AB Style : Beautiful Goodbye

beautifulgoodbye

 

Writer: hellospringbreeze (@hellospringbree)

Main Cast: Huang Zi Tao and Park Ji Young (@meiliji95)

Please read Park Ji Young’s Profile first

Fanfiction which is inspired from Maroon5’s song – Beautiful Goodbye

Zi Tao menghela napas perlahan. Telapak tanganya belum lelah untuk terus membelai puncak kepala gadis yang sedang terlelap dalam dekapannya. Ibu jarinya bergerak melingkar di dahi gadis itu. Meski kepala Ji Young sudah lama bersandar di lengan kirinya, ia tak merasa pegal sedikitpun. KemudianTao kembali merengkuh Ji Young dan mengecup dahinya perlahan dan lama.

Tao masih belum percaya jika hubungan mereka akan berakhir seperti ini. Mata laki-laki ini mulai berkaca-kaca kala ia mengingat semua yang telah Ji Young lakukan untuknya, mengingat betapa manisnya gadis ini. Ji Young bukan gadis yang akan mudah untuk dilupakan.

Ji Young terlalu berharga dan teramat berarti untuk seorang Huang Zi Tao.

Dengan perlahanTao meletakkan kepala Ji Young keatas bantal kemudian bergerak dengan sangat hati-hati agar tak membangunkannya, hingga laki-laki itu turun dari tempat tidur. Selepasnyaia pun berjalan ke arah pintu menuju balkon, menyapa angin laut yang begitu kencang malam ini.

I count the ways I let you down

On my fingers and toes but I’m running out

Clever words can’t help me now

I grip you tight but you’re slipping out

 

Tao tak pernah membuat Ji Young bahagia, itu kenyataannya. Bahkan di tengah kencan gila mereka, Tao tahu Ji Young selalu bermata sembab setelah ia kembali dari kamar kecil. Ia hanya membuat Ji Young semakin merasa kesepian. Selama ini Zi Tao ada, tetapi ia semu.

Bertambah satu alasan lagi agar Tao rela melepas Ji Young dari sisinya.

And I remember your eyes were so bright

When I first met you, so in love that night

And now I’m kissing your tears goodnight

And I can’t take it, you’re even perfect when you cry

Tao tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia mencintai Ji Young. Tapi ia tak punya banyak waktu untuk gadis itu. Tao bukan tipe laki-laki yang akan menghabiskan waktu seharian dengan kekasihnya. Ia juga bukan laki-laki yang pandai mengungkapkan perasaannya. Dia laki-laki yang kaku pada anak perempuan. Ia juga tak bisa mendeskripsikan bagaimana ia begitu mencintai Park Ji Young.

Yang ia tahu hanyalah gadis ini terlalu mencuri hatinya. Gadis yang selalu tersenyum dengan begitu manisnya. Ia bahkan selalu berusaha tegar meski terkadang beberapa butir air mata berhasil lolos di balik telapak tangannya. Tao selalu menganggap Ji Young sebagai seorang wanita, bukan sekedar yeoja yang mewarnai hari-harinya.

Bagi Tao, Ji Young lebih dari itu.

Tao telah mengerahkan semua yang ia bisa lakukan, semua yang ia punya. Tapi ia tak pernah diberikan kesempatan untuk menjaga Ji Young. Laki-laki ini mengurut pelan pelipisnya, ia kembali teringat semua perkataan Il Soo padanya. Ia tak pernah diberi kepercayaan lebih atas Ji Young.

When did the rain become a storm?

When did the clouds begin to form?

Yeah, we got knocked off course by a natural force

And we’ll, we’ll be swimming when it’s gone

Tao tak pernah membayangkan sebelumnya jika suatu saat harus kehilangan Ji Young. Ia bahkan tak pernah tahu jika Il Soo akan menantang hubungan mereka. Bahkan orangtua Ji Young yang tak pernah tahu tentang mereka pun tak memberi Tao sedikit waktu untuk meyakinkan.

Terkadang ada saatnya Tao harus melakukan hal yang mungkin akan salah di mata semua orang. Membawa Ji Young pergi jauh tanpa memberi tahu sebelumnya, bukan berarti ia bermaksud lancang. Jika memang mereka harus berpisah, Tao hanya ingin memberikan Ji Young kenangan yang indah. Ia hanya ingin menemani kekasihnya di hari-hari terakhir mereka.

Karna bagi Zi Tao, berat untuk melepas Ji Young.

Ia menatap laut yang berombak, kemudian menyeringai kecil. Satu hal yang harus diketahui, Tao lelah. Ia lelah untuk selalu bersikap pura-pura tegar dan tak tersakiti. Ia lelah untuk terus dipandang sebelah mata, dipandang sebagai lelaki yang tak pantas untuk seorang Park Ji Young. Ia lelah untuk terus menghapus air mata gadisnya, padahal ia mati-matian berusaha agar air mata itu tak jatuh. Ia lelah untuk terus berlari jika akhirnya mereka hanya akan kembali di tempat yang sama, lalu berpisah.

Tidak, ia tidak menyerah. Hanya saja Huang Zi Tao sudah cukup muak dengan semuanya. Dia juga manusia bukan?

Ia mengepalkan tangannya kencang, membuat ujung-ujung jarinya memutih dan dingin. Giginya tertutup rapat, napasnya sedikit memburu. Kemudian ia menghentakkan tubuhnya sendiri.

Zi Tao, sadar!

Masih ada yang bisa kau lakukan.

Kali ini −yang terakhir− kau bisa melakukannya.

Ia bergerak cepat meninggalkan kamar tidur Ji Young. Berjalan dengan langkah yang gaduh menuju kamar tidurnya lalu menutup pintu dengan kasar. Entah mengapa ia tak bisa menjelaskan ada apa dengan hatinya malam ini.

Dengan sigap Tao bergerak menuju tas backpack hitamnya. Membuka salah satu sisi tas kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto yang cukup tebal. Ia menyusun foto-foto tersebut diatas meja, meratapi setiap tempat dan ekspresi yang terabadikan disana. Tanpa ia sadari semuanya hanya tentang seorang Ji Young. Tao kemudian menatap nanar salah satu foto di sudut kiri meja, foto Ji Young yang tersenyum tulus dengan mata sembabnya.

 

All the pain you try to hide

Shows through your mascara lines

As they stream down from your eyes

And let them go, let them fly

Holding back won’t turn back time

Believe me, I’ve tried

 

Laki-laki keturunan China ini baru sadar jika hari-harinya penuh dengan gadis itu. Semua yang ia lihat selama ini hanya satu, seorang Ji Young. Apapun yang ia lakukan selama ini hanya karna Ji Young.  Mata Ji Young yang selalu menyiratkan kekhawatirannya membuat Tao menghembuskan napas kesal.

Tao merasa begitu pengecut. Dia merasa lelah dengan semua ini?

Lalu bagaimana dengan Ji Young? Apakah selama ini Ji Young terlihat bahagia? Apa Ji Young selama ini terlihat sedih?

Tidak. Ia hanya selalu tersenyum hangat, meski terkadang matanya memerah karna menahan tangis.

Tao tak lagi bisa menahan perasaannya, ia mengepalkan tangannya kencang. Memukul keras permukaan meja berkali-kali. Kemudian berteriak marah sambil menangis. Bagaimana ia bisa merelakan Ji Young pergi begitu saja? Bagaimana bisa ia akan mejalani hidupnya tanpa Ji Young? Bagaimana bisa ia tersenyum sambil melambaikan tangannya pada fans padahal hatinya tersayat habis? Bagaimana bisa ia membiasakan dirinya tanpa Ji Young?

Salah? Apa salah jika ia mencintai Ji Young? Apa salah jika ia hanya ingin bersama Ji Young? Apa salah jika ia berusaha untuk jadi laki-laki yang lebih dewasa demi Ji Young? Apa salah jika ia tak ingin Ji Young meninggalkannya?

Zi Tao punya perasaan sedalam samudera, ia hanya tak bisa memperlihatkannya.

Tak lama, ia kembali menangis. Suaranya parau. Tenggorokannya tercekat, sakit. Bajunya sudah basah dengan air mata. Kini ia mulai membalikan semua benda-benda yang ada di hadapannya. Membalikkan meja, memecahkan beberapa gelas, dan melempar salah satu vas bunga ke dinding kamar.

Kaki Tao pun tak hanya diam. Kaki kanannya mulai mengehentak kasar di lantai kamar tidur, ia bahkan membenturkan kepalanya berkali-kali di kaki meja.

Ia terlihat begitu kacau.

Ia terlihat begitu lelah.

Ia terlihat begitu marah.

dan, takut.

Ia mulai menjambak rambutnya kasar, kemudian berteriak sangat kencang dan lama. Wajahnya sudah memerah, semua tubuhnya memerah dan membiru di beberapa bagian.

.

.

.

Tak lama, Tao mulai mengatur napas dan menghapus air matanya. Berusaha mengontrol emosinya. Menangis tak akan menyelesaikan masalah. Ia masih harus berpikir jernih. Tak baik jika di lanjutkan, bisa jadi kekacauan besar. Dan ia tak ingin itu terjadi. Zi tao bangkit dan duduk di sisi tempat tidurnya. Meneguk segelas air putih yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya, kemudian tersenyum miris.

Apa yang harus aku lakukan agar Ji Young tetap tinggal di Korea?

Tidak ada. Kau hanya bisa merelakan dia pergi.

Tao kembali mengingat percakapannya dengan Il Soo. Kemudian ia mulai tertawa kecil, “Tak ada? Kau bahkan menginginkan aku berpisah begitu saja? Oh baiklah, kita lihat apa kau akan menyesal setelah mengatakan itu.”

Tao menyentuh layar ponselnya, mencari-cari satu nama di kontak ponselnya. Kemudian ia menyentuh grup kontak dengan tulisan ‘China Line’ dan memanggil salah satu kontak disana.

Setelah lama mendengar nada sambung, akhirnya telepon Tao dijawab, “Ne?”

Noona? Aku butuh bantuanmu.”

——88——

Laki-laki ini bangkit dari duduknya, menatap betapa kacau kamar tidurnya sekarang. Kemudian ia merogoh kantung celana yang ia kenakan, lalu mengeluarkan selembar foto terakhir. Foto Ji Young yang sedang tertidur. Tao tersenyum masam. Kemudian menambahkan sedikit tulisan di bawah foto tersebut.

.

.

.

.

Beautiful, Goodbye.

_TBC_

Heiho saya kembali, hihhihi gaje bener dah -_____-

aku cuma mau ngucapin makasih untuk YY family ku sayang :* makasih ya udah kasih banyak ide dan bantu editin. Barbie sayang kalian. Juga buat EGD staff, FIGHTING!

Sorry for typo(s) i hope u enjoy, like, leave a comment and follow this blog

Love ya ❤

Iklan

6 thoughts on “AB Style : Beautiful Goodbye

  1. Barbie :”) Hah pada akhirnya nenek sihir akan muncul juga -_-
    Geregetan sama Tao karena dia terkesan putus asa setelah konflik sama Ilsoo dan mutusin ngelibatin ‘noona menyebalkan’ itu. Harusnya Tao lebih berjuang lagi buat bahagiain Jiyoung. Tapi dilema juga sih ya kalau liat Jiyoung nangis terus.
    Rasanya pengen nemplokin post it ke jidat Tao! Isinya: Bodoh, kalau kaya gitu Jiyoung bakalan lebih terluka!
    Ga bisa bayangin entah apa jadinya Jiyoung nanti dan gimana kecewanya dia sama Tao. Padahal kan Jiyoung bela2in bertahan buat Tao ‘-‘
    Aku sayang barbie {}
    ps: BBM, Line, segala hal berhubungan dg internet ga bisa digunain nih kecuali via pc, hiks.

  2. Reblogged this on Shin Eunhee's Entrée and commented:

    Tao tahu benar jika kehilangan bukanlah perkara mudah. Tapi bagi laki-laki itu tidaklah lebih mudah jika melihat wajah Ji Young -pujaan hatinya yang terus dibanjiri air mata.
    Terlebih jika itu semua karenanya.

  3. kak!!! masi inget aku kan? ini mey xD ex angelbesidemey ex staff hihi. lama ga ngeblog mungkin kakak lupa hiks :(( bytheway lama juga gamain kesini da baca taoji, astaga ternyata masnya ji masih tega mau bawa pulang dia o.O sampe si tao bawa kabur lagi duh makin komplex ceritanya makin kece xD dan kyknya aku musti baca lagi nih yang previous chapternya biar makin ngerti :3, lagi soal feel, kyknya kaka mnjiwai banget pas bgian tao meratapi nasib, sedihnya itu lo pas banget. uda ya kak komentarnya ngetik di hp typo mulu -__- love you~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s