saja. Tidak pernah ada yang sampai ke hati lagi seperti Yoomi.

Setelah membersihkan ruangan, membersihkan diri dan sarapan hingga siang hari, akhirnya aku memutuskan untuk berkunjung ke toko. Aku harus mengecek laporan Jimin tentang aktifitas di toko akhir-akhir ini.

Cuaca sudah mulai dingin di luar karena sebentar lagi musim dingin segera tiba. Aku sampai di toko saat sedang ramai. Beberapa orang berlalu lalang dan beralih dari satu rak ke rak lainnya memilih-milih CD yang tepat.

Jimin melihatku dan langsung menghampiriku, mengantarku ke dalam ruang kerja lalu memberiku buku laporannya.

“Tidak sibuk hari ini?” tanyanya sesampainya di dalam ruang kerja.

“Tidak. Aku akan di sini hari ini. Bagaimana kabarmu, Jimin?” kataku seramah mungkin.

“Seperti biasa, masih mengurusi pelangan yang telat mengembalikan tepat waktu.” ujarnya mengangkat bahu, ia mengawasiku saat aku membolak-balik buku laporannya.

Aku mengangguk-angguk pelan. “Kuambilkan teh dan beberapa cookies kalau begitu, Hyoeun membawakan cookies untuk kami semua.” Katanya sambil meringis dan meninggalkan ruangan.

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang masih tetap seperti dulu. Jimin adalah temanku saat kecil, ia selalu berkunjung ke rumahku setiap hari, tapi ia tidak bermain denganku melainkan bersama kakakku. Mereka berdua penggila game dan film-film, bahkan sejak kecil Jimin telah kecanduan dengan barang-barang seperti itu.

Sudah menjadi hal yang umum bagiku melihat kakakku sangat menyukai film-film, segala jenis film dari seluruh penjuru dunia. Awalnya kakakku hanya mengoleksi, tapi ternyata candunya begitu kuat dan akhirnya ia memutuskan untuk membuka toko penjualan CD film dan penyewaan juga. Setelah lulus kuliah dan menyandang gelar sebagai sarjana hukum, kakakku memodali toko ini untuk di lengkapi, menjadikan tokonya sebagai toko CD yang paling favorit di pusat kota. Jadilah seperti sekarang, setiap hari ramai oleh pengunjung.

Kakakku menjadi pemilik toko ini hingga dua tahun yang lalu, ketika ia pergi meninggalkanku, meninggalkan kami semua dan memberikan toko ini untukku. Setelah meninggalnya kakakku, aku menjadi pemilik toko warisannya. Dan saat pemakaman kakakku aku bertemu dengan Jimin, saat itulah aku meminta tolong padanya untuk membantuku mengurusi toko.

Jimin berasal dari keluarga yang kurang mampu, aku dan keluargaku sudah menganggap mereka seperti keluarga kami sendiri karena telah hidup lama bersama. Yang ku dengar saat itu, ia baru saja mengundurkan diri bekerja sebagai buruh di pinggir kota yang jauh dari rumah dan memutuskan untuk bekerja di tempat yang lebih dekat dengan rumahnya untuk meringankan biaya sewa rumah. Jadi aku memintanya untuk menjadi manager di toko dan ia dengan senang hati, bahkan kelewat senang menerima tawaranku.

Dengan pengetahuannya yang di luar pengetahuan orang awam tentang film-film−entah itu isi cerita, para pemain dan rumah produksinya, membuat Jimin lebih mudah menarik para pelanggan dan membuat toko kami semakin ramai.

Setahun berikutnya atau setahun yang lalu, Jimin berpacaran dengan seorang perempuan yang latar belakangnya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Namanya Hyoeun, ia yang membawakan cookies untuk kami hari ini. Ia seorang pengoleksi buku-buku bekas dari semua genre. Karena keterbatasan materi dan latar belakang pendidikan yang hanya lulus di tingkat SMA, membuatnya kesulitan untuk mencari pekerjaan full-time dengan bayaran yang setidaknya memenuhi kebutuhannya. Ia tidak bisa terus-terusan bekerja part-time di beberapa tempat.

Kemudian Jimin meminta pendapatku untuk memberikan mereka modal untuk menambah satu bilik lagi untuk penyewaan buku. Karena aku ingin menjadi teman yang baik dan menolong teman-temanku, jadi aku mengabulkan keinginan mereka. Aku meminta Jimin untuk mengurusnya juga dan usaha kami tidak sia-sia, di pojok kanan bagian toko, berdiri beberapa rak buku berisi buku-buku untuk disewakan dan setiap hari tak kalah ramai pengunjung.

Toko kakakku semakin besar dan isinya semakin banyak, tujuan kakakku membuat toko ini sebagai tempat untuk berbagi akhirnya tersampaikan. Dan aku senang menjadi bagian dari tujuan kakakku yang akhirnya tersampaikan. Aku akan menjaga toko ini dengan baik.

Aku mengusap foto berbingkai di sudut meja. Gambar berisi senyumku dan kakakku beberapa tahun lalu.

“Hyunwoo oppa, apa kau tau tokomu sangat ramai sekarang? Mereka sangat menyukai tokomu.” Ujarku pelan.

Malamnya aku makan malam di kafe Minseok bersama Yoomi dan Kyungsoo. Awalnya aku menolak ajakan Yoomi saat ia menelepon siang harinya karena aku ingin makan malam bersama Sehun, tapi saat Sehun memberitahuku malam ini ia tidak bisa bermalam di tempatku, aku akhirnya menyetujui ajakan Yoomi yang ternyata ia sudah terlanjur mengajak Kyungsoo. Akhirnya kami makan bersama.

“Istri Minseok, siapa namanya?” tanyaku pada Yoomi, aku mengamati istri Minseok yang aku masih lupa siapa namanya, jadi ku tanyakan saja pada Yoomi.

Yoomi menatapku tak percaya. “Kau tidak ingat? Kau sering datang ke sini harusnya kau sering bertemu dengannya juga kan? Bagaimana bisa kau tidak tau?” omelnya.

Aku hanya mengangkat bahu. “Aku sering ke sini tapi jarang bertemu dengannya.” Jelasku. “Jadi?”

“Namanya Lee In, sejak kapan kau jadi pelupa?” tanya Yoomi keheranan.

“Aku bukannya lupa, tapi aku tidak memperhatikan namanya dengan baik saat tertulis di kartu undangan pernikahan mereka dulu.” Kataku membela diri.

Yoomi memutar bola matanya gemas lalu melanjutkan makanannya.

Aku memperhatikan Lee In yang semakin terlihat kecantikannya. Minseok memang tidak pernah salah pilih, sejak masih jaman SMA bahkan hingga kuliah ia selalu memacari perempuan-perempuan cantik. Aku tersenyum melihat mereka berdua yang terlihat sangat manis di balik konter minuman sedang mengobrol bersama.

Di sebelahku, Kyungsoo meletakkan ponselnya di atas meja dan aku meliriknya. Kyungsoo terlihat sangat enggan mengangkat teleponnya dan hanya membiarkannya tergeletak di sebelah gelas. Aku memandanginya bingung, begitu juga Yoomi.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Yoomi.

Kyungsoo mendesah dan menghela napas singkat, lalu ia mengangkat ponselnya dan menunjukan layarnya pada Yoomi untuk memberitahu siapa yang meneleponnya.

Yoomi membaca nama pemanggil yang ada di layar ponsel dan membelalak, lalu bergantian menatapku dan menatap ke layar ponsel bergantian.

Kenapa? Apa yang salah?

“Siapa yang menelepon?” tanyaku curiga.

“Bukan siapa-siapa, hanya orang menyebalkan.” Kata Kyungsoo singkat sambil mengangkat bahu dan meraih minumannya.

Aku mengangguk-angguk sok mengerti dan tidak ingin mencampuri urusannya, jika memang Kyungsoo ingin memberitahuku, ia pasti akan mengatakannya. Jika tidak, berarti aku tak perlu tahu.

Ponselnya kembali berdering berulang kali membuatku semakin bingung dan curiga kenapa ia tidak mengangkatnya. Setelah entah panggilan yang ke berapa, Kyungsoo mengerang dan akhirnya mengangkat teleponnya.

“Kenapa?!” ucapnya ketus di telepon.

Orang yang menjadi lawan bicaranya terlihat sangat ngotot dan membuat Kyungsoo semakin kesal.

“Sudah ku bilang aku sedang makan di kafe Minseok, kau−“ Kyungsoo berhenti, mulutnya menggantung di udara tidak melanjutkan ucapannya. “Hei! Hei! Dasar kurang ajar.” Rutuknya saat orang di seberang telepon mematikan panggilannya. Kyungsoo menatapku, kemudian menatap Yoomi penuh arti.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Aku hanya melanjutkan makanku. Kurasa mereka butuh privasi saat ini, tapi kami sedang makan bersama, dan itu membuatku merasa tidak enak hati karena berada di tengah-tengah mereka.

“Maafkan aku Eunjoo karena membuat keributan.” Ujar Kyungsoo menatapku.

Aku mendongak dan merasa hal itu tidak penting untuk membuatnya meminta maaf padaku karena aku merasa akulah yang salah. “Tidak, Kyungsoo. Kau tidak perlu meminta maaf.” Aku mengibaskan tanganku ke udara, memberitahunya itu sama sekali tidak masalah bagiku.

Ponselnya kembali berdering dan kali ini ia langsung mengangkatnya.

“Ya, Sehun,” katanya pada orang yang sedang meneleponnya.

Hatiku langsung mencelos saat Kyungsoo menyebutkan nama Sehun. Aku mengamatinya baik-baik dan seminimal mungkin mengaburkan keingintahuanku dengan apa yang sedang mereka bicarakan tanpa membuat mereka curiga.

“Baiklah, aku mengerti.” Kyungsoo menutup panggilannya.

Panggilan yang kelewat singkat itu membuatku semakin penasaran.

“Kenapa Sehun?” tanya Yoomi menyeruakan pertanyaan yang ada di otakku.

“Dia tidak pulang lagi malam ini.” Katanya enggan.

Kyungsoo berbagi rumah yang sama dengan Sehun karena mereka nyaman hidup bersama, jadi sudah seharusnya Sehun dan Kyungsoo saling memberitahu kepentingan mereka masing-masing yang sifatnya bersama.

Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa Sehun tidak pulang ke rumah malam ini, sedangkan ia juga mengatakan padaku hal yang sama. Lalu kemana ia malam ini?

“Sehun jarang bermalam di rumah sebulan terakhir ini. Kurasa ia sering pulang ke rumah orang tuanya.” Ujar Kyungsoo memberitahu aku dan Yoomi. Bukan ke rumah orang tuanya, tapi ke rumahku, batinku. Yoomi mengangguk-angguk mengerti.

“Eunjoo juga,” kata Yoomi, membuat hatiku kembali mencelos. Aku menatapnya bingung. Apakah mereka mengetahuinya? Jantungku berdebar kencang. “Ia sekarang jarang sekali datang ke salon, sibuk dengan teman kencan barunya.” Yoomi memanyunkan bibir, aku menghela napas lega mendengarnya, setidaknya tidak ada tanda-tanda untuk mencurigai aku dengan Sehun.

“Eunjoo punya teman kencan lagi?” tanya Kyungsoo heran.

Yoomi mengangguk semangat pada Kyungsoo. “Tapi ia masih merahasiakannya.” Ia berbisik, lalu melanjutkan, “Lihat sekarang, rambutmu kusut sekali. Tapi aku heran kenapa wajahmu justru terlihat segar sekarang.” Katanya menyipitkan mata.

Aku tersenyum dan menangkup pipiku. “Benarkah?” godaku. “Mungkin karena aku sedang jatuh cinta.” Kataku mengikik dan membuat Yoomi dan Kyungsoo tergelak.

Saat kami masih tergelak dalam tawa, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil Kyungsoo di pintu depan di balik bahuku.

“Kyungsoo!” teriak seorang lelaki. Aku berbalik untuk melihat siapa yang datang dan berhenti tertawa saat itu juga saat melihat lelaki itu adalah Jongin. Aku mengembalikan posisiku, memandang Yoomi dan Kyungsoo yang menatapku was-was, Kyungsoo mendelik ke lelaki yang berdiri di depan pintu itu. Aku tidak mengerti yang sedang terjadi, tapi kemudian aku menyambar tasku dan beranjak. Aku tidak ingin bertemu dengan Jongin lagi.

“Kyungsoo, Yoomi. Kurasa aku harus pergi dulu, terima kasih sudah menemaniku makan malam.” Lalu aku pergi meninggalkan kafe melewati Jongin dan tanpa melihat wajahnya.

.

.

A/N: Update~~~~ gimana kelanjutannya? Kasih pendapat ya semuanya…. hihihi love you all muah muah muah 🙂 LOL

Ask me something here. Keep reading, like, comment ^^ Keep loving our sincere EGD!! ❤

Iklan

2 thoughts on “Marquee Reflection – Disturbance

  1. Jengjengggg untungnya pas disitu eunjoo ga reflek nyebut nama sehun, pasti ntar udah ketauan wkwk lol
    yah abang oseha gregetin
    jongin jugakk bhay :((

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s