Puzzle Tub: Speak Now

image

Speak Now

| Marumero | Zhang Yixing (EXO-M), Shim Nayong (OC) | Drama, Romance | Chaptered | G 

Disclaimer: OC, plot and story are mine, Zhang Yixing belongs to fans 😀

PS: Hallo! Kembali lagi dengan lanjutan Puzzle Tub. Chapter ini sepertinya cukup panjang dan semoga tidak membosankan yaaaa T^T terima kasih buat Dekdepik Jule-nya masih dipinjem dan ald untuk posternya yang cantik hihi. Salam hangat untuk keluarga besar dan pengunjung setia EGD! XD ayo ramaikan page kita tercinta ini! We are One! ^^

Please read Shim Na Yong’s Profile first ^^

[1] Unreason Point [2] Red Dress [3] Cropped Side [4] Invisible

Enjoy the words ^^

 “Untuk apa kau datang lagi kesini?” Nayong menyilangkan tangannya didada, mendelik ke arah Naru. Sesaat setelah Nayong keluar dan menemui Naru yang datang sore itu, Nayong langsung menyeretnya menjauh dari kamarnya dan membiarkan Yixing menunggu didalam selagi ia menyelesaikan masakannya.

Nayong menyeret Naru ke dekat lift dan berbicara di koridor. “Kukira kau masih punya malu, ternyata urat malu pun kau tak punya.” Nayong mendengus. Memalingkan wajahnya dari Naru, tak sudi menatap wajah adiknya itu.

“Wah..wah.. tenang saja Noona, aku datang untuk minta maaf padamu. Jadi jangan salah sangka dulu dan bersikaplah yang baik, oke?” Naru mengangkat tangannya didepan perut, bersikap defensif. Nayong kembali mendengus dan mulai muak menghadapi kelakuan adiknya. Naru tetap pada tujuannya yang datang untuk minta maaf pada Nayong walaupun Nayong semakin terlihat tidak peduli dengan kehadiran Naru.

Naru berdeham dan menatap Nayong lekat-lekat yang masih saja membuang muka. “Noona, aku datang ke sini untuk minta maaf denganmu setelah apa yang aku lakukan beberapa hari lalu. Sebenarnya aku tak sengaja melakukan semua hal itu, hanya saja karena aku berada dalam posisi yang sulit, aku terpaksa melakukannya. Aku harap kau memaklumi dan memaafkanku kali ini.” Naru mengakhiri ucapannya dan menunggu jawaban dari Nayong.

Nayong tidak mengucapkan sepatah katapun dan menatap dinding lift yang memantulkan tubuhnya samar-samar. Naru masih menunggu jawaban Nayong yang sepertinya belum keluar juga, jadi Naru kembali bicara.

“Apa noona tidak mau memaafkanku? Baiklah, aku sangat menyesal dengan apa yang kulakukan sebelumnya. Itu memang bukan yang pertama, tapi aku harap itu yang terakhit kalinya. Aku janji−“

“Sudah berapa kali kau berjanji hal semacam itu adalah yang terakhir kalinya?” Potong Nayong. Kini ia menatap Naru dan membentaknya, membuat Naru terkaget karena Nayong tiba-tiba berteriak kearahnya. “Kau selalu mengatakan hal yang sama ketika kau melakukan hal yang sangat tak pantas itu padaku! Sudah berapa kali kau minta maaf dan selalu berkata kau menyesal? Tapi pada akhirnya kau selalu melakukan hal yang sama berkali-kali, seolah janji yang kau ucapkan hanyalah omong kosong dan perantara agar kau bisa mengulanginya lagi di kemudian hari!” Nayong menyembur Naru dan membuatnya membeku diatas kakinya. Ini pertama kalinya Nayong memarahi Naru separah ini, biasanya Nayong hanya akan mengiyakan permintaan maaf Naru, tapi berbeda dengan kali ini. Apakah karena sekarang ia telah hidup sendiri dan karena semakin dewasa sehingga ia tak bisa menganggap enteng permintaan maaf Naru yang omong kosong, Naru pikir seperti itu.

Noona.. aku..aku.. aku sungguh minta maaf karena aku sangat kurang ajar..” ucap Naru terbata-bata, menunduk menatap kaki Nayong yang telanjang, tidak sempat memakai sandalnya saat menyeret Naru menjauh dari pintu kamarnya.

Nayong menghela napas dan menjernihkan kepalanya yang penuh dengan kebencian. Ia menutup mata sejenak dan kembali menatap Naru, kini lebih lembut. Ia hampir tak pernah marah-marah pada adiknya separah ini, rasanya sangat berbeda dan ia tak ingin menjadi kakak yang jahat. Ia menatap Naru lembut dan mendapati adiknya agak sedikit berbeda, wajahnya agak pucat dan bibirnya lebam karena kedinginan. Hatinya tersentak dan jika saja Naru tidak melakukan hal yang membuatnya naik darah, sudah pasti ia akan mengajaknya makan bersama dan menghangatkan diri didalam apartemennya. Tapi kenyataannya lain dan ia tak ingin terjebak dalam situasi ini lebih lama. Yixing sedang menunggunya didalam apartemen dan ia tak bisa meninggalkannya sendirian lebih lama. Ia tak ingin semakin naik darah karena terlalu lama bersama Naru.

Akhirnya Nayong hanya melepaskan lipatan tangannya dan menaruh tangannya disisi tubuhnya. “Pulanglah, makan dan hangatkan tubuhmu.” Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Naru dibelakangnya.

Naru terkejut karena Nayong tiba-tiba beranjak dan mengejarnya. “Apa noona memaafkanku?” tanyanya.

Nayong berhenti. “Aku sedang tak ingin bicara denganmu.” Dengan itu ia mengakhiri pembicaraannya dengan Naru. Ya, ia sedang tak ingin bicara dengan Naru, tidak saat ia sedang bersama Yixing, tidak saat ia sedang merasa bahagia dengan kehadiran Yixing hari ini. Bukan berarti ia sangat membenci Naru, tapi yang benar saja? Setelah semua yang terjadi sebelumnya? Ia tak akan membiarkan kehadiran Naru membuat perasaannya berantakan karena kelakukannya. Biar saja perasaannya berantakan karena merasa terlalu bahagia bisa berdua bersama Yixing hari ini.

Nayong menutup pintu apartemennya dan menuju ke dapur. Melihat hasil karya Yixing yang telah selesai dan menatapnya takjub. Yixing tidak menanyakan apapun sepanjang makan malam mereka, tentang Naru tepatnya. Mereka hanya berbicara beberapa hal, tentang teaser Yixing yang akan keluar sebentar lagi misalnya, atau kompetisi basket Nayong yang sebentar lagi akan segera berlangsung.

Mereka berdua menikmati makan malam buatan Yixing dengan senang hati, mereka bercanda dan tertawa bersama. Sampai saat makan malam mereka berakhir, barulah Yixing menanyakan hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan beberapa waktu lalu.

“Kalau aku boleh tau, siapa laki-laki tadi?” Tanyanya pada Nayong yang sedang mencuci peralatan makan yang baru mereka gunakan di tempat pencucian.

Nayong berhenti sejenak, “Dia adikku.” Jawabnya pelan. Nayong mulai tidak suka dengan pembicaraan ini. Sepertinya bukan hal yang baik bagi mereka berdua untuk membahas tentang adik brengseknya.

“Adik? Adik kandungmu?” suara Yixing sedikit meninggi kali ini, terdengar lebih antusias lebih tepatnya.

Nayong menghela napas berat. “Ya.” Jawabnya enggan. Tangannya berkerja lebih cepat kali ini, membuat suara berisik pada peralatan makan untuk mengalihkan kekesalannya. Tapi lain halnya dengan Yixing yang kelihatan ingin membahas adiknya.

Nayong menutup keran dan menggantungkan sarung tangan kembali ketempatnya. Berjalan kembali ke ruang utama setelah menyelesaikan cuciannya dan mendapati Yixing sedang memegang piguranya yang lain di atas meja.

“Yang ini?” tanyanya lagi sambil menunjuk laki-laki yang berdiri disampingnya didalam pigura, menunjuk Naru. Aku menggangguk dan berjalan kearahnya. Tidak habis pikir kenapa Yixing masih saja membahas tentang Naru.

“Itu diambil lima tahun yang lalu. Saat hari ulang tahun pernikahan orang tua kami.” Ujar Nayong. “Yang ini,” ia menunjuk pigura disebelahnya, “saat kami berlibur ke tempat kakek di Jepang tiga tahun lalu.” Nayong melirik Yixing yang menganggukan kepala dan mengamati foto itu.

“Jadi kau sering ke Jepang?”

“Tidak juga, terakhir kali saat musim panas kemarin.”

“Hmm, sepertinya adikmu sudah semakin tinggi sekarang, dibandingkan saat ia ada di foto itu.”

Nayong tertawa, “Ya, tentu saja, itu kan tiga tahun yang lalu.” Yixing ikut tertawa dan kembali melihat pigura.

“Dan sepertinya, kau ini orang Jepang, ya?” Yixing bertanya, semakin penasaran dan menduga beberapa kemungkinan yang terjadi mengapa Nayong memiliki buku-buku yang berbau dengan budaya Jepang dan semacamnya. Apa lagi selain itu? Semuanya semakin jelas sekarang. Nayong pasti mempunyai darah keturunan Jepang, pikir Yixing.

“Kakek buyutku, ya. Kakek dan nenek pernah tinggal di Seoul cukup lama sampai akhirnya mereka mewarisi rumah kakek buyut dan tinggal di Jepang sampai saat ini. Membiarkan ibu tetap di Korea dan menikah dengan ayah.” Jelas Nayong. Ia berdongeng sementara Yixing masih mengamati foto-foto yang ada dipigura lainnya. “Kami biasanya berkunjung ke tempat kakek saat liburan musim panas.”

Yixing menganggukan kepala mengerti. Kemudian ia berjongkok dan mengangkat pigura yang bediri dikolom bawah, “Lalu, siapa laki-laki ini?”

Nayong kemudian menunduk, melihat fotonya yang sedang duduk dibangku kayu bersama seorang laki-laki sebayanya dan memegang gantungan kunci berbentuk beruang kecil. Yixing menyipitkan mata dan mengamati gantungan kunci itu baik-baik.

“Itu temanku di Jepang, namanya Masaki. Kami biasa bermain bersama saat aku liburan kesana. Rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal kakek dan keluarga kami sudah saling kenal sejak aku masih kecil.” Terangnya dengan semangat.

“Dan boneka itu?”

Semangat Nayong tiba-tiba menghilang. Yixing menyadari perubahan wajah Nayong dan membuatnya ingin tahu cerita apa yang terjadi dibalik gantungan boneka itu.

“Kenapa?”

Nayong mendesah, “Itu gantungan kunci, pemberian kakek untuk kami berdua. Gantungan kunci keberuntungan, sebenarnya. Tapi aku menghilangkannya kemarin malam dan aku masih belum menemukannya sampai sekarang. Aku tak yakin kakek akan memberiku gantungan boneka yang sama lagi sebagai gantinya dan aku juga ragu keberuntungannya akan sama juga dengan yang hilang. Aku tidak menginginkan yang baru, aku hanya menginginkan yang lama kembali.” Ujar Nayong sedih.

“Bagaimana kalau seseorang menemukannya? Apa yang akan kau lakukan?” Yixing bertanya mengerucutkan bibir.

“Tentu saja aku akan sangat berterima kasih padanya. Dan memberitahu Masaki gantungan bonekaku telah kembali.” Mata Nayong berbinar-binar saat mengatakannya.

“Kau menghubungi temanmu?” Yixing semakin penasaran.

“Tentu saja. Ini kan hal tentang kami, jadi aku memberitahunya. Walau hanya sebentar dan aku juga tak yakin ia benar-benar memperhatikan apa yang aku sampaikan padanya. Karena dia terlalu sibuk dengan kuliah sekarang. Ia melanjutkan ke Kedokteran di OIU (Osaka International University). Pasti sangat keras.” Kata Nayong acuh tak acuh. Yixing mengamatinya dan kembali mengerucutkan bibir.

“Benar.” Ia menyetujui. “Lalu selanjutnya, apa yang akan kau lakukan?”

“Jika yang menemukan gantungan bonekaku adalah orang tua atau orang yang lebih dewasa dariku, aku akan membelikan sesuatu yang bisa mereka makan dengan keluarga mereka, yang tidak terlalu mahal tentunya.” Ujarnya mengangkat bahu.

Yixing terkekeh, “Jika yang menemukan orang sebayamu atau lebih muda darimu?”

“Akan kuajak mereka makan bersama, aku yang traktir.” Ucapnya, “Oh, bukan. Itu berlaku jika yang menemukan adalah perempuan.”

“Jika laki-laki?” Yixing semakin menginterogasi.

“Sepertinya tidak, terima kasih saja cukup menurutku.” Nayong nyengir dan membuat Yixing mendengus.

“Kenapa tidak kau ambil saja kesempatan itu? Laki-laki itu pasti dengan senang hati akan makan denganmu.” Godanya.

“Tidak, terima kasih. Ada laki-laki yang lebih pantas mendapatkannya daripada laki-laki asing yang aku tak kenal dan makan bersamaku.” Katanya sombong. Yixing memutar bola matanya dan yeah, kesombongan Nayong kembali lagi.

“Siapa?”

Nayong terkesiap dan tak tau apa yang harus ia katakan. “Eh.. itu.. seseorang, tentunya seseorang yang spesial.” Katanya tidak yakin. Nayong berjalan menjauh dari Yixing menghindari tatapannya yang ingin tahu dan duduk di sofa.

Yixing hanya bergumam lirih dan mengembalikan pigura ke tempat sebelumnya.

“Lagipula, mana mungkin mereka tau bahwa gantungan boneka itu adalah milikmu. Memangnya disana tertera nama, alamat, tempat tanggal lahir atau semacamnya yang mengindikasikan gantungan itu adalah milikmu?” Yixing menyimpulkan.

Nayong tersadar, “Benar juga oppa, gantungan boneka itu tak mungkin menjawab ketika ditanya siapa pemiliknya dan ya, sepertinya memang tak ada harapan lagi bagaimana aku akan menemukannya.” Katanya gelisah. “Aku harus memberitahu Masaki bahwa gantungan bonekaku tak bisa ku temukan lagi.”

Yixing menatap Nayong iba, “Aku turut berduka.” Katanya dengan suara sedih yang dibuat-buat.

Nayong menatap Yixing sebal, “Thanks.” Ujarnya singkat. Yixing terkekeh dan duduk disebelah Nayong.

“Apa kau begitu sedih karena kehilangan gantungan boneka itu?”

“Tentu saja, dia selalu membuatku semangat dan memberi keberuntungan. Aku tak pernah sekalipun memikirkan bagaimana aku menjalani hari tanpanya, baru saja sehari aku kehilangannya dan aku merasa begitu sedih.” Jelasnya. “Dan parahnya, kompetisi hampir dimulai. Ugh! Aku benci memikirkannya!” ia meninju bantal yang ada dipangkuannya.

Yixing kembali terkekeh dan memandang Nayong hangat. Ia mengecek arlojinya yang menunjukkan waktu telah semakin larut.

Well, sepertinya hari semakin malam. Aku harus kembali ke dorm.” Yixing beranjak dari sofa dan menuju pintu depan.

Oppa pulang sekarang? Ugh! Aku juga benci memikirkan ini!” Nayong menyingkirkan bantal dari pangkuannya dan Yixing terkekeh sambil memasang coatnya.

“Terima kasih untuk hari ini, sangat menyenangkan.” Yixing tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang menawan.

“Kembali kasih. Terima kasih juga sudah mau berkunjung kesini dan itu suatu kehormatan untukku.”

“Ahh, tidak usah berlebihan, Nayong-ah.” Nayong membukakan pintu untuk Yixing dan Yixing berjalan keluar. Dan tanpa aba-aba apapun, Yixing tiba-tiba kembali lagi kedalam dan mendekati Nayong. Nayong menatapnya bingung, tangan Yixing terangkat dan menaruhnya ditengkuk Nayong, menariknya semakin dekat dengan tubuhnya dan mencium keningnya yang tertutupi poni.

Nayong diam membeku tak bergerak. Tubuhnya memanas dan seolah-olah separuh tubuhnya melayang entah kemana meninggalkan raganya yang bagaikan batu. Perutnya mendadak mual seperti ada yang mengocok seluruh isi perutnya. Kakinya bergetar dan lututnya terasa lunglai. Satu kecupan Yixing didahinya membuat seluruh tubuhnya lumpuh.

“Dan,” suara Yixing menyadarkan kembali akal sehat Nayong dan mengembalikan nyawanya memasuki raga yang membeku itu. “Jangan sedih lagi, oke? Kau harus semangat! Walau tanpa gantungan boneka itu. Dia bukan segala-galanya untukmu, ada banyak hal yang tak kau sadari yang sebenarnya selalu membuatmu semangat. Banyak yang menyayangimu, Nayong-ah. Fighting!” Yixing mengakhiri pidatonya dan berjalan keluar, meninggalkan Nayong yang masih tak bisa berkata-kata.

“Y-ya, oppa.” Hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulut Nayong. Selebihnya, hanya ia ungkapkan dengan senyuman dan lambaian tangan, membiarkan Yixing pergi dan menghilang saat Yixing menghilang kedalam lift.

Yixing mengambil gantungan boneka beruang didalam saku coatnya dan mengangkatnya saat berdiri didalam lift, “Belum saatnya kau kembali pada pemilikmu.” Ujarnya dan memasukkan kembali gantungan boneka itu kedalam saku.

Didalam kamar, Nayong terduduk lemas. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memegangi jidatnya yang terasa semakin panas. Nayong berteriak didalam kamar dengan girang. Walau ia tak tau apa maksud Yixing memberikan kecupan didahinya, tapi ia tak peduli, hanya dengan itu saja, hatinya serasa sudah penuh dengan bunga-bunga kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia sama sekali tak pernah membayangkan hal semacam ini akan terjadi padanya begitu cepat. Ia tak menyangka hubungannya dengan Yixing akan secepat ini.

Tetapi, sesaat kemudian ia teringat dengan sesuatu yang lebih penting demi kelancaran hubungannya. Nayong keluar dari apartemennya dan langsung menuju ke kamar Li Na, bahkan tanpa perlu repot-repot menggunakan lift, ia sudah melompat ke tangga dan turun kelantai lima.

“Li Na! Buka pintunya! Cepaaaattt!” teriak Nayong didepan pintu kamar Li Na.

Li Na membukakan pintu untuk Nayong dan Nayong langsung menghambur kedalam. Nayong menemukan kertas-kertas berserakan disamping laptop dan Nayong menatapnya, meminta penjelasan.

“Ini.” Li Na melempar selembar kertas dari atas lemari pada Nayong. Nayong menangkapnya dan mulai menyapu tulisan diatasnya dengan cepat. Membaca lapaoran Li Na tentang gadis yang Yixing panggil dengan nama Julies itu.

Jadi namanya Kim Juliet, batin Nayong. Ia lahir dan sekolah di London? Wow! Ia lebih tua satu tahun dariku dan… menguasai banyak bahasa. Oke, ini hebat! dan tingginya? Ya ampun! Setinggi Yixing oppa! Ini baru gila! Yeah, selisih satu atau dua senti mungkin. Denganku? Selisihnya terlalu banyak! Aku kalah. Telak!

Nayong membanting kertas keatas meja dan membuat Li Na menatapnya bingung.

“Bagaimana?” tanya Li Na, ingin mendengar pendapatnya.

“Hanya ini?” tudingnya.

Li Na menghela napas sebal. “Ya.”

“Disana tidak ada informasi apapun tentang hubungannya dengan Yixing oppa, Li Na. Apa yang kau maksud dengan informasi yang sangat mengejutkan?” tuntut Nayong.

“Yonggu, menurutku itu sangat mengejutkan. Ya walaupun ini sangatlah standar untuk dikatakan sebagai hasil pencarian informasi orang. Kurasa gadis itu sangat menutupi identitasnya. Aku sudah mencari kemanapun di situs internet, tapi hanya itu yang bisa kudapatkan.” Katanya sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan.

Nayong menghela napas berat. Hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan. Informasi ini belum membantu sama sekali untuk menguak siapa sebenarnya Juliet ini.

Li Na melihat kegelisahan yang melanda pada Nayong. Ia tau bagaimana perasaannya karena ia juga merasakan hal yang sama, tapi dalam konteks yang berbeda. Bagi Li Na, ini penting juga untuk ia sampaikan pada kakaknya di Cina. Apa-apa saja yang terjadi dengan Yixing dan segala sesuatu yang bersangkutan tentangnya. Sejak kemunculan gadis itu dengan perkenalannya dengan Yixing, membuat fansite bekerja ekstra keras menguak siapa sebenarnya Juliet. Walau hasilnya hanya begini, tapi itu cukup untuk membayar jerih payah mereka disela-sela kesibukan mereka sendiri.

Kabar ini masih sangat rahasia dikalangan petinggi, bahkan para anggota belum banyak yang mengetahui tentang hal ini. Para petinggi, yang termasuk kakak Li Na; Jie Na, tidak mau mengambil resiko untuk memberitahukan pada seluruh anggota tentang kejadian ini, mereka tidak ingin terlalu gegabah dan membuat keadaan tidak kondusif yang bisa jadi menyebabkan kabar itu bocor ke media massa. Tidak sebelum Yixing debut. Bahkan setelah debut pun mereka tak akan membiarkannya.

“Aku tau apa yang kau rasakan Yonggu, kami merasakan hal yang sama.” Nayong tau ‘kami’ yang Li Na maksud adalah bukan hanya Li Na, tentu saja pengurus XingPark.

“Maafkan aku, aku hanya merasa hampir gila karena gadis ini. Aku tak menyangka ia sangat sesulit ini untuk diselidiki.” Nayong duduk dilantai dan ikut membantu Li Na membereskan berkas-berkasnya.

“Kita pasti bisa menemukan lebih dari ini.” Ujar Li Na menyemangati.

“Benar. Kenyataannya akan terungkap, tapi ini saja tidak cukup.” Katanya menunjuk tulisan tentang Juliet.

Nayong terus berpikir, Li Na betul bahwa mereka telah berusaha semaksimal mungkin mencari informasi tentang Juliet. Walaupun ini bukan bagian khusus Nayong yang harus ditangani, setidaknya ia harus percaya dengan kinerja mereka yang bertugas mencari informasi tentang Juliet. Mereka di XingPark bukanlah orang-orang yang melakukan segala cara −seperti sasaeng fans− demi menguak informasi sekecil apapun yang bersangkutan dengan idol mereka, selain karena privasi juga karena ada banyak hal besar lainnya yang perlu diurusi. Belum tentu hal yang digembor-gemborkan adalah berita penting. Mereka cukup teliti untuk mengambil langkah bagaimana harus bertindak. Nayong tau betapa berharganya Yixing untuk XingPark, begitu juga sebaliknya. Mereka telah berjalan bersama begitu lama. Tujuh tahun bukan lagi waktu untuk melangkah dengan gegabah, tapi harus lebih dewasa, begitu pikir Nayong tentang XingPark.

By the way, kau kelihatan berbeda.” Nayong mendongak memandang Li Na yang sedang menatapnya serius. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Li Na dan menautkan alisnya bingung.

“Apanya?”

Mata Li Na masih mengamati seluruh wajah Nayong, bahkan kali ini tubuhnya semakin condong dan mendekat ke wajah Nayong. Menyentuh pipi Nayong dan mencubit pipinya yang berisi. Merasa tidak terima diperlakukan begitu, Nayong menyingkirkan tangan Li Na dari wajahnya dan menyemburnya.

“Apa-apaan kau ini?” teriaknya menatap Li Na horor. “Aku menyukai Yixing oppa, Li Na! Jangan harap aku ingin berbagi hati denganmu!” katanya sambil mengusap pipinya yang baru saja dipegang oleh Li Na.

Li Na meluruskan tubuhnya dan mendengus keras, “Sedikitpun aku tak pernah berpikir ingin berbagi hati denganmu, Yong-ah. Kau bukan tipeku.” Sembur Li Na tak mau kalah. Sekarang giliran Nayong yang mendengus dan membuat keduanya tertawa lirih.

“Bukan itu maksudku, kau kelihatan berbeda. Dan pipimu sangat merah, seperti kepiting rebus, bukan seperti bunga mawar yang mekar, bukan itu jelas.” Kata Li Na sinis membuat Nayong mengerucutkan bibirnya semakin pajang. “Dan juga panas. Apa sesuatu terjadi antara kau dan Yixing oppa?”

Nayong terkejut, tidak mengira Li Na akan menebak seperti itu. Ini bukan pertama kalinya ia membocorkan rahasia apa saja yang ia lakukan dengan Yixing pada Li Na. Tapi tetap saja, Nayong menganggapnya sebagai privasi. Memang susah berteman dengan orang yang menjadi fans dari laki-laki yang kita suka. Nayong hanya tersenyum malu-malu pada Li Na.

“Naaaah, aku yakin. Pasti ada yang terjadi diantara kalian. Ceritakan padaku!”

Sebenarnya Nayong ingin bercerita pada Li Na, tapi karena ia tak tau ingin menceritakannya bagaimana jadi ia hanya menggelengkan kepala dan membuat Li Na cemberut.

“Oh ayolah. Aku temanmu. Aku sahabatmu. Teganya kau tak ingin membagikannya denganku….” Li Na beranjak ke dekat Nayong dan duduk tepat disamping Nayong. “Sekarang posisiku adalah sahabatmu, oke, bukan adik dari pengurus fansite XingPark yang mencari berita dimanapun kapanpun tentang Yixing oppa. You have my words.” Li Na memasang tampang memelas pada Nayong dan membuatnya tidak tahan untuk tidak bercerita padanya.

Alhasil, Nayong menceritakan kejadian hari ini bersama Yixing. Tentang mereka makan bersama dan memakan masakan Yixing, bercerita tentang keluarga Nayong dan tentang ciuman yang Yixing berikan sebelum perpisahan. Dan tentunya ia tak menceritakan bagian Naru datang dan merusak suasana.

Li Na berteriak girang dan memukul Nayong parah, lengannya hampir lebam karena terlalu antusias mendengar cerita Nayong saat Yixing menciumnya dan tak menyangka Yixing melakukan hal semacam itu. Li Na tau, Yixing tak akan melakukannya pada sembarang orang. Pasti ada sesuatu didalam hatinya pada Nayong sehingga ia melakukan hal sampai sejauh ini.

Setelah bercerita panjang lebar, mereka hanya duduk-duduk santai diatas karpet. Menatap foto Juliet yang rasanya semakin menghantui pikiran Nayong dan Li Na yang sedang sibuk berhubungan dengan orang-orang di XingPark.

Tiba-tiba Nayong teringat sesuatu yang mungkin memberinya banyak harapan untuk mendapatkan informasi tentang Juliet. “Li Na, kau sudah menyelidiki ke bagian informasi dikampus?” Nayong bertanya dengan berbinar-binar, berharap Li Na lupa untuk mengusutnya kesana.

Li Na menoleh kearahnya. “Sudah.” Jawab Li Na singkat, menyingkirkan binar yang ada dimata Nayong. Nayong menatapnya sedih. “Mereka tidak membocorkan informasi segampang itu.”

“Kenapa? Apa mereka harus disuap?” bisiknya mencondongkan tubuh.

Li Na mendelik kearah Nayong dan membuat Nayong duduk tegak lagi.

“Hanya bercanda..”

“Kau kan tau peraturan kampus kita sangat ketat.” Nayong mengangguk mengerti. “Ngomong-ngomong tentang peraturan yang ketat, sepertinya kau akan dapat hadiah karena kau membolos hari ini.” Li Na menggoda Nayong, melemparinya kertas bekas dan membuat Nayong mendengus seketika.

“Sudah kuduga.” Melemparkan kembali kertas itu pada Li Na dan kemudian mereka tertawa bersama.

Hari-hari telah berlalu setelah kejadian malam itu ditempat Li Na. Nayong tau kemungkinannya untuk bertemu dengan Juliet akan semakin besar saat ia datang ke kampus. Tapi sekalipun, ia hampir tak pernah bertemu dengannya. Selain karena mereka berada di program studi yang berbeda dan juga karena mereka tidak ditakdirkan untuk bertemu lagi, Nayong meyakininya begitu. Satu-satunya saat dimana ia bertemu dengan Juliet adalah ketika ia dalam perjalanan kembali ke kelas setelah mengembalikan buku ke perpustakaan. Dan sejak saat itu ia tak pernah lagi datang ke perpustakaan, tentu saja selain karena perpustakaan adalah bukan tempat yang tepat untuknya.

Harinya dikampus penuh uring-uringan karena menghindari keberadaan Juliet. Ia bukannya tak ingin bertemu dengannya karena ia ada hubungan dengan Yixing atau ia merasa cemburu bahkan minder karena Juliet adalah sosok perempuan yang sempurna, tapi yaitu karena ia enggan ditanyai perihal hubungannya dengan Yixing. Ia yakin pertemuan mereka di teater beberapa waktu lalu sangat menarik perhatian. Nayong yakin bukan hanya dirinya yang bertanya-tanya ada hubungan apa antara Yixing dengan Juliet, tapi Juliet pasti bertanya-tanya dengan apa yang terjalin antara ia dan Yixing.

Seminggu telah berlalu sejak Nayong membolos, itu artinya ia harus bertemu dengan Mrs. Yoon, dosen yang sangat menaati peraturan dan selalu memberikan hukuman untuk mereka yang membolos.

“OH! Please… Aku kan bukan anak SMA lagi…” keluh Nayong pada Li Na yang terbahak dan sedang asyik dengan tabnya disudut ruangan. “Kau tidak ingin membantuku?”

“Maaf nona Shim, tapi aku bisa bersenang-senang sendiri dan tak perlu ikut bersenang-senang denganmu.” Kata Li Na tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari layar tab.

Nayong mendengus dan merapikan baju-baju pentas yang menumpuk segunung. “Ini kan harusnya menjadi tugas mereka yang dibagian perlengkapan! Kenapa harus aku yang melakukannya!” Ia melipat baju-baju itu dengan kasar dan melemparnya ke dalam keranjang. Mengecek satu per satu dan mencocokan daftar baju untuk pertunjukan musim semi bulan depan di kertas yang diberikan oleh Mrs. Yoon padanya.

“Jangan banyak mengeluh, anggap saja ini sebagai buah bolosmu yang sangat manis itu. Semangat!” Li Na menasehati.

Ingatan Nayong melayang ke kejadian dihari saat ia membolos, malam dimana Yixing mencium keningnya. Ia tersenyum dan ya, Yixing benar. Ia harus semangat, ia sudah memberi Nayong ciuman yang menggantikan gantungan boneka keberuntungannya dan itu seharusnya cukup untuk membuat Nayong selalu semangat dalam keadaan apapun. Dan, OH hey! Nayong baru sadar kali ini. Apa maksud Yixing yang berkata padanya bahwa ada banyak orang yang menyayangi Nayong dan banyak hal yang membuat ia semangat? Apakah hal semacam ini? Yixing sendiri? Yixing yang menjadi semangat Nayong? Ia ingin Nayong semangat karenanya? Seperti itukah? Nayong terdiam dan memikirkannya lama, menerka apa yang sebenarnya Yixing sampaikan. Ternyata iya memang begitu. Yixing ingin membuat dirinya sebagai hal yang menyemangati Nayong.

Kenapa tidak kau katakan saja langsung padaku? Kenapa harus membuatku berpikir dengan otak lemot ini? Just speak now. Gerutu Nayong dalam hati. Gemas karena ia baru menyadari apa yang sebenarnya Yixing sampaikan.

Seketika saja, Nayong menjadi bersemangat dan melipat baju-baju itu dengan cepat, menatanya rapi kedalam keranjang. Menumpuk kardus-kardus dan merapikan properti lainnya didalam gudang.

Tak ada gantungan boneka keberuntungan, kecupan Yixing oppa pun jadi, ucapnya dalam hati dan terkekeh lirih.

“Kau masih ingin bersenang-senang?” tanyanya pada Li Na dari balik pintu setelah selesai merapikan banyak barang didalam gudang.

Li Na terkesiap dan melihat hasil kerja Nayong yang selesai lebih cepat dari dugaannya. “Sudah selesai?” Matanya menyapu seluruh barang dan sudah dirapikan oleh Nayong.

“Aku ada latihan. Dan sepertinya aku sudah telat.” Katanya mengecek arloji yang menunjukkan ia telah telat lima belas menit .

“Oke. Nanti aku pulang lebih dulu.”

“Sip.”

“Putari lapangan dua puluh kali.” Baru saja Nayong datang dan mengganti pakaian ke kostum latihannya, ia langsung disembur pelatih karena terlambat. Untung saja ia hanya diperintahkan untuk mengitari lapangan dua puluh kali, tidak lebih dari itu. Walau ia mendapat hukuman, tapi tetap saja ia masih beruntung hanya sebanyak itu.

“Sial.” Gerutunya. Teman satu timnya hanya menepuk bahunya ringan, tanda untuk menyemangati.

Latihan semakin berat dan semakin serius seiring berjalannya kompetisi yang semakin dekat. Strategi dari pelatih semakin tajam dan terus konsentrasi pada peningkatan skil individu. Nayong semakin digenjot untuk menghasilkan three point yang lebih akurat.

Entah sudah yang keberapa kalinya Nayong melempar three point shotnya latihan saat itu. Tapi tiba-tiba pelatih memberikan mereka instruksi untuk rotasi dan Nayong mendapat bagian lay up[1]. Ia mengumpat dalam hati sekeras-kerasnya. Ini bukan bidangnya. Sekalipun, tak pernah ia berpikir untuk lay up dan mendapatkan point. Ia sangat menghindari lay up karena ia tak pernah berhasil melakukannya.

Alasannya cukup jelas, ia dan lay up tidak pernah bersahabat.

Ia hampir menangis saat permohonannya ditolak oleh pelatih dan justru memberinya komentar pedas.

“Jangan jadi pemain basket disini jika tak ingin menguasai skil yang lain.” Begitu ucap sang pelatih. “Jangan pernah merasa puas dengan kemampuanmu saat ini.”

Nayong berjalan lesu ke dalam lapangan untuk kembali berlatih, bukannya ia tidak ingin belajar yang lain, bukan juga karena ia telah merasa puas. Sama sekali bukan itu. Tapi yang benar saja? Lay up, ugh! Itu semacam petaka untuk Nayong.

Kawan setimnya mulai khawatir dengan keadaan Nayong kali ini, mereka semua tau Nayong tidak pernah berjodoh dengan lay up. Mereka menyemangati Nayong dari seberang lapangan dan Nayong menghargai sikap baik mereka dengan terus tersenyum walau dipaksakan.

Latihan sudah bercampur antara tim laki-laki dan perempuan, Nayong mengumpulkan konsentrasi dan menatap ke arah bola dengan serius ketika ada sosok yang ia kenali berdiri di pintu masuk lapangan. Tubuhnya yang membungkuk kembali tegak saat ia menyadari siapa sosok itu. Sosok itu semakin mendekat ke belakang laki-laki yang sedang memegang bola yang akan melempar bola pada Nayong.

Saat Nayong mengetahui bahwa sosok itu adalah Juliet, saat itu juga bola mengenai wajahnya. Nayong kehilangan konsentrasinya pada bola sehingga bola menghantam wajahnya dan seketika Nayong terjungkal kebelakang. Punggungnya menyentuh lantai lapangan dan kepalanya mulai pening. Hidungnya mengucurkan darah segar dan membuat kawan setimnya berteriak histeris mengerubungi Nayong. Mereka memapah Nayong ke pinggir lapangan dan memberinya kotak P3K. Nayong mengumpulkan kesadarannya dan mendapati Juliet sedang berjalan disisi seberang lapangan. Juliet sempat menoleh ke tempat dimana ia duduk sekarang walau hanya sekilas dan terus berjalan hingga keluar lapangan.

Ia mengompres hidungnya dengan es dan darah berhenti keluar dari hidungnya. Ia duduk sendiri disisi lapangan dan menonton kawan-kawannya berlatih. Benar kan? Nayong dan lay up memang tidak pernah bersahabat. Benar-benar petaka. Dan kebetulan juga karena kehadiran Juliet yang tiba-tiba. Semakin menguatkan alasan didalam hati Nayong mengapa ia dan lay up tak pernah berjodoh.

Latihan berakhir setelah malam tiba dan Nayong kembali ke apartemen seorang diri. Tubuhnya lesu dan semangat menghilang dari hatinya. Saat di lift, ponselnya bergetar dan ia melihat nama Yixing muncul dilayar ponselnya. Ia mengerutkan dahi, tidak percaya dengan matanya yang melihat nama Yixing dilayar ponselnya. Tidak biasanya Yixing menelpon Nayong tiba-tiba begini. Ia juga bertanya-tanya ada urusan apa sehingga Yixing harus repot-repot menghubunginya. Nayong menggeser tombol hijau dengan jarinya.

“Hallo..”

“Hallo.. Nayong-ah, kau diamana?” tanya Yixing dari seberang telepon.

“Aku.. aku di apartemen, oppa. Ada apa?”

“Kau sudah sampai di apartemen? Apa kau sudah masuk ke dalam?”

“Ehh.. sebetulnya belum, aku sedang di lift. Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Nayong bertanya khawatir.

“Oh.. tidak. Tidak apa-apa. Aku kira kau sudah sampai dikamarmu.”

Denting lift berbunyi dan menandakan ia telah sampai dilantai tujuannya. “Aku baru keluar dari lift. Sedang berjalan di koridor? Apa oppa sedang menungguku?” Tanyanya, menilik kedepan kamarnya dan sepertinya Yixing sedang tidak menunggunya.

“Tidak, aku sedang di dorm.” Ya, ia benar. “Hanya saja…”

“Tunggu sebentar…” kata Nayong, ia berdiri didepan pintu dan mengambil gantungan boneka keberuntungannya yang menggantung di gagang pintu kamarnya. Kemudian ia tersadar, “Apa oppa yang menemukannya?”

“Emmm, sepertinya begitu.”

Nayong berteriak dan melompat-lompat kegirangan. “Oppa kau menemukannya! Kau menemukannya! Terima kasih!”

“Bukan masalah. Aku ikut senang kau telah menemukan gantungan bonekamu kembali.” Kata Yixing, ikut tertawa dengan kegembiraan Nayong. “Hanya itu yang ingin ku sampaikan.”

“Baiklah, terima kasih sekali lagi. Aku berhutang padamu, oppa.”

“Ku tunggu bayaranmu.” Candanya. “Istirahatlah.” Tutupnya.

“Selamat istirahat.” Nayong tersenyum didepan pintu dengan manis, seolah Yixing bisa melihat wajahnya saat ini.

Kemudian Nayong membuka pintu dan tak sabar ingin mengabari Masaki bahwa gantungan bonekanya telah kembali. Hanya saja, ketika ia masuk kedalam, matanya menangkap sesuatu dilantai. Ia mengambilnya yang ternyata sebuah amplop. Ia membukanya dan ketika melihat isinya, rahangnya serasa jatuh ke lantai.

Ia mengambil selembar kertas berisi biodata singkat tentang Yixing yang dicetak dari halaman internet dan ada tulisan di secarik kertas didalamnya.

Setauku, para idol merahasiakan hubungan asmara mereka.

Begitu tulisannya. Nayong tau siapa yang mengirim amplop ini. Siapa lagi kalau bukan adiknya yang brengsek.

“Sial! Dia mengancamku.”

[1] Lay-up : usaha memasukkan bola ke ring atau keranjang basket dengan dua langkah dan meloncat agar dapat meraih poin. Lay-up disebut juga dengan tembakan melayang.

Komentar, review, kritik, saran dan ralat sangat ditunggu. Terima kasih banyak sudah membaca. Love you all! Keep loving Lay, Nayong, EXO and EGD!~~

bboing~

Iklan

3 thoughts on “Puzzle Tub: Speak Now

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s