Marquee Reflection – I Admit

marquee-reflection-poster

2ndMarumero │ Kim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun,  EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

Rasanya mataku membulat dengan sempurna saat merasakan bibir hangat Sehun menyentuh bibirku. Aku masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Tanganku bergetar pelan saat Sehun memiringkan wajahnya dan melumat bibirku lembut. Kepalaku pening dan terkejut saat lidah Sehun membuka bibirku yang terkatup dan menghembuskan nafasnya ke dalam mulutku. Seketika aku tersadar dan mendorong dada Sehun menjauh dari tubuhku. Aku mendelik padanya tak percaya.

“Sehun!” seruku setelah mendorongnya menjauh, bibirku basah dan menyekanya dengan punggung tanganku. “Apa-apaan kau ini?!” aku berteriak padanya.

Sehun menatapku lembut, mengabaikan kemarahan dan teriakanku. Bukan itu yang ingin aku lihat dalam wajah Sehun. Aku ingin ia minta maaf padaku karena telah menciumku dan menyesal telah melakukannya. Mataku masih membelalak lebar saat tak ada tanda-tanda penyesalan dalam wajahnya seperti yang aku harapkan.

Melenceng jauh dengan apa yang kubayangkan, Sehun justru kembali mendekat ke arahku dengan cepat. Aku berbalik dan hampir berlari saat tangan Sehun menangkap lenganku dan mencengkeramnya. Aku meronta-ronta, tapi Sehun dengan sigap merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. Tanganku mengepal dan mendorongnya kuat-kuat di dada. Bibirnya kembali melumatku, kini lebih kasar dan sangat memaksa.

Sehun mendorong tubuhku ke mobil paling dekat di mana kami berdiri dan menahanku di sana. Punggungku menyentuh kaca jendela mobil, bagian depan tubuhnya menahan tubuhku dan tanganku tak bisa mendorongnya lebih jauh. Aku bisa merasakan nafasnya yang berbau alkohol dan itu membuatku tahu ia sedang mabuk. Kesadaran itu membuatku mengerti orang yang sedang menciumku saat ini bukan benar-benar Sehun, ia sedang mabuk. Sehun tak akan melakukannya padaku jika ia sedang sadar.

Aku terdiam. Tidak memberinya perlawanan lebih, menunggunya berhenti dengan sendirinya. Tanganku terkulai ke sisi badanku, aku bisa merasakan kedua tangan Sehun sedikit mengendur di kedua sisi wajahku. Kedua tangannya turun ke pinggangku dan ia semakin memendekan jarak di antara kami berdua. Bibirnya berubah lebih halus dan lembut, matanya tertutup sejak awal sementara aku terus membuka mataku, pandanganku buram karena terlalu lama memandang wajahnya dalam jarak sedekat ini.

Bibirnya berhenti bergerak dan wajah Sehun mulai terlihat jelas di mataku saat ia menjauhkan diri. Aku menangkapnya sedang menatapku dan mata kami bertemu, aku mengepalkan tangan penuh kemarahan, detik berikutnya aku hampir menampar wajahnya saat ia mengejutkanku dengan ucapannya.

“Maafkan aku.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh. Aku sedikit ragu dengan ucapannya, tanganku tertahan, matanya menatapku dengan hangat dan itu menyentakku dengan keras.

Sehun meraih kedua tanganku dan menggenggamnya lembut. Mataku masih menatap matanya. Tangannya begitu hangat dan terasa menyenangkan. Aku tidak tahu kenapa semua terasa begini dan bertolak belakang dengan apa yang aku pikirkan.

Aku tahu ini semua tidak benar, aku tahu semua ini akan menyesatkan. Apa yang aku rasakan dan apa yang aku pikirkan mulai tidak sejalan. Aku mengetahuinya saat tanganku membalas genggaman Sehun dan itu memberinya jawaban bahwa aku tidak membenci apa yang baru saja ia lakukan padaku. Sementara aku terus berpikir untuk menjauh darinya walau sedikit dalam benakku, aku ingin Sehun menemaniku dan bertahan untuk malam ini, setidaknya untuk mendengarkan cerita sedihku atau memberiku bahu untuk menangis dengan matanya yang menghangatkanku.

Pikiranku tidak bisa berjalan dengan jernih. Tubuhku semakin tak bisa ku kontrol dengan pikiranku, seolah aku sedang kehausan dan tak peduli dengan air apapun yang disandingkan di hadapanku, aku hanya perlu meminumnya untuk meredakan kehausanku. Tidak peduli apa yang akan terjadi setelahnya, entah keracunan atau menyehatkan. Dan begitulah Sehun. Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba memikirkan hal ini. Yang jelas pikiranku mulai kacau sekarang.

Kekacauan ini semakin berlanjut saat aku memandangnya dengan lembut dan mulai berjinjit, melingkarkan kedua tanganku dilehernya dan memeluknya erat. Tubuh Sehun menegang untuk sesaat dan kembali rileks saat ia membalas pelukanku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, kehangatan tubuhnya mengalir ke seluruh tubuhku dan aku tak bisa menolak apa yang ia miliki tepat di depan mataku.

“Yoon Eunjoo … ” bisiknya di telingaku. Bulu kudukku meremang, air mataku tertahan di sudut mata dan aku tidak tahu kenapa aku menjadi begini. Aku begitu terbuai oleh sikapnya yang menyenangkanku. “Kau terlalu banyak berpikir.” Katanya kemudian mencium telingaku.

Aku melepas pelukanku sementara ia masih memeluk pinggangku, aku menatap matanya dan tatapannya membuatku meleleh di tempat. Sehun benar, aku terlalu banyak berpikir, sementara pikiran dan tubuhku kini tidak berhubungan dengan baik. Aku memejamkan mata. Ada yang berbeda dengan Sehun. Sesuatu yang tak pernah ku lihat selama ini dan itu membuatku tertarik.

Kami masih terus saling pandang saat terbersit keinginan untuk mencium bibirnya yang hangat. Aku menggelengkan kepala tak percaya dan mencoba menepis bayangan aku sedang menciumnya. Tapi aku sangat tertarik dengan Sehun dan itu membuatku pusing. Bayangan aku sedang mencium Sehun beralih pergi saat Sehun dengan lembut sekali lagi mendaratkan bibirnya ke bibirku. Tangannya mengalungkan kedua lenganku di lehernya, aku tidak memberikan perlawanan lagi. Saat Sehun menurunkan tangannya ke pinggangku dan kembali menekan tubuhku pada kaca jendela mobil, aku tahu aku menginginkan Sehun.

Sudah dua tahun sejak terakhir kalinya bibirku tersentuh oleh bibir lelaki lain. Ada rasa rindu yang tak bisa terungkapkan ketika beberapa waktu lalu Sehun memutuskan untuk menciumku dan itu yang membuatku semakin bimbang. Aku gila karena aku ingin merasakan ketenangan yang timbul saat berciuman. Seolah-olah rasa itu telah lama menghilang meninggalkanku dan kini aku kehausan karenanya.

Aku berjinjit untuk lebih mudah menggapai bibirnya. Aku menutup mataku, bibirnya dan bibirku bergerak seirama. Kuremas rambut pendeknya yang lembut, tangan sehun bergerak naik turun di punggungku memainkan kain kemeja yang menempel di kulitku.

Sehun menyapu bibirku dengan hembusan nafasnya yang memabukkan, lidahnya bergerak ke dalam mulutku mengabsen gigi depanku. Aku iseng menggigit lidahnya dan ia mengerang kesakitan. Dan yang membuatku semakin terkejut adalah gelak tawa yang keluar dari mulutku bersama erangan Sehun. Ia tidak melepas bibirnya dari bibirku dan terus melumatnya lembut.

Kami terus berciuman saat Sehun mulai menuntunku masuk ke dalam gedung dan membiarkanku mengantarnya di depan pintu kamarku. Aku tahu akan kemana hal ini berlanjut.

Kumasukkan kunci dan kode pintu kamarku, Sehun memeluk tubuhku dengan sangat hati-hati. Sehun tidak berhenti hanya di sana, saat kami masuk ke dalam kamar, ia langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke ranjang di sudut ruangan. Aku mengalungkan tanganku di lehernya dan tergelak lirih saat ia dengan mudah memboyong bobot tubuhku melintasi ruangan.

Ada sesuatu yang memenuhi hatiku saat ini. Sesuatu yang sudah sangat lama pernah ada didalam dadaku dan itu membuat jantungku terus berpacu sementara sentuhan Sehun di tubuhku hampir membuatku gila. Lampu ruangan tidak dinyalakan oleh Sehun saat ia melewati saklarnya di sisi tembok dan aku menggapai lampu tidur di meja di sisi ranjang setelah Sehun membaringkanku di atas kasur. Wajah Sehun tersorot lampu malam dan senyum menghias di sana. Aku ikut tersenyum dan ia mendekatkan wajahnya padaku lagi. Kami berciuman dan ia terus membisikan namaku di sela-sela ciuman kami.

Kebenaran bahwa aku menikmati sentuhan Sehun dan apa yang ia berikan saat ini membuatku lupa dengan perasaanku selama ini. Kesakitan yang pernah kurasa, keterpurukan yang menimpaku, kesendirian yang terus kupertahankan dan kehidupan yang tak pernah ku urus lagi kini runtuh. Sehun meruntuhkannya dan itu membuatku lega.

Ada kehidupan lain yang bisa kujalani.

Bersama Sehun. Seseorang yang datang saat hatiku terus berdarah-darah dan memberikan kehidupan lain. Dan aku dengan gampangnya membiarkan semua ini terjadi, membiarkan malam ini hanya milikku, milik kami berdua.

Tanganku bergerak pelan saat mengangkat baju Sehun melewati kepalanya dan Sehun dengan hati-hati melepas kancing kemejaku tanpa melepas bibirnya di bibirku. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku hanya terus memejamkan mata dan menikmati sentuhan Sehun di seluruh tubuhku.

Seandainya aku tega pada diriku sendiri, seandainya aku sanggup membiarkan diriku sendiri merasakan apa yang bisa dilakukan Sehun dengan lebih, aku pasti akan sangat pening. Paginya saat aku terbangun dan melihat Sehun memeluk tubuhku di ranjang, aku tahu aku sudah gila. Aku tak percaya aku bisa melakukannya dengan Sehun. Seandainya seluruh keterpurukan itu tidak muncul, mungkin semalam aku tak bisa mengendalikan diriku dengan kemabukan yang Sehun berikan. Aku punya batasan. Dan itu membuatku lega karena aku tidak harus menjadi wanita yang begitu murahan karena tidur dengan orang yang−tidak benar-benar ku kenal dan berhubungan seks dengan orang itu.

Aku tidak benar-benar gila untuk membiarkan Sehun melakukannya.

Sedikit banyak aku khawatir dengan apa yang akan Sehun tanggapi setelah membuka mata pagi ini. Aku takut ia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan padaku semalam karena ia sedang mabuk. Kupandangi wajah Sehun yang begitu halus dan tidur seperti anak kecil. Aku mengawasinya saat masih terlelap dan was-was menerka apa yang akan Sehun lakukan saat membuka mata. Perlahan Sehun membuka matanya dan melihatku di depan wajahnya dan bibirnya bergerak membentuk senyum. Itu membuatku lega karena setidaknya Sehun ingat dengan siapa menghabiskan malam tadi. Kemudian aku membalas senyumnya.

“Senang bisa melihatmu tersenyum lagi, Eunjoo.” Bisiknya parau. Dan ya, aku banyak tersenyum akhir-akhir ini atau setidaknya dalam dua belas jam terakhir. Aku tergelak. Mencoba menyingkirkan tangan Sehun untuk bangkit dari ranjang, tapi Sehun menarik tubuhku lebih erat pada tubuhnya. Dan aku tahu ketakutanku bahwa Sehun akan terkejut saat melihatku saat bangun tadi mulai menghilang. Sehun tidak terlalu mabuk untuk memperlakukanku seperti itu semalam. Sehun sadar dengan apa yang ia lakukan dan kelegaan lain melanda perasaanku. Sementara aku, tentu saja aku sadar seratus persen dengan apa yang kulakukan semalam karena aku tidak mabuk sama sekali−secara harafiah, kecuali Sehun sendirilah yang membuatku mabuk.

“Maafkan aku.” Kataku pelan. Aku tidak tahu persis kenapa aku mengucapkannya, aku hanya merasa aku perlu untuk mengatakannya.

Sehun menyipitkan mata, menatapku bingung tidak mengerti apa yang ku maksud.

“Semalam kau mabuk.”

Sehun mendengus dan mengikik kecil, sekarang giliran aku yang menatapnya bingung karena ia mengikik.

Sehun menarikku lebih dekat dan mencium keningku. “Kau membuatku semakin mabuk. Mabuk berat.”

Aku memejamkan mata, merasakan aroma tubuhnya yang menenangkan. Aku terdiam. Sehun ikut terdiam. Dan saat perutku berbunyi, itu sangat memalukan, aku dan Sehun saling melepaskan pelukan dengan tawa memenuhi ruangan. Aku kelaparan. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengalihkan wajahku yang memerah karena kejadian memalukan barusan.

“Kurasa aku mandi dulu.” Kata Sehun melintasi ranjang, sengaja ingin melihat wajahku yang seperti kepiting rebus dan meledekku.

Aku berputar untuk menghindari tubuhnya dan berjalan menjauh ke tengah ruangan. Sehun kembali tertawa dan meluncur ke kamar mandi.

Aku merutuki diriku sendiri karena begitu memalukan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuat sarapan saat Sehun sedang mandi. Aku memanaskan air untuk membuat kopi dan membuat dua tumpuk sandwich.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia langsung menuju ke meja makan saat melihat makanan yang kubuat dan aku meletakkan kopi panas di atas meja.

“Untukku?” tanyanya.

“Tentu saja.” Jawabku memutar bola mataku dan duduk di seberang kursinya.

Sehun duduk dan menyeruput kopi panasnya. Aku menggigit sandwichku dan berpikir cepat. Aku ingin tahu sesuatu dari Sehun. Aku ragu untuk bertanya tapi aku tahu aku harus menanyakannya.

“Sehun,” aku memulai. Sehun mendongakkan wajahnya dari cangkir kopi yang baru ia letakkan kembali di atas meja.

“Hm?” sahutnya.

“Bolehkah aku menayakan sesuatu?” aku bertanya hati-hati. Tidak yakin dengan pertanyaan yang sedikit menggangguku itu.

“Tentu.” Ujarnya singkat sambil menggigit sepotong sandwich. Matanya menatapku lembut dan itu membuatku yakin dengan apa yang ingin aku tanyakan padanya.

“Apa kau …” aku berhenti, tiba-tiba saja aku menjadi gagap. “Apa kau … menyukaiku?” aku menyelesaikan pertanyaanku.

Aku melihat Sehun dalam sepersekian detik melebarkan mata dan mengangkat alis, tapi kemudian wajahnya berubah semakin lembut dan itu membuatku tenang. Sehun meresponnya dengan baik.

Ia tersenyum menatapku dan aku menundukkan kepalaku, tidak begitu yakin ingin mendengarkan jawaban yang akan Sehun lontarkan karena aku memikirkan jawaban terburuk yang mungkin bisa ia katakan.

“Sepertinya kau tahu jawabannya, aku tak perlu mengatakannya, kan?” aku mengangkat kepalaku, memandangnya yang sedang tersenyum melihatku. Apa aku melihat ada cinta diwajah Sehun? Aku tak tahu. Aku begitu lama tidak bersambah dengan cinta. Itu membuatku bingung dan aku seperti buta karena tak bisa membaca wajah Sehun. Aku tak pernah melihat wajah Sehun sedetail ini. Aku tidak tahu seperti apa wajah Sehun ketika ia sedang bersikap datar atau bahkan wajahnya ketika jatuh cinta. Jika bukan karena kejadian semalam pun aku tak akan melihat wajahnya hari ini, disini, saat ini, bersamaku. “Bukankah itu cukup jelas?” bisiknya.

Kualihkan pandanganku sejenak menjauh dari Sehun. Aku tidak tahu jawabannya. Aku tidak tahu jawabannya seperti yang Sehun katakan. Aku tidak tahu apakah ada cinta untukku di sana. Lalu aku kembali bertanya padanya.

“Jadi … kita berpacaran sekarang?” tanyaku ragu, menatapnya yang sedang mengunyah sandwich di mulutnya.

“Kurasa begitu.” Ia mengangguk-angguk.

Jadi kurasa Sehun menyukaiku. Jika tidak, untuk apa ia mengiyakan untuk berpacaran denganku? Aku tersenyum. Aku tidak percaya ini. Aku mengunyah makananku dengan perasaan berbunga-bunga. Sehun menyukaiku. Ada lelaki yang menyukaiku dan aku juga menyukainya. Ya, akhirnya aku mengakui aku menyukai Sehun. Ini ajaib. Rasanya keterpurukanku tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sedetik berikutnya aku bisa merasakan tangan Sehun menyentuh tanganku pelan.

“Kuharap kau lebih banyak tersenyum, Eunjoo. Aku senang melihatmu tersenyum.”

Kami tersenyum bersama.

Keheningan mengikuti setelahnya. Kami menyelesaikan makanan kami dan memutuskan untuk duduk di sofa, menyalakan televisi dan menontonnya secara acak. Sehun merangkul pundakku dan aku bersandar di lengannya. Ini pertama kalinya aku melakukannya lagi dengan lelaki. Semuanya serba pertama bagiku sejak dua tahun terakhir ini, tapi Sehun membuatnya begitu mudah untukku. Seolah aku tak pernah jatuh dalam keterpurukkan yang merubah duniaku begitu drastis dan aku seperti tidak pernah hidup dalam keadaan seperti itu ketika bersama Sehun. Aku baru pernah hidup dengan Sehun secara sadar sejauh ini.

“Aku ingin tahu sesuatu, apa kau keberatan jika aku menanyakannya?” Sehun berkata lirih di rambutku. Tanganku memeluk perutnya dan memainkan kain bajunya. Aku mengangguk kearahnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi diantara kau dengan … Jongin?” Aku terkejut mendengar apa yang ditanyakan Sehun. Tanganku berhenti memainkan kain kaosnya dan berhenti di udara. Apakah aku perlu menjawab pertanyaannya? Aku tidak menyukai masa laluku bersama Jongin diungkit-ungkit kembali, terutama di depan Sehun, orang yang kini ku sukai dan menyukaiku juga. “Kenapa kalian berakhir?” Lanjutnya.

Aku ragu untuk menjawabnya, tapi kurasa Sehun perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara aku dengan Jongin. Kenapa kami berakhir, aku akan menceritakannya pada lelakiku sekarang.

Well, kami hanya berakhir. Tak ada yang perlu dilanjutkan lagi.” Aku tahu jawabanku tidak sesuai dengan apa yang Sehun harapkan, mungkin.

Diluar dugaanku, ternyata Sehun menerima apa yang aku jawab tanpa meminta lebih. Aku melihatnya memanyunkan bibir dan salah satu tangannya mengelus rambutku lembut.

“Aku tidak percaya kalian akan berpisah.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kalian terlihat tak terpisahkan. Sejak SMA kalian selalu bersama di manapun dan kapanpun.”

Aku mulai tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Bisa-bisanya Sehun mengangkat pembicaraan semacam ini? Terkutuk kau, Sehun! Ugh!

Aku hanya mengangkat bahu. Tapi di sisi lain aku ingin tahu kenapa Sehun menanyakan ini padaku, jadi kuputuskan untuk sedikit meresponnya balik.

“Apa kami sebegitu menonjolnya?” tanyaku ingin tahu.

“Tentu saja. Anak mana yang tidak tahu hubungan kalian? Sangat menonjol. Apalagi kau anak dari salah satu penyumbang terbesar di Yayasan Sekolah.”

Kemudian aku membayangkan sosokku bersama Jongin di antara anak-anak sekolah yang sedang menghunjing di belakang punggungku, memandangku sebelah mata karena aku memacari laki-laki tertampan di sekolah. Aku bergidik ngeri.

“Kukira kami membaur dengan yang lainnya.” Aku membela diri.

“Ya… kalian memang membaur dengan kami semua, tapi kalian berdua seolah-olah bersinar dan itu membuat kalian berdua berbeda.” Sehun mengatakannya dengan enggan. Lalu kenapa ia mengatakannya? Mungkinkah ia cemburu? Ekspektasi ini membuatku sedikit bahagia.

“Itu masa lalu, Sehun.” Aku mengingatkannya, menghilangkan keengganan yang terpasang di wajah tampannya.

“Kau benar.” Ia menyetujui. Sehun menepuk permukaan sofa dan beranjak menggeser tubuhku darinya. “Aku harus pergi.”

Sehun pergi ke dalam kamar dan berpakaian rapi. Aku menunggu di ambang pintu dan menyiapkan diri untuk membiarkannya meninggalkanku sendiri, lagi.

Kami berciuman lama sebelum keluar dari pintu depan. Tangannya merengkuh tubuhku dan aku merasa hancur berkeping-keping saat Sehun mencium leherku. Terlalu bahagia.

“Semua ini …” katanya terengah-engah ditelingaku. “… rahasia kita berdua, oke?”

Kepalaku berputar pening mendengar suaranya yang terlalu dekat. Aku mengangguk menuruti permintaannya.

Sehun melepaskan tubuhku dan keluar melewati pintu depan. Aku memeluk tubuhku sendiri dan melambaikan tangan padanya.

Saat pintu tertutup dan Sehun menghilang di baliknya, aku tahu hidupku telah berubah, dimulai sejak semalam. Semuanya berubah dan perubahan itu membuatku lebih baik. Aku merasa lebih baik dan aku sangat menerimanya.

Selamat datang, Sehun. Selamat datang di hatiku dan di hidupku.

“Sekarang kau terlihat lebih berbeda.” Ujar Yoomi saat kami sedang makan siang di kafe.

“Jelaskan.” Kataku meletakan sendok dan garpu di sisi piring berisi makanan yang sedang kumakan.

“Kau terlihat merona. Apa kau sedang jatuh cinta?” tanyanya. “Ayolah akui saja.” Desaknya.

Kurasa bukan hal yang buruk untuk memberitahunya bahwa aku memang sedang jatuh cinta, tanpa harus mengatakan dengan siapa aku jatuh cinta. Aku teringat dengan kata-kata Sehun. Hubungan kami masih rahasia dan aku pun belum siap untuk memberitahu siapapun tentang hubungan kami.

“Iya.” Jawabku malu-malu kembali meraih sendok dan garpuku.

“Sudah kuduga. Dengan siapa? Apa aku kenal orangnya?”

“Aku tidak ingin menjawabnya, Yoomi. Tidak sekarang.”

Yoomi memanyunkan bibir sebal. Aku tahu ia kurang puas dengan keputusanku, tapi aku juga tahu aku pasti akan menceritakanya walau bukan saat ini.

“Baiklah.”

Setelah rutinitas makan siang bersama Yoomi selesai. Aku ke toko beberapa jam untuk mengecek barang yang baru datang dan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Aku memutuskan untuk membuat makan malam, berharap Sehun akan datang dan makan bersama. Tapi saat aku berada dalam perjalan pulang, Sehun mengirimiku pesan mengatakan ia sudah makan malam. Jadi aku makan malam sendirian. Sehun juga memberitahuku ia akan mampir ke tempatku. Aku merasa senang menunggu kedatangannya.

Sekitar lewat jam sembilan malam, setelah aku ketiduran di depan televisi, aku mendengar Sehun membunyikan bel pintu dan aku segera menemuinya.

Aku terkejut saat sesampainya Sehun melewati pintu depan, tubuhnya mendorong tubuhku pelan pada dinding dan mencium bibirku dengan lembut. Tangannya meraih pinggangku dan aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Sehun melepaskan tangannya dariku tanpa melepas ciuman kami, ia membuka coat dan dasinya, menjatuhkannya ke atas lantai. Setelah melepaskan atasannya, ia beralih padaku dan melepas kardigan yang menempel di tubuhku. Sehun memapahku masuk ke dalam ruangan. Ciuman kami terlepas saat Sehun menarik tank-topku melewati kepala, hanya menyisakan bra yang menempel di tubuhku.  Aku mengikuti apa yang ia lakukan.

Aku tahu semua ini akan berlanjut semakin jauh. Bibirnya bergerak senada dengan bibirku. Aku tidak mencium bau alkohol atau semacamnya dari mulutnya, aku tahu ia sadar penuh. Aku tahu ia menginginkanku.

Sehun menindihku di atas ranjang, menempatkan tubuhnya di antara pahaku dan terus menciumku. Tanganku mengabsen melepaskan kancing kemejanya dan menariknya pelan. Membuangnya ke samping ranjang.

Aku tidak benar-benar siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi karena Sehun mencoba untuk meyakinkanku dan karena aku tau ia dalam keadaan sadar penuh, aku memberanikan diri perlahan. Merespon apa yang Sehun inginkan, ia berhenti menciumku dan menggantung kepalanya di atas wajahku, menatapku meminta persetujuan. Aku memutuskan untuk mengangguk padanya dan kemudian ia kembali melanjutkan apa yang ia inginkan. Bagian kecil dalam hatiku, aku juga ingin melakukannya dengan Sehun. Aku ingin ia melakukan lebih dari ini.

Dengan begitu kami mulai melakukannya. Ia melakukannya dengan pelan, berusaha menjagaku senyaman mungkin dan ia mencari kenyamannanya sendiri. Ia sangat berhati-hati dan berusaha untuk tidak menyakitiku secara fisik.

Ketika semuanya telah mencapai puncaknya, aku mengumpulkan seluruh kesadaranku dan meraih sisi kepalanya, kemudian membisikan “I love you, Sehun.”

Dan aku merasakan senyumnya menyentuh leherku setelah pengakuanku padanya terlontar.

.

.

A/N: Hai hai~ chapter kedua has come up~ Ampuni aku semuanya…. sungguh. Tapi karena ceritanya harus begini, jadi… ya begini 😀 Aku nggak terlalu berbakat untuk bikin adegan smut ataupun NC jadi aku tulis aja seperti itu adanya jadi nggak perlu di protek deh chapter ini, tapi aku nggak menghilangkan pesan yang disampaikan saat HunJoo melakukan ‘itu’ kok. Karena sebenernya bagian ‘itu’ dalam cerita ini sangatlah penting dan mempengaruhi keseluruhan ceritanya nanti hihi

Selamat lebaran semuanya, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 ❤ Minal ‘Aidin wal-Faizin, mohon maaf lahir dan batin 🙂

Komen dan like jangan lupa yaaak :p Keep loving our EGD! Chu~

Iklan

7 thoughts on “Marquee Reflection – I Admit

  1. meeeeelllll…… nc? untung aku uda agak tua wwkwkwkwk. sehun itu ya ampun -__- pernyataan cintanya kok ga secara gamblang? kalau gini kesannya php, pgn nimpuk sehun. tapi ya sepertinya emang kamu bikin karakternya gitu ya? bakal dijelasin pelan2? dilihat dari alurnya kayaknya gitu, semacam biar pembaca gregetan dan penasaran. next ditunggu ya mel kalau perlu tiap apdet tag aku di twitter sekalian ya xD hahaha (ini serius lho)

    • ini masuk kategori nc ya kak? huwaaa padahal aku nggak berniat nc heuheu
      kkkk masih awal kak, spoiler aja ya kak, kejutannya di chapter tujuh sebenernya 😀
      iya kak dijelasin pelan-pelan, kak mey yang sabar ya :p
      cek di twitter EGD aja ya kak ❤
      makasih banyak kak, selamat lebaran dan liburan 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s