Virus Chajin: First Meeting

A

First Meeting

Author: Immocha | Leght: Ficlet/Oneshoot |Cast:  Kim Hyo Jin , Cho Jino, James & Park Eunyoung| Genre: Romance

Author Note:

Buat Chaca sama Muti, terima kasih banyak buat semua bantuannya. Buat keluarga besar EGD, saranghae ♥ 😀

Maaf kalo story kali ini membosankan. selamat menikmati ^^

Please read Kim Hyo Jin’s Profile before read this fanfic.

 ________

June 23th, 2013

Hyojin’s Apartment, Cheongdam-dong, Seoul.

Hari yang cerah di musim panas. Seharusnya hari ini aku memiliki rencana untuk pergi keluar rumah, sekedar berbelanja atau mungkin duduk bercengkerama dengan teman atau kekasihku. Chanyeol, laki-laki itu sibuk dengan berbagai jadwal setelah comeback stage-nya, mana mungkin ia bisa menemaniku setiap waktu, begitulah resiko memiliki kekasih seorang entertainer. Sekarang aku hanya bisa duduk sendirian di depan piano-ku. Awalnya aku memang memainkan piano untuk menghilangkan rasa bosan dan kesendirian. Tapi sekarang perhatianku justru terpusat pada laptop yang sengaja ku letakkan di meja, tepat di samping piano ini.

A new message? Siapa yang mengirim email,’ batinku.

Biasanya hanya Ahri dan teman-teman lintas negara yang mengirimiku email. Aku mengalihkan kesepuluh jariku dari atas tuts piano ke keyboard laptop. Aku membaca pesan itu secara teliti, pesan dari ibuku. Tiba-tiba aku merindukan sosok keluarga yang hangat, tanpa memakai topeng, tanpa kepalsuan. Bahkan aku sudah lupa berapa lama aku tak merasakannya. Sebelah tangan ku julurkan untuk menyentuh dada ku. Terasa sangat sakit disana, lebih sakit dari biasanya jika aku tengah sesak nafas. Aku menghembuskan nafas kesal, seharusnya aku tak mengingat lagi itu semua. Bukankah aku masih mempunyai sosok ibu meskipun semu? Aku melirik arloji yang tersemat di pergelangan tangan kiriku. Mungkin berjalan-jalan sebentar di sekitar sini dapat mengembalikan mood-ku yang memburuk. Aku bergegas berjalan menuju kamar untuk mengambil ipod, handphone dan dompet. Kemudian memasukkan semua itu ke dalam tas, siapa tahu saja aku mampir ke salah satu kedai kopi di dekat sini.

“Kenapa hari ini sangat panas sih?” gerutuku kesal.

Karena tak ingin kulitku terbakar sinar matahari hanya karena aku lupa memakai tabir surya, aku memilih untuk mampir di salah satu kedai yang tak jauh dari apartment-ku. Memilih duduk di sudut ruangan tepat disamping jendela kedai ini, tak terlalu buruk. Setidaknya aku masih bisa melihat jalanan kota Seoul yang selalu ramai. Setelah memesan ice chocolate, aku mengeluarkan ipod dan handphone. Ku sambungkan headset ke ipod kemudian memasangkannya di telinga sebelah kanan untuk menikmati alunan musik. Aku langsung hanyut begitu saja dalam dunia yang aku buat sendiri, menikmati tiap laman website yang selalu ku kunjungi.

Chogiyo, apa aku boleh duduk disini?”

Aku mendengar suara seorang namja, tapi aku sedang malas untuk sekedar mengangkat kepalaku agar bertemu pandang dengannya.

“Tentu saja, silahkan,” ujarku tak peduli.

Aku masih sibuk men-scroll down salah satu website fashion favorite-ku, ketika orang yang saat ini duduk di depanku lagi-lagi membuka suara.

“Apa kau benar-benar tak ingin mengetahui siapa orang yang saat ini duduk dihadapanmu, nona?”

Hmm?”

Aku mengangkat sedikit kepalaku untuk melihat sosok di hadapanku ini.

“Ji-no?” ujarku tergagap dan laki-laki itu mengangguk, menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum.

Aku pun melepas sebelah headset-ku, benar-benar tak percaya laki-laki ini ada di depanku.

“Kemarin aku berkunjung ke rumahmu, tetapi seorang ahjumma yang mengaku sebagai pembantumu bilang bahwa kau sudah pindah dari sana sebulan yang lalu.”

“Iya, aku tinggal di apartment sekarang.”

“Bersama Kyoung ahjussi?”

Aniya. Aku tinggal sendiri. Aboji sudah meninggal Jino-ya.”

“Maaf aku tak tahu, aku turut berduka Hyo-ya.”

Jino, laki-laki ini adalah salah satu teman dekatku saat aku menginjak bangku SHS. Sayangnya, ia harus ikut pindah ke luar negeri bersama keluarganya saat 2nd grade. Setelah itu, tak ada satupun kontak yang terjalin di antara antara kami berdua.

“Lalu? Bagaimana bisa kau menemukanku disini hah?! Jangan bilang kau membuntutiku.”

Ya! Kau tak pernah berubah. Aku tak sengaja melihatmu dari sana, karena aku yakin itu kau jadi aku kemari,” jelasnya detail, sampai ia menunjukkanku dimana tempat ia melihatku.

Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Kau belum memesan apapun?”

“Kau saja yang memesan.”

“Baiklah.”

Aku segera mengangkat sebelah tanganku untuk memanggil pelayan.

“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanya seorang waitress padaku ramah.

“Aku pesan moccalate dengan extra cream.”

“Mohon ditunggu.”

“Kau masih ingat itu?” ia tertawa nyaring.

“Tentu saja, mana mungkin aku lupa. Aku masih ingat bagaimana kau marah padaku gara-gara aku tak sengaja menumpahkan moccalate-mu itu.”

Selanjutnya, kami hanya mengobrol tentang hal-hal di masa itu, semacam bernostalgia mungkin. Berkali-kali aku melirik handphone-ku yang tergeletak di meja. Tapi nihil, benda itu sama sekali tak bergetar.

“Kau menunggu telepon dari seseorang?”

“Mungkin.”

Namja? Kekasihmu eoh?”

“Begitulah.”

“Jadi, sekarang kau―”

“Tidak. Ini orang yang berbeda.”

“Sungguh?”

Hmm. Lain waktu akan ku kenalkan padanya, dia sangat sibuk sekarang.”

“Baiklah.”

“Jino-ya, ku rasa aku harus segera pergi sekarang. Ibuku datang.”

Ahjumma di Seoul?”

“Belum. Hari ini aku baru akan menjemputnya.”

“Perlu aku antar?”

“Tidak perlu. Jino-ya annyeong!”

Aku segera melambaikan tanganku sebagai salam perpisahan. Lalu setelahnya berlari kecil sampai ke pinggir jalan raya, untuk menunggu taxi.

*****

02:15 PM | Incheon Airport.

Aku melangkahkan kakiku memasuki salah satu bandara international di Korea, Incheon. Mataku terus menelisik jadwal penerbangan, mencari-cari penerbangan dari London-Seoul terdekat. Ibu mengirimiku email untuk menjemputnya di bandara. Aku terus berdiri di depan pintu kedatangan, mencermati satu persatu wajah penumpang yang keluar dari sana. Tentu saja mencari sosok yang telah lama tak kutemui.

“Jean!”

Aku familiar dengan pekikan suara itu. Aku memutar kepalaku untuk mencari sumber suara yang baru ku dengar.

Mom!”

Aku berlari kecil kearah ibu dan segera memeluknya. Aku benar-benar sangat merindukan wanita ini.

How are you honey? I miss you so much. Sorry for everything.

“Aku baik-baik saja, jauh lebih baik sepertinya. I miss you too.”

Mommy, mommy…”

Ekor mataku menangkap seorang laki-laki lucu sedang berlari kearah kami dengan sebuah tas yang melekat di punggungnya. Sepertinya dia adik tiriku, sangat menggemaskan.

Whoaa! My little son. Say hi to your sister,” mommy menggenggam erat tangan lelaki kecil itu.

Annyeonghaseyo.”

Ia membungkukkan badan untuk memberi salam. Mom pasti mengajari budaya Korea selama mereka tinggal di London.

Hi, I can speak English. Jadi, kamu tidak perlu berbicara bahasa Korea jika itu menyulitkan.”

Okay. My name is James. What’s your name?”

“Jean, Jeanette.”

Great! James, Jean. I loved it.”

Aku tersenyum padanya, dia sangat tampan. Aku suka saat melihat ekspresinya mengatakan ‘I loved it’, lucu sekali. Mungkin aku mulai bisa menyayanginya. Entahlah.

Mom, tidak mengajaknya juga?” tanyaku saat membantu mom menarik koper yang ia bawa.

“Tidak, ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Oh iya, kemana anak itu? Tidak datang bersamamu?”

“Nuguya? Chanyeol?”

“Tentu saja Jean.”

“Dia artis mom. Kau taukan bagaimana sibuknya dia?”

James menarik-narik ujung kaos yang ku kenakan.

“Jean, maukah kau mengajakku berkeliling Seoul. Kata mom aku harus ke myudong jika berkunjung kemari.”

Not Myudong James. But, Myeongdong.”

Can you spell it for me?”

Of course. M-Y-E-O-N-G-D-O-N-G. Myeongdong, kamu harus bisa mengatakannya dengan benar.”

“Ya, aku ingin kesana Jean.”

*****

Welcome to my apartment!” Aku berteriak gembira saat kami bertiga memasuki apartment-ku.

“Wow,  Jean apartment-mu sangat besar, bahkan disini ada grand piano.”

James terlihat sangat senang saat melihat grand pianoku, dia terus berlari kesana kemari menjelajahi setiap sudut ruangan.

Mom, ini terlalu besar jika aku harus tinggal sendiri disini. Aku ingin pindah saja.”

Wae? Kau bisa mengajak temanmu untuk menginap disini agar kau tidak kesepian.”

“Baiklah, aku akan mencoba mengajaknya tinggal disini.”

Nuguseyeo?”

“Teman baruku,” jawabku singkat. “Aku belum sempat merapikan kamar untuk kalian, Mom. Mianhae.”

Aku berjalan mendahului mom untuk menunjukkan dimana kamarnya.

“Kamar ini memiliki pemandangan yang bagus di malam hari, ku harap James akan menyukainya.”

Aku meletakkan koper mom, lalu beranjak dari sana, memilih terduduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Pandanganku tak henti-hentinya menatap mom yang sedang membongkar kopernya, mengeluarkan isi koper itu dan menatanya di tempat yang semestinya. Sepertinya sudah lama sekali tak melihat pemandangan seperti ini, padahal aku hanya tak bertemu dengannya kurang dari 6 bulan.

*****

June 25th, 2013

Hyojin’s apartment, Cheongdam-dong, Seoul.

“Jean, hurry. Hurry! Kau lambat sekali.”

James selalu berteriak ketika ia akan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Seperti sekarang ini, dia ingin aku segera menyelesaikan kegiatan rutinku di depan laptop agar dapat segera membawanya ke Myeongdong.

“Sebentar james, sabarlah sebentar lagi.”

“Tidak mau! Ayo kita pergi sekarang Jean.”

Ia sudah merengek di atas kasurku. Aku meliriknya dari ekor mataku, ia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju saklar. Tidak ini gawat! Semua file pekerjaanku.

Done! Come on James,” aku langsung menarik pergelangan tangannya begitu saja.

Yeay! Jean is the best. Jean, ceritakan padaku seperti apa Myeongdong.”

“Tidak mau. Nanti saja kau lihat sendiri.”

Aku berjalan melewati ruang tengah, James setia mengikutiku di belakang. Mom masih asik dengan remote TV-nya, aku yakin mom sedang menonton serial drama.

Mom, aku dan Jean akan pergi. Mom harus ikut bersama kami.”

“James, kau harus memanggilnya noona. Ini Korea.”

“Sudah, biarkan saja mom. Aku tidak keberatan kok.”

Whatever. Jadi kalian mau kemana?”

“Myeong-dong, dia terus merengek ingin kesana.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

05:20 PM | Myeong-dong, Seoul

Myeong-dong selalu terlihat ramai seperti biasanya, tak peduli itu hari libur atau bukan. Turis berbondong-bondong mendatangi Myeong-dong, entahlah aku sendiri tak yakin apa yang tujuan mereka. Bahkan seluruh barang yang ada di Myeong-dong bisa ditemukan di toko lainnya. James juga seorang turis. Aku tersenyum sendiri mengingat hal itu.

“Kita sudah sampai. Apa yang ingin kau lakukan disini?”

“Kau yakin ini Myeong-dong Jean?”

Aku menatap raut wajah James yang sulit diartikan. Seolah-olah dia berkata aku-salah-arti-mengenai-myeongdong. Aku tertawa.

“Tentu saja. Lalu apa yang ada di pikiranmu tentang Myeong-dong?”

“Lupakan saja. Ayo!”

Mom tertawa melihat ekspresi anak laki-lakinya yang baru saja menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Kami terus berjalan mengikuti James yang selalu menarik tanganku dan mom ketika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ekspresinya berubah drastis ketika ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan. Setelah satu jam berkeliling Myeong-dong, aku sudah membawa beberapa kantung belanjaan milik James. Lelaki ini ternyata cukup jago juga.

Mom aku haus,” rengek James.

“Biar aku saja yang membelikan, kalian tunggu disini. Aku tidak akan lama.”

Aku langsung berbalik dan segera berjalan berlawanan dari tempat mom dan James. Menolehkan kepalaku ke kiri dan kanan.

‘Ah, itu dia!’ gumamku pelan.

Setelah aku memberikan beberapa lembar uang pada ahjussi penjual minuman, aku berlalu dari kedai itu. Sedikit kesusahan untuk membawa kantung-kantung ini. Aku berjongkok untuk merapikan beberapa kantung ini untuk memudahkanku juga.

“Ya!”

Aku mendengus kesal saat sepasang kaki jenjang tanpa sengaja menendang salah satu kantung belanjaanku, lebih tepatnya kantung belanja James. Aku mendongakkan kepalaku, ingin menegurnya. Tapi raut wajahku berubah saat kami bertukar pandang.

“Eonni?!”

••• ♦ ♦ •••

Iklan

16 thoughts on “Virus Chajin: First Meeting

  1. anyeong kak echaa ^^
    enak yaa mamanya Hyojin udah tau sma Chanyeol :))
    trus itu adeknyaa, >w<
    okeh, kak itu kenapa lagi endingnya ngegantung kayak gitu ? T.T
    next series ditunggu ^^

  2. ya! echa!
    apaapaansih endingnya begitu, penasaran tau 😦
    enak banget sih hidupnya hyojin, mama tau ttg pacar, exo sayang jinni-ya, hmm iri dengki lagi-lagi.
    james itu licik ya, berarti kalo kakak aku ga mau kemana-mana aku juga mau cabut-cabut kabel ah.
    well, i’m waiting for the next series yaaaaa

    • tak seenak yang kau bayangkan sayang…hahahhah 😀
      iri dengki oh iri dengki..
      James masi kecil -____-
      aku nunggu update ABStyle dulu ah, baru update lagi. *evil laugh*

      • ih, bete deh sama echa~
        hahaha, iri dengki~
        kalo jiji punya adek kaya james pasti adeknya udah lama tinggal di thailand ikut mama papanya, mana tahan liat AB Style couple yg agak-agak itu -_-
        james, kamu imut deh, umur 17 telpon aku ya (?)

  3. nugu ? nuguyaa~
    aku bayangin wajah james itu seperti leo ricippons itu loh kak. imut-imut lucu :3
    aku sama seperti yang lain : penasaran siapa cewek itu jengjengjeng~

  4. Aku kira kaka bakalan selesain dalam seri ini juga. taunya tetep digantungin :”) Aku benar-benar menunggu sepak terjang orang yang manggil Hyo “eonni”.
    Terus si Chanyeol udah mulai nyebelin sama kaya Chen ya. Sekalipun sibuk kalau pacarnya dianggurin kan sebel juga zzz. Sepertinya semua pacar2 anak EXO harus bersatu bikin mereka ‘jera’. Mau bikin projectnya sama2? lol kayanya asik juga. tapi aku gatau nerusinnya gimana ._.

      • kkk gapapa ka.
        iya. tapi aku bingung lanjutannya gimana wkwkwk. nanti deh dibahas di belakang aja 😀

  5. siapa? siapa itu yang terakhir? ahhh kak echa ngegantung nih hahaha
    kak ada typo kak, dibagian atas ‘antara’ nya double, dan si James bukannya laki ya? manggil Hyojinnya harusnya noona kak, tapi kak echa nulisnya eonni 😀 hihi maaf ya sok pinter kak 😀
    beneran nih kak harus nunjukin James diselanjutnya! lucu banget kayaknya dia, umur berapa sih? kekeke channie sok sibuk, hyo dianggurin *pukpuk* :3
    Jino? sepertinya ada sesuatu diantara mereka ya kak, lanjutan Chajin ditunggu 🙂

    • siapa aja blh kok. hahahha~
      typo?
      hwaa…makasih banyak mela, ternyata ada yang menyadari typo, terharu aku…
      uda aku benerin typonya..makasih ^^
      james 07lines berarti umur 6th…
      aku juga menunggu puzzle tub juga~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s