[Virus ChaJin] Misvatting

misvatting

Author: Immocha | Leght: 2.606 words |Cast: Park Chanyeol & Kim Hyo Jin | Genre: Romance

Author Note:

Thanks to Zi Tao and Jongdae’s wife that make this story perfect.

Please read Kim Hyo Jin’s Profile before read this fanfic.

 ________

June 26th, 2013

Hyojin’s apartment, Cheongdam-dong, Seoul.

Hyojin meremas-remas jari-jari tangannya sendiri. Bukan karena dia kedinginan, yang benar saja sekarang ini sedang musim panas. Kegelisahan sedang melanda dirinya saat ini. Ia tak henti-hentinya berjalan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. James yang sedang duduk di sofa sambil memainkan PSP-nya terpaksa menghentikan permainan itu dan mengamati saudara perempuannya.

“Jean, ada apa denganmu? Kau seperti seterika mommy, berjalan kesana kemari tanpa henti.”

Hyojin tak menghiraukan perkataan James, ia masih terus saja berjalan mondar-mandir. Pikirannya masih terpusat akan kejadian kemarin malam, pertemuannya dengan gadis tinggi semampai yang ia kenal, Kim Yejin.

“Jean, temani aku jalan-jalan.”

James membanting PSP-nya di atas sofa, ia sedikit meloncat turun agar bisa menarik pergelangan tangan Hyojin, membuat Hyojin sedikit tersentak karena James menariknya cukup kuat.

“James kumohon untuk kali ini saja, kau bisa meminta Mom untuk menemanimu.”

No!” teriak James yang membuat Hyojin harus menutup kedua telinganya.

“Aku tidak tahu ada apa denganmu, aku hanya ingin membuatmu tersenyum,” lanjut James sambil terus menarik pergelangan tangan Hyojin.

“Aku baik-baik saja James.”

“Ayolah, Jean.”

James menampilkan puppy eyes-nya di depan Hyojin dan itu membuat Hyojin tak bisa menolaknya lagi.

Hmm, baiklah.”

Lagipula tak dipungkiri jika Hyojin memang butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya sejenak. Hyojin dan James memutuskan untuk berjalan berkeliling taman yang terletak tak jauh dari apartemen Hyojin.

 “Jean, aku ingin itu.”

James mengarahkan jari telunjuknya pada seorang pria paruh baya yang sedang berjualan permen kapas.

“Benarkah? Kajja, kita akan membelinya.”

Saat Hyojin sedang sibuk dengan permen kapasnya bersama James, ia merasakan ponselnya bergetar tanda ada telepon masuk. Hyojin melihat dengan jelas nama Chanyeol tertera di layar ponsel itu. Ia senang Chanyeol menelepon, meski rasa khawatir itu tetap ada.

Yoboseo, Ne?”

“…………”

“Tidak, aku sedang bersama James sekarang. Kau sibuk?”

“…………”

Hmm, Gwenchana. Bekerjalah dengan baik, arrachi?”

Hyojin menyentuh layar ponselnya untuk memutuskan sambungan telepon. Mendengar suara Chanyeol setidaknya membuatnya lebih baik.

Saat ini Hyojin dan James sedang duduk di bangku taman menatap sekeliling sesaat setelah menghabiskan permen kapas mereka. Tak beberapa lama Hyojin menangkap sosok yang ia kenal sejak lama.

“Hyo?”

Hyojin melambaikan tangannya, senyum kaku tersungging di bibirnya. Rasanya ini bukan saat yang tepat untuk bertemu Jino. Hyojin belum mempunyai mood  yang bagus.

“Jino-ya, bagaimana bisa kau ada disini?”

“Jean, siapa dia?”

“Oh, ya. Jino kenalkan ini adikku, James. James beri salam pada Jino hyung.”

“Hai, senang bertemu denganmu.”

“Kau tampan, apa kau kekasih Jean?”

Hhh..??”

Hyojin dan Jino saling bertukar pandang, sedikit terkejut dengan ucapan James.

“Aku tahu, jadi Jean murung karenamu? Ku harap kau tak akan mengulanginya lagi. Aku menyanyangi Jean dan aku tak ingin kau membuatnya terluka. Promise?”

I’m promise.”

Hyojin cukup kaget mendengar Jino mengatakannya.

“Ayo, kita jalan-jalan bersama.”

Tanpa menunggu persetujuan Jino, James langsung saja menggandengnya dan memintanya mengikuti kemana langkah kakinya.

Hyojin hanya mengikuti mereka dari belakang. Ayolah James, Hyojin masih mengkhawatirkan Chanyeol dan kau mengklaim Jino itu kekasihnya seenaknya saja.

Ternyata, mengikuti James untuk pergi keluar apartemen bukan hal yang baik. Hyojin melihat sosok menjulang itu berdiri tepat di hadapannya. Sungguh bukan saat yang tepat.

 “Chan-yeol? Hhmm, apa yang kau lakukan disini?”

“Tentu saja menunggumu. Kau pasti James, dan kau?”

Ah, dia pacar Jean. Bukankah ia tampan?”

“James, Jino bukan pacarku. Chanyeol, dia Jino teman sekolahku, kami tadi tak sengaja bertemu. Jino ini Chanyeol, kekasihku.”

“Maaf, jika terjadi kesalahpahaman. Pasti tak nyaman untukmu.”

Jino menampilkan raut wajah yang terkesan merasa bersalah, sedangkan James hanya mengangguk-angguk meski ia tak sepenuhnya mengerti percakap tiga manusia dewasa ini.

Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum datar menanggapi perkataan Jino. Setelah berkenalan dengan Chanyeol, Jino terpaksa mengikuti James masuk ke dalam apartemen Hyojin karena James terus menarik tangannya.

“Kau tidak ingin masuk dulu?”

“Aniya, mungkin lain kali. Aku masih ada jadwal sebentar lagi. Maafkan aku VJ, aku harus pergi sekarang. Sebenarnya tadi ku pikir, ah sudahlah. Lupakan saja.”

“Maaf karena membuatmu kecewa.”

Chanyeol menarik lengan Hyojin mendekatkan tubuh gadisnya itu di hadapannya. Chanyeol meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Hyojin, nyaman bagi Hyojin.

“Jika kau merasa membuatku kecewa, maka jangan pernah membuatku kecewa lagi. Mengerti Nona?”

Hmm, arrachi.”

“Aku pergi, manager hyung pasti sudah menungguku di basement.”

Chagiya, aku akan menemuimu nanti.”

“Kutunggu.”

*****

 Hyojin memainkan jarinya di atas tuts piano, menekannya asal sehingga membuat bunyi yang tak terlalu enak di dengar, sedangkan James masih menggerakan jarinya lincah di atas PSPnya sejak tadi sore.

“Jean, besok mom dan James harus kembali ke London.”

Hyojin semakin menjadi-jadi dengan pianonya, bising.

“Secepat ini? Tinggalah lebih lama, kumohon,” pinta Hyojin memelas.

“Kenapa tidak kau saja yang ikut aku dan mom ke London?”

James bicara dari balik PSP-nya karena cukup terganggu dengan permainan piano Hyojin.

“Aku tidak bisa, mungkin lain kali. Mom, aku akan pergi sebentar. Aku ada janji dengan Chanyeol.”

“Semalam ini?”

Hmm..

“Jika sudah, cepat pulang.”

Hyojin segera melesat dari pianonya untuk segera bergegas menemui kekasihnya, Park Chanyeol.

*****

KBS Building, 22.45 KST

Hyojin mengeratkan jaket yang melekat di tubuhnya dan terus melangkahkan kakinya menuju Cafetaria. Tangannya masih sibuk menari di atas layar handphone touchscreen-nya. Senyum masih terlukis manis di bibir mungil gadis cantik ini.

Eoh? Dia menelpon?”

Hyojin terkejut saat menerima panggilan dari Chanyeol.

Ne?”

“Kau benar-benar akan menemuiku semalam ini Park Hyojin?”

Hyojin tersenyum geli saat Chanyeol menggunakan marganya untuk memanggil Hyojin.

Eum, aku sudah di gedung KBS sekarang. Kau masih lama?”

“Mungkin setengah jam lagi. Kau yakin masih ingin menungguku?”

Eum.”

“Pulanglah, besok aku akan menemui pagi-pagi sekali. Aku janji.”

Hyojin tertunduk lemas saat mendengar perkataan Chanyeol. Usahanya untuk bertemu Chanyeol sirna, bahkan sebelumnya ia sudah berkata akan menunggu kedatangan gadisnya. Padahal Hyojin sudah menunggu-nunggu saat ini tiba, kembali bertemu dengan Chanyeol.

“VJ, kau masih disana?”

Eum, aku pulang sekarang. Aku tutup teleponnya.”

Hyojin kecewa dengan sikap Chanyeol. Hal ini membuatnya semakin khawatir, entalah rasa khawatir itu seakan tak mau hilang dari pikiran Hyojin. Ia terus melangkahkan kakinya menuju cafetaria, tempat awal dimana ia akan menunggu Chanyeol.

“Sepertinya segelas coklat hangat bisa membuatku lebih baik,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah meja, membiarkan dagunya bersandar pada kedua tangannya yang ia kepalkan lalu ia susun kedua tangannya. Posisi yang menurutnya nyaman untuk melamun atau bermalas-malasan.

“Apa mungkin ia masih marah denganku karena kejadian tadi?”

“Atau dia memang benar-benar mengkhawatirkanku? Jadi dia menyuruhku pulang?”

Hyojin tersenyum geli mendengar argumennya sendiri. Setidaknya berargumen dengan diri sendiri ditemani dengan segelas coklat hangat bisa membuatnya sedikit lebih senang. Namun lamunannya buyar saat ia mendengar seorang menyebut namanya.

“Kim Hyojin?”

“Eonni?”

“Ah, ternyata aku tak salah orang. Apa yang sedang kau lakukan selarut ini?”

“Menikmati hot chocolate,” ujarnya seraya menunjukkan secangkir coklat yang terletak di atas meja.

Kim Yejin, gadis ini telah memenuhi kepalanya, spekulasi yang ia buat  telah berkembang di otaknya. Sebuah pertanyaan nyaris meluncur di bibirnya, namun gadis yang tanpa persetujuannya telah duduk di kursi yang berseberangan dengannya itu bersuara.

“Aku di sini untuk menemui Chanyeol. Kau dengarkan isu tentang SM akan mendebutkan girl band pada akhir tahun ini? Kurasa setelah aku debut aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Happy Virus-ku itu.”

Dada Hyojin seketika sesak, seolah ada sebuah benda yang menghimpit paru-parunya. Pikiran Hyojin lagi-lagi beragumen dengan sendirinya dan satu pernyataan besar yang ingin ia sangkal kebenarannya saat ini adalah kekasihnya membatalkan pertemuan mereka hanya untuk bertemu dengan mantan kekasihnya.

Kehangatan dari segelas coklat hangat itu rasanya hilang seketika. Selama ini dia tak pernah mendapati Chanyeol bertindak seperti ini padanya. Apakah gadis yang masih menebar senyum di hadapan Hyojin ini yang membuat Chanyeol harus melakukan semua ini? Melukai Hyojin?

Eum?”

“Bagaimana menurutmu? Bukankah ini brilliant?”

“Aku akan pergi toilet sebentar.”

Rasanya Hyojin tidak sanggup lagi menanggapi perkataan Yejin. Hyojin pergi ke toilet yang terletak di sudut cafe untuk menarik napas sejenak, setidaknya mempersiapkan diri untuk menghadapi Yejin dan langsung berpamitan pulang.

Yejin memainkan handpone-nya, tanpa ia ketahui harapan yang telah ia gantungkan di langit bisa sirna begitu saja.

“Yejin, kau menunggu lama?”

“Kau sudah datang? Tidak, aku tadi tanpa sengaja bertemu seseorang yang kita kenal.”

Nuguya?”

“Tunggulah sebentar, dia sedang ke toilet.”

“Baiklah.”

Chanyeol tidak punya firasat buruk, mungkin saja itu salah satu staff SM pikirnya. Chanyeol dan Yejin sedang asik mengobrol saat Hyojin kembali dari toilet untuk berpamitan pada Yejin. Namun, Hyojin seolah membeku di tempat saat melihat sosok yang sangat ia kenal, Chanyeol. Lelaki yang memiliki tinggi diatas rata-rata itu saat ini sedang duduk membelakanginya.

Ah, itu ia sudah kembali.”

Sontak Chanyeol memutar badannya untuk mengetahui orang yang Yejin maksud. Mata bulatnya seperti akan keluar saat mendapati Hyojin berdiri mematung tak jauh dari tempat ia duduk. Ragu-ragu Hyojin melangkahkan kakinya mendekati mereka, ia membungkuk singkat untuk mengucapkan salam.

“Hyojin-ah, ottokke?” tanya Yejin berdiri di samping Chanyeol, sebelah tangannya mengapit lengan Chanyeol seperti sepasang kekasih.

“Cocok. Maaf, aku harus segera pulang. Selamat malam.”

Hyojin hanya menundukan kepalanya tanpa menatap Chanyeol barang sedikitpun.

“VJ, ini tak seperti yang kau pikirkan,” Chanyeol menarik tangan Hyojin tapi ia hempaskan begitu saja.

Ya! Kim Hyojin, berhenti di tempatmu!”

Ia menahan air matanya agar tak terjatuh di hadapan Chanyeol dan Yejin. Hyojin pergi begitu saja tanpa mendengar teriakan Chanyeol yang memanggilnya.

Hyojin merasa tidak ada lagi yang bisa ia pertahankan dari hubungannya dan Chanyeol, sepertinya selama ini hanya Hyojin yang menyimpan perasaan tulus itu. Mungkin gadis bernama Kim Yejin telah kembali merebut semua perasaan yang dulu Park Chanyeol berikan untuk Hyojin.

*****

June 27th , 2013

Incheon Airport, 18.12 KST

Hyojin menarik kopernya malas-malasan, sebelah tangannya yang lain bergadengan dengan James. Ia memutuskan untuk ikut ibunya ke London untuk menghilangkan kejadian semalam dari dalam kepalanya, bisa jadi Hyojin melarikan diri dari masalahnya membiarkan mereka bahagia dan memulai cerita baru. Mungkin itu akan jadi pilihan terbaik ketimbang mencintai seorang yang Park Chanyeol yang sudah tidak memiliki rasa untuk Hyojin.

“Jean, kupikir, kekasihmu tak terlalu buruk, dia tak kalah tampan dengan Jino hyung.”

Eoh?”

“Iya, sungguh. Kekasihmu itu sangat tinggi, memiliki dua buah mata yang bulat dan bibirnya selalu tersenyum lebar. Aku rasa ia tak takut giginya akan kering,” lanjut James diikuti gelak tawa khas anak-anak, Hyojin pun ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan James.

“Jean, kau tak memberi tahu Chanyeol bahwa kau akan berlibur ke London?” tanya ibunya.

“Tentu saja aku memberitahunya Mom, dia sedang mengisi acara musik sekarang, jadi tak bisa mengantar kita,” bohong Hyojin.

Tak rugi Hyojin mencari tahu jadwal EXO di internet semalam. Ia menolehkan kepalanya ke belakang terasa berat untung meninggalkan Seoul dengan keadaan seperti ini, tapi ia tak memiliki pilihan lain.

“Ku harap dia menemukannya,” gumamnya pelan.

*****

June 30th, 2013

EXO Dorm

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul.

Suasana dorm EXO pagi ini sangat sunyi. Lay dan Chen tengah duduk di ruang makan sedangkan maknae lines terus menciptakan kebisingan yang mereka buat karena berebut untuk bermain Play Stasion.

Sang leader, Suho dan Kris sibuk mondar mandir untuk membenahi penampilannya. Hari ini mereka harus melakukan recording di salah satu stasiun TV.

Ya! Park Chanyeol. Sejak kapan kau masih berdiam diri seperti itu? Cepat bersiap-siap kita harus berangkat menuju gedung KBS sebentar lagi.”

Suho berteriak cukup kencang, bahkan membuat maknae lines itu berhenti berteriak meski tak lama kemudian mereka kembali membuat kebisingan yang memekakan telinga.

Tak ada jawaban yang terlontar dari bibirnya, dia masih terduduk di atas kasur sambil memperhatikan layar handphonenya. Tak seperti yang kau tahu jika seorang Park Chanyeol adalah happy virus EXO.

“Chanyeol-ah, ppalli. Jika kau mencemaskannya nanti aku akan menemanimu ke apartemen Hyojin.”

“Dia pergi hyung. Dia bahkan tidak sedang bersama ibunya.”

“Ceritakan itu nanti. Sekarang cepat ganti, kami menunggu di mobil.”

Hmm, baiklah.”

*****

Chanyeol menatap keluar jendela, menatap kosong jalanan yang mereka lewati. Dia sama sekali tak menghiraukan sebagian member yang mencoba untuk menghiburnya atau sekedar mengajaknya bercanda.

“Jadi?”

Suho duduk di sebelah Chanyeol, medengarkan salah satu membernya bercerita tentang kekasihnya, Kim Hyojin.

“Ya, 4 hari yang lalu dia menemuiku di gedung KBS dan secara tidak sengaja Yejin juga membuat janji denganku. Aku sempat menghubunginya untuk membatalkan janji kami, ku pikir dia benar-benar langsung pulang setelah menutup teleponku. Kau tahu apa kelanjutannya. Ini semua salahku, kenapa aku begitu bodoh. Seharusnya aku tidak membuatnya seperti ini.

Tiga hari ini aku kehilangan komunikasi dengannya, ia seperti menghilang dari duniaku. Berkali-kali aku mengiriminya pesan, aku juga menelponnya tetapi noona-noona yang menjawab teleponku bilang jika nomor yang ku hubungi sedang berada di luar service area.

Tadi pagi saat aku menerima telepon dari Shinyeong ahjumma, ia bertanya padaku apakah Hyojin sudah tiba di Seoul. Sebenarnya kemana gadis itu? Mungkinkah ia pergi ke London bersama keluarganya, kemudian kembali ke Seoul?

Hyung, aku harus mencarinya kemana?”

Chanyeol mendesah pelan setelah berbicara panjang tanpa henti.

“Tunggu, jika ibunya bertanya demikian, dengan kata lain sebelumnya Hyojin ikut ke London kemudian ia pulang ke Seoul namun ia tidak ada di sini?”

“Mungkin saja seperti itu,” jawab Chanyeol asal.

“Kau sudah memeriksa apartemennya?”

“Belum.”

“Dasar idiot! Kau harus benar-benar memastikannya terlebih dahulu, Park Chanyeol.”

Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Jangan salahkan dia jika sekarang ia mulai bertindak gegabah. Semua terasa jadi serba salah baginya.

Arraseo. Setelah selesai jadwal hari ini aku akan ke sana.”

June 30th, 2013

Hyojin’s apartment, Cheongdam-dong, Seoul.

Chanyeol berdiri di depan pintu apartment Hyojin, ia ragu, apakah ia harus memencet bel yang tertempel di dinding atau dia langsung saja memasukkan nomer yang ia hafal untuk membukanya langsung?

Setelah beberapa menit, ia mengikuti kata hatinya untuk langsung masuk ke dalam apartemen Hyojin. Ia melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut ruangan, seakan de javu ia harus mencari sosok Hyojin.

Kamar Hyojin, satu-satunya tempat yang belum sempat ia singgahi. Besar harapannya untuk menemukan Hyojin di dalam, terbungkus di dalam selimut tebalnya sambil memeluk boneka beruang kesayangannya. Pupus sudah harapannya, tak ada siapapun di dalam sana, bahkan kamar itu dalam kondisi sangat rapi.

Chanyeol yakin jika gadisnya tak mungkin meninggalkannya tanpa pesan apapun. Setidaknya ia berharap ia menemukan sepucuk surat diatas meja belajar Hyojin seperti film-film yang pernah ia lihat sebelumnya.

“Tak ada surat untukku?”

Aish, jinja! Bagaimana bisa ia pergi begitu saja seperti ini?” geramnya seraya terduduk di kursi.

Namun pandangannya tersita oleh sebuah handycam yang terletak tepat di samping calendar desk. Mungkin sebuah kebetulan, tapi itu pertanda baik, bukan?

“Mungkinkah?”

Chanyeol menyalakan handycam itu, ia mulai membuka folder demi folder, ia menemukan banyak sekali foto dirinya bersama member EXO di berbagai macam acara.

“Tak ku sangka gadis sepertinya melakukan hal ini,” tawa Chanyeol menggema, namun tak lama tawanya berangsur hilang saat mendapati sebuah video, tanpa menunggu lama ia segera menekan tombol play untuk memutar video itu.

Ya! Park Chanyeol,” Hyojin membenarkan posisi handycam-nya, suaranya terdengar tak bersahabat.

“Aku sangsi kau akan mencariku. Maaf karena aku benar-benar harus melarikan diri untuk beberapa saat darimu.” Hyojin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah cantiknya dari kamera.

“Bodoh, tentu saja aku mencarimu,” gerutu Chanyeol.

“Kau masih mau menungguku setelah kejadian di cafeteria?” Hyojin tertawa sumbang lalu melanjutkan ucapannya.

“Tentu saja,” jawab Chanyeol, seolah Hyojin ada di hadapannya sekarang.

“Jika eomma menelponmu saat aku tak ada, katakan saja aku sedang sibuk bersamamu. Aku hanya tak ingin membuatnya khawatir. Maaf karena aku tak bisa mengatakan dimana aku berada selepas meninggalkan London. Aku tak ada di Korea Park Chanyeol, jadi kau tak perlu mencari di seluruh penjuru Korea, meskipun aku yakin kau tak akan melakukannya.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Chanyeol mantap.

“Kau hanya bisa menghubungiku melalui email, itupun jika kau benar-benar akan mencari tau apa alamat email-ku untuk sekedar menanyakan kabar mungkin. Aku harus pergi sekarang, James sudah mengetuk pintuku cukup keras. Ku harap saat aku kembali, kau masih mencintaiku. See you Park Chanyeol.”

Video terhenti, Chanyeol meletakkan kembali handycam itu di tempat semula. Chanyeol mengusap mukanya, perasaannya bercampur aduk. Kesal karena Hyojin pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasannya, senang karena setidaknya gadis yang dianggap virus yang telah menginvasi tubuhnya itu meninggalkan pesan, sedih karena ia tak tahu sampai kapan Hyojin pergi dan membawa separuh dari dunianya.

“Kau mencoba mengujiku ternyata Jean, tunggu aku akan mendapatkan alamat emailmu secepatnya.”

♦♦ ♦♦ ♦♦

Iklan

2 thoughts on “[Virus ChaJin] Misvatting

  1. yuhuuuuu~
    kim yejin sungguh kejam dirimu pada hyojin -_-
    pengen aku jambak rasanya, aku ikutan panas bacanya cha -.-
    hahaha, ini nih sukanya sama hyo, dia suka ngejain channie, jadi an galaunya ga kerasa-kerasa amat :3
    minta lanjutannya don kakak echa~ lanjut~ lanjut~ lanjut~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s