DaeHee: The Marriage

The Marriage 1#

The Marriage

Kim Jongdae & Shin Eunhee – PG 17 – romance

Saat cinta sudah menjalar ke seluruh tubuh keduanya, bukankah pernikahan tak terlalu tabu untuk dibicarakan?

“Aku akan menikah”

Perkataan itu terlontar begitu saja dari mulut gadis dengan rambut terurai sebahu. Sinar matanya memancarkan kesungguhan jika ia tidak sedang bercanda, dan yang pasti bahagia. Seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah lotere yang diperebutkan oleh seluruh dunia. Hingga semua itu membuat lawan bicara yang tengah meminum secangkir earl grey tea tersedak. Tidak menyangka jika kata yang ia dengar dari sahabatnya itu adalah sebuah kata pernikahan.

Mata membulat Eunhee membuat Mi Ri jengah. Apa segitu mengejutkannya jika ia menikah? Toh usia mereka sudah cukup matang. Dua puluh lima tahun bagi seorang perempuan bukanlah usia yang dini untuk membina rumah tangga. Mi Ri mengeluarkan sebuah undangan berwarna emas dari tas tangannya. Menyerahkannya pada Eunhee yang masih mematung karena terkejut.

“Itu bukti kalau kali ini bukan sebuah lelucon di bulan April lagi.”

Tepat tiga tahun lalu, tepat di bulan yang sama, Mi Ri berhasil membuat Eunhee gelagapan datang ke kediamannya dengan penampilan serba putih dan terlihat sedikit berantakan. Pertanda jika gadis itu terburu-buru mengenakannya. Ia mati-matian menertawakan kekesalan Eunhee yang mau saja dibodohi olehnya. Ayolah, mereka saat itu tengah disibukkan dengan ujian akhir dan skripsi yang membutakan seluruh keadaan. Mana mungkin bisa gadis itu percaya mentah-mentah saat ia berkata ia akan menikah saat itu juga. Mi Ri tertawa geli mengingat ia waktu itu bahkan masih tidak punya pasangan.

“Bisa jadi kau begitu niat mengerjaiku lagi sampai repot-repot membuat undangan segala,” dengus Eunhee.

Mi Ri hanya menghela nafas. Mengendikkan dagu menyuruh sahabatnya itu untuk membuka undangan dan melihat kebenarannya. Tanpa perlu disuruh dua kali, Eunhee akhirnya menyibak isi dari undangan itu. Melihat dua nama yang tidaklah asing di mata, membuatnya kembali merasa ini bukanlah dunia nyata.

“Yoo Seungwoo? Kau menikah dengan Seungwoo?”

Mi Ri mengangguk mantap. Tidak ada yang salah bukan? Sementara Eunhee dirasa Mi Ri sedikit berlebihan membulatkan kedua mulut dan matanya pada waktu yang bersamaan. Oh ayolah! Gadis ini tak jauh beda usia dengannya, mengapa masih terlihat kekanakan saja?

Ya! Kau bilang Seungwoo?! Bukankah kalian sudah− Oh jangan bilang ada satu cerita yang kulewatkan!”

Mi Ri hanya terkekeh singkat dengan nada meminta maaf. Eunhee menghela nafas pasrah, sudah tahu jika sebenarnya bukan hanya satu cerita, tetapi ada banyak cerita yang tidak ia ketahui dari Mi Ri. Terutama soal hubungan gadis itu dengan Seungwoo, sahabatnya yang kini benar-benar menenggelamkan diri berkarya di musik klasik. Setahu Eunhee, cerita terakhir yang ia dengar, Mi Ri dan Seungwoo memutuskan untuk berpisah. Hal itu bahkan membuat gadis itu rela pindah mengikuti orangtuanya menetap di Amerika.

“Kau berhutang banyak cerita padaku, Nyonya Yoo.”

Mi Ri menatap Eunhee dengan muka bersemu, “Pernikahanku baru seminggu lagi, sekarang aku masih gadis bermarga Shin. Sama sepertimu bodoh!”

Eunhee menampilkan seringai menggodanya, “Benarkah? Tapi tanda-tanda merah di bahu mu itu karena apa? Digigit nyamuk?”

Mi Ri merasa ingin pergi secepatnya dari kafe ini sekarang. Mukanya memerah padam dan ia tidak tahu bagaimana cara menyembunyikannya. Mi Ri mengutuk dirinya kenapa ia begitu ceroboh melewatkan proses penyamaran tanda-tanda kepemilikan lelaki itu di tubuhnya. Ia begitu bahagia menerima cetakan undangan pernikahan mereka sudah selesai dan tak sabar mengabarkannya pada Eunhee sebagai orang pertama yang harus tahu tentang ini. Lain kali Mi Ri akan menuntut balas dendam pada Seungwoo karena sudah membuatnya malu begini.

Ya! Berhenti tertawa bodoh!”

Pada akhirnya hanya kalimat seperti itulah yang Eunhee dengar. Persis sama selama sepuluh tahun ia mengenal Mi Ri. Gadis itu hanya akan memakinya jika sudah salah tingkah. Eunhee senang karena lagi-lagi ia selalu bisa menggoda sahabatnya itu. Di sisi lain, Mi Ri sudah tak tahan dengan mukanya yang terus memanas. Tawa dari mulut Eunhee tak kunjung berhenti dan ia harus secepatnya memikirkan cara untuk membalas gadis itu.

“Kau sendiri kapan menikah?”

Berhasil Mi Ri! Eunhee akhirnya terdiam dan berhenti tertawa. Tapi wajah gadis itu mengapa tampak berbeda?

Setelah mengabari Jongdae untuk mampir ke apartemennya, Eunhee bergegas menyiapkan semuanya. Ia berencana untuk makan malam bersama kekasihnya itu dan memberitahu kabar penting yang baru tadi siang ia terima. Sedikit bimbang pada awalnya, Eunhee mencoba menepis segala pikiran buruk dan melanjutkan pekerjaan membuat menu makan malam. Baru lima menit ia menyelesaikan masakannya, beranjak mencuci segala peralatan masak yang tadi ia gunakan, Eunhee bisa merasakan seseorang memeluknya erat dari belakang sambil menciumi pundak dan ceruk lehernya.

Eunhee tersenyum sejenak, “Kau datang?”

Hmm,” balas Jongdae yang masih meneruskan aksinya.

Kali ini lelaki itu menggigit telinga Eunhee dan dengan cepat mengalihkan lumatannya ke leher gadis itu. Membuat Eunhee perlahan menengadahkan kepalanya ke atas walaupun tangan gadis itu berusaha melepas rengkuhan erat Jongdae yang membelenggunya.

“Kita makan malam−− dulu,” desah Eunhee. Ia berusaha sekuat tenaga mengucapkannya agar Jongdae sadar jika mereka belum menyentuh sama sekali makanan yang tadi ia buat.

“Aku tidak lapar,” balas Jongdae cepat, secepat ia membalikkan tubuh Eunhee dan melumat penuh bibir kekasihnya. Sesekali memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mengisi pasokan udara untuk gadisnya yang tampak kewalahan melayaninya. Tanpa pikir panjang, Jongdae segera membawa Eunhee menuju tempat yang lebih privat untuk mereka berdua.

Ini salah. Seharusnya hanya butuh waktu lima menit paling lama untuk mengatakan apa yang ingin gadis itu katakan. Tapi nyatanya Jongdae berhasil mengulur waktu hingga tengah malam tiba. Eunhee bahkan tak diberi waktu untuk merapikan meja makan, bisa gadis itu tebak seberapa dinginnya masakan yang tadi ia masak.

Eunhee tidak mengharapkan hal seperti ini terjadi sebelumnya. Tapi apalah daya, laki-laki ini sungguh selalu berhasil membuatnya tak berkutik seketika. Ia hanya bisa menggeliatkan diri menerima sentuhan yang membuat matanya bahkan hanya bisa setengah terbuka. Sisanya tertutup rapat dan semakin rapat ketika gejolak itu sudah tak tertahankan. Belum lagi dengan perutnya yang serasa dihinggapi ribuan kupu-kupu, dan jangan lupakan suara-suara memalukan yang ia harap cukup hanya didengar oleh mereka berdua. Eunhee hanya bisa meminta kekuatan dari cengkraman erat di pinggiran selimut yang ada di bawahnya.

Keduanya kini tengah memulihkan diri dari sisa-sisa kenikmatan yang menggerogoti tubuh mereka. Jongdae menyusut bekas-bekas ciuman bar-barnya di mulut Eunhee lalu mengecupnya singkat. Mengucapkan terima kasih dan mengelus bulir keringat yang membanjiri wajah gadisnya. Perlahan, dengan kekuatan menahan diri untuk tidak berbuat kembali, Jongdae memisahkan tubuh mereka dan beralih berbaring di sisi Eunhee. Memeluk gadis itu posesif sembari menarik selimut agar menyamarkan tubuh mereka.

“Tidurlah. Aku tahu kau lelah.”

Jongdae mengusap rambut Eunhee, membenarkannya. Sementara Eunhee hanya mendengus pelan, “Kau pikir karena siapa aku kelelahan?”

“Salah sendiri kenapa terlalu menggoda.”

Eunhee tak menjawab. Ia tidak mungkin mendebat laki-laki itu soal penampilannya. Laki-laki itu saja yang terlalu susah mengontrol nafsu lahirnya. Bagaimana bisa hanya dengan memakai baju dengan ukuran besar dan sebuah hotpants membuatnya tampil menggoda? Ia bahkan selalu berusaha membeli baju yang masih dianggap manusiawi dalam hal kesopanan. Dasar kekasihnya itu saja yang kelewat mesum.

“Aku hanya memintamu datang untuk makan malam bersama, bukan malah memakanku,” sungut Eunhee dan Jongdae hanya tertawa kecil setelahnya.

Jongdae masih asik menghirup aroma citrus favoritnya di potongan leher Eunhee ketika gadis itu memanggilnya, “Ada yang ingin kukatakan,” lanjut gadis itu. Maka Jongdae hanya bergumam pelan untuk menanggapi.

“Mi Ri menikah minggu depan.”

Tidak ada jawaban dari Jongdae setelahnya. Laki-laki itu bahkan berhenti melakukan kebiasaannya ketika bersama dirinya. Eunhee bisa merasakan jika pelukan laki-laki itu tak seerat sebelumnya. Gadis itu mencoba menepis pikirannya dan memilih fokus untuk melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

“Ia menikah dengan Seungwoo. Si bodoh itu akhirnya bisa meyakinkan Mi Ri. Dan aku ingin kau menemaniku ke pesta pernikahan mereka. Kau mau kan?”

Eunhee sebenarnya sudah bisa membayangkan apa reaksi laki-laki di belakangnya ketika ia meminta hal ini. Tapi gadis itu mencoba untuk melupakannya dan berpikiran mungkin saja kali ini berbeda hasilnya. Eunhee berharap setidaknya kali ini saja, ia ingin menghadiri pernikahan kedua sahabatnya dengan Jongdae berada di sisinya. Menggandengnya dan berbagi canda tawa di pesta yang bahagia dan pasti meriah.

“Tapi minggu depan aku−“

“Tak apa. Aku sudah tahu kau pasti tak bisa. Aku akan menghubungi Baekhyun dan kami berangkat bersama.”

Rahang Jongdae mengeras, “Tidak! Tidak bersama Baekhyun atau kau tidak pergi sama sekali!”

Eunhee meringis, merapatkan selimut yang menutupi hingga bagian dadanya, “Lalu kau pikir aku harus pergi sendirian di pesta pernikahan sahabatku? Sementara mereka tahu jika aku punya kekasih yang harusnya bisa mendampingiku? Kau bercanda!”

Jongdae hanya diam, sementara Eunhee mencoba menahan segala emosinya agar tidak tumpah ruah begitu saja. Ia benar-benar lelah. Maka itu Eunhee memutuskan bangkit dari tidur sembari masih memegang teguh selimut yang menyelubungi tubuhnya. Gadis itu memilih memunggungi Jongdae yang tak ubah beranjak dari tempatnya semula.

“Bisakah kau pulang sekarang? Atau tidurlah. Kau bisa temukan aku di kamar satunya. Aku hanya ingin tidur sendirian malam ini.”

Eunhee beranjak. Memunguti pakaiannya dan melangkah pelan keluar dari kamar, meninggalkan Jongdae sendirian di dalam sana. Setelah menutup dan mengunci kamar yang bersebelahan dengan kamar barusan, ia menghempaskan diri pada ranjang dan menangis dalam diam.

Malam ini sepertinya memang ditakdirkan menjadi malam yang tidak Eunhee harapkan.

Hari ini Eunhee berbaik hati mengenyampingkan tumpukan pekerjaannya di restoran dan menyerahkan segala urusan pada anak buahnya. Ia melakukan itu semua demi menemani Mi Ri yang akan melakukan fitting terakhir gaun pengantinnya. Walaupun di telepon satu jam yang lalu Eunhee hampir mual ketika mendengar alasan mengapa gadis itu tak ingin Seungwoo menemaninya. Hanya demi sebuah tujuan mengejutkan laki-laki itu di hari pernikahan.

Di perjalanan mereka Mi Ri akhirnya bercerita kepingan-kepingan kisah cintanya yang belum sempat Eunhee dengar. Bagaimana gadis itu kembali ke pelukan Seungwoo dengan segala penjelasan dan keyakinan yang berhasil  Seungwoo berikan padanya. Sampai akhirnya suatu malam Mi Ri merelakan semua yang ia punya demi Seungwoo, membagi perasaan jika ia juga bersungguh-sungguh mencintai pria itu. Eunhee gigit jari ketika mendengar bagaimana Seungwoo melamar sahabatnya itu tepat di saat hari jadi mereka. Hanya berbekal makan malam dan sebuah pesta lampion di langit yang menjadi latar acara penyampaian kehendak Seungwoo untuk meminang sahabatnya.

Mi Ri jelas bahagia. Bagi seorang wanita, pernikahan, mengenakan gaun pengantin putih yang elegan dan riasan tipis pada wajah benar-benar menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya. Karena tahapan inilah yang menjadi pintu kebahagian lainnya senantiasa datang. Eunhee menatap sahabatnya yang sibuk membolak-balikkan tubuh memeriksa gaun yang menjadi pilihannya. Gaun dengan model ballgown berbahan satin yang didominasi warna ivory dan silver, nampak begitu elegan dengan taburan kristal sebagai hiasan.

Eunhee benar-benar iri melihat ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah sahabatnya itu.

“Menurutmu bagaimana Eunhee?”

Eunhee tersadar saat Mi Ri memanggilnya meminta pendapat. Wajahnya seketika langsung berubah ceria, menampik segala gundah yang mulai menggerus hatinya.

“Tentu saja bagus. Hanya saja−“

Senyum Mi Ri yang awalnya mengembang saat mendengar pujian dari Eunhee lantas memudar ketika ia mendengar kalimat gantung dari Eunhee. Gadis itu cemas jika saja ada yang tidak pantas dari yang ia kenakan sekarang. Mi Ri benar-benar merasa jika inilah gaunnya, gaun yang akan dikenakannya di hari paling sakral dalam hidupnya. Mi Ri berharap Eunhee tidak menyuruhnya mengganti gaun ini dengan gaun yang lain.

Err, kurasa kau perlu sedikit diet sekarang. Lekukan lemakmu terlihat jelas di mataku Mi Ri-ya.”

Selanjutnya tawa Eunhee meledak dan gadis itu dengan gesit mengelak dari lemparan buket bunga kecil yang sedari tadi Mi Ri pegang. Eunhee meminta ampun, minta dilepaskan dari Mi Ri yang mulai bertindak bar-bar.

Arraseo, mianhae. Kau cantik kok,” puji Eunhee tulus. Kali ini ia tidak berbohong atau mencoba menggoda. Mi Ri memang benar-benar memukau dengan gaun yang ia kenakan.

Cih dasar kau ini. Aku hampir frustasi kalau sampai tidak jadi mengenakan gaun ini. Pokoknya aku baru memaafkanmu kalau kau membayar setengah harga gaun ini,” jawab Mi Ri sambil lalu. Gadis itu berhasil membuat Eunhee terhenyak dan membulatkan kedua bola matanya.

Ya ini namanya perampokan!”

Mi Ri hanya tertawa menanggapi teriakan sahabatnya. Seketika sebuah ide cemerlang kembali muncul di benaknya.

“Eunhee-ya,” panggil Mi Ri.

Eunhee menyadari gelagat aneh yang dipancarkan sahabatnya itu, ia sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi padanya. Sedikit takut gadis itu menanggapi dengan gumaman ya kepada Mi Ri.

“Kemari dan menurut padaku atau foto kissmark di lehermu akan kukirim ke Gwangchul oppa sekarang!”

Ya Shin Mi Ri!”

Eunhee benar-benar mengutuk Baekhyun yang bisa-bisanya telat bangun di hari penting seperti ini. Disinilah ia sekarang menunggu laki-laki itu datang sembari duduk menikmati kopi di lobby apartemennya. Eunhee menghela nafas ketika mengingat kenyataan Baekhyun lah yang menemaninya. Ia tidak punya pilihan lain selain Baekhyun, toh laki-laki itu langsung menyanggupinya begitu saja. Jongdae? Jangan ditanya lagi. Bahkan kekasihnya itu sama sekali tidak menghubunginya sejak kejadian beberapa malam yang lalu, dan Eunhee tidak berniat sama sekali untuk menyapa lebih dulu. Entahlah, rasanya benar-benar malas untuk kembali berdebat atau mungkin saja kembali terluka.

Gadis itu tidak pernah mendapatkan jawaban pasti kenapa Jongdae selalu mengelak jika berbicara soal pernikahan. Bahkan laki-laki itu enggan untuk sekedar menemaninya atau menghadiri acara pernikahan relasi mereka. Banyak pertanyaan dan rasa penasaran berputar di benaknya, tapi tak ada satupun yang bisa ia pecahkan. Selama ini Eunhee bahkan hanya diam dan tidak sekalipun memberanikan diri untuk bertanya mengapa. Mungkin sekarang adalah puncak rasa lelahnya, ia benar-benar tidak mengerti dan memilih untuk menghindar hingga Jongdae datang untuk menjelaskannya sendiri.

Sibuk berkutat dengan berbagai pikirannya, gadis itu bahkan tidak menyadari jika seorang laki-laki dengan tuxedo hitam yang ia kenakan tengah menghadang di depannya. Menunggu gadis itu sadar akan kehadirannya.

“Jam berapa lagi kau mau berangkat?”

Suara itu tidaklah asing di telinga Eunhee, sedikit terkejut karena ia begitu kenal dengan suara barusan. Tapi bukan pemilik suara itu yang ia harapkan datang. Ia menunggu Baekhyun yang akan menemaninya ke pesta, bukan Jongdae.

Eunhee memalingkan wajahnya, tanpa perlu memastikan lebih lanjut apa itu benar Jongdae atau bukan, “Aku pergi dengan Baekhyun.”

Jongdae berdecak tak suka, masih bisa menahan emosinya sekarang, “Sudah kubilang tidak ada acara pergi ke pesta bersama Baekhyun. Kau pikir siapa kekasihmu?”

Eunhee tergelak singkat, “Kupikir kekasih yang kau maksud tak sudi menemaniku ke pesta pernikahan sahabatku sendiri.”

Jongdae hanya diam tak membalas. Eunhee pun sama, memilih tetap memalingkan wajah tanpa sedikitpun menoleh ke arah kekasihnya. Ia sedikit mengutuk hatinya mengatakan hal seperih itu pada Jongdae. Tapi siapa yang peduli? Siapa yang lebih dulu sakit karena hal ini?

“Kita berangkat sekarang atau Mi Ri tak pernah mau bertemu denganmu lagi.”

“Sudah kubilang aku berangkat dengan Baekhyun.”

“Kau kekasihku dan bukan Baekhyun! Berdiri sekarang dan kita berangkat!”

Pada akhirnya Eunhee menatap datar wajah mengeras di depannya, sedikit takut berkata tapi akhirnya terlontar juga, “Aku tidak mau.”

Jongdae tidak punya pilihan lain selain menarik paksa Eunhee menuju mobilnya. Mengabaikan ringisan gadis itu atau mengacuhkan berbagai penolakan seperti mencoba menghempaskan cengkraman erat tangannya. Dengan cepat Jongdae mendudukkan Eunhee di kursi samping kemudi lalu berputar menuju tempatnya dan segera menjalankan mobil.

Perjalanan mereka kali ini tidak seperti biasanya. Tidak ada canda tawa atau saling menggoda. Hanya ada Eunhee yang berdiam diri memandang jalanan di sampingnya dan Jongdae yang masih fokus mengemudi sesekali menoleh melirik gadis itu. Beruntung tempat yang mereka tuju harus melewati beberapa lampu merah. Sehingga di pemberhentian kali ini, Jongdae bisa menggenggam tangan kekasihnya berusaha mendapatkkan perhatian Eunhee agar menoleh kepadanya.

“Jangan abaikan aku, Eunbee−ah.”

Eunhee mendengar dengan jelas bagaimana lirihnya suara Jongdae di telinganya. Gadis itu mulai beralih menatap ke depan, walaupun masih enggan menatap sepenuhnya ke arah yang Jongdae harapkan. Sedikit goyah dengan yang ia dengar barusan. Tapi pada akhirnya gadis itu memilih untuk tidak membalas genggaman hangat laki-laki itu dan hanya sedikit menunduk di tempat. Jongdae mendesah pelan melihat bagaimana keras kepalanya gadis yang ia cintai.

“Bukannya kau tidak mau menemaniku? Aku bisa berangkat bersama Baekhyun.”

Jongdae baru saja melepas genggaman tangan mereka, berniat kembali mengemudi. Barusan Eunhee akhirnya bersuara dan kalimat yang keluar benar-benar membuat Jongdae muak.

“Berhenti membicarakan Baekhyun saat bersamaku.”

Wae? Dia bahkan lebih mengerti apa yang kuinginkan. Kau bahkan tidak memberiku kabar sama sekali dan malah menarikku seperti ini.”

“Kau pikir aku akan diam begitu saja gadisku pergi bersama laki-laki lain? Jangan harap Shin Eunhee.”

“Gadisku? Kupikir aku hanya gadismu saat kita melakukannya.”

Jongdae hampir saja membanting setirnya mendengar ucapan Eunhee, “Berhenti bicara Eunhee. Aku tidak ingin kita terus berdebat.”

Eunhee tertawa pelan. Menutup matanya sejenak dan beralih melirik ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi. Jelas dari Baekhyun. Laki-laki itu pasti kalang kabut mencarinya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar begitu saja. Gadis itu memutuskan untuk mengangkat telepon Baekhyun kali ini sampai akhirnya sebuah tangan mengambil paksa ponsel dari tangannya.

Jongdae dengan cepat meminggirkan mobilnya ke samping. Tidak peduli dengan makian lewat klakson mobil lainnya karena tindakannya yang begitu membahayakan, memotong jalan semaunya tanpa memperhatikan kondisi jalanan sekarang.

“Apa yang kau lakukan!” teriak Eunhee tak terima.

“Kau bertanya apa yang kulakukan? Kau pikir apa yang kau lakukan sekarang? Demi Tuhan Shin Eunhee! Sudah kubilang jangan pernah berhubungan dengannya lagi! Kau tidak mengerti juga?”

“Kenapa tidak? Kau tahu Baekhyun bahkan rela lembur semalaman demi menemaniku hari ini! Dan kau yang mengaku kekasihku bahkan selalu beralasan jika aku memintamu menemaniku! Kau yang tidak mengerti!”

“Kau minta aku mengerti usaha laki-laki itu untuk bersamamu? Sadar Shin Eunhee! Kau masih milikku dan selamanya akan begitu!”

“Aku muak! Kau selalu mengatakan aku milikmu tapi kau sendiri? Milikku? Bagaimana bisa milikku bahkan sulit untuk kutemui dan tak pernah mau menemaniku pergi barang ke pesta pernikahan sahabatku sendiri? Kau egois Jongdae!”

Eunhee tak kuasa menahan luapan emosinya. Ia tak peduli anggapan buruk jika ia sudah membentak dan berteriak di hadapan Jongdae sekarang. Eunhee bahkan lupa ketakutannya dengan tatapan tajam Jongdae yang sebenarnya menusuk hingga ke dasar kalbunya.

“Yang kau anggap milikku bahkan tak seperti Baekhyun yang−−hmmpt!”

Jongdae sudah tidak tahan lagi untuk terus mendengar nama lelaki sialan itu keluar dari mulut gadisnya. Maka Jongdae dengan sigap membekap mulut Eunhee, membungkam kasar dengan bibirnya. Tidak peduli penolakan gadis itu untuk yang kesekian kali hari ini, toh pada dasarnya Jongdae laki-laki yang ditakdirkan lebih kuat ketimbang wanita. Lewat lumatan dan gigitan pelannya pada Eunhee ia ingin membuat gadis itu sadar siapa dirinya, memberi sedikit pelajaran jika ia benar-benar benci miliknya berurusan dengan laki-laki bernama Baekhyun itu. Inilah cara khas Jongdae untuk meluapkan emosinya agar pasangannya tahu apa yang ia rasakan.

Perlahan, ketika merasakan sebuah tetesan juga mengalir membasahi pipinya, Jongdae lamat-lamat menghentikan pergerakannya. Mengubah tempo ciuman mereka menjadi semakin lambat dan berakhir dengan kecupan-kecupan ringan. Jempol laki-laki itu tergerak untuk menghapus air mata Eunhee lalu membawa tubuh mungil itu merapat ke dalam pelukannya.

Mianhae.”

Jongdae dengan senang hati meminjamkan dadanya untuk meredam tangisan kekasihnya itu. Membiarkan tangan Eunhee begitu saja menghukumnya atas tindakan yang ia lakukan.

Tangisan Eunhee kali ini berbeda. Bukan air mata karena ia merasa sakit luar biasa, melainkan bahagia. Terus turun membasahi pipinya sembari tangan gadis itu bertepuk kencang melihat Seungwoo dan Mi Ri yang kini resmi menikah. Dua sahabatnya itu sudah bukan lajang lagi, keduanya sudah terikat komitmen saling mencintai dan bersama sehidup semati. Mereka tampak begitu bahagia, bahkan tak malu mengungkapkannya lewat ciuman mesra di hadapan banyak orang. Gadis itu sadar jika mereka memang berjodoh sejak awal, sekalipun berpisah pada akhirnya mereka bersatu juga. Larut dalam keharuan dan bahagia tentu saja, Eunhee tak peduli jika di sampingnya Jongdae tengah menatapnya lamat, walaupun akhirnya laki-laki itu ikut bertepuk tangan seperti tamu undangan yang lainnya.

Sebenarnya Jongdae lebih memilih bermain golf bersama relasi bisnisnya hari ini, tapi tidak setelah mendengar kabar dari sekretarisnya jika Baekhyun berhalangan hadir untuk menemani Eunhee. Maka jadilah ia disini terjebak menghadiri acara yang sebenarnya benar-benar membuat kepalanya berputar tak karuan. Jika bukan karena Eunhee, laki-laki itu mungkin akan secepatnya pergi meninggalkan gedung yang dibalut nuansa serba putih ini.

Beberapa saat keduanya hanya duduk diam di tempat mereka masing-masing. Tidak berbicara satu sama lain walaupun sebenarnya Jongdae tak tahan didiamkan seperti ini. Hingga harapan laki-laki itu saat Eunhee menarik tangannya menjauh. Gadis itu berniat membawanya ke tempat pelaminan dimana Mi Ri dan Seungwoo tengah bersanding. Jongdae tidak suka menghadapi dirinya yang tidak bisa melihat wajah kekasihnya itu. Jongdae pun beralih menggandeng tangan Eunhee, membuat tubuh mereka berjalan beriringan. Menyimpan tangan Eunhee erat di sampingnya, memperlihatkan kepada yang lain terutama laki-laki berambut merah yang terus menatap tajam mereka kalau Eunhee adalah miliknya.

Eunhee langsung melepaskan diri darinya ketika Mi Ri dan Seungwoo sudah di hadapan mata. Ia beralih memeluk kedua sahabatnya itu sembari mengucapkan selamat. Jongdae terpaku ketika melihat buliran air mata kembali membasahi pipi wanitanya.

Ya Eunbo-ah. Kau cengeng sekali,” canda Seungwoo.

Ish, aku menangis hanya sekali ini,” balas Eunhee tak terima. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada dua sahabatnya itu.

“Makanya cepat menikah. Kau sudah tua.”

Mi Ri dan Seungwoo tergelak. Membiarkan Eunhee mengomel tidak setuju dengan lontaran godaan yang diberikan Mi Ri untuknya.

“Kalian berdua sudah menikah. Aku masih sendirian dan aku pasti kesepian.”

Hey, Jongdae oppa kan pacarmu. Kenapa kau tidak ajak dia menikah saja?”

Seungwoo terbahak melihat rona merah menghiasi pipi sahabatnya dan seketika ia meringis saat Eunhee menginjak kakinya. Eunhee menggerutu, sekalipun ia bahagia keduanya sudah menikah, tapi sebal juga karena ia pasti jadi bulan-bulanan karena masih sendirian.

“Kau harus janji menyusul kami secepatnya ya. Aku ingin kita tinggal di rumah yang berdekatan supaya keluarga kita semakin erat.”

Mi Ri mengucap tulus permohonannya sembari menatap Eunhee yang terdiam untuk beberapa saat. Walaupun akhirnya gadis itu kembali memeluk Mi Ri membenamkan wajahnya di belakang sahabatnya itu. Eunhee yakin di belakang mereka Jongdae mendengar semuanya. Entah apa reaksi lelaki itu ketika Mi Ri menyinggung soal pernikahannya. Eunhee hanya bisa menghembuskan nafas dengan nada penuh permohonan.

“Ya, kuharap aku bisa menikah secepatnya.”

Eunhee tertawa sembari melihat ke arah layar ponselnya, membaca pesan Mi Ri yang dengan penuh kesal membalas pertanyaan menggoda darinya. Hey, wajar kan dia bertanya apa gadis itu sudah positif atau belum? Mi Ri sudah menikah dan bahkan selama seminggu belakangan sudah menghabiskan waktu mereka hanya berdua di pulau pribadi yang disewa khusus oleh Seungwoo. Eunhee yakin dengan tempat yang begitu privat kedua sahabatnya itu -terutama si polos tapi mesum Seungwoo- akan memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin. Eunhee membayangkan pasti lah keduanya begitu bahagia. Dalam pikiran gadis itu mana ada bulan madu yang tidak bahagia.

Eunhee mendesah, itu semua hanya membuat gadis itu meringis ketika teringat akan nasibnya sekarang.

Ia hanya bisa berujar turut bahagia, mengusung muka sumringah walaupun hati sendiri bertanya-tanya kapan ia bisa merasakan kebahagiaan itu. Eunhee tertawa masam kala mengingat betapa menyedihkannya terus memikirkan itu semua. Ia lebih terlihat seperti orang yang terlalu mendambakan pernikahan ketimbang hanya merasa iri saja. Gadis itupun mencoba menepis semua pikiran yang menurutnya tidak penting untuk dipikir lebih lanjut dan kembali fokus dengan apa yang harus ia kerjakan.

Sesekali gadis itu melirik ponsel putihnya yang ia taruh di samping laptop. Memastikan jika tidak ada notifikasi telpon atau pesan yang ia lewatkan. Beberapa kali gadis itu terus berharap ponselnya berbunyi sembari menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini Eunhee mendesah pasrah, ia tidak bisa bekerja jika pikirannya sama sekali tidak bisa fokus seperti ini. Maka Eunhee meraih ponselnya dengan cepat, lalu menekan rangkaian nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

Tiap dering nada sambung telepon itu membuatnya gugup entah mengapa. Dalam hatinya terus memohon agar seseorang di seberang sana mengangkat teleponnya saat itu juga. Eunhee terus menunggu dengan sabar hingga akhirnya ia hanya bisa menelan kekecewaan kala sambungan itu terputus begitu saja. Tidak diangkat dan malah diabaikan oleh orang yang ia harapkan. Lagi, Eunhee tertawa masam. Dirinya benar-benar merasa begitu menyedihkan sekarang.  Gadis itu meletakkan ponselnya sembarang dan memilih duduk bersandar pada kursi kerjanya.

Sudah lebih dari sebulan ia tidak bertatap muka dengan Jongdae. Terakhir saat laki-laki itu dengan paksa menemaninya ke acara pernikahan Mi Ri. Eunhee bahkan ingat jika lagi-lagi di akhir pertemuan mereka hanya menuai sebuah pertengkaran yang tak pernah kunjung selesai. Saat laki-laki itu dengan kasar menariknya masuk ke dalam mobil, membawanya pulang dengan kecepatan tinggi. Tentu saja setelahnya adu mulut tak terelakkan, dan  penghabisannya Eunhee harus rela dikurung paksa dalam rengkuhan laki-laki itu. Eunhee hanya bisa menyimpan kesakitannya sendiri dalam diam. Bahkan jauh lebih sakit kala laki-laki itu membiarkannya terbangun seorang diri dengan keadaan kamar yang begitu berantakan.

Kala itu Eunhee berpapasan dengan Baekhyun saat memilih beberapa kue yang begitu menggiurkan, berniat membaginya nanti dengan Jongdae yang sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya. Dengan raut wajah kesal Baekhyun melontarkan protes karena dirinya sama sekali tidak memberi kabar dan membuat laki-laki itu khawatir setengah mati. Setelahnya mereka berdua berbincang akrab dan Baekhyun menarik tangan Eunhee membawanya menuju Mi Ri dan Seungwoo. Ia bahkan melupakan seseorang di seberang sana yang tak henti menatap tajam ke arah mereka berdua. Tidak ada yang salah saat itu bagi Eunhee, tapi tidak setelah mata gadis itu menangkap bagaimana kekasihnya dengan wajah bahagia menerima sebuah ciuman dari Park Sunyoung, yang tidak lain merupakan seseorang yang gencar mencoba merusak hubungan mereka berdua. Sekuat tenaga Eunhee mencoba menahan hati dan juga matanya yang dirasa mulai memanas. Baekhyun yang berada di samping Eunhee sedari tadi tentu saja menyadarinya. Tanpa disadari Baekhyun juga merasa begitu emosi melihat gadis yang begitu menarik perhatiannya terus disakiti oleh rival abadinya itu.

Eunhee bahkan tidak bisa fokus dengan pikirannya sendiri. Berbagai pemikiran buruk berkembang di benaknya dan yang paling sering adalah lintasan pemikiran bahwa Jongdae benar-benar tidak berniat serius padanya. Itu mengapa laki-laki itu selalu menghindar jika ia menyinggung soal pernikahan. Terlalu mengasihani diri gadis itu bahkan tidak sadar jika Baekhyun sudah membawanya ke tempat dimana Jongdae berada. Ia tidak berusaha memandang laki-laki yang terus memandangnya dengan tatapan tidak suka. Eunhee tidak mendengar dengan jelas apa yang Baekhyun katakan di hadapan Jongdae dan Sunyoung, ia hanya mendengar sekilas. Eunhee bahkan hanya bisa pasrah ketika Baekhyun menciumnya. Gadis itu membulatkan mata terkejut tanpa mencoba mengelak sedikitpun. Sampai sebuah tinjuan keras benar-benar mengakhiri hal tergila yang pernah gadis itu rasakan.

Mengingat itu semua membuat kepala Eunhee terasa pusing seketika.

Baru sebentar Eunhee mencoba memejamkan matanya, ia mendapati ponselnya berdering menunjukkan sebuah panggilan masuk. Melihat identitas penelpon di layar, membuat Eunhee seketika mencegatkan tubuhnya. Berusaha duduk setegap mungkin lalu menyambut telepon itu dengan penuh keyakinan. Setelah menelan saliva penuh gugup, Eunhee mulai berbincang dengan seseorang di ujung sana.

Jongdae terus melirik jam tangan yang ia lingkarkan di pergelangan kirinya. Mengecek waktu yang seharusnya sudah ia habiskan melintasi jalan raya menuju sebuah pertemuan penting demi kelangsungan perusahaan. Jongdae tidak mengerti bagaimana bisa Ibunya memaksa menemaninya makan siang, mengancam dengan hal tidak penting seperti mendepaknya dari perusahaan dan mengalihkan jabatan direktur kepada sang kakak. Ayolah, semua orang tahu jika kakaknya itu sama sekali tidak berniat berbisnis ketimbang menjadi pemain bola profesional. Lebih kesal lagi hampir satu jam ia berada di restoran, Ibunya malah menyuruh pelayan kembali nanti dan menunda pesanan. Entah apa yang Ibunya itu inginkan, Jongdae hanya pasrah menunggu sembari terus mengecek kabar dari sekretarisnya.

Ngomong-ngomong soal ponsel, Jongdae jadi ingat kalau tadi ia menolak panggilan dari Eunhee. Seseorang yang selalu berhasil membuat hatinya menjadi tak karuan. Bukan tanpa alasan mengapa Jongdae menolak panggilan itu, ia hanya tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan Eunhee setelah sisi egois dan kasarnya muncul menyakiti gadis itu beberapa waktu silam. Jongdae tidak tahu harus darimana ia menyampaikan permintaan maaf pada Eunhee. Hingga akhirnya laki-laki itu memilih untuk lebih merindu mendengar suara Eunhee di telinganya.

“Berhenti memandangi ponselmu seperti itu. Kau sedang bertemu dengan Ibumu sekarang.”

“Makanya ayo kita makan siang sekarang juga. Aku ada rapat penting, bu,” Jongdae berkata malas dan mendapat sebuah jitakan di kepalanya.

“Anak ini. Sejauh apalagi ambisimu dengan perusahaan hah? Kau tidak sadar umurmu sudah tidak muda lagi?”

Jongdae sepertinya mulai mengerti apa tujuan sang Ibu mengajaknya makan siang, “Bu, aku kesini bukan ingin mendengar Ibu membicarakan itu.”

“Tapi Ibu ingin. Kau tau Ibu juga sudah mulai tua dan sudah sepantasnya menimang cucu dari anak-anak Ibu. Aigoo, kalian benar-benar tidak memikirkan nasib Ibu yang iri dengan kolega kita yang sudah bercucu.”

Dua tahun belakangan, setelah ia memperkenalkan Eunhee secara resmi dengan keluarganya, pertanyaan inilah yang selalu diterima Jongdae dari sang Ibu. Entah itu pertanyaan kapan ia memberikan cucu atau sekedar sindiran pernikahannya yang tak kunjung dibicarakan. Jongdae benar-benar malas mendengar semuanya.

“Bu aku sudah bilang sebelumnya bukan? Jadi berhenti memaksaku dan makan siang secepatnya.”

“Apalagi yang kau tunggu? Sampai sejauh mana lagi Ibu harus bersabar untuk mendengar perihal pernikahanmu? Benar-benar. Berhenti berambisi tinggi, nak. Paling tidak kau harus memastikan kekasihmu ke hubungan yang lebih serius.”

Jongdae terdiam sejenak, tidak menanggapi perkataan Ibunya dengan cepat. Hati kecilnya juga sudah meronta untuk segera membina rumah tangga, tetapi ada banyak hal yang membuatnya enggan menuruti keinginan sang Ibu.

“Bu, berapa kali sudah kubilang menikah hanya menghambat karirku sekarang.”

Pada akhirnya Jongdae melontarkan jawaban seperti itu pada Ibunya. Setelahnya laki-laki itu mendapatkan tatapan serius dari sang Ibu dan ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa menangkap kekakuan dari wajah wanita yang melahirkannya. Sampai akhirnya ia perlahan-lahan mengerti ketika Ibunya melambaikan tangan pada seseorang di belakangnya, menyuruh duduk di kursi kosong pada meja mereka sekarang.

Jongdae menoleh ke belakang dan melihat Eunhee berdiri dengan ekspresi yang sama yang ditunjukkan sang Ibu. Membuat laki-laki itu yakin jika gadis itu mengetahui apa yang ia ucapkan barusan. Sekalipun setelahnya Eunhee tersenyum, Jongdae bisa merasakan jika gadis itu memaksa diri untuk tersenyum menampakkan ia baik-baik saja. Laki-laki itu sempat-sempatnya melirik kesal pada sang Ibu yang tidak memberitahunya perihal kedatangan Eunhee.

“Maaf aku terlambat, Eomonim,” darah Jongdae berdesir seketika kala Eunhee membuka suara, terlebih ketika melontarkan panggilan eomonim untuk Ibunya.

Ibu Jongdae tersenyum penuh keibuaan, sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Kemudian wanita paruh baya itu memilih mengalihkan perhatian dengan bertanya kabar Eunhee belakangan ini.

“Nah kurasa sekarang kita bisa makan siang. Jongdae, cepat panggil pelayan.”

Jongdae tersadar dari lamunan kala sang Ibu menyenggol pelan kakinya memberi isyarat. Laki-laki itu baru saja hendak memanggil pelayan jika tidak mendengar kalimat yang semakin membuatnya yakin jika ia kembali menyakiti perasaan gadisnya itu.

“Maafkan aku, Eomonim. Ta-tapi kurasa aku tidak bisa makan siang bersama kalian sekarang. Aku benar-benar diburu waktu dan tadinya hanya bermaksud menyapa eomonim sebentar. Restoran sedang tidak baik, jadi aku harus menanganinya sendiri. Sekali lagi maaf, Eomonim.”

Ibu Jongdae terlihat sedikit kecewa walaupun setelahnya wanita itu bisa memaklumi kesibukan Eunhee. Sedikit tergesa-gesa, Eunhee membungkuk sopan kepada Ibu Jongdae lalu melangkah pergi menjauh dari meja yang di tempati oleh kekasih dan ibunya. Jongdae masih terdiam di tempat sampai sang Ibu mencubit tangannya kesal dan dengan tatapan tajam menusuk penglihatannya.

“Tunggu apalagi?”

Jongdae mengerti apa maksud sang Ibu lalu bergegas menyusul Eunhee keluar. Beruntung laki-laki itu masih bisa mencegat kekasihnya yang hendak menaiki taksi di depan. Walaupun hal itu menjadi suatu kesialan bagi Eunhee karena kalah cepat dan harus bertatap muka dengan seseorang yang kini tidak ingin ia temui dahulu.

“Kuantar kau pulang,” Eunhee tergelak singkat menanggapinya.

“Tak perlu. Aku sudah menyetop taksi. Lebih cepat dan lebih baik jika aku pulang naik taksi saja,” jawab Eunhee seiring dengan hempasan tangannya dari cengkraman Jongdae di udara.

Kembali Jongdae meraih tangan Eunhee, sedikit menarik Eunhee lebih mendekat ke arahnya dan berkata dengan nada memaksa, “Kuantar kau pulang.”

Eunhee benar-benar muak mendengar paksaan demi paksaan yang Jongdae lontarkan padanya. Mungkin karena puncak kemuakannya itu sudah melebih ambang batas, dengan kencang Eunhee bisa menghempaskan tangan Jongdae dan berlari masuk ke dalam taksi yang masih menunggunya. Dengan cepat pula gadis itu meminta taksi menuju tempat yang ingin ia tuju, berusaha meminimalisir jika saja Jongdae akan mengejarnya. Walaupun ia bisa melihat laki-laki itu sekali lagi hanya terpaku di tempat menyaksikan kepergiannya.

Baekhyun sudah tidak asing lagi melihat kekacauan di dalam diri gadis yang ia cintai. Sekalipun gadis itu tak pernah menunjukkan secara langsung padanya, ia bisa dengan jelas mengetahuinya. Tapi kali ini rasanya berbeda daripada yang sebelumnya. Ia tak pernah melihat Eunhee semengenaskan ini. Terus bergumam tidak jelas dengan tangan yang masih setia memegang sebuah botol berwarna putih bening berisikan minuman yang tentu saja memabukkan. Baekhyun bahkan tidak mengira jika gadis ini sanggup menghabiskan setengah isi dari botol itu. Laki-laki itu tahu jelas jika Eunhee tak terbiasa minum minuman keras.

“Kau sudah mabuk Eunhee-ya.”

Baekhyun mencegah tangan mungil Eunhee yang akan kembali meminum minuman dari botol yang ia pegang. Gadis itu tampak tidak suka, terlihat cemberut dan menceguk beberapa kali walaupun setelahnya ia menatap Baekhyun dengan wajah sumringah. Siapapun sudah bisa menerka jika gadis ini tengah berada dalam kuasa alkohol.

“Aku tidak mabuk. Kau pikir aku mabuk?”

Eunhee mengibaskan tangannya manja ke arah Baekhyun, seolah berusaha meyakinkan laki-laki itu jika ia masih sadar sepenuhnya. Detik berikutnya ia kembali meneguk minuman berwarna bening baik air putih dengan sedikit perisa jeruk di dalamnya. Mengernyit sebentar ketika menerima sensasi dari minuman yang baru saja ia rasakan. Eunhee beralih menatap Baekhyun yang juga memandangnya tajam. Kembali gadis itu tersenyum lebar sebelum ia mengalungkan kedua tangannya ke leher laki-laki di sampingnya.

“Harusnya aku mencintaimu saja bukan. Baekhyun, harusnya aku jadi kekasihmu saja.”

Bau alkohol menyeruak di indera penciuman Baekhyun. Menyadarkannya jika gadis di depannya sekarang tengah mabuk sehingga kalimat-kalimat yang dilontarkan bisa jadi hanya gurauan semata. Baekhyun mendesah dan mencoba untuk melepaskan rangkulan Eunhee di lehernya. Tapi sial sekali, apakah karena pengaruh alkohol Eunhee jadi kuat seperti ini? Gadis itu malahan membuat wajah mereka terkikis jarak satu sama lain. Baekhyun bisa merasakan nafas gadis itu memburu di wajahnya. Sulit bagi laki-laki satu ini untuk tidak larut dalam suasana intim seperti sekarang.

“Jongdae si brengsek itu. Aku tak tau kenapa aku masih saja mencintainya.”

Dengan mata setengah menyipit, Eunhee melepaskan Baekhyun dari rangkulannya. Gadis itu kembali duduk setengah limbung di kursinya dan hampir jatuh tersungkur ketika tangannya mulai memukuli dada sebelah kirinya. Baekhyun hanya menatap lurus ke arah Eunhee dan membiarkan gadis itu bicara dan bertingkah sesukanya. Ia tahu pasti jika gadis itu tengah meluapkan segala emosi yang terus menerus ia pendam hingga sekarang.

“Sakit Baekhyun. Kenapa mencintainya harus sesakit ini?”

Tak tahan melihat Eunhee hanya menyakiti dirinya seorang, Baekhyun pun mencegah gerakan tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Setelahnya ia membenamkan seluruh tubuh Eunhee untuk bersandar meminta kekuatan kepadanya. Tak ada yang bisa Baekhyun lakukan sekarang selain memeluk Eunhee erat dan meminjamkan dadanya sebagai tempat gadis itu mencurahkan seluruh air matanya.

“Kau hanya tinggal berpaling darinya Eunhee,” ucap Baekhyun pada akhirnya. Membuat gadis itu sontak mengalihkan perhatiannya pada laki-laki yang tidak sama sekali menyiratkan aura bergurau di raut wajahnya. Tapi dengan keadaan mabuk seperti sekarang, Eunhee hanya bisa membalas Baekhyun dengan sebuah cengiran ceria di wajahnya.

“Kalau begitu buat aku berpaling darinya Baekhyun.”

Baekhyun terkejut tentu saja, tak percaya jika Eunhee akan membalas perkataannya seperti tadi. Gadis itu memandangnya lamat seakan-akan menunggu reaksinya sekarang juga. Mengamati dengan jelas rona merah di pipi Eunhee dalam jarak yang terbilang dekat, Baekhyun merutuki hatinya yang terus berdegup kencang tak karuan. Iblis-iblis dalam dirinya terus saja membisikkan nada menggoda dan merasuki pemikiran kapan lagi ia bisa mendapatkan Eunhee kalau bukan sekarang. Mengalahkan pemikiran putihnya jika Eunhee tengah mabuk dan ia tak pantas berbuat yang bukan-bukan.

Tapi toh Baekhyun bukan sesempurna yang semua orang duga. Ia juga manusia biasa yang begitu mudahnya untuk tergoda. Perlahan tapi pasti laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arah Eunhee yang kini sudah menutup mata. Sekali lagi mengikis jarak di antara mereka dan tentu saja selangkah lebih dekat untuk bisa membuat Eunhee menjadi miliknya. Dahi keduanya sudah bertemu, dan kali ini ujung hidung Baekhyun maupun Eunhee telah bersentuhan intim pertanda mereka siap menuju langkah selanjutnya.

Di saat puncak itu telah tiba, saat dimana Baekhyun hanya perlu mendaratkan bibirnya di permukaan milik Eunhee, sebuah tinjuan keras di pipi kiri Baekhyun berhasil mengacaukan apa yang telah ia bayangkan.

Jongdae benar-benar merasa frustasi karena Eunhee tak kunjung mengangkat telepon darinya. Belum lagi dengan fakta bahwa gadis itu tidak juga pulang ke apartemennya di waktu selarut ini. Ia mengutuk diri karena membiarkan gadis itu pergi begitu saja siang tadi ketika mereka bertemu dengan Ibunya di restoran. Jongdae tak tahu lagi harus menelpon siapa. Ia tidak mungkin menelpon Mi Ri karena gadis itu pasti tidak akan tahu dimana Eunhee mengingat ia dan Seungwoo masih berada di Eropa sekarang. Lalu Baekhyun? Jangan harap ia mau menghubungi laki-laki sialan satu itu. Jongdae benar-benar dendam karena laki-laki itu begitu lancang mencuri sebuah ciuman dari bibir kekasihnya.

Ia juga tidak mungkin menanyakan kabar kepada orang tua Eunhee terlebih kakak laki-lakinya. Jongdae tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika Gwangchul tahu adik satu-satunya itu menghilang. Ia yakin walaupun Gwangchul sesibuk dan sejauh apapun jaraknya dari Seoul sekarang, laki-laki itu akan bergegas datang untuk menghajarnya seperti dulu. Jongdae menghela nafas frustasi karena sampai sekarang ia belum juga berhasil menemui Eunhee.

Pada akhirnya Jongdae mencoba tenang dengan mendudukkan diri di sofa milik Eunhee. Ia ingat dulu mereka sering sekali menghabiskan waktu berdua di sofa ini baik hanya sekedar duduk berdua berbagi cerita dan tawa, atau menonton film berdua dan berebut popcorn setelahnya. Mata Jongdae beralih menelusuri dapur tepat di sebelah kanan ruang televisi. Eunhee selalu tampak manis mengenakan apron pink miliknya dan akan tersenyum-senyum sendiri menyelesaikan masakan yang akan mereka santap. Dapur juga jadi tempat yang penuh banyak kenangan mereka selama ini. Jongdae ingat dengan membelakangi kulkas, Eunhee pertama kalinya berani berinisiatif menempelkan bibir mereka. Saat itu mereka tengah bertengkar soal kecemburuan dirinya. Lagi-lagi Jongdae mengusap muka frustasi karena ia begitu khawatir dengan keberadaan Eunhee.

Jongdae melirik wallpaper ponselnya dimana terpajang foto Eunhee yang tengah mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Beberapa kali Jongdae melihat foto itu ia tak pernah berhenti terkesima dan bahkan jantungnya terus saja berdegup kencang. Mi Ri mengirimkannya sebulan yang lalu dan berkata saat itu Eunhee tengah dipaksa memakai gaun pengantin oleh gadis itu. Maka setelah memotretnya, Mi Ri segera mengirimkan padanya dan Jongdae benar-benar berterima kasih setelah itu. Jongdae ingat pesan Mi Ri yang juga tercantum pada foto itu.

Oppa, cepat lamar dia.

Saat itu juga Jongdae merasa dirinya harus segera mungkin mempersiapkan diri agar hal itu terjadi. Ia sudah berjaga-jaga dengan terlebih dahulu menandai Eunhee sebagai miliknya, memperingatkan semua orang jika gadis itu tak akan lari kemanapun kecuali bersama dirinya. Bukan perkara mudah bagi Jongdae melihat Eunhee memasang raut wajah sedih atau kecewa ketika ia selalu menolak dan mengelak membahas pernikahan. Jongdae bahkan diam-diam membuntuti perjalanan kekasihnya menuju resepsi pernikahan relasi sebelum ia kembali berurusan dengan proyek perusahaan demi masa depan mereka berdua. Sungguh, Jongdae tidak pernah sedikitpun berniat mempermainkan hubungannya dengan Eunhee.  Laki-laki itu sadar jika Eunhee adalah hidupnya dan ia tak akan pernah melepas pergi dari sisinya.

Tapi Jongdae lupa jika Eunhee juga perempuan biasa. Sekalipun gadis itu selalu berusaha menampakkan semuanya baik-baik saja, Eunhee juga seorang manusia yang lelah menunggu tanpa sebuah kepastian. Hingga akhirnya inilah yang membuat mereka sering bertengkar dan di sisi lain membangkitkan sisi kasar Jongdae sebagai akibatnya.

Jongdae merasa berada di titik cerah ketika ponselnya berdering menampilkan nama dari bawahan kepercayaannya. Ia sudah menyuruh orang itu untuk mencari keberadaan Eunhee dan nanti ia sendiri yang akan menjemput gadisnya pulang. Tapi semuanya serasa kembali menggelap tatkala Jongdae mendengar kabar dari sekretarisnya.

“Nona Eunhee sedang berada di club bersama Tuan Baekhyun, Tuan muda.”

Tanpa perlu pikir panjang lagi Jongdae segera menyambar kunci mobilnya dan dengan kecepatan penuh menyusul ke tempat dimana kekasihnya berada sekarang.

Jongdae tidak perlu pusing memikirkan makian dari petugas keamanan saat ia memarkir mobil sembarangan atau ketika memaksa masuk menyalahi prosedur yang ada di club mewah itu. Terlebih ketika ia membuat keributan dengan kembali mendaratkan pukulannya ke arah laki-laki yang berani-beraninya menyentuh kekasihnya lagi. Dengan gerakan cepat Jongdae mencengkram tangan Eunhee dan menyeret kekasihnya itu pulang bersamanya. Yang laki-laki itu inginkan hanyalah membuat Eunhee menjauh dari jangkauan Baekhyun dan mengurungnya untuk terus berada di sampingnya.

Eunhee bukannya tidak sadar jika ia tengah berada dalam satu mobil bersama Jongdae sekarang. Gadis itu bisa melihat kini Jongdae menyetir kesetanan dengan raut wajah yang begitu tegang. Eunhee sekilas bisa melihat bagaimana ekspresi kemarahan dan kekecewaan di mata laki-laki itu. Kembali rasanya gadis itu ingin menumpahkan air matanya mengetahui apa yang ia hadapi sekarang. Memikirkan apa yang habis ini akan Jongdae lakukan padanya membuat gadis itu kembali meringis pedih dalam diam. Entah sejauh mana lagi sakit yang akan ia rasakan. Eunhee hanya bisa pasrah ketika Jongdae kembali menariknya masuk dan kini beralih memenjarakannya di balik pintu apartemen miliknya.

“Apa yang kau lakukan barusan hah? Kutanya apa yang kau lakukan barusan?!”

Jelas Jongdae bertanya dengan nada yang sarat akan kemarahan. Mata laki-laki itu memerah dan ekspresi wajahnya tak kunjung tenang.

“Apa begitu bahagia bersama Baekhyun sehingga kau tega membuatku cemas terus mengkhawatirkanmu?! Kau tahu aku terus mencarimu dari tadi siang saat kau pergi begitu saja?!”

Jongdae bisa merasakan tubuh Eunhee bergetar takut melihat dirinya. Maka laki-laki itu tersadar tidak seharusnya ia kembali bersikap kasar seperti sekarang. Jongdae beralih memeluk Eunhee erat dan membenamkan kepalanya di puncak kepala kekasihnya itu. Berkali-kali ia berujar maaf dan mengecup dalam kepala milik Eunhee.

“Aku mencintaimu bodoh. Kenapa kau tidak percaya juga?”

Ini pertama kalinya Eunhee terbangun dengan kepala yang terasa begitu berat. Bahkan hanya untuk menyibak selimut dan duduk bersandar pada kepala ranjang saja sudah membuat dirinya nyaris kehilangan keseimbangan. Gadis itu melirik ke arah jam dinding yang tepat berada di seberangnya. Sudah pukul sepuluh lewat dan ia terkejut bisa bangun selarut ini. Eunhee kembali memijat pelan keningnya kala ia merasakan kepalanya kembali berdenyut sakit. Gadis itu beralih memandangi seluruh penjuru kamar yang begitu ia kenal karena ini merupakan kamarnya. Ia tidak mungkin lupa dengan kamarnya sendiri karena sudah hampir sepuluh tahun ia tinggal dan tidur di kamar yang sama. Kepalanya kembali berputar dan setelahnya ia ingat dengan apa yang terjadi kemarin malam.

Mendapati kini ia tengah sendirian bisa jadi setelah kejadian malam tadi Jongdae pergi lagi meninggalkan dirinya. Setelah laki-laki itu puas membiarkan dirinya menangis di dadanya bahkan hingga jatuh tertidur, bukan tidak mungkin laki-laki satu itu pulang kembali ke rumahnya. Eunhee sadar jika Jongdae tentu saja tak mudah untuk melupakan kemarahannya begitu saja, setelah samar-samar ia juga mengingat apa yang ia bicarakan dengan Baekhyun di club semalam. Lagipula hari ini bukanlah hari dengan tanggal yang tercetak berwarna merah di kalender. Jadi tidak mungkin Jongdae membuang waktunya menangani perusahaan. Memikirkannya membuat Eunhee kembali ingat apa yang ia dengar kemarin dan jelas hatinya kembali berdenyut perih.

Lambat laun berbagai pertanyaan di benaknya mulai terjawab sudah. Soal mengapa laki-laki itu tak ingin membicarakan pernikahan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan hal demikian. Eunhee harusnya sadar selama ini Jongdae bahkan selalu mementingkan perusahaan ketimbang menghadiri kencan mereka. Bahkan harusnya lebih sadar ketika laki-laki itu terus saja membatalkan jadwal makan siang bersama mereka dan selalu menggantinya dengan hari lain yang entah kapan. Eunhee juga harusnya lebih peka dengan sindiran Gwangchul yang bertanya apakah laki-laki itu serius dengannya atau tidak. Sudah lima tahun menjalin hubungan, Jongdae hampir terkesan enggan menemui ayahnya yang beberapa kali menyempatkan diri mengunjungi mereka di Korea.

Setelahnya Eunhee terpikir akan satu hal yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Pusing di kepala gadis itu memaksanya keluar kamar mencari beberapa obat pereda nyeri kepala dan lagi ia ingat kalau sejak semalam ia hanya meminum vodka saja tanpa menyentuh makanan sedikitpun. Pantas saja perutnya juga ikut terasa sakit. Eunhee berjalan pelan menuju ruang makan, berusaha mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk menetralisir lambungnya. Setelah meneguk setengah gelas air dalam gelasnya, Eunhee tersedak ketika melihat sosok Jongdae dengan handuk menggantung di leher tengah berdiri di sampingnya dengan tatapan yang cukup tajam seperti biasanya.

Untuk apa laki-laki itu masih berada disini?

“Kau sudah bangun? Aku sedikit panik saat kau menghilang dari tempat tidur.”

Eunhee terpaku melihat Jongdae dan detik berikutnya gadis itu dengan cepat menguasai dirinya.

“Oh, aku haus.”

Eunhee hanya menjawab sekenanya lalu berbalik berniat kembali ke kamar dan sebenarnya berusaha menjauh karena tidak ingin bertemu dengan Jongdae. Dengan cepat Jongdae menangkap pergelangan tangan Eunhee membuat gadis itu tidak lebih jauh dari sisinya.

“Kau jelas menghindariku.”

Jongdae mencoba mendekat ke arah Eunhee lalu mencuri sebuah ciuman singkat di bibir. Setelahnya ia mengusapnya lembut pipi kekasihnya itu.

“Dengarkan aku. Soal kemarin, aku–“

“Jongdae, mari berpisah.”

Eunhee akhirnya mengatakan kalimat yang paling ditakutinya selama ini. Kalimat mengerikan yang sedari tadi berputar di kepalanya dan membuatnya bimbang untuk mengatakannya atau tidak. Tapi toh akhirnya kalimat itu keluar juga. Eunhee mencoba menutup mata melihat ekspresi terkejut Jongdae ketika ia selesai mengucapkan kalimat itu. Gadis itu juga bisa melihat kilatan mata tidak suka terpancar dari mata Jongdae.

“Kupikir ini yang terbaik untuk kau dan aku. Mulai sekarang kau bisa bebas–“

“Omong kosong apa yang kau bicarakan sekarang, Shin Eunhee?”

Eunhee membuang tatapannya dari Jongdae ketika mendengar nada marah dari mulut lelaki itu. Gadis itu berusaha mati-matian mengatakannya dan Jongdae dengan gampangnya mematahkan perkataannya begitu saja. Berkata jika itu omong kosong belaka tanpa tahu sekuat apa gadis itu menahan air mata untuk mengatakannya. Di sisi lain Jongdae benar-benar muak melihat kekasihnya itu terus saja menghindarinya. Dengan sigap laki-laki itu menangkupkan kedua tangannya ke kedua belah pipi Eunhee, membuat gadis itu mau tidak mau beradu pandang dengannya.

“Sudah kubilang aku mencintaimu. Jangan harap aku mau melepasmu. Pernahkah kau berpikir bagaimana kacaunya aku tanpamu?! Tahukah kau tentang itu?! Demi Tuhan Eunhee aku mencintaimu sungguh!”

Jongdae meraih Eunhee ke dalam pelukannya. Biar gadis itu merasakan bagaimana tidak relanya ia berpisah dari kekasihnya itu.

“Kuakui aku bodoh mengatakan hal seperti itu semalam. Tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu Eunhee-ya. Kau tau seberapa besar aku ingin menginginkanmu? Kau pikir selama ini aku hanya main-main saja denganmu?! Aku tidak sebejat itu Eunhee.”

Eunhee bisa merasakan bagaimana Jongdae bergetar mengatakan semuanya, berada dalam pelukan erat laki-laki itu tentu saja ia bisa mengetahuinya. Kali ini air mata yang sedari tadi Eunhee tahan akhirnya lolos juga. Tangan gadis itu perlahan tak kuasa untuk tidak membalas pelukan erat Jongdae pada dirinya.

Merasakan Eunhee membalas perlakuannya, Jongdae berusaha sedikit menjauhkan tubuh mereka. Ia ingin melihat wajah kekasihnya dan menunjukkan sekali lagi jika ia serius dengan apa yang ia ucapkan. Melihat butiran air mata kembali membasahi pipi kekasihnya, Jongdae menghapus jejak air mata itu dengan jemarinya lembut.

“Percaya padaku Eunhee. Aku tak pernah sedikitpun berniat untuk menyakitimu.”

Jongdae mengatakannya begitu lirih. Eunhee bahkan menangkap setetes air mata jatuh dari mata laki-laki itu. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, hanya diam dan terus mengalirkan air mata untuk membasahi pipinya. Jongdae sedikit kecewa dengan reaksi Eunhee sekarang. Entah dengan cara apalagi ia memperbaiki semuanya. Kehabisan akal, Jongdae hanya menautkan bibir mereka, menyampaikan semua perasaannya agar gadis itu tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan. Eunhee diam dan hanya menerima semua sentuhan yang Jongdae berikan. Sampai akhirnya gadis itu tidak tahan juga untuk ikut bergerak dalam ciuman mereka. Jongdae berterima kasih karena hal ini sudah cukup membuatnya yakin jika Eunhee percaya padanya.

Eunhee memainkan ujung selimut yang kini menutupi seluruh bagian tubuhnya. Ia tengah menimbang untuk mengatakannya atau tidak. Gadis itu masih sibuk membayangkan bagaimana reaksi Jongdae setelahnya, maka dari itu ia masih berusaha untuk menyimpannya sekarang. Eunhee merasa belum siap.

“Ada apa? Kau ingin bertanya sesuatu?”

Jongdae yang berbagi selimut di belakangnya tidak tahan melihat ekspresi menahan sesuatu dari Eunhee. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu jika penasaran maka ia akan bergerak gelisah. Jongdae sudah hafal dengan semua hal tentang gadis yang ia cintai.

Eunhee meneguk ludah ketika Jongdae dengan mudah mendapati apa yang ia inginkan. Mau tidak mau gadis itu menolehkan kepalanya sejenak hanya untuk melihat reaksi dari laki-laki yang tengah menunggunya bicara. Perlahan Eunhee mulai mengumpulkan segenap keberaniannya.

“Kenapa kau bilang kalau aku menghambat karirmu?”

Jongdae menghentikan gerakannya memainkan rambut Eunhee. Sedikit terkejut saat ditanyai seperti itu. Eunhee berusaha sabar menanti jawaban dari Jongdae walaupun hatinya sedikit takut dengan jawaban yang akan ia terima.

“Aku tidak pernah bilang begitu. Bukan kau Eunhee−ya, tapi pernikahan. Mana mungkin kau menghambatku sementara aku selalu membutuhkan orang yang kucintai untuk selalu berada di sampingku.”

Eunhee kembali meneguk ludahnya dalam diam.

“Tapi bukan berarti aku tidak ingin menikah denganmu. Aku mencintaimu Eunhee, tapi menikah bukan perkara mudah. Aku belum merasa apa yang kupunya sekarang cukup untuk kita berdua nanti.”

Jongdae mengelus kepala Eunhee penuh sayang, “Saat menikah, kau menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Aku menjadi kepala keluarga, menafkahimu dan anak-anak kita nantinya. Semua itu, aku belum merasa siap dengan semua itu.”

Kali ini Jongdae mencoba membalikkan tubuh Eunhee agar bisa berhadapan dengannya. Laki-laki itu sudah berusaha bicara sehati-hati mungkin agar tidak kembali menyakiti hati orang yang ia kasihi.

“Kau ingat kapan aku mulai menerima tawaran Abeoji menangani perusahaan? Kau ingat sehari sebelumnya apa yang kita lakukan?”

Eunhee mencoba memutar kembali memorinya ke masa silam. Gadis itu ingat ketika ia mendapati Jongdae menjemputnya dengan pakaian kantor yang tampak begitu rapi dan begitu terus untuk hari selanjutnya. Lalu jika bicara soal sehari sebelumnya, gadis itu mencoba mengingat dengan jelas hari apa yang dimaksud oleh Jongdae barusan. Terus memutar kenangannya, Eunhee samar-samar menyadarinya lalu merona malu ketika mengingatnya tepat di hadapan Jongdae.

“Kau ingat? Setelah kita melakukannya aku sadar sudah seharusnya aku memikirkan urusan kita berdua mulai sekarang. Ini bukti aku berkomitmen dengan hubungan kita Eunhee-ya. Jadi berhenti berpikir aku tidak serius dengan hubungan kita.”

Jongdae kembali menarik Eunhee ke dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh favorit yang selalu bisa membuatnya kembali semangat menjalani hidupnya.

“Soal ayahmu, kau pasti kecewa saat aku membatalkan pertemuan kita empat bulan lalu bukan? Kau tahu saat itu sahamku sedang tidak baik. Aku begitu malu untuk datang menemui ayahmu dengan keadaan seperti itu. Seakan aku menjadi calon mertua yang tidak bisa dibanggakan. Bukan tipeku seperti itu, Eunhee−ya.”

Akhirnya Eunhee sadar kala sang Ayah justru terlihat memuji Jongdae ketika Gwangchul menyindirnya soal pembatalan pertemuan mereka. Eunhee mengira Ayahnya begitu kesal sehingga melontarkan pujian bernada sindiran. Tapi rupanya Ayahnya tahu kondisi Jongdae yang sebenarnya. Tidak mengherankan, seorang Tuan Shin toh juga bergelut di bidang yang sama dengan yang Jongdae geluti.

“Tidak. Ayah justru memujimu. Aku baru sadar kenapa Ayah seperti itu.”

Perasaan lega seketika menyelimuti seluruh tubuh Jongdae. Ia sempat cemas jika tingkah lakunya juga mendapatkan kesan buruk dari anggota pria lainnya di keluarga Eunhee. Setelah mati-matian menghadapi sang calon kakak ipar, Jongdae tidak bisa membayangkan jika harus menahan betapa dinginnya seorang mertua yang tidak menyukai sikapnya.

“Mulai sekarang berhenti menemui Baekhyun dan berlari padanya jika aku tidak ada. Kau pikir aku akan membiarkanmu sendirian begitu saja? Dasar tidak peka! Kau bahkan tidak curiga saat Tuan Lee membantu mobilmu yang tiba-tiba mogok di tengah jalan. Kau pikir pengguna jalan mana yang sudi membantu mobil mogok di jalan tol?”

Eunhee mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebegitu tidak sadarkah ia jika selama ini Jongdae mengawasinya secara tidak langsung? Eunhee ingat saat mobilnya berhenti tiba-tiba. Terlalu senang mendapat bantuan di tengah kepanikannya, ia bahkan tidak menyadari rupa penolongnya kala itu. Gadis itu juga menyadari dengan segala bantuan tiba-tiba yang menghampiri di masa sulitnya. Eunhee merutuki diri karena baru bisa mengetahuinya sekarang. Melihat reaksi kekasihnya, Jongdae hanya mendesah pasrah dan terus memeluk Eunhee erat.

“Setidaknya kita menikah setelah proyek dengan perusahaan di China selesai. Kau tahu relasiku bernama Tuan Lu itu begitu menyebalkan. Mukanya saja yang imut. Ya Tuhan, aku benar-benar sakit kepala dengan sifat serba-sempurnanya.”

Jongdae menggerutu di tengah ceritanya dan itu membuat Eunhee tertawa. Entah sudah berapa lama waktu yang mereka buang demi bertengkar saja. Ia bahkan lupa jika momen-momen seperti sekarang sudah lama tidak ia rasakan. Rasanya Eunhee betah berlama-lama jika waktu terus seperti sekarang.

Jongdae mengerti benar apa yang tengah Eunhee pikirkan, dan semua itu tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di benaknya sekarang. Laki-laki itu tersenyum dan beralih menyampirkan sebuah sentuhan di bibir kekasihnya itu. Tak lama, hanya sekedar penyampaian jika ia mencintai Eunhee dengan segenap hatinya.

“Besok kau mau ikut denganku? Mengunjungi rumah kita.”

Eunhee menatap Jongdae tidak mengerti dan sedikit terkejut dengan apa yang laki-laki itu katakan. Ia takut kalau barusan ia salah dengar.

“Rumah kita. Kau mau melihatnya? Sengaja kubangun untuk kita tinggal nantinya setelah menikah,” ulang Jongdae dengan penjelasan lebih yang tentu saja semakin membuat Eunhee terkejut mendengarnya.

Jongdae begitu gemas melihat reaksi tercengang dari kekasihnya. Laki-laki itu tidak tahan untuk mengulurkan tangannya dan mencubit kedua pipi milik Eunhee.

“Kau makin berisi saja. Oh, kau tidak sedang−− kita lumayan sering melakukannya dan kau tau kan aku selalu mengeluarkannya−−”

“Kau ini bicara apasih. Dasar mesum!” seloroh Eunhee dengan wajah yang merona merah padam. Gadis itu kembali membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Jongdae yang mulai bertingkah menyebalkan.

Ya, aku kan hanya bertanya kemungkinan saja. Bukannya lebih bagus ada Jongdae kecil secepatnya?”

Eunhee berdecak, “Kau gila? Kau mau Ayah dan Gwangchul oppa menikammu sekarang juga?”

“Mana mungkin mereka begitu. Memangnya siapa lagi yang menikahimu selain aku?”

Gadis itu memutar bola matanya jengah dan tanpa sadar bergumam pelan menyebutkan nama Baekhyun. Dasar memang pendengaran Jongdae begitu tajam atau begitu sensitif mendengar nama musuh bebuyutannya, laki-laki itu langsung bangkit mencoba kembali beradu tatap dengan Eunhee.

“Kau bilang apa tadi? Coba katakan sekali lagi.”

Eunhee meneguk ludah gugup, “Tidak. Aku tidak bilang apa-apa.”

Kali ini giliran Jongdae yang mendecak, ia tidak percaya dengan apa yang Eunhee katakan barusan, “Aku mendengarnya. Sepertinya Jongdae kecil memang harus segera hadir di tengah kita.”

Dengan mudah Jongdae membalikkan posisi mereka. Setelahnya membuat Eunhee kembali terkurung dalam rangkulan laki-laki itu dan terbaring pasrah di bawah kuasanya.

EPILOG

Rasanya begitu dejavu ketika melihat Eunhee menyeruput segelas earl grey tea sembari berhadapan dengan Mi Ri di sisi seberang. Wanita bermarga Yoo itu berdecak kesal ketika Eunhee dengan begitu santai menemuinya setelah telepon bernada sindiran darinya satu jam yang lalu.

“Kau tidak merasa perlu bercerita sesuatu padaku?”

Eunhee meletakkan gelasnya dengan tenang lalu menatap Mi Ri dengan wajah serupa, “Tidak ada.”

Mi Ri berusaha untuk tidak menjitak kepala Eunhee saat itu juga. Dengan kesal wanita itu mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak persegi dari dalam tas yang ia bawa.

“Kau jahat sekali Eunhee. Kau mau membalasku? Kenapa aku baru tahu sekarang?”

Eunhee melihat sekilas benda yang Mi Ri keluarkan, mengamatinya dengan seksama. Beberapa detik kemudian tangan gadis itu mengambil benda yang tadinya Mi Ri lempar begitu saja di atas meja mereka lalu membuka isinya.

Yah, kau ini. Kau termasuk orang pertama yang tahu kok. Awas ya kalau kau tidak datang. Aku mau hadiah yang mahal! Kau sudah merampokku lewat gaun pengantin dulu.”

Eunhee terkikik ketika melihat Mi Ri memberengut sebal. Setelah itu matanya kembali tertuju pada benda yang ia pegang, ia tersenyum pelan.

Kim Jongdae & Shin Eunhee

The Wedding – 05-07-2014

.

.

.

Note : Sudah hampir lima bulan aku ga post fanfic disini. Hiks. Maafkan aku. Apalagi ini bukan lanjutan Daehee Entree yang menggantung itu. Tapi aku bikin yang lebih panjang jadi semoga bisa terbayarkan. Lalu maafkan aku kalau ff kali ini terkesan… berbau… yah… lalalala… dengan berbagai pertimbangan akhirnya mencoba mengedit lagi di beberapa bagian. Maaf ya kalau aneh dan membosankan ‘-‘

Menjadi mahasiswa tingkat akhir itu tidak mudah. Jadi aku minta maaf kalau jaraaaaaaaaaang publish :”) Doakan semoga tugas akhir ku berjalan dengan lancar. Hihihi.

Aku kangen kalian {}

Thanks to istri-tao-si-abs-seksi dan seorang teman yang selalu mendukung nulis ff.

Iklan

19 thoughts on “DaeHee: The Marriage

  1. Kesan pertama baca ff ini speechless. Benar-benar membayangkan bagaimana jongdae cinta mati sama. eunhe :”)aku mau kelanjutannyaaaaa xD
    Semoga tugas akhirnya lancar, mutmut ;3; love you~

  2. AAAAAAA ka mutia long time no see!!! Akhirnya ngepost juga. Apa kabar ka? Semangat ya kuliahnya!:D

    Aku suka banget sama daehee entree, lumayan deg2an pas jongdae berantem sama eunhee:’)

    Buat next story, aku tunggu ya ka! Keep writing

    • Hai! Iya nih lama ga liat kamu berseliweran hihihi
      alhamdulillah baik. kamu apa kabar? makasih ya doanya 😀
      Sekali lagi makasih. Hihihi adegan berantemnya agak aneh ya? :”)
      Sip ditunggu saja ya kelanjutannya ^^

  3. Anu..anu..gimana yaa agak kehilangan kata2 aja sapa suruh bikin ff yg bikin hati aku meronta2 ga kruan hihi. Emm lgian y aku udh bnyk cincong jg d blog pribadi km ya..
    Yg jelas aku sukaaaaa sama ff ini,Mau? Mutt? Atau author kesayangan? Gmna nih aku manggilnya? hehe
    Aku jg salah 1 org yg selalu ngedukung km lhoo :’) Tetap nulis dan ngehasilin ff yg sweeett bngt hihi.
    Fighting! Mumumu..

    • HUAHAHAHAHA! XD
      seperti biasa saja bi dengan sebutan mauli. rasanya aneh teman2 di dunia nyata memanggil muthia -_-
      Terima kasih Ebi wahai teman yg mendukung ff ku 😀

  4. wah, eonni author..keren banget ff.nya…. sebenernya aku tidak bisa membayangkan Jongdae oppa se-m*sum itu, karena dimataku Jongdae oppa masih pure seperti angel alias polos banget…
    ditunggu kelanjutannya ya eon,, nggak sabar nunggu hadirnya Jongdae kecil..Hwaiting..!!!! 🙂
    Jangan pernah berhenti nulis daehee couple atau ff yg main cast.nya jongdae oppa ya…
    Semangat buat tugas akhirnya… 🙂

    • makasih banyak :))
      hihihi sebenarnya coba deh perhatikan lagi.. mukanya chen… sebagai lelaki dia pasti punya aura mesum. dan sepertinya ga semuanya yg bisa menangkap dengan jelas ya huahahaha *lap-ingus
      semoga ya hahaha, banyak godaan di luar chen yang benar-benar bikin hati merenyuh. jimin, kyuhyun, luhan, bahkan mantan kekasihku, jinyoung.
      terima kasih jungrae ^^

  5. annyeong~ aku udah baca semua daehee seriesnya. maaf baru komennya disini hehe
    asdfgjklak sukka banget sama couple iniiiiii♥
    aduh kak gara2 baca daehee series, jongdae makin maksa buat masuk top3 bias-listku /dor
    disininya jongdae mezumnyaa(?)
    pengen ada lanjutan ini yg ada jongdae kecilnya. ditunggu kak muehehehee :3
    semangat buat kuliahnya!!! ”)9

    • makasih ya sudah mau kasih komentar kali ini, makasih juga udah suka sama couple Daehee ^^
      Alhamdulillah. Jongdae pilihan bias yang bijak dan tepat lho :p
      Jongdae kecil ya? Ah aku jadi malu membayangkannya (‘._.’)
      Ditunggu saja ya. Smoga ada kelanjutannya 🙂

  6. Aku baru baca kak,..
    Kayak naik rooler coaster sepanjang aku bacanya,..
    konfliknya mereka T^T
    uhuhu
    Jongdae sayang banget sama Eunhee T^T
    dia Suami-able banget ;_:
    Perjuangkan(?) couple ini sampe punya anak cucu ya kak,.. Hwaiting ‘-‘9

    • Eunhee sm Chen masih terlalu muda buat punya anak ._.
      Dodyo juga suami-ble banget, matanya apalagi (?) :3
      Terima kasih adik~ hahaha. Makasih ya sudah baca 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s