Puzzle Tub: Red Dress

red-dress-poster

Red Dress

| Marumero | Zhang Yixing (EXO-M), Shim Nayong (OC) | Drama, Romance | Chaptered | G 

Disclaimer: OC, plot and story are mine, Zhang Yixing belongs to fans 😀

PS: Puzzle kedua dari Puzzle Tub setelah Puzzle pertama Unreason Point 🙂

Thanks to Dekdepi yang udah mengizinkan Jules hadir disini, walau sedikit banget LOL

Enjoy the words ^^

Merah adalah tanda cinta.

“Gunakan baju berwarna merah tanggal 14 nanti, oke? Ah, merah muda juga tak masalah.” Kalimat yang dilontarkan sunbae-nim terus terngiang dipikiran Nayong sementara disisi lain otaknya, ia berpikir keras untuk mendapatkan kostum yang pantas untuk menghadiri pertunjukan teater tanggal 14 nanti. Perasaan cemas menyelimutinya beberapa saat terakhir setelah mendapat telepon dari sunbae-nimnya itu.

Terlalu banyak yang dipikirkan Nayong dan tak ada tindakan sedikitpun dari Nayong untuk mengatasi masalahnya. Ia terlalu santai menanggapi masalah atau karena ia tak tau bagaimana mengatasi masalahnya, selalu ada dua kemungkinan yang terjadi pada Nayong saat ia menghadapi masalah.

Suatu kekhawatiran yang melandanya selama dua hari terakhir dan membuatnya sering mengganggu sahabatnya, Li Na, dengan kata-kata tak penting dan merasa gelisah yang berlebihan. Masalahnya bisa dibilang sangatlah sepele, yaitu bagaimana ia harus membagi kedua kegiatan penting yang terjadi dalam hari yang sama. Pertandingan basket timnya yang kini sudah memasuki musim kompetisi dan pertunjukkan teater yang harus ia tonton.

Mungkin ia bisa saja membatalkan acara menonton dan konsentrasi dengan kompetisi yang sedang dihadapinya jika Nayong menghendaki. Namun, yang jadi masalah adalah ia tak bisa membatalkan acara menontonnya karena ia telah terlanjur mengajak seseorang untuk menemaninya menghadiri pertunjukan itu. Dan orang itu telah memberi persetujuan untuk menemaninya satu jam sebelum ia ingat tentang pertandingan basketnya bersamaan dengan hari pertunjukan.

Nayong merutuki dirinya sendiri sepanjang ia duduk bersila dikamar Li Na, betapa ia sangat bodoh karena ia tak mengingat pertandingan penting yang harus ia laksanakan terjadi dihari yang sama dengan pertunjukan teater. Jika saja ia ingat, ia tak akan mungkin mengajak lelaki yang akan menemaninya tanggal 14 nanti ke acara pertunjukan.

Ia sempat berpikir untuk mengorbankan pertandingannya demi menghadiri pertunjukan dan menikmati hari Valentine yang menyenangkan dengan lelaki yang ia sukai. Tapi kemudian ia bergidik ngeri membayangkan pelatihnya berteriak mencaci-maki dirinya dihadapan kawan tim karena meminta izin untuk hal yang tidak penting. Nayong semakin bergidik ngeri membayangkan timnya bermain tanpa dirinya, the three point girl. Ia ujung tombak tim yang sangat diandalkan dan paling ditakuti lawan. Tak mungkin semudah itu untuk menjalani pikiran alternatif gila yang terlintas dibenak Nayong.

Satu-satunya harapan yang dipanjatkan oleh Nayong demi kelancaran tanggal 14 mendatang adalah jadwal pertandingannya tidak bersamaan dengan jam pertunjukan, satu-satunya doa yang ia harapkan dapat terkabul.

“Ayo ikut denganku.” Li Na menarik lengan Nayong dan beranjak meninggalkan apartemen. Li Na yang geram dengan Nayong yang bersikap berlebihan akhirnya membawa Nayong keliling pertokoan dan mencari baju yang cocok untuk dikenakan Nayong saat pertunjukan nanti. Li Na berpikir selangkah kedepan dengan melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Pertandingan dan pertunjukan bisa terjadi diwaktu yang berbeda dan ia tak ingin sahabatnya yang konyol itu menghadiri pertunjukan spesial di hari Valentine hanya menggunakan kostum basket, yang juga kebetulan berwarna merah.

Sesampainya di butik, Nayong hanya bisa mendesah kesal melihat setiap baju yang disodorkan oleh Li Na dan sama sekali tidak membuatnya berminat. Ia menatap Li Na sinis dan beranjak dari toko.

“Li Na ya, hentikan. Kau membuatku sangat bosan, mengerti? Kau tau aku tak pernah bisa bertahan lama ditempat seperti ini. Lebih baik kita pergi sekarang daripada kau membuang waktumu yang berharga untuk hal yang tak penting. Kajja.” Nayong menyeret Li Na keluar dari butik dan menuntunnya menyusuri jalan. Li Na tak membantah dengan perlakuan Nayong, ia mencoba mengerti sikap Nayong yang kurang peduli dengan penampilan dan tidak senang menghabiskan waktu ditempat yang dianggap Nayong seperti penjara.

Perempuan waras tak akan mungkin menganggap tempat berisi model baju terbaru dan pakaian-pakaian yang membuatnya terlihat cantik terasa seperti penjara. Sayangnya Nayong beranggapan begitu, karena ia tak waras.

Sore itu akhirnya mereka habiskan untuk menyusuri jalanan sekitar apartemen dan kembali bersarang dikamar masing-masing dengan Nayong yang masih merasa gelisah. Ada hal lain yang sangat membuatnya lebih gelisah dari hal apapun, ketika waktu terus bergulir dan jam hampir menunjukkan pergantian hari. Hari yang ia tunggu dan yang tak ia tunggu.

Hari yang ia tunggu karena ia tau ia akan mendapat banyak hadiah dan ucapan selamat karena mencapai umur baru, tetapi juga hari yang tak ia tunggu karena umurnya semakin menambah dan ia benci menjadi tua. Berumur dua puluh bukan hal yang gampang, seperti yang sedang terjadi padanya sekarang, tinggal terpisah dari orang tua dan hidup sendiri di apartemen, menjalani masa-masa kuliah yang sangat berat dan melakukan segala sesuatunya seorang diri.

Untungnya Nayong bukanlah orang yang suka ambil pusing dengan keadaan yang menyulitkannya, ia terbiasa melakukan segala sesuatu dengan santai dan tidak membebani. Maka dari itu hidupnya terasa flat, kurang lebih selama delapan belas tahun terakhir hingga akhirnya ia menemukan Yixing yang membuat hidupnya menjadi bergejolak dan menghilangkan kedataran hidup Nayong.

Tak hanya dihidup Nayong, Yixing juga membuat gejolak didalam hati Nayong, gejolak yang hadir tiga bulan terakhir dan memenuhi setiap sudut ruang dibenak Nayong. Membuatnya jatuh hati dan bertingkah gila. Semua karena kehadiran Yixing.

“Eomma….”

Nayong terduduk disamping meja makan dan menangis sesenggukan saat membuka kiriman paket yang ia dapat pagi itu. Ibu dan ayahnya mengirim paket spesial dihari ulang tahun dan memberinya sepotong dress berwarna putih dengan renda cantik dibagian depan. Surat yang ditulis oleh ibunya membuat Nayong sangat terharu karena ini adalah tahun pertamanya merayakan ulang tahun tanpa kehangatan keluarga yang ia cintai.

Permulaan yangmembuat dadanya sesak disaat umur dua puluhnya datang dan hanya melaluinya seorang diri.

Nayong tak berniat kemana-mana hari itu, tak ada ulang tahun yang perlu dirayakan, mendapat kiriman dari orangtuanya saja sudah cukup. Tapi kenyataan berkata lain, setelah hari menjelang cukup siang, paket berdatangan silir-berganti ke apartemennya. Kebanyakan dikirim oleh teman-teman SMA, berisi obat herbal untuk menjaga kesehatan dan beberapa merchandise Liverpool, klub sepakbola favorit Nayong. Mereka mengetahui Nayong dengan baik.

Nayong membuka semua kiriman dan merasa senang, inilah hal yang ia tunggu. Saat dimana mendapat barang kesayangan yang tak ternilai harganya. Setelah membongkar seluruh kiriman, kiriman terakhir dihari itu akhirnya datang juga. Ia menerima paketnya dan membukanya perlahan. Matanya melebar saat melihat apa yang ada didalam kotak kiriman dan melihat siapa pengirimnya.

Oh my gosh!…” Tangannya mengangkat dress berwarna merah dan menatapnya dengan takjub, matanya melirik siapa pengirim dress itu, ternyata dari teman-temannya di teater. Seketika ia tau siapa dalang dibalik semua ini.

“Li Na ya….” Nayong menghambur keluar kamar dan mendatangi kamar Li Na, satu lantai dibawah lantainya. Li Na sedang keluar dan hanya meninggalkan sepucuk memo didepan pintu.

Aku tau kau pasti akan langsung menyemburku Nayong ah, jadi aku kabur saja. Kekekeke. Jangan marah ne, ini demi kebaikanmu juga, datanglah besok menggunakan baju itu, tampil yang cantik didepan Yixing oppa. Ambil juga sepatuku DAN BUANG SEPATU BASKET KESAYANGANMU BESOK! Mengerti? Selamat Ulang Tahun! Saranghae Shim Nayong ^^.

Nayong melihat sebuah kotak didepan pintu dan mengambilnya, menemukan heels berwarna putih perak dengan hak berukuran 7cm. Matanya membelalak lebar dan menatapnya tak percaya.

Ya! Yan Li Na! Kau ingin membunuhku eoh…?!” Nayong berteriak sia-sia didepan pintu Li Na dan menyeret kembali kakinya kedalam kamar.

Matanya memandang heels dan dress merahnya secara bergantian, kemudian mendesah dan berteriak frustasi. Mana mungkin ia mengenakan semua barang ini? Bahkan sekalipun ia tak pernah mencoba untuk memakainya.

Kemudian ia teringat dengan siapa ia akan pergi ke pertunjukan.

Ia pun terduduk lemas dilantai dan kembali mendesah, tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti apa yang Li Na katakan, ia harus kelihatan sempurna dimata Yixing, setidaknya ia tak ingin membuat Yixing malu karena menghadiri pertunjukan teater spesial Valentine dengan mengenakan kostum basketnya.

Basket. Ia teringat dengan pertandingannya besok, sore ini ia ada latihan dan ia akan memastikan jadwal pertandingan besok tak bersamaan dengan jam pertunjukan.

Latihan sore itu terbayar dengan sebanding ketika Nayong berlatih habis-habisan dengan kawan setimnya dan mendapat kabar menyenangkan bahwa pertandingan besok tidak bersamaan dengan jam pertunjukan.

“Li Na ya! Kenapa kau menghindariku eoh? Kau sengaja membuatku ingin terlihat seperti badut di depan Yixing oppa ha?!” Nayong berteriak ditelepon sesampainya di apartemen setelah latihan sore, seharian ini Li Na tidak mengaktifkan ponselnya dan menghindari Nayong. “Dan kau, harus menonton pertandinganku besok, HARUS!” Nayong menutup telepon tanpa mendengar jawaban dari Li Na setelah ia mengangkat teleponnya dan tersenyum geli melihat tingkahnya sendiri dan sahabatnya itu. Selalu begitu.

Ting tong…

“Siapa yang bertamu malam-malam begini.” Gumamnya, meletakan ponsel diatas meja.

Nayong beranjak dan menuju pintu, melihat siapa yang menjadi tamunya malam itu. Alisnya bertautan dan Nayong menekuk wajah mengetahui siapa yang ada dibalik pintu.

“Hallo noonaku tercinta..! Lama tak jumpa.” Suaranya sangat familiar dan dialah sebab mengapa Nayong merubah raut muka, Shim Naru, adiknya. Ia memandangnya kesal. Kedatangan Naru bukan hadiah yang baik mengingat saat ini masih masuk hari ulang tahunnya.

“Ada urusan apa kau kesini? Jangan cari ribut denganku.” Nayong menatap Naru sinis dan menunjukan ketidaksukaannya.

“Wah..wah.. Aku tak berniat begitu noona, aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada noonaku tersayang. Boleh kan? Ngomong-ngomong apa kau tidak ingin mempersilahkanku masuk kedalam?.” Naru berdiri didepan pintu dan menatap Nayong jahil.

Nayong menghela nafas jengah dan melebarkan pintu membiarkan Naru masuk. Tanpa sepatah katapun Nayong kembali menutup pintunya.

“Sangat style kakakku.” Naru berkeliling ruangan sejenak dan mendapati barang-barang kakaknya yang sangat ia kenal. Merchandise tim kesayangan, rak yang terisi sepatu basket dan sneakers, kulkas yang penuh terisi sayur dan kotak susu, ruangan yang remang-remang dan pemandangan diluar jendela yang menyuguhkan keindahan malam dari lantai enam.

Nayong hanya mengangkat bahu dan menatap Naru tak peduli. Hubungannya dengan Naru tak pernah berjalan dengan baik, mengingat adik yang tak pernah ia anggap sebagai adik itu selalu membuat onar dan menyulut masalah dengannya. Ia tak perlu susah-susah menjadi kakak yang baik untuk adik yang kurang ajar seperti Naru. Berpikir untuk baikpun tak pernah terlintas sedikitpun oleh Nayong.

“Katakan apa maumu?.” Nayong menyilangkan tangan dan memandang Naru intens.

“Jangan galak begitu noona, sudah aku bilang sejak awal kan, aku datang kemari untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Tapi maafkan aku karena tak membawakanmu hadiah.” Naru mengenyakan diri disofa dan memandang kakaknya santai.

“Tak perlu repot-repot, kau tidak perlu melakukannya.” Nayong membuang muka dan muak mendengar omong kosong adiknya.

Noona, boleh aku minta minum? Aku haus.” Naru tersenyum sok manis dan membuat Nayong jengkel setengah mati. Ia beranjak dan mengambil minum didapur.

Sesampainya kembali diruang depan, ia terkejut setengah mati saat mendapati adiknya telah menghilang, ia sempat mengira hal ini akan terjadi, tapi Nayong terlalu sepele untuk menyimpan barang-barangnya dan mengendurkan penjagaannya pada Naru. Alhasil, merchandise Liverpool dan dress pemberian teman teaternya raib dan lenyap dari hadapannya dibawa pergi oleh Naru. Itulah mengapa hubungan mereka tak pernah baik.

YA! SHIM NARU!!!!.”

Hari yang seharusnya menjadi hari paling berkesan dan menyenangkan seumur hidup Nayong, ternoda dan dihancurkan oleh adiknya sendiri. Tak seharusnya semalam ia mempersilahkan Naru masuk dan mengambilkan ia minum. Nayong menangis semalaman meratapi barang-barangnya yang raib. Merchandise Liverpoolnya yang masih baru hilang entah kemana dan dress yang harusnya ia pakai sore ini telah lenyap. Ia tak punya ide cadangan menghadapi situasinya sekarang. Maka ketika pertandingan hampir dimulai, ia mencari Li Na dibangku tribun dan menghampirinya.

“Semalam Naru ketempatku.” Hanya dengan kata singkat yang dilontarkan oleh Nayong, Li Na sudah tau apa yang terjadi selanjutnya. Li Na menggeram kesal mengetahui kelakuan adik Nayong yang sama sekali tak berubah.

Li Na memeluk Nayong erat dan menenangkannya. Ia mencoba menjaga suasana tetap tenang dan tak membebani Nayong mengingat pertandingannya hampir dimulai beberapa menit kedepan. “Dressnya bertahan?.”

Nayong menggeleng disela-sela peluknya. Li Na menghela nafas panjang dan menepuk-nepuk punggung Nayong. “Haaaah, sudahlah tak masalah.” Li Na melepas pelukannya dan menatap Nayong, “Kembalilah, cepat! Tak usah kau pikirkan, oke? Ambil saja bolamu dan buang dress itu. Lagipula niatku ingin membuatmu seperti badut didepan Yixing oppa lenyap sudah. Kau sedikit beruntung Nayong ah.” Li Na tertawa dan menyunggingkan senyum jahil, seketika Nayong meninju lengan Li Na.

“Sial.” Rutuknya. “Baguslah kalau begitu.” Nayong kembali memeluk Li Na singkat dan menghambur kembali ke lapangan.

Fighting!.” Teriak Li Na dibalik punggungnya.

Nayong meninju udara dan melempar flying kiss kearah Li Na.

Pertandingan dimulai. Nayong tetap diposisi forward seperti biasa. Mengandalkan kemampuan three pointnya yang selalu membuat semua orang terkagum-kagum entah lawan maupun kawan. Di quarter kedua dan ketiga, skor tim Nayong sempat tersusul dan membuat pelatihnya berteriak frustasi ditepi lapangan. Nayong berusaha sekuat tenaga dan terus menyuplai teman-temannya umpan dan membuat three point sebanyak mungkin. Hingga akhirnya di quarter terakhir, saat timnya tertinggal tujuh belas point dari tim lawan, ia memanjatkan doa dan menyentuh ponselnya sekilas, menatap Yixing yang tersenyum dilayar ponsel dan membuatnya ikut tersenyum.

God, give me miracle.” Gumamnya.

Nayong kembali menghambur kelapangan dengan wajah Yixing yang tertancap diotaknya, senjata paling ampuh untuk membuatnya terus bersemangat. Dan memang Yixing adalah spiritnya karena terbukti dengan dua puluh tujuh point yang ia cetak dan delapan belas point untuk assist yang ia lontarkan pada kawan timnya di quarter terakhir. Membuat timnya menang walau berjarak point sangat tipis. Timnya menang, hatinya menang, sembilan belas three point ia layangkan di ring lawan.

Nayong tersenyum miring, sebentar lagi ia bisa pamer pada Yixing karena mencetak three point lebih dari sepuluh. Ia pun berlari menuju ruang ganti dan membersihkan tubuhnya dengan cepat, menghilangkan bau badan yang dialiri keringat deras dan menilik jam tangannya sekilas, ia masih punya waktu satu jam sebelum bertemu ditempat yang ia janjikan dengan Yixing. Maka ia melakukan hal yang sedikit berbeda dari Nayong yang biasanya, sedikit berdandan.

Ia menyisir rambutnya dan mengikatnya kebelakang. Merapikan hoodie berwarna merah yang akhirnya terpilih untuk ia pakai untuk menghadiri pertunjukan bersama Yixing.

“Yang penting berwarna merah kan.” Nayong tersenyum masam didepan cermin, seharusnya ia memakai dress cantik yang diberikan oleh teman-temannya dihari ulang tahunnya kemarin. Tapi semuanya hangus.

Nayong mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah, berusaha tak mengingat apa yang terjadi padanya semalam.Mengenyahkan perasaan buruk dan menggantinya menjadi mood yang baik untuk bertemu dengan Yixing. Setelah Nayong merasa dandanannya layak, ia pun keluar gedung dan mulai berjalan menuju lokasi ia berjanji dengan Yixing.

Ia akan menunggu Yixing tepat dipintu masuk rahasia yang ia gunakan bersama Yixing saat ke tempat pertunjukan sebelumnya. Nayong sampai ditempat itu lebih dulu dan disusul lima belas menit kemudian oleh kedatangan Yixing.

Yixing diantar oleh mobil berwarna hitam yang dikemudikan oleh seorang ahjussi. Ia keluar dan membungkuk sebelum mobil itu kembali melaju ke jalanan. Yixing tersenyum kearah Nayong yang seketika membuat darah Nayong berdesir hebat, membuat jantungnya berdetak begitu cepat dan tak sanggup menatap Yixing lama-lama.

Nayong menyapa Yixing dan begitu juga sebaliknya.

zhang-yixing-white-shirt

Baju putih yang dikenakan Yixing begitu cocok dan sangat sederhana. Nayong sempat menyipit bingung mengapa Yixing tak mengenakan atribut penyamarannya dan begitu yakin dengan penampilannya sekarang. Tanpa jaket bertopi, tanpa kaca mata, tanpa masker. Yixing bisa membaca tatapan Nayong dan segera manjawab pertanyaan Nayong yang belum terucap.

“Aku memegang kata-katamu Nayong ah. Bukankah kau bilang semua yang ada dibalik tempat ini adalah rahasia? Semua orang yang melihatku akan mejaga rahasiaku juga kan? Jadi jangan menatapku seperti itu karena aku tak mengenakan penyamar, oke?. Aku tetap membawanya kok.” Yixing menuding backpack yang menempel dipunggungnya dan kembali tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang sangat menawan dan membuat Nayong meleleh ditempat.

O-oke, ba-baiklah oppa, kau bisa memegang kata-kataku.” Nayong tak berniat gagap didepan Yixing sebenarnya, tapi entah kenapa bibirnya sangat kelu untuk menjawab pertanyaan Yixing. Ia sangat malu karena Yixing menertawainya dan itu membuatnya terus menunduk menatap jalan berdebu dibawahnya.

“Ayo pergi.” Yixing berjalan didepan dan membiarkan Nayong mengekor dibelakang.

Nayong terus berjalan menunduk, mengalihkan pandangannya dari Yixing. Ia tak sanggup menatap Yixing yang selalu membuat jantungnya terus menderu. Kali ini menatap sepatu putihnya yang terlihat sangat keren dengan perpaduan garis berwarna merah dan hitam. Ia berharap dengan melihat sepatunya, ia dapat mengendurkan sedikit detak jantung yang terus bergejolak. Tapi karena terlalu fokus menatap kebawah, ia tak sadar jika Yixing yang berjalan tepat didepannya berhenti mendadak.

DUKK!

“Aduh…” Nayong merintih dan menyentuh kepalanya yang menabrak tas dan punggung Yixing sehingga membuat Yixing berbalik kearah Nayong.

“Oh maafkan aku, kau baik-baik saja?.” Yixing menggenggam pergelangan tangan Nayong dan tangannya yang lain menyentuh kepalanya. Nayong membeku ditempat. Sentuhan Yixing ditubuhnya membuat dadanya bergejolak begitu gila dan kehabisan nafas. Yixing mengusap kepala Nayong yang terbentur dengan lembut.

“A-aku ba-baik-baik saja oppa.”

“Sungguh? Maafkan aku karena berhenti mendadak.”

“Bukan salahmu oppa, aku yang salah karena berjalan menunduk dan tak melihatmu berhenti.” Yixing menurunkan tangannya dari kepala Nayong, namun satu tangannya tetap menggenggam pergelangan tangan Nayong.

Geurae.” Yixing menghela nafas pendek, Nayong memberanikan diri menatap Yixing yang kini sedang memandang wilayah sekitar. Kemudian Yixing menatap Nayong. Mata mereka bertemu dan sepersekian detik suasana menjadi hening sebelum akhirnya Yixing melontarkan sebuah pertanyaan.

“Bukankah setelah ini ada banyak kemungkinan kau akan berperan diteater?.”

Nayong menautkan alis, tak mengerti arah pembicaraan yang Yixing mulai. “Sepertinya… iya.” Nayong menjawab pertanyaannya ragu-ragu.

“Baguslah. Jadi biarkan kali ini aku yang memimpin jalan kedalam, agar aku hafal setiap tikungan disini dan aku bisa datang kapan saja tanpa harus kau temani. Bisa jadi aku akan menontonmu suatu saat nanti.” Yixing tersenyum memamerkan giginya yang rapi dan membuat Nayong semakin membeku, mencerna setiap maksud yang diberikan Yixing. “Mengerti?.”

Nayong mengangguk, menjejalkan perkataan Yixing dengan paksa kedalam otaknya, memahami setiap kata yang diucapkan Yixing. Sayang sekali, usahanya untuk terus berkonsentrasi hampir sia-sia karena Yixing menarik tangannya dan menyeretnya masuk kedalam memulai perjalanan.

Nayong membelalakan mata lebar, tak percaya dengan yang terjadi padanya saat ini. Yixing menggandeng tangannya dan membimbingnya menyusuri jalan.

Dan oh, tangan Nayong begitu dingin karena terlalu nervous, dan itu sangat memalukan. Satu tangan Nayong yang bebas, menyentuh pipi yang semakin memanas dan didalam hati ia berteriak menang, bukan hanya sekedar khayalan bisa bergandengan tangan dengan Yixing, sekarang semuanya nyata. Nayong tak henti-hentinya tersenyum dan memberanikan diri membalas genggaman tangan Yixing, membuatnya saling bertautan.

Yixing dan Nayong mulai melewati tikungan-tikungan yang membuat Yixing bingung. Nayong sempat memberitahunya bahwa jalannya salah, namun Yixing kemudian menyuruhnya diam dan jangan mengeluarkan petunjuk apapun. Yixing ingin menemukan jalannya sendiri, tapi toh akhirnya Nayong memberitahu Yixing jalannya salah setelah mereka tersasar cukup jauh dipersimpangan kedua.

Hingga akhirnya mereka sampai dan mendapati Jack masih duduk seperti biasa dan ditempat yang sama, yang sedikit berbeda adalah pakaian yang dikenakannya saat ini, yaitu pakaian ala prajurit kerajaan Inggris zaman kuno dan itu membuat Nayong tertawa terbahak-bahak. Sampai akhirnya Jack menatap Nayong kesal dan mengusirnya pergi dari hadapannya.

“Kau yang pilih tempat duduk.” Yixing memberikan instruksi pada Nayong sesampainya didalam ruangan. Tiga perempat ruangan telah terisi dan Nayong memilih tempat duduk dibagian tengah yang masih kosong.

Yixing mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. “Mengapa semua yang disini menggunakan warna baju yang sama?.”

Dress Code untuk pertunjukan hari ini adalah warna merah, merah muda dan putih. Spesial Valentine, ingat? Warna-warna ini melambangkan cinta dan kesucian. Maka dari itu aku meminta oppa untuk mengenakan baju putih.” Jelas Nayong.

Yixing menganggukan kepala dan kembali melontarkan pertanyaan. “Kenapa semua perempuan mengenakan dress dan kau tidak, Nayong ah?.”

Ini yang sebenarnya Nayong hindari, ia sempat risih saat melihat pengunjung yang datang hampir semuanya mengenakan dress sedangkan ia sendiri mengenakan hoodie, perbedaan yang sangat mencolok.

“Eh.. tak apa, aku hanya kurang suka mengenakan dress.” Nayong tersenyum masam.

“Mungkin lain kali kau harus mencobanya.” Nayong terperanjat. Ia ingin menjawab pernyataan Yixing dan menanyakan apa maksud Yixing, namun mulutnya terbungkam saat lampu-lampu mulai dimatikan dan musik mulai didendangkan, pertanda pertunjukan akan segera dimulai.

Nayong dan Yixing kemudian menonton pertunjukan dengan khidmat. Menikmati segala peran dan karakter yang ditunjukan oleh para pemain diatas panggung.

Setelah tepuk tangan riuh berkumandang diseluruh ruangan, perjalanan Perdita dan Florizel pun berakhir, semua penonton beranjak, berdiri, menghampiri penonton atau langsung menuju pintu keluar.

“Aku akan menemui sunbae-nim terlebih dulu.” Nayong berbisik ditelinga Yixing, suaranya tertutup keriuhan penonton dan mengharuskannya berbicara dalam jarak yang dekat.

“Aku akan ikut.”

Nayong mengangguk dan keluar dari bangku-bangku. Yixing dan Nayong sempat terpisah karena penonton yang berjalan dari segala arah, sehingga membuat Yixing kembali menggenggam tangan Nayong dan berjalan bersama agar mereka berdekatan.

Nayong menarik Yixing dan menghampiri sunbaenimnya.

“Selamat sunbaenim! Barusan kau sangat keren!.” Nayong mengangkat ibu jarinya, langsung memuji tanpa basa-basi.

“Terima kasih Nayong ah. Bagaimana pertandinganmu tadi? Dan dimana dressmu?.” Matanya menyipit curiga melihat Nayong yang datang mengenakan hoodie.

“Tadi kami menang, walau cukup sulit. Dan maafkan aku sunbaenim, tapi ceritanya panjang. Maafkan aku karena tak bisa memakai dressnya.”

“Sudahlah, tak apa. Kau sudah datang saja aku sangat berterima kasih.” Pandangannya jatuh pada tangan Yixing dan Nayong yang bergandengan. “Good Job,” ucapnya. Nayong tak bisa berkata-kata, ia hanya tersenyum malu. Sunbaenimnya kemudian berpaling saat ada yang menepuk bahunya dan memberikan isyarat untuk menunggu sebentar pada Nayong dan Yixing.

Yixing menggoyangkan tangannya dan membuat Nayong berpaling berhadapan dengannya. “Kau ada pertandingan hari ini? Kenapa kau tak memberitahuku? Benar kan kataku, kau harusnya mengenakan dressmu Nayong ah.” Yixing menundukkan kepalanya sedikit mendekati kepala Nayong, ruangan sangat bising dan hanya dengan cara itu mereka bisa bicara tanpa harus berteriak.

“Iya aku ada pertandingan dan maaf karena tak memberitahu oppa, lagipula untuk apa? Dan tentang dress, ceritanya panjang, jadi aku tak bisa memakainya.” Nayong menatap Yixing bingung.

“Hari ini aku tak ada jadwal apapun, harusnya kau memberitahuku kau ada pertandingan, aku kan ingin menonton.” Yixing memainkan bibirnya dan membuat Nayong merasa sedikit bersalah.

“Hmm.. baiklah lain kali aku akan memberitahu oppa jika aku ada pertandingan.”

“Yep! Kau harus melakukannya.” Yixing tersenyum dan mengacak poni Nayong sekilas, membuat Nayong ingin berteriak saking bahagianya. Ia kemudian menyubit lirih lengan Yixing dan membuat Yixing merintih kesakitan. Tangan mereka yang lain, masih saling mengeratkan tautan dan keduanya tertawa bersama.

Sesaat kemudian, tiba-tiba sunbaenim memanggil Nayong disela-sela tawa mereka yang berkumandang.

“Nayong ah, kemarilah kukenalkan kau pada seseorang.” Nayong menoleh kearah sunbaenimnya, menarik Yixing dan kembali berhadapan dengannya.

Disampingnya berdiri seorang perempuan tinggi dan sangat cantik. Mengenakan dress berwarna merah selutut dengan heels yang tidak terlalu tinggi, rambut tergerai indah dan make up yang sederhana. Nayong terkagum-kagum melihatnya.

Mata mereka bertemu, Nayong tersenyum. Wajahnya terlihat ramah dan membalas senyuman Nayong, matanya kemudian beralih menatap orang yang berdiri disamping Nayong. Ia membelalakan mata dan memandangnya dengan raut wajah terkejut, tatapannya turun kebawah, dimana Nayong dan Yixing bergandengan. Secara perlahan, setelah pandangan perempuan itu terpaku ditangannya dan Yixing, Nayong merasakan genggaman tangan Yixing yang melepas dan Nayong menatapnya bingung. Nayong memandang Yixing dan senyum yang sebelumnya terpasang diwajah itu sekarang telah hilang, diganti dengan tatapan Yixing yang melebar dan terkejut.

“Yixing…” ucap perempuan itu.

“Julies…”

Ucapan Yixing membuat Nayong terperanjat, ia menatap Yixing dan perempuan itu bergantian.

“Kalian saling kenal?.” gumamnya lirih.

Who is she?

Oke, oke. Ini memang panjaaaang banget dan banyak sekali narasi 😀 aku masih memunculkan beberapa tokoh dan permulaan konflik panjang, apapun yang readers katakan, akan selalu aku terima 😀 tinggalkan review kalian ne? :3 terima kasih untuk komen readers di Unreason Point, terima kasih untuk semuanya 😀 yang baru baca Side Story-nya Lay-Julie dan baca Red Dress silahkan berpusing-pusing ria kekeke XD ~

bboing~

Iklan

16 thoughts on “Puzzle Tub: Red Dress

  1. Mella….itu kenapa begitu?
    aku suka karakter nayong yang jadi point guard di teamnya. keren!!
    cetak 3point lebih dari 10 kali..woaa 😀
    jangan bilang next chap Nayong mau galau gara-gara Lay-jules 😦
    ayyooo ayoo cepat dilanjut :3
    semangat melaa^^

    • kenapa ya kak kok begitu, emang adanya begitu kak hihihi 😀
      ehehe, makasih kak udah suka sama Nayong yang songong itu *eh XD
      dia spesialis, jadi bisanya cuma gitu doang, jangan tanya dia bisa lay-up apa nggak ya kak, jangan pokoknya 😀
      next chapternya…. masih disembunyikan kak 😀
      makasih ya kak, semangiiiit ^^99~

  2. sebenarnya ada yang mau ku tanyakan. aku ini gatau apa-apa soal basket soalnya .. 3point itu maksudhnya apaan ya ?

    terus aku juga mau bilang “Selamat bertambah tua Nayong” #kaborr .
    Sepertinya Joo sama Nayong sehati : tidak punya dress buat kencan bwahahahaha…
    Dan ada tercium bau bau quadrangle love …. triangle love aja rumit lah ini seginya ada empat u.u

    update-annya ditunggu #tebarcinta

    • ahh ya, aku nggak nyantumin keterangan disana ya, aku kira semuanya udah tau apa itu three point kekeke
      three point shoot itu lemparan dari luar garis three point area kedalam ring, karena nilainya tiga jadi namanya three point, jangan bingung ya nam :p

      cie Nayong dapet ucapan nih, ngambek dianya hahaha nggak sadar diri udah tua sih XD *dijitak yonggu*
      tapi Joo masih waras kan? kekeke

      quadrangle love… astagaaa mendadak aku galau >,<
      sip nam, sankyu ya :3

      • ah #cengo masih bingung.. ah three pointnya gausah dibahas.. biar digimanain aku ga ngerti basket :3
        Alhamdulillah Joonya sedikit ga waras gara2 banyak yang kombek bulan ini ahahahaa ( gaadahubungannya sih)..
        Aku juga galau gara2 Sungjae. pokoknya next part ditunggu a.s.a.p :3

      • wkwkwk dasar namu :3
        sedikit ga waras dan diikuti ucapan syukur? aku pikir kamu yg nggak waras nam XD lololol
        triangle love juga kan, muahahah
        oke nam, sabaran ya.. nunggu story side julay juga 😀

  3. ini di series selanjutnya nayong bakalan galau gara2 si jul? ‘-‘
    dan aku kaget kenapa bisa jul ada di acara itu coba. padahal kan nayong sm yixing perlu berduaan lebih banyak. jul jul -.- ahahaha jul nayong saranghae ❤
    semangat ya mella 🙂

    • kita liat aja nanti ya kak 😀
      jule pengen nimbrung juga kak, mau bikin nayong galau soalnya kekeke
      nayong: nado saranghae kak muti :3
      sip semangat kak! makasih sudah readkomen muehehe

  4. Ping balik: Puzzle Tub: Invisible | EXO Girl's Daily

  5. Ping balik: Puzzle Tub: Speak Now | EXO Girl's Daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s