Kimi Couple: Decision

6 - Decision

Decision

Author : Kimmica (@kimmisylle)

Main Casts : Kim Minseok (EXO-M Xiumin) & Kim Michelle (OC)

Other Casts: EXO Member

Genre : Drama

Length : 3.130 (Oneshot)

Rating : G

Disclaimer : I just own the plot and idea. Kim Minseok and EXO’s member belongs to SM Ent.

Note: Finally, I can published this ff. Whoaaa, it take a long time to have an idea and write it to be a fanfiction. I hope, this ff not disappointing you all. So sorry for the strange story. I will be better for the next ff. Thanks for Momo and Echa eonni that give me so much help! Love you guys.  And I wanna say thanks to the readers, thanks for read my ff and thanks for giving some comment. Happy reading!

I love ya, XOXO~

Please read another story of Kimi Couple:

A New Family, I Know Who You Are, The Truth, Before Everything’s Getting Late, This Feeling

And please read,

Kim Michelle’s Profile

–Kimmica©2013 –

July, 5th 2013

At Music Bank Backstage Area

Kedua belas anggota EXO terlihat sedang bersantai setelah selesai memberikan penampilan terbaik mereka sesaat yang lalu. Beberapa diantara mereka terlihat sedang berganti pakaian termasuk Kim Minseok. Pria dengan tinggi seratus tujuh puluh enam itu memakai kaos berwarna merah yang terlihat sedikit terlalu besar ketika dikenakan. Ia lalu duduk di bangku kosong di sebelah Chanyeol yang sedang menenggak habis minumannya.

Minseok menghela nafas lega. Ia merasa tubuhnya sangat lelah dikarenakan aktivitas EXO yang sangat padat. Belum lagi ditambah dengan beban pikiran mengenai kejelasan hubungannya dengan Kim Mica, adik tirinya. Ia lantas mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas kecil miliknya. Ia menekan angka satu dan langsung menempelkan benda putih itu pada telinganya. Terdengar nada sambung beberapa kali sampai akhirnya suara seorang gadis terdengar menjawab panggilan itu.

“Yeoboseyeo?

Annyeong, Kim Mica,” Minseok tersenyum kecil saat menyebutkan nama gadis itu.

Eo? Oppa! Oppa, aku merindukanmu. Sungguh. Senang sekali akhirnya kau menelponku.”

“Haha. Aku juga, Mica-ya. Apa kabarmu? Mendengar suaramu, sepertinya kau nampak sehat.”

“Kau benar oppa. Keadaanku sudah jauh lebih baik sekarang.”

Jinjjaro? Syukurlah kalau begitu,” senyum kecil di bibir Minseok kini beruba menjadi senyum lebar.

Ne. Oppa, kapan kau kemari?”

Pria itu diam sesaat, “Ehem. Aku masih belum tau.”

“Kenapa?”

Minseok mendengar ada perubahan kecil pada suara gadis itu. Ia bisa menangkap nada kecewa dari suaranya.

“Kau pasti tau alasannya. Maafkan aku karena belum bisa menemanimu saat terapi. Aku sangat ingin melakukannya. Sungguh. Hanya saja…”

Arraseo, oppa. Jangan menyesal seperti itu. Masih banyak kesempatan lain untuk melakukan itu. Kau bisa menemaniku saat kau benar-benar memiliki waktu luang.”

“Terimakasih atas pengertiannya Mica-ya. Aku janji akan menemanimu saat aku benar-benar mempunyai waktu luang.”

Ne. Nan gidaryeo.”

Ne. Kim Mica. Aku harus pergi untuk makan malam. Sudah dulu, ya? Nanti akan kutelpon lagi.”

Yap. Makan yang banyak! Kau harus mengisi tenagamu agar kau tetap sehat. Berjanjilah untuk mengembalikan pipi bakpao mu itu, haha.”

Pria itu tertawa pelan, “Haha, arraseo. Tunggu saja sampai pipiku kembali bulat seperti dulu. Bye…

Sambungan telpon terputus. Tanpa ia sadari, sebelas anggota EXO yang lain sedang menatapnya dengan tatapan ingin tahu dan mereka semua sama-sama menyeringaikan senyum jahil. Ketika ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk seraya menyembunyikan ekspresinya, ia terkejut dengan kelakuan aneh ke sebelas adik laki-lakinya.

Mwohae? Kalian sedang apa? Kenapa menatapku begitu?” ia mengerutkan alisnya tanpa bisa menyembunyikan rona wajahnya yang seketika berubah menjadi warna merah muda.

“Hyung! Sudahlah, tunggu apa lagi? Kalian berdua sudah sangat cocok. Kenapa tidak langsung saja? Kau ingin didahului orang lain?” ucap Baekhyun tiba-tiba.

Ne, hyung. Kim Mica gadis yang manis. Aniya, dia cantik. Di Busan sana, pasti banyak sekali namja yang menyukai Mica. Kau ingin didahului mereka?” Chanyeol menambahi.

“Dan sekarang, gadis itu tinggal di Seoul. Kecantikan Mica jika dibandingkan dengan gadis-gadis Seoul itu berada pada tingkat yang sama. Lalu apa yang kau tunggu, hyung?” Sehun yang tak mau kalah pun ikut bicara.

Anggota tertua itu pun hanya bisa menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Ia akui, pernyataan ketiga adiknya benar. Mica gadis yang cantik. Tidak bisa dipungkiri bahwa pasti banyak namja yang jatuh hati padanya. Ditambah lagi, Mica adalah gadis yang mudah bergaul dengan siapa saja.

“Tapi aku pikir tidak akan semudah yang kalian katakan. Minseok hyung dan Mica itu bersaudara walaupun bukan saudara kandung. Jika mereka berpacaran, apa reaksi orang tua mereka? Benar, kan? Sepertinya hal itu juga harus dipertimbangkan,” jelas Jongdae.

Semua yang berada dalam ruangan itu terdiam. Jongdae benar. Bagaimana dengan orang tua mereka jika tahu bahwa kedua anak nya menjalin kasih? Apakah akan semudah itu orang tua mereka akan memberi izin? Atau, mereka tidak akan memberikan izin sama sekali? Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan mereka?

“Minseok hyung dan gadis itu sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Mereka hanya terikat status sebagai saudara tiri karena orang tua mereka menikah. Lantas, apa yang menjadi masalah? Menurut beberapa buku yang kubaca, saudara yang sama sekali tidak terikat hubungan darah itu bisa menjalin suatu hubungan yang lebih dari sekedar saudara,” keheningan yang terjadi diantara mereka dipecahkan saat Suho bersuara.

“Aku setuju. Aku juga pernah baca di sosial media mengenai hal itu,” Kris angkat bicara.

“Lalu bagaimana keputusanmu, hyung?” Tanya Lay dengan bahasa korea yang masih terbata-bata.

Minseok menghela nafas berat. Jujur saja, pada saat ini ia sangat bingung. Di satu sisi, ia menyetujui semua pendapat yang disampaikan adik-adiknya. Tapi di sisi lain, ada sebuah perasaan yang sangat mengganjal. Bahkan ia sendiri tidak tahu tentang sesuatu yang mengganjal itu.

Backstreet is a best way to hide your relationship, hyung.”

Pernyataan mengejutkan itu terlontar begitu saja dari Kyungsoo. Entah dorongan apa yang ia dapat sehingga berani menyatakan hal itu.

Backstreet? Menyembunyikan hubungan dari orang tua kami?”

Kyungsoo mengangguk. Ia tahu, walaupun suatu saat hubungan itu akan diketahui oleh orang tua mereka, setidaknya saat ini cara itulah yang paling tepat. Untuk kelanjutannya, bisa dipikirkan lagi nanti. Tentu saja Kim Mica harus ikut memikirkan bagaimana caranya jika ia sudah sehat nanti, batin Kyungsoo.

“Yang terpenting sekarang adalah kau mendapatkan Mica. Bukan begitu, hyung?”

Minseok mengangguk, “Bagaimana jika suatu saat hubungan kami ketahuan oleh eomma dan appa?”

“Kita bisa memikirkannya bersama-sama, hyung. Kami pasti akan mendukungmu, apapun dan bagaimanapun keadaannya,” ujar Tao sambil tersenyum.

Kini ada keyakinan lain yang timbul dari dalam hati kecil Minseok. Dukungan yang besar dan sangat berarti dari ke sebelas adiknya telah memberikan semangat baru untuknya. Ia pun mendapatkan kepercayaan dirinya kembali untuk mengambil sebuah keputusan.

***

July, 7th 2013

Kangdong Sacred Heart Hospital, Gildong, Gangdong-gu, Seoul

Kim Mica duduk di sofa dekat jendela kamar sambil meluruskan kakinya ketika ada beberapa orang yang masuk ke kamarnya. Ia menolehkan kepalanya dengan cepat lalu tersenyum lebar saat melihat tamu yang datang.

“Minseok oppa!” serunya senang.

Annyeong, Mica-ya. Bagaimana kabarmu hari ini?” Minseok berjalan menghampiri Mica lalu memberikan sebuah pelukan hangat pada gadis itu.

“Baik sekali. Keadaanku sudah semakin membaik setelah kau datang, hihi,” Mica membalas pelukan hangat oppa-nya. Dan pada saat yang bersamaan ekor matanya mendapati dua orang lain berdiri tidak jauh dari ia dan Minseok.

“Ditambah lagi dengan Luhan oppa dan Suho oppa yang menjenguk,” gadis itu melepas pelukannya lalu menatap dua pria di belakang Minseok sambil tersipu malu.

Annyeong,” sapa Luhan dan Suho bersamaan. Mereka menjabat tangan Mica bergantian dan alhasil rona wajah gadis itu menjadi sangat merah.

Hari ini tidak ada karangan bunga lili putih dari Minseok. Tapi pria itu membawakan kejutan lain untuknya. Luhan dan Suho. Akhirnya pria itu menepati janjinya untuk mengajak anggota EXO ketika menjenguknya.

“Minseok oppa, gomawo. Kau akhirnya menepati satu dari ketiga janjimu.”

“Tiga?”

“Iya. Mengajak anggota EXO, membawakan bunga yang lebih cantik dan menemaniku terapi,” gadis itu tertawa pelan.

Eo? Luhan oppa, Suho oppa, silakan duduk. Jangan berdiri saja. Apa kalian tidak lelah berdiri terus? Ey, tentu saja kalian pasti sudah terbiasa. Kau bodoh sekali, Kim Mica,” ia menepuk pelan kepalanya seraya meratapi kebodohan yang ia lakukan.

Luhan dan Suho hanya bisa tertawa pelan lalu duduk di sebelah Minseok. Baru beberapa saat yang lalu gadis itu tersipu malu ketika bertemu dengan mereka. Tapi sekarang, gadis itu sudah bisa beradaptasi dengan Luhan dan Suho. Tidak ada lagi rona merah di wajah mungilnya.

“Bagaimana keadaanmu, Mica-ssi?”

“Sangat baik. Dokter bilang kesehatanku memulih dengan cepat. Memang belum bisa dinyatakan sembuh, tetapi pengobatan yang dilakukan sudah mulai dikurangi. Paling hanya terapi saja,” jelasnya percaya diri.

Jinjja? Syukurlah. Aku senang mendengarnya,” ucap Luhan seraya mengambil sesuatu dari dalam tas nya.

“Untukmu,” namja itu menyerahkan sebuah kotak kecil yang diikat dengan pita manis berwarna merah muda.

Mica menerima kotak kecil itu dengan senyum mengembang di bibirnya, “Luhan oppa, gomawoyo.”

“Luhan-ah, jangan bicara seformal itu pada Mica. Ia lebih muda daripada dirimu,” Minseok memperingatinya. Yang diperingati hanya menyeringai sambil berucap ‘mianhae’ pada hyung-nya itu.

Kim Mica beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan mengambil kamera dari dalam lemari. Ia menyalakan kameranya lalu mencobanya sekali.

“Bagus. Nah, oppadeul! Rapatkan jarak kalian, aku ingin mengambil gambar kalian bertiga untuk kenang-kenanganku.”

Ketiga namja itu segera merapatkan jarak mereka dan memasang gaya masing-masing. Minseok dengan dua jari dibentuk menjadi huruf V, Suho dengan senyumannya yang manis dan Luhan dengan gaya mengacungkan ibu jari nya ke arah kamera. Setelah puas dengan sepuluh kali bidikannya, Mica tersenyum seraya menganggukan kepalanya pada ketiga orang namja yang duduk di depannya.

“Akan ku cetak dan ku tempel pada dinding kamar nanti,” ucapnya.

“Tempel foto kami dengan gaya yang paling bagus, Mica-ya,” canda Suho.

Gadis itu mengangguk mantap., “Tentu saja, oppa. Eh? Kalian tidak mempunyai jadwal untuk hari ini?”

Aniya. Kami sudah menyelesaikan jadwal kami. Itu sebabnya kami bisa kemari. Mica-ya, duduk di sebelahku,” Minseok menepuk tempat kosong di sebelahnya, mengisyaratkan Mica untuk duduk di sampingnya.

Mica meletakan kameranya di atas kasur sebelum akhirnya ia menghempaskan tubuhnya di sebelah namja yang ia cintai itu. “Wae?”

Alih-alih mendapatkan jawaban, Mica merasa tangannya digenggam sangat erat oleh Minseok. Ia menatap oppa-nya dengan tatapan bingung. Sedangkan Minseok hanya memberikan senyuman manis andalannya sebagai jawaban. Melihat apa yang dilakukan oleh hyung-nya, Suho hanya bisa tersipu. Ia merasa kedua orang di hadapannya ini sangat cocok jika menjadi sepasang kekasih. Muncul inisiatifnya untuk mengabadikan apa yang ia lihat saat ini. Ia mengambil kamera pocket milik Luhan dari dalam tas.

Ya, hyung! Ayo bergaya. Aku yakin kalian belum pernah berfoto berdua seperti itu, kan? Inilah saat yang tepat. Mica-ya, duduklah lebih dekat lagi dengan Minseok hyung dan balas genggam tangannya, arraseo?”

Suho mengarahkan pasangan itu seperti layaknya seorang fotografer yang handal. Ia terus saja memberikan intruksi gaya apa ayang harus dilakukan oleh mereka.

Mwoya, kau seperti fotografer saja,” celetuk Luhan.

Suho tertawa mendengar perkataan Luhan. Setelah selesai memberikan intruksi gaya, ia mulai mengambil gambar –calon– pasangan itu. Ia terlihat puas akan hasil bidikan nya. Pasangan itu tampak begitu serasi. Mungkin karena badan Minseok yang tidak terlalu tinggi dapat mengimbangi tubuh Mica yang cenderung mungil. Kim Mica meminjam dan melihat hasil foto yang diambil oleh Suho. Jantungnya berdebar cepat ketika melihat beberapa fotonya yang begitu dekat dengan Minseok.

Sejurus kemudian, ada rasa sakit yang terbesit begitu saja di hatinya. Di mana ia melihat keserasian dirinya dengan Minseok, tetapi sama sekali tidak ada kejelasan apa-apa pada hubungan mereka. Rasanya ingin sekali ia menangis saat itu juga jika tidak ada ketiga lelaki di dekatnya saat ini. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosinya kembali. Bahkan Mica sampai mengacuhkan Minseok yang berkali-kali memanggil namanya. Entah kenapa, saat memikirkan soal hubungan mereka, hatinya menjadi sangat sakit.

“Mica? Kim Mica. Kau dengar aku? Ya, Kim Michelle!” seru Minseok dengan suara lebih keras dan memegang kuat tangan Mica.

Eoh? Ne, oppa? Ah, mianhae. Aku tiba-tiba saja melamun, hihi.”

Neo gwaenchana?” Tanya Luhan yang mencoba memberikan perhatian pada gadis manis berwajah tirus itu dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Mica.

Mica yang terkejut mendapati wajah Luhan sangat dekat dengannya langsung terlonjak kaget dan mundur kebelakang, “Mwo, mwoya oppa… Nan gwaenchana,” rona wajahnya kembali berubah. Wajah mungil Mica sudah semerah tomat akibat perlakuan Luhan tadi.

Ya! Apa yang kau lakukan?” Minseok mendorong pelan tubuh Luhan seraya mengedipkan matanya dan memberi tanda bahwa –jangan sedekat itu dengan gadisku– ia tidak suka.

Gelak tawa Luhan dan Suho terdengar menggema di setiap sudut kamar rawat Mica. Mica yang bingung pun hanya ikut tertawa tanpa tahu apa yang menyebabkan ketiga lelaki itu tertawa. Tanpa mereka sadari, suster bermarga Song yang dinilai lebih cocok menjadi model daripada suster oleh Hwayong tempo lalu, masuk ke kamar membawakan makan malam untuk Mica. Sebelum suster itu keluar, ia sempat tergelak kaget karena melihat anggota rookie idol terkenal di kamar rawat salah satu pasiennya. Begitu suster itu keluar sambil terus menundukan kepalanya, ketiga lelaki itu lagi-lagi tertawa.

Mereka bertiga memutuskan akan kembali ke dorm setelah Mica menyelesaikan makan malamnya. Tentu saja hal ini atas permintaan Minseok yang ingin melihat gadisnya benar-benar menghabiskan makan malam dan meminum obat yang disediakan. Selama gadis berambut sebahu itu menghabiskan makan malamnya, canda gurau terdengar memenuhi kamarnya. Ia juga ikut tertawa ketika Minseok menceritakan kejadian lucu selama mereka konser ataupun saat jumpa penggemar.

Pukul delapan kurang lima menit, mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan Kim Mica, Luhan dan Suho berjalan lebih dulu keluar kamar. Kini hanya tinggal Mica dan Minseok di kamar itu.

“Kim Mica,” panggil Minseok pelan.

“Ne?”

Minseok maju selangkah seraya mendekatkan jaraknya pada gadis di hadapannya. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Mica dan otomatis Mica menutup kedua matanya tanpa menghindar sedikit pun. Omo… Apakah ia akan menciumku?

Tuk! Minseok menjentikan pelan jarinya pada kening Mica sambil menyeringai jahil ketika gadis itu membuka matanya.

“Mwoya!”

“Haha, mianhae. Sudah lama aku tidak mengerjaimu. Aku merindukan saat-saat itu, Kim Mica,” tangan Minseok dengan sigap menarik Mica ke dalam pelukannya. “Cepat sembuh, Mica-ya. Jangan pernah tinggalkan aku. Melihatmu sakit seperti ini, aku juga ikut sakit. Aku tidak bisa melihat gadisku kesakitan. Tidak akan pernah bisa. Berjanjilah untuk sembuh, Kim Mica.”

Kim Mica meneteskan airmatanya. Ia terharu dengan pernyataan tulus dari pria yang sedang memeluknya saat ini. Airmata yang sedari tadi ia sembunyikan akhirnya tumpah juga dalam pelukan Minseok. Ia benar-benar mencintai lelaki dipelukannya ini. Bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan status mereka sebagai seorang saudara. Ia mencintai Minseok, sebagai seorang kekasih, bukan saudara.

Minseok melepaskan pelukan dan memegang wajah mungil Mica dengan kedua tangannya. Ia mendekatkan wajahnya, berusaha menyentuhkan bibirnya dengan bibir mungil gadis itu. Tapi niat itu ia urungkan, sehingga ia hanya mendaratkan sebuah ciuman manis pada kening Mica.

“Berjanjilah untuk tidak menangis lagi di hadapanku,” ucapnya seraya menghapus airmata gadisnya. “Aku pulang dulu. Tanggal sembilan, aku akan kemari lagi, membawakan sesuatu yang indah untukmu. Maukah kau menungguku?”

Anggukan kecil menjadi sebuah jawaban bagi Minseok. Ia menatap wajah merah gadis itu, lalu mengusap pipinya pelan. “Selamat beristirahat, Kim Mica. Aku mencintaimu,” sesaat kemudian, Minseok keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar itu. Ia melangkahkan ringan kakinya menuju tempat di mana Luhan dan Suho menunggu. “Terimakasih sudah mau menungguku…”

***

July 9th 2013, 10.17 AM

Hospital Rooftop Garden

Pagi itu tampak beberapa orang laki-laki yang sedang sibuk menata dan mendekorasi taman rumah sakit menjadi tempat yang indah dan penuh bunga lili putih. Taman itu disulap menjadi sebuah taman bunga  bernuansa putih-merah muda dan di tengah-tengah taman, ada dua tempat duduk dan satu meja bulat kecil. Beruntung, cuaca saat itu sedang cerah dan sejuk. Jadi orang-orang itu tidak perlu menyiapkan sebuah tenda untuk menaungi meja dan kursi itu.

Di sisi lain, terlihat Minseok, Jongdae dan Chanyeol tengah ikut sibuk mempersiapkan taman bunga dadakan itu. Minseok terlihat sibuk dengan bunga lili yang sedang ia rangkai. Chanyeol yang terlihat bingung mencari tempat yang pas untuk meletakan gitarnya dan Jongdae yang sibuk dengan partitur musiknya, mencoba mengimprovisasikan nada lagu.

Setelah semua urusan di taman selesai, Minseok mengajak Jongdae dan Chanyeol menjenguk Mica. Ia berharap gadis itu berada di kamar, bukan di ruang terapi. Ketika membuka pintu, ia mendapati gadis itu berada di kamar dan sedang menonton televisi.

Good morning!” Sapa Minseok penuh semangat.

Morning… Oppa! Kau datang! Ah, ada Chanyeol dan Chen oppa. Annyeong,” Mica membungkukan tubuhnya seraya memberi salam pada tamunya. “Angin apa yang membawa kalian kemari sepagi ini?”

“Kami sedang tidak ada jadwal. Maka dari itu kami datang ke sini pagi-pagi. Ingin melihat, kau sudah mandi atau belum,” canda Chanyeol.

Mwoya, aku sudah mandi, kau tahu? Haha. Eo? Chen oppa, kau tidak bersama Eunhee?”

Aniya, Mica. Mungkin ia akan kemari lain waktu.”

Arraseo, sampaikan salamku padanya jika oppa bertemu dengannya.”

Jongdae mengangguk singkat. Ia mundur ke belakang Minseok dan mendorong pelan tubuhnya seraya membisikan, “Kajja, kau mau taman buatan kita rusak tertiup angin?”

“Kim Mica, kau pasti bosan berada di kamar ini terus-terusan, kan? Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?” Tembak Chanyeol tanpa basa-basi.

“Ke mana?”

“Ke taman rumah sakit. Kau ingat, bukan?” Minseok menambahi.

“Tentu saja aku mau ikut. Ajak aku, ya?” rengek gadis itu pada Minseok.

Minseok tersenyum lalu mengambil kardigan merah muda milik gadis itu dan memakaikannya perlahan. Ia juga menyisir pelan rambut indah Mica. Namja itu dapat mencium aroma wangi rambut Mica yang membuatnya benar-benar jatuh hati pada gadis itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di taman rumah sakit yang sudah disulap oleh ketiga pria itu. Mica membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang ia lihat. Benar-benar pemandangan yang tidak biasa dan sangat cantik. Biasanya, taman bunga seperti ini hanya ada di dalam khayalan dan mimpinya. Tapi ia tidak menyangka kini bisa melihat taman bunga itu walaupun ia tahu ini hanya buatan.

I-ige mwo… Ke-kenapa tamannya jadi seindah dan secantik ini?”

Minseok membantu Mica berdiri dan berjalan pelan ke arah kursi yang sudah disediakan di tengah taman itu. “Kau suka?”

Kim Mica kehabisan kata-katanya. Suka? Tentu saja ia sangat suka. Apalagi taman ini didominasi oleh bunga lili putih, bunga kesukaannya. Selagi Mica menikmati semua pemandangan indah itu, Chanyeol dan Jongdae sudah berdiri di belakang pasangan itu. Sedangkan Minseok duduk di kursi yang berseberangan dengan Mica.

Alunan petikan gitar terdengar begitu saja. Kim Mica menoleh kan kepalanya dan mendapati Chanyeol sedang memainkan gitar sembari menatap Mica dan tersenyum. Lalu terdengarlah sebuah suara yang sangat familiar di telinganya, suara Minseok. Ia melihat dan mendengar Minseok menyanyikan salah satu lagu EXO favoritnya yang berjudul Baby. Dengan bantuan Jongdae dan petikan gitar Chanyeol yang sangat indah, Minseok menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Pria itu dapat melihat Mica menutup mulutnya dengan kedua tangannya.  Ia juga tahu bahwa mata gadis itu yang berkaca-kaca.

Mica benar-benar tidak menyangka, pria yang sedang bernyanyi itu telah mempersiapkan semuanya ini hanya untuknya. Ia tidak dapat menyembunyikan airmata harunya walaupun ia telah berjanji untuk tidak menangis di hadapan Minseok. Dengan improvisasi yang berbeda dan hanya menggunakan alunan gitar, lagu ini terasa berbeda dan seperti di khususkan untuknya. Sesaat setelah Minseok dan Jongdae selesai menyanyikan lagu itu, Mica memberikan tepuk tangan dan membungkukan tubuhnya sembari megucapkan terimakasih.

Belum selesai rasa haru dan terimakasihnya kepada mereka bertiga, Minseok berlutut di hadapan Mica dan menyerahkan bunga lili putih hasil rangkaiannya sendiri pada gadis itu. Sebelum Mica mengambil rangkaian bunga itu, Minseok mengucapkan sesuatu yang membuat Mica kembali meneteskan airmatanya.

“Maafkan aku karena membuatmu bingung atas hubungan kita. Maafkan kebodohanku yang tidak langsung memintamu menjadi kekasihku pada saat itu. Maafkan aku karena telah mencuri dengar pembicaraanmu dengan temanmu tentang dirimu yang membutuhkan kejelasan. Aku terlalu takut untuk melakukannya, Kim Mica. Tapi aku lebih takut lagi jika aku harus kehilangan dirimu. Jadi inilah keputusanku.”

Jantung Mica berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar tidak menyangka Minseok, orang yang sangat ia cintai melakukan semua hal ini di tengah kesibukannya hanya untuk dirinya. Air mata bahagia bercampur haru terus mengalir dipipinya.

“Kim Mica, aku telah jatuh kedalam hati terdalam mu. Kau segalanya bagiku. Berjanjilah, kau hanya akan melihatku dan hanya mencintaiku seorang karena aku sangat mencintaimu. Would you be mine, Kim Mica?”

Dengan jantung yang terus berdetak kencang, tetesan air mata itu pun mengalir tanpa terduga. Mica benar-benar terkejut sekaligus terharu dengan apa yang baru saja Minseok lakukan padanya. Hatinya membuncah bahagia. Rasa hangat menjalar ke seluruh penjuru tubuh gadis berbalut piyama merah muda itu.

Perlahan, dengan sedikit getaran kecil di sekelilingnya, bibir mungil itu mulai terbuka, “Aku…”

-To be Continued-

Iklan

4 thoughts on “Kimi Couple: Decision

  1. Jadian! Jadian! Jadian! X3
    Mica pasti nerima Minseok kan? Ayolah. Mana mungkin Mica tega :”) Bakalan asik dan seru kalau mereka bisa bersama :3
    Chen ikut2an lagi. Ih aku jadi bete dia mencoba deket2 sama Mica. Jadi keingetan yg pernah aku ceritain ke km mal, soal usaha Jongdae bodoh itu buat ngedeketin adek nya Xiu zzz -_- Terus aku seneng Mica nanyain soal Eunhee ke Chen. Wahahaha ngebayangin muka Chen jadi bikin aku bahagia XD Kan pas tanggal itu…. Mereka….

    Lanjutannya aku tungguin yah mal ^^ semoga bisa lanjut secepatnya di tengah himpitan tugas2 menyeramkan itu Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) semangat mala! 😀

    Momo – Muti – Istri sah Luhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s