AB Style : A Hurricane

hurricane (1)

Title : A Hurricane

Author :  hellospringbreeze (@hellospringbree)

Genre : Romance, Sad, Family

Lenght : >4000 word

Main Cast: Huang Zi Tao and Park Ji Young (@meiliji95)

Note: 

Please read Park Ji Young’s Profile first

Thanks for jongdae’s and channie’s wife {}

AB Style kali ini akan banyak flashback, tulisan yang diwarnai artinya flashback. AB Style momennya sedikit dan cuma di akhir. Semoga kalian suka dan gak bosen..

HAPPY READING ^^

 

June , 11th 2013 [06.15 PM]

Ji Young’s Apartment, Cheongdam-dong, Seoul

————–

Ji Young menatap kosong jendela yang ada di depan matanya. Saat ini gadis itu tengah duduk meratapi hujan yang terus mengguyur Seoul sejak tadi siang. Ji Young bertopang dagu, menghembuskan napas pelan, membuat kaca jendela yang ada di depannya berembun.

Udara hari ini menjadi sangat dingin, dan derasnya hujan di luar menjadi salah satu penyebab. Bunyi rinai hujan yang beradu dengan tanah mendominasi telinga Ji Young. Dia menatap sekeliling dan mendapati betapa berantakan apartemen yang dia diami sekarang. Beberapa komik di atas meja makan, selimut tidur Ji Young yang ada di atas sofa, komik-komik lain yang berceceran di lantai. Ji Young hanya mendengus malas, ini hari yang membosankan.

Ji Young kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan Seoul yang basah. Ji Young jadi ingat bagaimana derasnya hujan saat musim penghujan di Thailand dulu.

Ji Young jadi ingat Thailand.

Beberapa kejadian kembali hinggap di otaknya. Kejadian yang tidak terlalu menyenangkan untuknya. Gadis itu ingat pasti apa yang ia alami delapan tahun yang lalu.

“Ayah dan Ibu tega membiarkan Kangji tumbuh tanpa kasih sayang. Aku yakin dia tidak butuh uang, yang dia butuhkan hanya kalian ada untuknya, sekedar mendekapnya sebelum tidur dan itu pasti sudah membuatnya bahagia. Tapi Ayah dan Ibu lupa! Yang ada di otak Ayah dan Ibu hanyalah bagaimana membesarkan perusahaan kalian, bukan membesarkan Kangji!”

Malam itu Ji Young terbangun dari tidurnya, berjalan tertatih mendengar teriakan kakak laki-lakinya dari ruang tengah. Ji Young bingung, ini sudah larut malam, mengapa Il Soo harus berteriak membangunkan seisi rumah? Dengan mata setengah tertutup Ji Young mengintip dari balik dinding. Yang Ji Young lihat adalah, orang tuanya menangis, sedangkan Il Soo berkacak pingang menahan semua luapan amarahnya. Ji Young belum pernah melihat Il Soo semarah itu sebelumnya. Ji Young juga belum pernah melihat orang tuanya menangis.

Saat itu Ji Young masih terlalu kecil untuk mengerti dan menelaah masalah keluarga. Yang dia tahu, Il Soo tidak lagi bisa menahan semua ini.

“Aku mohon Ayah dan Ibu untuk mengerti, aku ingin membawa Kangji pergi bersamaku, ke Korea Selatan. Aku rasa sudah cukup bagi Ji Young untuk terus hidup seperti ini.”

Ji Young terbelalak, rasa kantuk hilang seketika dari kepalanya. Ji Young shock, refleks menutup mulutnya yang menganga lebar. Ini sungguh sulit untuk di percaya.

Ji Young berlari kecil masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan perlahan agar tak ada yang mendengar. Ji Young naik ke atas tempat tidurnya lalu menarik selimut tebalnya hingga ke atas kepala, menutupi seluruh tubuhnya.

“Aku takut.” Ji Young bicara pada dirinya sendiri dalam kegelapan kamar. Ji Young menangis dalam diam, mengigit jari-jarinya tanpa alasan yang jelas.

Ji Young tahu, orangtuanya memang selalu sibuk, hanya beberapa jam dalam seminggu Ji Young bisa bertemu orang tuanya. Sejak kecil Ji Young hanya memiliki Il Soo, saudara satu-satunya. Usia mereka terpaut sepuluh tahun. Tapi itu tidak masalah bagi Ji Young, karena Il Soo bisa jadi apa saja. Il Soo bisa jadi kakak laki-lakinya, temannya, sahabatnya, ayahnya, bahkan terkadang Il Soo juga bertingkah seperti ibu di depan Ji Young.

Bagi Ji Young, Il Soo adalah harta berharga.

Malam itu Ji Young berusaha menahan tangisnya. Ji Young menangis dalam diam, sesering mungkin menahan napasnya agar tangisan itu berhenti. Tapi mungkin itu terlalu sulit. Terutama untuk gadis kecil seperti Ji Young.

Klik!

Ada yang membuka pintu.

Ji Young segera menghapus air matanya, dia tak mau seorang pun melihat dia sedang menangis.

“Kangji, maaf membangunkanmu. Maaf membuatmu mendengar semuanya.”

Itu suara Il Soo.

Ji Young hanya bisa mempererat selimut yang ia kenakan, berharap Il Soo tidak akan membukanya.

“Maaf.”

Il Soo beranjak dari tempat tidur Ji Young, ada hembusan napas panjang saat ia meninggalkan Ji Young.

Klik!

Il Soo kembali menutup pintu.

Ji Young membuka selimut yang menutupinya, lalu menatap nanar sekeliling. Dia pasti akan merindukan semua hal yang ada di sini. Sayup-sayup Ji Young mendengar tangisan ibunya dari ruang sebelah, kamar tidur orangtuanya. Ji Young menutup telinganya rapat-rapat, ini terlalu mengerikan untuknya. Detak jantung Ji Young benar-benar tidak stabil.

Ji Young tersenyum pahit, menaikan kedua kakinya ke atas kursi lalu memeluk kedua lututnya. Ji Young jadi ingat kembali tentang orang tuanya. Park Jong Goo dan Tiangwan Bay.

Orang tua Ji Young hanya bisa menahan semua isakan yang hampir keluar saat melihat anak gadis mereka sudah siap pergi untuk meninggalkan Thailand, juga mereka. Rasa sesal yang menumpuk di hati mereka tidak akan bisa merubah keputusan Ji Young. Kini Ji Young sudah duduk manis di sisi tempat tidurnya, menatap keluar jendela, menghirup udara Thailand yang mungkin tak lama lagi akan menghilang dari rongga paru-parunya.

Apa Il Soo yang melakukan ini? Memberi tahu Ji Young untuk segera menyiapkan barang-barangnya? Tidak, Ji Young sendiri yang melakukannya. Gadis itu sudah menyiapkan segala keperluannya, lalu memasukannya ke dalam koper. Ji Young juga sudah siap dengan pakaiannya, dia sudah siap pergi dengan pesawat terbang.

“Kangji sayang, maafkan Ibu,” Ibu Ji Young memeluk anak gadisnya ini, sambil terus menciumi puncak kepalanya. Ada air mata yang membasahi bahu Ji Young, air mata Ibunya. Ji Young menatap Ibunya hangat, seolah memberi isyarat jika semua akan baik-baik saja.

Ji Young memeluk Ayah dan Ibunya secara bergantian. Pelukan yang sangat jarang Ji Young rasakan.

“Aku mencintai Ayah dan Ibu,” Ji Young tidak menangis sama sekali, karena dia sudah benar-benar yakin.

Semalam suntuk Ji Young memikirkannya. Ji Young bisa saja menolak untuk pindah ke Korea jika memang itu yang dia inginkan. Tapi tidak, Ji Young memilih untuk meninggalkan Thailand, meninggalkan Ayah dan Ibunya, meninggalkan rumah mewah milik keluarganya, meninggalkan kamar tidurnya yang penuh dengan mainan dari seluruh penjuru dunia ketimbang sendirian ditinggal Il Soo yang tetap akan pergi ke Korea.

Mungkin pergi meninggalkan Thailand dan bayangan semu orangtuanya akan membuat Ji Young lebih bahagia.

Ji Young merasa jauh dari orangtuanya, tetapi nama mereka selalu terselip di doa Ji Young. Pelupuk mata Ji Young sedikit melemas. Ji Young jadi terlihat kacau. Masih dengan tatapan kosongnya, mata Ji Young mulai berair. Ji Young jadi ingat Il Soo.

Tidak ada keraguan sedikit pun di hati Ji Young saat dia sudah melangkah menjauh dari orangtuanya yang masih melambaikan tangan mereka. Ji Young sudah mengambil keputusannya, dan ini pasti berakhir baik.  Di sampingnya, Il Soo terus menggenggam tangan Ji Young. Kakaknya itu terus menanyakan hal-hal yang sama berulang kali.

“Kangji, apa kau yakin?” Ji Young rasa Il Soo sedikit ragu, terlihat dari tatapan matanya, dan suaranya yang sedikit bergetar.

“Aku yakin Il Soo, kitakan teman. Aku tidak bisa jauh-jauh dari temanku,” Ji Young tersenyum tulus.

Mendengar itu, Il Soo harus  menghapus ragu yang ada di hatinya.

Ji Young menatap layar ponselnya. Foto Ji Young bersama Il Soo, laki-laki yang paling bodoh menurut Ji Young, tetapi Ji Young mencintainya.

Ji Young ingat bagaimana jerih payah Il Soo untuk mendapatkan pekerjaan. Sebenarnya orang tua mereka memberi cukup uang, tetapi bagi Il Soo uang itu hanya boleh digunakan untuk keperluan Ji Young, dan dia harus mencari uang sendiri.

Ji Young melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Il Soo pulang larut malam, terlihat lelah dengan semua aktifitasnya. Terkadang Il Soo terlambat bangun dan memilih untuk tidak pergi ke kampusnya. Il Soo membolos bukan karena ia malas, Il Soo lelah dan butuh istirahat. Semuanya Il Soo lakukan untuk Ji Young.

“Kenapa harus berkerja? Ada uang dari Ayah dan Ibu.”

“Tidak.”

“Sebenarnya kau berkerja untuk apa?”

“Untukmu.”

“Aku tidak butuh uangmu, lebih baik kau belajar dengan benar Il Soo.”

“Aku ingin memberimu sesuatu dengan uangku sendiri, bukan uang Ayah dan Ibu.”

Ji Young hanya bisa terdiam, terkadang pelupuk mata Il Soo terlihat sangat lelah. Terkadang Ji Young hanya bisa tersenyum pahit melihat Il Soo yang tidur jam tiga pagi, tapi harus bergegas berangkat pukul delapan pagi. Bagi Ji Young Il Soo bodoh, dia hanya melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Tidak. Ji Young salah, benar-benar salah.

Malam itu Il Soo tidak pulang larut malam, dia pulang tepat saat makan malam. Ji Young senang bisa makan malam bersama. Entah apa yang terjadi pada Il Soo, malam itu ia membawakan makan malam yang sangat banyak untuk Ji Young. Senyum lebar tak pernah luntur dari wajahnya.

“Il Soo, ada apa? Kau terlihat mengerikan.”

“Aku ingin memberitahu sesuatu.”

“Apa?”

“Coba tebak.”

“Kau lulus kuliah?”

“Tidak, itu tidak mungkin.”

“Lalu? Kau di drop out?”

“Kau ingin aku di drop out?”

“Ayolah Il Soo, sudah cepat katakan saja.”

“Aku membeli cincin untuk Ju.”

“Ju? Siapa?”

“Yeojachingu-ku.”

“Oh ya? Cincin? Kau punya uang?”

“Tentu, selain berkerja untukmu, aku juga berkerja untuk semua ini.”

Il Soo memberikan kotak kecil itu pada Ji Young. Ji Young hanya tersenyum jenaka melihat keseriusan Il Soo kali ini.

“Kau tak menyesal akan memberikan cincin ini padanya?”

“Tidak kali ini aku tidak main-main lagi.”

Ji Young mengangguk. Dia hanya dapat berdoa untuk Il Soo, bagaimana tidak, sudah terlalu banyak gadis yang dia permainkan. Ji Young tidak mengerti atas dasar apa Il Soo sering melukai hati gadisnya, tapi sepertinya gadis bernama Ju ini berbeda.

Ji Young tersenyum saat di pikirannya terlintas gadis bernama Ju. Ju eonnie, gadis berdarah Korea yang dengan bodohnya menerima tunangan Il Soo. Tapi Ji Young sangat mencintainya.

Hari itu hari ulang tahun Ji Young yang ke dua belas. Ji Young bahkan lupa itu hari ulang tahunnya, tidak ada ucapan ‘saengil chukkae’ dari siapapun. Tapi tidak dengan Il Soo dan Ju eonnie. Mereka datang dengan kue ulang tahun di tangan juga hadiah ulang tahun di belakang mereka. Hanya ada mereka bertiga, tapi ini begitu mengesankan bagi Ji Young.

Selama berada di Thailand, Ji Young tidak pernah merayakan acara ulang tahunnya bersama Ayah dan Ibu, hanya ada Il Soo. Biasanya orangtua Ji Young hanya sekedar menitip hadiah ulang tahun lewat Il Soo. Tidak ada ucapan selamat ulang tahun atau kecupan atas bertambahnya umur dari orangtua Ji Young.

Ji Young ingat bagaimana dia sangat menyayangi Ju eonnie, wanita yang benar-benar merubah hidup Il Soo. Il Soo terlihat sangat bahagia saat Ju eonnie ada di sampingnya. Ju eonnie sudah Ji Young anggap bagian dari keluarganya.

“Nah ini hadiah ulang tahun untukmu Kangji.”

“Dari siapa? Ayah dan Ibu?”

Il Soo dan Ju hanya bisa saling menatap dan tersenyum kaku. Ji Young hanya tersenyum hangat, dia tahu. Ayah dan Ibunya mungkin lupa akan ulang tahun Ji Young.

“Aku ingin buka hadiahnya, boleh?”

“Silahkan semoga kau suka, Ju yang memilihkannya untukmu.”

Golden Fish?”

“Iya, kau menyukainya?”

“Tentu, terimakasih Ju eonnie.”

“Siapa nama mereka?”

“Ebony dan Ivory.”

“Itu tidak lucu, Il Soo. Bagaimana jika nama mereka Mosya dan Syaloo? Kedengarannya unik.”

“Baiklah, Mosya dan Syaloo. Aku suka.”

Ji Young tersenyum, berusaha menahan semua gurat-gurat kesedihan di wajahnya. Senyuman yang terlalu sulit untuk diartikan. Bukan, Ji Young sedih bukan karena masa lalunya. Ji Young sedih karena sebentar lagi Il Soo akan meninggalkannya.

“Ju eonnie dan Il Soo sebentar lagi akan menikah. Aku sendirian.”

Pelupuk mata Ji Young melemas, sedikit tidak tahan untuk menahan air matanya. Ji Young hanya bisa meringkuk, menatap keluar jendela, menatap langit yang semakin gelap.

Ji Young senang mendengar kata-kata Il Soo saat dia bercerita jika dia akan menikahi Ju eonnie. Tapi ada banyak pertanyaan yang berkelebat di kepalanya.

Jika Il Soo menikah, siapa yang akan menjaganya? Il Soo sudah punya Ju eonnie untuk dijaga, terlebih-lebih jika nantinya Il Soo memiliki anak.

Jika Il Soo menikah, dia akan sendiri di apartemen ini?

Jika Il Soo menikah, apa dia akan dijemput paksa oleh Ayah dan Ibunya untuk kembali ke Thailand?

Tapi Ji Young berusaha untuk tidak berpikir egois. Menikah itu sebuah kebahagiaan untuk Il Soo, dan Ji Young harus mendukung penuh pilihan kakaknya itu.

Ji Young menghapus air matanya. Kini dia berjalan membuka pintu balkon. Udara malam yang menggigit segera menerbangkan rambut Ji Young saat dia membuka pintu itu. Tanpa alas apapun, kaki Ji Young menyentuh marmer dingin yang melapisi balkon.

Ji Young mendongakkan kepalanya. Berusaha menahan air matanya. Ji Young mendengus kasar, dia benci karena air matanya terus turun, mengapa dia terlalu lemah dan sering menangis.

Tidak, pergi ke Korea Selatan bukan pilihan yang salah. Ji Young punya banyak teman yang bisa menghabiskan waktu bersamanya, meski teman berbeda dengan keluarga.

——88——-

Ji Young kini membawa akuarium kecil berisi Mosya dan Syaloo ke ruang tengah. Menyeret bantal dan selimut tidurnya secara paksa dari atas tempat tidur, Ji Young memutuskan untuk tidur di sofa ruang tengah malam ini.

Il Soo sedang pergi ke Busan selama tiga hari untuk menyelesaikan masalah kerjanya.

Sebenarnya bukan masalah kerja, tapi Il Soo pergi menemui keluarga Ju eonnie untuk membicarakan pernikahan mereka.

Ji Young menatap ikan-ikan kecil yang sering mendengar sejarah hidupnya. Ji Young sering bercerita pada ikan-ikan kecilnya, meski Ji Young tahu sebenarnya Mosya dan Syaloo tidak pernah mendengarkannya.

Tatapan Ji Young beralih ke sekeliling. Menatap sejumlah kayu putih yang dibentuk sedemikian rupa, membentuk kotak-kotak kecil berisi foto di dalamnya. Ada foto Ji Young bersama teman-temannya, Il Soo dan Ju eonnie di hari jadi mereka, Ji Young dan Il Soo di acara kelulusan Ji Young dua tahun lalu, juga foto Ji Young dan Tao.

Tao?

Laki-laki satu itu sedang sibuk dengan urusan comeback group-nya.

Ini sudah minggu kedua bagi Ji Young dan Tao tidak saling memberi kabar. Seperti biasa, Tao punya jadwal yang padat, dia tak punya cukup waktu bahkan hanya untuk sekedar memberi kabar pada Ji Young. Ji Young mengerti, ini konsekuensi, tak dapat ditolerir.

Ji Young menyalakan televisi, membiarkan suaranya meredam suara rintik hujan yang tak pernah berhenti di luar sana. Saat ini sudah pukul tujuh malam, Ji Young sengaja melewatkan makan malamnya. Ji Young tidak punya selera yang bagus malam ini.

Gadis itu menatap jam dinding yang terus berdetak, sungguh dia ingin mempercepat waktu. Dia ingin meloncati dua hari ke depan, lalu menjalani hari seperti biasa saat Il Soo sudah kembali dari Busan meski itu berarti hari-hari menuju pernikahan Il Soo semakin dekat.

Huang Zi Tao.

 

Nama itu melintas di pikiran Ji Young begitu saja, dan itu menyebalkan. Mengingat namanya saja membuat gadis itu berdecak kesal. Ji Young hanya bisa mengerutkan dahi saat ponselnya berdering.

Kebetulan yang tidak menyenangkan. Bukannya senang Ji Young malah menghembuskan napas panjang. Tao pasti akan menceramahinya tentang banyak hal.

“Meiliji, kau sendirian? Il Soo belum kembali dari Busan?”

“Ya Tao ge, Il Soo baru kembali lusa.”

“Kau kesepian?”

“Tentu tidak, sudah biasa.”

“Aku bisa menemanimu malam ini.”

“Tidak.”

“Atau besok?”

“Tidak, Tao ge.”

“Besok jadwal EXO pukul tiga, kita bisa pergi kesuatu tempat sebelum pukul tiga.”

“Tidak, kau istirahat saja Tao ge. Comeback EXO pasti sangat melelahkan. Aku tidak apa-apa.”

“Baiklah. Kau sedang apa? Mau aku bawakan makan malam?”

“Tidak. Aku sedang duduk di sofa ruang tengah.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Meiliji, lebih baik aku ke apartemenmu.”

“Tidak Tao ge, jangan memaksa.”

“Aku tidak mau melihatmu kesepian.”

“Tidak aku tidak kesepian. Sudah lebih baik istirahat saja. Jaljayo.”

Ji Young segera memutuskan sambungan telepon. Kejam? Menyebalkan? Ji Young hanya tidak ingin Tao terlalu memikirkannya.

Ji Young bertopang dagu, ada rasa sesal dan bersalah di hati Ji Young. Jujur saja, Ji Young ingin Tao ada di sampingnya saat ini. Tapi itu hanya akan membuat Ji Young semakin merasa bersalah.

Dia sudah biasa ditinggal sendiri. Meski kali ini keadaannya berbeda, Ji Young sendiri dan tak lama lagi dia akan selamanya sendiri di apartmen ini.

Ji Young kembali murung. Tidak munafik, sebenarnya dia ingin Il Soo tetap tinggal.

“Tenang, Tao pasti akan menjagamu dengan baik.”

Dengan nada penuh percaya diri Il Soo mengatakannya. Ji Young hanya tersenyum.

“Iya, itu pasti.”

Ji Young tersenyum tulus meski hatinya menjerit ‘Tao sibuk, Il Soo! Dia tak punya cukup waktu untukku. Semua orang yang ada di sekelilingku selalu sibuk, aku memang dilahirkan untuk kesepian.’

Ji Young lahir tanpa kasih sayang orangtuanya. Orangtua Ji Young hanya bayangan semu untuknya, sekedar laki-laki bernama Park Jong Goo dan wanita bernama Tiangwan  Bay yang menyandang status ‘orangtua’.

Sejak kecil, Ji Young belajar bahwa orang yang sekarang ada untuknya harus dia jaga baik-baik. Anggap saja itu harta berharga, jangan pernah melepaskannya.

Ji Young takut, dia takut ditinggal Il Soo. Ji Young benci saat dirinya mulai berpikir egois. Dia merasa kacau, air matanya tak berhenti mengalir. Tangan Ji Young bergetar karena dia terus menahan tangisnya dari tadi. Tak ada suara, menangis dalam diam, dan itu sangat menyakitkan.

Tidak akan ada yang mengerti perasaan Ji Young, dibesarkan oleh orangtua yang semu dan sekarang dia harus hidup sendiri, meski itu untuk kebahagiaan Il Soo. Jujur, Ji Young sedih mengingat dia punya Tao, tetapi Tao tenggelam dalam hidupnya yang sibuk.

Malam ini saja, biarkan Ji Young berpikir seegois mungkin. Biarkan dia menjadi seorang Ji Young yang belum kita ketahui sebelumnya.

Ji Young meratap, menengadahkan kepalanya. Ji Young ingin membuang jauh-jauh semua kenangan yang menggores hatinya, tapi mereka melekat di otak dan di hati Ji Young.

“Jangan menangis. Lebih baik menghitung bintang.”

Ji Young ingat Il Soo pernah mengatakan itu padanya saat Ji Young menangisi orang tuanya yang sama sekali tidak ingat dengan ulang tahun Ji Young.

Konyol, tapi Ji Young selalu melakukannya. Setidaknya itu bisa mengalihkan pikiran Ji Young. Sayangnya malam ini berbeda, tidak ada bintang.

Ji Young berjalan lagi kearah balkon. Hujan turun setitik demi setitik. Hujan benar-benar tidak berhenti hari ini. Ji Young sedikit kecewa.

“Tidak ada bintang.”

Ji Young lihat langit semakin gelap, bintang-bintang tertutupi awan besar, bulan kehilangan sinarnya. Angin semakin kencang, membuat hiruk-pikuk yang tak jelas. Angin menyentuh setiap inci kulitnya.

Tidak ada pilihan lain. Ji Young harus menghilangkan sedih hatinya dengan caranya sendiri, bukan dengan menghitung bintang seperti biasanya.

Ji Young menekan sembarang tombol remote. Channel 12, berita Seoul.

“Karena akan terjadi badai besar, kami menghimbau pada seluruh warga Seoul untuk tetap berada dalam kediamannya masing-masing.”

Mendengarnya saja Ji Young sudah malas, pantas saja hujan tak pernah berhenti hari ini. Akan terjadi badai besar, dan Ji Young harus mempersiapkan dirinya dengan segala kemungkinan.

Ji Young beranjak dari tempat duduknya, memeriksa semua pintu, memastikannya terkunci rapat. Berjalan kearah jendela yang masih terbuka lalu menutupnya. Sebelum menutup jendela Ji Young melihat bagaimana angin di luar sana sedang mengamuk, ada sedikit rasa takut di hati Ji Young. Ji Young segera menutup tirai jendela, menutup pemandangan gelap di luar sana.

Ji Young kembali duduk di sofa hangatnya dengan secangkir hot chocolate. Ji Young berusaha menenangkan dirinya. Ayolah, mengapa hari ini Ji Young menyebalkan sekali, tadi dia menangis dan sekarang dia takut.

Tidak punya pilihan lain, Ji Young hanya bisa menatap kosong siaran berita. Ponsel Ji Young tiba-tiba bergetar saat Ji Young mulai membaringkan tubuhnya di bantalan sofa.

“Meiliji, kau dengar beritanya?”

“Iya, Tao ge.”

“Jangan keluar apartemen, mengerti?”

“Aku mengerti.”

“Jika ada sesuatu telpon aku.”

“Iya, Tao ge. Tenang saja, jangan terlalu khawatir.”

“Saranghae.”

Nado.”

Sebenarnya Ji Young tahu ada nada cemas di setiap perkataan Tao. Tidak, ini hanya badai, Ji Young pasti bisa melewatinya.

Ji Young menghembuskan napas pelan, mulai meringkuk di sofa hangatnya. Ji Young membiarkan televisinya terus menyala, setidaknya untuk membuat Ji Young tidak terlalu merasa kesepian.

——88——-

Ji Young membelalakan matanya, terbangun dari tidurnya karena bunyi menggelegar di luar sana. Ji Young bangkit, ini sudah pukul dua pagi. Tirai jendela terbang ke sana kemari karena angin kencang. Kilatan cahaya tak berhenti menyambar, jantung Ji Young berdegup cepat.

Ji Young memberanikan diri melihat keadaan luar apartemen lewat jendelanya. Hasilnya? Ji Young terbelalak dan jantungnya semakin cepat memompa darah ke seluruh tubuh Ji Young. Bagaimana tidak, angin sudah terlalu lama mengamuk, membuat beberapa pohon besar tumbang begitu saja di jalanan. Bukan hanya satu, tapi banyak.

Ji Young kembali duduk di sofanya, mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya. Udara semakin dingin. Rasa kantuknya hilang, berganti waspada akan segara kemungkinan terburuk yang bisa Ji Young pikirkan sekarang.

Siaran berita masih berlangsung, menyiarkan beberapa kerusakan kota secara langsung. Mengerikan, sungguh.

Blip!

Keadaan jadi gelap gulita. Suara siaran berita hilang begitu saja, membuat bunyi berisik akibat badai di luar sana semakin terdengar jelas. Hanya ada beberapa cahaya dari petir yang menerangi apartemen Ji Young. Ji Young hampir saja mengumpat, haruskah di saat-saat genting seperti ini listrik padam begitu saja?

Ji Young terdiam sejenak. Tenang, Ji Young harus tenang. Kembali tidur mungkin pilihan yang lebih baik.

——88——-

Bukan bangun dengan perlahan, Ji Young bangun dengan mata langsung terbelalak dan jantung yang berdegup cepat. Ji Young segera membuka pintu balkon dengan segera, lantai balkon sudah basah dengan air hujan. Dia tidak peduli dengan air hujan yang membasahi tubuhnya, Ji Young melihat ke bawah. Sayup-sayup terdengar bunyi alarm mobil, mobil yang tertindih dengan pohon tumbang.

Ji Young segera masuk ke apartemennya, keadaan semakin memburuk. Ini pengalaman pertama bagi Ji Young menghadapi badai seorang diri. Ji Young menatap nanar apartemen-nya yang masih gelap gulita. Beberapa tirai jendela sudah berserakan di lantai akibat angin yang terlalu kencang. Ada banyak benda-benda kecil yang entah dari mana asalnya masuk ke apartemen Ji Young, terbawa angin.

Ji Young mengusap layar ponselnya, pukul tiga pagi. Sebentar lagi matahari akan terbit, dan itu membuat Ji Young sedikit lega.

Ji Young langsung menoleh ke arah dapur secepat kilat saat ia mendengar sesatu pecah.

Ya Tuhan! Batin Ji Young, kaca jendela mereka pecah akibat benda-benda yang terbawa angin. Apartemen Ji Young ada di lantai dua belas, dan itu membuktikan angin sedang tidak main-main malam ini.

Dengan tangan gemetar Ji Young meninggalkan serpihan kaca itu, keadaan terlalu gelap untuk membersihkan serpihan kaca. Ji Young berlari menuju sofa hangatnya, lagi menutup dirinya dengan selimut tebal, menutup telinganya rapat-rapat. Tapi bunyi pecahan kaca yang semakin sering terjadi membuatnya frustasi.

“Jika ada sesuatu telpon aku.”

Ji Young menatap ponselnya ragu. Dia tidak mungkin membiarkan Tao menembus badai ini, itu gila.

Entah sudah berapa banyak kerusakan apartemen-nya Ji Young, kaca jendela yang pecah, air yang masuk ke apartemen lewat balkon, apartemen-nya yang kotor dengan benda-benda kecil yang terbawa angin.

Hujan semakin deras, gigi Ji Young bergemeletuk kedinginan. Jari-jari Ji Young membeku, tengkuknya merinding kedinginan. Petir terus menyambar tanpa henti membuat bunyi besar yang bisa membangungkan siapa saja.

Ji Young meringkuk sambil menutup telinganya.

Kali ini terdengar bunyi petir yang sangat besar. Satu yang paling besar dari yang pernah Ji Young dengar. Membuat malam ini jadi terang benderang lalu kembali gelap gulita dengan bunyi yang menggetarkan tanah. Napas Ji Young tidak teratur. Rasa takut semakin membuat Ji Young pucat.

Tok! Tok! Tok!

Sekarang apa lagi?

Angin mulai mengetuk pintu?

Atau ada yang ingin menjarah apartemen Ji Young selagi badai berlangsung?

Ji Young tidak peduli dengan ketukan pintu yang berkepanjangan. Ji Young menutup mata dan telinganya. Keadaan seperti ini tidak memungkinkan Ji Young untuk membukakan pintu.

Brak!

Jantung Ji Young seolah berhenti berdetak saat mendengar pintu apartemen-nya didobrak, kemudian kembali berdetak cepat saat menyadari akan ada manusia yang menerobos masuk setelahnya.

Ji Young hanya bisa mengeraskan tubuhnya, Ji Young tidak mengerti mengapa hari ini adalah hari yang buruk untuknya.

Ji Young sadar manusia itu sudah berjalan mendekat.

Tap!

Telapak tangan yang dingin yang menyentuh puncak kepala Ji Young. Ji Young hampir saja berteriak, namun urung niatnya kala Ji Young melihat muka pucat pasi itu.

Mata Ji Young berkaca-kaca.

“Sudah kubilang lebih baik aku ke apartemen-mu.”

Ya Tuhan! Ini Huang Zi Tao.

“Aku baik-baik saja.”

Tao hanya bisa memeluk Ji Young. Tao tahu Ji Young tidak baik-baik saja.

“Maaf, seharusnya aku menjagamu saat Il Soo tidak ada.”

Ji Young menangkup wajah Tao, wajahnya dingin. Air masih menetes dari baju Tao, dia basah kuyup. Rambut Tao basah, bibirnya pucat.

Tidak ada satu kata pun yang bisa menggambarkan perasaan Ji Young hari ini.

“Kau menyebalkan.”

Tao hanya bisa tersenyum jenaka mendengar kata-kata Ji Young.

Ji Young memberi cukup ruang agar Tao duduk di sampingnya, berbagi selimut tebal yang sebenarnya sudah basah karena baju Ji Young dan Tao. Masih ada tiga jam menuju matahari terbit. Melewati badai ini bersama Tao mungkin lebih baik untuk Ji Young.

Tidak perlu ditanya, Ji Young sudah tahu. Ji Young tahu jika Tao datang menerobos badai tanpa sepengetahuan penghuni dorm, mengalahkan rasa takutnya akan angin yang bisa saja membuat pohon tumbang lalu menimpanya. Ji Young tahu Tao tidak dapat memejamkan matanya karena memikirkan gadisnya yang sedang sendiri menghadapi badai malam ini. Ji Young tahu, Tao mencintainya.

Tapi Ji Young tidak pernah menyangka jika Tao rela melalukan semua ini.

Kini Ji Young sadar, Tao akan datang kapan saja untuknya, saat dia butuh, saat dia rindu, saat dia kesepian. Tao akan datang meski harus melewati banyak hal. Ji Young tidak perlu banyak bicara, Tao akan selalu tahu isi hati Ji Young.

Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menjawab sebesar apa rasa sayang Tao terhadap Ji Young. Mungkin terlalu besar untuk di deskripsikan. Begitu pula dengan rasa sayang Ji Young untuk Tao, terlalu rumit untuk di gambarkan.

Terkadang Ji Young menyesal pernah mengenal dan menyimpan perasaan pada Tao. Menurutnya menyimpan perasaan untuk Tao itu melelahkan. Melelahkan karena Tao selalu membuat Ji Young tidak pernah bosan untuk menyimpan perasaan itu. Ji Young juga menganggap Tao itu konyol, sering melakukan hal-hal yang di luar batas normal, tetapi terkadang itulah yang dibutuhkan Ji Young.

Seperti menerobos badai hanya karena tidak ingin Ji Young sendirian menghadapi badai malam ini.

_THE END_

Sorry for typo(s) i hope u enjoy, like, leave a comment and follow this blog

Maaf karena terlalu lama dan membosankan ya, review nya jangan lupa

Gomawo ^^

22 thoughts on “AB Style : A Hurricane

  1. Akhirnya~ Aku masih menunggu cerita selanjutnya *cekikikan.
    Btw ka, aku lupa kaka udah jelasin soal ebony ivory itu atau belum sih? Maksud yg sebenarnya, kenapa bs Ilsoo ngasih nama begitu.
    Kasian Jiyoung. Memang ga enak sih sendirian, tp aku yakin Ilsoo sm Ju eon ga keberatan buat tinggal bareng sama jiji nantinya. Yah walaupun ga enak di jiji sih ya. Susah memang hidup bersama pasangan newly wed. Ada tekanan lahir dan batin hahahaha (-_-) Sini2 jiji tinggal sama eunhee. Tarifnya cuma 1jt sebulan, sudah ditanggung makannya *seketika berubah menjadi ibu kost. Kalau begini caranya tao hrs lbh perhatian lg sama jiji. Ngebayangin kalau tao sibuk sm urusannya, jiji trs sendirian, pasti bnyk konflik2 di hub mereka ya ke depannya.
    Tao perkasa ( ♥͡▽♥͡ ) Pintu apartemen eunhee juga siap didobrak lho ː̗̀(̥̊♥-̮♥)̥̊ː̖́ Ih sebel. Chen mana kuat begitu -_- ayo lanjut. Mereka dua2an di dlm sebuah apartemen, lg badai pula. Hmm. Perlu diawasi lebih lanjut tuh ka~ hahaha *kabur

    • oh ya ebony dan ivory itu, aku bingung mau jelasinnya gimana -___-
      ga kebayang jiji yang polos itu harus hidup dengan pasangan newly wed. hahha, ntar double date mulu dong daehee sama ab style -_- hhahaha, tungguin ya gimana cerita si couple ter-absurd ini yaa.
      nah itu dia, dingin-dingin gitu, baju basah, ngapain lah ya mereka kira-kira, LOL. aku tebak sih Il Soo bisa pingsan liat jiji ama tao pelukan begitu -_- hha

  2. huweeeeeee klop banget baca yang ini pas lagi ujan gede juga… ya ampun kak, Jiyoung selalu sendiri ya ternyata.. selamat sayang kamu nggak akan sendiri lagi karena ada Ta perkasa yang melindungimu dengan segenap hati yehey. duh Tao bikin melting, segitu khawatirnya sama lovely Jiji~
    kak habis itu mereka ngapain aja di apartemen? lagi ujan pula… duh langsung mikir…………….hahahalol keyen bingits kak ❤

    • Hahaha, agak gamasuk di akal ya nerjang badai demi cinta -____- eleeee
      makasih udha mua baca yaaaaa. NAH LOH ngapain dingin dingin gitu enaknya? hihihi

      • enggak kok kak, itu keyen hahaha Tao jadi cool XD
        okey kak ❤ dingin-dingin enaknya ngapain ya…? hahaha ngangetin diri aja kak, biar nggak dingin lagi /positivethinking/ lol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s