AB Style : Coffee Talk

ct

Title : Coffee Talk

Author :  hellospringbreeze (@hellospringbree)

Genre : Romance, Sad, Angst

Lenght : 1.830 word

Main Cast: Huang Zi Tao and Park Ji Young  (@meiliji95)

Note:

Thanks Muthi for editing, Thanks Mey for a beautiful poster

Please read Park Ji Young’s Profile first

cerita ini adalah prolog dari cerita selanjutnya

 

 June , 18th 2013  [03.45 PM]

Coffee Lab – Hongdae, Mapo – gu , Seogyo – dong, Seoul

————–

Dua laki-laki itu duduk di sudut cafe. Terlihat keduanya tengah menikmati waktu senggang yang memang terbilang sangat sedikit. Tanpa menghiraukan hiruk-pikuk manusia yang memenuhi café itu, mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing. Santai, tetapi ada rasa tegang yang menyelimuti.

Mungkin jika pertemuan ini dilakukan satu tahun yang lalu Tao tidak akan merasa begitu tegang. Satu tahun lalu sebelum ia menjalin kasih dengan Ji Young, adik dari laki-laki yang tengah menyeruput hot cappuccino dihadapannya sekarang ini.

Tao tidak mungkin berkata ‘tidak’ atas ajakan Il Soo kemarin sore. Pergi ke cafe di sudut kota untuk sedikit berbincang. Bukan suatu masalah yang rumit. Mereka hanya akan membicarakan Ji Young, wanita yang hidup di tengah-tengah mereka.

Sebelum ini, Tao dan Il Soo memiliki hubungan yang cukup baik. Il Soo sudah menjadi choreographer EXO sejak debut pertama mereka. Bukan hal yang aneh jika mereka sudah benar-benar mengenal satu sama lain.

Tapi akan jadi sangat aneh saat Tao menjalin kasih dengan Ji Young. Entahlah, yang pasti hanya Tao dan Il Soo yang tahu bagaimana betul rasa aneh yang membatasi mereka sekarang ini.

“Aku akan menikah.” Il Soo buka suara, membuat Tao mendongakan kepalanya, lalu mengalihkan pandangan dari secangkir coffee latte untuk menatap Il Soo.

“Dan Ji Young akan tinggal sendiri. Dia sudah memilihnya. Aku tahu, Ji Young tidak mungkin bisa hidup dengan orang asing, sekalipun orang itu adalah istriku sendiri.”

Mendengar hal itu cukup membuat Tao heran. Seorang Park Ji Young yang ia kenal tidak mungkin bisa hidup sendiri, sekali pun gadis itu sudah biasa ditinggal Il Soo. Tapi kali ini keadaannya akan berbeda. Ji Young masih terlalu sering bertindak labil dan membahayakan dirinya sendiri, seperti berdiam diri tanpa meminta bantuan saat badai melanda.

Terbersit di pikiran Tao, mungkin kali ini Il Soo akan mengatakan jika Tao harus menjaga Ji Young untuknya.

Tao bangga, ini berarti Il Soo sudah merestui hubungan mereka.

“Dan aku tidak berharap banyak denganmu, Zi Tao.”

.

.

.

Hiruk-pikuk cafe seolah hilang, seketika keheningan menyergap indera pendengaran Tao.

Dan aku tidak berharap banyak denganmu, Zi Tao.

Kalimat itu terngiang, membuat Tao harus menahan dagunya agar tak menganga lebar.

“Aku tak mengerti maksudmu, hyung.” Tao bicara cukup lantang dengan penuh kebingungan.

“Ji Young akan tinggal sendiri, itu artinya tidak ada lagi yang bisa melindunginya. Aku mengenalmu. Kau bukan laki-laki yang pantas untuk Ji Young,” Tao kenal betul tatapan itu, tatapan Il Soo didasarkan kekhawatiran berlebih akan Ji Young.

“Kau bahkan tak pernah tahu apa yang telah aku lakukan untuknya.”

.

Tao berbohong pada semua penghuni dorm untuk Ji Young.

Tao mengendap-endap hanya untuk membeli film barbie.

Tao berlutut dan meminta maaf karena Ji Young menangis.

Dan terakhir, Tao menerobos badai hanya untuk Ji Young, Il Soo kau harus tahu itu.

.

“Aku tahu segala yang telah kau perbuat untuk Ji Young. Kau membuatnya menangis saat kau membentaknya lewat telepon. Kau membuatnya bersedih akibat kesibukanmu. Dan kau membuatnya putus asa karena sifat tak pedulimu itu,” Il Soo berkata cukup santai, dengan nada datar, tapi menusuk.

“Aku bisa membuat Ji Young bahagia.”

“Aku tak pernah melihat Ji Young bahagia bersamamu.”

“Kau tidak tahu apa-apa tentang kami hyung.

“Aku tahu! Kau hanya maknae yang masih sering bersembunyi di balik punggung Kris. Ji Young tidak butuh laki-laki sepertimu.”

“Lalu? Kau menyimpulkan semua ini sesuka hatimu? Kau pikir aku tidak bisa menjaga Ji Young?”

“Iya. Zi Tao berhentilah, Ji Young butuh seseorang yang lebih peduli padanya.”

Hyung, yang menjalani semua ini adalah aku dan Ji Young, Ji Young bahkan tak pernah membicarakan tentang ini. Itu berarti dia nyaman bersamaku.”

“Ya, mungkin Ji Young merasa nyaman, tapi aku tidak pernah merasa nyaman saat Ji Young berada di sisimu.”

“Lalu apa yang kau inginkan hyung?”

“Pergilah dari Ji Young.”

“Tidak akan.”

“Menyerahlah.”

“Aku bukan pecundang.”

“Ji Young akan menemukan seseorang yang lebih baik darimu.”

“Aku tidak akan menyerahkan Ji Young begitu saja.”

Il Soo terdiam. Nada bicara Tao penuh dengan keyakinan, Il Soo melihat dengan jelas bagaimana Tao mulai menggepalkan tangannya.

Tao benar-benar serius.

“Aku sudah berjanji pada orangtuaku. Ji Young akan kembali ke Thailand setelah aku menikah. Ji Young memang belum mengatahuinya. Hubungan kalian hanya akan semakin rumit, Tao. Ini hanya akan membuat Ji Young semakin terpuruk.”

“Aku tidak peduli. Aku bisa membuat Ji Young tetap tinggal di Korea, meski Ji Young akan hidup tanpamu.”

“Orangtuaku tidak sebaik yang kau kira.”

Tao diam lalu mendelikan matanya. Tao kini menyeringai kasar pada Il Soo.

“Lalu kau sebut dirimu kakak yang pantas untuk menjaganya? Kau yang membawa Ji Young pergi meninggalkan Thailand, dan sekarang kau biarkan dia kembali dengan cara seperti ini? Kau bahkan membiarkan Ji Young kembali ke Thailand dan hidup tanpa seorang teman pun?”

Tao menatap Il Soo tepat di kedua bola matanya, terdengar seperti mendesis.

“Aku tidak punya pilihan lain.”

“Jangan harap aku akan meninggalkan Ji Young begitu saja.”

“Tao. Aku mengerti kau mencintai Ji Young. Tapi orangtuaku tidak akan membiarkan Ji Young terus tinggal di Korea. Dengan sikapmu yang seperti ini kau hanya membuat Ji Young semakin berat hati meninggalkan Korea.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak akan bertindak seperti seorang pecundang.”

“Jangan egois, kau juga harus memikirkan Ji Young.”

“Kau yang egois, hyung. Kau hanya memikirkan kebahagiaanmu. Menikah lalu meninggalkan Ji Young sendiri, lalu membiarkan Ji Young kembali ke Thailand dan kau memaksaku untuk meninggalkan Ji Young begitu saja. Kau menyedihkan.”

——88——-

Tao masih tak bisa membiarkan tangannya lemas begitu saja. Tangannya terus mengepal akibat emosi yang tak mau hilang dari hatinya. Tao menghormati Il Soo sebagai seorang hyung yang telah mengajarkannya banyak hal dan sebagai seorang oppa bagi kekasihnya, tapi semua itu seolah hilang. Rasa hormat itu hilang hanya karena percakapan singkat bersama dua gelas kopi tadi sore.

Tao duduk di sofa ruang tengah dorm. Tao berkali-kali mengurut pelipisnya, berkali-kali juga menghembuskan napas panjang. Di saat member lain sibuk dengan free time mereka, Tao malah sibuk memikirkan Ji Young yang entah akan bagaimana nasibnya nanti setelah pernikahan Il Soo.

Ji Young kembali ke Thailand?

Apa dia akan bahagia?

Lalu bagaimana dengan hubungan kami?

Apa orangtua Ji Young sudah mempersiapkan laki-laki lain untuk Ji Young?

Apa Ji Young akan melupakan semua ini begitu saja?

Apa aku sanggup membiarkan Ji Young pergi meninggalkan Korea?

Pertanyaan-pertanyaan yang jumlahnya di luar batas memenuhi kepala Tao. Kepalanya terasa berat, hatinya tidak tenang. Bukan sesuatu yang berlebihan jika ia sangat mengkhawatirkan Ji Young.

Tao mengusap layar ponselnya, wajah tersenyum Ji Young di wallpaper ponsel Tao membuat laki-laki itu merasa semakin miris. Dengan getir Tao menyentuh layar ponselnya untuk menelepon Ji Young.

Meiliji, apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang memberi makan Mosya dan Syaloo.”

“Bagaimana keadaanmu?”

“Baik, bagaimana denganmu Tao ge?”

“Baik, tapi aku merindukanmu.”

Nado.”

Tawa Ji Young saat berkata ’Nado’ membuat Tao semakin merindukan sosok anak kecil ini.

“Kau sendirian?”

“Tidak, Il Soo sedang ada di apartemen.”

“Il Soo?”

Ada sedikit ragu di hati Tao saat ia mendengar Ji Young menyebutkan nama itu. Ada juga rasa miris mengingat Ji Young akan kembali ke Thailand.

“Ya, dia sedang berbaring di tempat tidurku.”

“Aku mengganggumu?”

“Tidak, Tao ge.”

Meiliji, jaga dirimu baik-baik, jaljayo.”

Ne, Jaljayo Tao ge.”

Tao memutuskan sambungan telepon.

Tao melempar ponselnya di meja ruang tengah dorm. Tao kehilangan semangat saat Ji Young menyebut nama Il Soo. Ada rasa tidak nyaman bagi Tao saat mendengar nama itu.

——88——-

Tidak biasanya Tao memutuskan sambungan telepon begitu cepat, hal ini hanya membuat Ji Young menghembuskan napas pelan.

Padahal aku masih merindukan suaranya.

Ji Young berkata dalam hati. Tapi Ji Young melupakan semua itu lalu kembali fokus pada kedua makhluk bersisik di akuarium kecilnya.

“Kangji, berapa umur Mosya dan Syaloo?”

Hm, entahlah, mungkin sekitar enam tahun.”

“Berarti tidak lama lagi.”

“Maksudmu Il Soo?”

“Mungkin sebentar lagi kau akan kehilangan salah satu dari mereka, atau keduanya.”

“Aku juga akan kehilangan kau.”

.

.

.

.

“Aku akan sering mengunjungimu.”

“Tidak, itu bukan masalah. Aku bisa hidup sendiri. Urusi saja keluargamu nantinya.”

“Kangji.”

“Ya?”

“Kau mencintai Tao?”

Ji Young menoleh ke arah Il Soo. Ia hampir saja tertawa, menurutnya itu pertanyaan yang bodoh. Tapi Ji Young kembali terdiam saat melihat tatapan Il Soo yang begitu serius. Ji Young bangkit lalu berjalan ke arah tempat tidurnya, Il Soo masih menatap Ji Young penuh tanya.

Ji Young mendelikan matanya lalu menghembuskan napas pelan.

“Iya, aku sangat mencintai Tao.”

Ji Young membaringkan tubuhnya di samping Il Soo, lalu menatap langit-langit kamar.

“Mengapa?”

“Ada terlalu banyak hal manis yang Tao lakukan untukku.”

“Misalnya?”

“Terkadang Tao memang tidak punya banyak waktu bahkan hanya untuk memberi kabar, tapi aku suka saat Tao menelponku di pagi hari lalu mengutarakan kerinduannya dan mengutaran penyesalannya karena tidak sempat memberi kabar beberapa hari belakangan.”

“Hanya itu?”

“Tidak, ada banyak lagi. Aku suka saat Tao mengucapkan selamat malam untukku, miris memang, bahkan ayah dan ibu tidak pernah mengucapakannya untukku. But he does it. Aku suka saat Tao tersenyum tulus padaku, aku menyukai semua yang ada pada dirinya Il Soo.

“Jika suatu saat kau harus meninggalkannya?”

“Jika aku harus meninggalkannya?”

“Ya, apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah, aku tidak tahu.”

“Tidak tahu?”

“Kita tidak seharusnya memikirkan sesuatu yang tidak terjadi, Il Soo.”

“Baiklah. Kangji, apa aku salah meninggalkanmu sendirian di apartemen ini?”

“Tidak, aku sudah dewasa Il Soo. Berhenti bertanya hal-hal bodoh.”

Ji Young bangkit dari tidurnya, berjalan ke arah pintu  kamar lalu memutar kenopnya. Ji Young berjalan ke arah dapur untuk membuat segelas hot chocolate. Sejanak, Ji Young menghentikan aktivitasnya, Ji Young terbelenggu. Ji Young tersenyum miris,

Aku sudah dewasa Il Soo.

Dewasa. Satu hal yang terlalu Ji Young paksakan untuk dirinya. Ji Young terpaksa dewasa sebelum waktunya. Ji Young dewasa dengan sendirinya, dengan pengalaman hidupnya. Ji Young sudah dewasa sejak dia pergi dari Thailand.

Tapi dewasa bukan berarti Ji Young bisa tegar melewati semua ini.

Ji Young rasakan matanya memanas, dadanya sesak.

Sakit, menangis dalam diam itu menyakitkan

——88——-

Ini aneh.

Katakan saja begitu. Bagaimana tidak, kini Tao dan Il Soo kembali datang ke cafe yang sama. Saling menatap garang satu sama lain.

Kali ini, Tao yang mengajak Il Soo bertemu.

“Ada yang ingin kau katakan padaku?”

“Apa yang harus aku lakukan agar Ji Young tetap tinggal di Korea?”

“Tidak ada. Kau hanya bisa merelakan dia pergi.”

“Jangan membodohiku, hyung.”

“Aku bersumpah Zi Tao. Kau memang tak pantas untuk Ji Young. Lupakan dia karena orangtuaku tak pernah main-main.”

“Aku sangat mencintainya. Lebih dari yang kau tahu.”

.

.

.

Hening seketika mengusai percakap mereka. Nada bicara Tao membuat Il Soo terhenyak, dia bersungguh-sungguh. Il Soo menatap mata Tao, berusaha membaca suasana hatinya yang tercermin disana.

“Buktikan jika kau betul-betul mencintainya.”

“Tidak ada yang perlu aku buktikan. Semuanya sudah terlalu jelas.”

“Tinggalkan saja Ji Young.”

“Apa masalahmu, hyung?”

“Ada satu hal yang akan kukatakan padamu, Zi Tao.”

“Apa?”

“Aku tidak pernah melarang hubungan ini, tapi orang tuaku yang menuntutnya.”

Tao terdiam, orang tua Ji Young benar-benar tidak merestui hubungan mereka, dan semuanya mereka lakukan tanpa alasan yang jelas.

“Aku tidak mengerti, aku betul-betul mencintai Ji Young.”

“Tunjukan pada mereka jika kau benar-benar mencintainya Zi Tao.”

_TBC_

Sorry for typo(s) i hope u enjoy, like, leave a comment and follow this blog

maaf aklo ini ga sweet sweet lala~

Hihihihi :3 well, makasih udah baca, love yaaa~ ❤

19 thoughts on “AB Style : Coffee Talk

  1. demi apaa ini :”””””””
    huweee, masa ilsoo tega ninggalin kangji sendirian balik ke thailand ㅠㅠ mending kasih ke tao aja deh, bang :”
    tao, buktikan cintamu ke kangji! jangan mau kalah sama ortunya jiyoung ;-;

  2. woohhoo, hy kak, aku udah janji kan bakal baca xD
    dan wah, jadi konfliknya di sini perjuangan tao ntar :3 aku gasabar sama part selanjutnya. pasti seru. dan kakaknya jiyoung entahlah :/ aku merasa disini dia mulai ragu buat misahin tao tapi…. pokoknya ditunggu nextnya kaka xD

    • heheh, makasih ya mey udah baca {}
      aamiin semoga part berikutnya lebih baik dri ini, OK! tungguin part berikutnya yaaa 😀

  3. Halo~ hihihi sengaja pakai akun ini biar kemungkinan ga ketauan siapa *sokmisterius
    Tao… Kalau jiyoung pergi, kau bisa bersamaku *kedip2. Rasanya aku ga sanggup ngebayangin Tao galau gimana cara memepertahankan hubungan mereka. Mukanya pasti tambah serem ganteng (?) Satu hal yg aku paling setuju dari Tao pas dia bilang kalau Ilsoo gatau apa-apa soal hubungan mereka. Menyebalkan bgt orang yg buta soal itu tiba-tiba datang dan terkesan bertindak sbg boss aja main larang ini itu. Tp kalau jadi Ilsoo, aku mungkin jg akan nantang Tao. Hihihi. Menerobos badai hanya sebagian kecil utk pembuktian. Justru setelah Ilsoo nikah Tao hrs banyak membuktikan soal perasaan dia. Berjuanglah Tao. Aku mencintaimu! (?)

    Ngebayangin kalau Tao menyerah lalu Jiyoung sedih tak berujung. Tiba-tiba sosok Sehun datang, bantuin Jiyoung bangkit dari keterpurukan dan berhasil. Tapi di saat yg sama Tao sadar Jiyoung itu hidupnya, dan pertarungan yg sesungguhnya kembali dimulai. Kyaaa!

    Lanjut ya, harus lanjut secepatnya.

    • Annyeong ^^
      Ok ok aku tebak ya…. Ini pasti… Hmm… Istrinya chen, pacarnya luhan, kekasihnya kris kan?

      Jangan dong, kalo Ji Young pergi Tao-nya sama aku aja :3 Rrrrrr kira-kira gimana ya cara si Tao biar hubungan mereka tetap bertahan ? Dengan cara yang ekstrim kah? Hhahaha iya Il Soo sok tau bingit. Ah maaf, Tao hanya mencintaiku, Jun So, dan Ji Young, hha.

      Ya ya ya, bisa jadi..
      Jadi nnti Tao menyerah, Ji Young patah hati, dan di tengah keterpurukannya itu ada Sehun yang datang merangkul Ji Young, membuat Ji Young sadar dan bangkit dari keterpurukannya.

      Tapi……

      Tao sadar jika…

      Sehun dalah hidupnya, Tao berantem sama uri Jiji, Tao menang, dan akhirnya TAOHUN deh 😀 wkwkwkwkwwkwk

  4. Hadir! *gandeng luhan, lambai2, gelayutan manja*
    Haha… jaid heboh sendiri. Okesip balik ke FF. Aku cuma mau bilang ini keren. Udh gitu aja *plak
    Abis ga tau mau comment apa. Konfliknya terlalu bertubi-tubi sih :3
    Btw, Caroline imnida, 99 lines, masa depannya Luhan(?), masa lalunya Sehun(?), dan masa kininya Baekhyun(?).Salam kenal ya Kak Caca 😀

    • Holaa~
      Hihihihi :3 makasih yaaa~
      Hi Caroline, aku chacha, masa depannya Tao, masa lalunya Kai, dan masa kininya Kris, hahaha
      Salam kenal juga dongsaengi~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s