DaeHee Entrée : First Step

8th DaeHee Entrée  - First Step Cover

8th DaeHee Entrée – First Step

Main Casts : Kim Jongdae (EXO-M Chen), Shin Eunhee (@EunheeShin13), Shin Gwangchul

Other casts : EXO members

Genre : Romance | Length : 4.545 words

Thanks to Ka Echa, Ka Chacha dan Mala. Terima kasih untuk semangatnya. Aku nulis lagi akhirnya hihihi. Dan big thanks untuk Tupai dan Kuskus yang membawa inspirasi “tingkat kegalakan” dalam fanfic kali ini -ampun. Aku sayang kalian {}

Please read Shin Eunhee’s Profile first

© Eunroro13 2013

7th June, 2013 | 08:24 AM KST

Eunhee’s Apartment, Dongdaemun-gu, Seoul

“Ini akibatnya kalau kau terus-terusan tidak mau menurut denganku.”

Eunhee yang tengah meringkuk di balik selimut pororo kesayangannya itu hanya bisa menggerutu sebal. Ia mengerang pelan ketika memikirkan mengapa ia begitu bodoh dan sial sehingga harus terbaring seharian di atas ranjang seperti sekarang. Belum lagi ketika ia sadar kalau selama seminggu ke depan ia akan menjalani hukuman karena ketahuan pergi ke Busan tanpa izin. Rasanya kesialan seorang Eunhee lengkaplah sudah.

Sejak tadi Gwangchul –masih dengan apron yang terpasang di badannya— tak henti mengomeli adiknya yang satu itu. Semalam ia mendapati sang adik pulang larut malam dengan ekspresi seperti orang gila, terus tersenyum tanpa henti. Saat ia memarahi Eunhee pun adiknya itu hanya diam mendengarkan sambil sesekali mengulum senyum manisnya. Aneh bukan jika seorang Eunhee patuh begitu saja dengan hukuman tidak boleh kemana-mana darinya selama seminggu penuh? Rasanya Gwangchul ingin menyeret adiknya ke psikiater saat itu juga, Eunhee benar-benar aneh. Keesokan paginya ia harus menahan kekesalannya lagi ketika adik satu-satunya itu mengeluh sakit perut dengan suhu badan yang mulai menghangat. Setelah diinterogasi lebih lanjut, ia kembali harus menahan emosinya ketika sang adik memelas minta diampuni karena ketahuan belum makan apapun sejak semalam.

“Siapa suruh hanya minum kopi semalam huh? Sudah tahu perut mu itu tidak tahan dengan kopi masih saja bandel.”

“Aku lupa oppa. Berhenti mengomel kenapa sih?”

Gadis itu langsung menciut ketika mendapati Gwangchul melotot tajam ke arahnya.

“Kau ini alasan saja. Gisuk hyung tidak mungkin tidak mengajakmu makan sedikitpun. Memang kau nya saja yang bandel tidak mau makan. Astaga, sebenarnya apa yang kau lakukan disana huh? Hanya acara fansigning seperti itu kau memilih untuk bolos? Kau ini benar-benar.”

Gwangchul pun kembali mengomel sementara adiknya hanya bisa pasrah mendengarkan. Jika saja Eunhee memiliki tangan yang bisa memanjang, rasanya ia ingin mengambil earphone yang masih ada di dalam tas yang kemarin ia pakai. Memasangkannya di telinga, lalu menyetel lagu yang ada di ponselnya dengan volume maksimal. Ia mengingat-ingat kembali kapan kakak nya itu sehari saja tidak mengomeli dirinya. Eunhee mendesah ketika jawaban yang muncul di otaknya adalah tidak ada.

Tanpa adiknya sadari, Gwangchul telah berhenti mengomel dan beralih menatap adiknya yang sedari tadi terus mengerucutkan bibir. Laki-laki itu mendesah. Banyak hal yang ingin ia tanyakan tetapi sepertinya ia harus menunda semua rasa penasarannya dan menunggu hingga kondisi kesehatan sang adik lebih membaik. Gwangchul membenarkan posisi selimut dan bantal milik Eunhee lalu mengelus puncak kepala adiknya itu dengan penuh sayang. Senakal-nakalnya Eunhee, Gwangchul benar-benar sayang pada adiknya yang satu itu.

“Tidurlah. Aku akan mengabari gurumu kalau kau sakit. Nanti ku bangunkan saat makan siang. Mau ku buatkan udon dan tempura?”

Eunhee mengangguk penuh semangat. Udon dan tempura buatan kakak nya itu benar-benar sama enaknya dengan buatan sang ibu. Rasanya sudah lama tidak makan makanan seenak itu. Gwangchul tertawa lalu melangkah keluar menuju pintu. Baru saja ia akan menutup pintu kamar, laki-laki itu kembali masuk menghampiri sang adik dan menjulurkan tangannya seperti meminta sesuatu untuk diserahkan.

“Kenapa lagi?” tanya Eunhee heran.

“Kemarikan ponsel dan ipad mu.”

“Apa? Tidak mau!” tolak Eunhee.

Gwangchul berdecak lalu merebut paksa gadget milik adiknya yang tergeletak begitu saja di atas kasur, “Ku sita selama kau tidur. Kalau tidak, kau tidak akan istirahat.”

Dalam hati Eunhee pun mengutuk sang kakak. Kakaknya itu benar-benar tahu saja apa yang akan ia lakukan. Ayolah, ia hanya sakit perut dan sedikit demam. Rebahan sebentar sambil membaca fanfiction pasti akan membuatnya kembali seperti semula. Ah benar. Dia kan masih punya laptop. Eunhee pun terkekeh kecil lalu berpura-pura menutup matanya seakan-akan tengah mencoba untuk tertidur. Melihat kelakuan adiknya itu, mau tak mau Gwangchul mendesah pelan lalu melangkah meninggalkan kamar.

“Jangan coba-coba menyentuh laptop mu, Eunbo-ya. Kalau tidak semua gadget-mu akan ku sita seminggu ke depan,” ancam Gwangchul sebelum menutup pintu. Di dalam sana ia bisa mendengar Eunhee mengeluarkan protesnya, mengerang tak setuju. Ia abaikan semua itu lalu memilih merehatkan diri sejenak di sofa ruang TV.

Gwangchul menatap ponsel Eunhee yang ia letakkan di atas meja di depannya. Sisi penasarannya benar-benar memuncak sekarang. Ia yakin ada suatu hal yang disembunyikan sang adik darinya. Sempat laki-laki itu berpikir jika Eunhee kembali berhubungan dengan orang yang sama sekali ingin ia jauhkan dari adiknya. Tapi setelahnya Gwangchul menggeleng. Ia harus percaya dengan adiknya, dan ia yakin Eunhee tidak akan mengecewakannya soal itu. Laki-laki dengan baju denim itu pun meraih ponselnya, mengetikkan beberapa nomor untuk menghubungi seseorang di seberang sana.

Eoh hyung. Tidak, dia hanya demam dan sepertinya maag-nya kambuh. Dia sedang istirahat sekarang. Hyung, kau tau sesuatu yang aku tidak tau bukan?”

***

 Meanwhile at EXO’s dorm

Suara teriakan sang maknae yang mengeluh kelaparan sama sekali tidak membuat sosok Chen terganggu keheningannya menatap layar ponsel sambil bersandar di sofa. Belum lagi saat Tao mengajaknya mandi bersama. Laki-laki itu hanya mendorong tubuh Tao pelan, menolak permintaannya sekaligus mengusir panda itu secara halus. Chen menggusak rambutnya kasar, tidak peduli dengan tatapan aneh dari sang leader yang baru saja keluar dari kamar. Baekhyun yang sekarang sudah duduk di samping Chen sambil meminum segelas susu hanya mendesah lalu menjawab semua rasa penasaran yang ada.

“Biasa. Eunhee sama sekali belum mengabarinya.”

Suho mengangguk lalu menarik Tao yang masih kesal menuju ke kamar mandi. Leader itu mengajukan diri sendiri untuk mandi bersama maknae mereka. Mengurangi tingkat kesedihan yang Tao rasakan. Kai yang baru saja bangun dari tidurnya langsung berjalan sempoyongan ke arah Baekhyun dan kembali menidurkan dirinya di pangkuan lelaki berparas imut itu.

“Sudahlah. Mungkin saja gadis itu sedang sibuk dengan urusan sekolahnya. Ia pasti akan mengabarimu secepatnya Jongdae-ah.”

Baekhyun menyerah, laki-laki di sampingnya tidak menanggapi sama sekali dan terus saja menghembuskan nafas tak bersemangat ke arah ponsel. Setelah susu di gelasnya habis, ia ikut menyandarkan kepalanya di sofa seraya mengusap-usap rambut Kai pelan. Minseok pun datang lalu menyodorkan sepiring roti bakar untuk temannya yang sedang mengerang frustasi sedari tadi.

“Sarapan dulu. Setelah itu aku akan menelpon Eunhee untukmu.”

Chen menatap Minseok sejenak lalu mengambil roti bakar di piring itu dan mengunyahnya, “Tidak perlu hyung. Aku sendiri yang akan menghubungi gadis itu.”

Sebagai balasan Minseok pun hanya mengangguk. Lebih tepatnya ia tidak tahu lagi harus menjawab apa. Dalam hati ia berharap agar kedua insan itu baik-baik saja nantinya.

Setelah kunyahan terakhirnya berhasil masuk dengan lancar ke dalam kerongkongan, Chen kembali mengecek ponsel miliknya barang kali ada pesan atau satu telepon yang ia lewatkan dalam beberapa menit terakhir. Laki-laki itu menggerutu sebal tatkala mendapati sang pacar tidak kunjung menghubunginya sejak pulang dari Busan kemarin. Bahkan pesan darinya yang menanyakan apakah gadis itu sudah tiba kembali di Seoul pun tak kunjung ada balasan. Betapa Chen khawatir dengan keadaan gadisnya itu. Ia kembali mengacak rambutnya frustasi karena tidak tahu siapa yang bisa ia hubungi untuk mengetahui kabar kekasihnya. Sebuah nama terlintas di benaknya lalu dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke arah Minseok yang tengah mengunyah sarapannya di meja makan seberang sana.

“Apa?” tanya Minseok yang merasa diperhatikan.

Chen mendekat lalu ikut duduk di samping hyung-nya itu, “Hyung, kemarin Eunhee terlihat dekat dengan adikmu bukan. Mungkin saja aku bisa menanyakan kabar gadis bodoh itu lewat adikmu hyung.”

Minseok mendesah, lalu berjalan menuju kamar mengambil ponselnya. Chen terus menatap Minseok yang tengah menelpon adiknya itu dengan muka penasaran. Saat hyung nya menutup telepon, laki-laki itu langsung mencecar Minseok untuk menjawab rasa penasarannya.

“Mereka baru satu kali bertemu, Jongdae-ya. Belum sempat bertukar nomor telepon atau kontak lainnya.”

Chen mendesah. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja makan. Gadis itu benar-benar. Bisa-bisanya membuatnya khawatir sampai seperti ini. Kris yang sedari tadi hanya mengintip di balik majalah yang ia baca akhirnya mengeluarkan suara.

“Kau kan tinggal menelponnya saja. Kenapa repot sekali?”

Suara tajam dari sang dhuizang pun dibenarkan oleh member lainnya. Chen menatap Kris dengan tatapan frustasi sebelum menjawab, “Sudah berkali-kali dan tidak diangkat. Pesan ku pun tidak dibalas sejak malam tadi.”

Kris mengangkat bahunya pelan, sedangkan member lain kembali berkutat dengan aktivitas mereka masing-masing. Chen memutuskan untuk mengecek akun jejaring sosial milik kekasihnya itu. Ia tidak mendapati postingan terbaru di blog milik Eunhee. Tangannya dengan lincah mengetikkan sebuah alamat web dan layar ponsel itu menunjukkan halaman Twitter milik gadisnya itu. Ia baru sadar kalau Eunhee telah mengganti foto profile miliknya. Gadis itu tampak begitu manis dengan rambut dicepol ke atas dengan mulut terbuka seolah-olah sedang berteriak.

Chen tersenyum ketika matanya menangkap kata “Kim’s” pada bio sang kekasih. Walaupun tidak jelas siapa seseorang bermarga Kim yang dimaksud kekasihnya itu, tetapi laki-laki itu cukup yakin kalau orang itu adalah dirinya. Tangannya semakin menggerakkan halaman web itu semakin ke bawah dan ia mendesah saat mendapati tiga tweet terakhir dari kekasihnya hanya seputar interaksi dirinya bersama para fans di acara fansigning semalam. Tidak ada satupun dari tweet itu yang bisa menjawab rasa penasaran Chen tentang kabar kekasihnya. Laki-laki itu juga sadar kalau hari ini sang kekasih belum sama sekali meng-update hal apapun.

Kekhawatiran laki-laki itu benar-benar sudah mencapai puncaknya. Dengan cepat laki-laki itu menekan kontak pada angka 1 di ponsel dan menempelkan benda tipis berwarna putih itu ke telinga. Di setiap nada dering yang ia dengar, Chen terus menerus menyerukan dalam hati agar gadis itu mengangkat teleponnya. Benar saja, di nada dering kelima Chen mendengar kalau teleponnya diangkat di seberang sana.

Ya, Eunbee-ah! Kenapa telepon ku baru diangkat sekarang huh?”

“…”

Merasa tidak yakin dengan suara sahutan di seberang sana, Chen menjauhkan ponselnya sejenak lalu mengecek barangkali ia salah menelpon. Tapi layarnya menunjukkan kalau ia tengah menelpon gadis itu sekarang. Aneh sekali. Kenapa yang mengangkat teleponnya kali ini seorang laki-laki? Chen pun kembali meletakkan ponsel di samping telinga. Mencoba menanyakan keberadaan Eunhee dan mengutarakan niatnya untuk berbicara dengan gadis itu. Sampai sahutan di seberang sana sukses membuatnya terkejut dan seketika ia menyadari dengan siapa ia tengah berbicara sekarang.

Eoh annyeonghaseyo. Ne, Chen ibnida. Tentu bisa. Baiklah, aku akan kesana sekarang juga.”

***

Gwangchul menutup telepon yang baru saja ia angkat. Laki-laki itu tidak menyangka kalau ia akan secepat ini bertemu dengan orang yang berhasil membuat adiknya jatuh cinta lagi. Padahal tadinya Gwangchul ingin meminta penjelasan terlebih dahulu dari sang adik, tetapi rupanya keberuntungan tengah berpihak padanya. Tanpa diduga sebuah telepon dengan nama kontak yang cukup mencengangkan masuk ke ponsel Eunhee. Tanpa perlu banyak pikir lagi, Gwangchul mengangkat telepon itu dan berkenalan secara singkat. Tak lupa ia meminta penelpon itu untuk menemuinya sekarang di apartment. Ia tidak bisa menunda lebih lama lagi. Gwangchul harus tahu pasti siapa orang yang berhasil masuk ke dalam hidup adiknya itu.

Kau tenang saja. Dia tampak berbeda dari yang sebelumnya. Aku bahkan sedikit sangsi ketika melihatnya, bisa ku bilang sosok itu jauh dari kriteria Eunhee selama ini. Dia juga idol, kalau aku tidak salah nama group mereka EXO. Satu hal yang juga membuat ku terkejut adalah reaksi adikmu. Ia tampak benar-benar menyayangi laki-laki itu, dan hal yang sama aku lihat dari laki-laki itu juga.

Mendengar penuturan dari seorang Gisuk yang terlebih dahulu mengetahui hal ini membuatnya sedikit lega. Tapi hal itu tak kunjung membuat penasaran yang ia rasakan menjadi berkurang. Belum lagi ada sedikit kekecewaan yang ia rasakan ketika mengetahui adiknya menyembunyikan masalah ini darinya. Hampir 7 bulan mereka bersama dan Gwangchul menemukan perihal itu di kalender ponsel Eunhee. Ya, terhitung dari November tahun lalu dan ia baru mengetahuinya sekarang. Itupun bisa dibilang secara tidak sengaja. Ia menebak-nebak apa alasan adiknya agar ia tak mengetahui semua ini.

Gwangchul teringat akan janjinya untuk membuat makan siang. Ia melirik ke arah jam lalu berdiri karena ia harus bergegas menyiapkan semuanya. Laki-laki itu mengudak-udak isi kulkas, mencari bahan-bahan yang ia butuhkan. Tadinya kakak Eunhee itu hanya akan membuat makanan untuknya dan adiknya saja. Tapi ia teringat jika ada satu orang yang akan ikut makan siang bersama mereka. Gwangchul tersenyum samar. Ia jadi penasaran seperti apa reaksi sang adik ketika gadis itu tahu kalau ia telah mengetahui perihal ini.

Ketika ia teringat dengan nama EXO, Gwangchul tersadar kalau nama itu tidaklah asing di telinganya. Eunhee beberapa kali menyebutkan group itu, lebih tepatnya memuja-muja di hadapannya. Gwangchul juga ingat sebagian besar isi postingan akun jejaring sosial milik adiknya dipenuhi dengan hal-hal seputar EXO. Tapi laki-laki itu tidak pernah ingat kalau Eunhee pernah menyebutkan nama Chen di depannya. Yang ia tahu adiknya sedang tergila-gila dengan sosok bernama Kris. Astaga. Ia benar-benar penasaran. Gwangchul pun segera membasuh tangan lalu mengelapnya hingga mengering. Diraihnya ipad Eunhee yang berada tak jauh dari jangkauannya. Pencarian di internet ia lakukan dan Gwangchul membulatkan mulutnya ketika mendapati hasil yang ia cari.

“Pantas saja Eunhee tidak berpacaran dengan Kris. Terlalu tampan,” batin Gwangchul.

Ia menengok profile satu-persatu member EXO dan tidak lah mengejutkan baginya jika Eunhee memilih Kris sebagai biasnya. Sebagai laki-laki ia bahkan mengakui jika Kris memiliki wajah jauh di atas rata-rata. Ketika ia mengetahui posisi Kris di group, laki-laki itu mendesis.

“Kenapa adikku selalu terpikat dengan sosok seorang leader huh?“

Gwangchul kembali membaca profile itu dengan seksama, sesekali membandingkan kalau rupanya tidak kalah jauh dari wajah-wajah anak EXO. Sampai matanya menangkap profile seseorang yang tengah ia cari. Kakak Eunhee itu terdiam. Masih membaca kalimat demi kalimat dengan seksama.

“Kim Jongdae. Aaa pantas saja bio Twitter nya seperti itu. 92 line? Uh baguslah.” kata Gwangchul. Matanya membulat ketika mengetahui bahwa Chen adalah lead vocal dari group EXO-M. Ia tidak percaya jika adiknya betah menjalani hubungan jarak jauh dengan seseorang yang notabene juga seorang idol. Seketika Gwangchul menyadari kalau adiknya tidak main-main dengan laki-laki satu ini.

Tangannya beralih mencari video dan foto-foto lain dari sosok Chen pada folder galeri. Suaranya sangat bagus, pantas saja ia suka, batin Gwangchul. Aktivitasnya yang tengah mengobrak-abrik ipad milik sang adik pun terusik ketika ia mendengar bel pintu apartment mereka berbunyi. Gwangchul menaruh ipad itu kembali lalu melepas apron yang ia kenakan. Ia sempat melirik pintu kamar adiknya sebelum akhirnya berjalan menuju pintu depan berniat membukakan. Sosok yang tadi ia cari kini ada di hadapannya sekarang. Mata Gwangchul tidak bisa untuk tidak lancang meneliti penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah. Yang diperhatikan pun walau merasa tak nyaman bisa memaklumi kegiatan itu jika dirinya berada di posisi yang sama. Tersadar dengan apa yang ia lakukan, Gwangchul pun mempersilahkan laki-laki itu masuk.

“Maafkan aku baru menemui sekarang. Perkenalkan, aku Chen.”

“Ya, aku sudah tahu. Gisuk hyung sudah menceritakannya tadi. Duduklah. Aku akan menyiapkan makan siang untuk kita bertiga. Kau tidak sibuk kan?” tanya Gwangchul.

Chen sontak menggeleng, “Tidak juga. Aku hanya ada jadwal mulai nanti jam 1 siang.”

“Baguslah. Kita bicara nanti, dan eoh. Adikku yang bodoh itu sedang sakit. Kau bisa menjenguknya di kamar. Pastikan pintunya tetap terbuka, mengerti?”

“Eunbee… Bukan, maksudku Eunhee sedang sakit?”

Gwangchul mengernyit ketika mendengar panggilan yang tidak familiar baginya, “Ya, dia hanya minum kopi seharian dan sepertinya kelelahan bolak-balik dari Busan.”

Chen mendesah. Ternyata benar kekhawatirannya, dan sekarang ia mendapati kekasihnya itu sedang sakit. Belum lagi ia baru tahu kalau kemarin kekasihnya itu sama sekali tidak makan apapun. Ia mengutuki diri sendiri karena lalai mengingatkan kekasihnya untuk segera makan. Chen merasa ia juga turut bersalah karena membuat kekasihnya itu sakit akibat kelelahan. Bagaimanapun juga Eunhee membela-belakan diri datang ke Busan hanya untuk membuat surprise untuk dirinya.

Kakak Eunhee yang sedari tadi melihat Chen tak kunjung bergerak di posisinya, membuka suara untuk menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya, “Kau tidak mau menjenguknya?”

Ah, tidak. Aku akan ke kamarnya sekarang.”

“Ingat, tetap biarkan pintu kamar terbuka, dan Chen-ssi. Kalau boleh minta tolong bisakah kau buat adikku sedikit jera dengan kelakuannya kemarin?”

Chen tersenyum ke arah Gwangchul lalu mengangguk mengiyakan sebelum melangkah menuju pintu kamar dimana sang kekasih tengah tertidur sekarang.

***

Eunhee bermimpi.

Ia bermimpi tengah makan malam bersama seorang pangeran tampan yang memakai topeng. Gadis itu berusaha makan dengan anggun walaupun sebenarnya ia benar-benar lapar menatap hidangan yang disajikan. Tempura di depannya benar-benar menggoda. Pangeran itu menjulurkan tangannya berusaha menyuapi. Dengan senang hati dan pipi yang sedikit bersemu merah ia menerima suapan itu. Setelahnya pangeran itu mengajaknya berbincang, mereka berbicara dan sesekali tertawa. Pangeran itu menanyakan apakah Eunhee tidak penasaran siapa dirinya. Gadis itu pun mengiyakan dan meminta sang pangeran membuka topeng yang menutupi wajahnya. Di hitungan ketiga, Eunhee melihat sosok yang mencengangkan baginya. Bagaimana bisa pangeran itu adalah Chen?! Ya Tuhan, kenapa mukanya segalak itu?

Chen bisa melihat kekasihnya sedikit terganggu tidurnya, sesekali mulut gadis itu mengerucut dan bergumam tidak jelas. Setelah menarik sebuah bangku mendekat ke arah kasur, ia meletakkan tangannya ke atas dahi milik Eunhee. Hangat. Ia juga bisa merasakan bulir-bulir keringat kekasihnya, pertanda demam yang menyerang kekasihnya itu mulai menurun. Chen berujar maaf. Ia juga membenarkan letak selimut Eunhee karena gadis itu terus saja bergerak gelisah dalam tidurnya. Ia hanya memilih untuk menatap kekasihnya sambil sesekali mengusap puncak kepala gadis yang sedang tertidur itu.

Merasakan ada yang menyentuh dahi dan kepalanya, terlebih mimpi yang ia alami tadi berubah menjadi mimpi yang tidak ada manisnya sedikitpun, Eunhee perlahan membuka kedua kelopak matanya. Pandangannya sedikit berkabut karena ia baru saja bangun dari tidurnya. Ia bisa melihat walaupun samar-samar ada seseorang yang tengah duduk di samping ranjangnya. Tangan gadis itu beralih mengusap kedua matanya, berusaha melihat lebih jelas siapa orang lain yang ada di kamarnya sekarang.

“Astaga! Tidak mungkin,” jerit gadis itu ketika berhasil melihat siapa sosok yang ada di sampingnya.

Eunhee menepuk-nepuk pipinya pelan. Mana mungkin sekarang mimpinya jadi kenyataan. Ia menutup matanya lagi lalu membukanya secara perlahan. Apa yang ia dapati masih sama saja ya Tuhan. Kali ini ia mencubit tangannya dan beralih mengaduh kesakitan. Chen yang melihat kelakuan kekasihnya itu hanya menggelengkan kepala tidak percaya.

“Kau pikir kau sedang bermimpi apa? Aku yang disini nyata, Eunbee-ah.”

“O-oppa. Kenapa? Kenapa oppa bisa ada disini?”

“Kenapa tidak memberitahuku kalau kau sedang sakit huh? Kenapa tidak makan dari semalam? Kau pikir tubuhmu itu robot atau apa?”

Eunhee menggigit bibir bawahnya, “Itu… Kemarin… Aku sempat makan kok.”

Tatapan Chen berubah menjadi tajam, membuat Eunhee sedikit menciut, “Makan apa huh? Kau hanya minum kopi kan? Eunbee-ah sudah berapa kali aku bilang kau harus makan dengan benar. Kau tau, aku benar-benar khawatir sejak kemarin.”

Dengan sedikit takut-takut Eunhee melirik kekasihnya yang beralih menatapnya lirih. Ia menggumamkan permintaan maafnya dengan mimik muka memohon untuk tidak diomeli lagi. Rasanya hari ini hidupnya hanya diisi dengan omelan-omelan saja. Sudah cukup sejak semalam Gwangchul tanpa henti memberinya petuah ini itu, ia sudah kenyang. Chen mengusap mukanya lalu mendesah. Ia menatap sang kekasih yang menekuk mukanya. Dengan pelan sambil mengusap sayang puncak kepala Eunhee, laki-laki itu kembali bertanya.

“Lalu kenapa tidak membalas pesan ku sejak semalam?”

Kali ini Eunhee memberanikan diri menatap Chen yang juga menatapnya lebih lembut dibandingkan yang tadi, “Itu karena Gwangchul oppa—“

Hening.

Eunhee menghentikan kalimatnya. Sepertinya ada yang salah dari keadaan ini sekarang. Sejenak ia memikirkan pertanyaan Chen barusan, alasan mengapa ia tidak membalas pesan laki-laki itu sejak semalam. Kalau diingat-ingat malam tadi setelah ia sampai kembali di apartment, ia langsung dikejutkan dengan kehadiran kakaknya yang datang tiba-tiba. Eunhee meringis ketika ia ingat kakaknya menjewer telinganya dengan tidak berperi-kemanusiaan dan terus-terusan mengomel tanpa henti. Lalu ia langsung beranjak tidur karena sudah terlalu lelah.

Pagi harinya ia benar-benar merasa pusing dan terus-terusan mengeluh sakit pada perut bagian kiri. Ia baru ingat kalau dari semalam ia belum makan sesuap nasi pun. Lalu kakaknya kembali mengomel karena tahu ia sedang sakit akibat kecerebohannya sendiri. Soal mengapa ia tak kunjung memberi kabar pada kekasihnya, itu semua karena kesalahan kakaknya. Bagaimana bisa ia memberi kabar jika Gwangchul oppa….

“Astaga! Kenapa oppa ada disini?” pekik Eunhee.

“Memangnya kenapa? Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Dengan gelagapan Eunhee bertanya, “Si-siapa yang membukakan pintu untukmu oppa? Ka-kau tidak bertemu dengan si-siapa-siapa kan?”

Chen mengerutkan keningnya, “Tentu saja kakak mu yang membukakannya. Aku kan sama sekali tidak tahu password apartment mu. Lagipula kakak mu sendiri yang mengabariku soal ini. Kenapa Eunbee-ah?”

Seketika gadis itu mematung. Ia berharap ketakutan yang ia pikirkan tidak menjadi kenyataan. Tapi tidak setelah seseorang muncul dari arah luar kamarnya.

“Kenapa ribut-ribut dari tadi? Oh, kau sudah bangun? Kalian cepatlah keluar. Kita makan siang sama-sama,” kata Gwangchul lalu kembali menuju ke dapur.

Chen kembali mengalihkan pandangannya ke arah sang kekasih yang sedari tadi masih bungkam tanpa suara. Laki-laki itu bahkan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sang kekasih dan tidak ada tanggapan sedikitpun. Dalam hati dan pikiran Eunhee sekarang hanya ada satu kalimat.

Eunhee, matilah kau!

***

Ketiganya hanya fokus menyantap makan siang yang telah Gwangcul sajikan di atas meja makan. Terlebih Eunhee yang sedari tadi hanya diam menyeruput udon kesukaannya. Gwangchul mengulum senyum geli melihat tingkah laku Eunhee yang salah tingkah. Merasa tidak nyaman dengan suasana makan siang yang kaku seperti ini, Gwangchul pun berinisiatif memecah keheningan di antara mereka.

“Tidak ada yang ingin menjelaskan padaku apa hubungan kalian?”

“Oppa,” tegur Eunhee.

“Kenapa? Aku kan berhak tahu adikku berhubungan dengan siapa.”

“Bukan begitu. Nanti aku yang akan—“

“Apa bedanya sekarang atau nanti huh? Lagipula aku lebih berharap orang ini yang menjelaskannya padaku,” sergah Gwangchul sambil menunjuk Chen yang ada di depannya.

Eunhee hanya menggenggam sumpitnya erat. Inilah yang ia takutkan. Kakaknya akan berubah menjadi sosok protektif dan kelewat garang jika mengetahui sang adik mempunyai hubungan spesial dengan seorang teman laki-laki. Eunhee tidak bisa menyalahkan sikap kakaknya itu memang, mengingat bagaimana sayangnya sang kakak kepadanya ditambah kejadian di masa lalu yang membuat Gwangchul semakin bersikap protektif. Jika ingin jujur Eunhee memang memilih untuk menyembunyikan hubungannya dengan Chen dari sang kakak, tapi jauh di dalam hatinya ia juga ingin kakaknya tahu akan hal ini pada saat yang tepat. Bukan sekarang, karena jujur ia belum siap mengetahui apa reaksi kakaknya itu.

Chen merasa harus membuka suara sekarang, “Aku bertemu dengannya tahun lalu, itupun tidak sengaja. Kami berkenalan dan aku akui setelah itu aku jatuh cinta padanya.”

“Kau mencintainya? Apa yang membuatmu berani mencintai adikku?”

“Oppa!”

Chen menenangkan Eunhee dengan menggengam tangannya yang terkepal. Lewat isyarat mata ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Aku tidak punya alasan khusus. Yang pasti aku merasa nyaman bersama Eunhee dan aku ingin menjadi satu-satunya orang yang ada di dekatnya. Maksudku sebagai pasangan,” sela Chen ketika ia melihat Gwangchul akan menginterupsi perkataannya lagi.

“Saat aku mengungkapkan apa yang ku rasakan, aku tidak berniat sedikit pun memaksanya untuk membalas perasaanku. Karena aku ingin ia juga sama nyamannya dengan ku. Saat ia mengiyakan aku berubah menjadi sosok yang selalu protektif terhadapnya, tapi itulah caraku mengatakan bahwa aku mencintainya.”

Eunhee mendongak mendengar apa yang barusan kekasihnya katakan. Ia mendapati Gwangchul terus menatap tajam laki-laki di sampingnya itu. Sedetik kemudian pandangan mereka bertemu. Eunhee membalas tatapan sang kakak dengan penuh permohonan.

“Dan kau, kenapa kau menyembunyikannya dariku? Kau juga. Bukankah seharusnya seorang kakak berhak tahu tentang hubungan adiknya?”

“Itu karena aku yang memintanya oppa. Tidak lebih. Ku mohon hentikan.”

Gwangchul menghela nafas pelan. Sekalipun ia masih belum mengetahui pasti apa alasan adiknya itu, Gwangchul tidak bisa memungkiri jika Chen lumayan berhasil merebut hatinya. Apa yang laki-laki itu lakukan terbilang sama dengan yang ia lakukan. Dari penilaiannya hingga kini, sosok Chen tidak memberikan kesan buruk di matanya. Entahlah, Gwangchul melihat ada kesungguhan di mata laki-laki itu dan tidak dipungkiri kalau ia senang mendapatinya.

Geurae, habiskan makanan kalian. Dan kau Eunhee habis ini langsung minum obat dan kembali istirahat,” tutup Gwangchul.

“Oppa.”

“Apa? Ah, kalian ingin berduaan sebentar? Baiklah. Ku beri waktu 30 menit setelah acara makan ini selesai. Pastikan cuci piring terlebih dahulu karena aku sudah memasakkan semua ini untuk kalian.”

“Oppa!” protes Eunhee. Hatinya tengah berdegup kencang karena senang. Ia bisa membaca jika kakaknya itu bisa menerima hubungannya.

Ah, aku hampir lupa. Tidakkah kalian harusnya mengatakan sesuatu untukku?” rongrong Gwangchul kepada kedua makhluk yang tengah merona itu.

Chen yang menyadari terlebih dahulu akhirnya berucap, “Terima kasih, Gwangchul-ssi.”

Dahi Gwangchul mengernyit. Kemudian ia menghentikan kegiatan tangannya yang tengah menyapukan sebuah lap pada mulutnya, “Gwangchul-ssi? Bukankah kau seharusnya memanggil aku hyung karena aku lebih tua darimu?”

Spontan Chen terkejut mendengar apa yang dikatakan Gwangchul barusan. Secepat itukah ia diterima? Tapi tidak dipungkiri ia senang akan hal itu. Dengan mantap ia mengulang ucapan terima kasih tadi. Tentu saja bukan dengan embel-embel formal di belakang nama kakak laki-laki Eunhee itu. Ia punya hyung baru sekarang.

Puas mendengar apa yang ia inginkan, Gwangchul bangkit meninggalkan meja makan itu untuk menuju ke kamar. Di tengah perjalanan, ia berbalik kembali menatap kedua adiknya itu, “Satu hal lagi. Jangan melakukan skinship di depanku. Mengerti?”

Gwangchul pun langsung melesat menuju kamar saat lemparan sumpit dari Eunhee berusaha mengenai kepalanya. Gwangchul terkekeh. Rasanya ia punya bahan baru untuk menggoda adiknya itu. Dalam hati ia berharap kalau keputusannya kali ini tepat. Ia berdoa agar hubungan adiknya lebih baik daripada apa yang telah Eunhee jalani dulunya. Seketika ia meringis ketika sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.

“Kapan aku punya pacar?”

***

Setelah kegiatan mencuci piring mereka selesai, Eunhee dan Chen memutuskan untuk duduk di sofa sambil menonton TV. Entah mengapa suasana di antara mereka berubah menjadi canggung. Baik Eunhee maupun Chen sama-sama diam, hanya bicara seperlunya sepeninggalan Gwangchul tadi.

“Mau makan buah?” tawar Eunhee memecah keheningan.

“Ya? Tidak usah. Sebentar lagi manager hyung akan menjemputku.”

Eunhee mengangguk, ia baru ingat kalau hari ini EXO harus mengisi acara Music Bank. Ia hampir lupa jika kekasihnya itu sekarang tengah menjalani masa promosi album terbaru mereka. Chen tersenyum melihat ekspresi kekasihnya. Tangannya terangkat untuk mengecek suhu badan Eunhee. Syukurlah, sepertinya kekasihnya itu hanya perlu istirahat sebentar saja.

“Lain kali jangan sampai tidak makan lagi, eoh. Berhenti membuat orang-orang di sekitarmu khawatir.”

“Ya, aku mengerti. Maafkan Gwangchul oppa karena bersikap berlebihan seperti tadi. Terkadang ia memang menyebalkan.”

Chen menggeleng, “Tidak. Kalau aku di posisinya mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Sudahlah. Yang penting dia bisa memaklumi kita berdua bukan.”

Eunhee kembali mengangguk. Keduanya saling melempar senyum ke arah satu sama lain. Chen pun menarik Eunhee ke dalam dekapannya, kembali menggumamkan perasaan besarnya terhadap gadis itu. Tangannya mengelus lembut rambut Eunhee. Tuhan, ia benar-benar mencintai gadis ini. Sementara itu Eunhee tengah menikmati waktunya berada di dalam pelukan Chen. Ia bisa mendengar detak jantung laki-laki itu sama kuatnya dengan detak jantungnya sekarang. Keduanya seolah berlomba-lomba, saling bersahutan satu sama lain. Dengan teramat pelan, Eunhee membisikkan kalau ia juga mencintai sosok yang tengah mendekapnya itu.

Ponsel Chen berbunyi. Rupanya manager hyung dan anak-anak EXO lainnya tengah menunggu di depan gedung apartment Eunhee. Chen pun berpamitan dan Eunhee mengantarkan laki-laki itu sampai ke depan pintu.

“Janji habis ini kau akan istirahat, oke? Jangan membaca fanfiction atau mencoba menguntit ku di Twitter,” goda Chen.

“Cih, oppa pede sekali. Tenang saja. Aku tidak akan menguntitmu kok.”

Chen memicingkan matanya, “Sekalipun Kris hyung juga tetap tidak boleh.”

Eunhee mendengus. Kenapa laki-laki ini selalu tau apa yang ia pikirkan?

“Eunbee-ah…

Arraseo. Oppa tenang saja. Semua gadget ku sudah disita sama orang yang menyebalkan itu. Sudah sana. Kasian yang lain sudah menunggumu.”

Sebuah kecupan singkat pada kening Eunhee menjadi tanda perpisahan mereka berdua. Pintu pun tertutup, Eunhee bersiap kembali menuju kamarnya untuk beristirahat. Tapi langkahnya terhenti ketika suara sang kakak kembali menyapa indera pendengarannya.

“Dia sudah pulang?”

“Ya, baru saja,” jawab Eunhee singkat. Gwangchul mengikutinya menuju kamar lalu duduk di kursi samping ranjang adiknya itu.

“Kau bahagia?”

Eunhee tersenyum, “Ya. Tentu saja. Terima kasih, oppa.”

Gwangchul mengangguk lalu mengusap pelan rambut sang adik, “Jaga diri baik-baik selama aku tidak ada. Kau harus mengabari ku jika terjadi apa-apa. Jangan memendam sendirian. Mengerti?”

Gadis itu mengiyakan. Iya tertawa ketika kakaknya mendesah iri karena belum mempunyai kekasih juga. Perlahan Eunhee mulai mengantuk. Sepertinya obat yang ia minum tadi mulai menunjukkan reaksinya. Ia tertidur ketika Gwangchul menarik selimut untuknya dan mengecup keningnya dalam.

Hari ini, langkah pertama telah mereka jajaki dengan cukup lancar. Eunhee berharap jika suatu saat nanti, ketika mereka menapaki langkah-langkah selanjutnya, hal serupa tetap terjadi pada mereka berdua.

Kkeut

Iklan

24 thoughts on “DaeHee Entrée : First Step

  1. Success!!
    Aku bersyukur akhirnya kamu ngelanjutin juga daehee ini, aku frustasi nunggunya.. -_____-
    kamu berhasil buat aku senyum2 sendiri baca FF ini, tingkah mereka ini kocak banget muti.
    Semangat yaa!! First step ^^

    • Hahaha baru sebulan kok ga ngelanjutin ._. Jadi bisa ngelanjutin juga karena muncul ide pasca dimarahin pas demam kemaren </3
      Oh ya? Bagus deh. Hehehe. Dan setelah aku baca ulang endingnya terkesan ngebut ditulisnya hiks. Nanti aku perbaiki lg. Makasih ka echa {} semangat juga!

  2. waaa, Gwangchul oppa masih jomblo ternyataa yaampun .-.
    aduh kurang sosweet apa cobaa *0*
    dia masakin makanan trus ngerawat eunhee plus kepo-in Chen XD
    jdi Daehee udah d acc sma Gwangchul, oh senangnyaa 😀
    next~

    • Makasih udah mau baca sm kasih komentar ^^ aku lupa nama km siapa dek :’)
      Hahahaha iya dia masih jomblo aja. Kasian. Di umurnya yang 24 itu dia masih belum punya pasangan masa. Biarlah, mungkin itu biar Eunhee bisa balas ngatain dia hahaha.
      Seneng dong ^^ akhirnya ga perlu sembunyi2 lagi hihihi

  3. aduh mama sama anak mandi berdua ya?
    jadi ceritanya $uho volunteer nih? hmm, chen chen jahat, padahal mau kan mandi sama tao :3
    dan please, kenapa itu kai selingkuh sama baekhyun? huaaaaaaa
    kris baca majalah apa hayo? hihihihi

    hahaha, asik gwangchul kepo ya~
    enak deh punya kakak kayak gwangchul, care aja gitu
    “Pantas saja Eunhee tidak berpacaran dengan Kris. Terlalu tampan,” itu jahat banget TToTT
    hahaha, nice fic, aku suka deh
    FIGHTING MUTI! *nari hula-hula bareng tao*

    • wkwkwk iya. ah itu bukan jahat kok. kan chen memang ga pernah mau mandi bareng tao. dia salah satu orang yang ga angkat tangan waktu di happy camp kemaren
      awalnya aku nulis Chanyeol, tepi entah kenapa aku pengen Kai aja jadinya aku ganti deh. Hehehe
      Yang paling ga mungkin itu dia baca majalah bisnis

      Iya enak cuma kalau pas udah galak nya kumat itu udah ga enak banget ._.
      muahahaha iya kalimat itu jahat banget, tapi memang kenyataannya gitu :”)
      makasih ka caca~ fighting! *maka es krim hula2 sama kris*

  4. Gwangchul oppa sama aku aja.. aku juga belum punya pacar #plak ><
    Joo jadi iri pengen punya kakak kayak gwangcul juga :'
    chen troll lucu! gentleman! (tiba-tiba jadi fangirling)
    daehee selanjutnya di tunggu kak ❤

    • tapi kan Joo punya Eunkwang :O dikelilingi member btob yang tampan2, ditaksir Sungjae lagi </3
      kkk chen memang gentleman *nari bareng psy*
      makasih… nabila kan ya? aku ingatnya namu doang :Da

  5. Gwangchul oppa baik banget >< sayang belum punya pacar ya /liriklirik/
    Kirain Gwangchul bakalan mencak-mencak ama Chen, eh malah berlapang dada menerima hubungan mereka. kakak yg baik :'')
    Next entree ditunggu ya ^^

    • Halo ^^ terima kasih udah mau baca
      Hahahaha kamu mau sama Gwangchul? Biar Eunhee kenalin nanti ke dia hihihi
      Itu karena Gwangchul liat kalau Chen baik2 aja, ga ada bawa efek negatif utk adiknya. Jadi ga ada alasan untuk mencak2 kan? Mungkin sekarang belum, tapi siapa tau nantinya gimana hehehe

    • makasih mal :”)
      iya. itu sebenarnya sih curhatan deh ya. posisinya kalau di dunia nyata kebalik. itu smua idenya pure dari tupai zz -_-

  6. KYAA ini bagus sekali. bahasanya ketata rapi dan yeah, per karakter kuat banget disini, jadi feelnya kerasa banget :3 type2 ff kesukaanku.
    manis sekali :3 aku udah senyum2 sendiri pas baca. sepertinya pair ini bakalan jadi top favorit aku nih :3 ditunggu lanjutannya ya~ semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s