DaeHee Entrée: Trust

Daehee Entree - Trust Cover

9th DaeHee Entrée – Trust

Main Casts :

Kim Jongdae (EXO-M Chen)

Shin Eunhee (OC – @EunheeShin13)

Jung Jinyoung (B1A4 Jinyoung)

Genre : Romance | Length : 3.732 words | Rating : PG-15

Please read Shin Eunhee’s Profile first and happy reading ^^

07 October 2013, 07:25 PM

Yeouido Hangang Park, Yeouido-dong, Yeongdeungpong-gu, Seoul

Sejak 15 menit yang lalu, Eunhee hanya menunduk sambil mengetukkan sepatunya ke tanah. Sesekali ia menghembuskan nafas setelah melirik laki-laki di sampingnya yang masih saja asik menikmati pemandangan sungai Han di depan mereka. Gadis itu mengakui jika pemandangan itu sungguh luar biasa. Pantulan cahaya kota seberang benar-benar cantik. Tapi lama-lama Eunhee juga bosan. Belum lagi ia merasa lelah karena seharian beraktifitas di sekolah. Eunhee bahkan tidak berniat sama sekali untuk kesini sebelumnya. Saat ia dalam perjalanan pulang sambil membayangkan berendam di air hangat, tangannya ditarik berputar arah oleh Chen yang berpakaian serba tertutup. Alasan ajakan kencan dan ekspresi memohon dari laki-laki itu membuatnya menurut. Tapi rasanya Eunhee sedikit menyesal. Ia benar-benar bosan hanya duduk berdiam diri sejak satu jam yang lalu. Tidak ada obrolan sama sekali, dan belum lagi nyamuk-nyamuk yang nakal menggerayangi kakinya.

Seketika Eunhee kembali mendesah. Kali ini Chen menengok ke arah gadisnya itu, mengamati dari samping wajah Eunhee dan bibirnya yang mengerucut. Chen tertawa lalu menggusak rambut gadisnya pelan. Ia melepas syal miliknya, lalu mengalungkannya ke leher Eunhee. Tangannya berusaha membuat kepala gadis itu untuk bersandar di bahunya.

“Kau bosan?”

Eunhee mendengus pelan, “Tentu saja. Duduk disini selama satu jam dan hanya berdiam diri lama-lama juga membosankan, oppa.”

“Maaf. Pemandangan di depan benar-benar indah. Kau tidak melihatnya?”

“Ya aku melihatnya. Tapi tetap saja.”

“Kalau begitu kita pulang sekarang.”

Chen mulai berdiri dan tangannya bergerak hendak meraih tas punggung milik Eunhee, lalu bergerak untuk membopong tas miliknya sendiri. Tapi Eunhee dengan cepat menghentikan pegerakan tangan itu. Gadis itu tepat menatap kedua bola mata Chen dengan tatapan bertanya. Tidak mengerti apa maksud gadisnya itu, Chen mengerutkan keningnya seolah ingin bertanya balik.

“Katakan padaku. Oppa ada masalah?”

“Tidak. Mengapa kau bertanya begitu?“

“Bohong. Oppa tidak mungkin kesini jika tidak ada apa-apa.”

Chen mau tidak mau tersenyum. Ia tidak berbohong. Ia tidak punya masalah apapun. Hanya saja hatinya sedikit gundah. Ah tidak juga. Bisa dibilang ada satu hal yang masih belum terjawab dalam pikirannya sekarang, dan itu sedikit mengganggunya. Tapi haruskah ia jujur pada gadisnya soal hal ini?

“Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja.”

Chen memilih untuk berbohong. Eunhee masih menatapnya lekat seolah ingin menilisik lebih lanjut kebenaran dari perkataannya tadi. Gadis itu mengerutkan keningnya dalam beberapa detik, lalu sesudahnya ia menghembuskan nafas pelan dan memalingkan wajah ke arah lain.

“Oppa masih tidak percaya padaku? Bukankah semuanya sudah selesai? Bahkan oppa sudah tahu benar apa yang aku pilih.”

Suasana berubah menjadi sedikit canggung. Eunhee berhasil menebak apa yang tengah laki-laki itu pikirkan. Keduanya terdiam masih dalam posisi yang sama, dimana Chen berdiri dan Eunhee masih terduduk di bangkunya. Mereka berdua memilih menyibukkan diri dengan perasaan dan pikiran masing-masing ketimbang membicarakannya kembali. Ketakutan jika pertengkaran akan kembali terulang belum lagi fisik yang lelah membuat mereka enggan untuk memperdebatkan lebih lanjut.

Di satu sisi Chen mengutuk dirinya untuk tidak bisa menahan kecurigaannya sendiri. Tapi rasa ketakutan akan kehilangan Eunhee benar-benar besar, hingga ia tidak bisa mengontrol diri untuk tidak memikirkan apa yang ia lihat semalam. Malam dimana ia bersama para member yang lain baru saja keluar dari sebuah kedai kopi di dekat dorm mereka.

***

06 October 2013, 10:35 PM

Hollys Coffee, Yeoksam-dong, Gangnam-gu, Seoul

To: Eunbee

Jangan tidur larut malam. Besok kau harus sekolah. Jangan membaca fanfic lagi dan cepatlah tidur.

Chen baru saja mengirimkan pesan singkat itu kepada kekasihnya. Ia membayangkan bagaimana di seberang sana gadis itu tengah mengerucutkan bibir sebal saat membaca pesan itu. Chen terkekeh sebelum akhirnya terbatuk karena tersedak kopi yang baru saja ia seruput.

From: Eunbee

Arraseo. Aku sedang belajar wahai Tuan Kim. Aku akan tidur setelah selesai dan jangan mengangguku.

Balasan pesan itu sukses membuat Chen tersenyum. Sebenarnya ia bisa saja mengakhiri perbincangan mereka sampai disitu saja, tapi tangannya terlalu gatal untuk tidak membuat panggilan dan mendengar suara Eunhee sekarang. Hanya ingin memastikan jika gadis itu baik-baik saja dan benar-benar sedang belajar.

Baiklah. Ia mengaku jika ia merindukan suara gadisnya itu.

“Kau benar-benar belajar?” tanya Chen ketika panggilan itu diangkat.

Terdengar suara dengusan dari seberang sana yang sukses membuat laki-laki itu tertawa.

“Baiklah aku percaya. Cepat selesaikan lalu tidur, eoh.”

“Iya oppa. Ish, sejak kapan oppa cerewet seperti Gwangchul oppa?”

Chen kembali tertawa, “Bukankah kau juga cerewet? Jadi kita sama saja.”

“Tetap saja oppa lebih cere—“

“Aku merindukanmu Eunbee-ah.”

Dalam beberapa detik tidak ada jawaban dari seberang sana. Chen yakin jika gadis itu tengah merona sekarang.

Nado oppa,” sahut Eunhee pelan dan berhasil membuat kedua sudut bibir laki-laki itu mengembang sempurna ke atas.

“Selamat belajar. Besok ku jemput ke sekolah.”

Arraseo. Sampai jumpa besok. Ah, jangan lupa sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuk Lay gege.”

Aish, kau bahkan telat mengucapkan selamat ulang tahun padaku.”

“Itu karena oppa menyebalkan waktu itu. Oppa juga lupa ulang tahunku.”

Chen mendesah, ia lupa jika Eunhee harus kembali belajar dan akhirnya memilih untuk mengakhiri perdebatan sepele di antara mereka, “Baiklah akan ku sampaikan. Ingat pesan ku tadi.”

“Iya. Terima kasih oppa.”

“Kau duluan yang tutup telponnya.”

Hmm, baiklah. Tapi oppa…”

“Kenapa?”

Chen heran ketika Eunhee menggantungkan perkataannya seperti itu. Belum lagi ketika ia bisa mendengar erangan kecil keluar dari mulut gadisnya. Baru saja ia hendak bertanya kembali, Chen berhasil dibuat terdiam dengan kata-kata Eunhee selanjutnya.

Saranghae, Kim Jongdae.”

Telpon itu terputus. Tapi rasanya senyum Chen tak bisa terputus begitu saja setelah mendengar hal itu dari Eunhee. Ia senang karena gadis itu mulai berani untuk memulainya terlebih dahulu. Walaupun masih malu-malu, tetapi tetap saja Chen senang karena saat ini perasaan Eunhee jauh lebih terbuka daripada sebelumnya. Dasar bodoh, pikir Chen. Herannya gadis bodoh itu tidak pernah bisa hilang dari benaknya.

“Berhenti tersenyum seperti orang gila Jongdae. Kita harus segera pulang,” tegur sang manager.

Yang ditegur akhirnya tersadar dan melihat jika member yang lain sudah bersiap untuk pulang. Ia bisa melihat Minseok menahan tawa geli akibat ulahnya itu. Chen tersipu malu sambil bergegas membereskan barang bawaan, menyeruput sisa kopinya, dan bersiap pulang. Setelah ia bergabung, Chen bisa merasakan jika Chanyeol meliriknya jahil sambil bersiul menggoda. Ditinjunya lengan Chanyeol, berharap laki-laki itu diam dan berhenti menggodanya.

Chen baru saja akan menutup pintu mobil mereka, ketika pandangannya menangkap sosok gadis yang benar-benar ia kenal. Gadis itu baru saja keluar dari sebuah café di samping kedai kopi yang mereka kunjungi tadi. Chen yakin jika ia tidak salah lihat apalagi salah mengenali seseorang. Jikapun ia memang salah, gadis itu benar-benar mirip dengan Eunhee-nya.

“Ya, cepat tutup pintunya!” tegur Suho yang sudah benar-benar lelah dan ingin segera pulang.

Chen tak mengindahkan teguran itu lalu keluar dari mobil secepatnya. Ia membungkuk meminta maaf dan berkata dengan cepat sebelum berlari pergi.

Hyung, aku janji akan kembali secepat mungkin. Aku ada urusan sebentar.”

***

Meanwhile at Drop Top Café

“Kau yakin hasilnya bagus?”

“Iya. Kau sudah mendengar jawabanku berkali-kali nona Shin.”

Eunhee mengangguk tanda mengerti. Tangannya terus saja memutar spaghetti yang baru saja ia pesan. Ia hanya mengaduknya saja dengan garpu, satu suapan pun belum ia masukkan ke dalam mulutnya. Ia benar-benar gelisah.

Saat ini Eunhee tengah berada di sebuah café dengan Jinyoung. Mereka baru saja pulang dari studio dan mampir untuk makan malam sebentar sebelum Jinyoung mengantarkannya pulang. Jinyoung yang melihat gadis di depannya belum juga makan, akhirnya menghentikan sejenak kegiatannya memotong daging steak pesanannya.

“Aku yakin dia pasti suka. Kau ini terlalu khawatir.”

“Tapi kau terus mengomeliku tadi karena suara ku beginilah, begitulah. Aku kan jadi gugup kalau hasilnya jadi jelek.”

“Kau sadar suaramu jelek huh?”

Tawa Jinyoung teredam saat kakinya berdenyut nyeri karena gadis itu baru saja menginjaknya.

Eunhee menggerutu sebal. Ia tidak terima jika suaranya dikatakan jelek. Ya walaupun tidak sebagus suara para idol, tetapi setidaknya suaranya tidak semengerikan itu juga. Ia kesal karena Jinyoung mengatainya segamblang itu. Saat Eunhee sibuk dengan gerutuannya, ponselnya bergetar dan langsung saja gadis itu mengeceknya.

Gadis itu tersenyum. Ia membalas pesan dari Chen lalu menyuap spaghetti miliknya. Begitu seterusnya sampai akhirnya kekasihnya itu menelpon. Dengan gugup, Eunhee mengangkat panggilan itu dan mencoba agar suaranya terdengar senormal mungkin. Sambil mengaduk spaghetti miliknya Eunhee berusaha meyakinkan Chen kalau dia benar-benar belajar. Laki-laki itu akan berubah protektif jika ia mengatakan hal yang sebenarnya. Bisa jadi mereka kembali bertengkar jika ia melakukannya. Di akhir panggilan, Eunhee merona ketika mengatakan hal yang sedikit memalukan untuk Chen di seberang sana.

Jinyoung memperhatikan ekspresi Eunhee sedari tadi. Ia mengamati dengan seksama mimik muka gadis yang mengisi hatinya sejak sebelum ia debut bersama grupnya. Jinyoung tersenyum kecut ketika Eunhee mengatakan sepatah kata yang bahkan selama ini belum pernah ia dengar dari mulut Eunhee untuknya. Jinyoung segera menormalkan ekspresi wajahnya sebelum gadis itu menyadarinya.

“Kau berbohong padanya?”

Eunhee mendongak ke arah Jinyoung masih dengan wajah merona, “Iya. Kalau tidak aku bakalan ketahuan.”

Jinyoung mencoba untuk bersikap biasa saja dengan mengalihkan perhatian pada potongan daging miliknya. Setelahnya ia kembali menatap Eunhee dengan lekat. Gadis yang ia perhatikan menatap heran ke arahnya dengan garpu berlilitkan spaghetti yang menggantung di udara.

“Tidakkah kau kasihan padaku?”

Heh? Maksudnya?”

Jinyoung menyentakkan garpu dan pisau ke atas meja, lalu memasang wajah serius, “Kau pikir nyaman apa selalu dianggap jadi orang kedua?”

Eunhee mentatap Jinyoung datar. Garpunya sudah ia letakkan kembali ke atas piring. Tangan gadis itu beralih terjulur untuk menjitak dahi milik Jinyoung sampai laki-laki itu mengaduh kesakitan.

“Jangan bicara yang tidak-tidak. Cepat habiskan makananmu lalu antar aku pulang,” pungkas Eunhee.

Jinyoung menurut sambil terus mengusap dahinya yang sakit. Ia memanggil pelayan lalu membayar harga pesanan mereka. Setelahnya mereka segera bergegas kembali menuju parkiran dimana mobil Jinyoung berada.

Saat Eunhee hendak membuka pintu mobil, Jinyoung mencegah tangannya lalu membalikkan gadis itu agar berhadapan dengannya. Gadis itu bertanya dan malah dijawab dengan tatapan menyebalkan laki-laki itu.

“Aku tidak akan menyetir sebelum kau menyembuhkan dahiku terlebih dahulu.”

Eunhee memutar bola matanya jengah. Laki-laki satu ini benar-benar menyebalkan. Dengan mimik muka yang dibuat semanis mungkin, gadis itu mengusapkan tangannya ke kening Jinyoung. Mengusapnya pelan beberapa kali lalu tersenyum paksa.

“Maafkan aku Jinyoungie. Sudah sembuhkan?”

Jinyoung tersenyum puas lalu mengangguk. Laki-laki itu segera menuju kursi kemudi dan membiarkan Eunhee naik ke mobilnya dengan tenang. Mereka berdua segera meluncur mulus menuju apartemen Eunhee tanpa menyadari bahwa sepasang mata terus mengikuti pergerakan mereka dengan tatapan kecewa.

***

07 October 2013, 09:13 PM

EXO Dormitory

“Kau sudah pulang? Ayo sini kita makan kue ulang tahunku sama-sama.”

Ajakan Lay akan begitu menggiurkan jika mood Chen tengah bagus sekarang. Tapi ia menggeleng, memilih untuk menolak ajakan itu lalu bergegas menuju ke kamar hendak merebahkan diri. Mengacuhkan tatapan heran dari Lay dan member yang lain. Ia benar-benar lelah dan rasanya ingin tidur saja secepatnya. Setelah berganti pakaian dan mencuci muka, laki-laki itu merebahkan dirinya sambil memeluk guling ke arah tembok. Pikirannya kembali terarah pada kilasan Eunhee yang berjalan pulang sendirian tanpa ia temani. Mereka bertengkar. Beradu mulut sebentar sebelum gadis itu memilih untuk pulang terlebih dahulu, meninggalkannya sendirian di taman. Chen berpikiran untuk menyusul gadis itu, tetapi bodohnya ia terlalu keras kepala untuk berdiam diri membiarkan Eunhee menghilang dari pandangannya karena sudah menjauh pergi.

Baekhyun memasuki kamarnya dengan sepiring kue di tangan. Setelah meletakkan piring itu ke atas meja, Baekhyun berusaha bertanya kepada sahabatnya itu.

“Kau bertengkar lagi dengan Eunhee?”

Sebuah anggukan dari Chen untuk Baekhyun.

“Karena ‘dia’ lagi?”

Chen kembali mengangguk. Ia mendengus gusar mengingat siapa sosok ‘dia’ yang dimaksud. Mengingat orang itu lagi rasanya mood Chen tambah buruk saja.

“Bukankah masalah kalian sudah selesai? Jelas-jelas Eunhee memilihmu, Jongdae-ya,”

Chen mendesah. Kata-kata itu sama dengan apa yang dilontarkan Eunhee saat mereka bertengkar tadi. Ia tahu hal itu. Tapi jika ia mengingat apa yang ia lihat semalam, kecurigaan dan rasa tidak percaya itu kembali menguar. Ia ingat bagaimana sentuhan fisik di antara kekasihnya dengan laki-laki itu. Belum lagi dengan kenyataan jika gadis itu berhasil membohonginya. Pikiran-pikiran negatif seketika merasuki pikiran Chen. Kata ‘jangan-jangan’  terus berputar tiada henti dalam benaknya sekarang.

“Terlalu banyak kecurigaan dalam suatu hubungan itu tidak baik. Sampai kapan kau terus curiga dengan Eunhee?”

Chen menatap Baekhyun tajam, “Jika kau melihat mereka berdua bermesraan di café apa kau masih akan berkata kalau aku terus menaruh curiga? Aku melihat semuanya setelah kita minum kopi semalam.”

Baekhyun diam. Laki-laki itu tidak menyangka jika gadis bernama Eunhee bisa berbuat seperti itu. Tapi ia yakin Chen tidak mengada-ada, tidak ada gunanya juga. Ia sangsi untuk membela siapa.

“Kau sudah menanyakan hal itu pada Eunhee?”

Baekhyun tersenyum saat mendapati Chen menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaannya. Ia menepuk pundak Chen, berharap laki-laki itu mengerti pikirannya dan berdoa agar hubungan sahabatnya akan baik-baik saja.

“Tanyakan saja dulu. Tidak ada salahnya. Aku yakin Eunhee pasti punya alasan sendiri. Gadis itu tidak mungkin bertindak senekad itu.”

Memikirkan saran Baekhyun tadi, Chen pun menimang-nimang ponselnya. Ia bimbang, haruskah ia menelpon gadis itu atau tidak. Ia menggusak rambutnya frustasi. Dilemparnya ponsel itu sembarang ke atas kasur dan beralih meraih tasnya untuk mengambil i-pod di dalamnya. Dahi laki-laki itu mengerut heran saat menemukan sebuah kotak CD yang asing di penglihatan. Ia mengambil CD itu, lalu memutar file mp3 berjudul ‘Dear Jongdae’ di dalamnya dengan menggunakan laptop.

Seketika suara seorang gadis menggema di udara.

Suara yang begitu ia kenal. Suara Eunhee, kekasihnya.

You are a special, eventhough you’re a bit of a bore

When you tell a joke, everyone ever heard it before

But you have a talent, a wonderful thing

Cause everyone listens when you start to sing

I’m so grateful and proud

All I want is to hear it out loud

So I say

Thank you for the music, the songs you’re singing

Thanks for all the joy they’re bringing

Who can lived without it, I ask in all honestly

What would life be?

Without song or a dance, what are we?

So I say thank you for the music

For giving it to me

“Gadis bodoh.”

Chen tak bisa untuk tidak tersenyum mendengar lagu yang dinyanyikan kekasihnya itu. Lagu ABBA berjudul Thank You for The Music yang dinyanyikan Eunhee berhasil membuatnya tersentuh. Hatinya kembali menghangat. Ia tidak menyangka jika gadis itu akan melakukan ini padanya.

I’ve been so lucky

I am the girl with all your heart

I want to tell it out to everybody

What a joy, what a life, what a chance

So I say

Thank you for the music, the songs you’re singing

Thanks for all the joy they’re bringing

Who can lived without it, I ask in all honestly

What would life be?

Without song or a dance, what are we?

So I say thank you for the music

For giving it to me

Lagu itu berakhir. Tidak ada satu suara pun yang terdengar. Tapi herannya pemutar musik menunjukkan jika lagu itu belumlah selesai. Chen heran. Laki-laki itu berusaha untuk mempercepat lagu itu sampai akhirnya terdengar suara khas milik Eunhee yang menyapa indera pendengarannya.

“Selamat ulang tahun Kim Jongdae. Aku menyayangimu. Hihihi. Oppa pasti bingung kan? Ini bukti kalau aku tidak lupa ulang tahun mu, oppa. Aku ingat. Aku hanya ingin balas dendam sedikit saja sambil memikirkan hadiah apa yang harus ku berikan untukmu. Dan jadilah lagu ini. Aku harap kau senang dengan hadiah ku oppa. Terima kasih untuk semua hal yang kau berikan padaku. Maafkan aku atas pertengkaran kita sebelumnya, semua hal yang membuatmu sedih karena perbuatanku. Terima kasih karena mau menungguku dan menerimaku lagi. Aku mencintaimu Kim Jongdae.”

Senyum Chen mengembang. Ia tertawa ketika mendengar dehaman gugup dari kekasihnya. Bukti jika Eunhee malu telah mengatakan cinta padanya.

“Kau juga harus berterima kasih pada Jinyoung, oppa.”

Senyuman itu luntur. Ia mendengar nama seseorang yang tidak ia harapkan. Chen berusaha keras untuk tetap mendengarkan lanjutan rekaman suara itu.

“Ia membantu mengajariku piano untuk lagu ini. Tapi kurasa oppa harus memarahinya, karena Jinyoung galak dan selalu mengomeliku.”

Chen menyeringai. Dengan senang hati ia akan melakukannya untuk Eunhee.

“Tapi ku mohon oppa jangan curiga padaku. Tidak ada apa-apa. Jinyoung hanya sekedar mengajariku bermain piano. Kan aku sudah bilang, kalau aku. Hmm, ya oppa tau sendiri kan. Sudahlah. Aku malu mengatakannya.”

Jantung Chen terasa berdebar. Entah kenapa mukanya memerah menahan malu. Ia tahu benar apa yang dimaksud Eunhee, dan tidak bisa dipungkiri jika itu membuatnya senang bukan main.

“Terakhir, aku harap oppa percaya padaku. Hanya itu oppa.”

Rekaman itu berakhir pada kalimat itu. Kalimat Eunhee yang meminta jika ia mempercayai gadis itu. Seketika memori Chen berputar pada kejadian dimana mereka bertengkar barusan.

Kenapa oppa selalu curiga padaku?

Kalimat itu benar-benar menusuk nuraninya. Chen mendesah pelan sembari mengusap mukanya. Ia bergegas menemukan ponselnya, menekan speed dial nomor 1 untuk menghubungi Eunhee. Chen mendengus karena ponsel Eunhee tidak aktif. Berkali-kali ia menelpon kekasihnya itu dan hasilnya tetap sama. Chen mendesah pasrah dan kembali menaruh ponselnya ke atas ranjang.

“Itu karena aku terlalu percaya padamu, Eunbee-ya.”

***

08 October 2013, 06:05 PM

Eunhee’s apartment, Dongdaemun-gu, Seoul

Eunhee melangkah gontai menuju apartemennya. Ia seperti kehilangan seluruh semangatnya jika mengingat kejadian semalam bersama pria bodoh itu. Eunhee menghembuskan nafasnya kencang. Ia bergegas menuju apartemennya, ingin segera merebahkan diri untuk mengistirahatkan pikirannya yang penat.

Perlahan Eunhee memasuki apartemen miliknya, menutup pintu dengan menggunakan sebelah kaki. Ia berjalan lunglai menuju sofa ruang tamu lalu membuang tas punggungnya sembarang. Gadis itu menghempaskan diri dan berakhir menyandarkan kepalanya ke sofa. Dengan mata terpejam, hembusan nafas pelan berhasil keluar dari mulutnya. Jadwal pelajaran yang semakin padat, tugas menggunung, belum lagi ujian yang semakin dekat. Hal itu membuat Eunhee semakin lelah. Desahan tak bersemangat kembali keluar dari mulutnya saat ia mengingat bagaimana hubungannya dengan pria bodoh itu belakangan. Eunhee malas menyebut namanya. Jadi, ia mengingat laki-laki satu itu dengan sebutan ‘pria bodoh’ saja.

Semenjak Jinyoung kembali hadir dalam hidupnya, hubungannya dan Chen pun mulai berubah. Sering bertengkar, saling tidak memberi kabar. egois dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Tidak ada yang merasa tidak tersiksa baik Eunhee maupun Chen. Walaupun gadis itu akhirnya sudah menetapkan pilihan, tetapi rasanya tetap saja ada yang berbeda dari sebelumnya. Berbeda dengan saat mereka masih baik-baik saja. Jauh berbeda sebelum kedatangan Jinyoung yang berniat memperbaiki hubungan dengannya.

Saat itu Eunhee mungkin akan jatuh terlelap jika sebuah suara tidak memaksa matanya untuk kembali terbuka lebar.

“Tidak baik terus mendesah pasrah seperti itu. Lihat buku-buku mu berserakan dimana-mana. Lain kali jangan melempar barang ke sembarang arah lagi.”

Eunhee berdecak mendapati seorang laki-laki menyebalkan tengan mengomel padanya. Tidak tahukan jika ia begitu karena laki-laki itu juga? Dan apa ini? Masuk ke apartemennya sebelum ia sendiri pulang? Eunhee hanya bisa memandangi Chen dengan tatapan datar dan tanpa minat sedikitpun.

“Kenapa memandangiku seperti itu?”

“Kenapa kau bisa disini?”

“Tidak baik menjawab pertanyaan seseorang dengan sebuah pertanyaan balik. Sana ganti baju dulu.”

Eunhee kembali berdecak tidak suka, lalu bangkit dari sofa yang tadi ia duduki. Bukannya menurut untuk berganti pakaian, gadis itu lebih memilih menuju daput untuk mengambil minum. Ia haus dan entah sejak kapan hawa di apartemennya berubah menjadi begitu panas. Saat meminum sebotol air dingin dari dalam kulkas, Eunhee nyaris tersedak saat merasakan tangan seseorang melingkar erat di pinggangnya. Untuk beberapa saat, Eunhee hanya bisa terdiam. Ia gugup ketika Chen menyandarkan dagu dibahunya. Jantung Eunhee berdetak dengan kencang. Gerakan meminumnya pun hanya bisa menggantung di udara.

“Suaramu bagus. Mengapa kau tidak jadi penyanyi saja?”

Eunhee tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bergurau. Jadi ia hanya menanggapi sekenanya, “Oh, kau sudah mendengarnya?”

Ya. Panggil aku oppa.”

Gadis itu memilih untuk tidak melandeni lebih lanjut pria yang mendekapnya. Ia berusaha melepaskan tangan itu dari pingganya. Tapi semakin kuat Eunhee meronta, maka lingkaran tangan itu akan semakin mengerat pula. Chen mendesah dalam hati saat mengetahui sekali lagi betapa keras kepalanya gadis yang ia cintai.

“Aku selalu percaya padamu, Eunbee-ah. Karena aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa percaya dengan laki-laki itu.”

Eunhee memejamkan mata. Ia bisa mengerti mengapa Chen bersikap seperti itu. Gadis itu memilih untuk kembali berdiam diri. Ia ragu untuk mejawab atau sekedar bicara. Melihat hal itu, Chen membalikkan tubuh kekasihnya agar mereka bisa saling berhadapan. Mengetahui gadis itu membuang muka, Chen mengudap pipi Eunhee, membuat gadis itu mau tidak mau membalas tatapan matanya.

Kau taukan aku ini pecemburu? Jika kau jadi aku saat melihat kekasihku sendiri berbohong, mengusap dahi laki-laki lain dengan mesra, apa kau tidak akan curiga?”

Kali ini Eunhee dibuat tertegun. Chen tahu ia berbohong soal Jinyoung kemarin. Tatapan tajam Chen yang ditujukan padanya seakan memaksa untuk berkata jujur akan alasan yang sebenarnya. Eunhee menata hatinya, memalingkan wajah ke arah lain sebelum ia menjawab.

“Aku tidak bermesraan. Buang jauh-jauh pemikiran itu, oppa. Soal mengapa aku berbohong, karena aku takut kau akan marah dan kejutan ini tidak akan berhasil. Aku tidak mungkin meminta bantuan pada Seungwoo atau Mi Ri. Hawon sudah pulang. Junhyung oppa sibuk. Lalu Jinyoung menawarkan diri untuk membantuku. Karena aku benar-benar ingin menghadiahkan lagu itu padamu, akhirnya aku setuju.”

Chen mengusap kepala gadisnya dengan lembut sembari menariknya pelan ke dalam pelukan hangatnya. Ia tahu Eunhee jujur kali ini. Laki-laki itu mengecup singkat puncak kepala Eunhee. Ia tidak bisa mengelak jika apa yang dikatakan gadis itu adalah benar. Ia mungkin akan marah karena tidak senang Eunhee berhubungan dengan laki-laki itu. Egois memang. Tapi itulah dirinya. Seorang Kim Jongdae yang mencintai Shin Eunhee sepenuh hatinya.

“Jangan membohongiku lagi, Eunbee-ya. Itu membuatku semakin marah. Dan terima kasih untuk lagunya. Aku suka,” ungkap Chen.

Eunhee mengangguk. Ia juga senang jika Chen menyukai hadiahnya. Teringat sesuatu, gadis itu segera merenggangkan pelukan mereka, “Jadi sekarang sudah tidak marah lagi kan? Oppa percaya padaku bukan?”

Chen mendelik, “Siapa bilang? Tidak sebelum kau menyanyikan lagu itu secara langsung untukku.”

Ya! Mana boleh seperti itu!”

“Tentu saja boleh. Ayolah, nyanyikan untukku sekarang!”

Chen berubah menjadi sosok anak manja yang terus merengek agar keinginannya dituruti. Eunhee heran, mengapa bisa ia begitu mencintai laki-laki satu ini. Lalu bagaimana bisa Chen mencoba bersikap imut di hadapannya? Astaga! Apa laki-laki ini sedang tidak enak badan?

Lama kelamaan, Eunhee mulai bosan mendengar rengekan itu di telinganya. Gadis itu menangkup kedua pipi kekasihnya, memberanikan diri untuk menyentuh bibir laki-laki itu dengan bibirnya. Hanya beberapa detik Eunhee langsung menjauhkan ciuman dan tangannya dari laki-laki itu. Chen terdiam mematung. Sementara Eunhee salah tingkah dan mencoba menyembunyikan rona merah wajahnya dengan memalingkan muka.

“Berhenti merengek. Kau bukan anak kecil, oppa,” ujar Eunhee pelan.

Chen segera sadar dan seketika mengulum senyum. Ia tentu saja terkejut. Tapi tak bisa dipungkiri jika hatinya senang bukan main. Saat Eunhee hendak beranjak pergi, Chen dengan cepat kembali meraih pinggang kekasihnya Berusaha kembali merapatkan jarak di antara mereka. Perlahan tapi pasti, ia membuat Eunhee mundur teratur hingga bersandar pada kulkas di belakang tubuhnya. Tanpa ragu laki-laki itu mendekatkan kedua ujung hidung mereka. Saling merasakan helaan nafas satu sama lain.

“Ya. Aku percaya padamu, nyonya Kim.”

Seiring dengan mata Eunhee yang tertutup rapat, sentuhan lembut di bibir keduanya pun kembali dimulai.

– kkeut –

ps: Jinyoung~ saranghae. Selingkuhan aku akhirnya muncul dan dia ganteng pake banget masa ❤ Hahahaha. Kalau kalian baca ff sebelumnya, pasti ngeh kan kenapa jadi Jinyoung? Mulai dari Sweet Little Surprise aku udah kasih beberapa clue~ Hihihi. Maaf karena update-an nya udah hampir sebulan atau bahkan dua bulan. Ada banyak hal yang belum aku ceritakan disini. Jadi ff ini semacam clue untuk ff selanjutnya. Semoga pada suka! Dan maaf kalau ada typo dimana-mana ._.

Btw, untuk lagu itu aku merubah beberapa bagian. Jadi jika kalian heran kenapa lirik lagu aslinya berbeda dengan yang disini, itu karena aku ingin menyesuaikan dengan cerita. Semoga kalian mengerti ya 🙂 Rekomendasi aku, silahkan unduh lagu Thank You for The Music versi J-Rabbit dari album pertama mereka, It’s Spring.

Iklan

13 thoughts on “DaeHee Entrée: Trust

  1. APAAAAAA?!!!!
    kenapa itu ada adegan kiss nya -_- di apartemen yg isinya cuma mereka berdua doang, itukan bahayaaaa
    dan kenapa my little baekki bijaksana bgt disini? :3
    ih unyu ya ampe relain belajar piano dan nyanyi buat si jongdae.
    clue? ah nextnya cepetan yaaaaa, ga mau tauu >.<

    • Lalala~ Aku memang udah sejak lama memikirkan hal itu, dan akhirnya aku merasa ‘ini waktu yg tepat’. Muahahaaha. Ah~ Ga sebahaya itu kok ka. Eunhee polos dan masih tau batasan ._.v
      kkk makasih ya ka chacha {}

  2. Rates-nya PG-15 tpi aku ttp nekad baca masa? ._. tpi yg kisseu aku ga baca kok :3 *bohong banget* -.-
    Yg aku suka dari FF Kak Muthia itu diksi dan gaya penceritaannya. Pilihan katanya itu tepat di FF-nya, gaya penceritaannya juga ga bikin orang bosen baca 😀
    Feel-nya dapet, alur ga ngebosenin, penggambaran karakternya juga udh pas. Apalagi ya? Udah ah gitu aja deh kkk~
    Ditunggu DaeHee Entrée berikutnya ♥ 😀

    • nah lho… hahaha aku juga sering gitu. biasanya yg rating 21 / 23 aku tetap nekad baca. kan penasaran -_-
      makasih banyak ya. aku masih harus banyak belajar sebenarnya. makasih banyak udah mau baca sama kasih komentar caroline 🙂

  3. “Tidak baik terus mendesah pasrah seperti itu. Lihat buku-buku mu berserakan dimana-mana. Lain kali jangan melempar barang ke sembarang arah lagi.”

    “Tidak baik menjawab pertanyaan seseorang dengan sebuah pertanyaan balik. Sana ganti baju dulu.”

    omonaa~ Chen??? dia bisa kayak gitu jugaa yaa huhu >w< oppa Chorom <<
    niceee kak ^^
    fighting ^^9
    xoxo

  4. Huwaaa keren banget ini ditunggu loh eon daehee selanjutnya ngomong-ngomong jinyoung itu mantan pacarnya eunhee ya oke segitu aja dulu komennya ^^

    • makasih banyak ^^
      lanjutannya ditungguin aja ya. soal Jinyoung… hmm menurut kamu? hihi tungguin aja cerita selanjutnya. nanti ketauan deh Jinyoung itu siapanya Eunhee~
      yg pasti dia suami aku yg baru ._.v *plaak

  5. WAAAAAAA Jinyoung~ saranghae~~
    keenapa jinyoung? huh hah, itu cem cemanku wkwkwkwk.
    tapi menurutku ji dsini cuman bertepuk sebelah tangan ya? entahlah~ kelihatannya konfliknya ada di dia ntar xD
    i love this muti, wow so sweet banget kkk, chen ❤ my sexy chen ❤ kamu kok kiss2 an xD

    • karena dia suami aku mey. wkwkwk
      kkk liat aja nanti deh. aku ga tega juga gituin jinyoung lho ‘-‘
      itu karena sudah waktunya mereka kiss2an ❤
      makasih ya mey 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s