DaeHee Entrée: Fox Rain – Oraenmanieyo

Fox Rain Oraenmanieyo-01 (EGD Eunroro Req)DaeHee Entrée by. Eunroro13

Kim Jongdae & Shin Eunhee | Romance | 3.781 words

I just own the storyline. Thanks to tetua couple & malmal

special thanks to Ald for beautiful poster. Enjoy reading ^^

Read Shin Eun Hee’s Profile first

Fox Rain: Oraenmanieyo

“Lama tak berjumpa, Shin Eunhee”

—–

Note : setting waktu ff ini lebih mundur daripada setting waktu sebelumnya. Masih saat EXO promo ‘wolf’ dan sekitar 2 minggu setelah fansigning EXO di Busan

Eunhee senang hari ini. Seminggu yang lalu ia baru saja menyelesaikan setumpuk ujian yang benar-benar menguras pikiran dan tenaganya. Ditambah lagi karena hari ini adalah hari terakhirnya di sekolah. Gadis itu terkekeh ketika membayangkan hal apa saja yang akan ia lakukan selama liburan musim panas. Eunhee dengan sigap meraih ponsel yang ia simpan di saku seragam sekolah dan mengusap layar ponsel itu sampai akhirnya menampilkan kalender dimana ia sudah menyusun rencana-rencana liburan impiannya kali ini. Matanya berbinar ketika melihat tanggal yang sengaja ia beri tanda merah sebagai corak spesial. Ia membuka catatan agenda pada hari itu dan seketika tersipu malu. Tangannya bergerak kikuk ketika hendak membuka pesan yang baru ia terima tadi malam.

Belajar yang rajin, Eunbee-ah. Minggu depan kita jalan berdua, eoh? Aku dapat libur satu hari dan kurasa kencan di awal musim panas tidaklah buruk.

Eunhee merona malu tatkala membaca ulang isi pesan itu. Kilasan bayangan apa saja yang akan mereka lakukan saat kencan membuatnya gugup setengah mati. Eunhee menggeleng tak ingin berkhayal terlalu jauh. Yang jelas, ia benar-benar tak sabar menanti liburan musim panas tahun ini dan menghabiskan seluruh waktunya bersama orang yang ia sayangi.

Mi Ri yang duduk berhadapan dengan Eunhee sembari menggigit roti kacang kesukaannya, mengernyit heran. Ia bergidik ketika melihat sahabat yang duduk di depannya itu terus saja mengumbar senyum tersipu tiada henti sambil menatap ponsel. Kala Eunhee menggeleng-geleng tak jelas apa maksudnya, Mi Ri segera menyikut pelan lengan Seungwoo dan mengendikkan dagu menuju arah Eunhee.

“Dia kenapa?” bisik Seungwoo.

“Tak tahu. Dari gigitan pertama sampai roti ku habis ia terus seperti itu. Apa dia gila setelah Gwangchul oppa  menghukumnya?”

“Bisa saja.”

Mi Ri dan Seungwoo saling menatap dan kemudian menggeleng takut. Mereka melayangkan tatapan seram dan perihatin pada Eunhee yang masih fokus tersenyum sembari mengusap layar ponselnya.

“Bukankah biasanya orang yang sedikit terganggu lebih suka mengusap-usap boneka?”

“Mungkin Eunhee menjadi pelopor tren baru bagi orang yang terganggu,” timpal Mi Ri asal. Gadis itu terkesiap ketika mendapati Eunhee tengah menatapnya.

“Kalian sedang membicarakan aku?”

Baik Seungwoo maupun Mi Ri sama-sama terkejut, tidak siap dengan pertanyaan Eunhee yang dirasa begitu tiba-tiba. Seungwoo menggeleng tak jelas dan mengundang reaksi heran dari Eunhee di seberang mereka. Sejurus kemudian ia menyikut Mi Ri dan jadilah Mi Ri secepatnya berusaha sadar dan menetralkan suasana yang ada.

“Oh tidak. Kami tak bicara apapun kok. Lanjutkan saja.”

Eunhee yang awalnya sedikit mengernyit tak percaya begitu saja, pada akhirnya mengangguk. Seungwoo dan Mi Ri pun langsung menghembuskan nafas lega. Dari ekor mata keduanya mereka tengah memperhatikan Eunhee dengan lirikan khawatir. Barangkali saja Eunhee benar-benar dalam keadaan terguncang atau apa. Bisa gawat jika gadis itu tiba-tiba mengamuk nantinya. Sungguh pikiran yang berlebihan muncul dari Mi Ri maupun Seungwoo. Tapi pada kenyataannya mereka benar-benar tengah menaruh perhatian lebih pada sikap Eunhee yang benar-benar aneh.

Murid-murid semakin berhamburan memadati kantin sekarang. Tak heran karena hari ini merupakan hari bebas bagi semua murid dan guru-guru tengah mengadakan pertemuan bersama orang tua dan wali murid di aula. Setelah puas mengamati Eunhee dan menarik kesimpulan bahwa gadis itu hanya gila seperti biasanya, kini Eunhee dan kedua sahabatnya itu tengah menikmati pesanan mereka yang baru saja selesai dibuat.

“Orang tuamu datang Eunhee-ya?”

Eunhee menatap Mi Ri sejenak sembari menyeruput ramen, barulah beberapa detik setelahnya gadis itu menjawab, “Tidak. Mereka mana mungkin kesini hanya untuk itu.”

“Kalau begitu Gwangchul hyung lagi yang datang? Aigoo, bagaimana bisa dia bertahan selama minimal satu jam ditatap oleh Guru Yang?”

Seketika Eunhee terkekeh mendengar lamunan Seungwoo. Ia bisa membayangkan bagaimana usaha keras kakaknya menghindari tatapan genit dari salah satu gurunya itu. Guru yang pernah ia rekomendasikan menjadi pasangan kencan buta untuk kakaknya.

“Tenang saja. Gwangchul oppa tak mungkin diapa-apakan oleh Guru Yang. Ada satu orang wali yang lebih menarik ketimbang kakak mu itu Eunhee-ya.”

“Siapa?” tanya Eunhee penasaran. Jika apa yang dikatakan Mi Ri tadi benar adanya, maka orang itu pastilah laki-laki yang sangat tampan, muda, dan mempesona. Guru Yang tidak mungkin membuang waktu berharganya hanya untuk menatap laki-laki yang biasa saja.

Molla. Tapi di akun SNS guru Yang beliau berkata harus mendapatkan foto dan tanda tangan orang itu. Guru Yang tidak menjelaskan siapa orang itu. Bahkan mention ku tidak dijawab.”

“Apakah seorang idol sedang berkunjung kemari?”

Ketiganya berubah menjadi sibuk menerka-nerka siapa gerangan yang tengah mendapatkan perhatian dari Guru Yang. Sampai beberapa menit kemudian mereka menyadari betapa bodohnya harus repot-repot menebak tak jelas seperti itu, bertanya dengan orang tua atau wali mereka yang hadir pada rapat akan menjadi cara yang mudah untuk mengetahuinya. Dengan sigap mereka langsung mengirimkan pesan pada wali mereka saat itu juga.

Tak sampai tiga menit kemudian, ponsel Eunhee lah yang pertama kali berdering. Gwangchul tak disangka-sangka membalas pesannya dengan cepat. Bukti betapa kakaknya itu benar-benar bosan mengikuti rapat yang menjadi agenda tahunan sekolahnya, setidaknya itu yang terpikir dalam benak Eunhee. Tapi siapa yang sangka jika balasan pesan yang ia terima benar-benar bertolak belakang dengan apa yang mereka harapkan.

Mana kutahu. Aku tidak datang. Kau jangan lupa tanyakan pada orang tua Mi Ri nanti seusai acaranya.

Ketiganya menghembuskan nafas kecewa. Eunhee apalagi. Ia merasa sedikit lebih kecewa karena dengan begitu tidak ada satupun wali yang datang atas nama dirinya. Melihat Eunhee dengan bahunya yang merosot drastis, Seungwoo menepuk pelan bahu gadis itu menenangkan. Laki-laki itu bisa memahami perasaan Eunhee sekarang. Karena situasi yang ia hadapi juga tak jauh berbeda dari Eunhee. Walaupun kali ini ia harus bersyukur karena manager nya berbaik hati untuk datang.

“Apa ini. Yang ada makin penasaran saja jadinya. Eomma bahkan ikut-ikutan tidak membalas pesanku. Manager-mu bagaimana? Sudah ada balasan?” tanya Mi Ri.

“Belum. Aku rasa hyung tengah tertidur sekarang di pojok aula,” desah Seungwoo yang mengundang reaksi yang sama dari Eunhee maupun Mi Ri.

Mereka pun memutuskan untuk menuju aula, menunggu acara rapat itu selesai dan melihat langsung siapa sosok yang menarik pusat perhatian Guru Yang. Sekalipun Eunhee awalnya menolak karena menganggap hal itu sebagai hal yang kurang berguna, toh pada akhirnya ia pasrah mengikuti langkah kedua sahabatnya menuju aula.

“Lihat. Guru Yang membalas mention ku.”

“Cepat buka!” perintah Eunhee dan Seungwoo secara bersamaan.

Hee? Artis Geotjimal? Siapa dia?” tanya Mi Ri heran.

Geotjimal? Siapa artis yang tukang bohong? Ayy~ jangan bilang Guru Yang tengah mengajak kita main tebak-tebakan.”

Seolma.”

Baik Eunhee maupun Seungwoo atau Mi Ri berpikir siapa artis yang dimaksud guru mereka itu. Ketiganya mendesah karena jawaban yang mereka temukan mempunyai presentasi kenyataan yang sangat tipis.

“Aku tak yakin jika disini ada saudara member Bigbang.”

“Apa hubungannya dengan Bigbang?” tanya Seungwoo yang tak mengerti. Eunhee dan Mi Ri pun menatap Seungwoo malas karena lemotnya sahabat mereka yang satu itu.

“Lagu Bigbang, Seungwoo-ya,” jawab Eunhee dan beberapa detik ke depannya Seungwoo akhirnya mengangguk mengerti.

Ketiganya pun memutuskan untuk duduk di bangku depan aula dan menunggu hingga acara itu selesai. Eunhee jatuh tertidur di bahu Mi Ri yang tengah mencoba meminta jawaban pasti dari Guru Yang lewat SNS miliknya. Sementara Seungwoo yang benar-benar bosan, akhirnya memutuskan untuk merawat Pou nya yang tidak sempat terurus karena kesibukannya selama ini.

Lima belas menit kemudian, apa yang mereka tunggu akhirnya tiba. Satu persatu orang tua dan wali murid bersamaan dengan Kepala sekolah dan para guru meninggalkan ruangan. Mi Ri dan Seungwoo –minus Eunhee yang masih saja tidur— mengamati dengan seksama satu persatu orang yang keluar dari aula. Hingga mata mereka menangkap sosok laki-laki berkacamata yang begitu bersahaja dengan mantel warna hitam miliknya.

Aaa! Geotjimal, geotjimal, geotjimal!” pekik Mi Ri yang kini mengerti dan tahu siapa orang yang dimaksud.

“Ya Tuhan! Sunbaenim, annyeonghaseyo,” sapa Seungwoo yang berusaha menyapa orang yang berhasil membuat mereka penasaran sedari tadi. Laki-laki itu membalas sapaan Seungwoo dengan ramah.

Ya! Eunhee-ya, bangun. Orang itu sudah ada di depan kita.”

Eunhee menggeliat karena tidurnya terganggu oleh desakan Mi Ri. Ia mengusap-usap matanya malas sambil sesekali menutupi mulutnya yang tengah menguap.

“Siapa sih?” tanya Eunhee parau dan malas karena masih sangat mengantuk.

Mi Ri dan Seungwoo hanya diam tak menjawab, lain halnya dengan laki-laki berkacamata yang berhasil mereka temui tadi. Ia hanya menggeleng tak percaya melihat Eunhee sekarang.

Ya! Kau hanya bisa tidur saat di sekolah apa? Dasar anak malas!”

Eunhee mau tidak mau langsung terbelalak mendengar suara yang tidak asing di telinganya itu. Saat matanya berhasil melihat dengan sempurna, ia memundurkan tubuhnya ke belakang karena sedikit terkejut melihat siapa yang menegurnya barusan.

Maldo andwae.

“Kenapa bisa ada disini?” tanya Eunhee dengan terbata-bata karena masih tersentak kaget. Melihat reaksi Eunhee maupun laki-laki itu sudah terlebih dahulu membuat Mi Ri dan Seungwoo tercengang tak percaya. Jangan bilang jika orang ini adalah wali Eunhee?

“Apalagi selain ikut rapat sebagai wali mu. Ya, seharusnya kau memelukku kan, jokhattal?”

Eunhee hanya terdiam dengan mulut setengah terbuka dan wajah yang masih memasang ekspresi tersentak.

Samchon!”

“Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku kalau Lee Juck itu paman mu?”

Mi Ri tak henti menggerutu sedari tadi. Eunhee hanya meringis meminta maaf sambil sesekali melirik sang paman yang tengah berbincang dengan wali kelasnya. Sementara Seungwoo terus memandangnya tajam dan membuat gadis itu sedikit merasa aneh dan bergidik tak nyaman.

“Kau… Kenapa bisa jadi keponakan sunbaenim? Bukankah sunbaenim lulusan universitas Seoul? Tapi— Eunbo. kau kan—“

Mengerti dengan kalimat gantung yang dilayangkan Seungwoo padanya, Eunhee langsung melirik tajam sahabatnya itu, “Ya! Memangnya aku tidak pintar apa? Nilai sastra ku bahkan jauh lebih tinggi daripadamu, huh. Menyebalkan.”

Eunhee menggerutu kesal. Saat mendapati jika artis yang mereka maksud adalah pamannya, Eunhee langsung ditarik oleh pamannya itu menuju ruang guru. Rupanya eomma tengah berusaha menggali kebenaran akan nilai-nilainya sekarang. Sampai-sampai ia menyuruh adik laki-lakinya untuk mengeceknya langsung ke sekolah. Bukannya Eunhee tidak senang jika pamannya itu kini menjadi walinya. Tapi tatapan menilai dan penasaran dari murid-murid yang lain ketika ia ditarik oleh seorang Lee Juck membuatnya tak nyaman. Oh ayolah, apakah dia sebegitu tidak pantasnya mendapatkan paman seorang musisi dan penulis lagu terkenal?

Daebak Eunhee-ya. Yang lain jadi memperhatikan mu sekarang.”

“Lebih daebak mana ketimbang sahabat yang tak tahu siapa paman sahabatnya sendiri?” sinis Mi Ri.

“Mianhae Mi Ri-ya. Aku bahkan jarang bertemu dengan paman. Oh ayolah. Apakah hal ini penting?”

Mi Ri menatapnya dengan tatapan sebal dan datar. Eunhee mengusap-usap tangannya di depan  wajah seraya memohon pada sahabatnya itu. Mi Ri akhirnya mendesah pasrah walaupun sama sekali tidak menurunkan tangannya yang sedari tadi terus disilangkan di depan dada.

“Baiklah. Tapi kau harus janji.”

“Apa?” tanya Eunhee cepat. Walaupun ia tidak begitu mengerti apa kesalahannya, tetapi daripada ribut lebih baik ia mengalah saja.

“Kau harus dapatkan tanda tangan pamanmu untuk Ibuku, eoh. Kau kan tau aku gagal mendapatkan tanda tangan artis kesukaan Ibuku waktu ulang tahunnya bulan lalu.”

Eunhee menatap Mi Ri dengan tatapan yang datar, “Hanya itu?”

Mi Ri tak ragu mengangguk dengan wajah polosnya, “Iya. Kau sih tak memberitahuku kalau Lee Juck adalah pamanmu. Tahu begitu aku bisa memintanya lewat mu dari dulu. Ini akan jadi hadiah paling hebat untuk Ibuku.”

Kali ini giliran Eunhee yang menghembuskan nafas pasrah, “Baiklah.”

Mi Ri pun memekik senang dan langsung memeluk sahabatnya itu erat. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Mi Ri berdoa agar sahabatnya ini akan jauh lebih terbuka padanya seperti ia yang benar-benar terbuka pada Eunhee. Tak terkecuali.

Eunhee tak tahan untuk tidak bertanya dengan pamannya yang tengah lahap menyantap makan siang. Mereka sudah pulang dari sekolah sejak tiga puluh menit yang lalu dan memutuskan untuk mampir makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran. Merasa keponakannya tidak kunjung menyuap makanan dan hanya terdiam memperhatikannya, Lee Juck pun mendongak menatap Eunhee balik lalu bertanya kenapa.

Eomma benar-benar menyuruh samchon untuk mengawasi nilai ku?”

Lee Juck mengetuk dahi Eunhee pelan dan membuat keponakannya itu berteriak tak terima, “Kau langsung menginterogasi paman mu saat akhirnya bertemu sejak sekian lama? Ya Tuhan! Bagaimana bisa keponakan ku menjadi nakal seperti ini.”

Mulut Eunhee mengerucut seketika, Lee Juck hanya menggeleng tak percaya melihat kelakuan keponakannya itu.

“Ya singkatnya begitu. Eomma mu mengomel karena aku dianggap tidak menaruh perhatian pada keponakan sendiri.”

Eunhee mengangguk membenarkan dan langsung dibalas putaran bola mata oleh sang paman.

“Paling tidak aku sering mengawasi mu dan Gwangchul secara diam-diam. Memangnya aku tidak tahu apa kalau beberapa minggu yang lalu kau pergi ke Busan?”

Eunhee tersentak kaget. Bagaimana bisa pamannya tahu akan hal itu? Oh kalau pamannya bisa tahu, jangan bilang jika kedua orang tuanya juga tahu? Tidak mungkin kan jika mereka tahu perihal mengapa ia pergi ke Busan?

“Apa? Tidak bisa jawab kan? Hah dasar anak muda. Lain kali kalau berpergian jauh seperti itu minta izin terlebih dahulu padaku. Memangnya tidak cukup apa ikut acara fansigning di sekitar Seoul saja?”

Syukurlah jika pamannya hanya menangkap hal itu. Berpura-pura masih sedikit kaget dengan perkataan sang paman, Eunhee mencoba bertanya kembali, “Memangnya Eomma bilang apa lagi?”

“Hanya itu saja. Dia menyuruhku menggantikan Gwangchul ikut rapat dan berkonsultasi dengan gurumu.”

Gadis itu mengangguk mengerti. Tak bisa dipungkiri ia senang karena eomma nya ternyata masih begitu perhatian padanya walaupun didera kesibukan yang padat di luar sana. Eunhee berterima kasih lalu beralih menyantap makanannya yang sudah ia pesan sejak tadi. Lee Juck melihat keponakannya itu sebentar, mengamati dengan seksama anak gadis kakaknya yang tumbuh dengan cantik dan baik. Lee Juck tersenyum pelan kemudian ikut makan bersama Eunhee menikmati siang Seoul yang begitu cerah.

Di perjalanan pulang, keduanya kembali berbincang karena sudah lama tidak bertemu. Lee Juck habis-habisan menggoda Eunhee karena paman gadis itu yakin jika ia tengah memiliki pacar sekarang. Eunhee mati-matian mengelak sampai akhirnya ia bisa menghentikannya dengan berpura-pura menelpon sang bibi lalu mengadukan perbuatan suami bibinya itu. Merasa kalah, akhirnya Lee Juck memutuskan untuk mengakhiri candaan mereka dan berganti menuju topik yang lain.

“Kalau butuh apa-apa kau harus segera menelpon paman, eoh,” pesan Lee Juck sesampainya mereka di depan gedung apartemen Eunhee.

Gadis bermarga Shin itu pun mengangguk, memeluk pamannya sebentar lalu berpamitan. Setelah mobil sang paman melaju pergi, ia pun segera memasuki gedung apartemen dengan langkah riang. Eunhee baru saja hendak naik lift ketika seseorang menarik tangannya dan membuat tubuhnya mendekam dalam pelukan seseorang.

“Tadi itu siapa?”

Eunhee tersenyum karena ia kenal betul dengan suara dan aroma parfum yang mendera hidungnya.

“Kenapa memangnya?”

“Kau memeluknya dengan cukup erat.”

Eunhee tertawa pelan, takut jika Chen yang tengah memeluknya menjadi tersinggung. Ia mencoba meregangkan pelukan itu agar bisa melihat wajah pasangannya yang tertekuk karena cemburu. Eunhee sebisa mungkin mencoba mengontrol detak jantungnya tatkala mendapati sorot tajam Chen tepat menusuk kedua bola matanya. Gadis itu tersenyum sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali memeluk Chen.

“Jadi oppa cemburu?”

Eunhee bisa merasakan jika detak jantung Chen berubah lebih cepat daripada biasanya, pertanda jika laki-laki yang tengah ia dekap itu tidak terlalu senang dengan pertanyaannya barusan.

“Memangnya tidak boleh?”

Eoh. Tidak boleh.”

Kali ini Eunhee tidak bisa menyembunyikan suara tawanya. Ia terkekeh pelan saat Chen menatapnya tak percaya. Setelah memulihkan tawanya, Eunhee pun berujar.

“Memang tidak boleh kan cemburu dengan seorang paman? Oppa, dia itu pamanku,” kekeh Eunhee.

Chen pun merona dan mendesah lega karena ternyata ia hanya mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak. Dasar, gadis ini sudah mulai berani menjahili ku ternyata. Melihat gadisnya yang masih terkekeh karena ulahnya, Chen pun menggelitiki pinggang gadis itu karena merasa sebal. Eunhee tentu saja menggeliat menghindari serangan mematikan itu. Tangan Eunhee menangkap tangan kekasihnya, menggenggamnya agar Chen tak melakukannya lagi.

Arraseo, mianhae.”

Chen mendesah, ia teringat apa tujuannya kemari untuk menemui gadis itu. Ia mengusap sayang puncak kepala Eunhee sebelum berkata, “Ayo naik ke atas. Kau harus siap-siap.”

Eunhee mengernyitkan dahinya bingung, “Memangnya ada apa?”

Chen menyeringai membuat Eunhee merasa tidak nyaman dan memundurkan dirinya setengah langkah ke belakang. Ya Tuhan, kenapa perasaan Eunhee berubah menjadi tak enak begini?

“Kau kan sudah mulai liburan. Kau lupa apa pesanku semalam?”

Eunhee merona, ia ingat betul apa yang dimaksud kekasihnya itu. Tapi bukannya laki-laki itu berjanji melakukannya minggu depan? Kenapa tiba-tiba mengajaknya kencan mendadak seperti ini?

“Daripada mematung dan merona seperti itu lebih baik cepat naik lantai lalu siap-siap. Tak usah terlalu membayangkannya nyonya Kim. Sebentar lagi kita juga kencan,” goda Chen.

Mengabaikan jika rona merah di pipinya semakin terlihat padam, Eunhee menginjak kaki Chen kesal lalu berbalik secepat mungkin menuju lift.

“Menyebalkan.”

—-

“Pesanan Anda sudah siap nona.”

Chen akhirnya datang menghampirinya dengan dua buah gelas ice moccachino serta dua piring blueberry waffle favorit mereka. Ternyata Chen mengajaknya berkeliling di daerah Hongdae. Menikmati suasana sore hari kawasan itu, mengunjungi satu persatu toko yang berhamburan disana dan akhirnya mampir di kafe tempat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Eunhee terkekeh ketika Chen mengucapkan hal serupa saat mereka pertama kali bertatap muka. Dimana kala itu ia salah mengenali Chen sebagai seorang pelayan dan memesan tteokbokki dan segelas es lemon.

Ya, hajima.”

Laki-laki itu terkekeh senang. Keduanya kembali melanjutkan perbincangan seru di antara mereka sambil sesekali saling menyuapi satu sama lain. Eunhee merona tatkala Chen mengusap sudut bibirnya yang belepotan dengan krim dari waffle yang mereka pesan. Apalagi saat laki-laki itu semakin menggodanya karena wajahnya yang terus saja memerah malu.

Di pintu depan kafe itu mereka tak menyadari jika dua orang tengah mendapati kegiatan kencan mereka berdua lalu kemudian turut masuk ke dalam. Keduanya langsung menghampiri Chen dan Eunhee, lebih tepatnya sang laki-laki yang menggenggam tangan si perempuan dengan erat lalu mengajaknya untuk menghampiri pasangan yang tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri di pojok kafe.

Ya, berhenti bermesraan. Kalian tidak lihat jika banyak yang memperhatikan apa?”

Eoh, hyung. Kau sudah datang?”

Eunhee kaget ketika mendapati Minseok lah yang menghampiri mereka berdua. Laki-laki yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya itu bahkan tengah menggenggam tangan Mica, adiknya. Mendapati jika Mica juga ada disini bersama mereka, Eunhee langsung memekik senang dan memeluk gadis itu ramah.

“Wah Mica. Oraenmanieyo!”

Mica ikut tersenyum dan balas memeluk Eunhee, “Lama tak bertemu denganmu Eunhee.”

Setelah semuanya duduk berdampingan dan memesan apa yang mereka inginkan, Chen dan Xiumin akhirnya menjelaskan jika mereka sengaja ingin bertemu dan menghabiskan waktu luang bersama orang terdekat mereka. Untuk itulah tercetus ide agar berkumpul di kafe ini. Mica yang memang sedang datang ke Seoul sejak semalam juga turut diajak oleh Minseok. Eunhee mengangguk senang karena sudah lama ia tidak bertemu dengan teman barunya itu.

“Kalian sedang kencan?”

Pertanyaan Mica sukses membuat Eunhee mematung dengan pipinya yang lambat laun kembali memerah. Minseok terkikik melihat reaksi Eunhee sedangkan Chen mengangguk mantap membenarkan pertanyaan Mica barusan.

Ah, apa tak apa kita mengganggu kencan orang lain oppa?”

Eunhee dengan cepat mengelak pertanyaan yang diajukan oleh gadis yang ia kenal di Busan beberapa waktu yang lalu, “Aniya, kami hanya bertemu biasa saja Mica-ya. Kau sejak kapan berada di Seoul? Mengapa tak mengabariku?”

Chen tersenyum geli melihat tingkah laku gugup kekasihnya. Kentara sekali jika topik yang dibahas Mica tadi berhasil membuat Eunhee gelagapan. Bodohnya gadis itu berusaha menutupinya dengan pertanyaan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Entah kenapa, Chen merasa jika Eunhee benar-benar menggemaskan.

Mereka tak henti mengobrol, bercanda dan sesekali menggoda satu sama lain sampai akhirnya sebuah telpon masuk ke ponsel Minseok. Manager mereka mengabarkan jika ada latihan mendadak untuk penampilan minggu depan yang mendadak dipercepat. Mau tidak mau mereka segera berpamitan dan bergegas meninggalkan kafe itu.

“Kau tak apa pulang sendirian?” tanya Chen khawatir.

“Tak apa. Aku juga akan mengantar Mica. Oppa tenang saja. Kami tak akan tersesat.”

Minseok tertawa geli dengan jawaban Eunhee, “Tapi aku merasa takut jika adikku nantinya akan diracuni doktrin Pororo olehmu Eunhee­­ya.”

Eunhee memekik tidak senang dengan godaan Minseok. Dasar, tetua menyebalkan.

Mereka pun akhirnya benar-benar berpisah saat Chen dan Minseok berhasil memaksa keduanya untuk mengantarkan mereka menuju halte bis terdekat. Di perjalanan suasana di antara keduanya berubah menjadi canggung. Ini pertama kalinya untuk kedua teman baru itu pulang bersama dan mengobrol sampai selarut ini.

Duduk di sebelah kiri Eunhee dan tepat di samping jendela, Mica mencoba membuka obrolan di antara mereka berdua. Bukan hanya karena tidak tahan dengan kecanggungan itu, tetapi juga ada hal yang sedari tadi ingin gadis itu tanyakan pada Eunhee.

“Jadi kalian sudah berpacaran berapa lama, Eunhee-ya?”

Eunhee berbalik menatap Mica dengan pandangan tidak menyangka. Mica hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk pelan tengkuknya yang tak gatal. Tak disangka Eunhee tersenyum lalu menjawab jika bulan November nanti mereka genap satu tahun menjalin hubungan. Jawaban yang membuat Mica terperangah tak percaya.

“Hebat,” komentar Mica dan Eunhee pun tertawa setelah mendengarnya.

Setelah itulah suasana di antara keduanya berubah lebih ramah dan tak canggung lagi. Sampai akhirnya bus yang mereka tumpangi telah sampai di kawasan Apgujeong. Mereka hanya perlu berjalan sekitar 10 menit dan setelahnya sampai di hotel tempat dimana Mica dan ibunya menginap.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Eunhee. Kau tak ingin mampir dulu?”

Eunhee tersenyum seraya menggeleng pelan, “Tidak. Besok saja aku akan mampir lagi. Hubungi aku jika kau ingin jalan-jalan berkeliling Seoul.”

Mica terkekeh, “Baiklah gadis Seoul.”

Keduanya pun tertawa dan Eunhee akhirnya berpamitan. Setelah mengucapkan pesan agar Eunhee berhati-hati di jalan, Mica pun masuk ke dalam. Setelahnya Eunhee langsung bergegas pulang karena ia lupa untuk mengabari Gwangchul sedari tadi. Eunhee yakin jika kakaknya itu tengah memendam amarah sambil menunggunya pulang.

Tatkala berlari karena ingin secepatnya sampai rumah, Eunhee tak sadar jika perbuatannya itu mengakibatkan ia menabrak seseorang. Dengan cepat Eunhee bangkit dari jatuhnya lalu meminta maaf sembari mengambil ponselnya dan ponsel orang yang ia tabrak terjatuh ke tanah.

Jwesonghamnida.”

Eunhee membungkuk meminta maaf beberapa kali dan tak berani menatap langsung orang yang ia tabrak tadi. Tak lupa ia mengulurkan tangannya sopan untuk menyerahkan ponsel orang itu. Eunhee sedikit takut jika nantinya dimarahi sekalipun ia menyadari bagaimana cerobohnya ia  karena berlari tanpa melihat siapa yang ada di depannya. Dalam hati Eunhee memohon agar orang di depannya ini memaklumi atau hanya menatapnya tajam tidak senang, dan tentu saja semoga ponsel orang itu juga baik-baik saja. Astaga, mengapa ia bisa seceroboh ini?

Eunhee terus membungkuk meminta maaf sampai akhirnya gerakan itu terhenti akibat mendengar orang yang ditabraknya berkata.

“Shin Eunhee? Kau Eunhee bukan?”

Eunhee cukup terkejut ketika orang yang ia tabrak berhasil tahu namanya. Oh, apa jangan-jangan ia menabrak gurunya di sekolah? Atau mungkin teman satu sekolahnya? Dengan memberanikan diri, Eunhee menatap siapa orang yang baru saja ia tabrak.

Dan ternyata apa yang ia pikirkan kalah jauh mengejutkan dibanding siapa yang tengah bertatapan dengannya sekarang.

“Benar, kau Eunhee. Kau ingat aku? Jinyoung. Jung Jinyoung.”

Ya Eunhee tahu pasti siapa itu Jung Jinyoung.

Bagaimana bisa Eunhee tak mengingatnya? Nama yang sedari dulu sudah teramat ia kenal. Nama yang membuatnya memilih untuk menetap tinggal di Korea. Nama yang membuatnya merasakan bagaimana indahnya hidup pada masa remaja.

Nama yang berhasil menjadi cinta pertama dalam hidupnya.

Jinyoung tak mengerti mengapa Eunhee hanya diam mematung kala bertemu dirinya. Gadis itu terlihat kosong dan seakan benar-benar tak menyangka bertemu dengannya. Jinyoung mengabaikan fakta itu dan akibat terlampau senang bertemu lagi dengan Eunhee, Jinyoung pun membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangat miliknya.

“Lama tak berjumpa, Shin Eunhee.”

Eunhee hanya diam. Tidak berniat membalas karena toh tubuh dan pikirannya seketika membeku begitu saja. Ia hanya sempat berdoa dalam hati agar tidak ada seorang pun yang melihat kejadian ini. Terlebih kakak dan kekasihnya. Eunhee semakin terdiam ketika mendengar kata-kata Jinyoung selanjutnya.

“Kuharap kau tidak menghindariku lagi, Eunhee-ya.”

Iklan

4 thoughts on “DaeHee Entrée: Fox Rain – Oraenmanieyo

  1. Wah, aku first ㅋㅋㅋ
    Aku suka banget sama daehee entree. Makin penasaran gimana hubungannya jiyoung sama eunhee.
    Tapi author ngepost-nya lumayan lama, lagi hiatus thor?
    Tapi gpp, aku nunggu terus loh haha. Next chapter, semangat ya thor! :–]

    (ngomong-ngomong kenalin aku zhen 14yo. Salam kenal author!ㅋㅋ)

    • wah thank you ya sudah baca dan kasih komentar pertama. hehehe
      iya nih. ff ini sering banget kepending krn ini itu. smoga selanjutnya aku bisa update secepatnya ya. makasih banyak buat semangatnya ^^
      salam kenal juga zhen. aku muthia, 20 tahun :”)

  2. Huwaa keren jadi lee juck itu pamannya eunhee berarti eunhee dikelilingi artis ya? Ini setting waktunya sebelum yang this song ya? Ditunggu cerita selanjutnya ^^

    • ah tidak juga. kebetulan aja kan karena eunhee punya pacar artis dan kakanya juga model sama pernah gabung di group yg sama sm Junhyung. itu kenapa dia jadi bnyk punya kenalan artis. kkk
      bukan ._. ini waktunya tepat sesudah First Step 😀
      makasih ya sudah baca dan kasih komentar ^^ Ditunggu ya~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s