Creamy Krim (Side Story Julie-Lay) : the Girl behind the Camera

TGBTC

Title : the Girl behind the Camera
Author : Minchan
Genre : Friendship, Romance
Length : 5000 words +
Main Cast: Lay EXO and Juliet Kim (OC)

Thanks to Kak Mella yang mengijinkan Julie mencuri Lay untuk beberapa saat. Oya ide skinship ini berasal dari Kamel juga. Di sini saya akan menjelaskan bagaimana hubungan antara Juliet dan Lay sebenarnya. Maaf banget karena ini diselesaikan dalam waktu yang lama. Plus dalam mood jelek saat bikin poster (serius itu jelek banget sebel -_-) Semoga nggak mengecewakan ya, guys! XOXO~~

***

Playlist saat nulis: Trap piano version, Love Love Love – Roy Kim, Bom Bom Bom – Roy Kim

the Girl behind the Camera

It was a summer trip in 2009.

Juliet Kim, seorang gadis 17 tahun dengan rambut sepunggung. Dia merutuki musim panas tahun ini, padahal ini adalah musim panas yang dinantinya setelah hampir 2 tahun mengalami masa tersulit di hidupnya. Tidak akan ada yang percaya kalau gadis 17 tahun itu sudah menamatkan sekolahnya; tidak ada yang tahu kalau selama 2 tahun Juliet harus melakukan yoga, mengonsumsi obat penenang, dan pergi meditasi. Juliet bergidik membayangkan bagaimana mental disorder itu merubah kehidupannya.

“Dad, I can’t stay here,” protes Juliet saat dia menarik kopernya keluar bandara. Kamera bertengger di lehernya.

Ayahnya tidak memperdulikannya.

Tentu saja Juliet suka liburan, dia selalu pergi berlibur setiap kali ada kesempatan. Sekedar mengolahragakan kameranya dan matanya.  Tapi membayangkan dirinya terjebak di suatu negara yang belum pernah dia jajah sekalipun bukan hal yang menyenangkan. Juliet tidak bisa berbahasa Mandarin, itu masalahnya. Sedetik pun seumur hidupnya dia tidak pernah menyempatkan diri untuk belajar bahasa Mandarin. Juliet merasakan kepalanya berkedut disambut matahari negara China.

Juliet tidak begitu suka keramaian dan China terlalu ramai untuknya. Orang di mana-mana, mobil lalu-lalang di jalan, Juliet tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Nona Kim, jangan terlalu banyak protes,” peringat ayahnya.

Ayahnya sedang mengadakan perjalanan bisnis ke China dan ibunya harus ke Perancis untuk sebuah workshop. Juliet tidak memilih, dia dipaksa untuk ikut bersama ayahnya. Dia lebih memilih untuk tinggal sendirian di rumah sepanjang musim panas ketimbang pergi ke tempat asing, yang dia tidak mengerti bahasanya, yang di sana ia tidak mengenal siapa pun.

“Don’t complain too much, Miss.”

Juliet mendorong kopernya lebih cepat menuju bus yang menunggu mereka.

Tidak butuh banyak hal membuat Juliet ingin meledak. Selama perjalanan menuju tempatnya tinggal, Juliet tidak menemukan hal spesial untuk dipotret. Dia tidak bisa membayangkan dirinya terjebak di sebuah kamar sempit. Dan rasanya dia ingin mencekik ayahnya saat itu juga.

“Dad, I want a room for myself. I don’t share room with anyone.”

“Mademoiselle Julia, you’ll stay in my friend apartment. I’ll stay in hotel with the team. You are allowed to go anywhere.”

“WHAT?”

Belum sempat Julia memrotes ayahnya, dia sudah ditarik turun.

Juliet berdiri di samping kopernya bersama ayahnya. Di depan sebuah pagar kecil yang menuju sebuah jalan. Ayahnya membuka pagar itu, besinya berderit. Juliet kembali menghela nafas, semoga bukan bencana yang lain. Mereka menyusuri jalan itu, di kirinya terdapat dinding yang ditumbuhi tanaman merambat di sebelah kanannnya terdapat pot-pot tanaman yang disusun berundak. Juliet bisa mengenali bunga matahari, mawar, anggrek (satu-satunya yang menempel di dinding) dan entah yang lainnya.

Sebuah rumah menyambut mereka setelah berbelok di ujung jalan. Rumah itu dicat putih, terdiri dari dua lantai dan yang lebih penting rumah itu seperti tersembunyi. Dia tidak mencolok tapi jelas berbeda dari deretan rumah-rumah yang lain. Rumah itu mengingatkannya kepada Perancis. Sebuah rumah dengan air mancur di depannya, tangga dan teras. Kursi yang mengelilingi meja bulat pendek di teras. Juliet tidak menyesal ditinggalkan di sini sendirian.

“Julie, I need to go. You can call me anytime. This is the house of my friend Professor Tu. He allowed you to stay here. Just have fun here and please don’t do something reckless.”

“All right, Dad.”

“Once again, Julie. You can use English. Mostly they can speak English. We can still have dinner together.”

Julie memeluk ayahnya sebelum menarik kopernya menuju rumah itu. Yang benar saja dia tetap tidak akan keluar, di sini jauh lebih baik. Seperti mini Perancis.

***

Juliet menyukai rumah itu. Selain sebuah kamar yang dikunci –Juliet yakin itu kamar sang Profesor- tidak ada yang dikunci. Dia menemukan sebuah surga baru, deretan buku-buku literatur dalam rak buku sang Profesor. Juliet lebih bersemangat saat mengetahui kebanyakan buku tersebut justru berbahasa Inggris, Perancis, beberapa Itali (walaupun Juliet tidak bisa berbahasa Itali) dan sisanya tentu saja Mandarin.

Sudah tiga hari Juliet melakukan aktifitas yang sama, bangun pagi, membuka jendela yang menghadap ke sungai, mandi pagi kemudian menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri: coklat batangan, teh dalam cangkir indah, dan buku Robert Allan Poe. Di siang hari dia akan membaca buku sambil membuka jendela kamarnya yang menghadap ke taman lalu turun makan siang: sereal. Menghabiskan sore harinya dengan berkebun sambil menunggu ayahnya menjemput untuk makan malam.Walaupun aktifitas itu membuatnya nyaman, Juliet adalah tipe yang mudah bosan. Jadi hari ini dia merapikan diri dan meraih kameranya.

Semoga dia tidak tersesat hari ini.

Juliet tidak tahu di mana dia berada sekarang, di sebuah stasiun kereta yang cukup tua dan padat. Uangnya lebih dari cukup untuk berkeliling China —thanks to exchange rate. Juliet tidak berniat bertanya baik kepada orang-orang maupun kepada ayahnya. Selama ada kamera bersamanya, dia akan baik-baik saja. Dia tahu perjalanannya akan cukup panjang maka dari itu dia membawa baterai cadangan, charger, dan memori card. Kamera adalah sahabatnya, kamera adalah kekasihnya, dia sangat amat menyukai kamera.

Dia tahu itu tidak baik untuknya, berkeliaran sendiri di negara asing. Tapi dia terlihat begitu membaur –kecuali cara berpakaiannya- dengan masyarakat sehingga tidak banyak yang curiga kalau dia turis yang tersesat. Juliet selalu dalam pengawasan kedua orangtuanya dan kali ini dia bebas melakukan apa pun yang dia suka, mengambil resiko contohnya. Juliet menepis pikirannya untuk kabur, dia hanya perlu sejenak meninggalkan dirinya di belakang dan memulai independensinya.

Bohong kalau Juliet tidak bisa menemukan obyek menarik untuk difoto, itu kemarin hanya emosinya sesaat. Buktinya dia sudah mengumpulkan ratusan foto dalam sekali jalan. Juliet memasukkan kameranya ke dalam tas dan memeluknya rapat, mengeratkan jaketnya untuk menutupi barang berharganya. Julie merebahkan tubuhnya di kursi taman, tepat di bawah pohon, menurunkan topinya dan memejamkan mata. Rasanya kakinya seperti akan copot.

***

Zhang Yixing, remaja berusia 18 tahun dan sangat mencintai musik. Dia sudah mendedikasikan seluruh hidupnya menjadi musisi.

Kesempatan liburan adalah hal yang sangat langka semenjak ia menjadi trainee di Korea Selatan, jauh dari keluarga, teman dan negaranya, menjadi warga asing. Jadi ketika ada waktu pulang dia akan menghabiskan seluruh waktunya mengingat-ingat masa sekolahnya.

Itu hari Sabtu di mana kedua orang tua Yixing akan sangat sibuk sehingga dia harus berdiam sendirian di dalam rumah. Yixing memikirkan hal-hal yang pasti akan sulit dilakukannya begitu menjadi artis nanti. Naik kereta. Kereta yang panas, penuh dan sesak. Dia yakin akan merindukan itu nanti. Di mana orang-orang akan bertelefon tanpa peduli dengan penumpang lain, di mana mereka akan berebut masuk demi sebuah kursi, di mana mereka akan mengumpulkan dosa di dada akibat terlalu banyak protes; bau badan misalnya.

Tas punggung melekat sempurna padanya, dengan headset di leher, Yixing jauh-jauh-jauh lebih keren dibanding saat dia baru saja tamat sekolah. Yixing tidak pernah menyadari betapa luar biasanya dia selain soal bakat yang dimilikinya. Senyum manis, mata indah, rambut hitam berantakan –terimakasih kepada stylist di SM-, dan jangan lupakan cara bicaranya yang lucu. Yixing hanya remaja lugu yang bahagia dengan hidupnya.

Kereta itu lebih lenggang dari perkiraannya. Beberapa orang tertidur di kursi, sebagian kursi masih kosong tapi Yixing memilih untuk berdiri, membuatnya lebih puas menatap ke jendela. Pria itu tidak peduli ke mana kereta ini membawanya, dia butuh perjalanannya bukan tujuannya. Yixing memutuskan untuk berpindah gerbong ketika orang-orang mulai mendengkur dan Yixing takut membangunkan mereka. Gerbong berikutnya tidak jauh berbeda kecuali, yah kecuali seorang wanita yang sama-sama memilih untuk berdiri. Yixing mencoba mengabaikan wanita itu…. tapi gagal.

Setiap kali Yixing menoleh, wanita itu masih sibuk di belakang kamera yang menutup wajahnya. Selain tulang pipi dan rambutnya, Yixing tidak begitu jelas. Tapi jelas, Yixing tidak bisa mengabaikan wanita itu.

Bahkan ketika wanita itu turun, Yixing memutuskan untuk mengikutinya tanpa berfikir. Lagi, dia hanya melihat gambaran seorang wanita di balik kamera. Yixing memukul kepalanya. Dia mencoba kembali naik ke kereta, tapi terlambat. Setelah mengambil nafas beberapa kali, Yixing meyakini bahwa mungkin nasibnya memang begitu jadi dia melanjutkan saja untuk sekedar mengekor wanita berkamera.

Tidak pernah sekalipun dalam 18 tahun hidupnya, Yixing tertarik dalam fotografi ataupun kamera. Tapi dia jelas menganggap wanita dengan kamera itu menarik, bagaimana dia asik dengan kameranya, bagaimana dia menahan nafas saat mengambil foto, bagaimana wanita itu mengumpat kesal begitu melihat hasilnya. Jelas wanita itu obyek foto yang lebih menarik ketimbang obyek foto yang diambil wanita itu sendiri –itu menurut Yixing. Dia mengagumi wanita itu, tak banyak wanita yang mampu bertahan tidak berbicara selama itu. Membeli tiket dengan menyodorkan uang, membeli minum dengan menatap si penjual, atau bagaimana wanita itu tidak merasa canggung saat berdiri dengan kamera di dalam gerbong kereta. Seakan-akan dia hidup untuk dirinya sendiri, seakan-akan dia hanya ingin bersenang-senang.

Mulut Yixing hampir berteriak saat dia terlambat turun, untung saja wanita tadi tidak menghilang dari pandangannya. Creep.

Yixing sempat beradu argumen dengan dirinya sendiri saat akhirnya dia melihat rupa wanita itu. Si gadis yang tertidur di kursi taman, dengan topi menutupi separuh wajahnya. Kalau saja ada alasan baginya untuk menegur sapa si wanita dan sekedar menanyakan dari mana asalnya, apakah ia tersesat atau apakah dia butuh bantuan mungkin Yixing akan melakukannya. Zhang Yixing hanya seorang remaja pemalu yang kemampuannya hanya memainkan gitar dan bermain piano. Oh ya, dan bernyanyi. Dia tidak pandai berbicara.

Sudah satu jam, Yixing memandangi orang yang tidak dikenalnya tidur. Bisakah dia berhenti menghitung detik yang dibutuhkan untuk menghirup nafas sampai menghela nafas? Bisakah dia menghentikan tangannya yang bergerak seolah-olah mengalihkan rambut dari wajahnya, rambut yang tertiup angin khas awal musim panas. Bisakah dia berhenti mendengus saat orang-orang yang lewat menggangu pemandangannya? Yixing menggeleng menjawab pertanyaanya sendiri.

Gadis itu menggeliat pelan di kursinya, mengucek matanya beberapa kali sebelum menegakkan tubuh. Dia melihat sekeliling sebelum akhirnya berdiri dan melangkahkan kakinya. Tentu saja ada Tuan Zhang yang mengikuti tanpa disadari.

Itu adalah Starbucks China. Di mana pelayanannya menggunakan bahasa China. Yixing bisa mendengar gadis itu mengatakan ‘English please’.

Mooncake dan Frappucino di siang hari adalah perpaduan yang aneh bagi Yixing. Dia tidak begitu suka kopi, dia hanya menikmati obrolannya di warung kopi.

Gadis itu berjalan tergesa-gesa menuju sisa kursi yang kosong. Sebelum akhirnya seorang wanita mendahuluinya dan dia menatap kesal. Wanita itu mengomel dalam bahasa Mandarin yang Yixing yakin bahwa si gadis sama sekali tidak paham. Yixing sudah mendapatkan tempat duduknya, di dekat jendela dengan sebuah kursi kosong di depannya.

Wanita itu menatap sekeliling, bergumam dan –mungkin- mengumpat. Yixing mendorong adrenalin nya untuk keluar saat itu. Untung saja, saat itu tubuhnya mau bekerja sama.

Yixing mengangkat tubuhnya dari kursi, berdiri dan mengangkat tangan. Gadis itu mengernyit, Yixing menunjuk kursi kosong di depannya, gadis itu mengangguk-angguk tanda mengerti. Langkah ringan terdengar di telinga Yixing saat gadis itu menghampirinya. Yixing kembali duduk saat gadis itu sudah sampai di depannya.

“Thanks,” ucap si gadis sambil menarik kursi.

“Can you speak English?” tanyanya lagi.

“A little.”

“Good. I can’t speak in China. At all.” Gadis itu menyesap kopinya. “You wanna try?” tanyanya lagi sambil menyodorkan kotak mooncake pada Yixing. Yixing mengambil satu.

“I’m Juliet by the way.” Juliet memperkenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangan. Yixing mengerjap.

“Who are you?” tanya Juliet karena Yixing tidak segera menjawab.

“I-I am Zha-Zhang Yixing.”

“Yixing? It’s sound new for my ear.”

Juliet kemudian menceritakan bagaimana dia bisa terdampar di sana. Yixing hanya menatapnya, kagum. Juliet harus menanyai Yixing sebelum pria itu berbicara sampai Juliet mengatakan bahwa Yixing sangat lamban, seperti siput. Yixing tidak marah disebut demikian dia sadar dia selalu aneh ketika berbicara dan terlambat dalam merespon sementara wanita di depannya ini sangat bersemangat, seperti penuh energi dan hampir meledak? Entahlah. Wanita di depannya ini berbicara dalam bahasa Inggris lebih cepat daripada guru bahasa Inggris-nya. Itu menyulitkan, jelas saja. Tapi lagi-lagi, terimakasih kepada SM yang membuatnya harus belajar bahasa Inggris.

Juliet mengernyit saat menatap Yixing lebih jelas. Pria itu tidak banyak bicara. Tidak seperti orang-orang China yang selalu bicara dengan suara keras hingga telinganya terasa sakit. Yixing berhati-hati dalam berbicara, tersenyum tulus dan yang lebih baik adalah pria itu menawarkan tempat duduk buatnya.

“Di mana kau akan tinggal?” tanya Yixing. Juliet meyakinkan dirinya bahwa Yixing baru saja bertanya padanya.

“K-kau… menanyai… ku?” Juliet balas bertanya. Yixing membalasnya dengan sebuah tatapan bingung.

“Abaikan saja pertanyaan tadi. Aku tidak tahu alamatnya yang jelas di suatu tempat di Changsha atau Cheongsha atau entahlah.”

“Changsha,” Yixing mengoreksi.

“Di dekat sungai.” Juliet menambahkan.

“Aku juga dari Changsha,” ucap Yixing. Juliet membulatkan matanya tidak percaya.

“Oh benarkah? Kau mau membantuku pulang? Aku akan menraktirmu sebagai balasannya.”

Yixing teratwa pelan. Juliet mengeratkan gigi-giginya karena dia baru saja bertingkah konyol, terlalu bersemangat. Yixing mungkin penyelamat baginya. Atau mungkin itu terlalu berlebihan? Sepertinya tidak, Yixing menyelamatkannya dari tersasar ke tempat yang lebih jauh dan mendapatkan omelan dari ayahnya. Oh ya, dan penyesalan karena menyulitkan diri sendiri.

Juliet mengambil mooncake nya yang lain sambil menatap pria yang ada di depannya. Mengapa dia sangat indah?

***

Hari itu hari ketujuh sejak pertemuan Yixing dan Juliet.

Setelah Yixing mengantarkan Juliet kembali ke rumah Professor Tu, pertemanan mereka terus berlanjut. Yixing akan datang di pagi hari kemudian menemani Juliet menonton film atau dia akan memainkan piano di ruang baca sang Professor sementara Juliet membaca buku. Yixing akan pulang di sore hari dengan sepeda merahnya.

Yixing juga suka mengajari Juliet bermain gitar dan Juliet tidak bisa berhenti memuji pria itu. Bakat seninya sungguh luar biasa. Juliet seharusnya menahan dirinya untuk terus-menerus berhenti terpesona dengan Tuan Zhang tapi bagaimanapun juga Zhang Yixing sangat luar biasa. Untuk kali pertama dalam hidupnya, Juliet membiarkan Yixing melewati dinding pertahanan yang dibangunnya.

Juliet pernah jatuh cinta di tahun pertama SMA-nya tapi itu tidak berlangsung lama. British man yang disukainya bukan seseorang yang bisa membuatnya nyaman. Jadi perasaannya terhadap Yixing ini sangat aneh. Dia tidak merasakan debar-debar saat jatuh cinta namun kehadiran Yixing selalu membuatnya lebih bersemangat. Dia tidak merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya tapi dia juga merasa setiap kali ada Yixing, dia tidak bisa menatap yang lain.

“Kapan kau kembali ke London?” tanya Yixing. Pria itu sudah lebih sering berbicara. Dia tidak lagi terlalu berhati-hati saat akan berkata.

Juliet menggeliat pelan di sofa. Menurunkan buku South of the Border, West of the Sun dari depan mukanya. Juliet mencoba mencerna pertanyaan Yixing yang baru saja dilontarkan tapi dia tidak mau menjawab, dia tidak ingin berpisah dengan Yixing.

“Aku mungkin akan kuliah di Korea,” ucap Juliet. Mencoba menjawab pertanyaannya sendiri apakah ia masih bisa terus bersama dengan Yixing.

“Julie, aku tidak menanyaimu soal itu. Jangan mengubah topik,” Yixing berkeras.

Juliet tidak menggubris perkataan Yixing barusan, dia malah kembali menekuni novel yang dibacanya. Yixing memutar tubunya ke arah sofa setelah berkutat dengan tuts piano cukup lama. Dia tidak tahu apa yang membuatnya berubah. Dia yang dulu hanya seorang pria yang tersenyum malu-malu, berhati-hati dalam bicara dan cukup sensitif namun bersama Juliet dia sering tidak peduli dengan nada sinis dalam kalimat Juliet atau pandangan enyah-sajalah yang sering dilemparkan gadis itu. Yixing tahu benar, sebanyak apa pun Juliet melemparkan tatapan benci itu, dia sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenyahkan Yixing.

Sebenarnya itu bukan kali pertaama Yixing menanyakan berapa lama Julie akan tinggal di China. Dia sudah melakukannya beberapa kali namun reaksinya tidak jauh beda. Satu kali, Yixing membawakan Kokoro dan The Dream of the Red Chamber sebagai sogokan agar Juliet mau bicara. Lagi, yang dihasilkan hanya ‘terimakasih, soal itu sepertinya masih lama’. Yixing harus puas dengan sikap defensif Juliet. Zhang Yixing tidak tahu di mana sulitnya mengatakan waktu yang tersisa bagi mereka untuk sekedar bermalas-malasan di ruang tengah Professor Tu.Yixing hanya tidak mau membiarkan dirinya terlena karena terlalu lama melakukan kegiatan yang nyaman berulang-ulang. Dia takut tidak meninggalkan kesan mendalam terhadap Juliet.

Yixing tidak pernah tahu bagaimana cara berfikir Juliet. Pernah sekali gadis itu menghabiskan malam menonton kartun dengan popcorn dan soda di pangkuannya sambil terbahak-bahak; pernah lagi Yixing menemukannya di pagi hari sedang berkebun sambil menceritakan mitologi Yunani; ada juga kalanya ketika Yixing terlambat datang, kamar Juliet penuh dengan foto hasil jepretannya berserakan dan menemukan gadis itu berderai air mata sambil membaca sebuah cerita pendek dengan judul On seeing the 100% perfect girl on one beautiful April morning. Juliet sering melakukan hal-hal secara spontan seperti memaksa ayahnya membelikan gitar setelah mereka pulang makan malam bersama –Yixing juga ikut- karena ingin belajar bermain gitar dari Yixing atau juga menyembunyikan sepeda merah milik pria itu di samping rumah dengan alasan agar Yixing menemaninya.

Juliet meraih kopi di meja sebelahnya. Tidak menghilangkan kesukaan berlebihnya terhadap minuman yang satu  itu.

“Di mana kau tinggal? Seoul? Universitas apa yang dekat dengan flatmu?” tanya Juliet.

“Eh?”

“Kau serius soal kuliah di Korea?” Yixing bertanya lagi. Merasa aneh dengan pertanyaan Juliet.

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” tanya Juliet sarkatis.

“Seoul National University itu di pusat kota. Universitas nya cukup bisa disandingkan dengan Universitas di Inggris.”

Juliet meletakkan bukunya. Dia tadi awalnya bergurau soal akan kuliah di Korea tapi membayangkan kembali ke London dan kehilangan Zhang Yixing, dia sepertinya belum sanggup.

“Aku akan meminta Dad untuk mendaftarkanku di sana.”

Yixing berdiri dari piano putih milik Professor Tu. Perasaan kosong itu perlahan-lahan merayap pergi. Dia senang Juliet akan ke Korea; itu artinya dia masih akan menemui gadis itu sesekali di masa sibuknya. Yixing tersenyum penuh kemenangan, itu bukan hal yang luar biasa namun saat dia memandang Juliet, Yixing merasa dia baru saja mendapatkan jackpot.

***

Tidak ada pembicaraan lagi tentang kapan mereka akan berpisah. Yixing sepenuhnya menyerah sekaligus mengalah, dia toh tidak akan mendapatkan jawaban memuaskan sekalipun dia memaksa. Juliet sepertinya juga menyadari bahwa terus-menerus mengurung dirinya dengan Yixing akan membuat pembicaraan itu muncul jadi dia mulai mengajak Yixing diskusi tentang perjalanannya di Changsha, ayahnya sudah menyetujui idenya. Tentu saja selama Julie bersama Yixing.

Julie sebenarnya lebih suka membiarkan dirinya melakukan semuanya secara spontan. Seementara Yixing lebih suka jika mereka pergi dengan tujuan. Jadi debat mereka berdua baru berkahir di malam hari, tepat saat ayah Julie menelepon tidak bisa makan malam dengan putri kesayangannya. Yixing akhirnya memutuskan bahwa mereka akan makan malam di Huangxing Road Walking Street. Banyak pilihan restoran berjajar di sana lagipula fastfood juga banyak jadi itu tidak akan masalah buat Julie.

Yixing masih tidak mengerti mengapa Juliet tidak pernah lupa membawa kameranya setiap kali keluar rumah. Mereka hanya akan berjalan-jalan dan makan namun gadis itu malah membawa kamera seolah-olah mereka akan pergi wisata. Pertanyaan Yixing akhirnya terjawab saat mereka mulai menyusuri jalanan Changsha pada malam hari. Juliet membiarkan dirinya hilang beberapa kali dari Yixing, selalu saja asik di belakang kameranya. Yixing mengerutkan kening, gadis itu sangat luar biasa dengan kamera seakan itu adalah bagian darinya. Saat Juliet memutar lensa beberapa kali, saat Juliet mengernyitkan mata, saat Juliet mengatur sesuatu di kameranya.

Walau Yixing tahu sebenarnya Juliet tidak terlalu suka tempat seperti ini, terlalu ramai, terlalu banyak orang, terlalu banyak teriakan, Juliet tetap berusaha menikmatinya. Itu membuat Yixing lega. Walaupun Juliet kadang sangat menyebalkan –terutama saat dia mulai melontarkan sarkasme- Yixing tahu wanita itu seperti bangsawan. Dia tidak tersenyum menggoda pada pria, dia defensif, kuat dan independen. Acara malam itu diakhiri dengan Teater di Tian Han setelah berjalan menyusuri sungai Xiangjiang. Juliet membiarkan tangannya digenggam Yixing dan sesekali Yixing menyelipkan tangannya di pingging Juliet. Seharusnya Juliet menolak, tapi entah kenapa dia suka berada di dekat Yixing walau pria itu terus protes karena dia asik dengan kamera.

Juliet masih mencoba tidak peduli tentang bagaimana perasaannya kepada Zhang Yixing, apakah dia memang hanya ingin berteman atau mengharapkan sesuatu yang lebih? Juliet tahu salah baginya untuk membiarkan Yixing terus-menerus menempel padanya selama dia di China, Yixing satu-satunya yang dimilikinya saat ini. Pikiran itu terus berkecamuk di dalam otaknya bahkan setelah dia menyusuri Hunan Forest. Yixing akhirnya mencoba memotret, sedikit dengan pemaksaan. Namun itu membuat Julie senang karena Yixing tahu bagaimana nikmatnya berada di balik lensa panjang. Yixing pemain piano dan gitar, dia tidak berbakat memutar lensa dan mencari cahaya di bawah pohon sakura yang rindang atau mengatur bagaimana tidak membuat kupu-kupu terkejut saat dia memotret dalam jarak dekat.

Yixing tidak merasa terpaksa sama sekali. Dia hampir menghabiskan seluruh liburannya dengan Juliet. Sangat berbeda dengan rencana awalnya. Ada hal yang membuatnya puas setiap kali mereka selesai berkeliling dan Juliet mengucapkan “Xie-xie” –satu-satunya kata yang berhasil diucapkan Juliet.

“Ah!” keluh Juliet.

“Ada apa?” tanya Yixing.

“Aku capek.”

“Kau mau istirahat?” tanya Yixing. Dia menoleh sekeliling kemudian menyodorkan minum pada Julie.

“Trims, aku bawa minum.” Juliet mengeluarkan minuman dari tas punggunggnya dan meluruskan kaki. “Apa tangganya masih banyak?” tanya gadis itu, sesekali memijit kakinya.

Juliet sempat menyesali keputusannya mengiyakan permintaan Yixing mengunjungi Tianxin Tower. Tempat itu indah, banyak taman di sekelilingnya. Tapi tetap saja, dia hampir tidak pernah menaiki tangga sebanyak ini. Dia tidak membayangkan bagaimana ketika harus mendaki tembok China.

“Apa aku selalu sekuat ini?” protes Julie pada Yixing. “Tangganya banyak.”

Yixing menahan tawanya saat membantu Julie berdiri. Dia mengalungkan tangan gadis itu ke lehernya. “Biar aku membantumu.”

Walaupun Yixing tahu Juliet hanya lelah dan gadis itu bisa berjalan sendiri, dia tetap ingin membantu Julie. Yixing suka saat pipi Julie memerah ketika menyadari mereka terlalu dekat. Yixing suka saat Julie menatapnya sinis akibat perkataannya. Juliet bahkan tidak menolak saat Yixing mengambil foto mereka berdua.

Juliet tidak pernah bersikap manja. Bahkan tidak pada ayahnya, namun pesona Yixing adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak. Bagaimana mata pria itu berbinar ditambah kesempurnaaan senyumnya selalu membuat Juliet enggan menolak apa pun yang ditawarkan pria itu. Dia bisa berjalan sendiri, namun membiarkan pria itu membantunya –merasakan bau parfum Yixing melewati rongga hidungnya- jelas kenikmatan yang berbeda. Juliet hampir tidak mengenali dirinya sendiri saat ini –dia tidak pernah mengenali dirinya secara baik. Yixing menawarkan sebuah ketulusan yang hampir tidak pernah Juliet temui selama di Eropa. Bukan berarti Eropa tidak baik, tapi pria Asia ini jelas memiliki ketulusan yang lain, yang luar biasa, yang membuat hati Juliet luluh juga. Dia ingin Yixing selalu bersamanya untuk selamanya, dia harus menjadikan Yixing sahabatnya.

***

Juliet tidak pernah tahu bagaimana ayahnya yang cerewet dan sering sok tahu itu bisa menerima Yixing dengan sangat baik. Ayahnya tidak begitu terbuka dengan teman-teman pria Julie saat di London. Sekalipun dengan anak temannya dari Paris. Juliet ingat benar saat dirinya mengundang Édouard di pesta barbecue keluarga mereka. Ayahnya tidak memperlakukan Éd dengan baik. Padahal pria itu hampir-hampir tidak melakukan kesalahan kecuali soal membuat Julie sakit perut akibat daging yang terlalu pedas. Yixing bahkan melakukan lebih banyak ke salahan: mengajak Julie pergi tanpa ijin; membuat dirinya harus membelikan gitar untuk Julie; pergi berdua saja dengan Juliet dan lain-lain.

“Yixing anak yang baik,” ucap ayahnya. Alasannya tidak bisa diterima.

Juliet menarik kakinya ke atas sofa putih empuk milik sang Professor.

“Yang penting kau harus mengajak Yixing makan malam besok.”

Juliet berusaha membuka mulut untuk protes tapi ayahnya sudah mengemasi notebook dan lembar-lembar desain yang berserakan di meja. Juliet tidak berniat menghentikan ayahnya untuk meminta penjelasan, tidak ada gunanya. Ayahnya sangat keras kepala.

Juliet meraih ponselnya di meja dan mengetikkan undangan makan malam kepada Yixing. Hari ini Yixing menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Juliet lagi-lagi harus menjadi gadis pemalas yang berteman dengan buku dan Frappucino. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus kembali menjalani hari-hari membosankan di London dengan para remaja wanita yang pergi berkelompok membicarakan keseksian tubuh mereka, saling menghancurkan satu sama lain dan para pria yang lebih memilih mengencani gadis populer ketimbang gadis pintar. Oh salah, itu temannya yang dari Amerika.

Terus terang saja, Juliet lebih menyukai Asia. Walaupun kadang dia akan merindukan perjalanan keliling Eropa dengan kereta. Dia pasti akan merindukan kafe-kafe di jalanan Paris, pohon chestnut di kanan-kiri jalan, musim dingin yang beku di Jerman serta rumah neneknya. Namun memikirkan Yixing, kali pertama dia benar-benar beteman dengan seorang pria, dia tidak sanggup jauh darinya.

Saat hari berganti dan malam beranjak, Yixing membiarkan dirinya berada dalam kegugupan. Dia pernah makan malam dengan ayah Julie namun tidak seformal ini. Yixing pernah bertemu ayah Julie beberapa kali sekedar senyum, sapa, salam dan basa-basi pasti ada alasan mengapa ayah Julie mengundangnya untuk makan malam hari ini.

Yixing mendorong gerbang besi milik Professor Tu dan mendapati Julie sedang berjalan ke arahnya. Floral dress beberapa centi di atas lutut berwarna orange membalutnya sempurna. Di kepalanya bertengger sebuah topi orange yang posisinya dibalik. Sepatu sneakers biru dan shoulder bag membuatnya terlihat sempurna. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai bebas. Yixing mengernyit saat mendapati gadis itu tidak berdandan formal seperti yang dia bayangkan namun lebih istimewa. Yixing melihat dirinya denim hitam, v neck hitam dan kemeja biru muda yang tidak dikancing yang lengannya digulung sampai siku. Sepatunya berwarna putih yang di dapatnya dari Korea. Sepertinya dia juga tidak terlalu formal.

Juliet menyumpal telinganya dengan headset saat mereka dalam perjalanan. Yixing menarik-narik ujung kemejanya saking gugupnya.

Bus berhenti beberapa meter dari hotel. Benar saja dugaan Yixing. Bukan sembarang hotel. Hotel bintang 5 yang bertaraf internasional. Tidak sekalipun seumur hidupnya dia pernah menginjakkan kaki di sana. Juliet melenggang santai saat satpam hotel  membukakan pintu untuknya sementara Yixing harus menelan ludah beberapa kali. Dia hanya seorang anak dari keluarga sederhana, sehari-hari menggunakan sepeda dan bus untuk mengelilingi kota, dia harus memenangkan suatu lomba agar dapat makan di resto berbintang.

“Open the door please,” ucap Julie kepada penjaga pintu bagian restaurant. Yixing mencoba mengintip apa yang ada di balik pintu kaca hitam itu.

Satpam itu malah melihat Julie seksama. Juliet menggeram pelan. Yixing mencoba mengajaknya berbicara dengan Mandarin.

“Dia tidak bisa bahasa Inggris,” jelas Yixing pada Juliet. Juliet mendengus. Walapun satpam itu sudah membukakan pintu dan membiarkan mereka masuk, Juliet tidak bisa menghilangkan muka masam dari wajahnya. Juliet melangkah menuju resepsionis dan mengambil secarik kertas dan menulis cepat.

“Kalau di London dia bakal langsung di pecat,” ucap Juliet. Yixing bisa menyimpulkan Juliet baru saja menulis keluhannya.

“Tidak perlu seperti itu.”

“Dia tidak sopan.”

“Julie, ini bukan Eropa.” Yixing mencoba meluluhkan hati Julie namun gagal. Yixing mengangkat bahunya tanda menyerah. Kemudian mengikuti Juliet melenggang santai menuju kursi di dekat jendela.

Bau parfum mahal saling beradu di ruangan itu. Kursi-kursi klasik dengan bantalan empuk ditata melingkari meja bulat. Di tengah meja terdapat vas bunga yang terbuat dari porselain. Taplak meja berwarna cream terlihat mewah terkena pantulan dari lampu-lampu gantung yang dipasang tinggi di atap. Di bawah kakinya dipasang lantai keramik yang terlihat mengkilap.

Para pengunjung saling bersulang di meja mereka dengan anggur merah di gelas mereka. Mereka berbincang-bincang sambil tertawa-tawa –sedikit dibuat-buat sehingga terlihat cukup menyedihkan. Yixing harus mengerutkan kening saat mendapati logo Channel, Lacoste, DG hingga Yves bertebaran di mana-mana.

“Ayolah Zhang Yixing.” Juliet mengacak pinggang karena Yixing tidak segera bergerak.

Saat mereka melewati pintu kaca menuju balkon, Yixing dapat melihat seorang pria tengah duduk sendirian dengan sampanye di tangannya. Pria itu memakai kemeja abu-abu yang lengannya digulung sesiku –seperti Yixing. Yixing masih sering meragukan kenyataan bahwa pria Korea dengan rambut hitam cepak itu adalah ayah Juliet. Pria itu terlihat muda, sangat muda.

“Dad,” sapa Julie singkat. Tidak membungkukkan badannya sama sekali.

“Halo, Paman.” Yixing membungkukkan badannya, hasil pelatihan di Korea.

“Oh Zhang Yixing! Senang bertemu denganmu!”

“Dad, jangan bertingkah berlebihan.” Juliet menarik kursinya lebih cepat dari Yixing. “Thanks,” bisik Julie pada Yixing. Terlalu dekat hingga terasa aneh di telinganya.

“Aku senang Juliet punya teman,” Hyungwoo melanjutkan.

Juliet menuliskan pesanannya dan mengabaikan ayahnya.

“Aku juga senang punya teman seperti Ju-lie?” balas Yixing bingung. Apakah selama ini Juliet tidak punya teman? Tidak mungkin. Gadis itu tipikal wanita populer di sekolah yang akan digilai pria.

Juliet menyikut Yixing saat dia selesai memilih makanan. Yixing melebarkan matanya menatap buku menu. Harga yang tertulis di sana membuat serangan panik berlebihan.

“Tidak apa-apa, Yixing. Aku yang akan mentraktirmu,” ucap Hyungwoo menyadari kegugupan Yixing.

“Tidak, tidak perlu serepot ini.”

“Di Inggris, menolak ditrakir termasuk tindakan yang tidak sopan.”

“Maafkan aku, Paman. Aku tidak bermaksud begitu. Tapi sungguh, ini terlalu berlebihan buatku.”

Hyungwoo tertawa pelan di kursinya. Tawa yang sedikit berlebihan sehingga Yixing sempat mendengar Juliet mendengus.

“Juliet, pesankan dia apa saja,” kata Hyunwoo akhirnya. Juliet meraih daftar menu dari hadapan Yixing dan menulis cepat. Yixing membuka mulutnya saat Juliet menyodorkan pesanan kepada waitress namun menutupnya kembali.

“Yixing pintar memasak,” ucap Julie. Yixing menatap gadis itu sepersekian detik.

“Benarkah?” tanya ayah Juliet.

“Tentu saja. Soup nya jauh lebih enak ketimbang masakan Mom.”

“Wow. Benarkah itu Yixing?”

Yixing tersenyum canggung, salah tingkah. “Aku tidak tahu?”

“Itu artinya soup mu adalah soup terenak yang pernah Mademoiselle Julia.”

“Itu artinya putriku Julia,” sahut Juliet tanpa melirik Yixing. Yixing mengangguk di tempat duduknya.

Yixing tidak pernah dipuji seperti itu. Dia memang pintar memasak. Di Korea dia bertugas memasak. Di rumah ibunya akan mengomel tentang kurangnya lada yang digunakan Yixing, gula yang terlalu banyak, air yang terlalu panas hingga hal-hal aneh seperti menuangkan perasaan dalam makanan. Ibunya selalu memrotes apapun yang dimasak Yixing. Masakan ibunya jelas lebih enak, namun Yixing tidak pernah mengerti mengapa orang lain terus mengatakan masakannya enak padahal dia tidak pernah mendengar ibunya memuji dirinya.

Makan itu berlangsung lamban. Ayah Julie mendominasi percakapan. Berusaha melibatkan baik Yixing dan Juliet dalam percakapan. Yixing tidak pernah membayangkan bahwa dia akan makan soup asparagus dengan seafood di dalamnya sebagai pembuka, sepotong salmon yang disiram dengan saus popcorn dan sebuah penutup berupa puding. Itu kali pertamanya makan dengan urutan yang benar appetizer, main course, dessert. Yixing merasa perutnya penuh padahal makanan tadi tidak seberapa. Sepertinya harga yang begitu tinggi membuat Yixing kenyang dengan cara yang tidak wajar.

Tidak heran jika Juliet terlihat seperti bangsawan. Nyatanya gadis itu memang seperti bangsawan.

***

Saat matahari musim panas menerik di atas kepala, Juliet mengerutkan keningnya karena silau. Pendakiannya menyusuri Yuelu Mountain sudah dilakukan sejak pagi tadi. Setelah kunjungan singkat di Yuelu University yang terletak di kaki gunung, Yixing dan Julie mendaki Yuelu berdua saja. Sayang sekali saat itu bukan musim gugur sehingga pohon-pohon maple  tidak memerah. Namun perjalanan itu jelas sangat indah karena banyak tumbuhan paku berusia ratusan tahun di sepanjang jalan. Jalanan yang teduh dan cukup lenggang jelas poin plus yang lain serta Yixing yang kini mulai mahir memutar lensa sehingga dia bisa sesekali berfoto –tetap saja Juliet merengut melihat hasil jepretan Yixing.

Hari-hari berlangsung cepat seperti tidak berniat untuk berhenti. Juliet memaksakan dirinya untuk tidak menghitung waktu yang tersisa. Dia masih lebih menyukai London, itu jelas. Namun Yixing bukan perkara mudah. Yixing bukan hanya pria yang sekedar mampir di kehidupannya. Yixing pria yang mengeratkan rangkulannya saat Juliet berada di tempat umum, Yixing pria yang membuatnya nyaman tanpa harus berusaha menjadi ramah dan manis, Yixing pria yang dengan mudah membuat ayahnya memberi ijin untuk mendaki gunung hingga menginap di resort –lebih tepatnya membawa kabur putrinya.

Juliet masih tidak tahu apakah dia menyukai Zhang Yixing atau hanya sekedar perasaan nyaman sebagai seorang teman. Yixing sangat-sangat-sangat membantunya. Tidak hanya sekedar menemaninya selama di China namun Yixing juga membuatnya kembali hidup setelah rehabilitasi panjang yang menyiksa. Yixing seperti musim panas, yang terang dan penuh rasa bahagia.

“Apa kau yakin akan melanjutkan perjalanan?” tanya Yixing. Hari sudah mulai sore dan Juliet mulai kelihatan pucat.

“Kau mau aku menggendongmu?” tawar Yixing.

“Kau kurus. Tidak mungkin kuat.”

Yixing menarik tangan Juliet dan menyelipkannya di sikunya. Juliet sempat terkejut namun berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan.

“Kita mampir dulu ke Huogongdian ya? Kau harus segera makan.”

Juliet mengangguk walaupun tidak tahu apa yang akan dia makan selanjutnya. Selama dia bersama Yixing, pria itu tidak mungkin membuatnya sakit, pria itu akan menjaganya. Yixing adalah pahlawannya. Selama Yixing bersamanya dia akan baik-baik saja. Selelah apa pun kakinya, sepucat apa pun wajahnya, sepusing apa pun kepalanya dengan Yixing di sampingnya, dia akan bertahan.

***

Yixing merutuki dirinya. Dia tidak mengira bahwa perjalanan Yeulu kemudian secara spontan mengunjungi Orange Sandbar dan dilanjutkan ke Liuyang adalah perjalanan terakhir yang bisa dilakukannya dengan Juliet. Dia sempat menginap di Liuyang beberapa hari membiarkan mereka menikmati udara dingin di bagian utara Liuyang. Perjalanan ke Gunung Dawei adalah puncaknya. Juliet yang tidak bisa menghentikan dirinya dari memotret kupu-kupu serta Zhang Yixing yang merasakan perasaan aneh merasukinya begitu matahari condong ke barat.

Yixing yakin Juliet menangis semalaman matanya menghitam. Gadis itu mungkin hampir tidak tidur. Kalau saja Yixing tahu hari ini hari terakhirnya bersama Nona Kim dia mungkin akan menghadapi hal yang sama.

“Di sini tempat kembang api diciptakan,” ucap Yixing. Mencoba menghibur Juliet.

“Oh ya?” Juliet berusaha untuk tertarik walapun Yixing bisa melihat jelas keterpaksaan di sana.

Yixing menyentuh mata berair Juliet dengan ibu Juliet. “Kau terlihat menyedihkan.”

“Dari mana kau belajar mengatai orang?” tanya Juliet. Mau tidak mau tertawa juga.

“Dari Nona Julia yang menyebalkan.”

Juliet memukul lengan Yixing.

“Kita bahkan belum ke Noah Cruise,” ucap Yixing.

Juliet menghentikan langkahnya.

“Kau…. tahu? Aku mau pulang?”

“Terlihat jelas di matamu.”

Juliet terpaku di tempatnya berdiri. Dia tidak bisa menahan air matanya lebih lama. Yixing menarik tubuh Juliet ke dalam pelukannya. Juliet sangat menyukai Yixing dan membiarkan dirinya dalam pelukan Yixing adalah kesalahan terindah yang diperbuatnya. Juliet tidak berusaha melepaskan Yixing dari tubuhnya. Dia ingin memeluk Yixing selama dia bisa, selama dia masih bisa bertemu dengan pria itu selama mereka belum terpisahkan oleh jarak.

“Tidak apa-apa. Menangis saja.”

“Aku cengeng.”

Yixing mendaratkan bibirnya di kening Juliet. Juliet menengadahkan kepalanya, reaksi syok atas perlakuan Yixing.

“Aku menyukaimu, Zhang Yixing.”

***

Juliet tahu dia membuat kesalahan. Bagaimanapun juga dia hanya mengenal Yixing dalam waktu yang singkat. Namun dia tidak sanggup menyembunyikan seberapa besar pria itu berarti baginya. Itu hanya reaksi spontan, sebuah keadaan di mana dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia ingin mengikat Yixing kuat-kuat bersamanya. Yixing tidak bereaksi apa pun kecuali sebuah senyum dan ciuman di kening. Juliet biasanya menjaga urat malunya namun saat itu sepertinya urat malunya sedang mengendur.

Yixing tersenyum saat Juliet menarik kopernya menuju bagian migrasi.

“Kita akan bertemu lagi bukan?” tanya Juliet sekali lagi.

“Tentu saja. Kau kan akan sekolah di Korea.”

“Sempatkan dirimu membalas e-mailku.”

Yixing menarik Juliet dalam pelukannya sekali lagi. Juliet tidak pernah punya ide bagaimana dia bisa terikat dengan pria Changsha ini. Juliet tidak pernah berencana memiliki ikatan emosi dengan siapa pun selama perjalanan berlibur namun secara tidak sengaja, kejadian itu berlangsung di sini. Pria bernama Yixing itu secara tidak langsung mengubah arah perjalanan hidup Juliet.

“Xie-xie, Yixing-ge.”

“Merci, Madame Julies.”

Juliet menarik kopernya dan tidak pernah berbalik lagi. Secara realita dia yang meninggalkan Yixing namun entah mengapa dia seperti ditinggalkan, seperti dia yang dibiarkan menunggu. Sampai saat itu tiba, Juliet hanya bisa mengharapkan bahwa Yixing akan terus memikirkannya sebanyak dia memikirkan pria itu.

KKEUT.

PS:
Kenapa saya pakai nama Yixing di sini jawabannya karena nama Lay belum muncul. Kejadian ini terjadi sebelum Yixing mendapatkan stage name.

Iklan

18 thoughts on “Creamy Krim (Side Story Julie-Lay) : the Girl behind the Camera

  1. pertama kali liat aku kaget. apa 5000 kata? salut deh, aku ga pernah tuh nulis sepanjang itu ._.
    posternya ga jelek kok, bagus 🙂
    well, please stop stop stop stop stop stooooppp, lama lama aku bisa fall in love sama Yixing TToTT
    nice fic!

    • aku pernah nulis changsoo sampe 13000 an malah ._. tapi bukannya kategori oneshoot itu 2000-20000 kalo gak salah. ficlet 1000-10000 tapi aku lupa juga sih.
      ah aku juga… untuk kris masih lebih menggodaku :”)

  2. Jadi sebenernya yixing itu suka kan sama julie? Apa cuma php doang? Yah yixing payah nih -_- tapi dia proktetif banget sama julie ._. Oke ditunggu cerita selanjutnya ^^

  3. anyeoong.. devy ..^^
    yaampun. aku gak sadar kalo ini 5000 kata .-.
    berasa kayak baca setengah bab dalam novel .__./abaikan/
    okeee, disini Jules kayak masih bingung dengan perasaannya sma Lay.. jadii.. sepertinya harus ada kejelasan dari side story ini *kode* ;D

    • kepanjangan ya? :(( habis gak bisa nahan buat gak ngetrip di changsha sih 😦
      dia emang bingungan *tunjukjule*
      ah soal itu masih diperbincangkan dengan istri lay n____n

      • aah, iyaa, tapi bagus kok, tetap enak dibaca. aku pengen jalan2 di changsa juga abis baca ini .__.
        ohiya yaa, Lay disini jadi pria rebutan yuhuuw .-.
        next series ditunggu ^^

      • ah amiiin XD
        ayo jalan jalan ke changsha semua nanti yixing suruh jadi guide nya 😀
        iya nih padahal biasanya kris yang jadi rebutan 😦

  4. BRAK!!!! kasian sekali mejaku ini ditendang-tendang tanpa dosa, astaga DEKDEPI kamu bikin aku geregetan, aku cemburu total astagaaaaaaaaa >,<
    well, skinshipnya bagus banget deh, sempet cenat-cenut juga kenapa waktu itu aku minta ada skinship ke kamu, untung kamu menolak adegan kisseunya ya hahahahaha
    aduh kasihan sekali Nayong :3
    yeah, ini Julay-nya mau dilanjut lagi? kasian Kris dong nggak keurus :p
    *tarik Kris jalan-jalan ke Guangzhou*
    tau ah aku galaaaaauuuuu -,- *showeran
    *tarik Yixing mandi bareng :3

  5. hai hai, still remember me kan.. hahaha yang aku tau konsep dr wp ini kalian pegang masing2 satu kan ya, lah ini?? kamu sama kris kan ya?? *aku bingung*
    ini ff panjaaaannnggg pertama yang aku baca dgn main cast lay, soalnya yg sbelumnya drabble kekeke~ as always, i like the way you write, simple but sweet ^^
    cepet lanjut krisnya ya, kenapa dia di anggurin deh -,- hehehe~ hwaiting! 🙂

    • halo kamu yang kemaren di wp aku kan? ah seneng kamu mampir ke sini juga :”)
      iya semacam itu, tapi kita bisa kerjasama sama author lain kok ;)) ini contohnya aku sama kak mella. terus ada AB style yang kayaknya keliatan mulai ada apa-apa sama Chajin
      Iya aku nulis ini lama banget 2 mingguan, karena aku sibuk dan males banget tapi gak tahunya bisa sampai 5000 hehehe (still not the longest fic I ever made)
      thanks ya udah mampir dan komen :”) I’ll write better in the future.
      oya… salah satu alasan aku nganggurin kris adalah terlalu banyak ff yang nampung dia -_- biarin dia istirahat dulu /lah

  6. Ah rasanya aku pengen laporin ke kris biar kris tinggalin jul dan balik ke aku aja.
    tapi baca skinship2 di atas aku jadi kepikiran 2 hal. tiba2 aku kepengen gitu juga sama lay, dan yang kedua aku sedih sama nayong. Jul kamu harus pilih salah satu! ‘_’

    • ngeeek~~~ di sini dia kan belum ketemu kris :p
      nanti deh gatau di chapt selanjutnya kamu masih mikir yang sama gak n____n
      jule emang nyebelin, minta ditabok dia

  7. ya ampun bahasanya keren banget

    Ceritanya bagus,,romance
    Yixing suka sama Julie ga??

    Haduhh bikin penasaran..
    Ditunggu ya Julie sama Kris nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s