AB Style : Bitter Sweet Coffee [3rd Taste]

bsc 3 fixx

AB Style by. Hellospringbreeze

Huang Zitao (EXO) & Park Jiyoung (OC) | Romance | 4.820 words

Please read Park Ji Young’s Profile first

Ini begitu sulit bagi seorang Park Ji Young. Ia tak bermaksud membuat Il Soo khawatir, Ji Young hanya ingin Il Soo mengerti.

 

Third Place: Dong Beach

July , 26th 2013 [06.15 AM]

Cheongpyeong-ri, Buksan-myeon, Chuncheon-si, Gangwon-do

————

Kali ini mereka terbangun di pagi hari, menyeruput kopi hangat mereka di bangku taman sambil menikmati alunan musik di telinga. Berbagi earphone ternyata tidaklah buruk.

Suara kicauan burung yang menjadi latar belakang lagu mereka, pemandang Seorak di hadapan mereka, dan bunga-bunga di taman membuat keduanya lupa akan satu hal.

.

.

.

Mereka sedang berlari dari masalah mereka, meski hanya sementara.

Tak seperti biasanya, kali ini mereka punya banyak waktu luang sehingga bisa menikmati pagi mereka. Tao masih sibuk dengan polaroidnya sedangkan Ji Young bergumam mengikuti alunan lagu di telinga sebelah kirinya.

Life makes love look hard

Seketika Ji Young memejamkan matanya lalu sedikit tertawa kecil. Batin Ji Young seolah membenarkan lirik lagu tersebut. Lalu Ji Young menghembuskan napas pelan sambil membuka matanya, seketika itu juga ia mendapati Tao yang tengah tersenyum hangat padanya.

You’ve got that smile that only heaven can make,

I pray to God everyday that you keep that smile

Kalian tahu, Ji Young dan Tao sedari tadi tidak mengucapkan satu kata pun, hanya sekedar bahasa tubuh yang mereka gunakan.

Entah mengapa.

Mereka membiarkan alunan lagu itu memenuhi relung telinga mereka. Meresapi indahnya pagi ini tanpa ingin mengkhawatirkan hari-hari esok. Berikan mereka berdua sedikit waktu untuk bersukaria, sedikit saja.

Tiba-tiba Tao mengacungkan jari telunjuknya ke udara, membuat Ji Young dengan cepat melihat kearah yang di tunjuk Tao. Itu kumpulan burung yang terbang dari sarangnya. Mungkin mereka berdua sama saja seperti burung-burung itu—pergi di pagi buta lalu kembali saat senja. Ji Young hanya tertawa geli melihat seekor burung yang tertinggal kawanan di barisan paling belakang.

Sedangkan Zi Tao…

Dia selalu sibuk dengan kamera polaroidnya, mengabadikan apapun yang menurutnya menarik. Zi Tao akan tersenyum sambil mengibaskan hasil fotonya lalu menunjukannya pada Ji Young. Dan Ji Young selalu tersenyum ceria menanggapinya, menampilkan gigi-gigi putihnya.

Setelah mengosongkan cangkir yang tadinya berisi kopi hitam, Tao menyentuh layar ponselnya lalu memilih sebuah lagu pada daftar playlist­nya.

A Little Piece of Heaven – Avenged Sevenfold.

Sedikit berisik, tapi Ji Young hanya tertawa kecil melihat seorang Zi Tao mulai bergaya seolah-olah ia sedang memankain drum set yang sangat lengkap.

But baby don’t cry,

You had my heart, at least for the most part

Saat lirik ini terlantun di telinga mereka, Zi Tao menoleh ke Ji Young dan membentuk telapak tangannya hingga berbentuk hati, lalu berkata tanpa suara—Saranghae.

.

.

.

Ji Young tersenyum sumbringah.

Ayolah Park Ji Young berhenti besedih! Batin Ji Young terus berkata hal-hal yang sama. Ji Young tak boleh bersedih.

Kemudian Tao memeluk Ji Young gemas, mereka sedikit tertawa geli.

.

.

.

Mereka hanya berusaha menghilangkan rasa getir di hati masing-masing.

——88——-

[09.05 AM]

Saat ini Tao telah menghentikan motor sportnya di sebuah tempat yang tidaklah sepi, tidak pantas untuk di sebut sebagai ‘tempat berkencan’. Tidak, Park Ji Young tidak akan kecewa hanya karna hal-hal seperti ini, yang ada hanya tatapan menelisik setiap penjuru dan sudut tempat ini. Tao tahu Ji Young bukanlah tipe anak perempuan yang suka hal-hal romantis, Tao menggenggam tangan Ji Young lalu mulai melangkahkan kaki untuk beranjak dari tempat mereka.

Tao mengajak Ji Young ke sebuah pasar tradisional di dekat rumah singgah mereka. Makan siang dengan masakan buatan mereka sendiri rasanya akan jadi hal yang baru.

“Kita akan berbelanja untuk makan siang, jadi sebelumnya kita butuh mencatat apa saja yang akan kita beli. Kita akan memasak makanan China,” Tao berkata cepat sambil menyentuh layar ponselnya dan mulai menulis kan beberapa bahan yang akan di belinya pada note ponsel.

“No, I want Thai food of course,” Ji Young balas berkata cepat sambil melipat lengannya di depan dada.

Chinese,” Tao terus sibuk dengan note-nya tanpa menoleh sedikit pun pada Ji Young.

“Thai.”

Chinese.”

“Thai.”

Tao mengurut pelan dahinya, “Baiklah, kita buat dua-duanya,” Tao menoleh pada Ji Young lalu mulai berjalan cepat menuju ahjumma di sudut kiri yang sedang sibuk menjual sayur-mayurnya. Mendengar kalimat Tao barusan Ji Young malah tertawa penuh kemenangan.

Mereka berdua sibuk mengingat bahan-bahan apa saja yang mereka perlukan untuk memasak nanti. Mereka berpisah untuk membeli masing-masing keperluan. Setelah sekitar 30 menit berkeliling pasar yang sebenarnya tidak terlalu luas ini, Ji Young menunggu Tao tepat di sebelah motornya.

“Ya! Kau lama sekali ahjussi,” Ji Young terlihat sudah pegal karena harus menenteng dua kantung penuh bahan-bahan memasak.

Mianhae, aku harus berpikir keras untuk mengingat bahan-bahan apa saja yang aku perlukan. Sekarang sudah selesai?” Ji Young mengangguk mantap. “Tidak ada yang kurang? Kau yakin?”

“Iya cerewet, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.”

Tao kembali mengendarai motornya ke rumah singgah mereka. Sesampainya di sana Ji Young secepat kilat menuruni motor lalu berlari masuk ke dalam rumah.

“Oh ayolah, apa kau bermaksud mencuri start?” Tao bicara cukup keras sekaligus kesal karena dia masih harus mengurus motor besar itu sebelum masuk ke dalam rumah dan memasak.

Entah bagaimana perang ini di mulai.

Mereka berdua menyatakan bahwa mereka harus memasak makanan mereka sendiri tanpa bantuan ahjumma yang juga tinggal dirumah itu, mereka tidak boleh mengintip resep barang sedikit pun, mereka juga tidak boleh mengintip dapur lawan.

Dan lomba memasak pun di mulai.

.

.

.

15 menit berlalu.

Jangan ragukan yeoja berambut hitam ini soal masak-memasak. Setelah mengikat rambutnya cukup tinggi, ia mengeluarkan semua bahan-bahan dari kantung dan mencuci mereka semua. Ia memulainya dengan sangat santai dan teliti—tidak seperti laki-laki yang ada di belakangnya. Laki-laki itu memulai semua ini dengan terdiam sejenak, berusaha mengingat apa yang harus ia lakukan pertama kali kemudian terburu-buru melakukan hal yang ada diotaknya sebelum semua itu menghilang dari pikirannya.

Ji Young yang melihat gelagat aneh Tao sedari tadi, kini menatap Tao dari belakang sambil sedikit tertawa kecil.

“Aku tidak butuh bantuanmu, urusi saja urusanmu sendiri,” Tao yang nampaknya mendengar cekikikan Ji Young malah berlagak jika ia bisa melakukan semuanya seorang diri.

“Baiklah,” Ji Young membalikan badannya mantap lalu kembali sibuk dengan masakanannya, saat itu juga Tao memejamkan matanya—Ayolah Park Ji Young aku sangat butuh bantuanmu disini, batin Tao.

.

.

.

Satu jam sudah berlalu dengan ketenangan yang sangat aneh—menurut ahjumma yang tinggal di rumah itu, karna tak biasanya mereka berdua bisa diam. Tao sudah mengerahkan semua usahanya untuk memasak makan siang kali ini—jangan tanya Ji Young, ia sudah terlalu andal dalam hal memasak.

“Hai ge, aku tunggu di meja makan,” Ji Young membawa masakannya meninggalkan dapur sambil sedikit mengintip masakan Tao.

“Sedikit lagi,” jawab Tao serius sambil menata masakannya di atas piring.

Tak beberapa lama setelah Ji Young duduk menunggu di meja makan, Tao datang dengan senyum sumbringah yang menurut Ji Young cukup mengerikan—terlihat seperti manusia yang bangkit dari kematian, mungkin. Ayolah ini hanya lomba memasak, bukan fear factor.

Panang Gai,” Ji Young menyodorkan masakan berwarna oranye itu kehadapan Tao, asap yang masih mengepul membuat Tao sedikit meneguk ludah, bau kari khas Thailand cukup kuat pada masakan itu. “Dan ini Tab Tim Grob,” Ji Young juga menyodorkan segelas minuman berwana merah terang di hadap Tao, jangan salahkan Tao jika ia lupa akan masakannya yang masih berada di pangkuannya. “Thān h̄ı̂ xr̀xy na,” Ji Young tersenyum bahagia.

“Thān h̄ı̂ xr̀xy na?” Tao mengulangi kata-kata Ji Young yang tak ia mengerti.

“Selamat makan,” Ji Young mengartikan bahasa ibunya lalu Tao mengangguk cepat. Tao mulai mencicipi masakan Ji Young yang tak kalah lezat dari masakan restoran yang pernah Tao kunjungi di Thailand tahun 2012 lalu. Tam Tim Grob, minuman itu membuat Tao kehilangan kata-kata, Ji Young hanya terdiam tak percaya melihat Tao yang sangat menyukai masakannya.

“Lalu masakanmu, ge?” Tanya Ji Young yang masih bertopang dagu mengamati Tao. Tao terdiam lalu melihat masakan yang masih setia berada di pangkuannya.

“Lupakan saja, aku malu,” rasanya Tao ingin membuang piring itu jauh-jauh sebelum Ji Young melihat dan merasakannya. Tapi Tao kalah cepat dengan Ji Young yang sudah berdiri dari tempat duduknya, “Ayolah, aku ingin coba ge,” Ji Young merebut piring itu dengan cepat.

“Aku tidak tanggung dengan rasanya,  Xiā fānqié jiàng,” Tao menyodorkan piringnya lalu membuang muka karena malu.

“Xiā fānqié jiàng?” Ji Young tak mengerti maksud Tao.

“Udang saus tomat,” Tao menjawab seperlunya. Ingin rasanya ia melepar piring itu kebawah meja saat melihat Ji Young mulai mencicipi masakannya. Ji Young terdiam beberapa saat, membuat Tao mengepalkan tangannya karena takut Ji Young berkata yang tidak-tidak.

“Enak, tidak seburuk yang kau kira ge,” Ji Young kemudian menyodorkan sendok penuh udang kedepan mulut Tao. Tao pun membuka mulutnya, ternyata memang tidak terlalu buruk, hanya terlalu manis.

Tao berlari ke meja kecil yang ada di ruang tengah untuk mengambil polaroidnya lalu mengabadikan foto masakan mereka, Ji Young hanya diam, begitulah Tao beberapa hari belakangan, Ji Young bahkan tak tahu untuk apa semua foto itu nantinya.

“Nah ayo kita makan,” Ji Young berkata ceria sambil sedikit tertawa kecil.

Tao tahu, Ji Young sudah terbiasa makan seorang diri karena semua anggota keluarnya yang sibuk. Sedih kerap mendatangi Tao jika mengingat masa kecil Ji Young yang tidaklah melulu manis.

Tidak. Untuk apa bersedih?

Bukankah sekarang ada seorang Zi Tao untuk Ji Young?

——88——-

[03.00 PM]

Mereka berdua sudah mengendarai motor sport itu lagi, berjalan cukup jauh dari rumah singgah mereka dengan tujuan yang—entahlah hanya Tao yang tahu kemana mereka akan pergi. Ji Young menikmati semilir angin yang menyentuh kulit wajahnya, menyesap aroma Tao yang melekat pada jaket kulit yang ia kenakan, Ji Young pasti akan rindu saat-saat mereka seperti ini.

Di sisi bahu jalan terdapat padang bunga juga beberapa rumah penduduk yang saling berjauhan. Jalanan yang sepi membuat Tao tak ragu untuk mengendarai motornya selamban mungkin untuk membiarkan Ji Young menikmati perjalanan yang nampaknya hanya butuh sedikit waktu lagi.

Tao menepi, membuat Ji Young segera turun dari motor. Setelah turun dari motor, Tao malah berjalan cepat meninggalkan Ji Young.

Ya! Kau mau kemana ge?”

“Sebentar aku beli kopi di mesin minuman di ujung jalan, tunggulah sebentar,” Tao menoleh  lalu sedikit berlari kecil ke ujung jalan.

“Bodoh, kenapa tidak bawa motornya saja langsung ke sana, tidak perlu berhenti disini kan,” Ji Young bicara pada dirinya sendiri lalu menghembuskan napas kesal.

Tidak Park Ji Young, Huang Zi Tao itu tidak bodoh, dia hanya sedikit—mungkin sedikit di bawah rata-rata. Oh tentu tidak, Tao sengaja menghentikan motornya disana karena tepat di hadapan Ji Young terdapat padang bunga Candytuft Dwarf Mix, bunga majemuk dengan warna merah muda yang mendominasi mahkotanya.

Seketika itu juga Ji Young tertawa kecil, “Aku tidak sebodoh yang kau kira Meiliji, ini indah bukan?” Tao datang dengan dua kaleng kopi dingin di tangannya sambil tersenyum hangat pada Ji Young.

“Oh ya, terserah saja,” jawab Ji Young ketus, dia hanya tak bisa berkata jujur jika ia sangat senang sekarang.

Tao hanya menampilkan cengirannya lalu memberi sekaleng kopi pada Ji Young dengan cara menempelkan kaleng tersebut ke dahinya, dingin menyapa dahi Ji Young. Menghabiskan sekaleng kopi bukan hal yang sulit bagi Tao, bukan? Ia sudah minum berlusin-lusin kopi seminggu terakhir. Tao sudah hampir menyalakan motornya saat Ji Young berkata, “Bisa kita tetap disini untuk beberapa lama?”

“Tentu,” Jawab Tao santai lalu mengurungkan niatnya untuk segera menyalakan mesin motor.

Namja semampai itu mengeluarkan ponselnya dan kembali berbagi earphone bersama Ji Young. Lagi, mereka membiarkan suara musik memenuhi telinga mereka. Seperti biasa, Tao mengabadikan gambar padang Candytuft Dwarf Mix yang ada di hadapan mereka.

Please forgive me, I can’t stop loving you

Ji Young melirik Tao sedikit saat lagu ini terlantun, Tao yang mendapati Ji Young malah merangkul Ji Young hangat, dan Tao mulai bernyanyi mengikuti alunan lagu. Membuat Ji Young tersipu, sedangkan Tao tersenyum jahil di dalam hatinya. Mereka terlihat seperti anak lulusan sekolah menengah yang baru belajar untuk berkencan, selalu begitu.

Mereka sudah tenggelam menatap hamparan bunga saat sebuah telepon di ponsel Tao menghentikan suara lagu.

Mungkin itu manager hyung, batin Tao.

Mereka berdua menatap heran layar ponsel Tao yang mereka pikir akan menampilkan nama manager EXO atau mungkin salah satu membernya.

Bukan, bukan mereka yang menelpon, tapi—

.

.

Park Il Soo.

Tao segera mencabut earphonenya kemudian berjalan menjauh sebelum menjawab panggilan Il Soo.

Suasananya berubah begitu cepat, tidak terlalu menenangkan, sedikit mencekam malah. Ji Young terdiam, ia dapat merasakan jantungnya berdegup kencang, ia tahu cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. Ji Young sudah hampir meneteskan air matanya saat melihat Tao yang berjarak lima meter darinya. Yeoja ini bisa mendengar Tao yang berkali-kali mengucapkan kata ‘mianhae’ pada kakak laki-lakinya.

Bukan salah Tao jika Ji Young pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Bukan salah Tao jika Ji Young mematikan ponselnya selama beberapa hari belakangan, ia sedang tak ingin di ganggu, oleh siapapun—termasuk Il Soo.

Ini begitu sulit bagi seorang Park Ji Young. Ia tak bermaksud membuat Il Soo khawatir, Ji Young hanya ingin Il Soo mengerti.

“Ayah dan Ibu ingin kau kembali ke Thailand setelah aku menikah. Dan tidak akan mungkin kembali, Kangji. Ingat, Ayah dan Ibu tidak pernah membiarkan kau untuk pergi meninggkalkan mereka lagi. Maaf, aku memang tak banyak membantu.” Il Soo berkata lembut pada Ji Young sambil memeluk adiknya dari belakang, ia tak sanggup melihat mata Ji Young, mata itu pasti sudah berair. Ji Young pergi meninggalkan Thailand karena dirinya, dan harus kembali karna dirinya pula.

Kalimat yang diucapkan Il Soo empat hari yang lalu itu yang membuat Ji Young ingin pergi sejauh mungkin bersama Zi Tao,  membuat Ji Young ingin secepatnya meninggalkan Il Soo, meninggalkan Seoul. Meski tidak selamanya.

Tak lama, Tao datang dengan ekspresi yang belum pernah di tunjukannya pada Ji Young, Ji Young tidak bisa menebak ekspresi apa itu. Kecewa, mungkin.

“Bukan salahku, aku hanya tak ingin di ganggu.”

“Aku tidak menyalahkanmu,” jawab Tao datar, ia kembali mengenakan earphonenya, juga memasangkan salah satunya pada telinga Ji Young.

.

.

.

Suasananya berubah, menyebalkan.

“Baiklah. Kurasa kita perlu kembali secepatnya,” Tao berkata lembut pada Ji Young dan beranjak untuk segera menyiapkan motornya.

“Tidak ge. Aku masih ingin disini. Disini lebih nyaman,” Ji Young menarik lengan Tao sekuat yang ia bisa. “Dua minggu lagi aku akan kembali ke Thailand, setelah Il Soo menikah aku akan pulang ke Thailand,” Ji Young memulai percakapan ini sambil sedikit tertawa masam. Suara Ji Young bergetar akibat menahan tangis.

“Lalu?” jawab Tao santai. Zi Tao sudah tahu ini sejak lama, bahkan sebelum Ji Young mengetahuinya. Tao sudah terlebih dahulu datang kehadapan Il Soo dan tenggelam dalam perbincangan tentang hubungan mereka di sudut sebuah cafe. Ia tahu jika Ji Young akan meninggalkannya ke Thailand bahkan jauh sebelum Ji Young mengetahuinya.

Ini kali pertama Ji Young melihatnya, Zi Tao mengeluarkan sekotak rokok dari dalam saku jaketnya, lalu menyalakan pematik dan mulai menghisap rokok itu. Tao terlihat begitu berbeda, rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, bau kopi yang selalu tercium saat ia berbicara, dan asap rokok yang keluar dari lubang hidungnya. Entah sudah sejak kapan Tao melakukan hal itu, dia terlihat begitu terbiasa dengan rokok.

“Tidak ada, aku hanya ingin memberi tahumu. Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi, kau tahu orang tuaku bukan masalah yang sepele,” Ji Young tertunduk sedih, sebuah perubahan yang sudah terlihat di diri Tao membuat Ji Young merasa bersalah.

“Apa kau takut?” Tao sama sekali tak melirik Ji Young, ia takut ikut menangis jika ia melihat mata Ji Young yang mulai basah.

Ji Young tak menjawab, ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Tao, semakin kuat melingkarkan lengannya pada lengan Tao, dia bahkan tak peduli dengan asap rokok yang terhirup olehnya.

Never plan that one day I’ll be loosing you.

“Aku tak akan menyerah hanya karna orang tuamu.”

“Sudah kubilang, mereka bukan masalah sepele.”

“Lalu? Apa yang harus aku lakukan? Jika aku memang harus ke Thailand untuk melihatmu, tak masalah. Aku hanya ingin kau bisa bersabar Meiliji, aku pasti akan melakukannya.”

Ji Young berusaha menghentikan tangisnya, sedangkan Tao hanya bisa memperbesar volume musik dari playlist agar ia tak mendengar suara tangisan Ji Young.

“Aku mencintaimu, selalu,” Tao menggengam tangan Ji Young erat.

Ji Young menghapus air matanya lalu melepas earphone di telinga kiri Tao, Tao menatap mata Ji Young dalam, mana mungkin ia bisa rela begitu saja mendengar berita kepergian gadisnya. Tapi dengan menampakan ekspresi sedih justru tak akan membuat suasana lebih baik.

Tao tersenyum hangat, kemudian membelai pucuk kepala Ji Young dan merengkuh gadisnya. “Tenang saja, kita pasti bisa melewati semuanya, jangan takut.” Perlahan, Tao berbisik pada Ji Young, “Kau harus kuat meski tanpa diriku, Meiliji. Terkadang dunia berusaha menggoyahkan keyakinanmu, tapi percayalah aku selalu mencintaimu, Park Ji Young.”

Ji Young semakin erat memeluk Tao.

Tes!

Meski hanya setetes, Ji Young tahu Tao juga menangis. Cengeng? Kurasa tidak, kau bahkan akan melakukan hal yang lebih jika ada diposisi mereka, bukan?

——88——-

[04.45 PM]

“Laut!” Mereka berdua berteriak berkeliling pesisir pantai tanpa memeperdulikan orang-orang yang juga sedang bermain di pantai itu. Mereka telah mengganti pakaian mereka sesaat setelah sampai di resort yang akan jadi tempat mereka bermalam kali ini.

Tempat dimana sunset akan terlihat begitu indah, laut.

Ji Young tertegun berkali-kali, mengapa ia tak bisa menebak clue yang di berikan Tao? Ini sungguh mudah bukan?

Mereka sibuk berlari kesana kemari, berteriak riang, dan tertawa lepas sambil bermain air. Angin laut yang kencang seolah membuat mereka untuk terus bergerak tanpa henti, tertawa tanpa henti. Rasa sedih mereka terbayar sudah dengan laut yang begitu indah di hadapan mereka.

.

.

Oh ya, kau tahu mereka bukan?

Mereka tidak mengindahkan tatapan aneh semua pengunjung pantai yang di tujukan pada mereka, Tao tepatnya. Bagaimana tidak, Tao mengenakan celana selutut juga kaos abu-abu polosnya—tidak ada yang salah memang, kecuali masker dan kaca berwarna hitam yang di pakai Tao. Tao memang mengenakannya dengan alasan agar tak ada yang tahu akan identitasnya, tapi itu terlihat aneh bukan? Kaca mata dan masker itu hampir menutupi seluruh wajahnya.

——88——-

[05.32 PM]

Setelah lelah bermain air, mereka duduk di tepi pantai, sudah banyak pengunjung yang pergi meninggalkan pantai, tapi tak sedikit dari mereka yang sudah membuat api unggun dan duduk berkeliling bersama keluarga atau teman-teman mereka. Tao memang sengaja mencari tempat yang sedikit jauh dari orang-orang, karna ia berniat untuk melepas maskernya. Tao dan Ji Young membiarkan ombak bermain di kaki mereka sambil menatap beberapa burung camar yang terbang beriringan di atas langit oranye mereka. Mereka sedang menunggu sunset.

Tao dan Ji Young kembali mengenakan earphone mereka, berusaha memanfaatkan semua waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin.

“Meiliji, jika memang mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama, aku hanya ingin kau tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kau gadis yang paling cantik yang pernah aku temui.”

“Bohong, kau kira itu romantis? Aku tahu aku bahkan tak secantik artis-artis korea yang biasanya bercengkrama denganmu di belakang panggung.”

“Aku tidak bohong. Ya, aku akui mereka memang cantik, tapi aku tetap lebih memilih kau di banding mereka.”

“Karena kau tahu kalau kau pasti akan di tolak jika menyatakan perasaan pada mereka. Oh ayolah, bisakah kita sedikit lebih serius?”

“Aku sangat serius, Meiliji.”

“Lalu? Itu saja yang akan kau katakan, ge? Wow, aku terkesan,” sambung Ji Young dengan nada yang sangat datar.

Tao terdiam untuk waktu yang cukup lama, “Aku ingin suatu saat kau bisa menontonku diatas panggung, menemaniku pergi shooting, ikut bersamaku untuk pergi bersama ke beberapa negara untuk promosi, pergi ke Qiangdao untuk bertemu orang tuaku, tinggal di suatu tempat yang hanya ada kita berdua. Aku ingin suatu saat kau akan selalu di sampingku, dan tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita.”

They’ll judge like they know about me and you,

Kedua orang tua Ji Young mengambil keputusan tanpa tahu apa yang Ji Young rasakan. Kejam.

“Maksudmu kita akan menikah?” Ji Young tertawa dengan tawa yang di buat-buat. “Itu lucu.”

“Meiliji, aku tahu itu terdengar sangat aneh—” Tao berekspresi cukup sedih karena Ji Young yang terus-terusan mengalihkan pembicaraan.

Ji Young tertawa, tawanya terlalu di buat-buat seolah ia ingin Tao segera menghentikan pembicaraan ini. “Aku mencintaimu,” Tao tak ada bosannya mengatakan hal itu hari ini, hanya saja kali ini nadanya terdengar lebih lelah.

Ji Young terdiam, kemudian memeluk Tao, “Aku ingin suatu saat aku terbangun di pagi hari dengan kau yang masih mendekapku, melihat beberapa anak kecil berlari berkeliling rumah kita, menyanyikan lagu selamat tidur untuk anak-anak itu, memberikan kecupan selamat malam untuk mereka, melihat mereka tumbuh dewasa dan—”

Ji young terdiam untuk beberapa saat, tidak dia bukan sedang berpikir. Baju Tao basah, Ji Young menangis, Tao semakin erat memeluk Ji Young. Tao mendengar dengan jelas isakan tangis Ji Young.

Mereka belum sampai satu tahun bersama, tapi sudah harus berpisah.

Terlalu dini memang untuk membicarakan perihal pernikahan, tapi kejadian ini justru membuat mereka semakin tak ingin kehilangan satu sama lain.

“Sudah kubilang, kita pasti bisa melewati semua ini, berhentilah menangis Meiliji, itu tidak baik. Kau harus terus bahagia selama masih bersamaku, waktu kita tinggal satu hari, jadi tidak ada lagi air mata. Otte?

Ji Young melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya, Tao menghapus beberapa butir air mata yang masih jatuh, “Matamu bengkak, Il Soo pasti akan membunuhku karena terus-terusan membuat adik kesayangannya menangis.”

Ji Young terkekeh, “Lihat!” dengan sangat tiba-tiba Ji Young menunjuk garis horison yang sudah setengah hitam dengan sebagian dari matahari yang bersinar begitu terang, sunset.

Tao merangkul gadisnya, “Sunset kita sudah datang, Meiliji.” Tao tersenyum penuh semangat dan kembali mengabadikan sunset mereka dengan kamera polaroid yang ada di tangan kirinya. Mereka terdiam beberapa saat sambil memandangi sunset itu, mengitung beberapa menit sebelum matahari itu benar-benar tenggelam dan cahaya hilang sekejap kedipan mata.

Ji Young menghela napas panjang saat keadaan sudah berubah gelap, pikirannya tertuju pada Thailand, negeri yang tak lama lagi akan jadi tempat tinggalnya kembali. Sunyi menyapa telinga mereka, hanya ada beberapa gemerisik bunyi daun yang tertiup angin laut. Orang-orang sudah kembali ke resort mereka untuk makan malam, hanya ada Tao dan Ji Young disini. Tao menggenggam erat tangan gadisnya.

Tao menarik dagu Ji Young pelan agar gadis itu menatapanya, “Jangan takut, karena aku mencintaimu Park Ji Young. Aku mencintaimu Baymong Wanjun, gadis Thailandku.” Ji Young terperangkap hitamnya mata Tao.

Tao mendekatkan wajahnya dengan wajah Ji Young, membuat Ji Young terpejam karna ia takut, ia takut melihat mata Tao dari jarak yang begitu dekat. Ji Young lupa bagaimana itu bisa terjadi, yang ia ingat hanyalah—Tao bernapas tepat di atas wajah Ji Young, membuat jantung Ji Young berdegup berkali-kali lipat dari biasanya, tak lama bibir Tao jatuh tepat di atas bibirnya. Ciuman rasa kopi, ada sedikit bau rokok yang bisa Ji Young hirup dari jarak yang begitu dekat ini. Tao perlahan mengelus pipi Ji Young yang hanya bisa mengepalkan tangannya karna tak mengerti harus berbuat apa. Tao begitu mengahayati ciuman ini, mungkin bisa dibilang ciuman perpisahan. Ji Young diam tak berani membalas, ia hanya sibuk dengan detak jantungnya. Namun saat Tao mulai memegang pelan tengkuk Ji Young, gadisnya balas memagut bibir Tao.

Itu manis.

Tao melepas ciuman mereka, lalu mencium pucuk kepala Ji Young untuk menetralisir detak jantung berlebihan yang Ji Young rasakan. Tao tersenyum malu, entah mengapa dia merasa begitu bahagia setelah melakukannya. Tapi Tao kaget bukan kepalang mendapati Ji Young malah berkaca-kaca setelah ciuman pertama mereka. Tao tak dapat berkata-kata, ia takut jika Ji Young akan membencinya setelah ini, mungkin Ji Young tidak suka hal ini.

“Waktuku tinggal dua minggu dan kau benar-benar membuatku semakin tak ingin meninggalkanmu, Huang Zi Tao.”

Ji Young lalu terkekeh kecil, Tao tak berkata apapun ia hanya mengecup mata Ji Young hangat sampai air mata itu berhenti mengalir. Ternyata Ji Young juga senang dengan ciuman pertama mereka.

“Aku akan menciumu berkali-kali jika kau tak menghentikan tangisan itu, Park Ji Young.”

——88——

Setelah makan malam, mereka kembali menuju pantai dengan angin yang semakin kencang berhembus. Tao membawa dua lampion besar ditangannya, “Nah ayo kita tulis harapan,” Tao berkata riang sambil memberikan satu spidol besar pada Ji Young.

Tak beberapa lama, mereka sibuk dengan tulisan mereka masing-masing pada lampion berwarna oranye itu. Seperti yang mereka lakukan dengan kertas permohonan di kuil sebelumnya, mereka menulisnya dengan bahasa ibu masing-masing. “Selesai!” teriak Ji Young sambil mengangkat nya yang bertuliskan, Ca mị̀ pl̀xy h̄ı̂ c̄hạn xxk cāk h̄mī phænd̂ā k̄hī̂ ngæ nī̂ ngò h̄ı̂ c̄hạn yạng khng xyū̀ kạb k̄heā mæ̂ẁā ca yāk tæ̀ mị̀ pĕn pị mị̀ dị̂ tæ̀ c̄hạn ca ld lng pĕn khrậng ræk C̄hạn rạk k̄heā tlxd pị.

Tao yang tak mau kalah pun segera menyelesaikan tulisannya, membuat lengkap sudah yang bertuliskan beberapa kalimat dengan bahasa Ibunya, “Tak akan kubiarkan kau tahu apa yang kutulis gadis kecil,” Tao tertawa menjengkelkan sambil berkacak pinggang.

“Oh ya aku tidak perlu tahu apa yang kau tulis tuan, lagi pula lampionku penuh dengan kutukan untukmu,” Jawab Ji Young sambil menunjuk Tao.

Tao menampilkan ekspresi menjengkelkan dengan membutar bola matanya dengan mulut mencibir. Tak lama, ia mulai menyalakan api agar lampion itu dapat segera terbang, tak lupa ia mengabadikan dua lampion oranye itu dengan kamera polaroidnya.

One, two, three!” Mereka melepas lampion itu ke udara, membuatnya terbang tinggi di tengah gelapnya langit Dong Beach. Entah apa yang membuat mereka berteriak girang setengah mati saat melihat lampion itu terbang semakin jauh ke atas langit. Mereka bertepuk tangan sambil terus melompat seakan ingin menggapai lampion itu, belum lagi mereka berteriak dengan penuh kecerian, beruntung pantai sudah sangat sepi saat itu. Setelah lampion itu terbang cukup jauh, mereka melambaikan tangan mereka, “Bye, semoga harapan kami terkabul,” Ji Young melambai cepat pada lampion-lampion besar yang sudah jauh itu, mereka terlihat seperti setitik cahaya sekarang.

Kajja!” Tao memberikan jaketnya pada Ji Young lalu mereka berlari masuk kedalam resort mereka. Mereka sampai di kamar Ji Young terlebih dahulu.

“Baiklah, tidur yang nyenyak anak manis, karna perjalanan kita besok akan sangat panjang,” Tao mencium dahi Ji Young cepat, kemudian berniat memutar badannya dan segera meninggalkan kamar Ji Young.

“Tunggu,” Tao merasakan tangan Ji Young yang menahan tubuhnya, “Bisakah malam ini kita tidur berdua saja?” Ji Young tertunduk saat mengatakannya—entahlah, malu mungkin.

Tao butuh beberapa detik untuk mengerti apa yang Ji Young ingin kan, “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang macam-macam, aku hanya ingin,” Ji Young sepertinya tahu apa yang Tao khawatirkan.

“Aku mengerti,” Tao menepuk kepala Ji Young, “Bagiku tak masalah.”

Ji Young baru berani mengangkat kepalanya setelah terus menunduk karna takut jika Tao akan menolak permintaannya dan menganggap Ji Young aneh.

Ji Young tak bermaksud melakukan sesuatu yang lebih, ia hanya ingin menikmati malam terakhir dari kencan gila mereka dengan sesuatu yang spesial. Hari sudah cukup malam saat itu, belum lagi mereka harus berangkat lebih pagi dari biasanya untuk sampai di Seoul tepat waktu, jadi mereka memutuskan untuk segera pergi tidur.

Ji Young sudah terlebih dahulu berbaring di tempat tidurnya, di susul dengan Tao yang mulai membaringkan tubuhnya di samping kanan Ji Young. Ji Young segera mematikan lampu kamar, lalu menyalakan lampu temaram yang akan menemani tidur mereka.

Untuk beberapa saat tidak ada suara yang terdengar kecuali suara deburan ombak yang semakin kuat dari jendela kamar yang sengaja dibuka begitu saja. Mereka berdua sama-sama tahu belum ada yang terlelap, hanya saja mereka tidak punya cukup nyali untuk mengatakan sesuatu.

Let it go. Mungkin malam ini akan jadi malam terpanjang untuk mereka.

Ji Young mengerutkan dahinya, ia tak akan bisa tidur jika keadaanya terus seperti ini. Dan malam ini akan jadi percuma jika mereka berdua hanya saling memunggungi seperti sekarang. Ji Young sempat beberapa kali mengurungkan niatnya, namun dengan sangat tiba-tiba Ji Young membalikan badannya.

.

.

.

Di luar dugaan Ji Young, Tao malah tersenyum hangat, “Aku menunggu cukup lama sampai akhirnya kau membalikan badanmu,” ujar Tao senang.

Ji Young balas tersenyum malu, “Gomawo, untuk semuanya. Terima kasih untuk tujuh bulan yang indah, terutama dua hari yang sudah membuatku gila ini. Kecan gila ini sungguh menyenangkan, ge. Terima sudah membawaku ke tempat seindah dan setenang Seorak, terimakasih sudah membawaku untuk berdoa bersama di  kuil, belum lagi menginap di rumah dengan taman yang indah itu sangat berkesan, memasak bersama, bermain air di pantai, menulis banyak harap di lampion, dan malam yang indah ini. Aku sangat menikmati semua ini, gomawo,” Ji Young mencubit pipi Tao gemas.

Tao terdiam beberapa saat, kemudian memeluk Ji Young erat, hatinya sakit mendengar perkataan Ji Young. Itu ucapan selamat tinggal, Tao tahu itu.

I miss you already, why you just keep trying to say goodbye?

Tao semakin memepererat pelukannya, menyesap perpaduan aroma mawar dan bunga osmanthus yang selalu melekat pada tubuhnya, menyisipkan jarinya kesela-sela rambut halus milik Ji Young, kemudian mencium pipi Ji Young cukup lama. Ji Young hanya diam saat itu.

Tao mencintai Ji Young, dan akan selalu begitu.

Saat Tao melepaskan pelukannya, Ji Young tersenyum hangat menampilkan gigi-gigi putihnya, dengan sinar yang temaram Ji Young masih bisa melihat wajah Tao, matanya berair. Semua orang tahu betapa sensitivenya Huang Zi Tao. Tapi Ji Young malah menyandarkan kepalanya di bahu Tao, “Aku sangat mencintaimu,” ujarnya Ji Young tanpa bosan.

Tao melirik ke arah Ji Young yang masih betah bersandar di bahunya. Rasanya ia benar-benar hanyut dalam momen romantis di antara mereka. Merekam setiap detiknya seakan hari esok tak akan pernah mengulang hal yang sama. “Kau harus kuat Park Ji Young,” Tao tersenyum menahan tangis.

“Aku selalu kuat, tapi bersamamu aku lebih kuat ge.”

BSC 3 a

Dear God, the only thing I ask of you is to hold her when I’m not around, when I’m much too far away.

Iklan

9 thoughts on “AB Style : Bitter Sweet Coffee [3rd Taste]

  1. hello barbie~
    ga rela tao pisah sama jiyoung, jangan pisah. kalau pisah tao sama siapa? kalau direbut nenek lampir menyebalkan berinisial j gimana *seret-tao *kecup
    tapi aku senang karena setidaknya bibir tao sudah jatuh tepat di atas bibir jiyoung, MUAHAHAHAHA! sampai situ saja kah? ah kurasa tidak mungkin~ eyy~ tao kan yummy!
    yah setidaknya kita sudah berusaha keras untuk menyampaikan apa yg ada dalam imajinasi kita tentang anak2 exo. sekalipun ada yang merasa tulisannya kaya tahu pong, yang penting kita sudah mengeluarkan semuanya dan sebisanya. kita udah mencoba dan itu bagus kan. ga ada orang sukses yg langsung sukses, burung bahkan pernah berkali2 gagal buat bisa terbang. apa ini…
    semangat ka cha si barbie kekasih aliando!

    tertanda
    yang dirindukan hwang zitao *Smirk

    • hallo qaqa cantik~~~
      hmm pisah ga ya 😦 tapi twitternya jiji lcationnya udah di bangkok aja tuh ;__; hahaha nenek itu muncul di tengah manisnya hubungan mereka heh! wakakak iya aku nulisnya ati ati banget supaya ga merembet ke hal-hal yang ‘kita banget’ wakakak. iya tao kan TASTY!

      hihihihi iya, susah memang, apalagi akhir-akhir ini. tanganku ga secabe dulu yang bawaannya mau ngetik aja. tapi ga papa lah as long as i have all of you girls eleeeeee ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s