Marquee Reflection – Caught

marquee-reflection-poster

4th Marumero │ Kim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun,  EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

“Hei.” Ucapnya singkat.

Matanya menatapku was-was. Aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan dan aku tidak pernah tau apa yang selalu ia pikirkan. Tapi melihat bagaimana penampilannya saat ini, membuatku semakin bingung dan, tentu aku bertanya-tanya dalam hati kenapa dia ada di depan pintu kamarku saat ini. Rambutnya acak-acakan, tidak mengenakan jaket padahal cuaca sedang dingin, kantung matanya menghitam dan bahunya naik turun mengikuti napasnya yang cepat. Aku menatapnya bingung. Terakhir yang ku ingat dalam pertemuan terakhirku dengannya di kafe Minseok, Jongin tidak separah ini penampilannya, hampir dua bulan yang lalu dia masih seperti Jongin yang biasa.

Aku membuka pintu kamarku lebih lebar. Dalam sepersekian detik, Jongin melirik ke balik bahuku dan aku teringat bahwa ada Sehun di dalam. Memang dari pintu ia tidak akan terlihat sedang tidur di ranjang, tapi tetap saja aku harus berhati-hati. Aku kembali menutup pintuku dan menyisakannya selebar badanku. Jongin memperhatikan yang aku lakukan tapi aku berharap dia tidak curiga.

Ia tau aku tidak mempersilahkannya masuk, jadi ia langsung mengatakan tujuannya datang kemari.

“Bisa aku bicara denganmu?” katanya pelan. Bibirnya bergerak beberapa kali dan aku menunggunya mengatakan kata yang lain, tapi Jongin tidak mengatakan apapun lagi. Jadi setelah dia mengangkat tangannya memberi isyarat untuk keluar dari kamar dan mempersilahkanku untuk dengan senang hati meladeni keinginannya pagi ini, aku langsung mengangguk dan memintanya memberiku beberapa waktu untuk berganti pakaian atau setidaknya gosok gigi dan cuci muka.

Setelah sepuluh menit Jongin menunggu diluar kamar, aku berjalan keluar bersamanya melewati halaman depan dan menuju ke taman terdekat di sekitar komplek bangunan. Kami berjalan dalam diam dan saat kami melewati kedai kopi yang baru saja buka, Jongin membelikanku segelas Vanilla Macchiato, kopi favoritku sepanjang masa. Ia tau apa yang kusuka.

Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Aku mengira kami akan duduk di bangku yang tersedia di taman, tapi ternyata Jongin masih terus berjalan mengelilingi taman dan belum angkat bicara. Kecanggungan menyergapku, lebih pada kecanggungan karena tidak nyaman, bukan karena gugup atau apa. Aku hanya tidak terbiasa berdekatan dengan Jongin selama dua tahun terakhir, terlebih dengan kediamanaku padanya selama ini yang kelewat keterlaluan, tapi lain halnya dengan Jongin yang kelihatan lebih santai walaupun ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan dan sedang ia tahan-tahan.

Setelah hampir setengah perjalanan dan melewati setengah dari jalanan di sekitar taman, Jongin akhirnya melontarkan kata pertamanya padaku setelah terakhir kalinya ia membuka mulut adalah di depan kamar.

“Bagaimana kabarmu?” ia memutar kepalanya dan kini mengalihkan tatapannya padaku. Aku menghindari tatapannya dan menunduk mengalihkan perhatian.

“Baik.” Jawabku ragu sambil mengangguk-angguk. Masih tetap menundukan kepala.

Aku tidak benar-benar mengerti dengan apa yang ia tanyakan. Kabarku? Apa jawaban yang ingin ia dengar dariku? Kabar kesehatanku atau kabar perasaanku? Aku mendengus pelan. Menyingkirkan pikiran negatif yang kulanturkan tentang Jongin. Kesehatanku, ya, baik. Perasaanku, juga baik. Setidaknya saat ini, ketika Sehun mulai hadir lebih dekat dalam hidupku.

Aku tidak perlu−dan tidak ingin−menanyakan balik bagaimana kabarnya karena aku enggan. Aku tau selama ini dia masih tetap saja menungguku untuk kembali padanya dalam diam, selalu merasa bersalah dan melontarkan berlusin-lusin maaf. Tapi tetap saja apa yang telah ia lakukan tidak merubah apapun, kecuali akhirnya hubungan kami yang berakhir.

Aku membencinya, iya. Tapi aku membenci apa yang telah ia lakukan padaku, aku tidak membenci Jongin secara fisik, tapi aku membencinya karena telah menyakitiku dan membenci apa yang telah kami lakukan di masa lalu. Tapi karena aku hanyalah manusia biasa, sepertinya aku tidak bisa membenci orang hanya karena perilakunya saja tanpa membenci orangnya secara fisik, maka beginilah aku dengan Jongin. Aku selalu menghindarinya dan ia menjaga jarak denganku.

Aku telah memaafkan Jongin, tapi seperti yang kubilang sebelumnya, itu tidak merubah apapun lagi. Terlalu banyak lubang yang telah Jongin buat didalam hatiku dan dengan susah payah aku tambal setelah kami berakhir. Sekarang itu terasa lebih mudah saat Sehun datang. Aku hanya perlu menunggu kapan hatiku akan utuh kembali.

Baru saja aku menyebutkan nama Sehun didalam hati, tiba-tiba saja Jongin ikut menyebutkan namanya. Awalnya aku berpikir mungkin aku sedang berhalusinasi karena Jongin menyebutkan nama Sehun, sangat tidak biasa. Tapi ini nyata, aku mendengarnya dengan telingaku sendiri.

“Sehun,” ia berhenti, mencoba membuat perhatianku teralihkan padanya, dan ia berhasil. Sontak aku menatapnya dan terdiam. Bagaikan orang yang tertangkap basah saat mencuri, jantungku berpacu seperti pencuri yang sedang berusaha kabur sebelum ketauan oleh si pemilik barang yang kucuri. “Aku tau apa yang terjadi diantara kalian.”

Mata kami saling berpandangan. Ada pantulan kekecewaan didalam matanya dan aku tidak mengerti apa maksud dari tatapannya itu. Tatapan yang dulu sering aku lihat ketika keinginannya tidak pernah kupenuhi. Tatapan yang membuatku jengah.

Aku menyadari keterkejutanku lebih pada tatapan matanya yang mengingatkan episode-episode menyebalkan yang telah lama aku pendam daripada menyadari Jongin baru saja menyebutkan tentang apa yang telah aku lakukan dengan Sehun.

Aku tidak ambil pusing menanggapi apa yang Jongin katakan. Pernyataannya di luar jangkauan rencana buatan yang telah kubuat dengan Sehun beberapa waktu lalu ketika kami menyiapkan selusin alasan jika aku dan Sehun terpergok sedang bersama. Ini lain, karena Jongin yang mengatakannya. Dan itu artinya ia benar-benar tau apa yang terjadi. Aku kembali membuang pandanganku ke jalanan berpaving dibawah sepatuku.

“Itu bukan urusanmu, Jongin.” Aku menanggapi datar. Aku tidak akan memungkiri kenyataan yang terjadi antara aku dengan Sehun. Untuk apa kututupi jika nantinya akan terbongkar juga? Oh, sudah terbongkar. Walaupun Sehun memintaku untuk merahasiakan semua ini, toh bukan aku yang memberitahu Jongin. Jongin mengetahuinya sendiri. Sedikit dalam hatiku aku senang akhirnya Jongin tau. Tau bahwa dihatiku ada orang lain, bukan dirinya lagi. Memberinya kenyataan bahwa aku telah melanjutkan hidup dari keterpurukan dan memberitahunya ia tak memiliki kesempatan lagi untuk tinggal di hatiku. Kuharap ini membuatnya berhenti menungguku karena aku tak akan mungkin membalas penantiannya.

Jongin terlihat tidak puas dengan jawabanku. Itu kentara dari nada suaranya yang sekarang mulai meninggi, mengindikasikan ia tidak setuju dengan kata-kata yang keluar dari mulutku.

Kupercepat jalanku dan kini kami mulai dekat dengan halaman bangunan apartemenku. Sebentar lagi sampai dan aku tidak perlu berdebat lebih lama lagi dengan Jongin. Tapi sepertinya bukan itu yang Jongin inginkan.

“Eunjoo,” Jongin menarik lenganku dan aku berhenti ditempat. Mendelik padanya karena telah menyentuhku dan yang membuatku semakin tidak nyaman adalah cengekeraman tangannya yang kuat. “Kau harus mendengarkanku, kau harus tau sesuatu.”

“Jongin. Lepaskan aku.” Aku mendesis padanya.

“Tidak. Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau mendengarkan apa yang akan ku katakan.” Jongin bersikeras. Rasa nyeri mulai menjalar di pergelangan tanganku dan aku yakin setelah Jongin melepaskan cengkeramannya pasti akan meninggalkan bekas merah.

“Lepaskan. Kau menyakitiku.” Aku membentaknya.

Baru saat itu Jongin melepaskan cengkeramannya dan tersadar telah memegangku terlalu keras. Dan benar saja, di kulit tanganku langsung muncul bekas merah. Aku menyentakan tanganku menjauh darinya dan mengusap-usap permukaan kulit lenganku.

“Maafkan aku.” Jongin maju selangkah untuk melihat bekas merah yang ia buat, tapi aku mengangkat tanganku dan memberinya isyarat untuk berhenti di tempat.

Jongin mematung. Terkesiap saat menyadari ia baru saja menyentuhku dan aku tidak menyukai perbuatannya.

“Dia tidak baik untukmu, Eunjoo. Dia brengsek dan kuharap kau berhenti berhubungan dengannya.” Jongin melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

Aku mengangkat kedua alisku, tidak percaya baru saja Jongin yang melontarkan kata-kata itu. Atas dasar apa Jongin berani mengatakan Sehun brengsek? Atas dasar apa dia ingin aku berhenti berhubungan dengan Sehun? Atas dasar apa dia mengatur hidupku? Rasa sesak di dadaku kembali muncul, rasa yang sudah sangat lama aku tinggalkan dan selama hampir satu setengah tahun terakhir aku tidak pernah merasakannya lagi. Tapi kali ini rasa itu muncul lagi ke permukaan.

“Dia…” lengannya menunjuk kearah gedung apartemenku, “bukan lelaki yang baik.”

Aku memandang Jongin nanar, kembali merasa iba dengan diriku sendiri karena sepanjang masa remajaku kuhabiskan waktuku bersama lelaki yang ada dihadapanku ini. Rasa sesak itu semakin menyergap dan air mata mulai menggenang di mataku ketika mengalihkan wajahku ke samping. Kenapa hal seperti ini terjadi di tengah-tengah kebahagiaanku bersama Sehun? Tega-teganya Jongin melakukan semua ini.

Tega-teganya Jongin merusak kebahagiaanku setelah keterpurukan yang ia berikan padaku selama ini.

Aku menggelengkan kepala dan Jongin terlihat kebingungan melihat reaksiku.

“Dia orang yang baik, Jongin. Jangan bicara begitu didepanku.” Aku memeluk lenganku dan berbalik meninggalkannya.

“Dia tak sebaik yang kau lihat. Dia itu brengsek!” Jongin berteriak.

Beberapa orang yang kebetulan sedang lewat memberi kami tatapan aneh. Mereka pasti mengira kami sedang bertengkar atau apa. Aku tau ketika aku memutuskan untuk melangkah lebih jauh, Jongin akan berteriak lebih keras. Jadi aku berbalik ke arahnya dan raut wajahnya lebih biasa. Merasa lega karena aku tidak terus melangkah dan mendengarkan apa yang ia katakan. Tapi ketika air mata yang menggantung dan kutahan-tahan akhirnya meluncur ke pipi, aku melihat raut wajah Jongin yang berbeda, raut wajah yang dulu ku temui saat ia menghadiri pemakaman kakakku. Tepat seperti saat ini.

Aku ingin berteriak di depan wajahnya, memakinya sepuas hati, memintanya untuk tidak mencampuri urusan pribadiku, setidaknya membuatnya menjauh sejauh mungkin dari hubungan yang baru saja kubangun bersama Sehun. Tapi aku tak bisa mengucapkannya.

 “Well, kurasa ia tak lebih brengsek darimu, Jongin.” Ucapku pelan akhirnya, menahan suaraku tetap seimbang saat napasku mulai naik turun karena sesak menahan tangis.

Aku tidak melihat wajahnya lagi dengan jelas karena air mata yang memburamkan pandanganku. Aku berbalik dan berjalan lebih cepat−atau tepatnya berlari−kembali ke apartemen. Saat Jongin tak mengucapkan sepatah katapun lagi atau mencoba membuatku tetap bertahan, aku pergi darinya sejauh mungkin.

.

.

A/N: Jongin pun dataaaaang~ Eunjoo sakit hati lagi 😦

Hihihi, halo semuanya, sedang berusaha rajin update, jadi sebisa mungkin untuk tetap rajin meng-update cerita ini. Ayo keep reading, like dan komentar yaaak! Terima kasih yang sudah mengikuti MR<3 Keep loving our lovely EGD!! 😀

Iklan

6 thoughts on “Marquee Reflection – Caught

  1. Jongin dateng shock shock wkwk
    sebenernya pas jongin bilang gitu udah ngerasa si
    tapi aku juga udah ngerasa dari penulisan author kalo sehun itu ada udang dibalik batu sama eunjoo. Maksudnya ya gituuu wkwk *gabisajelasin* ((: kerenn aku suka yang ginian ngerasain penulisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s