Marquee Reflection – Brand New

marquee-reflection-poster

 

1st │MarumeroKim Jongin, Yoon Eunjoo (OC), Oh Sehun, EXO │Chaptered │Drama, Romance │PG 17 │

Selama lebih dari lima belas menit aku duduk terdiam di ruang tamu menunggu poselku kembali berbunyi, menunggu Yoomi meneleponku lagi mengatakan ia sudah di depan apartemen dan segera berangkat ke reuni kecil bersama teman-teman SMA dulu. Awalnya aku menolak untuk menghadiri reuni kecil itu, tapi setelah dibujuk oleh Yoomi dengan segala cara dan segala alasan akhirnya aku menyetujui untuk berangkat. Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka dan sedikit dalam hatiku sebenarnya aku rindu juga dengan mereka.

Tapi ketika sekelebat wajah seseorang teringat di pikiranku, aku kembali gelisah dan sebal dengan diriku sendiri karena selalu membiarkan wajahnya melintas di pikiranku. Wajah seseorang yang membuatku mati-matian menolak untuk menghadiri reuni itu. Untung saja kemuakkan itu takkan terjadi, lelaki itu tak akan datang malam ini. Dan itu membuatku sangat lega, aku tak perlu terkurung dalam kecanggungan di acara nanti dan aku hanya perlu menikmati reuni ini dengan bahagia. Ha, bahagia, kapan terakhir kali aku merasa bahagia? Entahlah.

Hal yang ku tunggu akhirnya terjadi, Yoomi meneleponku dan aku segera keluar dari kamarku dan meluncur ke lantai paling bawah, menemui Yoomi di halaman parkir depan. Tepat setelah aku duduk di kursi penumpang, Yoomi menginjak pedal gas dan pergi menuju tempat perjanjian.

“Kau kelihatan berbeda hari ini.” Aku menoleh pada Yoomi saat ia membelokkan mobil ke jalan raya dan mengawasi jalanan dari kaca spion. Secara otomatis aku langsung mengamati diriku sendiri dari ujung kepala sampai ujung kaki, mencari perbedaan yang Yoomi maksud. Aku masih tetap mengenakan flat shoes seperti yang biasanya kupakai, bahkan kemarin aku juga mengenakan sepatu ini. Celana jins dan kemeja seperti biasa, tas selempang yang juga seperti biasa. Aku tak melihat perbedaan apapun dari hari-hari lainnya kecuali rambut panjangku yang biasa ku gerai kini kuikat dengan sembarang.

“Apanya?” tanyaku bingung.

“Entahlah. Hanya berbeda saja.” Ujarnya mengangkat bahu.

Aku mendengus. Biasanya Yoomi akan mengomentariku blak-blakan dengan apapun yang terjadi padaku ataupun yang aku pakai. Ia akan berdecak dan bergumam menyebalkan jika ada yang salah dengan apa yang aku pakai. Dan hari ini ialah satu-satunya yang berbeda, karena mengomentariku tapi tidak memberikan alasan yang jelas mengapa ia berkata ada yang berbeda denganku. Bukan Yoomi yang seperti biasanya.

Setelah percakapan yang kelewat pendek itu kami hanya terdiam mengamati jalanan malam yang penuh lampu-lampu. Aku membuang muka ke jendela di sampingku. Menghindari kemungkinan pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan Yoomi dengan kediamanku. Ia pasti tahu apa yang aku pikirkan. Ia bukan seorang paranormal atau pembaca pikiran bahkan orang sakti sekalipun untuk mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Tapi mengingat dengan kehidupanku sekarang yang seperti ini, kurasa orang-orang yang dekat dan pernah dekat denganku akan tahu apa yang aku rasakan.

Aku sudah terbiasa dengan kediaman, sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan diam sekarang. Itulah mengapa aku tidak menanggapi balik komentar Yoomi saat ia mengatakan aku terlihat berbeda padahal dialah yang berbeda. Aku hanya tidak ingin banyak bicara. Diam adalah senjata paling aman, menurutku.

Yoomi kembali berbelok dan masuk ke wilayah restoran tempat dimana kami akan reuni. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan kami segera keluar dari mobil. Aku sedikit khawatir dengan apa yang mungkin akan terjadi di acara nanti. Sejenak aku ragu dan berhenti saat Yoomi terus berjalan di depanku. Aku menarik napas cepat dan mengeluarkannya. Aku melihat Yoomi membalikkan badan dan aku kembali berjalan menyusulnya. Acara ini akan lebih baik dan menyenangkan tanpa lelaki itu, tenang saja. Aku meyakinkan diri.

Saat kami masuk melewati pintu depan, aku langsung menemukan keberadaan mereka, ya, tidak sulit menemukan mereka tentu saja. Kerumunan paling ramai dan paling banyak memakan tempat. Kulihat tiga meja telah digabung menjadi satu meja panjang dan ada beberapa orang yang telah duduk di sana. Mataku menyapu cepat orang-orang yang duduk dan tidak melihat keberadaan lelaki itu. Aku menghela napas lega dan memasang senyum. Mereka bersorak lirih saat kami datang. Aku hanya berpelukan dengan teman perempuan dan ber high five dengan para lelaki. Setelah selesai menyapa mereka, Yoomi menarik tanganku ke seberang meja untuk duduk. Seseorang dengan senyum menawan dan lesung pipi indah terpasang, berdiri dan menarik tempat duduk untukku. Aku mengenalinya sekitar beberapa bulan yang lalu atau bahkan lebih. Ia rekan kerja Jongdae, bersama seorang lainnya yang bernama Wufan.

Mereka berdua dari Cina dan aku ingat nama mereka. Dan orang yang memberiku kursi ini adalah Yixing. Dia orang yang baik, setidaknya begitulah yang ku tangkap setelah mengobrol dengannya dulu. Aku melemparkan senyum padanya.

“Terima kasih, Yixing.” kataku padanya. Aku melihat Yixing sedikit terkejut saat aku mengucapkan namanya. Ia pasti mengira aku telah lupa.

“Terima kasih kembali −“ Yixing berhenti, mengedikkan kepalanya kecil dan aku menangkap dengan cepat apa yang ia maksud.

“Eunjoo.” Aku mengucapkan namaku. Sekarang aku tahu dialah yang lupa dengan namaku. Aku tahu dia seorang yang baik tapi aku tidak tahu jika dia seorang pelupa.

“Benar. Eunjoo. Maafkan aku. Aku sangat buruk dengan ingatan, kau tahu.” Katanya seolah ia sedang meratapi nasib buruknya karena menjadi seorang pelupa. Aku tertawa karena Yixing begitu lucu dan sangat menyenangkan. Aku ingat saat kami mengobrol dulu dan ia selalu membuat aku dan Jongdae tertawa karena logat bahasanya yang sangat aneh dan lucu.

Sekarang aku tahu ia seorang pelupa setelah ia mengatakannya sendiri. Aku merasakan kehangatan menyebar di seluruh tubuhku saat ini. Merasakan betapa aku sangat merindukan suasana seperti ini dan senang bisa merasa bahagia lagi. Setelah kedatangan kami, yang datang selanjutnya adalah Luhan bersama sepupunya, Zitao. Mereka melambai dan aku kembali tersenyum melihat kedatangan mereka, tak kusangka orang yang hadir begitu banyak dan semakin ramai. Zitao memelukku erat saat menghampiriku di kursi. Zitao teman sekelasku saat dulu kuliah yang kebetulan adalah sepupu Luhan, teman sekelasku saat SMA. Sangat kebetulan.

Aku mengabsen dalam hati siapa saja yang hadir malam ini. Joonmyun duduk di pojok kiri bersama Haeun, istri Minseok, Minseok sendiri, Zitao dan Luhan. Aku berada diantara Yoomi dan Yixing dengan Jongdae, Sehun dan Wufan di seberang meja lainnya, Kyungsoo di sebelah Yoomi. Di pojok kanan ada Nayoung, Chanyeol dan Nammi. Sebagian besar anak perempuan di kelas kami tidak datang karena mereka tinggal jauh dan telah menikah dan punya anak. Beberapa lainnya ada yang tinggal di luar negeri. Di antara mereka yang datang malam ini, hanya Minseok yang telah menikah. Aku lupa nama istrinya, maafkan aku Minseok, aku membatin.  Hanya orang-orang ini yang tersisa dan beberapa tamu yang langka seperti Yixing, Wufan dan Zitao misalnya. Mereka bukan alumni sekolah kami, tapi mereka ikut meramaikan acara malam ini. Dan ada beberapa orang yang tidak datang karena urusan pekerjaan atau urusan lainnya, seperti lelaki itu.

Setelah kedatangan tamu terakhir, yaitu Luhan dan Zitao, kami semua memesan makanan dan kerumunan kembali riuh. Jongdae mulai berdebat dengan Nayoung, teman perempuanku, tentang apa yang ingin kami pesan. Persis seperti saat SMA dulu, mereka berdua selalu berdebat dan selalu mengundang tawa bagi kami dengan perdebatan mereka. Terkadang aku bertanya-tanya, mereka berdua ini sebenarnya sedang berdebat atau sedang melawak. Bagi mereka berdua kelihatannya itu berbeda tipis. Mereka selalu menjadi mood maker kami. Tentu saja setelah perdebatan konyol mereka berdua, kerumunan meledak dalam tawa. Aku ikut tertawa tapi perhatianku tetap tertuju pada menu yang sedang ku pegang.

Setelah tawa mereda, semuanya mulai melontarkan pesanan mereka.

“Kau pesan apa?” tanya Yoomi yang duduk di kursi sebelah kiriku.

Aku menoleh padanya dan kembali menatap menuku. Restoran ini menyediakan makanan Cina juga dan itu membuatku ingin makan nasi goreng, jadi aku memesannya. “Nasi goreng.” Aku memberitahunya.

Aku mendengar pesanan yang sama dari sisiku yang lain, Yixing juga memesan menu yang sama.

“Aku juga nasi goreng.” Katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dan aku mulai merasa aneh dengan orang ini. Tepat setelah ia melihat senyumanku, ia kembali bicara dengan orang di sebelahnya. Aku melongok untuk melihat dengan siapa ia sedang berbicara. Tidak sulit untuk mengetahui siapa orangnya, pria berbadan tinggi dan atletis, yaitu Chanyeol. Kudengar sekarang ia menjadi pemain basket nasional dan telah menjuarai banyak kompetisi. Orang hebat. Dulu aku pernah sekali menontonnya bermain saat SMA, dan tak diragukan lagi ia memang berbakat.

Aku menyapukan mataku ke sekeliling meja dan melihat mereka semua sedang mengobrol hangat setelah beberapa menit berlalu. Dan sepertinya hanya aku yang duduk dan tak ada teman bicara disini. Aku menengok Yoomi dan ia sedang mengobrol dengan Kyungsoo, bahkan aku melihat mereka mengaitkan tangan dan meletakannya diatas meja. Aku mendengus melihat mereka pamer dengan hubungannya. Beberapa orang bergabung dengan pembicaraan mereka dan aku terdiam menatap meja. Aku yakin Yoomi tak akan sebegitu leluasa memamerkan hubungannya dengan Kyungsoo jika Baekhyun datang di acara ini. Aku jamin ia tak akan mau melakukannya.

Aku menghela napas. Menyadari aku juga akan melakukan hal yang sama jika Jongin datang malam ini. Gah, namanya meluncur lepas dari penjagaanku dan aku baru saja menyebutkannya. Sialan. Aku tersenyum tipis, namanya begitu memuakkan dan bagaikan mimpi buruk. Aku bersandar pada kursi dan melipat tanganku di dada. Mataku mendarat pada orang yang duduk di seberang meja di depanku. Mataku membulat saat melihat Sehun sedang menatapku intens, seolah sedang menuduhku karena suatu kesalahan yang telah ku buat. Sesaat aku bingung akan beraksi apa, aku ingin tersenyum padanya, tapi aku ragu. Aku ingin mengalihkan tatapanku, tapi aku takut ia akan mengira aku membencinya atau sombong atau apapun yang membuat salah paham.

Saat Yoomi menyenggol lenganku, aku tahu ia telah menyelamatkanku dan aku langsung mengalihkan pandanganku padanya. “Makanannya datang.” Ujarnya.

Aku mengangguk dan duduk tegak, menunduk ke arah meja dan melihat si pelayan meletakkan makanan ke atasnya. Aku tidak melihat ke arah Sehun setelahnya.

Setelah semua makanan telah diletakkan di atas meja, Joonmyun, ketua kelas kami saat SMA, mengangkat gelasnya dan meminta bersulang. Beberapa dari mereka mengangkat bir dan aku mengangkat air putihku.

“Demi kelancaran hidup dan kesuksesan kita semua, teman-teman, cheers!” Joonmyun berseru dari pojok meja dan membenturkan gelasnya dengan Luhan, Zitao, Minsoek, istri Minsoek dan Haeun yang berada di sekitarnya.

Cheers!” Seruku bersama lainnya dan beberapa orang di sekitarku membenturkan gelasnya bersama, aku bergabung dengan kerumunan terdekatku. Gelasku berbenturan dengan gelas Sehun, aku memberanikan diri menatapnya dan ia sedang tertawa bersama Jongdae. Wajahnya yang kaku telah menghilang entah kemana dan itu membuatku lega. Tanpa ku sadari aku ikut tersenyum.

“Kau harus mencobanya, ini sangat enak.” Yixing menyodorkan sendok berisi nasi goreng yang diambil dari piringnya dan ia menahannya di depan mulutku, memberiku isyarat untuk membuka mulutku. Dengan ragu aku membuka mulutku dan Yixing menjejejalkan sendoknya ke dalam mulutku. Aku bisa merasakan beberapa orang menatap apa yang sedang kami lakukan dan ketika aku melihat mereka, mereka langsung mengalihkan tatapan mereka pada makanan mereka masing-masing. Aku melihat Sehun melakukan hal yang sama.

Ku kunyah nasi goreng Yixing dan tersenyum ke arahnya. “Iya. Sangat enak.” Kataku saat Yixing masih memasang tatapan seolah ia sedang menunggu jawabanku. Yixing mengambil sesendok nasinya lagi dan hampir ia layangkan padaku. Aku langsung mundur.

“Eh.. Yixing aku punya sepiring milikku sendiri. Dan itu milikmu seharusnya kau yang makan.” Ujarku mengangkat tangan memberi penolakkan. Yixing menatapku sedih dan membuatku merasa bersalah.

“Kau benar.” Katanya kemudian memasukkan nasi ke dalam mulutnya sendiri. “Makanlah, Eunjoo.”

“Kau juga, Yixing.” Aku memasang senyum sebagai tanda maaf dan Yixing melanjutkan makan.

Aku menyendok nasiku dan memakannya dengan tenang. Aku mengambil jus strawberryku saat melihat Sehun tersenyum di seberang meja. Aku berhenti dan menatapnya curiga. Bertanya-tanya apa yang lucu sehingga membuatnya tersenyum. Aku melihat steak yang sedang ia tatap dan aku tak melihat tanda-tanda kelucuan dalam steaknya. Aku menggelengkan kepala. Menepis kepedulianku kenapa aku ingin tahu apa yang ia tertawakan.

Kerumunan kembali riuh saat mereka membicarakan banyak hal. Aku hanya mendengarkan dan menunduk menatap makananku di atas piring. Tidak ingin bergabung dalam pembicaraan apapun. Jongdae dan Chanyeol mulai melontarkan cerita-cerita lucu dan membuat kami tergelak dalam tawa yang menyenangkan. Sehun, Kyungsoo dan Luhan ikut bergabung dengan Jongdae dan Chanyeol. Aku ikut tertawa bersama mereka. Beberapa dari mereka juga mengulas kembali episode-episode saat SMA dulu. Saat dihukum oleh guru, saat dilempar penghapus papan tulis karena membuat onar di kelas, saat diberi uang oleh guru karena menjawab pertanyaan paling sulit saat matematika, dan lainnya. Cerita ini membuatku kembali ke SMA dan seketika saja aku teringat dengan siapa aku menghabiskan sebagian besar waktu saat SMA.

Kediamanku di antara mereka tidak berarti apapun. Aku tahu mereka semua menjaga hatiku dengan sangat baik. Aku berterima kasih pada mereka karena mencoba mengertiku sebaik mungkin. Mereka tidak mengungkit sedikitpun tentang Jongin dan itu membuatku terharu sekaligus merasa bersalah.

Seharusnya aku tak datang malam ini. Kedatanganku membuat mereka menjadi canggung saat bercerita tentang episode dimana keberadaan Jongin mungkin sangat diperlukan. Seperti kemenangan mereka saat mengikuti kompetisi band sekolah. Itu suatu kebanggaan tentu saja, tapi mereka tidak menyebutkannya, karena itu bersangkutan dengan Jongin.

Sekarang bayangkan, apa saja yang akan mereka ceritakan jika aku tak di sini? Tentu saja semua hal akan mereka ceritakan. Terlebih lagi Jongin orang yang suka melontarkan lelucon konyol dan sering membuat onar. Dia harusnya menjadi tokoh utama dalam pembicaraan ini.

“Dan Eunjoo,” Aku tersadar dari lamunanku saat Minsoek menyebutkan namaku. Aku menoleh ke arahnya. “Jika tak ada kau, kami pasti akan langganan membersihkan koridor.”

Minseok mengangkat jempolnya dan Yoomi merangkulku saat aku teringat betapa mereka begitu parah untuk bangun pagi dan selalu terlambat ke sekolah dan aku yang membantu mereka masuk lewat pintu belakang sekolah. Aku harus menduplikat kunci pintu itu untuk membantu mereka. Dengan embel-embel sebagai anak dari salah satu donatur besar untuk yayasan sekolah, itu bukan hal yang sulit untukku.

Jempolku ikut terangkat dan tertawa. Aku mengambil kentang goreng dan menjejalkannya kedalam mulut. Aku kembali melihat Sehun sedang menatapku sambil memainkan sedotan di gelasnya. Kali ini ia tersenyum ke arahku dan itu mengejutkan. Aku ikut tersenyum dan kembali memperhatikan pembicaraan yang berlangsung.

Yixing, disebelahku terdengar sedang menanyakan sesuatu pada orang di sekitarnya dan aku menajamkan telingaku, ingin tahu keanehan apa lagi yang akan ia tunjukkan.

”Apa tidak ada yang ingin menghabiskan ayam goreng ini? Masih tersisa banyak.” Katanya sambil mengangkat sepiring ayam goreng yang masih beberapa potong.

“Kau saja yang habiskan.” Ujarku menanggapi.

“Aku sudah kenyang.” Katanya singkat. Kemudian ia melanjutkan, “Aku yakin, jika Jongin datang malam ini pasti dia telah menghabiskan ayam goreng ini.” Ucapannya membuatku tersentak dan hampir membuatku tersedak saat aku baru saja memasukkan kentang goreng ke mulutku. Aku buru-buru meminum air putihku untuk menghilangkan kekagetanku karena perkataan Yixing. Yoomi menatapku cemas dan beberapa dari mereka melakukan hal yang sama dan itu membuatku risih. Yixing tidak berhenti disana dan ia kembali melanjutkan, “Jongdae, kau yakin kau telah memberitahu Jongin? Rasanya ada yang kurang jika tak ada Jongin.”

Jongdae membeku di tempat, mendelik pada Yixing yang mengabaikannya dengan ketidaktahuannya. Yoomi menggigit bibir bawahnya, aku menunduk dan masih memegang gelasku, memasang wajah setenang mungkin. Aku tak ingin melihat kekhawatiran yang terpasang di wajah mereka semua. Aku benci ini. Aku tidak senang mereka mengasihaniku seolah aku barang yang mudah pecah. Ya, tapi di sisi lain aku berterima kasih karena mereka telah mengertiku. Tapi tidak selalu seperti itu.

“Dia−dia tidak datang, Yixing. Dia sedang sibuk dan banyak kerjaan.” Jongdae dengan ragu menjawab Yixing dan sesekali melirikku cemas.

“Kau benar. Dia sok sibuk sekarang.” Yixing mengangkat bahu dan aku masih terdiam.

Kediamanku masih berlanjut saat suasana kembali mencair dengan lelucon yang Jongdae lontarkan. Aku beberapa kali tertawa kecil dan kembali ke suasana yang sedang berlangsung.

Setelah jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kami mulai berkemas dan saling berpelukan dalam perpisahan. Entah kapan lagi bisa berkumpul seperti ini dan aku sedikit beruntung menghadiri acara ini karena aku bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka lagi.

Beberapa dari mereka masih ada yang bertahan untuk minum beberapa gelas. Untung saja restoran ini buka 24 jam, sehingga mereka tak perlu khawatir telah duduk terlalu lama dan takut akan diusir.

“Aku akan mengantarmu.” Aku mendengar Yoomi bicara saat aku keluar dari ruangan. Aku menoleh ke arahnya dan Kyungsoo berdiri di sebelahnya.

“Kurasa aku pulang sendiri saja.”

“Apa? Tidak, Eunjoo. Aku harus mengantarmu. Aku yang menjemputmu dan aku yang harus mengantarmu juga.” Yoomi bersikeras.

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja, sungguh. Aku ingin berjalan-jalan sebentar dan pulang naik taksi.” Aku meyakinkan Yoomi.

“Kalau begitu aku ikut denganmu. Dan kau tak perlu membuang uangmu untuk naik taksi. Kau tak bisa pergi sendirian di malam selarut ini, Eunjoo.” Katanya dengan keras kepala.

Aku menatapnya serius dan Yoomi tahu apa maksudku.

“Baiklah. Aku akan pulang dengan Kyungsoo.” Aku melihat Kyungsoo kembali ke dalam untuk berbicara singkat dengan para lelaki yang masih didalam dan kembali dengan cepat. “Kau harus menjaga dirimu baik-baik dan telepon aku jika sesuatu terjadi padamu, oke?”

Aku mengangguk dan Kyungsoo telah berdiri disamping Yoomi lagi. Kyungsoo bersalaman denganku dan Yoomi memelukku singkat kemudian mereka pergi.

Aku berbelok keluar halaman restoran dan berjalan di trotoar. Jalanan tengah malam sangat sepi dan hanya beberapa mobil yang melintas. Aku berjalan cukup jauh selama lima belas menit. Memikirkan hal-hal yang mengganggu pikiranku dan menghela napas keras saat aku duduk di halte bus. Dalam tingkat jam ini tentu saja aku tahu tak akan ada bus yang melintas, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin duduk dan berpikir. Aku berpikir tapi tidak begitu yakin dengan apa yang aku pikirkan. Pikiranku melayang tak jelas dan hal-hal random muncul di kepalaku.

Hampir satu jam aku duduk disana dan aku tak bisa menyimpulkan apapun. Aku menatap sepatuku yang kini semakin kotor dan melepaskan ikat rambutku. Membiarkan rambutku tergerai diterpa angin. Rasanya lega. Kusisir rambutku dengan jari tangan saat aku melihat sebuah mobil menepi di dekat halte bus. Aku menegang dan menggenggam ponselku, berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi padaku dan segera mengirim GPS pada Yoomi atau menekan nomor panggilan darurat.

Kakiku bersiap berlari, tanganku mengetik sesuatu untuk ku kirim pada Yoomi saat si pengendara mobil menurunkan kaca jendelanya dan aku mendapati seseorang yang ku kenal duduk di balik setir.

Pertahananku mengendur dan menyipitkan mata saat melihat wajah Sehun terbingkai kaca jendela mobil. Aku sedikit terkejut dengan kehadiran Sehun yang tak terduga. Kemudian ia berbicara padaku.

“Butuh tumpangan? Aku bisa mengantarmu pulang.” Katanya sambil mengedikkan kepala ke kursi penumpang yang kosong.

Aku menatapnya ragu, mengingat tatapannya yang tidak menyenangkan beberapa waktu lalu, yang kemudian disusul juga dengan senyumannya yang lembut tidak lama setelahnya.

“Terima kasih. Tapi kurasa aku naik taksi saja.” Aku mengangkat ponselku dan tersenyum padanya.

“Banyak kejahatan terjadi saat naik taksi tengah malam begini. Lagipula kau tak perlu membuang uangmu hanya untuk naik taksi.” Sehun mengangkat bahu, “Naiklah.”

Aku masih ragu dan menatapnya bimbang.

“Kau ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu?” godanya.

“Tidak.” Jawabku cepat. Aku berdiri dikakiku dan memegang tali tasku, “Bolehkah aku … ?“

“Tentu saja. Teman harus saling membantu.” Aku berjalan kemobilnya dan membuka pintu kursi penumpang.

Aku duduk dan melirik Sehun dalam gelap. Ia menatapku dengan saksama, aku terkejut saat ia membungkuk ke arahku dan tangan kirinya melayang ke samping kepalaku. Aku menahan napas, tidak tahu apa yang akan Sehun lakukan.

“Sabuk pengaman.” Ia menjelaskan saat tubuhku mundur dengan otomatis. Sehun memasangkan sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil. Jantungku berdegup lebih dari pelan saat Sehun mulai menyetir dan aku memberitahunya dimana aku tinggal dan kami menuju ke sana.

Keheningan berlangsung cukup lama. Aku jarang sekali bicara dengan Sehun. Ini membuatku canggung dan Sehun sepertinya tidak terganggu dengan keheningan ini. Aku merancang pertanyaan ataupun pembicaraan yang mungkin bisa mencairkan kecanggungan ini. Tapi Sehun mendahuluiku.

“Sepertinya pria bernama Yixing itu menyukaimu.” Itu tidak terdengar seperti pertanyaan.

Aku menoleh ke arahnya saat ia juga sedang menatapku. Aku membuang muka dan menunduk pada jalanan di depan.

“Dia orang yang baik. Kami hanya berteman.” Ujarku setenang mungkin.

Keheningan muncul beberapa menit setelahnya.

“Eunjoo,” Sehun mengucapkan namaku dan itu terdengar asing di telingaku.

“Ya?” Aku masih menunduk dan Sehun tidak melanjutkan kata-katanya.

“Aku ingin tahu kenapa kau … begitu sering menunduk.” Aku menatapnya dan tak punya ide kenapa ia menanyakan hal semacam itu padaku. Ia membalas tatapanku dan aku tak bisa melihat maksud yang ingin ia tahu dari matanya yang gelap.

Aku kembali menunduk. “Aku tidak mengerti … apa maksudmu.” Kataku jujur.

“Seperti sekarang, beberapa menit lalu dan selama makan bersama. Kau lebih sering menundukkan kepalamu. Aku ingin tahu kenapa dan kau tidak seperti Eunjoo yang ku kenal dulu.”

Aku diam. Lebih tidak ingin menjawabnya karena sebetulnya aku tak tahu jawabannya. Apa yang mungkin bisa ku jawab dengan pertanyaan ini? Sehun memberiku pertanyaan yang belum pernah ku terima sebelumnya dan ini membebaniku. Bahkan aku baru menyadari betapa aku sering menundukkan kepalaku.

Ku ulas kembali beberapa kejadian yang Sehun sebutkan dan aku memang sering menunduk. Lalu kenapa aku sering menunduk? Aku tidak tahu.

Aku hanya ingin menunduk. Aku tidak senang melihat kecemasan dimata mereka saat melihatku. Aku hanya ingin melakukannya.

“Aku hanya ingin melakukannya.” Jawabku singkat.

Sehun berbelok ke halaman apartemenku dan ia bergumam, “Sepertinya itu bukan jawaban.”

Mobilnya ia hentikan di tempat parkir dan aku segera melepas sabuk pengamanku.

“Sudah sampai, Sehun. Terima kasih tumpangannya.” Kataku mengabaikan ucapan terakhirnya. Aku tidak melihat ke arahnya saat keluar dari mobil dan menutup pintu.

Sehun menurunkan kaca jendela mobilnya dan menatapku, aku tahu aku tak bisa lolos dari tatapannya dan terpaksa aku harus menatapnya saat aku mengucapkan selamat tinggal. Aku melenggang pergi.

Kakiku pegal setelah berjalan cukup lama tadi dan dengan lesu aku melangkah meninggalkan Sehun. Aku tidak mendengar Sehun menderukan mesin mobil dan melaju meninggalkan tempat parkir, tapi yang ku dengar justru mesin mobilnya telah dimatikan. Aku berbalik melihatnya, Sehun keluar dari mobil dan berjalan ke arahku. Aku menatapnya bingung.

Kebingunganku memudar digantikan dengan keterkejutanku yang mengalir ke seluruh tubuh saat Sehun dengan kasar dan pelan menekankan bibirnya yang hangat ke bibirku.

.

.

A/N: Hallo^^ Chapter pertama dari Marquee Reflection diupdate! 😀 selamat membaca, semoga memuaskan dan kasih tahu ya gimana pendapat kalian di chapter pertama ini hihihi maaf ya lagi bulan puasa padahal, tapi bagian akhirnya begitu 😀

Mungkin di chapter pertama ini Jongin belum keluar, ya karena Sehun role-nya cukup banyak di Marquee Reflection, jadi mohon harap sabar karena kemunculan Jongin akan agak lama dan memakan waktu kekeke

Ditunggu like, komen dan feedbacknya ya semuanya, love ya! ❤

Iklan

14 thoughts on “Marquee Reflection – Brand New

  1. Hai Mel,….
    gyaaaa,… >//u<
    Mel,. aku sukaa ini plot twistnya oke banget,..
    eh btw ini udah jaman kapan o.o
    kenapa Minseok udah nikah aja? umur mereka brapaan dsini mel ? ;_;

    • Hai Mel,….
      gyaaaa,.
      tolong,., aku butuh napas buatan gara2 Sehun di bagian akhir asddfghkl
      apa yang kau lakukan nak ,..kk
      dan Yixing,…..
      Kenapa,. oh kenapa aku ketawa tiap dia muncul di chapter ini lol
      ahahaha
      Mel, cukup buat cinta segitiga aja antara sehun-eunjoo-kai,..
      gausah tambah yixing lagi biar gak jadi cinta kotak mereka..
      Aku Layoung shipper garis keras mel,,.. pliss jangan buat yixing lupa kalo dia udah punya Nayoung
      Mel,. aku sukaa ini plot twistnya oke banget,..
      eh btw ini udah jaman kapan o.o
      kenapa Minseok udah nikah aja? umur mereka brapaan dsini mel ?

      • /lempar tabung oksigen ukuran super jumbo/ lol
        kekekeke ada yang nggak bisa move on dari Layong nih ahahaha kita liat aja nanti apakah cerita ini bakal jadi cinta kotak atau nggak lol banget buahahaha

        makasih ya Rin ❤
        eumm, kira-kira mereka umur 25-an gitu, Eunjoo kan officially yang paling tua di EGD akakaka
        Minseok udah nikah dong, kan biar kece 😀
        thank you :* /tebar chanyeol/

      • hmphh/napas/
        okee mel,…
        iyaalahh,,. All hail Layoung /bawa pompom/
        pokoke aku sing dukung nayoung karo lay wes /yes akhirnya bisa bahasa jawa gyaa/
        oh,.. pantes,.. sip deh,, Eunjoo eoni kita semua~
        oiyaa aku lupa,, makasih udah bikin Chanyeol terlihat normal dan kece di fic ini,.. yes, dia pemain basket profesional ceritanya kkkk

      • kekeke
        ceritane sing wes biso jawaan akhire nggone ngomong karo basa jawa XD /hayoloh hahaha

        nah ya tuh, Eunjoo eonni kita wekekek paling tua duh XD
        hahaha kembali kasih ya beb, kayaknya hampir semuanya normal di sini, kecuali Issing yang sok genit itu wkwk iyadong Chanyeol harus keceh 😀 ❤

      • duh mel,.. aku kelabakan bacanya, serius ;_;
        aku harus les lagi ini,. yos! kkk
        Yixing gak genit mel,. dia hanya polos,, dan pelupa kkkk~
        okedehh,…^^

  2. kemaren aku uda janjikan mau ke egd btw ini mey, angelbesidemey ex staff xD yah walau baru terealisasikan. ini pertama kali lo aku baca karya kamu dan you know what lgsung cari profil eunjoo gitu untunglah dia pairnya sehun ahaha lega deh. gatau sih aku langsung suka gtu eunjoo sama sehun drpda si kai, ini ada yg lainnya kah? aku ubek2 lg ya besok uda malen ngntuk, btw nice ff xD

    • hai kak mey 😀
      hihihi makasih ya kak 🙂 wah dia bukan pairingnya Sehun kak, tapi Kai, tapi ya gitu deh ceritanya 😀
      ada kak, lanjutannya pas malam takbiran ya kak alias nanti malem kekekeke
      thank you kak mey, keep stay tune ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s