Puzzle Tub: Invisible

image

Invisible

| Marumero | Zhang Yixing (EXO-M), Shim Nayong (OC) | Drama, Romance | Chaptered | G 

Disclaimer: OC, plot and story are mine, Zhang Yixing belongs to fans 😀

PS: Hallo! Lama tak jumpa 😀 kembali lagi dengan lajutan Puzzle Tub yang benar-benar tersendat begitu lama dalam proses pembuatannya hahaha. Banyak sekali episode yang belum terselesaikan dan masih dalam proses juga. Selamat membaca semuanya! Jangan lupa meninggalkan comment dan review ya ^^/ thanks to kak Mey for this delicious poster 😀

Please read Shim Na Yong’s Profile first

[1] Unreason Point [2] Red Dress [3] Cropped Side

Enjoy the words ^^

Malam yang seharusnya dihabiskan oleh Nayong dengan berbahagia  ternyata lenyap dengan seketika ketika ia mendapati salah satu barang berharganya menghilang entah kemana. Gantungan kunci keberuntungan yang ia terima dari kakeknya menghilang setelah pesta kecil semalam. Ia telah mencarinya disepanjang jalan yang ia lalui saat pulang ke apartemen, bahkan Li Na pun ikut turun tangan mencari bersamanya, tapi ia tak menemukan apapun. Hal itu membuatnya tertidur di sofa setelah mencari disekeliling jalan dan mengalami mimpi buruk yang sama sekali tak ia inginkan. Sementara pagi harinya ia harus segera berangkat ke kampus dan mengikuti kelas yang telah menanti. Tapi rasanya pagi itu ia sangat enggan beranjak dari tempat dimana ia berbaring. Dengan lesu Nayong bangun dari sofa dan mencoba mengumpulkan nyawa yang belum kembali ke dalam tubuhnya.  Separuh nyawanya menghilang bersama gantungan kunci keberuntungannya dan separuh nyawanya yang lain masih terbaring di tempat tidur jauh diluar kesadarannya, membuat Nayong beranjak dari sofa dan membiarkan tubuhnya berbaring di tempat tidur menemui separuh nyawanya dan kembali tidur. Yeah, Nayong tidak begitu bodoh untuk terus bertahan disofa sementara ada tempat tidur yang siap untuk menemaninya.

Tenaganya benar-benar terkuras akhir-akhir ini, terlebih lagi kompetisi musim semi segera berlangsung bersamaan dengan datangnya bulan Maret. Nayong mengangkat selimut tinggi-tinggi menutupi kepalanya, menyembunyikan rasa menggigil yang tak bisa ia tahan di penghujung musim dingin tahun ini.

Ketika terbangun pukul tiga sore karena suara gedoran diluar pintu –yang Nayong yakini pasti Li Na yang melakukannya– kamarnya, Nayong langsung terlonjak dari tempat tidur dan berjalan cepat kearah pintu untuk menghentikan keberisikan yang Li Na timbulkan.

“Kurasa teman yang baik seharusnya tahu bagaimana cara yang baik untuk membangunkan orang yang sedang kelelahan ini.” Semburnya setelah membuka pintu dan hanya menyembulkan kepalanya untuk berbicara pada Li Na.

“Oh astaga Nayongie, jam berapa sekarang? Berani-beraninya kau masih berbaring diranjang sementara kawan satu tim sedang kalut karena kau tak datang– “ sembur Li Na tak mau kalah, namun sebelum Li Na menyelesaikannya, Nayong telah memotong perkataannya.

“Jangan sekarang! Oke.” Potongnya. Nayong melanjutkan, “Dan jangan sok tau, aku sudah minta libur pada pelatih untuk hari ini jadi mana mungkin teman setimku kalut karena aku tak datang. Mereka tau aku tak datang.” Nayong menarik diri sambil mendorong pintu dan segera menutupnya kembali. Tapi Li Na kemudian maju dan menahan pintunya agar tetap terbuka.

“Kau tak lihat siapa yang datang? Ada yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Li Na pelan, membuat Nayong menatapnya bingung. Li Na menatap ke arah Yixing yang sedang berdiri dibalik tembok dan kembali menatap Nayong, menganggukan dagunya pada Yixing. Nayong masih menatap Li Na bingung, kembali membuka pintu dan menyembulkan kepalanya ke sisi tembok yang lain dan melihat Yixing yang sedang berdiri disana. Nayong terkejut dan membelalakan mata lebar, tak percaya akan bertemu dengan Yixing dalam keadaan seburuk ini.

“Oppa!.” Teriaknya dan Yixing hanya membalas teriakan Nayong dengan lambaian satu tangan dan senyuman yang biasa ia tunjukkan. Nayong menegakkan tubuh dan menarik rambutnya kebelakang, berharap akan menjadi sedikit rapi. Tapi tetap saja rambutnya terlihat berantakan dan Nayong membiarkannya tetap begitu.

“Sudah?” tanya Li Na pada Yixing, membuat Nayong bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kesepakatan apa yang terjadi diantara mereka? Batinnya. Sedangkan Yixing hanya mengangguk penuh arti, detik berikutnya Li Na beranjak pergi dan meninggalkan mereka berdua didepan pintu.

“Ada yang harus kukerjakan, oke. Aku akan pergi sekarang.” Li Na menatap Nayong tajam saat mengatakannya, kemudian ia melanjutkan, “Dan, nikmatilah waktu berdua kalian.” Tutupnya kemudian melenggang pergi ke lift dan menghilang.

Saat berikutnya, suasana menjadi hening sepeninggal Li Na dan Nayong merasa gugup tertambah dengan penampilannya yang sangat berantakan. Nayong menatap Yixing yang ternyata sedang menatapnya balik, ia bisa merasakan darahnya mendidih dan berhenti dikedua pipinya. Ia langsung berbalik ke pintu dan membiarkan Yixing masuk keruangannya.

Oppa masuklah.” Katanya. Yixing mengikuti masuk ke dalam ruangan, melepas sepatunya yang diganti dengan sandal rumah, menggantungkan coatnya di tempat gantungan dan duduk di sofa putih yang ditunjuk oleh Nayong. “Oppa ingin minum apa?.” Tanyanya segera setelah Yixing duduk disofa.

“Apa saja, asal jangan es.” Jawabnya tersenyum meledek pada Nayong. Nayong memutar bola mata, seolah berkata ‘Manusia mana yang ingin meminum minuman dingin dicuaca sedingin ini?’ dan berbalik ke konter dapur. Memanaskan air dan menyiapkan cangkir, teh celup bersama gulanya.

Yixing memperhatikan Nayong yang sedang menyiapkan minumannya diseberang meja. Tapi saat ia melihat ke sekeliling ruangan, ada yang membuatnya lebih tertarik untuk diperhatikan. Yaitu ukuran ruangan yang besar dan terlihat sangat sederhana, padahal Nayong hanya tinggal seorang diri di kamar ini. Disamping sofa, disebelah kanannya, ada meja kecil tempat majalah-majalah yang dibeli Nayong diletakkan diatasnya. Yixing melihat sekilas dan membukanya. Yixing tersenyum miring saat mendapati semua majalah yang ada disana adalah majalah olahraga. Sangat Nayong, batinnya. Ia meletakkan majalah itu kembali ke atas meja karena merasa tak mendapat chemistry setelah membacanya sekilas. Olahraga bukan sahabat yang terlalu baik untuk Yixing, jadi ia beralih ke sebelah kirinya. Melihat lemari buku yang terlihat penuh dan beberapa kertas berserakan di meja belajarnya. Yixing hampir beranjak ketika Nayong menghampirinya dengan secangkir teh hangat dan sepotong cheesecake.

“Menemukan sesuatu yang menyenangkan?” tanyanya penasaran, melihat senyum Yixing yang masih tersisa dibibirnya.

“Yeah, semacam itu.” Ujarnya kembali tersenyum dan menatap teh yang masih beruap dengan cheesecake di atas meja. Nayong memanyunkan bibir dan mengangguk mengerti.

“Oppa, aku akan mandi dulu, maaf kutinggal sebentar.” Pamitnya sambil beranjak ke kamar. “Kau bisa menyalakan televisi atau menonton film atau membaca buku dirak, terserah saja. Jangan buat dirimu bosan saat aku mandi, mengerti?” belum sempat Yixing menjawab perkataan Nayong, Nayong telah menghilang dibalik tirai dan mulai mandi.

Yixing berdecak dan menggelengkan kepala, melihat tingkah Nayong yang terus berusaha membuat hubungan diantara mereka tidak canggung, tapi Yixing pula satu-satunya hal yang terus membuatnya menjadi canggung. Yixing menyeruput sedikit tehnya dan membiarkannya mendingin diatas meja. Ia beranjak dari sofa dan berdiri didepan rak buku. Keningnya mengerut dalam saat melihat tumpukkan buku yang ada didalamnya sangat tidak biasa. Yaitu beberapa sheet buku budaya tradisional Jepang, buku tata bahasa Jepang dan beberapa kamus Kanji dengan pengarang yang berbeda-beda disetiap jilidnya. Yixing tak bisa mengerti selera baca Nayong yang sangat drastis. Dari majalah olahraga ke bacaan tentang bahasa.

“Memusingkan.” Gumamnya.

Rak berikutnya berisi buku-buku karangan Shakespeare, Eugene O’Neill dan yang lainnya. Di kolom paling bawah terdapat box berisi tumpukan kertas yang Yixing tebak adalah naskah drama milik Nayong. Pandangannya beralih ke meja belajar Nayong yang berada tepat dibawah jendela disamping lemari. Yixing mengintip keluar jendela. Melihat ke jalan disamping bangunan dari lantai enam dan melihat salju yang mulai menghilang seiring musim semi yang segera datang.

Matanya kembali tertuju kedalam ruangan, melihat meja belajar Nayong yang sangat berantakan dan kertas berserakan menutupi seluruh permukaan meja. Disudut meja terdapat tiga kotak susu kosong yang belum Nayong buang setelah meminumnya. Yixing mengamati apa yang tertulis diatas kertas. Kertasnya berisi coretan-coretan kata dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris. Setelah melihat beberapa kertas yang ada disana, akhirnya Yixing mengerti apa yang sedang Nayong lakukan dengan kata dan kertas didepannya. Ia sedang menulis puisi yang ia karang sendiri, tapi karena hasilnya belum memuaskan, Nayong mencoretnya dan Yixing melongok ke tempat sampah disudut bawah meja yang terisi penuh dengan sampah kertas.

Yixing menarik kertas ditumpukkan paling bawah dan membacanya. Puisi berbahasa Inggris berjudul Fire and Ice karangan Robert Frost yang Nayong salin keatas kertasnya. Yixing mencari tau apa yang menarik dengan puisi yang Nayong salin, ia tak bisa mencerna apa yang tertulis diatas kertas, jadi ia hanya meletakan kembali kertas itu keatas meja.

Yixing bisa mendengar suara air berhenti diseberang ruangan dan suara pintu terbuka. Kemudian Nayong mencari Yixing dan menghampirinya dari balik televisi disisi yang lain. Yixing terlonjak saat mendapati Nayong telah berdiri disana, ia tak tau aja jalan lain dibelakang televisi dan tiba-tiba saja Nayong muncul didepannya.

“Maaf mengagetkan.” Ujarnya sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk dan tertawa renyah setelah mengagetkan Yixing. Nayong masih berdiri di bawah tirai dan Yixing menghampirinya, melongok kebalik tirai dan melihat jalan yang Nayong buat dari dua sisi.

“Mengapa ruanganmu memiliki dua sisi jalan? Kau yang mengaturnya?.” Tanya Yixing penasaran.

“Aku sengaja membuatnya memiliki dua sisi, entahlah.” Ujar Nayong mengangkat bahu.

Yixing masih melongok dibalik tirai saat akhirnya ia masuk kedalamnya. Ia berjalan ke dalam dan menemukan lemari berisi peralatan olahraga milik Nayong.

“Wow!.” Teriaknya didepan lemari. Nayong yang hampir duduk disofa, kembali beranjak dan menghampiri Yixing dibalik tirai. “Ini semua milikmu?” tanyanya.

Nayong mengangkat bahu, “Yeah, semacam itu.” Yixing berbalik menatap Nayong dan memanyunkan bibir.

“Jangan meniru perkataanku.” Yixing membuang muka kembali ke lemari dan mulai membukanya. Nayong tertawa dan senang melihat Yixing yang memancarkan rasa ingin tahu tentang dirinya.

“Bahkan kau bermain skateboard?” tanyanya tak percaya. Mengangkat skateboard beroda empat bertulis ‘BROSS’ dengan graffiti dibagian permukaannya.

“Tidak lama. Skateboard tidak membuatku jatuh hati, jadi kutinggalkan saja.” Jelasnya, Yixing mengangguk mengerti.

Yixing masih sibuk dengan perlatan yang lainnya. Menanyakan beberapa perlengkapan yang tidak ia ketahui dan terus ingin tau tentang peralatan lainnya. Memberikan indikasi Yixing tidak terlalu mengerti dengan perlatan olahraga, begitu Nayong meyakinkan diri. Yixing menatap Nayong takjub, mengagumi bagaimana gadis ini masih tetap berbesar kepala seperti sebelumnya. Seperti yang pernah mereka bicarakan beberapa waktu yang lalu. Yixing tertawa disela-sela penjelasan yang Nayong berikan, merasa menemukan Nayong yang ia segani.

Setelah puas mencecar Nayong dengan banyak pertanyaan, akhirnya mereka berdua kembali keruang utama dan duduk disofa. Yixing menyeruput tehnya dan Nayong meminum susu yang baru ia ambil dari lemari es. Yixing mengernyit saat melihat Nayong meminum susu dingin sementara diluar cuacanya masih berkabut, tapi Nayong menghiraukan tatapan Yixing yang mengintimidasi itu dan menghabiskan minumannya hingga tuntas.

“Jadi kau sportmania, eoh?” tanya Yixing dan melahap cheesecakenya.

“Kecuali renang tentu saja.” Jawabnya meyakinkan.

“Sudah kuduga! Sebenarnya aku ingin bertanya mengapa tak ada baju renang ataupun kacamata selam didalam lemari peralatanmu barusan. Tapi bahkan kau telah menjawabnya sebelum aku sempat menanyakannya.” Katanya dengan sedikit menghakimi dan melayang-layangkan garpunya diudara. Nayong berdecak dan tertawa melihatnya.

Nayong mencoba mengabaikan tatapan Yixing yang sedang tertuju padanya dengan menyalakan televisi dan menonton acara yang sedang berlangsung. Ia hanya mengganti channel dan tak menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Jadi ia memutuskan untuk menghentikan channel secara acak. Layar televisi sedang menayangkan tayangan tarian dari beberapa negara. Kebanyakan tarian dari Eropa. Saat Nayong sedang menonton televisi dan suasana menjadi hening, Yixing tiba-tiba beranjak dari sofa dan berjalan ke arah televisi. Nayong bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan.

Setelahnya, Yixing berbalik ke arah Nayong dan menunjuk salah satu bingkai foto yang tergantung disamping televisi.

“Ini kau?” Yixing bertanya dengan nada mengejek dan setengah tertawa. Saat Nayong tersadar siapa yang sedang ia tunjuk dan ia tanyakan, Nayong langsung berdiri dan menghampiri Yixing. Tapi terlambat, sebelum Nayong bisa mengamankan bingkai berisi fotonya, Yixing telah mengambilnya dan tertawa terbahak-bahak. Nayong memanyunkan bibir dan mencoba mengambil bingkai itu dari tangan Yixing yang sengaja mengangkatnya tinggi-tinggi. Tapi tetap saja Nayong tak bisa mengalahkan Yixing, akhirnya ia menyerah dan membiarkan Yixing puas menertawakannya. Nayong sangat malu dengan kejadian ini, fotonya saat kecil, saat kedua gigi serinya tanggal dan rambutnya diekor kuda di dua sisi kepalanya dan tangannya mengangkat tinggi-tinggi gambar kelinci berwarna biru –oh yang benar saja, mana ada kelinci berwarna biru? Di Alice in Wonderland?. Nayong menutup wajah dan Yixing masih terus tertawa.

Sesaat kemudian, ponsel Nayong berdering dari seberang meja konter di dapur. Ia menghampirinya dan meninggalkan Yixing yang masih terus tertawa. Ia mendapat e-mail dari Li Na.

Keningnya berkerut. Ia membuka mailbox dan membaca pesan dari Li Na.

Jangan pernah mengungkit sedikitpun tentang perempuan itu didepan Yixing gege, jangan pernah sekalipun. Kami sedang mengusutnya lebih jauh dan kami hampir mendapatkan identitasnya dengan jelas.

Begitu pesan Li Na yang dikirim pada Nayong. Nayong membacanya dengan terkejut sekaligus senang, karena sebentar lagi ia akan tau siapa sebenarnya perempuan itu. Ia harus menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu pada Yixing.

Kuserahkan semuanya pada kalian disana, kupastikan mulutku tetap terkunci dan tidak kelepasan membicarakan tentang perempuan itu. Fighting! Balasnya.

Nayong kemudian duduk dikursi konter dan memainkan ponselnya.

Kau mungkin menyembunyikannya diantara kami semua, diantara fans setiamu, oppa. Tapi pada akhirnya semua akan terungkap. Siapa perempuan itu, hubungan apa yang terjalin diantara kalian, mengapa kalian hanya saling terdiam saat bertemu dan mengapa ia terlihat berbeda dimatamu. Aku ingin tau semua yang tak bisa terlihat ini, semua yang kau sembunyikan diantara kami semua. Biarkan kami tau siapa dia sebenarnya, biarkan kami tau bagaimana kami harus berjalan dengan mengetahui siapa perempuan itu. Biarkan kami tau kenyataan yang sebenarnya terjadi. Kami menyayangimu lebih dari member lainnya di grupmu. Secara pribadipun aku ingin tau siapa perempuan itu. Mengapa aku melihat cahaya yang berbeda dimatamu saat kau melihatnya. Aku ingin tau. Saat ini, semuanya memang tak terlihat, tapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang ingin kami ketahui tentang kenyataan ini. Semua akan terlihat pada akhirnya. Nayong membatin lama dan terdiam. Berkelana dengan argumennya sendiri.

Yixing melihat perubahan wajah Nayong dari seberang ruangan.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya.

Nayong menatapnya dan menutup mailboxnya, meletakan kembali ponselnya diatas meja konter. “Tak ada, hanya pesan dari Li Na.”

“Apa katanya?” tanyanya lagi.

Nayong memutar otak, mencari jawaban yang bisa menutupi kebohongannya. “Ehh.. hanya menyuruhku untuk makan karena aku belum makan sejak makan malam terakhir semalam.” Dustanya.

“Benarkah? Seharusnya kau bilang padaku jika kau belum makan, aku bisa membawakanmu makanan saat datang kesini tadi.” Katanya, meletakkan kembali bingkai foto Nayong dan menghampirinya dimeja konter. “Kau ingin makan sesuatu? Biar kumasakkan.” ucap Yixing menggoda dan membuat Nayong tak bisa menolaknya.

“Tentu saja.” Jawabnya riang. Nayong tau betul Yixing sangat suka dan pintar memasak. Jadi ia tak akan menolak ketika idolnya ingin memasakan masakan untuknya.

“Tapi aku tak punya bahan masakan. Sepertinya kita harus belanja terlebih dulu.” Ujar Nayong setelah tak menemukan apapun yang bisa dimasak dilemari es. Yixing mengangguk setuju.

Nayong menyambar dompet dan coatnya di tempat tidur dan pergi belanja bersama di market terdekat. Setelah satu jam mengitari market, akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dan kembali ke apartemen. Untuk memanfaatkan waktu dengan baik, Yixing memaksa Nayong untuk ikut turun tangan dengannya didapur walau Nayong telah menolaknya ratusan kali dengan alasan Nayong tak bisa memasak dan takut akan menghancurkan masakan yang akan Yixing buat.

Yixing menyuruh Nayong membuat nasi dan ia yang akan membuat lauknya. Saat Nayong sedang mencuci beras, dering bel dipintu depan berbunyi dan Nayong meminta tolong Yixing untuk membukakan untuknya.

Diwaktu yang bersamaan, ponselnya kembali berdering dan melirik kearah Yixing yang sedang berjalan kearah pintu. Nayong membuka e-mail dari Li Na dan membacanya.

Kami telah menemukan siapa perempuan itu sebenarnya, jangan memunculkan tanda apapun yang mencurigakan. Dan sekali lagi, jangan pernah menanyakan apapun tentang perempuan itu pada Yixing gege. Ada sesuatu yang sangat mengejutkan dengan perempuan itu. Kau tak akan mempercayainya, Yonggu. Aigoo aku tak habis pikir dengan semua ini. Hati-hati dengan bicaramu, oke! Aku akan menceritakanmu segera setelah kita bertemu.

Jantung Nayong berdetak dengan cepat saat membacanya dan cepat-cepat membalas untuk Li Na.

Dari pintu, Yixing berteriak dan Nayong teringat ia kedatangan tamu.

“Nayongah, ada yang ingin bertemu denganmu. Seorang laki-laki, ia bilang ia harus bertemu denganmu.” Teriaknya.

“Tunggu sebentar, aku sedang memasukkan beras.” Teriaknya dari dapur dan memasukkan beras ke dalam mesin penanak nasi. “Siapa namanya, oppa?” Nayong tak tau siapa laki-laki yang mencarinya disore begini dan tak biasanya ia kedatangan tamu laki-laki kecuali…. adiknya. Mendadak saja perasaannya berubah menjadi tak enak.

“Dia bilang namanya Naru.” Teriak Yixing dari arah pintu.

Nayong membelalakan mata, ternyata perasaan tak enaknya memang benar. Nayong melepas sarung tangannya dan berjalan kearah pintu dengan mengerutkan kening. Ia membuka pintu dan mendapati adiknya sedang berdiri dibalik pintu.

“Noona…” ucapnya.

How’s it? Lanjutannya akan diproses dan dikemas se a.s.a.p mungkin kekeke cukup sekian, Saranghae~ Keep Loving My Yonggu~ RCL juseyo ^^/

Iklan

7 thoughts on “Puzzle Tub: Invisible

  1. aduh maap mel, baru di baca… kemarin sempat krisis mood sama exo jadi ga mood baca ff exo T^T
    aku baru tahu nayong punya adek loh :3
    sudah nonton exo’s showtime ? disitu lay polos polos gitu bikim gemes ><

  2. Ping balik: Puzzle Tub: Speak Now | EXO Girl's Daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s