Kimi Couple: This Feeling

This Feeling Cover

This Feeling 

Author : Kimmica (@kimmisylle)

Main Casts : Kim Minseok (EXO-M Xiumin) & Kim Michelle (OC)

Other Casts: Park Hwayong (OC), Lee Jiwoo (OC)

Genre : Drama, Family, Sad, Random x_x

Length : 3.653 (Oneshot)

Rating : G

Disclaimer : I just own the plot and idea. Kim Minseok and EXO’s member belongs to SM Ent.

Note: Finally, I can published this ff. Whoaaa, it take a long time to have an idea and write it to be a fanfiction. I hope, this ff not disappointing you all. So sorry for the strange story. I will be better for the next ff. Thanks for Momo and Echa eonni that give me so much help! Love you guys.  And I wanna say thanks to the readers, thanks for read my ff and thanks for giving some comment. Happy reading!

I love ya, XOXO~

Please read another story of Kimi Couple:

A New Family, I Know Who You Are, The Truth, Before Everything’s Getting Late

And please read

Kim Michelle’s Profile

–Kimmica©2013 –

June 26th 2013, 05.15 PM

Kangdong Sacred Heart Hospital, Gildong, Gangdong-gu, Seoul

Sudah empat hari Kim Mica menjalani perawatan di rumah sakit daerah kota Seoul. Keadaannya kini sudah mulai membaik walaupun masih belum banyak perubahan yang signifikan. Ia masih harus menjalani banyak pengobatan dan terapi yang malah membuat bobot tubuhnya berkurang banyak. Wajahnya terlihat lelah, pucat dan sedikit menirus. Sedangkan tubuh gadis itu terlihat lebih kurus daripada biasanya.

Kim Mica sedang duduk bersandar pada tempat tidur. Tangan kanannya yang dipasangi selang infus tampak tidak menjadi gangguan saat ia memainkan handphone. Terlalu asik dengan benda putih panjang itu, Kim Mica sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke kamar dan sedang berdiri menghadap dirinya.

“Annyeong.”

Ia mengalihkan pandangannya sejenak untuk melihat dan memastikan si pemilik suara tersebut. Matanya membulat saat menyadari bahwa tebakannya benar. Ia menatap tidak percaya pada sosok yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.

“M-Minseok… Oppa?” gumamnya dengan suara lirih.

Kim Minseok tersenyum melihat wajah bingung Kim Mica yang menurutnya seperti keledai bodoh jika sedang bingung. “Ne. Ini aku. Kenapa malah bingung?”

Ia menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah seketika saat menyadari sikap bodohnya tadi. Tentu saja yang berdiri di hadapannya adalah Kim Minseok, oppa-nya. Memangnya ada Kim Minseok lain yang ia kenal? Neo jeongmal baboya, Kim Michelle.

Kim Minseok duduk di tepi tempat tidur Kim Mica dan memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah. Ada perasaan iba yang terselip begitu mendapati tubuh sang adik yang mengurus dengan wajah tirus itu. “Neo gwaenchanikka?”

Sesaat, Kim Mica menangkap ada nada khawatir yang berlebihan pada pertanyaan namja di hadapannya. Tapi ia berusaha mengacuhkannya dan tersenyum sambil berujar, “Seperti yang oppa lihat, tidak baik, tidak juga buruk.”

Mwoya? Katakan kalau keadaanmu itu baik-baik saja. Jangan berkata seperti tadi, arraseo?

Kim Mica menanggapi hanya dengan anggukan kepala. Ia mengedarkan perhatian ke sekeliling kamar, lalu kembali menatap Kim Minseok. “Oppa tidak membawakan apa-apa untukku?”

“Ne?”

“Biasanya, jika ingin menjenguk orang sakit, si pembesuk pasti membawakan sesuatu. Apapun itu yang bisa membuat si pasien merasa lebih baik,” jelasnya.

Merasa penjelasannya hanya menjadi bahan tertawaan oleh Kim Minseok, gadis itu pun melayangkan tatapan sebal padanya. “Ish!”

Kim Minseok mencoba untuk menghentikan tawanya ketika merasa ada tatapan sebal yang di arahkan padanya. “Mianhae. Ehem! Siapa bilang aku ke sini hanya dengan tangan kosong? Aku membawakan sesuatu untukmu, tapi tidak akan kuberikan sekarang.”

“Wae?”

Kim Minseok menatap adiknya dengan lebih serius. “Kau harus menceritakannya padaku, Kim Mica. Soal penyakitmu tentu saja.”

Hening sesaat. Suasana canggung terasa begitu saja. Kim Mica mencoba mencairkan keheningan dengan berdeham pelan. “Baiklah. Tapi ada syaratnya.”

“Apa itu?”

Kim Mica tersenyum manis. Walaupun wajahnya menirus dan pucat, ia tetap terlihat cantik saat tersenyum. “Aku dengar rumah sakit ini mempunyai taman kecil di lantai paling atas. Aku ingin oppa mengajakku ke sana. Aku bosan. Dan aku ingin menghirup udara segar. Boleh?”

“Boleh. Asalkan kau memakai sweater atau jaket. Udara di luar lumayan dingin. Di mana jaket atau sweater-mu? Aku ambilkan saja,” ucap Kim Minseok seraya tersenyum dan mengelus pelan punggung tangan Kim Mica.

“Seingatku, eomma hanya membawakan sweater. Sepertinya ada dalam tas itu. Oppa cari saja yang warnanya pink.”

Kemudian tanpa menunggu apa-apa lagi, Kim Minseok beranjak dari temat tidur dan mulai mencari sweater pink milik Kim Mica di dalam tas yang ukurannya lumayan besar.

“Ketemu!” Kim Minseok berjalan mendekati Kim Mica dan menyerahkan sweater pink itu padanya. “Pakailah.”

Setelah selesai memakai sweater dan merapikan rambutnya yang berantakan, Kim Mica beranjak dari tempat tidur.

Ya! Ya! Kenapa langsung bangun begitu saja? Kalau kau jatuh bagaimana? Kau kan bisa memanggilku dulu, Mica-ya,” Kim Minseok segera menghampiri Kim Mica yang sedang mencabut infus dari gantungannya.

“Kau ini berlebihan sekali, oppa. Aku kan masih kuat berdiri, masih kuat untuk berjalan. Biasanya juga aku sendiri jika ingin ke kamar kecil,” Kim Mica memanyunkan bibirnya, pura-pura merajuk karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Kim Minseok.

“Tapi tetap saja…”

Sejurus kemudian, Kim Mica duduk di kursi roda yang diletakkan dekat pintu kamar kecil. “Jangan cerewet lagi. Atau aku tidak jadi bercerita. Kajja oppa. Aku sudah hampir mati kebosanan di kamar ini.”

Kim Minseok masih memasang raut wajah khawatirnya ketika mendorong kursi roda yang diduduki Kim Mica. Lama kelamaan, raut wajah itu berubah menjadi sebuah senyuman dan hanya ia sendiri yang bisa mengartikan senyuman itu.

***

05.39 PM

At Hospital Rooftop Garden

Whoa, kota Seoul indah sekali kalu dilihat dari ketinggian!” Kim Mica berseru senang ketika melihat pemandangan kota Seoul yang begitu cantik pada sore hari. Karena ia tinggal di Busan, ia hanya menyaksikan keindahan kota Seoul dari TV dan internet. Hari ini, ia menyaksikan keindahan itu dengan mata kepalanya sendiri.

“Kau suka?” tanya Minseok yang sudah duduk di sampingnya.

Dengan gerakan pelan, Kim Mica mengangguk. Detik berikutnya, ia tersenyum lalu menoleh dan menatap lurus namja yang sedang duduk memperhatikannya. “Terima kasih, oppa.

“Sama-sama. Nah, sekarang, sudah siap untuk bercerita?”

Kim Mica mengangguk lagi. Ia merasa yakin dan percaya sepenuhnya pada Kim Minseok. Keluarlah cerita yang selama ini dipendam dan disembunyikannya dari orang-orang sekitar termasuk sahabatnya sendiri, Park Hwayong.

Penyakit Kim Mica baru diketahui saat proses perceraian kedua orang tua kandungnya sedang belangsung. Kim Mica yang ketika itu sangat tertekan, mulai sering jatuh sakit. Ditambah lagi, saat itu sedang berlangsung ujian kenaikan kelas yang cukup menyita waktu istirahatnya untuk belajar. Pada hari terakhir ujian, Kim Mica yang memang sudah merasa tidak enak badan terjatuh di lapangan olahraga dan tidak sadarkan diri. Lee Hyejoon, guru olahraga di sekolahnya lah yang membawa Kim Mica ke rumah sakit. Dokter yang menangani Kim Mica saat itu meminta izin pada Lee Hyejoon untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Kim Mica. Berselang satu hari, hasil periksa Kim Mica keluar. Hasil periksa itu sangat tidak memuaskan bahkan cenderung sangat tidak baik. Dokter memvonis Kim Mica mengidap penyakit leukemia atau kanker darah stadium ringan. Meski demikian, dokter tetap menganjurkan Kim Mica untuk menjalani pengobatan utuk mencegah penyebaran sel kankernya. Dokter juga menyarankan Kim Mica untuk tidak terlalu memforsir tenaganya agar tidak kelelahan.

“Jadi begitulah,” Kim Mica mengakhiri ceritanya dengan tatapan lurus kedepan dan tangan terkepal di atas pangkuannya.

Suasana berubah menjadi hening. Kim Minseok berdiri dan berjalan menuju arah belakang Kim Mica. Kim Minseok tiba-tiba memeluk tubuh mungil Kim Mica dari belakang. Ia menaruh dagunya di pundak Kim Mica dan memejamkan matanya sesaat. Hatinya terluka mendapati bahwa yeoja yang berada dipelukannya saat ini sedang berjuang demi kesembuhannya. Pikirannya jauh menerawang ke awal pertemuan mereka. Di mana ia melihat Kim Mica yang begitu ceria, cantik, tidak bisa diam dan penuh semangat. Dan sekarang keadaannya sudah berbeda. Kim Mica yang sekarang adalah gadis kurus dengan wajah tirus dan pucat. Tanpa sadar, Kim Minseok mempererat pelukannya.

“Minseok oppa…” ujarnya nyaris tanpa suara. Ia merasakan kehangatan saat berada dipelukan Kim Minseok. Tidak ada penolakan darinya. Ia malah memejamkan mata dan memegang erat tangan Kim Minseok. Ia tahu bahwa oppa-nya saat ini sedang memberikannya semangat dan kekuatan baru untuknya menjalani hari-hari berikutnya walau hanya dengan pelukan.

“Mica-ya, izinkan aku menemanimu saat kau menjalani pengobatan ataupun terapi. Aku ingin berada disampingmu. Setidaknya agar kau tidak merasa takut saat menjalaninya.”

Senyum manis mengembang dari bibir Kim Mica. Ia mengelus pelan punggung tangan Minseok dan mengangguk. “Ne oppa. Kapan saja kau punya waktu, kau boleh menemaniku saat pengobatan atau terapi.”

Jeongmal gomawoyo, Kim Mica,” Kim Minseok mengecup lembut pipi kanan Kim Mica. Matahari mulai terbenam kembali ke peraduannya. Kim Minseok pun memutuskan untuk mengantar Kim Mica kembali ke kamar rawatnya sebelum ia pulang dan menjalani aktivitas lain dengan member EXO lainnya.

Kim Minseok tengah bersiap meninggalkan rumah sakit saat Kim Mica memanggilnya, “Oppa.”

“Ne?”

“Kalau kau kemari lagi, maukah kau membawakan bunga lili putih untukku? Ah, dan kalau kau kemari lagi, aku berharap member EXO yang lain ikut dan menemaniku di sini.”

“ Tentu saja, Mica-ya. Aku akan mengajak mereka kemari untuk menjengukmu nanti. Memangnya kau ingin bertemu siapa, eoh?

Kim Mica menyeringai jahil. “Aku ingin bertemu biasku.”

“Nugu?”

“Xi-Lu-Han,” Kim Mica memberi tekanan saat menyebutkan nama Luhan sebelum akhirnya ia melakukan mehrong pada Kim Minseok.

Ish. Aku pikir kau fans-ku. Ah iya! Bunga lili putih eoh?

“Ne!” Kim Mica mengangguk penuh semangat. Wajahnya kembali menjadi seperti keledai bodoh saat Kim Minseok mengabaikan jawaban penuh semangatnya dan berjalan santai keluar kamar. “Mwoya?”

Kim Minseok kembali ke kamar dengan kedua tangan yang disembunyikan di balik punggungnya. Ia mendekati Kim Mica dan kini ia berada sangat dekat dengannya.

“Entah kenapa sebelum kemari tadi, aku berpikir untuk mampir dan membeli sesuatu yang menurutku kau pasti suka. Aku tidak menyangka ternyata kau benar-benar memintanya,” Kim Minseok mengeluarkan rangkaian bunga lili putih dari balik punggungnya dan menyodorkannya pada Kim Mica.

“Lili putih yang cantik untuk seseorang yang sangat special.

Sejenak Kim Mica hanya diam terpaku. Matanya tampak berkaca-kaca melihat bunga lili putih yang sangat disukainya berada di depan matanya. Terlebih lagi, orang yang memberikan bunga ini adalah Kim Minseok. Namja yang sangat ia sayangi. Kim Mica menerima dan mengambil bunga itu dari Kim Minseok.

Omo oppa, bunga ini cantik sekali. Ini untukku?”

Kim Minseok mengangguk mantap. “Itu untukmu. Dan aku janji, akan membawakan bunga yang lebih cantik lagi saat menjengukmu.”

“Gomawoyo oppa. Jeongmal gomawo,” Kim Mica memeluk tubuh Kim Minseok. Tidak erat tapi cukup membuat Kim Minseok merasakan sebuah kehangatan tersendiri dari pelukan itu.

“Cheonmaneyo,” ia mengecup puncak kepala Kim Mica lalu melepas pelukan singkat itu. Ia menatap lembut wajah yeoja yang sangat ia cintai.

“Aku harus pulang. Masih ada tanggung jawab pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau, jangan macam-macam. Setelah makan dan minum obat langsung istirahat. Jangan ke mana-mana sebelum eomma dan appa kembali. Arraseo?

Algeusseumnida. Kau juga harus hati-hati. Sampaikan salamku untuk yang lainnya. EXO fighting! Kim Minseok oppa, fighting!”

Kim Minseok berjalan ke ambang pintu. Sebelum menutup pintu ia berucap, “Ne. Kim Mica, fighting! Saranghaeyo.

Pintu tertutup. Kim Minseok sudah pergi. Kim Mica mengalihkan perhatiannya pada bunga lili putih yang diberikan oleh Kim Minseok. Ia menundukkan kepala sambil menghapus pelan air mata haru yang terjatuh di kedua pipinya.

“Nado jeongmal saranghaeyo, Kim Minseok…”

***

June 29th 2013 01.49 PM

Kangdong Sacred Heart Hospital, Gildong, Gangdong-gu, Seoul

Kim Mica terlihat sedang memejamkan mata ketika Park Hwayong masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Lee Jiwoo yang saat itu menemani Kim Mica mengatakan bahwa ia baru saja selesai menjalani terapi dan tertidur karena efek samping dari obat yang diberikan oleh perawat.

“Jiwoo ahjumma, bagaimana perkembangan kesehatan Mica?”

“Sejauh ini masih belum ada perubahan yang berarti. Ia masih harus tinggal di sini lebih lama lagi untuk melihat perkembangan selanjutnya,” jelas Lee Jiwoo.

Park Hwayong beranjak dari tempat tidur dan duduk di sebelah ibu Mica. “Ahjumma, aku tidak menyangka kalau Mica memiliki penyakit seperti itu. Selama ini aku melihat Mica sebagai anak yang ceria dan cenderung tidak bisa diam. Ternyata dibalik semua itu dia…”

Baik Park Hwayong dan juga Lee Jiwoo sama-sama mengalihkan pandangan mereka ke arah gadis yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Wajah mereka menampakkan kesedihan yang mendalam. Lee Jiwoo merasa bersalah karena terlalu memikirkan perceraiannya dengan Erick Kim sehingga tidak sempat meluangkan waktu untuk memperhatikan kesehatan anak semata wayangnya itu. Sedangkan sahabat Mica bermarga Park itu merasa bersalah karena secara tidak langsung, dia lah yang membuat Kim Mica kelelahan. Seandainya saat itu ia tidak mengajaknya ke acara fansigning EXO,  mungkin saja sahabatnya tidak akan seperti ini.

Mianhae ahjumma. Kalau saja aku tahu lebih awal, aku pasti tidak akan membiarkan Mica melakukan aktivitas yang menguras tenaganya,” Park Hwayong menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis menyesali betapa tidak bergunanya ia sebagai sahabat baik gadis itu.

Sesaat Lee Jiwoo terpaku melihat gadis di hadapannya ini menangis. Ia menangkap nada menyesal dari perkataan yang diucapkan oleh gadis itu. Pada akhirnya, Lee Jiwoo memeluk Park Hwayong yang sudah dianggap seperti anak sendiri dan membiarkannya menangis dipelukannya.

Gwaenchanayo, Hwayong-ah. Kau tidak perlu menyesali semuanya. Yang saat ini harus kita lakukan adalah bersama Mica dan memberikan semangat untuknya. Mica sangat membutuhkan itu dari orang-orang terdekatnya.”

Hanya sebuah anggukan kecil yang dapat gadis berambut panjang itu berikan sebagai jawaban atas pernyataan Lee Jiwoo. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan lebih sering menjenguk dan menemani sahabatnya ketika memiliki waktu senggang. Ia juga berjanji akan selalu membuat sahabat baiknya itu  tersenyum, bagaimana pun caranya.

***

06.02 PM

Mica’s recovery room

Kim Mica membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan setelah itu kembali memejamkannya. Ia masih merasa sedang berjalan mengelilingi kota Seoul dan mampir ke salah satu toko bunga. Ia melihat banyak sekali bunga dengan warna-warni cantik di toko itu. Rasanya ingin sekali ia membeli semua bunga itu dan membawanya pulang. Gadis itu membuka matanya lagi dan melihat ke arah sofa di dekat tempat tidur.

“Hwayong? Park Hwayong?”

Mendengar namanya dipanggil, sosok bernama Park Hwayong pun mengalihkan perhatiannya dari majalah yang sedari tadi ia pegang, mendapati sahabatnya sudah terbangun. “Ya, Kim Mica!”

Begitu menaruh majalah yang ia baca di meja kecil dekat sofa, ia berlari menghampiri Kim Mica lalu memeluknya. Ia benar-benar merindukan sahabat baiknya ini.

Omo! Haha, Hwayongie. Kau terlihat senang sekali. Ada apa? Apa yang mebuatmu senang seperti ini?” Kim Mica mengusap-usap punggung Park Hwayong.

Baboya. Kau akhirnya bangun. Dan tentu saja aku senang. Kau tahu berapa lama aku menunggumu bangun, huh? Hampir empat jam!” Hwayong melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah yeoja yang juga sedang menatapnya itu.

Aish! Kau jelek sekali Kim Mica. Lihat wajahmu! Tirus dan pucat. Tubuhmu? Sudah seperti tulang yang diselimuti oleh kulit. Baiklah, aku akui aku sedikit berlebihan. Dan kau, Kim Mica. Selama aku di sini, akan kupastikan kau selalu memakan makananmu!”

Gadis manis berambut sebahu itu lantas menutup kedua telinga dan memejamkan matanya. “Ya! Kau sangat berisik. Ini rumah sakit, kau tahu? Aku baru saja bangun tidur. Jangan menyerangku dengan segala ultimatum-mu itu. Kau seperti eomma saja.”

Suara tertawa yang khas dari Park Hwayong kembali ia dengar. Rasanya sudah lama sekali tidak berkumpul berdua seperti ini dengan sahabatnya itu. Jika di Busan, biasanya mereka akan pergi ke café di dekat apartment Mica. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti itu.

Seorang suster berbadan kurus dan tinggi semampai masuk ke dalam kamar, membawakan makan malam untuk sang pasien. Park Hwayong yang selalu detail ketika bertemu dengan orang asing memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Ia membaca nametag yang dikenakan suster itu. Song Maru. Ia melakukan anggukan kecil dan mendapati suster itu sudah keluar kamar.

“Selalu saja memperhatikan orang tidak dikenal dengan sangat teliti,” Kim Mica mengambil garpu kecil dan menusukkannya pada buah semangka merah yang tampak manis.

“Dia lebih cocok menjadi model dari pada suster menurutku.”

Kim Mica hanya mengangkat kedua bahunya sambil mengunyah pelan semangkanya. “Kau mau? Semangka ini manis.”

Aniya, untukmu saja. Aku masih belum lapar,” gadis itu duduk di tepi tempat tidur sahabatnya. Tiba-tiba saja ia menatap intens Kim Mica dengan seringai jahil terbentuk di sudut bibirnya.

“Mwohae?”

“Apakah dia ke sini?”

“Siapa yang kau maksud?”

Park Hwayong memutar kedua bola matanya. Ia merasa ingin memakan gadis di hadapannya sekarang juga karena sikap bodoh atau pura-pura bodohnya itu. “Xiumin oppa, tentu saja.”

Eoh? Minseok oppa? Ne. Ia kemari dua hari yang lalu.”

Merasa terus diperhatikan dengan tatapan penasaran, Kim Mica berujar, “Apa lagi?”

“Apa yang kalian lakukan? Ceritakan padaku.”

“Tidak mau,” ia lantas membuang muka ke arah lain sambil menembunyikan senyum.

Ah, jebal Kim Mica. Aku jauh-jauh datang kemari ingin menemanimu dan berbagi cerita denganmu. Kenapa kau malah tidak mau bercerita?”

Gelak tawa pelan terdengar. Kim Mica memandang wajah sahabatnya. Yang dipandang malah menunjukkan ekspresi merajuk seperti anak kecil dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.

Arraseo, dengarkan aku baik-baik,” ia menjauhkan meja makannya dan menegakkan posisi duduk. Sejujurnya ia sangat ingin menceritakan semua perasaannya saat ini pada Park Hwayong. Dan pikirnya, inilah saat yang tepat.

Mengalirlah semua cerita soal perasaan dan hati yang terjadi seminggu yang lalu. Di mana ia beserta eomma dan appa tirinya berada di Bandara Internasional Incheon untuk pergi ke Paris, membawanya menjalani pengobatan di sana. Ketika terdengar sebuah pengumuman bahwa pesawat akan segera tinggal landas, ia mendengar seorang namja menyerukan namanya dari kejauhan. Ia melihat Kim Minseok berlari sekuat tenaga demi menghampiri mereka. Begitu sudah berada di antara mereka, pernyataan mengejutkan dikatakan oleh namja itu. Ia meminta Kim Mica untuk tetap tinggal dan menjalani pengobatannya di Seoul. Ia juga menanyakan apakah kedua orang tuanya tega memisahkannya dari Kim Mica, gadis yang perlahan sudah mengisi bagian hatinya yang kosong. Ia menjanjikan diri untuk sesering mungkin menjenguk dan menemani gadis itu selama di rumah sakit. Sampai pada akhirnya, ia bertanya pada Kim Mica apakah ia mau tinggal di Seoul. Sebuah anggukan kecil menjadi semua jawaban dari semuanya. Kedua orang tuanya pun tidak dapat mencegah. Ditambah lagi, namja itu menyatakan bahwa ia mencintai Kim Mica. Maka saat itu juga, mereka membatalkan penerbangan mereka dan mencari sebuah rumah sakit di jantung kota Seoul dengan fasilitas lengkap untuk menunjang kesembuhan Kim Mica.

Mica juga menceritakan perasaan yang sesungguhnya pada Park Hwayong. Di mana sosok namja bernama Kim Minseok itu perlahan mulai memasuki hatinya. Jantungnya berdetak lebih cepat tiap kali ia memikirkan dan melihat foto atau video yang berhubungan dengan namja itu. Ditambah lagi saat Kim Minseok menjenguknya dua hari yang lalu. Saat ia menceritakan keadaan yang sesungguhnya, saat ia dipeluk, saat ia memegang erat tangannya, dan saat di mana, namja itu mengecup lembut pipi dan puncak kepalanya, juga saat Kim Minseok memberikan bunga lili putih untuknya.

Kim Mica terdiam sejenak. Ia kembali menerawang saat Kim Minseok mengucapkan ‘aku mencintaimu’ padanya. Tiba-tiba saja gadis berperawakan mungil itu menundukkan kepala. Matanya pun mulai basah.

“Kim Mica, kau kenapa?”

Kim Mica segera menghapus air matanya dan menatap sahabanya. “Kau tahu? Aku dan dia sudah seperti sepasang kekasih. Tapi kenyataannya kami bukan. Mungkin memang ia mencintaiku dan aku mencintainya, tapi…”

Seakan mengerti ke mana arah pembicaraan ini, Park Hwayong segera menimpali, “Tapi karena hubungan kalian sama sekali tidak mempunyai kejelasan, kan?”

Park Hwayong melihat anggukan kecil dari yeoja yang masih menundukkan kepalanya itu. Ia tidak menyangka, Kim Mica yang ia kenal tidak pernah berpacaran dengan pria manapun, kini sedang mengalami dilema cinta yang rumit. Aku pikir kau hanya mencintai Popi saja.

“Lalu di mana masalahnya?”

Park Hwayong melihat gadis itu menekuk kedua kakinya kedepan dada dan memeluk kedua kakinya. Disandarkan kepalanya pada dengkul kakinya. “Oppa sangat protektif, aku suka. Tapi yang membuatku bingung, ia protektif padaku sebagai siapa? Oppa-ku, atau namjachingu-ku.”

“Menurutku keduanya.”

Ne? Keduanya? Aku tidak yakin, Hwayongie.”

“Waeyo?”

“Ia memang pernah menyatakan perasaannya padaku, tapi ia sama sekali belum pernah memintaku untuk menjadi yeojachingu-nya.”

Park Hwayong terdiam. Ia memainkan ujung rambutnya sembari berpikir. Cukup rumit juga masalah cinta yang dialami sahabatnya ini. “Kenapa kau tidak menanyakan padanya secara langsung soal kejelasan hubungan kalian?”

“Menanyakannya? Aniya. Aku tidak mau. Malu. Haruskah aku menanyakannya?”

“Ayolah Kim Mica, jangan bertahan dengan gengsi. Kalau tidak ada tindakan apa-apa, hubungan kalian akan terus-terusan tidak jelas.”

Gengsi. Kata itu tiba-tiba saja memenuhi pikiran Kim Mica. Apa benar ia gengsi? Tapi jika dipikir ulang, benar juga kata Park Hwayong. Zaman sekarang, wanita pun berani untuk menyatakan cinta lebih dulu. Sedangkan hanya untuk menanyakan kejelasan saja, kenapa ia sangat terintimidasi dengan gengsi?

“Apa yang harus aku katakan kalau aku menanyakanya pada oppa?”

Eum… Intinya kau harus menanyakan, apakah hubungan kalian hanya sebatas kakak-adik atau sudah berubah menjadi sepasang kekasih. Kalau ia menjawab pilihan kedua, tembak dia seperti ini, tapi oppa sama sekali tidak pernah memintaku menjadi kekasih oppa. Bagaimana bisa kita menjadi sepasang kekasih?” Park Hwayong memberikan penekanan pada kata-kata terakhir yang ia ucapkan.

“Begitukah?”

Ne. Atau kau mau menjaga jarak darinya sampai ia tersadar dengan sendirinya? Kurasa cara itu lebih menarik, haha.”

Sebuah bantal kecil melayang ke arah gadis itu. “Ya! Appo. Aku kan hanya bercanda.”

Not interesting. Aku lebih memilih cara pertama. Entah kenapa, aku seakan takut jika ada yeoja lain yang selangkah lebih cepat dariku.”

“Mica, namja menyukai wanita yang berani. Tapi berani di sini bukan maksudnya agresif. Melainkan berani untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat demi kelanjutan hubungannya sendiri. Kau paham maksudku, kan?”

Kim Mica mengangguk. “Arraseo. Gomawo Hwayongie. Aku tidak bisa apa-apa tanpamu.”

“Aku juga tidak yakin apakah kau bisa melakukan sesuatu tanpa bantuanku, haha,” Park Hwayong memeluk sahabatnya, berusaha memberikan dukungan penuh padanya.

Di balik semua itu, tanpa mereka sadari pintu kamar rawat Kim Mica sedikit terbuka. Seseorang telah mencuri dengar semua percakapan mereka. Orang itu mengurungkan niatnya untuk masuk dan bersandar pada dinding. Orang itu adalah Kim Minseok.

Jadi begitukah? Kau mengharapkan kejelasan? Kau benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku? Apa aku tidak salah dengar, Kim Mica?

Kim Minseok mengarahkan kakinya berjalan menuju lift dan berniat kembali ke dorm untuk beristirahat. Pikirannya sedikit terganggu oleh berbagai macam hal. Tatapannya kosong. Ia terus berjalan sampai akhirnya ia berhenti dan kembali bersandar pada dinding rumah sakit. Ia tidak memperdulikan beberapa orang yang sedang duduk di dekatnya tengah memperhatikan dirinya.

Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mengepalkannya erat-erat. Ia ingat betul perkataan teman Kim Mica yang menyuruh gadis itu untuk menjaga jarak darinya sampai akhirnya ia sadar bahwa gadis itu membutuhkan kejelasan dari hubungan mereka. Kim Minseok menghela nafas pelan. Ia sangat takut sekarang. Takut kalau Kim Mica benar-benar menjauhinya cepat atau lambat.

Kim Minseok sadar, bahwa ia sangat bodoh. Bodoh karena pada saat ia menyatakan perasaan cintanya pada Kim Mica, ia tidak langsung meminta gadis itu untuk mejandi yeojachingu-nya. Bodoh karena ia justru membuat gadis itu bingung dengan hubungan mereka saat ini. Dan ia akan merasa lebih bodoh lagi jika ia membiarkan Kim Mica menanyakan lebih dulu tentang kejelasan hubungan mereka padanya.

Aniya, gadis itu tidak boleh melakukan hal itu. Aku harus melakukan hal yang tepat sebelum ia benar-benar mengalahkan rasa gengsinya untuk bertanya denganku.

“Ayolah Kim Minseok, seorang pria harus memilih balas dicintai atau tidak mendapatkannya sama sekali, bukan?” Dengan langkah yang berat, Kim Minseok berjalan ke arah halte bus rumah sakit dan kembali ke dorm. Setidaknya, saat di dorm nanti, ia bisa meminta saran pada Kim Jongdae.

Bus yang ditumpangi Kim Minseok perlahan mulai meninggalkan halte rumah sakit. Ia menatap bangunan rumah sakit yang semakin lama, semakin menjauh. Ia menghela nafas sekali sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dan memilih untuk memejamkan mata. Hanya ada satu nama yang saat ini memenuhi kepalanya. Kim Mica. Gadis yang ia cintai. Aku mencintaimu, tunggu aku, Kim Michelle…

-FIN-

Iklan

8 thoughts on “Kimi Couple: This Feeling

  1. oh-my-God! kak malaaaa….
    ini campur aduk banget rasanya, tadi sempet kebawa suasana mica yang galau gegara hubungannya sama xiuxiu sekarang tinggal galau gegara xiu denger percakapan duo cewek cerewet itu ya ampun kaaakkk….
    keyen bingit kak sukak sukak ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s