AB Style : Bitter Sweet Coffee [2nd Taste]

bsc a 2 edit

Title :  Bitter Sweet Coffee [2nd Taste]

Author :  hellospringbreeze (@hellospringbree)

Genre : Romance

Lenght : 3,303 word

Main Cast: Huang Zi Tao and Park Ji Young (@meiliji95)

Note:

Thanks to  Wufan’s and Channi’s wife for editing and so much idea, i love you girls~

Please read Park Ji Young’s Profile first

Foreword

Semoga aku bisa terus bersamanya, setidaknya biarkan aku terus mencintainya – Ji Young

Semoga rencanaku tidak salah, dan berakhir baik. Semoga aku bisa melihatnya tersenyum, meski mungkin bukan denganku – Tao

—-

Second Place: Cheongpyeong’s Temple

July , 25th 2013 [03.15 AM]

Seorak Mountain, Yangyang-gun, Gangwon-do, South Korea

————–

Tao sedikit menggeram dan bergumam tak jelas pada bunyi berisik yang berasal dari ponsel pribadinya. Rasa kantuk mengurung kepala Tao untuk terus berada di atas bantal dan mengeratkan selimut tebal yang terbentang rata menutupi tubuhnya. Tao menyentuh sembarang layar ponselnya, lalu melemparnya cukup jauh ke lantai.

Kali ini Tao sudah tidak ingat lagi akan rencana-rencana gilanya, yang dia tahu hanya, Seorak akan selalu membuatmu ingin pergi tidur lagi dan lagi. Hawa pegunungan yang sejuk juga suasana yang mendukung akan membuatmu tak bisa meninggalkan tempat tidurmu bahkan hanya untuk pergi ke kamar kecil. Sungguh, itulah yang terjadi disana.

Percayalah, Tao bukanlah orang yang sering melupakan janjinya atau bahkan lupa akan apa yang telah dia rencanakan, hanya saja ia masih belum punya cukup waktu untuk sadar jika ia sudah melewatkan lima belas menit dari waktu yang dia jadwalkan untuk mandi.

Mandi?

Pada pukul tiga pagi?

Di pegunungan?

Aku tidak akan memberitahumu apa tujuannya, biarkan kita lihat bagaimana Tao menjalankan rencananya yang mungkin sudah sedikit berantakan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Lagi, bunyi berisik itu menyala dan memenuhi seantero ruangan, membuat Tao terpaksa bangun dan sedikit berteriak.

“Aku masih ngantuk, kau gila?”

Hm, mungkin bukan suatu yang buruk bagi Tao setelah berteriak mengumpat, karena hanya beberapa saat setelahnya ia terjaga dengan mata terbelalak.

“Sial!”

Tao bergegas meninggalkan tempat tidurnya, berlari dengan cepat kesana kemari sebelum ia memasuki kamar mandi yang terletak di samping lemari villa. Tao terlihat sangat kacau, rambutnya berantakan, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat semakin jelas, rasa kantuk yang sangat dahsyat mengurung kepalanya.

Tao segera membasuh mukanya dengan air dingin, “Bangun Zi Tao, jangan biarkan kau terlambat.”

——88——-

[04.00 AM]

Kini Tao sudah duduk di koridor villa, duduk di depan pintu kamarnya sambil menyeruput frappucinno-nya. Matanya sayup-sayup tertutup, membuat kepalanya semakin tertunduk kala ia mengikuti rasa kantuk itu. Untuk apa Tao mandi pada dini hari? Membiarkan jam tidurnya terlewatkan begitu saja hanya untuk duduk di koridor villa?

Mungkin saja Ji Young akan keluar dari kamarnya, batin Tao.

Kau gila Zi Tao? Ji Young pasti hanya akan bangun di pagi hari, dengan muka segar dan wangi parfum, tidak sepertimu yang terlihat sangat kacau.

Tao sudah siap dengan backpack juga kunci motor yang sudah ia genggam. Tao hanya bisa meringis dan berharap Ji Young akan segera keluar dari kamarnya, meski itu mustahil.

Klik!

Manusia berdarah AB terlalu sulit untuk di tebak, dan sering melakukan hal-hal di luar batas. Mungkin kalimat deskripsi itulah yang dapat kita berikan pada sosok ini.

Kau percaya? Sekarang Ji Young keluar dari kamarnya, menatap Tao yang hanya bisa menganga dan masih terduduk di depan pintu kamarnya. Ji Young tersenyum hangat, seolah memberi isyarat jika ia sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Tao bangkit dari duduknya, menatap mata Ji Young penuh tanya sambil berucap, “Meiliji, mengapa kau bangun begitu cepat?”

“Bukankah perjalanan kita masih panjang, Tao ge?” Ji Young tersenyum hangat, Tao bisa melihat jika Ji Young juga sudah siap dengan tasnya.

“Maaf membuatmu terpaksa untuk melakukan hal-hal gila seperti ini.”

“Ini tidak gila, Tao ge.”

Sebuah kecupan hangat berhasil mendarat di dahi Ji Young, membuat Ji Young terdiam sesaat lalu kemudian berkata, “Apa kau siap membawaku ke negeri impian, pangeran tampan?”

Konyol, begitulah mereka.

——88——-

[06.00 AM]

Angin dingin kembali menyentuh setiap inci kulit Ji Young. Tao menyalakan lampu motor karena jalanan gunung yang minim akan penerangan. Dini hari yang diawali dengan kecupan dan pelukan hangat, itulah pagi mereka kali ini.

Tao tak banyak berucap, Ji Young bisa melihat dengan jelas kelelahan pada mata Tao. Kau tahu? Bagi Ji Young, Tao tak perlu banyak bicara karena matanyalah yang selalu berbicara, mencerminkan setiap perasaan dihatinya, menggambarkan segala kebahagian atau bahkan kekhawatiran yang ia simpan hanya untuk dirinya sendiri.

Mungkin tidak lagi untuk dirinya sendiri, karena sekarang ada Ji Young yang bisa membaca mata Tao.

Ji Young bisa saja menolak untuk melakukan rencana gila ini, ia bisa saja mengatak ‘tidak’ pada Zi Tao. Tapi untuk apa? Ji Young tahu jika Tao sudah merencanakan sesuatu, apalagi hal gila seperti ini, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Mungkin Tao akan pergi ke China untuk waktu yang lama.

Atau mungkin Tao harus memutuskan hubungan ini  sejenak karna jadwal panggungnya.

Dan kemungkinan terburuk adalah…

.

.

Kencan ini, merupakan salam perpisahan dari Tao.

Ji Young tidak mau repot-repot memikirkan hal yang sedang di sembunyikan Tao, dia hanya perlu menikmati waktu ini. Waktu yang tersisa.

Ji Young tidak boleh murung, sekalipun mungkin ini akan menjadi awal dari perpisahan mereka biarkanlah Ji Young meninggalkan kesan baik pada hubungan ini. Biarkan dia lupa akan lelah yang memenuhi relung batinnya, biarkan dia lupa akan masalah hari esok, biarkan dia melupakan Seoul, melupakan semuanya sejenak. Biarkan otaknya di penuhi dengan sosok laki-laki yang sedang ia peluk, Huang Zi Tao.

Ji Young bersenandung ringan, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, memeluk Tao semakin erat. Langit tidak secerah kemarin pagi, awan hitam yang bergerombol menutupi langit diatas mereka. Lambat laun rintik hujan mulai turun, membuat titik-titik tak beraturan di jalan. Ji Young bisa mendengar suara air langit itu jatuh ke bumi.

Tao menghentikan motornya, memberi jaket hangat agar Ji Young tidak basah.

.

.

.

Haruskah seperti itu?

Tidak.

Tao tidak menghentikan motornya, bahkan tidak menurunkan kecepatan sedikit pun. Dia terus mengendarai motor seolah tak ada hujan di atas kepalanya, seolah tak ada Ji Young yang sedang memeluknya.

Jalan semakin menanjak, Tao bahkan bisa merasakan air hujan mulai mengalir di wajahnya. Keadaan menjadi semakin dingin. Tidak, jika Tao menghentikan motornya maka Ji Young akan semakin kedinginan dan mereka akan terlambat. Ji Young sedikit tertawa, tidak marah. Ini pasti akan jadi salah satu kenangan yang tak akan dia lupakan.

Kini jalan mulai menurun, membuat hujan setidaknya tidak lagi mengganggu pandangan mereka. Jalanan begitu basah, licin, dan tajam menurun ke bawah. Ji Young bisa melihatnya dari balik pundak Tao. Seperti roller coaster yang akan melaju dengan kecepatan tinggi, karena Tao mulai menaikan kecepatan motornya.

Apa Ji Young akan takut?

Apa Ji Young akan menepuk pundak Tao hanya sekedar mengingatkan?

Tidak, Ji Young hanya merentangkan tangannya lebar, membiarkan telapak tangannya di dera oleh air hujan yang mulai lebat. Mengangkat kepalanya menghadap langit yang masih gelap. Lalu, dia berteriak sekencang-kencangnya.

Ya, Huang Zi Tao! Aku mencitaimu!”

Lalu Ji Young tertawa terbahak-bahak. Dia sendiri bahkan tak bisa menahan gejolak yang ada di dadanya, berteriak adalah salah satu hal yang bisa membuat frustasimu hilang, bukan? Jantung Ji Young berdegup cepat, mengganggu. Napasnya sedikit tersengal, sesak. Tapi ia merasa sangat lega atas segala sensasi yang ia rasakan. Tao menepi, membuka face shield yang ia kenakan lalu menoleh pada Ji Young.

Mereka tertawa bersama, begitu besar, bahkan suara hujan yang mendominasi seolah hilang dari telinga mereka.

——88——-

[08.00 AM]

Mereka sudah berhenti didepan sebuah rumah dengan taman kecil dan beberapa bunga warna-warna yang terlihat memenuhi halamannya. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar, sederhana tapi Ji Young menyukainya.

Tao sudah membuka pintu gerbang, menutupnya kembali seolah dia sudah lama tinggal dan menetap di rumah ini.

“Ini dimana?” Ji Young sedikit bergidik kedinginan.

“Di daerah Cheongpyeong,” Tao berkata cepat sambil membuka pintu depan rumah ini.

Seorang ahjumma menyambut mereka, memberi handuk dan membukakan kamar untuk mereka.

“Tolong buatkan aku secangkir kopi dan minuman hangat untuk Ji Young,” Tao berkata pada ahjumma, dan ia mengangguk.

Ini benar-benar rumah, bukan sebuah penginapan atau rumah sewa. Ji Young masuk ke sebuah kamar yang akan ia tempati. Kamar ini di penuhi warna broken white, warna favorit Ji Young. Kamar ini mengingatkan Ji Young dengan apartemennya. Ji Young tersenyum hangat, terasa seperti di Seoul baginya.

Setelah mengganti pakaian, Ji Young duduk menghadap jendela kamarnya. Tirai jendela terbuka lebar, membuat Ji Young bisa melihat dengan jelas bunga-bunga kecil yang baru saja di sirami hujan.

Ji Young sudah menghabiskan coklat hangatnya. Dia sedikit menghembuskan napas kasar.

Kemana perginya Huang Zi Tao? Jika ia hanya ingin mengajakku pergi kesana kemari hanya untuk menginap dan tidur siang, lebih baik aku pulang, batin Ji Young.

Hujan sudah cukup lama berhenti, Ji Young membuka lebar jendelanya. Lalu ia bertopang dagu melihat keluar jendela dan bersenandung ringan. Selain mengingatkannya akan Seoul, kamar ini membuat Ji Young senang karena pemandangannya. Ji Young bisa melihat taman rumah dan Gunung Seorak sebagai latarnya.

Ji Young pun tenggelam dalam lamunannya.

Greb!

Seseorang memeluk Ji Young dari belakang, Ji Young sedikit kaget dan segera menoleh. Tentu saja itu dia, Zi Tao.

“Kau melamun nona?”

“Tidak,” Jawab Ji Young sambil tertawa kecil.

‘Lalu?”

“Hanya sedang memikirkanmu.”

Disadari atau tidak, Tao tersenyum lebar, menopang dagunya di atas pundak Ji Young.

“Kau suka kamar ini?”

“Tentu, itu indah,” Tunjuk Ji Young pada gunung besar yang semalam sudah mereka lewati.

Tao tersenyum, mendengar perkataan Ji Young membuatnya ikut senang. Senang, setidaknya untuk beberapa hari yang tersisa. Tao semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di sela-sela rambut Ji Young. Mereka hanya bisa terdiam, menahan setiap perasaan dan kekhawatiran di diri mereka masing-masing.

Ji Young memejamkan matanya, sedih hampir menguasai hatinya, tapi ia berkata, “Tao ge, bagaimana jika kita berdoa?”

Ji Young membalikan badannya cepat, menatap Tao dalam dan mengubah gurat-gurat sedihnya menjadi sebuah senyuman, lalu kembali memejamkan matanya dan berdoa. Hening untuk beberapa saat, akan ada banyak doa yang akan mereka ucapkan, karena ada banyak harapan yang mereka gantungkan.

“Selesai,” Ji Young membuka matanya, tersenyum hangat pada Tao yang masih diam dengan muka seriusnya.

“I hope today we have a nice day,” Ji Young sedikit menyentil hidung Tao, membuat laki-laki itu tertawa.

——88——-

Mereka sudah sampai sebuah dermaga yang tidak terlalu sepi, ada banyak wisatawan disini. Tao menggenggam tangan Ji Young erat seolah tak mau melepaskannya. Laki-laki dengan topi dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya ini terlihat sangat tenang, sedangkan Ji Young malah sibuk menebak-nebak tujuan mereka.

Sebuah kapal feri datang di dermaga, mereka berdua masuk dan memilih untuk duduk di pinggir kapal agar bisa melihat pemandangan dengan jelas.

“Tao ge, kemana kita akan pergi?”

“Ke suatu tempat untuk berdoa.”

Berdoa.

Hari mereka kali ini akan di penuhi dengan doa.

Setelah 30 menit menaiki kapal, mereka turun di sebuah pulau. Menapakan kaki pada jalanan berbatu yang begitu asing bagi Ji Young. Tempatnya cukup ramai, menandakan mereka sedang menuju sebuah tempat wisata lokal. Tao tidak lagi mendengar instruksi tour guide ia hanya menarik tangan Ji Young cepat untuk meninggalkan kerumuman.

Mereka berjalan sedikit mendaki kearah sebuah bangunan dan melihat sebuah batu besar menyambut mereka. Disana terpampang jelas nama tempat ini, Cheongpyeong’s Temple.

Mereka akan pergi ke kuil? Hm, sepertinya menarik.

Hal pertama yang mereka lakukan adalah membaca sebuah legenda tentang kuil ini yang terdapat bawah nama kuil ini.

Cheongpyeongsa, Cheongpyeong Korean Buddhist Temple, has a legend saying a man loved a princess so much that he became a snake and wouldn’t leave her alone. When she begged to leave her home to get some rice from the temple, the snake let her go but then went looking for her. But the snake got struck by lightning and died so the princess buried the snake at the temple.

“–But the snake got struck by lightning and died so the princess buried the snake at the temple. Tao ge, jadi laki-laki yang berubah menjadi ular itu mati?”

Tao mengangguk pelan. Kemudian mengalihkan pandangannya ke jalanan menuju kuil. Jalanan yang menanjak dengan sungai kecil di samping mereka.

Jinjja?” Tao menoleh cepat pada Ji Young yang masih terpaku pada batu bertuliskan legenda kuil.

“Kau sedih karena ular itu mati?”

“Itu tragis,” Ji Young menunjukan ekspresi sedihnya. Manis, Tao benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Aku tau kau tersenyum di balik masker itu.”

“Tidak, aku tidak tersenyum. Kajja,” Tao kembali menggenggam tangan Ji Young, berusaha membuang mukanya pada Ji Young yang terus-terusan meledek Tao karna tak bisa berhenti tersenyum.

Jalanan menanjak menuju kuil mereka lewati sambil saling merangkul, dan sedikit bernyanyi. Mereka tak memperdulikan orang-orang di sekeliling mereka, sebelum sampai di kuil, mereka bermain di tepi sungai. Tao menyentuh permukaan sungai, sangat jernih dan dingin. Ji Young hanya berjongkok sambil memperhatikan beberapa ikan kecil yang ada di dasar sungai.

“Aku rindu Mosya dan Syaloo.”

Tao tertegun, lalu membelai puncak kepala Ji Young, “Maaf membuatmu terlalu lama meninggalkan Seoul.”

“Tidak jangan pikirkan itu, aku salah bicara. Jangan memulai topik membosankan itu.”

Tao menatap Ji Young untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Ji Young hanya diam menatap ikan-ikan kecil itu berenang kesana kemari. Tao melepaskan masker yang ia kenakan.

“Meiliji?”

Ne, Ta-“

Kini giliran Ji Young yang tertegun, Tao mencium pipi Ji Young kilat lalu tersenyum nakal dan kembali memakai maskernya. Ji Young membeku, tentu ini bukan yang pertama, tapi Tao selalu saja mencium Ji Young di saat tak terduga. Ji Young membuang mukanya karena tak dapat menahan senyum, lalu memukul bahu Tao cukup keras.

Tao hampir saja membuka mulutnya untuk segera mengomel pada Ji Young, tapi Ji Young meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.

Hush! Jangan melakukan hal-hal aneh di tempat suci. Kita harus mulai berdoa.”

Ji Young sedikit beranjak dari tempatnya, membawa beberapa batu yang ada di pinggir sungai kemudian membawanya kehadapan Tao. Tao hanya diam tak bergeming.

“Nah sekarang ayo kita berdoa?”

“Untuk apa batu-batu ini?”

“Kau tidak tahu Tao ge?”

Tao hanya menggeleng lemah, ini tidak pernah dia lakukan di China.

“Setelah berdoa, kita harus menyusun sembilan batu bertumpuk.”

“Lalu jika mereka jatuh?”

“Doamu tak terkabulkan.”

“Kau mau kita berdoa bersama Meiliji?”

“Tentu.”

Tao dan Ji Young memejamkan mata mereka. Hanyut kemudian tenggelam dalam doa yang mereka lantunkan.

Semoga aku bisa terus bersamanya, setidaknya biarkan aku terus mencintainya.

Semoga rencanaku tidak salah, dan berakhir baik. Semoga aku bisa melihatnya tersenyum, meski mungkin bukan denganku.

Tak beberapa lama, Tao menarik napas panjang, ”Biar aku yang menaruh batu pertama. Tao mengambil batu yang paling besar untuk di jadikan dasar tumpukan batu mereka. Kemudian di lanjutkan dengan Ji Young untuk batu kedua. Begitu seterusnya.

Saat di batu kesembilan, Tao sedikit ragu. Akankah doanya terkabul? Atau rencana yang ia pikirkan begitu matang ini akan berakhir sia-sia? Tao tak berharap banyak, hanya ingin batu kesembilan ini berhasil ia letakkan ditumpukan teratas, sehingga doanya dan Ji Young terkabulkan.

Puk!

Dan..

Oh ya, Tao berhasil menaruh batu kesembilan. Tumpukan batu mereka berdiri sempurna dan Ji Young tersenyum lebar sambil bertepuk tangan bahagia. Tao mengacak-acak rambut Ji Young karena ia juga senang doanya terkabulkan.

——88——-

Mereka sudah sampai di depan kuil dan melihat beberapa orang yang juga sedang ada di sana. Di langit-langit kuil terlihat lentera kertas yang di gantungkan, bersama dengan kertas harapan, berwarna merah dan kuning, sangat rapi. Tao meminta Ji Young untuk menunggunya di depan sebuah pagoda besar saat ia mendatangi seorang tour guide dan sedikit berbincang.

Tao datang dengan empat kertas harapan dan dua buah spidol hitam sambil tersenyum lebar.

“Ayo kita berdoa, Meiliji.”

“Empat kertas?”

“Dua untukku dan dua untukmu.”

“Dua-duanya akan kita tinggalkan di kuil?”

“Tidak satu untukku dan satu untuk kuil.”

“Untukmu? Aku tidak mau, doaku terlalu privasi.”

“Ayolah aku tahu, pasti ada namaku yang akan kau tulis di dalamnya.”

Tao tersenyum jenaka dan membuat Ji Young menghembuskan napas kasar.

“Terserah, aku akan menulisnya dengan bahasa Thailand.”

“Baiklah, aku juga akan menulis dengan huruf Hanzi. Ingat, kau tetap harus menulis satu untukku.”

Mereka menulis doa mereka di satu kertas bentuk persegi panjang. Duduk di pinggir kuil dengan saling berjauhan. Ji Young punya alasan untuk duduk menjauh dari Tao, dia hanya tak ingin Tao diam-diam menggodanya lalu Ji Young kehilangan kata-kata untuk dia tulis.

Setelah selesai dengan doa mereka, Tao memberi dua kertas pada tour guide dan menyimpan dua lainnya.

“Kau benar-benar akan menyimpannya?”

“Tentu Meiliji,” Tao merangkul Ji Young dengan perasaann senangnya, lalu mereka berjalan mengelilingi kuil.

——88——-

[03.00 PM]

Saat ini mereka sedang duduk di sebuah restoran di dekat kuil, duduk bersimpu di atas lantai bangungan yang dibangun tak jauh dari atas permukaan air sungai dengan riak-riak kecilnya. Suasana restoran itu benar-benar nyaman dan menenangkan, lantainya terbuat dari kaca sehingga mereka dapat melihat ikan-ikan yang berenang di sungai. Mereka seolah-olah tengah merasakan indahnya pemandangan sekitar kuil tepat di atas air sembari menyantap dakgalbi yang masih hangat. Tao harus memilih meja yang paling ujung dan duduk membelakangi wisatawan lainnya karena ia harus membuka maskernya. Akan sangat merepotkan jika ia mendapati seseorang yang mengenalnya. Memang tidak masalah untuknya, tapi itu masalah bagi Ji Young.

“Kau senang?”

“Tentu aku senang kita banyak berdoa hari ini.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Tao ge, kemana selanjutnya kita akan pergi?”

“Rahasia.”

“Ayolah, beri aku clue.”

Hm?”

“Ayolah Tao ge..”

“Tempat dimana kau bisa melihat sesuatu yang berwarna jingga.”

“Jingga? Jeruk?”

Nope. No more clue.”

Kini Ji Young mulai menggerutu dengan bahasa Thailand kemudian melihat kearah Tao dengan muka cemberut dan melipat lengannya di hadapan Tao. Alis Ji Young bertaut dan terus mengoceh dengan bahasa yang Tao tak mengeri apa. Tao hanya tersenyum lalu mencubit pipi Ji Young.

“Hěn kě’ài,” Tao pun mengeluarkan bahasa ibunya. Manis, itulah Ji Young baginya.

——88——-

Mereka sudah kembali di dermaga, kembali menaiki motor sport yang Tao parkirkan di dekat loket pembelian tiket kapal feri. Kali ini Tao menjalankan motornya dengan perlahan dan terkesan santai. Ji Young mengedarkan penglihatannya pada sekeliling, melihat banyak hal yang ia lewatkan begitu saja tadi pagi karena Tao yang sedikit terburu-buru menuju dermaga. Ada banyak bunga di pingiran jalan Cheongpyeong. Berwarna-warni dan bergerombol. Udara tidak terlalu dingin karena mereka sudah jauh dari pegunungan, tapi udara sore ini membuat Ji Young memeluk Tao sedikit lebih erat.

Saat Tao sudah memarkirkan motornya di depan rumah yang sebenarnya adalah rumah kenalan ayahnya, Ji Young berjalan menuju taman rumah yang ada tepat di depan kamarnya. Menyentuh beberapa bunga kecil kemudian tersenyum, dia tak punya banyak waktu untuk mengurus tanaman di apartemennya. Kemudian Ji Young duduk di bangku taman sambil melihat Gunung Seorak yang ada di balik kabut nun jauh di sana.

Tao duduk di sebelah Ji Young dan seketika kesunyian merajai mereka. Hanya sekedar hembusan napas atau suara dehaman kecil yang terdengar. Ji Young menyandarkan kepalanya di bahu Tao, sudah berapa lama hal ini tidak terjadi? Ji Young mengeratkan genggaman tangannya pada Tao. Ji Young tenggelam dalam lamunannya, Ji Young takut pulang, dia bahkan berharap Tao membawanya pergi lebih jauh dari Seoul, tapi Ji Young tahu Tao tak akan melakukannya.

Ji Young pergi tanpa memberi tahu Il Soo, tanpa meninggalkan sepenggal note kecil atau bahkan sekedar mengirim pesan singkat. Ji Young hanya pergi, lalu menonaktifkan ponselnya. Ia tahu, Il Soo tak akan membiarkan Ji Young pergi jauh bersama Tao. Ji Young tak tahu apa jadinya jika ia kembali ke Seoul.

Tao menyelipkan sebuah bunga berwarna merah di telinga Ji Young, lalu berkata, “Jangan bersedih Meiliji.”

——88——-

Hari sudah beranjak senja saat Tao mengetuk pintu kamar Ji Young dan membawa dua cangkir cappucino latte di tangannya. Ia menggeser sofa yang ada di dekat rak buku kedepan jendela kamar Ji Young dan duduk disana. Tao menepuk sofa disampingnya, meminta Ji Young untuk duduk di sebelahnya. Pemandangan sangat indah, jendela di buka lebar, tak ada apapun yang menghalangi pandangan mereka untuk melihat matahari terbenam di balik Gunung Seorak.

“Besok kita akan melihat lebih banyak warna jingga,” Tunjuk Tao pada matahari yang mulai ternggelam di belakang Gunung Seorak.

Sunset?”

Tao menggangguk pada Ji Young. Kau siap untuk pergi ke tempat yang kumaksud?”

“Tentu.”

Ji Young tersenyum bersemangat dan kembali tenggelam dalam momen sunset dan Gunung Seorak ini.

——88——-

Tao memasuki kamarnya, menaruh sebuah foto Ji Young yang ia ambil di depan gerbang rumah sebelum pergi ke dermaga, juga kertas pemohonan mereka. Kotak dengan warna favorit Ji Young itu sudah di penuhi beberapa barang lainnya, sebelum itu Tao sudah terlebih dahulu memberi sedikit tulisan di bawah foto Ji Young.

BSC 2 b

Tao menutup kembali kotak itu, beranjak ketempat tidur hangatnya dan bersiap untuk esok hari.

Bersiap untuk sunset yang sudah menunggu mereka.

Pergi menuju tempat dimana sunset akan terlihat sangat indah.

_TBC_

Sorry for typo(s) i hope u enjoy, like, leave a comment and follow this blog

maaf aklo ini ga sweet sweet lala~ maaf kalo ga dapet feelnya

Hihihihi :3 well, makasih udah baca, love yaaa~ komen yaaaa ;D

AB Style mau anniv loh satu januari nanti :3 aduuuuh semoga AB Style lancar terus, langgeng, tetep sweet, hihihi. I love you AB Style couple ❤

9 thoughts on “AB Style : Bitter Sweet Coffee [2nd Taste]

  1. Paling enggak lu pakein jas dulu kek cewek lu, kesian amat dibiarin ujan2an…..

    Biar begitu, jiyoung lucu banget pas teriak ‘aku mencintaimu’ di motor!!♥ kalau gue cowok, gak bakal gue putusin tuh jiyoung! #lah

    Jadi pengen ke kuil itu deh. Ke sana yuk thor xD

    Suasananya sendu ya, bikin pembaca merasa antara romantis sama khawatir: “ini ada apaan nih, emangnya mereka bakalan misah?!”

    Keep writing! ♥

    • hihihi, emang itu kebangetan ya jitaoo..

      jiji emang lucu, apalagi authornya (?)

      yuk kita kesanaaa

      wah makasih banyak yaaaa {}

    • waaaah makasih aduh ga tau ini aku ngomong makasih ke kamu untuk berapa kalinya, pokoknya makasssiiihhhh >,<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s