DaeHee Entrée – Mine

Daehee Entree - Mine EGD Cover Eunroro13

DaeHee Entrée by. Eunroro13

Kim Jongdae (EXO) & Shin Eunhee | Romance – PG-15 | 3.119 words

I just own the storyline. Thanks to ‘someone’ who gave me this idea.

Please read Shin Eunhee’s Profile first

Mine

“No matter what, you’re mine”

—–

Satu helaan nafas kembali meluncur dari mulut mungil Eunhee. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya. Bahkan kedua orang yang duduk mengapit Eunhee hanya bisa melirik heran ke arah sang gadis. Bagaimana tidak heran jika sedari tadi orang yang duduk di sampingmu terus saja menghembuskan nafas tanpa henti? Jika ada tempat lain untuk duduk, mungkin akan lebih nyaman jika mereka pindah dari tempat mereka sekarang. Tapi sayangnya halte bis itu tengah penuh dipadati calon penumpang, mengingat waktu sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam. Waktu yang tepat untuk kembali beristirahat setelah menjalani rutinitas yang padat.

Bus hijau bernomor 7014 singgah tepat di depan Eunhee sekarang.  Sebagian dari mereka yang tadinya duduk atau berdiri di halte pun beranjak menaiki bis yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Tapi tidak dengan Eunhee. Ia masih betah duduk diam sembari menunduk memandangi kakinya yang berpijak pada lantai halte. Tidak sama sekali bergerak atau barang menoleh sejenak ke arah bus yang menyinggahi halte dimana ia berada sekarang. Sekilas mungkin ini hal yang wajar, mengingat alasan bisa jadi itu bukan bus yang akan membawanya ke tempat yang ia inginkan. Tapi tidakkah kau merasa curiga jika gadis itu sudah mengabaikan tujuh bus terhitung dengan bus yang tadi?

Kembali sebuah helaan nafas dihembuskan oleh sang gadis.

Dalam pikiran Eunhee sekarang tengah berputar berbagai macam pikiran yang membuat hatinya merasa tak nyaman. Dilema antara ia harus senang atau harus kesal. Entahlah, ia tak mengerti harus bagaimana dan lebih tak mengerti lagi mengapa ia bisa jadi seperti ini. Terkadang kau bisa saja mendapati hal serupa dalam hidupmu, dimana tiba-tiba kau merasa tak nyaman karena suatu hal yang kau juga tidak mengerti kenapa. Sekilas hal itu terkesan begitu sepele, tidak seberat pikiran seorang penguasa akan nasib puluhan ribu rakyatnya. Tapi hal itu juga menjadi sama beratnya atau bahkan lebih. Rasanya benar-benar tak nyaman, membuat malas untuk bahkan segera bangkit dari posisimu sekarang. Kira-kira itulah yang bisa Eunhee gambarkan tentang keadaannya. Ia ingin secepatnya lepas dari perasaan tak nyaman ini dan kembali ceria seperti biasa. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Mendengar hembusan nafas yang ketiga kalinya terhitung dari lima menit lalu ia duduk di samping Eunhee, seorang kakek dengan koper dan koran yang ia letakkan di samping kakinya menawarkan sebuah kue ke arah Eunhee. Mungkin saja kue yang ia beri tadi bisa sedikit menghibur gadis yang ia nilai sedang punya masalah, entah apa. Menyadari jika seseorang tengah mengajaknya berinteraksi, Eunhee menengok ke arah tangan dengan kue digenggaman yang terjukur ke arahnya. Dengan sebuah senyuman Eunhee berusaha mengembalikan dengan sopan pemberian kakek itu.

“Terima kasih, kakek. Untuk kakek saja.”

Kakek itu tersenyum, ia kembali menjulurkan kue itu agar Eunhee mau menerimanya. Tak enak jika terus menolak, Eunhee mengangguk dan berterima kasih pada sang kakek.

“Tidakkah hari sudah larut untuk siswa seperti mu? Ibumu pasti khawatir di rumah.”

 “Tidak. Aku tinggal sendiri, kek. Oppa juga sedang tidak ada di rumah. Lagipula aku hanya terlambat sekitar, emm satu jam?” jawab Eunhee sembari memastikan jam yang melingkar di pergelangan kirinya.

“Ah begitu. Tapi tetap saja tidak baik pulang larut bukan?”

Eunhee mengangguk membenarkan. Ucapan itu selalu disampaikan oleh seluruh orang yang dekat dengannya, Mulai dari eomma, sang kakak, dan seseorang yang entah sedang sibuk apa sekarang.

“Lalu kemana tujuanmu, anak muda?”

Kakek ini baik, Eunhee bisa percaya hanya dengan melihat mata sang kakek. Sehingga ia tak ragu menjawab kemana arah ia pulang, “Dongdaemun. Aku tinggal disana. Kakek?”

“Ilsan. Cukup jauh bukan?”

Eunhee kembali mengangguk sambil menyunggingkan senyum simpul pada sang kakek. Untuk beberapa saat perbincangan singkat mereka terhenti dan Eunhee kembali duduk menunduk sembari memainkan bungkus kue yang barusan ia terima. Sampai akhirnya gadis itu menoleh pada sang kakek yang menepuk pundaknya pelan.

“Bus tujuanmu sudah datang. Cepat naik.”

Eunhee memandang kakek itu sejenak, seolah meminta jawaban haruskah ia pulang sekarang juga. Seakan mengerti apa yang gadis itu pikirkan, kakek itu mengangguk.

“Pulanglah. Istirahat dan pikirkan semuanya dengan tenang. Sebuah rumah selalu punya magis yang membuatmu tenang, nak.”

Tersihir dengan kata-kata sang kakek, Eunhee pun mengangguk lalu berpamitan. Perlahan ia menaiki bus, memilih tempat duduk di samping kaca jendela agar bisa menyapa kembali sang kakek. Setelah kakek itu mengangguk dan melambaikan ucapan selamat jalan, bus itu pun membawa Eunhee menuju pulang ke rumah.

Setelah berganti pakaian dan memutuskan hanya memakan beberapa potong jeruk sebagai pengganjal perut, Eunhee memutuskan untuk duduk sembari menonton tv. Ia pikir dengan menonton acara favorite nya, segala gundah yang ia rasakan perlahan menghilang. Tapi ia salah. Rasa kesalnya semakin menjadi ketika melihat tayangan ulang program tv kabel bertajuk Weekly Idol. Episode dimana ada dua belas pria muda yang menjadi bintang tamu dan berbagi canda tawa bersama kedua host bertubuh cukup tambun. Eunhee bahkan sama sekali tak tertawa, sikapnya datar dan hanya terpaku pada gerakan satu orang. Sosok dengan topi dan jaket terikat di pinggang yang tengah tertawa dengan suara nyaringnya

Menyebalkan.

Eunhee merasa sebal melihat ekspresi gembira laki-laki itu. Di satu sisi ia sedikit terpakau karena Chen terlihat begitu tampan, tapi tetap saja. Kali ini apapun yang laki-laki itu lakukan, Eunhee merasa Chen begitu menyebalkan.

Cih, sok tampan.”

Tanpa disadari, Eunhee terus menggerutu ketika Chen ditampilkan di layar tv datar miliknya. Sekalipun sosok yang ia umpat hanya duduk dengan sebuah senyum yang terus terukir, Eunhee hanya menggerutu dan sesekali berdecak kesal. Sampai penghujung acara, sampai Suho dan Baekhyun memberikan kata penutup, Eunhee tetap melakukan hal yang sama. Saat program itu berakhir dan berganti dengan program yang lain, gadis itu pun mematikan tv dan melempar remote tv yang ia genggam ke sembarang arah.

Lihat, menonton tv bahkan tak membuat hatinya tenang. Masih terasa banyak hal mengganjal dan ia benar-benar merasa tak nyaman. Eunhee pun memutuskan untuk mengambil laptop miliknya dan berkelana di dunia maya. Membuka beberapa foto idola atau memperbaharui berita grup musik kesukaan mungkin bisa membuatnya kembali senang. Untuk itu pertama-tama ia membuka akun SNS yang menjadi tempat favoritenya ketika melakukan fangirling. Setelah mengetikkan username dan kata sandi miliknya, Eunhee dibawa menuju halaman beranda yang menampilkan berbagai macam pembaharuan dari teman-temannya di SNS. Gadis itu merutuki dirinya ketika ia sadar jika teman-teman SNS nya kebanyakan adalah fanbase laki-laki yang menyebalkan bernama Kim Jongdae. Berapa kalipun ia menggulirkan mouse, Eunhee akan terus mendapati postingan tentang Chen. Entah itu berupa foto, trivia, atau jadwal yang sedang dijalani kekasihnya itu.

Mengingat jika Chen adalah kekasihnya, Eunhee jadi mendengus sebal.

Karena kesal, Eunhee pun memutuskan untuk memposting ulang kiriman salah satu teman SNS miliknya yang berisi foto pemilik akun itu dengan topi kupluk hitamnya. Tampak Jinyoung memasang tanda peace dan mengambil gambar bersama seseorang pria berkepala plontos yang ia kenal bernama Harim. Tak lupa sebelum ia membagi ulang postingan itu, Eunhee menyelipkan komentar sebelum tanda petik dua yang ia yakin akan mengundang amarah dari seseorang di seberang sana.

Nah ini jauh lebih tampan ketimbang lelaki menyebalkan.

Postingan itu berhasil ia bagikan ulang di akun SNS miliknya. Eunhee tersenyum puas. Dari seratus persen tingkat kekesalannya, setidaknya sekarang sudah berkurang sepuluh persen. Eunhee merasa sedikit lebih baik, walaupun tidak sepenuhnya.

Dengan lincah ia kembali melakukan retweet pada foto Luhan saat berada di bandara. Eunhee tidak bisa menahan diri untuk tidak membaginya karena di foto itu Luhan begitu tampan. Lagi, sebelum postingan itu kembali ia bagi, Eunhee kembali meninggalkan sepatah komentar akan foto tersebut.

Luhan ge memang yang paling tampan.

Kali ini tingkat kekesalan Eunhee hanya tersisa 70 persen lagi setelah berhasil menyimpan foto itu dengan baik di folder pribadi miliknya. Ia bahkan menjadikan foto itu sebagai desktop background miliknya. Kali ini tingkat kekesalan Eunhee kembali turun menjadi 65 persen.

Gadis itu baru sadar jika sedari tadi ponsel miliknya terus berbunyi. Ia menggeser screen lock di layar dan mendapati notifikasi panggilan tak terjawab yang begitu banyak dari satu nama kontak yang sama.

53 missed called from Dae Oppa.

Eunhee mendengus. Ia berusaha untuk mengabaikan notifikasi itu dan beralih pada notifikasi lain dari kakao talk miliknya. Ada pesan grup dari Mi Ri yang berbagi foto konyol Seungwoo dan berhasil mengocok perutnya. Setelah menghentikan tawanya, gadis itu membalas pesan Mi Ri dengan mengetikkan, Terima kasih Mi Ri, Seungwoo. Tingkat kekesalanku sekarang tinggal 45 persen kkkk.

Kali ini Eunhee membuka pesan lainnya. Setelah menjawab seadanya pesan kakaknya yang mengingatkannya untuk segera makan malam, Eunhee beralih menjawab pesan Jinyoung yang sepertinya mengiriminya pesan setelah mendapati balasan tweet dari Eunhee.

Jinyoung901118 : Kau sedang kesal?

Eunroro13 : Eoh.

Jinyoung901118 : Cih. Kau kesal lalu membuat tweet seperti itu? Kau kesal lalu baru mengatai ku tampan? Huh jeongmal. Pada akhirnya kau akan membuatku mendapat tatapan sinis lagi dari kekasihmu itu.

Eunroro13 : Kkkkk. Tenang saja. Aku akan membelamu, Jinyoung-ah.

Jinyoung901118 : Ya Tuhan. Gadis ini memang suka cari masalah sepertinya. Memangnya ada apa?

Eunroro13 : Molla. Aku hanya kesal saja. Bisakah kita tidak membalas itu?

Jinyoung901118 : Hmm, baiklah. Demi mantan kekasihku akan kulakukan. Kkkk.

Eunroro13 : Ya! Kau mau mati?! Tapi tidak buruk, wahai mantan kekasih yang menyebalkan. Kkkk.

Jinyoung901118 : Mworago?! Cih, aku ini mantan kekasih yang tampan. Bukankah tadi kau mengirimkan balasan di Twitter dan berkata aku tampan?

Eunhee memutar bola matanya mendapati pesan balasan dari Jinyoung. Ia heran, mengapa bisa laki-laki itu begitu percaya diri? Gadis itu berniat akan membalas pesan Jinyoun ketika sebuah tangan berhasil mengambil ponsel dari genggamannya. Ketika Eunhee menoleh dengan tatapan menusuk tajam ke arah pelaku perebut ponselnya, sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi terkejut mendapati siapa yang telah mengganggu suasana batinnya.

Eunhee baru sadar jika mengabaikan Chen adalah hal yang fatal. Laki-laki itu pasti akan berusaha menemuinya secepat yang bisa. Belum lagi dengan fakta bahwa kekasihnya itu tau apa sandi apartemennya. Sepertinya ia harus segera mengganti sandi yang baru.

“Tidak menjawab telepon dan asik chatting dengan mantan kekasihmu? Shin Eunhee, kau ini kenapa?”

Eunhee hanya menatap datar laki-laki yang menatapnya marah. Gadis itu melemparkan pandangan ke arah lain sambil menggigit bibir kencang menahan kekesalan.

“Memangnya kenapa? Terserah aku mau berbuat apa.”

Jawaban Eunhee membuat kekasihnya itu membuka mulut tak percaya. Demi Tuhan gadis ini membuatnya bingung karena tiba-tiba bertingkah seperti orang merajuk dan mengabaikannya tanpa alasan yang jelas. Chen memutar otaknya apa akhir-akhir ini ia berbuat kesalahan, tetapi ia tidak menemukan satu hal pun yang bisa menjadi alasan masuk akal sehingga Eunhee seperti ini. Belum lagi karena tadi malam saat mereka saling menelpon satu sama lain, gadis itu terlihat bahagia saja dan terus tertawa mendengar ceritanya.

Lalu kenapa Eunhee tiba-tiba seperti ini?

Chen tidak ingin lepas kendali. Ia mengusap mukanya pelan terlebih ketika mendapati pesan dari Jinyoung yang bingung mengapa Eunhee hanya membaca pesannya saja. Dengan kesal ia mengetikkan balasan dengan tanda seru penuh ancaman agar laki-laki itu tidak menghubungi kekasihnya lagi. Selanjutnya ia menghapus chat di antara Eunhee dan laki-laki yang sempat mengacaukan hubungan mereka.

Mengalihkan kembali pandangannya ke arah Eunhee yang masih memunggunginya, Chen memutuskan untuk mengalah dan berusaha menanyakan dengan pelan mengapa Eunhee bisa kesal seperti itu. Chen yakin jika ia menyentuh gadis itu, Eunhee pasti akan menepis dan menolaknya. Karena tidak ingin mendapatkan pahit dan hilang kendali, Chen memutuskan untuk duduk sedikit berjauhan dari sang kekasih.

“Cerita padaku. Kau kenapa?”

Tidak ada jawaban. Eunhee masih bersikukuh duduk membelakanginya sembari menggigit bibirnya. Diam-diam gadis itu berusaha untuk menahan tangisnya yang entah kenapa ingin mengalir begitu saja.

Chen kembali mendesah. Berusaha sabar dan kembali mengalah.

“Baiklah. Aku akan menyiapkan makan malam dan setelah selesai kau harus makan sambil menjelaskannya padaku. Mengerti?”

Kali ini Eunhee bereaksi, “Tidak perlu. Kembalikan ponselku dan aku hanya ingin istirahat. Jadi oppa pulang saja.”

Chen bersyukur setidaknya Eunhee masih memanggilnya dengan sebutan oppa, tidak seperti saat mereka bertengkat sebelum-sebelumnya. Tapi tetap saja tidak semudah itu semuanya selesai. Saat Eunhee berniat beranjak pergi dari sisinya, ia menggenggam tangan Eunhee, menahannya dan membuat gadis itu duduk dekat di sebelahnya.

“Cerita dulu ada apa sebenarnya.”

Gadis itu masih memalingkan mukanya. Duduk diam tak bergeming sedikitpun. Karena Chen juga seorang manusia, maka ia juga punya batas kesabaran. Kali ini Chen membuat Eunhee duduk menghadapnya, berusaha membuat Eunhee menatap dan tidak menghindari tatapan tajamnya.

“Shin Eunhee, kumohon. Cerita ada apa.”

Kata-kata itu benar-benar menuntut Eunhee bereaksi dan tidak hanya diam memendam semuanya sendiri. Eunhee tidak bisa mengelak dari tatapan itu, ia benar-benar tidak bisa menghindarinya. Beberapa saat kemudian, gadis itu melemaskan kedua bahunya, menunduk dan mulai terisak.

“Menyebalkan. Oppa benar-benar menyebalkan.”

Chen panik mendapati kekasihnya yang mulai menangis. Ia benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang ia hadapi sekarang. Segera saja laki-laki itu meraih bahu Eunhee, memaksanya untuk bercerita secepatnya.

“Ada apa? Hey jangan menangis Eunbee­-ah. Memangnya aku salah apa?”

“Berhenti tebar pesona, Kim Jongdae! Kau tidak tahu kan fans-fans mu itu benar-benar menyebalkan! Dasar genit! Menyebalkan!”

Yang dicecar hanya terdiam mendengarkan, walaupun setelahnya ia berusaha mati-matian untuk tidak tertawa berguling-guling mendengar apa yang dikatakan kekasihnya barusan.

“Kau tidak tahu bagaimana sesaknya saat mereka memuja oppa! Mengaku-ngaku jika oppa kekasih mereka, berebut satu sama lain! Mereka tidak tahu saja jika ‘kekasih’ dari yang mereka akui sebagai kekasih itu ada di hadapan mereka!”

Eunhee meluapkan kekesalannya. Ia benar-benar tidak tahan lagi memendam dan menahan semuanya. Ini puncak dari seluruh kesabarannya selama ini. Ketika tadi pagi ia mendengar teman-teman satu kelasnya berebut menjadikan Chen sebagai pasangan khayalan mereka. Mendengar gadis-gadis genit dengan gaya berlebihan itu memuja-muja kekasihnya, membuat hatinya panas. Belum lagi ketika ia berhasil melirik foto yang ditunjukkan salah satu anggota geng gadis genit itu. Foto yang paling dibenci Eunhee, foto Chen yang tengah menyingkap sedikit ujung bajunya saat sedang berada dalam pemeriksaan di bandara. Semuanya kembali bertambah menyebalkan ketika salah satu di antara mereka membuat update Kakao Talk dengan pesan jika Chen benar-benar manis dan ia menyukainya. Lebih parahnya lagi saat gadis genit itu mengganti nama akunnya dengan embel-embel ‘Chen’ dan emoticon peluk di sampingnya. Padahal sebelum-sebelumnya gadis itu mengakui jika ia cinta mati pada Luhan.

Rupanya gadis itu benar-benar menguji kesabarannya.

Chen mengulum senyum penuh arti. Walaupun ia sedikit kecewa, tetapi tidak bisa dipungkiri jika ia juga senang karena gadis itu terang-terangan menunjukkan jika ia cemburu. Sekalipun alasan kenapa Eunhee cemburu benar-benar membuat perutnya geli. Chen menangkup wajah basah kekasihnya. Dengan lembut ia berusaha menghapus derai air mata yang membuat mata gadis itu berubah sembab.

“Jadi karena hal itu? Kau cemburu?”

Masih dengan terisak, Eunhee mencoba untuk mengelak, “Tidak! Aku hanya kesal.”

Chen setengah mati menahan tawa dan mengalah dengan mengangguk membenarkan.

“Kau tidak senang orang-orang menyukaiku? Kau lebih senang aku tidak disukai orang lain?”

Eunhee tertegun sejenak, setelahnya mencoba melepaskan tangkupan tangan Chen dari wajahnya, “Bukan begitu. Tapi rasanya benar-benar menyebalkan! Oppa tidak akan mengerti bagaimana rasanya.”

Gadis itu kembali menunduk, kembali mengeluarkan air dari sudut mata kirinya, “Benar-benar menyebalkan karena aku tidak bisa mengaku kalau aku kekasihmu oppa. Aku pasti dicap gila oleh mereka. Aku juga ingin berteriak kalau oppa kekasihku yang sebenarnya. Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa egois seperti itu.”

Chen memeluk Eunhee, berusaha menenangkan kekasihnya itu. Perlahan ia mengusap lembut puncak kepala Eunhee, memohon agar gadis itu menghentikan tangisnya. Beberapa menit kemudian Eunhee melepaskan dirinya dari pelukan erat itu.

“Tuh kan oppa menyebalkan. Oppa membuatku menangis.”

Chen tersenyum lalu mengacak pelan rambut kekasihnya, “Baiklah, maafkan aku.”

Eunhee mengerucutkan bibirnya, tetapi ia mengangguk setelahnya. Chen tersenyum dan kembali menangkupkan kedua belah tangannya di pipi Eunhee.

“Siapa bilang aku tidak mengerti? Memangnya kau tidak pernah membuatku cemburu setengah mati seperti ini?”

Eunhee diam. Dalam hati ia menghitung berapa kali kejadian mereka nyaris dan bahkan bertengkar hebat hanya karena cemburu.

“Menyimpan dan mengidolakan laki-laki lain padahal kekasih sendiri juga seorang idola, belum lagi mengabaikanku hanya karena chatting dengan mantan sendiri. Coba bayangkan, apa aku juga tidak akan cemburu? Aku juga tau rasanya, Eunbee-ah.”

Gadis itu menunduk, berusaha menghindari tatapan Chen yang begitu sulit bagi hati dan pikirannya. Chen tersenyum melihat tingkah laku Eunhee dan memilih untuk mengusap pipi lembut kekasihnya.

“Memangnya salah jika mereka mengidolakanku? Kau juga mengidolakan Kris dan Luhan hyung. Tapi aku berusaha biasa saja.”

Eunhee berdecak kesal, “Dia itu menyebalkan sekaligus berlebihan. Aku tidak suka orang menyebalkan seperti dia suka sama oppa. Memang jahat sih, tapi rasanya benar-benar menyebalkan entah kenapa.”

“Jadi sekarang mengerti kan bagaimana rasanya kalau aku cemburu?”

Tanpa sadar Eunhee mengangguk membenarkan. Lima detik setelahnya gadis itu menggelengkan kepala, menyadari kalau baru saja mengakui hal yang sedikit memalukan baginya.

Chen pun tertawa. Ia tidak bisa lagi menahannya karena sudah memendam sedari tadi. Eunhee mengerucut sebal melihat Chen malam mentertawakannya. Ia memukul pundak Chen pelan berusaha membuat laki-laki itu menghentikan tawa yang membuatnya merona.

Ya, hajima.”

Chen berusaha menghentikan tawa sebisanya, walaupun sesekali ia terkekeh tapi ia tidak ingin Eunhee kembali merajuk setelahnya. Untuk itu ia kembali menegakkan posisi duduknya menghadap Eunhee, berdeham beberapa kali supaya kembali tenang dari tawanya. Melihat ekspresi sebal kekasihnya, membuat Chen mencubit Eunhee gemas lalu tersenyum penuh lebar.

“Coba pikirkan. Apakah mereka mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang kau alami?”

Gadis itu tidak mengerti dengan pertanyaan kekasihnya itu. Ia memiringkan kepalanya sembari melontarkan tatapan bertanya meminta penjelasan lebih yang mengundang senyum lebih lebar dari kekasihnya itu.

Chen pun menggenggam tangan Eunhee dengan kedua tangannya. Matanya mengisyaratkan Eunhee menatap genggaman erat tangan mereka berdua, “Lihat. Sekalipun mereka bebas mengakuiku sebagai milik mereka, tapi mereka tidak bisa merasakan genggaman erat tanganku padamu bukan?”

Eunhee diam tidak menjawab. Pandangannya fokus menatap genggaman erat tangan mereka dengan jantung berdetak kencang. Kembali, Chen hanya mengulas senyum melihat bagaimana reaksi kekasihnya. Perlahan ia menarik Eunhee ke dalam dekapannya, membuat jarak di antara mereka benar-benar tereliminasi hingga keduanya bisa merasakan irama kencang jantung satu sama lain.

“Mereka juga tidak bisa dipeluk seerat ini olehku. Lihat, siapa yang lebih beruntung?”

Walaupun ada nada percaya diri yang kental dari apa yang Chen katakan barusan, Eunhee tidak bisa mengelak jika hatinya tengah meletup-letup senang. Ia berusaha merekam momen indah ini dan berjanji tidak akan pernah melupakan bagaimana hangatnya Chen ketika memeluknya. Benar, ia jauh lebih beruntung dari gadis-gadis di luaran sana. Eunhee bisa merasakan jika kekasihnya itu menyayanginya.

Chen regangkan pelukan mereka walaupun jarak di antara mereka tidaklah terlampau jauh satu sama lain. Laki-laki itu kembali berkata, “Dan setelah ini juga tidak akan pernah mereka dapatkan sampai kapanpun”

Eunhee pun hanya bisa terpaku di tempat. Chen berhasil membungkam bibirnya dengan sempurna.

Bahkan hingga laki-laki itu sudah pulang, Eunhee bisa merasakan sentuhan hangat pada bibirnya. Tangan gadis itu tidak berhenti menutupi permukaan bibirnya dan terus mengulas senyum bahagia sedari tadi. Sebutlah ia gila, karena memang benar itu adanya. Eunhee gila, karena ia bahagia. Bahagia karena akhirnya ia bisa melupakan perasaan tidak nyaman yang hampir merusak keseluruhan harinya. Bahagia karena ia mendapati bagaimana Chen menyayanginya seperti ia menyayangi laki-laki itu sebaliknya. Lebih bahagia lagi, saat mengetahui bagaimana laki-laki itu mengungkapkan cara bagaimana ia menyayangi Eunhee. Bisa dirasakan bagaimana lembutnya dan hampir saja membuat jantungnya berhenti berdetak.

Tidak hanya sampai disitu. Eunhee ingat bagaimana ia terpaku menatap Chen ketika laki-laki itu mengatakan hal yang kembali membuat jantungnya semakin berdegup cepat.

“Bukankah aku sudah pernah bilang? Aku milik Eunhee dan tidak akan melepasnya lagi. Jadi sampai kapanpun aku milikmu, dan kau akan selalu jadi milikku.”

Note : Seharusnya aku melanjutkan fox rain. Tapi malah bikin ff yang ini -_- Semoga ga bingung ya. Aku ngebut bikin semuanya dalam semalam saking ‘euh’ nya sama si ‘someone’. Take a note! Chen is mine! ><

Iklan

20 thoughts on “DaeHee Entrée – Mine

  1. Wkwkwk lucu banget pas baca adegan eunhee nangis karena dia cemburu sama chen tapi gak mau ngakuin oh ya seungwoo itu yang tampil di mama 2013 bukan? *maklum baru tau ^^v ditunggu lanjutannya ^^

    • makasih banyak ya 😀
      hihihi aku senang karena banyak yg jadi suka sama jongdae ❤
      tungguin aja ya, doain semoga cepat selesai lanjutannya 🙂

    • Makasih banyak ya :”D
      Hihihi maaf ya. Aku ga bisa nahan diri buat ga publish ff ini secepatnya. Maaf ya jadi bikin bingung ._.v
      Hai Jongdae bias~ Salam kenal dari istrinya Jongdae~ HAHAHAHA. Semangat juga buat km ya 😀

  2. Kok sweet bngt siih :’)
    Melting melting gimanaa gitu. Sayang aku ga seberuntung eunhee ><
    Pokonya fighting! Ditunggu lanjutannya ❤

  3. Aaa..so sweet, bner2 gak ngebayangin punya pcar kya gtu, ak jongdae biased juga soalnya..
    Slam kenal ya thor, ak readers baru 😀

    • Halo Jongdae Biased! Salam kenal ya 😀 Iya nih aku juga suka jongdae bahkan hampir terobsesi jadi istrinya hahaha. makasih ya sudah mau mampir dan baca ff aku
      Hayoo ngebayangin Jongdae sampai mana itu? :p

  4. hai, kak,, aku udah lama baca ini baru ingat wktu itu cma lewat hpe dan gak smpat komen >,<
    aaaa, eunhee cemburu,. ya ya, mo gimana lagi, itu intuisi alamiah kalo bias sedang di klaim jadi milik orang lain, heuheu,.
    tapi senangnya eunhee dia langsung diklaim(?) jongdae abis ngegalau karena itu,.
    so sweet,. *0*

    • haloooo aku baru balas sekarang -____________-
      maaf ya TT
      iya nih. sebel juga kadang soal klaim mengklaim gitu. sebagai pacar resmi yang tersembunyi kan keki juga wkwkwkwk
      ah soal klaim yang itu,,, aku jadi malu *tutupwajah

    • hihihi siapa yang ga deg-degan coba kalau Chen sudah memulai jurus lembutnya dia. bayangin segentle apa perlakuannya dan seganteng apa muka dia… *pingsan
      makasih banyak ya 😀

  5. Thor ga senfaja menemukan ff ini ,mau tanya awal ff ini judulnya apa ya??
    Over all crtanya keren ^^
    Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s