Kimi Couple: Our Fate

7 - Our Fate

 

Our Fate 

Author : Kimmica (@malaarn) | Length : 3.498 words | Main Casts : Kim Minseok (EXO-M Xiumin) & Kim Michelle (@kimmisyelle) | Genre : Romance | Rating : G

Disclaimer : I just own the plot and idea. Kim Minseok and EXO’s member belongs to SM Ent.

Note: Finally, I can published this ff. Whoaaa, it take a long time to have an idea and write it to be a fanfiction. I hope, this ff not disappointing you all. So sorry for the weird story. I will be better for the next ff. Thanks for Momo and Tetua Couple eonnideul that give me so much help! Love you guys.  And I wanna say thanks to the readers, thanks for read my ff and thanks for giving some comment. Happy reading! I love ya, XOXO~

See Kim Michelle’s Profile first and found another story of Kimi Couple on Mica’s Dreamworld and EXO Girls Daily

–Kimmica©2014 –

“Aku telah jatuh ke dalam hati terdalam mu. Kau segalanya bagiku. Berjanjilah, kau hanya akan melihatku dan hanya mencintaiku seorang karena aku sangat mencintaimu. Would you be mine, Kim Mica?”

Perlahan, dengan sedikit getaran kecil di sekelilingnya, bibir mungil itu mulai terbuka, “Aku…”

***

August 23rd 2013

Kangdong Sacred Heart Hospital, Gildong, Gangdong-gu, Seoul

Sudah lebih dari dua bulan Kim Mica menjalani perawatan di rumah sakit. Ia masih harus menjalani beberapa perawatan dan terapi lagi sebelum akhirnya diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Dan selama itu pula, beberapa tempat di rumah sakit itu menjadi tempat kesukaannya. Di mulai dari taman kecil di atap bangunan, sudut kafetaria yang menenangkan dan juga tempat bermain para pasien anak kecil yang memiliki penyakit serupa dengan dirinya.

Siang itu, Mica terlihat menghabiskan waktunya dengan duduk sendirian di sudut kafetaria yang sepi. Terlihat segelas Hot Chocolate dan sepiring Cheesecake yang sama sekali belum tersentuh sedikitpun di atas meja. Jika diperhatikan dari jarak jauh, Mica akan terlihat seperti menatap lurus ke arah gelas dan piring kecil di atas meja. Tapi, jika diperhatikan lebih dekat lagi, sebenarnya ia sedang memejamkan matanya sambil menikmati alunan musik klasik kafetaria yang menenangkan.

Matanya terpejam, tetapi sudut bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Mica sedang mengingat kejadian sebulan yang lalu, di mana Kim Minseok di bantu dengan Jongdae dan Chanyeol memberikan sebuah kejutan yang sangat indah untuknya. Setiap kali memikirkan kejadian itu, bibir mungilnya selalu melepaskan sebuah senyum manis.

***

Flashback

July 9th 2013

Jantung Minseok berdegup kencang saat Mica mulai mengeluarkan kata-kata. Ia kembali teringat dengan janjinya yang akan bersikap biasa saja tanpa menunjukkan rasa kecewa yang berlebihan jika akhirnya Mica menolak dirinya.

“Aku…”

Mica menatap ketiga pria di hadapannya bergantian dan pada akhirnya hanya menatap lurus ke arah Minseok. Ia menghembuskan nafas pelan, berusaha memantapkan dan menata kembali perkataan yang akan ia keluarkan di benaknya.

“Aku… Juga menyukai mu, juga menyayangi mu. Aku bahkan memiliki perasaan yang sama dengan mu. Terima kasih karena telah jujur padaku, dan terima kasih untuk semua kejutan manis ini. Aku sangat menyukai dan menghargainya,” gadis itu tersenyum.

Minseok menatap lurus ke arah Mica, mencoba mencari tahu apa arti dari senyum yang mengembang di bibir gadis itu, “Jadi?”

Senyum itu hilang.

Ya, Kim Mica…”

“Oppa, mian,” gadis mungil itu menundukkan kepalanya. Rambut sebahunya berantakan tertiup angin.

Kata-kata itu mengejutkan mereka bertiga. Chanyeol dan Jongdae menatap tidak percaya ke arah Mica, sedangkan Minseok berusaha tersenyum walaupun ia tahu apa maksud dari perkataan gadis itu.

“Aku tahu.”

“Aku tidak bisa menjawab itu sekarang. Terlalu banyak yang harus aku pikirkan dan pertimbangkan. Mianhae, oppa. Aku harap kau mau menunggu. Aku akan menjawab semuanya, secepatnya.”

Laki-laki berpipi bulat itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. Berusaha meyakinkan wanita di hadapannya bahwa ia tidak apa-apa dan akan bersedia menunggunya. Ia pun merangkul pelan tubuh mungil Kim Mica lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut sebelum akhirnya mengantarkan Mica kembali ke kamar rawatnya. Setelah gadis itu sudah kembali beristirahat di kamarnya, ketiga laki-laki itu akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan langkah pelan dan gontai seakan tidak ada tenaga sama sekali.

***

July 23rd 2013

Hari ini, tepat dua minggu kejadian Minseok menyatakan perasaannya pada Mica. Setelah memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya gadis yang selalu terlihat memakai benda berwarna merah muda pada penampilannya sehari-hari itu memutuskan untuk memberikan jawaban pada Minseok. Ia mengeluarkan telepon genggam merah mudanya dari dalam saku piyama dan mulai mencari sebuah nomor telepon dari daftar kontak. Pada awalnya, ia akan menelpon Minseok dan memintanya bertemu di kafetaria saja, tetapi niat itu ia urungkan dan hanya mengirimkan sebuah pesan singkat.

To: KMS

Eodiga? Bisa kita bertemu jika kau tidak sibuk? Akan kutunggu di taman dadakan waktu itu.

“Sekarang, hanya tinggal menunggunya datang, lalu semuanya selesai,” ucap gadis itu pada dirinya sendiri.

***

Minseok’s PoV

Aku terdiam saat membaca pesan singkat yang dikirim oleh gadis pujaanku. Aku gugup dan tidak bisa berkonsentrasi. Apakah gadis itu akan memberikannya jawaban? Apakah jawaban yang kutunggu selama dua minggu itu sesuai dengan harapanku? Bagaimana kalau tidak?

“Hyung, ada apa?”

Eo? Ani, geunyang… Mica memintaku menemuinya hari ini,”jelasku pada Kris.

“Kim Michelle? Hyung! Mungkin ia akan segera memberikanmu jawaban,” jawab Kris dengan semangat.

Aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum kecil. Mungkin benar, mungkin juga tidak. Aku merasa belum siap untuk bertemu dengan gadis itu, walaupun sebenarnya aku sangat ingin.

“Temui saja setelah pekerjaan kita selesai. Apapun yang menjadi jawabannya nanti, aku harap tidak akan mengecewakanmu, Hyung.”

“Iya, aku harap juga begitu, Kris.”

To: KMC

Aku ke sana sebentar lagi. Tunggu aku.

***

Mica’s Recovery Room

“Oppa, aku… Ah ani, ani. Minseok oppa, aku sudah punya jawaban… Ey, jangan seperti itu. Oppa, maaf sudah membuatmu menunggu selama dua minggu…”

Kim Mica masih terus melatih dialog yang akan ia sampaikan pada Minseok. Ia takut kalau saja ada perkataan yang salah dan malah membuat pria itu marah ataupun tersinggung. Maka dari itu ia harus mempersiapkan semuanya dari sekarang sebelum akhirnya ia bertemu dengan Minseok. Sekilas, Mica mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding di kamarnya lalu kembali menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin.

“Sebentar lagi dia datang. Aku tidak boleh berpenampilan seperti orang tidak mandi berhari-hari seperti ini.”

Gadis itu melangkahkan kaki kecilnya menuju kamar mandi. Dan kurang dari setengah jam, ia sudah kembali berdiri di depan cermin dan menyisiri rambut sebahunya. Tak lupa ia mengoleskan bedak tipis ke wajah dan mengenakan lipgloss merah muda ke bibir mungilnya dan menyemprotkan sedikit parfum ke arah tubuhnya. Dengan baju lengan panjang berwarna putih dan celana panjang yang benar-benar pas di tubuhnya, Mica tidak terlihat seperti seorang pasien rumah sakit. Ia bahkan terlihat seperti gadis remaja cantik yang datang untuk menjenguk seorang teman yang sedang sakit.

“Sempurna. Dengan begini, aku siap bertemu dengannya,” ucap gadis mungil itu seraya mengambil telepon genggamnya dan berjalan keluar kamar menuju atap rumah sakit.

***

05.50 PM

Hospital Rooftop Garden

Udara sore hari di kota Seoul benar-benar menenangkan. Walaupun sore itu, angin bertiup cukup kencang dan menambah dinginnya udara, Kim Mica tetap menikmatinya. Ia terus saja membidikkan kameranya pada setiap benda dan apapun yang menarik perhatiannya. Gadis itu bahkan memanjat pagar pembatas yang ada di sana hanya untuk mendapatkan sebuah gambar dari sudut yang lebih tinggi.

Ya! Kau sedang apa, Kim Michelle?”

Suara itu!

Mica mengalungkan tali kamera pada lehernya dan menuruni pagar pembatas perlahan. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan mendapati seseorang yang sudah ia tunggu dari tadi telah berada di hadapannya. Ia berjalan mendekati orang itu sambil terus mengulum senyum manis.

“Akhirnya kau datang juga, oppa.”

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, “Tentu. Bukankah janji harus ditepati? Kemarilah, aku ingin memelukmu.”

Sebelum Minseok memeluk tubuh Mica yang cenderung mungil, gadis itu sudah lebih dulu memeluk dirinya. Erat dan hangat. Mereka berdua berpelukan untuk beberapa saat. Angin yang berhembus semakin kencang pun tidak menjadi halangan bagi mereka. Terlihat Mica yang menutup matanya, mencoba menikmati setiap saat dirinya dengan pria yang sangat ia sayangi.

“Oppa,” Mica melepaskan pelukannya dan pada saat itu juga, matanya tertuju pada mata sipit Minseok.

“Iya?”

“Aku rasa, sudah saatnya aku menjawab pernyataanmu waktu itu. Tapi sebelumnya, terima kasih karena telah menungguku selama dua minggu.”

Minseok lagi-lagi mengangguk, “Lanjutkanlah. Aku akan mendengarkannya.”

“Oppa, kau tahu hubungan kita saat ini bukan? Kita adalah kakak adik, walaupun bukan kandung. Apakah wajar jika kita mempunyai hubungan yang lebih? Bagaimana jika eomma dan appa tahu? Hal itu selalu mengganggu pikiranku. Aku akui, aku menyukaimu, aku menyayangimu, bukan hanya sekedar rasa sayang antara adik ke kakaknya, tapi lebih dari itu. Aku melihatmu dari sudut yang berbeda, aku tahu kau mencintaiku sebagai gadis. Aku pun begitu, mencintaimu sebagai seorang pria. Tapi apakah bisa, kita menjadi sepasang kekasih mengingat kita adalah keluarga?

“Alasan apa yang harus kita berikan pada eomma dan appa kalau mereka tahu? Bisakah mereka menerima alasan kita? Sulit bagiku untuk bilang iya padamu. Karena di saat aku ingin menyatakan bahwa aku mau, hal ini selalu datang dan terus-terusan menghantui pikiranku. Oppa, bagaimana ini?”

Minseok melihat mata wanita di hadapannya mulai basah. Langsung saja ia genggam tangan wanita itu, berusaha menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan membantunya  menghadapi dan menyelesaikan masalah jika hal yang ditakutinya benar-benar terjadi.

“Kau tahu, Kim Mica? Saudara bisa saja menjadi sepasang kekasih asalkan mereka tidak memiliki hubungan darah satu sama lain.”

“Be-benarkah?”

Eo. Suho dan Kris yang memberitahuku.”

“Apakah benar-benar tidak masalah?”

“Kim Mica, jika suatu saat hal yang kau takutkan itu terjadi, aku ada di sini. Denganmu, membantumu menghadapi dan menyelesaikan semuanya. Percayalah, bahwa kita akan bisa melewati semuanya bersama,” Minseok memberikan keyakinan pada setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.

Hening. Sesaat mereka berdua berdiri dalam diam sebelum Kim Mica kembali memulai pembicaraan.

“Bentuk perhatianmu padaku selama ini, apa hanya karena aku adikmu?”

Ani. Lebih dari itu. Perhatian itu bukan sekedar perhatian antara kakak pada adik, tapi pria terhadap wanita yang dicintainya.”

“Akhirnya, aku percaya dan aku yakin. Terima kasih sudah menjadikanku wanita yang istimewa untukmu. Terima kasih karena telah mencintaiku apa adanya, walaupun kau tahu aku sakit dan memiliki banyak kekurangan. Terima kasih, karena telah berjanji untuk selalu berada di sisiku apapun yang akan terjadi dan dihadapi nantinya,” jelas Mica seraya melepaskan senyum manisnya kembali.

Melihat senyum manis mengembang dari bibir gadis yang ia cintai lantas membuat Minseok tersenyum dan mengangguk mantap.

“Oppa,” panggilnya.

“Hm?”

I wanna be yours,” jawab gadis itu dengan cepat.

Mwo? Katakan sekali lagi Kim Mica, dengan pelan,” pinta Minseok.

Kim Mica terlihat mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakannya sekali lagi, dengan jelas, pelan dan penuh perasaan.

I wanna be yours, Kim Minseok,” ucap Kim Mica dengan mantap seraya memandang wajah Minseok, pria yang kini menjadi kekasihnya.

Minseok seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, “Kau… Kau mau? Kau serius, Mica-ya?”

“Aku sangat serius dan bersungguh-sungguh, oppa.”

Pria bermata sipit itu merasa dirinya benar-benar sangat bahagia. Penantiannya selama dua minggu ini ternyata tidak sia-sia. Gadis pujaannya menerima hati dan perasaannya. Sekarang ia bukan hanya seorang kakak bagi Mica, tetapi juga kekasih dari gadis cantik itu. Rasanya ingin sekali ia melompat karena terlalu bahagia lalu memeluk kekasihnya saat itu juga. Tetapi niat itu tidak benar-benar dilakukannya. Ia ingin terlihat bahagia dengan sifat yang wajar-wajar saja, walaupun sebenarny ia ingin melakukan hal tersebut.

Gomawo, jeongmal gomawo, Kim Mica,” tanpa pikir panjang, Minseok mendekap erat tubuh Mica.

Dinginnya udara di luar ruangan tidak mempengaruhi pasangan baru yang sedang berpelukan tersebut. Beberapa saat kemudian, Minseok melepaskan pelukannya dan mengajak Mica kembali ke dalam. Ia tidak ingin gadisnya terserang demam karena berada di luar dengan udara yang dingin tanpa menggunakan pakaian yang hangat. Ketika mereka berada di dalam kamar dan duduk berdampingan di sofa yang empuk, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk melepaskan pegangan tangan. Bagi Kim Mica, ini adalah pertama kalinya ia berpegangan tangan dengan orang lain dalam suatu status hubugan. Ia memang sudah sering dipeluk dan dicium oleh Minseok, tapi menurutnya ini adalah hal yang berbeda karena selama hidunya, Minseok adalah cinta pertama dan kekasih pertamanya.

Pada pukul delapan malam, setelah Kim Mica menyelesaikan makan malam dan meminum obatnya, Minseok memutuskan untuk pulang.

“Aku pulang dulu, besok jika ada waktu aku akan kemari lagi. Kau harus beristirahat dengan baik, arraseo?

Arraseo. Terima kasih untuk hari ini, oppa. Aku sangat senang. Setelah sampai nanti, jangan lupa untuk memberitahuku.”

“Iya. Kau tidak perlu khawatir.”

Kim Mica lagi-lagi tersenyum, “I love you, Je t’aime, saranghaeyo, jeongmal, Kim Minseok…”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Mica mengecup pelan pipi Minseok. Sebentar namun sangat berkesan dan cukup membuat Minseok terkejut sekaligus malu. Ia menatap Kim Mica yang menundukkan kepalanya. Minseok dapat melihat rona merah pada wajah gadis itu. Entah mendapat dorongan darimana, Minseok pun mengecup pelan pipi kiri Mica lalu memeluknya.

“Aku juga berterima kasih, karena kau sudah mau membagi hatimu denganku. Tidak akan aku sia-siakan semuanya. Aku akan menjaga dan melindungimu, semampuku. Dan terima kasih, karena telah percaya denganku, Kim Mica.”

Anggukan kecil dari kepala Mica lantas menjadi sebuah jawaban untuk Minseok. Sebelum akhirnya Minseok meninggalkan ruangan, ia berjanji pada Mica bahwa ia akan datang bersama Luhan lain waktu. Kim Mica naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut merah mudanya. Ia yakin ia dan Minseok akan bermimpi indah malam ini. Mica memejamkan matanya dan tidak lama kemudian, ia tertidur pulas dan bermimpi indah.

09.47 PM

From: KMS

Kau pasti sudah tertidur sekarang. Aku sudah sampai dengan selamat. Kau tahu? Mereka mengucapkan selamat pada kita. Mereka juga tidak sabar ingin bertemu denganmu. Aku rasa malam ini kita akan bermimpi indah. Selamat tidur, nae yeojachingu. XOXO.

***

August 23rd 2013

Kangdong Sacred Heart Hospital, Gildong, Gangdong-gu, Seoul

Kim Mica baru saja menghabiskan semua pesanannya ketika terdapat sebuah panggilan masuk di telepon genggamnya. Ia terlihat sedang asyik mengobrol dengan lawan bicaranya tanpa menyadari bahwa tepat di sebelahnya ada seorang pria yang mendengar dengan jelas semua pembicaraan Mica dengan lawan bicaranya tersebut. Pembicaraan itu terhenti saat pria itu berdeham pelan.

Eo? Ya, Hwayongie. Sudah dulu, ya? Nanti akan kutelpon. Bye.

“Sudah selesai dengan urusan wanitanya?”

“Hihi, sudah. Oppa, kenapa tidak bilang dulu kalau ingin menemuiku di sini? Aku kan jadi kaget,” ucap Mica sambil menyuruh Minseok duduk di hadapannya, “Oppa haus? Atau lapar? Pesan saja.”

Minseok menggelengkan pelan kepalanya, “Aku masih kenyang. Bagaimana dengan terapi mu hari ini? Kapan kau bisa pulang ke rumah?”

“Hm, mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi. Wae?

Ani. Mica-ya, apa kau bisa pergi keluar denganku? Hanya sebentar,” tanya Minseok tanpa basa-basi.

Kim Mica mengerutkan keningnya, “Keluar? Ke mana? Oppa ingin mengajakku ke dorm EXO?”

TUK! Minseok menjitak pelan kepala Mica.

Appo!

“Mana mungkin aku mengajakmu ke sana sekarang? Terlalu jauh, kau bisa kelelahan. Aku ingin mengajakmu makan di restoran yang ada di seberang jalan rumah sakit ini. Kau tahu? Makanan di sana sangat enak,” jelasnya.

“Benarkah? Apa aku bisa memesan Goopy Carbonara atau Key Lime Pie di sana? Sepertinya enak,” Minseok mendapati mata Mica seakan berbinar saat mengatakan semua jenis makanan tadi.

“Mungkin. Bagaimana? Kau mau?”

“Ayo kita pergi,” ucap gadis itu dengan penuh semangat lalu berdiri dari tempat semula ia duduk.

Kajja,” Minseok meraih tangan Mica lalu menggenggamnya dengan erat.

Mereka berdua berjalan dengan santai menuju restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Selama hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih, baru kali ini Minseok berani mengajak gadisnya berjalan keluar rumah sakit. Sebelumnya, ia hanya mengunjungi Kim Mica sambil sesekali membawakannya makanan atau bunga kesukaan Mica dan terkadang, ia juga ditemani oleh anggota EXO yang lain.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam restoran dengan interior Eropa yang sederhana namun bisa membangun kesan mewah ketika berada di dalamnya. Di tambah dengan alunan denting piano yang memainkan lagu-lagu klasik. Benar-benar menenangkan dan tentunya akan menjadi tempat kesukaan Mica.

Whoa, aku merasa berada di Eropa. Aku baru tahu kalau ternyata ada restoran sebagus ini di dekat rumah sakit,” ungkap Mica jujur sambil terus membidikkan kameranya, mengambil gambar semua sudut yang menurutnya indah dan mewah. Tak lupa sesekali ia juga mengambil gambar Minseok yang tengah asik melihat menu makanan.

“Pesanlah, samakan pesananku denganmu. Aku ingin tahu bagaimana selera makanan gadisku,” seringai jahil mencuat di sudut bibir Minseok.

“Fotokan aku dulu, baru aku akan memesan,” gadis itu menyerahkan kameranya pada Minseok dan seketika itu pula, ia mulai memasang beberapa pose yang imut nan manis.

Setelah selesai mengambil beberapa gambar, gadis itu mulai menjelajahi menu makanan apa saja yang menurutnya enak untuk dimakan. Berselang lima menit kemudian, ia telah memutuskan untuk memesan Lasagna, Key Lime Pie dan Blackcurrant Tea, masing-masing dua untuk dirinya dan Kim Minseok.

Sembari menunggu pesanan mereka diantarkan, Kim Mica dengan aktif berjalan menuju arah piano dan meminta izin kepada sang pianis untuk meminjam pianonya dan memainkannya sebentar. Setelah mendapat izin, Mica duduk dengan manis dan memainkan sebuah lagu klasik karya Mozzart layaknya seorang pianis handal. Tangannya menari indah di atas tuts piano, dan melodi yang dihasilkan pun terdengar indah dan sangat menenangkan. Kim Minseok mengabadikan setiap momen nya melalui sebuah rekaman video. Ia benar-benar menikmati permainan piano kekasihnya sekaligus terpesona melihat aura yang terpancar dari Kim Mica saat memainkan piano putih tersebut. Begitu cantik, menawan dan memikat hati.

Permainan piano itu harus terhenti ketika pesanan mereka datang. Pasangan kekasih itu membicarakan banyak hal. Seperti ingin mencari tahu lebih dalam lagi, hal apa yang masih belum mereka ketahui dari pasangan masing-masing. Kim Minseok pun tak henti-hentinya memuji Kim Mica atas permainan pianonya yang sangat indah dan menawan.

Dua jam pun berlalu dengan cepat. Pemilik restoran yang ternyata menyaksikan permainan piano dari Mica, memintanya untuk sesekali datang dan bermain piano di restoran miliknya, walaupun hanya satu jam. Mendapatkan tawaran seperti itu, tak ayal membuat gadis mungil itu sangat senang. Ia pun menyanggupi tawaran tersebut dan berjanji akan datang lain kali untuk bermain piano di restoran tersebut. Setelah membayar dan berbincang singkat dengan pemilik restoran, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di kamar rawat, Kim Mica meminta Minseok untuk menunggu sebentar lagi sebelum pulang. Minseok menyanggupi lalu duduk di sofa sambil terus memperhatikan gerak-gerik kekasihnya. Sesekali ia tersenyum melihat tingkah Mica yang terlihat seperti anak kecil. Minseok merasa ia sangat beruntung memiliki kekasih seperti Mica. Ia berharap, hubungan ini akan bertahan lama.

“Oppa,” Mica menghampiri Minseok lalu duduk di sebelahnya. Tangannya memegang sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas merah muda.

“Ini untukmu.”

Eo? Apa ini? Kau memberiku kado?”

Kim Mica mengangguk. Bibir dan matanya tersenyum. Manis sekali. Walaupun sempat bingung, akhirnya Minseok tersenyum dan mengeluarkan kotak merah muda yang berukuran sedikit lebih besar dari milik Mica.

Happy anniversary,” ucap mereka berdua bersamaan.

Mereka berdua sama-sama tersenyum lalu bertukar hadiah. Mereka sepakat akan membuka hadiah tersebut ketika Minseok telah kembali ke dorm. Tanpa pikir panjang, Minseok menarik pelan tubuh mungil Mica ke dalam pelukannya. Erat dan seakan tidak mau lepas.

“Hubungan ini sudah berjalan satu bulan. Kau tahu kan, kalau aku sangat bahagia?” Tanya Minseok.

“Aku tahu. Dan oppa juga pasti sudah tahu kalau aku juga merasakan hal yang sama, hihihi.”

“Tentu saja, kau kan gadisku,” ucap namja berpipi bulat itu dengan tulus.

“Terima kasih karena telah mau menerimaku dengan segala kekuranganku, terima kasih karena telah mengerti dengan semua yang ada pada diriku, terima kasih karena telah menjadi seorang oppa, dan kekasih untukku.”

“Aku juga berterima kasih, untuk sebulan hubungan ini. Aku berharap, kau juga bisa menerimaku dengan segala kekuranganku, dengan semua sifatku. Aku mencintaimu, Kim Mica,” Minseok melepaskan pelukannya.

“Aku juga mencintaimu, Minseok oppa.”

Tatapan mata mereka bertemu. Terpancar ketulusan dan rasa sayang yang teramat besar di sana. Rasa ingin melindungi dan menjaga satu sama lain, walau dalam jarak yang jauh sekalipun. Minseok menyentuh dan mengangkat perlahan dagu Mica. Wajahnya semakin mendekat sehingga ia bisa merasakan deru nafas Kim Mica yang tenang dan stabil. Kini, hidung mereka bersentuhan dan mereka berdua sama-sama memejamkan mata sampai pada akhirnya, bibir mereka saling bertaut. Pelan, lembut dan manis. Untuk beberapa waktu, mereka menikmati ciuman manis itu, sebelum Minseok melepaskan ciumannya. Ia menatap wajah Mica yang memerah lalu mengelus pelan wajah kekasihnya dengan lembut.

“Terima kasih untuk hari ini, Kim Michelle. Aku harus kembali sekarang. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” Minseok mengecup kening Mica, lalu berdiri.

Nado gomawo, oppa. Hari ini benar-benar indah. Aku bahagia sekali. Jangan lupa untuk membuka kado dariku, arraseo?

Ne arraseo, kau juga. Nanti akan kutelpon. Jangan nakal dan jangan berkeliaran kemana-mana. Kau harus istirahat.”

Kim Mica mengantar namjachingu nya sampai ke ambang pintu. Rasanya ia tidak ingin berpisah, tapi ia harus mengerti dengan pekerjaan Minseok.

Ne oppa. Hati-hati ya, aku akan menunggu teleponmu.”

Kim Minseok mengangguk sembari keluar ruangan. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Mica lalu berpamitan pulang. Minseok berjalan meninggalkan ruangan menuju lift dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga. Ia masih bisa merasakan betapa lembutnya bibir Mica saat ia menciumnya. Sedangkan Kim Mica yang sudah merebahkan diri di tempat tidur, terus memegangi dan mengelus pelan bibirnya. Wajahnya kembali memerah jika teringat ciuman pertamanya dengan Minseok beberapa saat yang lalu. Hari ini sungguh luar biasa untuknya, dan juga untuk Minseok.

Mica mengambil ponsel dan mulai memainkan akun sosial media miliknya. Ia mengulum senyum penuh kegembiraan ketika melihat sebuah fanbase khusus laki-laki bernama Kim Minseok itu sedang mengunggah banyak foto.

“Ey, bagaimana bisa kau selalu sadar dengan kamera yang sedang membidikmu?”

Gadis itu akan terus-terusan melontarkan komentar pada foto-foto kekasihnya jika saja seorang suster tidak masuk ke dalam kamarnya dan menyuruhnya istirahat. Suster itu baru keluar kamar, saat Mica meletakkan ponselnya lalu menarik selimut dan memejamkan matanya. Tetapi, tentu saja gadis mungil itu tidak benar-benar tidur. Sesaat setelah itu, ia kembali bangun dan mengambil kembali ponsel yang sebelumnya ia letakkan. Ia menuliskan sesuatu pada akun SNS nya.

“Tuhan, semoga aku mimpi indah malam ini,” Kim Mica menaruh ponsel disamping bantal tidurnya lalu menutup mata. Masih dengan senyum bahagia yang sama, ia berdoa di dalam hati agar namja yang ia cintai juga akan mendapatkan mimpi indah.

Seperti hal nya sebuah dream capture atau penangkap mimpi. Hanya mimpi indah saja yang bisa masuk ke dalam alam mimpi, dan mimpi buruk akan hilang. Kim Mica berharap hubungan ini akan tetap indah dan penuh kehangatan. Ia merasa, takdir hidupnya baru dimulai sekarang, bersama Kim Minseok.

So, this is our fate. Eventhought there’s a so many problem in our relationship, but in the end, I’ll choose you, to be my first and I hope, to be my last. Thanks, for our first kiss…

-FIN-

Iklan

6 thoughts on “Kimi Couple: Our Fate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s