Marquee Reflection – Marquee

marquee-reflection-poster

3rd Marumero │ Kim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun,  EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

“Sial!” rutukku lirih.

Aku berdiri di depan cermin di samping lemari, menelusuri bekas merah yang sedang ku tatap dengan nanar di dalam cermin. Aku menggelengkan kepala tak percaya bagaimana mungkin hal memalukan itu terjadi. Aku ingat semua kejadian semalam. Malam yang sangat indah bersama Sehun tentu saja, tapi ternyata tidak hanya itu yang terjadi. Ada insiden kecil yang−ugh! aku benci mengingatnya!

Sangat menjengkelkan. Dan memalukan.

Aku menepis kejadian-kejadian yang terlintas di pikiranku hingga aku lupa bagaimana runtut kejadian awalanya hingga akhir. Yang ku ingat hanya saat dimana Sehun mulai menenangkanku karena aku berteriak seperti orang gila dan menabraki barang-barang di ruanganku. Secara refleks aku melihat ke sekeliling kamar dan melihat barang-barangku berserakan di lantai. Lalu…. Sial! Sial! Sial! Aku ingat aku menyebutkan nama Jongin semalam. Sial!

Kutekan bekas merah dilenganku sedikit untuk memastikan bagian mana saja yang terasa sangat sakit dan menggertakkan gigi sebal. Aku tau, aku tau setelah kejadian memalukan itu semuanya kembali berjalan lancar semalam, tapi tetap saja, menyebutkan nama Jongin di depan Sehun ketika kami sedang menikmati saat-saat berdua? Oh, aku sudah gila!

Aku hanya tidak mengerti kenapa trauma itu masih ada setelah sekian lama, dan aku tidak tau trauma itu ternyata masih ada. Ingatanku kembali melayang saat dimana untuk pertama kali dan terakhir kalinya aku berhubungan seks dengan Jongin. Semuanya berawal dari saat itu. Dan itulah kenapa hubungan kami berdua berakhir, walau tidak hanya itu saja alasannya.

Bahuku naik turun mengikuti napasku yang cepat, tangisku tertahan, aku ingin meledak, berteriak sesadar mungkin karena membiarkan ingatan bersama Jongin kembali berputar dikepalaku seperti film pendek yang ditampilkan di layar lebar, terlalu jelas dan menyesakkan. Tubuhku merosot ke lantai dan aku menangis dalam diam, seperti yang aku lakukan selama setengah tahun setelah hubunganku dengan Jongin berakhir.

“Eunjoo, kau baik-baik saja?” Sehun bersuara dari atas ranjang dan sedetik kemudian aku bisa merasakan tubuh Sehun berada di belakang tubuhku. Aku cepat-cepat menghapus air mata yang telah mengalir dan berusaha untuk tidak sesenggukan. Ketika ia tau aku sedang menangis, ia beralih ke depan tubuhku dan menatapku khawatir. “Apa yang terjadi?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng. “Tidak terjadi apapun, aku baik-baik saja, Sehun.” Suaraku parau karena tangis, aku mencoba bangkit berdiri dan Sehun membantuku. Aku mengerang saat Sehun memegang lenganku yang memar dan dengan gerakan defensif aku menyentakkan tangannya yang menempel dilenganku. Sehun sedikit terkejut saat aku menyentaknya, tapi kemudian ia melirik lenganku, melihat memar yang tidak aku tutupi dengan telapak tangan. Sehun melihatnya.

Ia menatapku dan terlihat semakin khawatir. Dan hebatnya, tatapan itu membuatku merasa hangat, aku tidak mengerti kenapa, tapi aku senang melihatnya memberiku tatapan khawatir seperti sekarang, rasanya tatapan itu penuh dengan cinta dan sedang memelukku lembut, membuatku nyaman dan aku ingin terus seperti ini. Aku menghibur diriku sendiri di sela-sela keganjilan yang terjadi.

“Ya ampun, Eunjoo.” Sehun menyentuh lembut lenganku yang memar, ku akui warna merahnya memang terlihat sangat mencolok. “Jelas kau tidak baik-baik saja.” Ia menekankan.

Sehun memapahku ke atas ranjang dan mendudukanku disana. “Sehun, aku tidak apa-apa, ini hanya memar biasa, sebentar lagi juga akan sembuh.” Aku membela. Entah untuk apa aku membela, aku meringis.

“Tidak, Eunjoo. Aku yang melakukannya, aku yang membuat memar itu. Memarmu bisa saja menjadi semakin buruk.” Sehun mulai berlari di dalam ruangan, menyambar handuk dan baskom di dapur. Ia membuka lemari pendingin, mengambil beberapa es di freezer dan memasukannya ke dalam baskom.

Aku menghela napas, mengerti aku tidak bisa menghentikannya, aku memutuskan untuk menuruti apa yang Sehun lakukan. Setelah meluncur dari pantry, Sehun langsung menggarap lenganku, ia mengompres dan menempelkan es yang terbalut handuk dengan pelan ke seluruh permukaan bekas merah di lenganku.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, tidak pernah sekalipun. Tapi melihat apa yang telah terjadi−“ ia menuding memar dilenganku dengan dagunya. “−dan memar ini, aku telah menyakitimu. Maafkan aku.” Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, ada nada penyesalan dalam suaranya, dan itu menyakitkan untukku. Aku memandangi wajahnya yang menunduk menatap memarku dan masih mengompresnya. Ini semua salahku, salahku karena hal sialan itu tiba-tiba muncul, tapi kenapa Sehun yang merasa menyesal? Kenapa ia yang merasa bersalah? Ini semua kesalahanku. Harusnya aku yang merasa bersalah. Sehunlah yang menolongku, ia yang telah membantuku semalam.

“Hei… kau tidak salah Sehun,” aku menyentuh sisi wajahnya dengan tanganku yang bebas. “Jangan minta maaf, ini semua salahku.” Aku mengangkat wajahnya, membuatnya menatapku. Kami diam cukup lama, menelusuri wajah kami masing-masing. Aku membuat senyum untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Sehun membalas senyumku kemudian mendekatkan wajahnya pelan pada wajahku. Aku menariknya lebih dekat agar kami lebih mudah berciuman. Napasnya berhembus menerpa bibirku saat wajahnya semakin mendekat, membuat bulu kudukku meremang. Ia melumat bibirku lembut, awalnya ia terlihat ragu-ragu tapi aku tau ia sengaja mempermainkanku. Jadi aku menarik lehernya lebih dalam, bibirnya bergerak pelan namun terasa sangat kasar, tangannya meraih pinggangku dengan hati-hati menghindari gerakan menyenggol lenganku yang memar. Aku menggapai rambutnya dan meremasnya pelan.

Setelah bibir kami berciuman cukup panas, Sehun menarik diri dan bangkit, menjentikan tangannya ke udara, memunculkan sebuah ide.

“Eunjoo, bagaimana kalau kita pergi keluar bersama hari ini?” katanya dengan nada ceria yang dibuat-buat. Aku megangkat kedua alisku. “Sebagai permintaan maaf−“ Sehun berhenti saat aku mendelik padanya. “Oh, bukan. Maksudku, sebagai… kencan pertama kita. Bagaimana? Bukankah itu lebih enak didengar? Ayo kita pergi ke suatu tempat.” Aku melongo melihatnya, aku tidak tau Sehun bisa bersikap seperti ini dan ini membuatku terkejut. Sehun masih berdiri di depanku menunggu jawaban.

Aku memanyunkan bibir, menimbang-nimbang permintaannya. Aku menahan tawa saat usahaku untuk menggodanya membuat ia ikut memanyunkan bibir juga dengan posisi yang lucu. Aku tertawa dan menjawab, “Baiklah.” Senyum merekah di wajah Sehun dan bertepuk tangan heboh ke sekeliling ruangan.

Sebelum matahari bersinar tepat di atas kepala kami, kami langsung meluncur ke luar halaman parkir setelah membersihkan diri dan sengaja untuk tidak sarapan di rumah. Kami berencana untuk pergi ke beberapa tempat−yang aku tidak tau. Sehun menolak untuk memberitahuku kemana saja tujuan kami.

Yang kutahu, pertama kalinya kami berhenti setelah mengisi penuh tangki bensin mobil Sehun di pengisian bahan bakar, Sehun membawaku ke restoran kecil dan sederhana di pinggiran jalan. Ia memberitahuku bahwa ini restoran favoritnya dan selalu mampir untuk makan setiap kali akan pergi ke tempat tujuan kami nanti. Menu makanannya sama seperti restoran pada umumnya, tak ada yang berbeda dan aku tidak melihat apapun yang spesial di sini yang membuat restoran ini istimewa, setidaknya di mata Sehun.

Setelah makan siang kami kembali meluncur ke jalanan. Aku masih tidak tau kemana kami akan pergi. Sehun masih saja tutup mulut dan aku hanya memanyunkan bibir melihat sikapnya yang sok misterius. Sehun memutar beberapa lagu western didalam mobil. Dan yang mengejutkan di playlist yang sedang ia putar sekarang ada beberapa lagu reggae, aku tidak tau ia menyukai lagu reggae. Aku tidak ingin menanyakannya tapi aku cukup tau mendengar lagu itu di playlistnya mengindikasikan ia menyukai genre musik itu, terlebih saat ia ikut menggumamkan beberapa lirik dari lagu itu dan menggerakan kepalanya dibalik setir mengikuti irama lagu.

Yang membuatku gelisah yaitu saat salah satu lagu di playlist Sehun diputar dan itu adalah lagu yang sudah lama aku hindari. Lagu dari masa laluku, yang berarti saat-saat aku bersama Jongin. Aku menutup telinga agar aku tidak mendengarkan lagu Dear God milik Avenged Sevenfold, tapi tetap saja masih terdengar. Aku menyerah. Mencoba peruntungan mencari pengalih perhatian di luar jendela mobil.

Aku mencoba mencari pengalih perhatian, tapi yang terjadi aku justru memikirkan perasaanku sendiri, yang benar-benar sedang terjadi. Aku menyandarkan kepalaku ke jendela. Lenganku menekan pada pintu, tapi memarnya sudah tidak terlalu terasa karena lenganku diolesi krim penghilang rasa sakit sebelum berangkat tadi.

Lagu sudah berganti, Counting Star menjadi latar musik menemaniku menyusun untaian kata. Aku menghela napas pelan.

Pada akhirnya aku menerima semua yang Sehun inginkan dan yang telah ia lakukan. Aku bukannya tak berdaya menghadapi pesonanya yang sangat memabukkan, kecil dalam hatiku aku mengakui bahwa aku menginginkan hal yang sama juga seperti yang Sehun lakukan. Maka ketika ia mulai melakukan hal yang lebih denganku semalam, aku menerimanya dan… aku menikmatinya.

Aku bukan remaja lagi, aku tau apa yang aku lakukan. Aku bisa membedakan mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, tapi ketika bersama Sehun rasanya semua hal menjadi positif, selalu benar dan baik. Kesadaranku hanya beberapa persen meninggalkan pemahaman tentang kebenaran yang presentasenya lebih besar. Aku terlalu terbawa suasana saat ini, tapi aku menerima dan menikmatinya, setidaknya aku bahagia. Aku tidak mengerti kenapa aku sebegini gampangnya terjatuh pada hati Sehun. Sekali lagi, karena ia sangat memabukkan.

Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku tidak tau apa itu.

Pemikiran untuk memikirkan ketidakberesan itu tidak terlaksana sementara aku terlalu terbuai dengan perasaanku sendiri. Aku tidak peduli dengan yang lainnya.

Ponselku berdering mengejutkanku saat dalam waktu yang sama Sehun menukik dan menginjak pedal rem keras-keras, kepalaku terbentur kaca jendela dan Sehun merutuk pelan karena mobil di depan kami berhenti mendadak. Sehun menekan klakson sekali dan mobil itu kembali melaju terseok-seok.

Aku melihat layar posel yang terus berdering dan Yoomi menelpon.

“Kau tidak apa-apa?” tangan Sehun menyentuh kepalaku yang terbentur, fokusku terbagi menjadi dua antara menjawab Sehun atau menjawab panggilan Yoomi.

“Aku tidak apa-apa Sehun, hanya terbentur sedikit. Tunggu sebentar,” aku mengangkat ponselku, memberi isyarat padanya aku akan mengangkat telepon.

“Hallo…”

“Hallo, Eunjoo, dimana kau? Ke salon jam berapa?”

Seperti di getok dengan keras di kepala, aku  teringat hari ini aku ada jadwal ke salon Yoomi, dan aku lupa. “Ya ampun, Yoomi.. maafkan aku, aku sedang ada acara hari ini, aku tidak bisa datang ke salon sekarang. Maafkan aku.” Kataku sambil melirik ke Sehun yang sedang menyetir dan mengamati jalanan tapi mendengarkan pembicaraanku disampingnya.

“Oh.. baiklah kalau begitu. Tidak masalah, santai saja. By the way, kau ada acara apa? Pergi dengan teman kencanmu itu?” aku bisa mendengar nada suaranya yang meledek dan itu membuatku tersenyum.

“Bukan urusanmu, oke? Sudah ya…” aku menutup telepon yang kelewat singkat itu, Yoomi mengumpat dan merutuk diseberang telepon, tapi aku tidak menghiraukannya untuk menghindari pembicaraan yang entah kemana tujuannya dengan Yoomi, seperti yang biasanya kami lakukan.

Aku menatap Sehun dan Sehun menatapku. Sekarang giliran ponsel Sehun yang berdering, ia mengeluarkannya dari jaket dan hanya menatap layarnya sekilas lalu ia biarkan begitu saja. Aku mengangkat kedua alisku.

“Kenapa tidak diangkat?” tanyaku penasaran.

“Aku tidak mengenal nomornya, biarkan saja.” Jawabnya singkat, matanya masih tetap tertuju pada jalanan dan aku memandangi ponselnya yang tergeletak begitu saja. Dan aku baru menyadari ternyata kami berdua memiliki tipe ponsel yang sama. Aku mengeluarkan ponselku dan menjejerkannya dengan ponsel Sehun.

“Wow, ponsel kita sama.” Ujarku pelan, mencoba mengalihkan perhatian Sehun. Ia melirik ponselnya dan ponselku yang berjejer di tanganku. Aku tersenyum dan ia ikut tersenyum, senang rasanya melihat ia tersenyum seperti ini. Setidaknya walaupun hanya hal sepele, Sehun ikut tersenyum, karena pada dasarnya Sehun sangat lucu dan menyenangkan, tapi semua itu tertutupi dengan perawakannya yang sangat dingin, banyak orang mengira Sehun tidak bisa tersenyum, tapi sekali saja ia tersenyum, langsung meluluhkan hati dan itu… keren.

“Mungkin berjodoh.” Tanggapnya singkat.

Ya, mungkin berjodoh. Aku kembali mengamati ponsel kembar kami. Tak ada pembeda sama sekali, kecuali milikku yang mempunyai banyak goresan di sekelilingnya karena sering jatuh dan terbentur sesuatu. Selain itu, hampir sama. Aku mengganti wallpaper ponselku dengan gambar yang sama seperti milik Sehun, membuat ponsel kami semakin kembar. Aku menunjukannya pada Sehun dan ia hanya mendengus pelan.

Setelah perjalanan yang cukup lama karena Sehun menjalankan mobil kelewat pelan, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Ternyata ia mangajakku ke pantai Eurwangni.

Aku kelewat heboh saat melihat pantai yang sangat menggiurkan untuk dijejaki dan membuat Sehun harus menggiringku terlebih dulu ke hotel untuk check-in. Setelah check-in dan mengganti pakaian dengan yang lebih pendek, aku langsung menyeret Sehun menjejaki pasir putih yang lembut. Sehun menggandeng tanganku kencang-kencang agar aku tidak meninggalkannya. Aku kesal padanya karena terus menggandengku seperti anak kecil, tapi akhirnya aku terima saja.

 “Kau kira aku hewan liar yang mudah lepas, huh?” makiku kesal. Ia hanya terkekeh dan terus meledekku.

“Kau memang liar, Eunjoo. Sangat liar.” Bisiknya di telingaku saat ia menarik pinggangku lebih dekat padanya. Aku menatapnya malu, merasakan darah mendidih naik ke pipiku dan entah seperti apa wajahku sekarang, yang jelas setelah itu Sehun langsung tertawa terbahak-bahak.

Aku meninju lengannya dan ia merintih kesakitan, ia melepas genggamanku dan aku melarikan diri ke pesisir pantai. Sehun mengejar dan menangkapku, aku berteriak histeris karena Sehun lari begitu cepat. Mengangkat tubuhku dan membantingnya ke dalam air, aku megap-megap saat aku menarik tubuh Sehun yang ikut terjatuh juga ke dalam air. Aku menertawainya dan ia menyipratiku dengan air.

Kami bermain-main di sepanjang pesisir pantai sambil menunggu matahari tenggelam. Sunset di Eurwangni adalah yang paling indah di deretan pantai di barat Korea. Jadi sudah menjadi kewajiban mereka yang berkunjung ke Eurwangni harus melihat sunsetnya. Para pasangan dan keluarga yang sudah memenuhi bibir pantai sudah bersiap menanti sunset di pesisir pantai, parade wajib sebelum malam datang. Musim gugur menambah indahnya sunset di pantai Eurwangni.

Sehun mengeluh kelaparan setelah berjalan-jalan−juga berlarian−di sepanjang pesisir pantai hingga ke dekat hutan pinus yang indah. Sehun dan aku memutuskan untuk melihat sunset sambil makan di restoran yang berhadapan lurus dengan posisi tenggelamnya matahari.

Dan benar saja, sunset di Eurwangni memang luar biasa. Aku beruntung bisa menikmatinya bersama Sehun. Aku tersenyum dalam kekaguman dan kebahagiaan yang sedang melanda.

Ketika malam tiba, Eurwangni tidak berubah menjadi gelap, lampu-lampu dari restoran dan hotel yang menembus hingga ke pantai membuat pantai itu kelihatan bersinar walaupun di malam hari.

Aku mandi di kamar hotel dan memesan makan malam agak larut. Makanan datang saat Sehun selesai membersihkan diri. Kami makan terlebih dulu setelah itu duduk di kursi balkon yang menghadap ke pantai, menenteng beberapa botol soda ke luar.

“Kau memberitahu Yoomi tentang hubungan kita?” Sehun bertanya setelah hampir setengah jam duduk dalam diam menikmati minuman masing-masing bersama angin malam yang berhembus.

Aku menoleh padanya, “Tidak, kenapa?”

Sehun menatap lurus ke depan, aku menerka apa yang ada dipikirannya, tapi nihil, aku tidak berusaha terlalu keras untuk menerka pikirannya.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu.” Jawabnya singkat.

Aku memanyunkan bibir dan kembali menghadap ke depan.

“Kau yang memintaku untuk merahasiakan hubungan kita kan? Aku juga merasa belum siap untuk memberitahu mereka.”

Sehun mengangguk-angguk. Apa Sehun juga melakukan hal yang sama? Merahasiakan dari teman-temannya juga. Mungkin iya, dia kan laki-laki.

“Apa kau memberitahu teman-temanmu?” aku balik menanyainya.

“Tidak, kenapa? Kau ingin aku memberitahu mereka?” Sehun menatapku, tapi aku tidak membalas tatapannya.

Aku bergidik ngeri melihat reaksi mereka mengetahui hubungan kami berdua yang sangat tidak biasa. Aku, berpacaran dengan Sehun? Teman Jongin? Ya ampun. Aku menggeleng cepat, menyingkirkan bayangan-bayangan yang terlintas di otakku.

“Terserah. Aku ikut saja. Kalau kau ingin ini tetap menjadi rahasia, aku akan menuruti.” Kataku akhirnya.

Ya, dia yang memegang kendali hubungan ini.

Aku bangkit dari tempat duduk dan bersandar pada dinding balkon. Ada sesuatu yang membuatku penasaran dan kurasa aku harus menanyakannya pada Sehun, setidaknya selama tiga hari terakhir sejak pertama kalinya kami bertemu kembali pertanyaan it uterus mendekam dipikiranku.

“Sehun, boleh aku tanya sesuatu?” aku memulai.

“Tentu.”

Aku tidak begitu yakin dengan pertanyaanku sendiri, tapi keingintahuanku mendorongku untuk tetap bertanya padanya.

“Apa… apa kau begitu menginginkanku?” aku berbalik menghadapnya yang masih duduk. Mata kami bertemu, aku ingin mengalihkan pandanganku agar aku tidak menatapnya, tapi mataku seperti terkunci setelah matanya menatapku lembut. Aku tidak ingin memperjelas pertanyaanku, kuharap Sehun tau apa yang ku maksud.

Ia meletakkan botol sodanya di atas meja dan berjalan menghampiriku.

Well, apa kau pernah memikirkan hal ini adalah semacam kebutuhan? Kebutuhan batiniah.” Jawabnya.

Jawabannya sama sekali tidak terprediksi olehku, bahkan aku tidak pernah memikirkan itu sedikitpun. Bukan jawaban ini yang aku inginkan, aku ingin dia mengatakan yang lainnya. Tapi kenapa justru ini yang terlontar dari mulutnya?

Aku kembali memikirkan jawaban Sehun. Kebutuhan batiniah? Kurasa ia ada benarnya juga. Semakin umur kita bertambah dan pemikiran kita yang semakin dewasa, terkadang kebutuhan fisik dan rohani masih tidak cukup, kebutuhan batiniah memang sangat di perlukan. Jadi Sehun membutuhkan kebutuhan batin dariku? Sepertinya aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga memerlukan kebutuhan batin. Dan dengan Sehun aku memenuhinya. Terbukti saat pertama kalinya kami berciuman, kenapa aku menikmati perlakuannya dan aku justru menginginkan yang lebih daripada aku harus menolaknya jauh-jauh. Aku kehausan.

Aku mengamini yang Sehun utarakan karena aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku juga merasakan hal yang lainnya. Apakah Sehun merasakan hal yang lain itu juga? Aku tidak tau.

Aku mengangguk memberinya jawaban bahwa aku mengerti apa yang ia katakan. Sehun menggenggam tanganku, meremasnya pelan. Satu tangannya membelai wajahku dan menyelipkan rambutku yang berterbangan diterpa angin malam ke belakang telinga.

Ini juga yang membuatku lebih mengamini perkataan Sehun. Karena ia terlalu memabukkan untukku. Ia membutuhkanku dan aku merasa dibutuhkan, aku senang bisa berguna, walau dalam hal seperti ini.

Dan aku tak bisa menolaknya.

Daya tariknya membuatku semakin tak berdaya seiring berjalannya waktu. Sehun seperti tempat berteduh, tujuan yang tidak di perkirakan. Seperti teras rumah, pinggiran toko, tenda, yang menyediakan tempat berlindung mendadak ataupun tempat perlindungan nomor dua. Seperti itulah Sehun membuatku datang, ketika aku masih berdarah-darah dan ia menyediakan tempat untukku. Membuatku bertahan untuknya.

Saat Sehun mencium bibirku, aku tau kebutuhanku meminta untuk dipenuhi. Dan Sehunlah yang memenuhi kebutuhanku, seperti aku memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan seksual yang tidak bisa dihindari.

Sehun mengangkatku ke dalam ruangan dan membaringkanku di atas pembaringan. Tangannya bergerak pelan dipunggungku, melucuti pakaian yang kukenakan satu per satu. Aku mematikan lampu di samping ranjang dan memenuhi kebutuhan kami berdua.

Selama sebulan terakhir Sehun rutin beberapa kali dalam seminggu menginap di tempatku. Aku hampir tidak pernah pergi di malam hari lagi, waktuku semakin sedikit untuk pergi bersama Yoomi. Beberapa kali aku makan di kafe Minseok bersamanya, terkadang Kyungsoo juga ikut bergabung dengan kami. Aku juga hampir tidak pernah bekerja di toko, aku hanya beberapa kali berkunjung untuk mengecek, mengurusi urusan penting ketika Jimin, pengelola utama di tokoku memintaku untuk datang. Tapi aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sehun. Begitu juga Sehun.

Dan yang hebat adalah, kemanapun kami pergi ke luar berdua, kami tidak pernah bertemu dengan siapapun orang yang kami kenal, jadi kami tidak khawatir akan bertemu dengan teman-teman kami, setidaknya kami telah menyiapkan banyak alasan jika kami benar-benar terpergok sedang jalan berdua.

Seperti berpura-pura bertemu karena tidak sengaja, atau kebetulan memilih barang yang sama, atau sama-sama sedang makan sendiri jadi ikut bergabung dan lain sebagainya.

Kegiatan itu bertahan cukup lama, begitu pikir kami. Sampai suatu pagi,

Ting tong. Ting tong.

Dari kejauhan, dari ketidaksadaranku yang masih berada dalam alam mimpi, sayup-sayup aku mendengar suara bel yang terdengar seperti bel apartemenku. Sesaat kemudian , setelah aku yakin aku sedang tidak bermimpi, aku membuka mata dan menyadari suara itu memang berasal dari bel kamarku. Aku mengucek mataku, kulirik Sehun yang masih terlelap dan segera turun dari ranjang. Tidak biasanya aku menerima tamu di pagi-pagi begini. Dan siapa juga yang bertamu ke tempat orang sepagi ini? Batinku karena cukup terganggu.

Ting tong. Ting tong. Ting tong.

Suara bel yang menyeruak ke seluruh sisi ruangan membuatku agak jengkel karena tamu yang satu ini sangat tidak sabaran. Aku turun dari ranjang mengerutkan kening, mengalihkan tangan Sehun dari atas tubuhku  dengan hati-hati, menggeser bantal terdekat dan meletakkannya dibawah tangan Sehun. Membuatnya tetap pada posisinya semula. Aku berjalan cepat ketika suara bel itu masih terus berdenting membuatku semakin jengkel. Aku menyambar kaos oblong yang ada ditumpukkan pakaian paling atas di lemari dan mengenakan celana tidur dengan sembarang. Persetan seperti apa rupaku saat ini; baru saja bangun tidur, rambut acak-acakan dan wajahku yang pasti masih sembab.

Aku langsung menggapai ganggang pintu tanpa harus melihat siapa tamu tak di undang yang menjengkelkan itu melalui peep hole. Aku membuka pintunya sedikit untuk melihat siapa yang berdiri didepan pintu kamarku.

Bagaikan melihat hantu di malam yang mencekam, aku terkejut mendapati seseorang yang berdiri disana tidak asing lagi dalam hidupku.

Lidahku sedikit kelu saat aku berencana untuk mengucapkan namanya. Sudah terlalu lama aku tidak pernah mengucapkan namanya dalam hidupku. Selain ketika aku mengejanya didalam hati−bahkan aku pun membatasinya.

“Jongin.” Ujarku pelan.

.

.

A/N: Halo halo… gimana lanjutannya? Hihihisemakin drama yaaak. Iya memang genrenya drama sih :D, semoga yang Eunjoo rasakan bisa tersampaikan yaaaa. Terima kasih yang sudah berkunjung! Keep reading, like, comment and feedback, sangat di tunggu~ masih dalam suasana Lebaran ya… selamat lebaran untuk kita semua ❤ have a good day ^^ Keep loving our beloved EGD!!!! Yuhuuu~

Iklan

6 thoughts on “Marquee Reflection – Marquee

  1. hy mel, chapter ketiga, eung aku agk kurang paham di bagian awalnya, kurasa ada beberapa kata yang kurang pas dan kyk berasa brlebihan kamu letakkan diatas, jadi aku rada bingung apa sih yg pgn eunjoo sampai in. tapi semakin ke bawah mulai membaik dan kece seperti biasa. jadi kesimpulan ngawurku, yg nlpon sehun pas dimobil jgn2 jongin? siapa? dia kyknya klue pntg deh.

    • di bagian awal memang masih belum ketauan kak, nanti masuk chapter enam dan tujuh udah mule keliatan banget konfliknya, masih pengenalan konflik kalo yang awal, dan semua tindak-tanduk di awal ini bersangkutan sama chapter-chapter belakang 🙂
      kekekeke bukan Jongin kak, nanti tebak lagi ya kalo udah liat yang belakang-belakang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s