DaeHee Entrée : Sweet Little Surprise

daehee entree sweet little surprise cover

7th DaeHee Entrée – Sweet Little Surprise

 Author : Eunroro13 (@Muthiamauli)

Main Casts : Kim Jong Dae (EXO-M Chen) & Shin Eun Hee (OC – @Eunheeshin13)

Support Casts : Yoo Seung Woo, Shin Mi Ri (OC), Jung Gisuk, EXO members.

Genre : Romance, Friendship, A little bit Fluff | Rating : G | Length : 4.924 words

Chit Chat : Sorry kalau fanfic ini ga bagus dan bertele-tele :”) Special thanks buat ka Echa plus ibunda Mala-Mala di dinding~ EXO Girls Daily FIGHTING! Kkkk~ *melayangbersamaKris.

Please read Shin Eun Hee’s Profile first!

—EXO Girls Daily| Eunroro13©2013—

3rd June, 2013 | 11:45 AM KST

Korea Kent Foreign High School, Guui-dong, Gwangjin-gu, Seoul

Murid-murid yang ada dalam kelas itu berusaha sekuat tenaga mengikuti pelajaran yang disampaikan guru di depan sana. Bayangkan saja di hari yang cukup panas ini guru botak bersuara lembut tak henti-hentinya berceloteh mengenai sejarah Amerika. Eunhee mengutuk diri kenapa tadi dia menolak ajakan Mi Ri dan Seungwoo membolos ke ruang musik. Tak berapa lama gadis itu menutup mulutnya yang menguap tanda dia benar-benar tidak berminat dengan pelajaran yang disampaikan. Gadis itu bahkan sudah memenuhi satu halaman buku tulis  dengan berbagai macam tulisan dan gambar. Saking bosannya, Eunhee mengacak-ngacak gambaran itu dengan goresan pensil yang bentuknya tak beraturan. Sampai akhirnya terdengar juga alunan bel merdu yang begitu dinantikan semua penghuni kelas. Bahkan terlihat seseorang yang duduk di pojokan memekik senang karena jam istirahat makan siang telah tiba.  Guru botak itu hanya bisa menghela nafas memaklumi dan segera menutup pelajaran. Terang saja murid-murid –termasuk Eunhee— berteriak kegirangan, mengucapkan salam dengan terburu-buru, lalu berlomba-lomba meninggalkan kelas.

“Menyenangkan sekali kan sejarahnya, nona Shin?” ejek Seungwoo saat Eunhee menyusul mereka ke ruang musik.

“Diam kau! Harusnya aku ikut kalian saja tadi,” sesal Eunhee yang langsung disambut Seungwoo dengan tepukan berduka di pundaknya.

“Kau juga sih sok rajin. Seperti tidak tau saja kalau guru Park begitu membosankan.”

Eunhee menatap tajam sahabatnya yang bernama Mi Ri, “Aku bukannya sok, Shin Mi Ri. Kau pikir aku mau masuk kelas khusus hanya karena masalah absen? Shireo!”

Melihat aura perang yang akan dikeluarkan oleh kedua gadis itu, Seungwoo pun langsung bersuara, “Sudahlah. Lebih baik kita ke kantin saja. Makan siang kali ini cream spaghetti lho!”

Terang saja Eunhee dan Mi Ri menatap Seungwoo dengan mata berbinar. Oh ayolah! Siapa yang tidak berbinar jika mendengar menu makan siang kali ini cream spaghetti? Terlebih lagi baik Eunhee maupun Mi Ri sama-sama menyukai pasta. Seungwoo menggeleng tak percaya menatap dua sahabatnya itu. Hanya karena cream spaghetti mereka bisa seperti ini, batinnya. Sedetik kemudian ia merasakan kedua tangannya ditarik paksa menjauh dari ruang musik. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Eunhee dan Mi Ri.

Ya! Sakit! Pelan-pelan babo! Ya! Eunhee-ya!”

“Kajja Seungwoo-ya! Nanti spaghetti-nya habis!”

Aish! Yoo Seungwoo yang lamban! Kalau sampai kehabisan aku tidak akan memaafkanmu! Mi Ri, cepat! Kyaaa~ cream spaghetti!”

***

Seungwoo menatap dua gadis di depannya yang tengah menghabiskan cream spaghetti begitu lahap. Laki-laki itu menggeleng tak percaya melihat kelakuan sahabat-sahabatnya yang seperti tidak makan berhari-hari saja. Terlebih lagi ketika melihat Mi Ri tersedak karena terlalu bersemangat memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

“Demi Tuhan. Itu hanya cream spaghetti! Kalian seperti tidak pernah makan itu saja.”

Seungwoo bergidik tatkala dua buah tatapan membunuh tertuju ke arahnya. Langsung saja tangannya bergerak membentuk tanda “V” dengan senyum minta maaf yang merekah. Eunhee menatap Seungwoo sinis. Rasanya kepala Seungwoo sekali-sekali harus dijitak dengan keras.

“Kau itu tidak tau betapa nikmatnya cream spaghetti, Seungwoo-ya.”

“Kata siapa? Aku tau kok. Biasa saja tuh.”

“Kau kan memang punya selera makan yang aneh.”

Ya! Kata siapa selera makan ku aneh? Masih lebih enak daging kau tau.”

Ya! Tidak bisakah kalian tenang sedikit? Aku tidak bisa berkonsentrasi menikmati makan siang ku, aish!” gerutu Eunhee. Mi Ri dan Seungwoo pun kompak mencibir sebal dan kembali melanjutkan makan siang mereka.

“Keunde Eunhee-ya, hari ini jadi kan?”

Eunhee yang tengah menghabiskan minumannya hanya mengangguk seadanya.

“Album EXO huh? Cih. Kalian bahkan tidak membeli album ku sama sekali.”

Ya. Harusnya kau memberikannya special untuk kami Seungwoo-ya,” timpal Eunhee.

“Benar. Kau kan sahabat kami. Nah EXO, siapa yang mau memberi kami secara gratis huh? Dekat dengan EXO saja tidak,” gerutu Mi Ri. Eunhee tersedak dibuatnya. Tiba-tiba saja hatinya kesal mengingat Chen, Baekhyun, bahkan Luhan pun tidak mau memberikannya album secara gratis. Tak sengaja, Eunhee meremuk botol plastik air mineral yang tadi ia pegang.

“Kau kenapa Eunhee-ya?” tanya Mi Ri heran.

Eunhee menggeleng dengan kikuk lalu mencoba mengalihkan perhatian, “Ti-tidak apa-apa. Kau benar. Ya! Seungwoo-ya! Harusnya kau memberikannya untuk kami!”

Cih. Kalian ini mendukung ku atau tidak sih? Kenapa kalian tidak membeli album ku sama sekali. Ah benar! Sekalian saja kalian beli album ku sore ini. Oke?”

Eunhee dan Mi Ri hanya menatap datar teman mereka yang sedang ber-aegyeo agar kemauannya dituruti. Seungwoo berdecak kesal, tahu kalau permintaannya itu sia-sia saja, “Arraseo. Kalian beli album EXO saja. Lupakan. Nan gwaenchana!”

“Geurae! Sepulang sekolah kita langsung ke toko album saja. Kyaa! Aku sudah tidak sabar membeli album mereka.”

“Bersabar lah Mi Ri-ya. Tinggal satu mata pelajaran lagi lalu kita langsung pergi membelinya.”

Seketika Mi Ri menjentikkan jarinya kencang yang berhasil menyita perhatian Eunhee dan Seungwoo, “Aku ada ide! Bagaimana kalau….”

Mi Ri membisikkan rencana briliannya ke telinga Eunhee dan dicuri dengar oleh Seungwoo. Mendengar apa yang baru saja sahabatnya itu bisikkan, Eunhee membulatkan matanya dan menatap Mi Ri tak percaya.

“Kau… yakin?”

“Tentu saja! Kalau sepulang sekolah mungkin saja album itu sudah habis. Jebal Eunhee-ya.”

“Kalian benar-benar fans yang gila,” ujar Seungwoo yang langsung ditatap tajam oleh Mi Ri.

Eunhee tak yakin dengan ide gila Mi Ri hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Gadis itu berpikir sesaat sebelum menelan ludah ragu dan mengangguk mengiyakan. Mi Ri memekik senang dan langsung menyeret Eunhee kembali ke kelas tanpa menghiraukan teriakan Seungwoo yang kesal ditinggalkan.

***

13:29 PM KST

Migliore building (next to Exit 6 of Myeongdong Subway Station), Myeongdong, Seoul

 “Woaaa! Cover-nya bagus sekali.”

“Jangan udik Mi Ri-ya. Cover-nya biasa saja menurut ku—aww! Sakit bodoh!” pekik Seungwoo di balik masker yang menutupi mulutnya. Kakinya baru saja diinjak oleh Mi Ri dengan tidak berperasaan.

Saat ini Eunhee, Mi Ri dan Seungwoo tengah berada di kawasan Myeongdong untuk membeli album terbaru EXO. Seungwoo yang sebenarnya tidak berniat membeli apapun memaksakan diri untuk ikut dengan alasan tidak mau ditinggal bolos oleh dua sahabat gilanya itu.  Dia tidak bisa membayangkan jika belajar sendirian di kelas dengan pelajaran kalkulus yang memecahkan otak.  Alhasil dia menekan emosinya untuk lebih bersabar melihat kedua sahabatnya yang sibuk memilih album dan mengabaikannya.

“Lihat itu albumku!” kata Seungwoo yang tidak direspon sama sekali baik Eunhee maupun Mi Ri. Seungwoo yang kesal hanya bisa berjalan keluar toko meninggalkan sahabatnya dan memutuskan untuk membeli bubble tea di seberang jalan.

“Kau membeli keduanya?”

Emm tidak. Sepertinya aku membeli album EXO-M saja.”

“Kenapa? Ah benar! Kau memang fans berat Kris, Eunhee-ya,” ujar Mi Ri.

Eunhee mengangguk membenarkan, walaupun dalam hati dia menambahkan alasan lain selain itu. Eunhee diam-diam juga ingin mendengar suara kekasihnya di lagu Baby Don’t Cry. Rasanya senang sekali saat mengetahui lagu itu masuk dalam track list album EXO. Bisa dibilang, Eunhee benar-benar kagum dengan suara kekasihnya saat menyanyikan lagu ber-genre ballad.

“Jadi kau membeli keduanya?” tanya Eunhee ketika melihat Mi Ri menenteng dua buah album EXO.

“Tentu saja. Aku tidak bisa mengecewakan Baekhyun oppa. Ah pokoknya di acara fan signing nanti aku harus mendapatkan tanda tangan Baekhyun.”

“Lalu Luhan mu itu mau dikemanakan huh?”

“Tidak kemana-kemana. Porsi hatiku masih muat untuk Baekhyun oppa kok. Sudahkan? Ayo kita bayar.”

Eunhee pun mengikuti Mi Ri yang menuntunnya menuju kasir. Tidak sengaja matanya menangkap sebuah album ber-cover warna hitam dengan berbagai tulisan dan ornament lucu di sekelilingnya. Eunhee menghentikan langkahnya untuk melihat album itu. Terang saja Mi Ri juga ikut berhenti dan menatap objek yang tengah diperhatikan oleh sahabatnya.

What’s going on? Kau mau membelinya juga Eunhee-ah?”

“Ah tidak. Aku hanya tertarik melihat cover-nya. Lucu. Hehehe.”

“Aku kira kau akan membelinya juga. Kajja. Mumpung kasirnya sedang sepi.”

Eunhee pun kembali mengikuti tarikan Mi Ri untuk segera membayar album yang ingin mereka beli. Gadis itu hanya diam berpikir sambil menatap kosong ke arah pelayan yang cekatan membungkus album dan poster untuk mereka.

“Chogi, aku masih ada yang ingin dibeli. Maafkan aku, tetapi aku akan mengambil itu dan kembali secepatnya.”

***

 4th June, 2013 | 09:45 AM KST

Algebra 2 & Trigonometry Class @ Korea Kent Foreign High School, Guui-dong, Gwangjin-gu, Seoul

“Kalian bahkan benar-benar tidak membeli album ku,” sungut Seungwoo dari bangkunya.

“Lain kali, eoh. Uangku bulan ini sudah ku rencanakan hanya untuk membeli album EXO. Kyaa! Aku senang sekali bisa dapat ID card Baekhyun. Aku benar-benar beruntung.” ujar Mi Ri sambil mengenggam ID card miliknya dengan begitu senang. “Eunhee-ya, kau dapat ID card siapa?” tanya gadis itu penasaran.

“Oh? Aku dapat ID card Luhan.”

“Jinjja? Ya kenapa kau tidak bilang? Eunhee-ya~,” rajuk Mi Ri seketika. Mi Ri mengeluarkan jurus puppy eyes untuk menarik perhatian sahabatnya itu. Eunhee dengan ekspresi menahan mual langsung memberikan ID card miliknya kepada Mi Ri. Sontak pekikan senang yang mengejutkan seluruh isi kelas membahana dari mulut mungil gadis bermarga Shin itu.

Kyaa! Eunhee gomawo! Kita tukaran saja ya? Aku tidak enak. Ini untukmu,” kata Mi Ri seraya menyerahkan ID card miliknya untuk Eunhee. Eunhee pun menerima ID card itu dan membaliknya, melihat ID card siapa yang akan dia dapat.

“Eh?”

“Kenapa? Kau tidak suka ya? Mianhae.”

Eunhee menggeleng. Bagaimana bisa Mi Ri mendapat ID card yang dia inginkan, “Chen?”

“Iya. Kau pasti berharap itu ID card Kris kan? Mianhae.”

“Ah tidak. Aku tidak apa-apa Mi Ri-ya. Gomawo,” balas Eunhee dengan senyum merekah. Eunhee senang sekali. Ia menggapai ponsel di sakunya lalu mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang.

To: Dae Oppa

Aku tidak kesal lagi. ㅋㅋㅋ Aku sudah mendapatkannya >.< Aku menang! \:D/

“Kau senang sekali rupanya. Kau fans Chen sekarang?” selidik Mi Ri heran saat melihat reaksi Eunhee yang menurutnya cukup berlebihan. Bukankah Eunhee bilang dia menyukai Kris?

“Ah? Ya bisa dibilang seperti itu. Hihihi.”

“Benarkah? Awas kau ya waktu fan signing nanti kau minta tanda tangan Kris gege!”

“Eh? Fan signing?”

“Jangan bilang kau tidak tahu Eunhee-ya. Mulai 6 juni nanti EXO akan mengadakan fan signing, dan Busan jadi kota pertama.”

“Busan?” tanya Eunhee tak percaya.

Hmm benar. Eyy~ kau bahkan mengaku orang asli Busan tapi tidak tahu hal itu eoh? Sudah jadi orang Seoul rupanya,” kekeh Mi Ri.

“Mi Ri-ya, dalam minggu ini kita tidak ada jadwal ulangan bukan?”

Mi Ri mengangguk kendati sedikit heran, “Iya tidak ada. Kita kan su— Shin Eun Hee, jangan bilang kau…”

“Bantu aku oke! Tidak ada tapi-tapian atau ID card Luhan aku tarik kembali!” seringai Eunhee. Mi Ri mengangguk pasrah sekalipun hatinya ragu untuk mengiyakan. Kalau sudah begini Eunhee tidak akan bisa dicegah. Semoga tidak apa-apa, pikirnya.

***

5th June, 2013 | 06:35 PM KST

Eunhee’s Apartment, Dongdaemun-gu, Seoul

“Kau menelpon ku hanya kalau ada mau nya saja. Cih! Kalau bukan karena kau adik kesayanganku, aku tidak akan menurutinya.”

Aish Gisuk oppa. Kau kan sudah janji dan menyetujuinya tadi. Ya ya?” pinta Eunhee sambil mengedip-ngedipkan matanya. Walaupun sang lawan bicara tidak bisa melihatnya, tetap saja ia bergidik ngeri di seberang sana.

“Heran. Kenapa hawanya jadi tidak enak begini? Arraseo! Berhenti mengeluarkan aegyo gagal-mu Shin Eunhee. Besok aku jemput dan soal Gwangchul aku tidak akan menanggung resiko-nya. Mengerti?”

“Beres boss! Pokoknya oppa tenang saja. Makanan yang oppa minta akan aku buatkan selezat mungkin. Aku cuma mau kesana sebentar saja kok.”

“Iya iya. Aish, rasanya aku gampang sekali terbuai dengan sogokan makanan. Ya Tuhan.”

Eunhee terkekeh mendengar sahutan itu, “Kau memang lemah kalau sudah disogok oppa. Hihihi kalau Jihye eonni sampai tahu bagaimana ya?”

Terdengar suara panik di seberang sana yang berhasil membuat Eunhee semakin tertawa, “Kau. Ya! Kalau Jihye sampai tau kita berdua akan mati. Kau bahkan akan mendapat hal serupa dari oppa mu yang galak itu. Kau mau eoh?”

“Andwae! Oke kita saling menjaga rahasia satu sama lain kalau begitu. Yaksok?”

“Nah begitu baru benar. Oppa, ada panggilan masuk. Sampai ketemu besok.”

Eunhee mematikan sambungan telepon tersebut lalu mengalihkannya ke panggilan baru dari sosok kontak bernama Dae Oppa, “Eoh oppa.”

“Kau sedang menelpon siapa tadi?”

“Eh? Itu… eng, tadi Mi Ri yang menelpon. Hehehe.”

“Benarkah?” tanya Chen tak yakin.

“Aigoo oppa. Haruskah kita berdebat masalah ini lagi?”

“Arraseo. Aku merindukanmu Eunbee-ah,” lirih Chen.

Eunhee tertegun mendengarnya. Tidak bisa dipungkiri Eunhee juga sama rindunya dengan laki-laki itu. Terlebih lagi sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu. Terakhir saat EXO comeback stage di M! Countdown dan mereka hanya bersua saat Eunhee mengantarkan kedua belas pria itu makanan penyemangat. Jadwal EXO yang padat membuat komunikasi mereka hanya efektif melalui telepon seperti sekarang.

“Nado, oppa. Suara oppa juga terdengar lelah.”

Chen tersenyum lalu menggeleng agar kekasihnya tidak khawatir. Tahu Eunhee tidak bisa melihatnya, Chen pun berusaha menenangkan, “Aniyo, nan gwaenchana. Aku senang karena EXO sudah merilis album baru. Terlebih jadwal ku sekarang juga lebih banyak di Korea. Itu artinya kita tidak berhubungan jarak jauh lagi, Eunbee-ah. Hahaha.”

“Tapi rasanya sama saja seperti kau berada di China, oppa.” jawab Eunhee jujur yang mau tak mau membuat Chen terdiam.

“Mianhae, Eunbee-ah. Aku janji secepatnya kita akan bertemu dan berjalan berdua, eoh.”

Eunhee menggeleng, memaklumi kesibukan kekasihnya. Dari dulu dia sudah berjanji untuk bisa memaklumi segala jadwal padat Chen, “Aniyo oppa. Aku tak apa. Eyy~ untuk apa oppa minta maaf? Aku baik-baik saja Oppa.”

Tanpa Eunhee ketahui, di seberang sana Chen tersenyum dan bersyukur karena gadis yang ia sayangi bisa memaklumi jadwalnya. Dalam hati dia berjanji untuk secepatnya menyelesaikan semua jadwal dan mencari waktu lowong agar bisa membahagiakan kekasihnya itu.

“Oppa sudah makan?”

“Belum, sebentar lagi. Kami sedang bersiap untuk recording Show Champion untuk minggu depan. Kau sudah makan?”

“Belum, sama seperti oppa. Hahaha. Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Hmm, kau mau bertanya apa?”

Err, benarkah besok EXO melakukan fan signing di Busan?”

“Iya benar. Besok juga ada acara fan signing di Daejon. Malamnya acara radio. Kenapa memangnya? Kau mau ikut?”

Sontak Eunhee gelagapan menjawab pertanyaan dari Chen barusan, “An-aniyo. Besok kan harus se-sekolah, mana mungkin aku ikut ke Busan. Hehehe.”

“Lalu?”

“Tak apa. Aku hanya bertanya saja. Oppa lupa kalau aku dari Busan? Ah rasanya lama sekali tidak kesana.” kata Eunhee. Diam-diam dia menambahkan, tapi besok aku akan kesana juga sih, hihihi.

“Lain kali kita kesana berdua. Kau berjanji membawa ku berkeliling Seomyeon kan?”

Hmm iya, aku ingat. Lain kali Oppa. Aku janji.”

“Arraseo. Eunbee-ah, aku tutup teleponnya ya. Kami harus segera berangkat. Jangan lupa makan malam dan jangan tidur larut. Aku mencintaimu, Eunbee-ah.”

Hmm, oppa juga jangan lupa makan. Langsung istirahat setelah pulang. Iya-iya aku akan akan tidur cepat.”

“Mana ‘saranghae’ untukku?”

“De?” tanya Eunhee memastikan dengan wajahnya yang mulai memerah.

“Eunbee-ah.”

“Shi-shireo.”

“Kalau begitu tidak akan aku tutup teleponnya.”

Ya, oppa! Kau bisa terlambat nanti.”

“…”

“Arraseo. Saranghae Kim Jongdae!” pungkas Eunhee cepat. Oh untung saja laki-laki itu tidak melihat semburat merah di pipinya.

“Hahahaha. Nado saranghae!”

Klik. Percakapan itupun akhirnya berhenti. Eunhee masih memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Heran. Kenapa laki-laki itu selalu berhasil membuatnya kacau seperti ini. Eunhee langsung menghapus kegugupannya lalu beralih menuju ke dapur mempersiapkan makan malam dan segala keperluan untuk besok. Besok hari yang penting, pikirnya.

***

6th June, 2013 | 09:45 AM KST

Toll road, way to Busan from Seoul

“Memangnya ada apa sampai kau rela bolos hanya untuk ke Busan huh? Aku tidak menerima alasan kalau kau hanya ingin bertemu dengan nenek Kim.”

“Siapa bilang? Aku hanya ingin datang ke acara fan signing saja.”

“Apa?! Ya! Kau masih berhubungan de—“

Aish oppa! Memangnya yang ku kenal cuma dia apa?”

“Lalu siapa?” tanya Gisuk penasaran. Eunhee melirik laki-laki di sampingnya itu lalu menjulurkan lidahnya.

Mehrong~”

Ya! Kau… Aish! Eunhee-ah, kau masih belum bisa melupakannya?”

Eunhee terdiam sesaat lalu menggeleng, “Tidak. Aku bahkan sempat bertemu dengannya minggu lalu.”

Gisuk menghela nafas, melirik adiknya sebentar memastikan kalau dia baik-baik saja, “Arraseo. Aku tidak akan membahas itu lagi. Sampai kapan pun aku tidak akan setuju kalau—“

“Bukankah oppa sudah bilang tidak akan membahasnya lagi? Cih, benar kata eonni. Oppa itu plin-plan.”

“Apa? Oh Tuhan! Kenapa kau menyebalkan sekali?”

Melihat Gisuk yang terlihat frustasi, mau tak mau Eunhee terkekeh dibuatnya. Walaupun dia tidak bisa mengelak bahwa hatinya memikirkan sosok yang sempat mereka bahas barusan. Eunhee menggeleng, tak ingin terlalu larut memikirkan hal yang telah begitu sulit ia lupakan. Perlahan ia mengambil I-pod di saku tasnya, memejamkan mata tatkala suara kekasihnya mengalun merdu di telinga.

♫ Now playing EXO D.O and Chen – The Last Time.

Matahari Busan semakin meninggi, memancarkan sinar teriknya yang cukup menyengat. Beruntung Eunhee dan Gisuk sudah sampai dan sekarang tengah menyejukkan diri di sebuah café sambil menikmati segelas bubble tea pilihan mereka. Gisuk menggeleng tidak percaya saat Eunhee menuntunnya menuju tempat yang hendak ia tuju. Berkali-kali laki-laki itu menatap tajam adik nya yang tersenyum sumringah sambil memandangi album dengan cover putih yang terdapat tanda bulat di tengahnya.

“EXO? Aku bahkan baru tahu kalau ada boyband baru bernama EXO.”

Kali ini giliran Eunhee yang menatap tajam oppa-nya itu, “Oppa sangat ketinggalan zaman.”

Gisuk menggerutu sebal. Dia bukanlah gadis seumuran Eunhee yang tengah tergila-gila dengan idola korea. Gisuk benar-benar tidak terima disebut ketinggalan zaman, “Ya. Kau lupa kalau aku ini juga idol Korea? Tidak semua hoobae aku kenal.”

Sebagai jawaban, Eunhee hanya mengangguk malas. Tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan ini lebih lanjut. Diliriknya jam tangan kuning yang ia pakai, lalu bangkit dari duduk, merapikan pakaian dan tas jinjing yang ia bawa.

“Oppa mau ikut dengan ku atau—“

“Kau pikir aku mau ikut acara seperti itu apa? Bisa-bisa gadis-gadis disana akan berteriak melihat ku. Aku tunggu disini saja dan jam 5 kita sudah harus pulang, mengerti?”

“Arraseo. Ah ini pesanan oppa. Aku masih ingat kan. Terima kasih oppa,” kata Eunhee sambil mengedipkan sebelah matanya.

Gisuk bergidik lalu membuang tatapannya dari sosok Eunhee. Laki-laki itu tak lupa mengingatkan adiknya agar berhati-hati di luar sana. Eunhee tersenyum sebelum menghilang melenggang ke tempat acara yang diimpikannya. Gisuk mendesah, menyumpalkan headset di kedua telinganya, mencoba memutar lagu agar tidak bosan. Perlahan dia membuka tutup bekal yang diberikan Eunhee dan melihat isi di dalamnya.

“Dongnae pajeon!”

***

02:39 PM KST

EXO Fan Signing Event in Busan’s Venue

Eunhee tersenyum senang ketika melihat lautan EXO stans mengerumuni tempat dimana acara fan signing berlangsung. Gadis itu benar-benar berubah menjadi sosok fans sekarang. Mengenakan bando bertuliskan EXO, memegang banner bertuliskan Chen, dan sebuah kamera menggantung di leher siap untuk membidik sosok idola yang ia sukai. Ia menatap tak percaya ketika mengetahui beberapa fans rela memanjat pohon demi melihat bagaimana penampilan idola mereka. Syukurlah ia bisa mendapatkan tempat yang nyaman, pikirnya.

Tiba saat dimana EXO mulai memasuki arena dan suasana menjadi lebih riuh dari sebelumnya. Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri dan menyapa para fans yang telah menunggu sejak tadi. Tak tahan berdiam diri begitu saja, Eunhee meraih kameranya mulai membidik foto para member di depan sana. Gadis itu nyaris pingsan tatkala berhasil mengabadikan sosok Kris yang menatap tajam ke arahnya. Belum lagi ketika Luhan tertawa lepas yang benar-benar membuat Eunhee menjerit karena lelaki itu sungguh tampan.

Giliran Chen memperkenalkan diri dan menyapa para fans. Baekhyun meminta Chen untuk mengatakan sesuatu dan langsung dibalas cepat oleh lelaki itu, “Sebelum aku mengatakan sesuatu, bisakah yang memanjat pohon itu turun? Benar-benar berbahaya.”

Eunhee tersenyum. Rasanya ia senang sekali melihat kekasihnya memerhatikan para fans dengan baik. Dibidiknya sosok Chen dan gadis itu bersumpah untuk menjadikan foto tersebut sebagai desktop background di laptopnya. Acara fan signing benar-benar seru. Ia dan para fans tak henti-hentinya tertawa dan menjerit melihat tingkah laku kedua belas pria yang baru saja merilis full album bertajuk XOXO. Segmen utama pun dimulai dan para fans langsung berebut mengantri barisan sesuai dengan idola yang mereka inginkan untuk bersapa dan tanda tangannya. Tanpa banyak pikir, Eunhee langsung memosisikan diri di barisan yang menjadi barisan sang kekasih.

Kyaa! EXO! Oppa! Baekhyun Oppa!”

Eunhee menoleh ke arah suara teriakan yang begitu menggema di telinganya. Gadis itu benar-benar mengingatkannya dengan sosok Mi Ri. Eunhee yakin jika Mi Ri ikut bersamanya sekarang, gadis itu pasti akan melakukan hal yang sama. Entah mengapa Eunhee jadi memperhatikan gadis yang berteriak tadi dan temannya. Gadis itu berteriak penuh semangat sedangkan temannya, yang terlihat manis dan cukup sporty dengan sebuah kamera, menanggapi kehebohan itu dengan sabar.

“Siapa yang duduk di sebelah Minseok itu?”

“Itu D.O. Atau kau bisa menyebutnya Kyungsoo,” sela Eunhee. Mencoba berinteraksi dengan orang yang sedari tadi ia perhatikan.

Tentu saja gadis itu menoleh ke arah Eunhee lalu tersenyum, “Ah, eonni!”

“Oh, annyeong! Senang bisa bertemu lagi,” tak disangka gadis itu adalah gadis yang memberikannya bando yang ia pakai sekarang. Eunhee memang sempat membeli beberapa pernak-pernik sebelum menuju tempat fan signing.

“Ne eonni,” balas gadis itu sambil tersenyum, “Ah, aku Kim Michelle. Tapi eonni bisa memanggilku Mica.”

Nama yang bagus, pikir Eunhee. Eunhee ikut tersenyum lalu memperkenalkan diri. Mereka berbincang cukup akrab dan sepertinya mereka menjadi teman sekarang. Terlebih lagi mereka rupanya teman sebaya. Kedua gadis remaja itu tak henti mengobrol berbagai macam hal sembari memerhatikan idola mereka dari jauh. Sampai giliran mereka berinteraksi langsung dengan EXO tiba. Mica sibuk dengan Minseok sedangkan Eunhee mengatur detak jantungnya yang tak beraturan karena satu langkah lagi ia akan bertatapan langsung dengan Chen. Gadis di depan Eunhee membungkuk berterima kasih lalu pergi menjauh dengan wajah sumringah. Eunhee melangkahkan kakinya ke depan dan kini gilirannya sekarang.

Eoh. Kau.” seru Baekhyun pelan. Eunhee sebal juga karena Baekhyun lah yang pertama kali menyadari sosoknya. Merasa terintimidasi dengan tatapan membunuh Eunhee, Baekhyun pun menyibukkan diri dengan menandatangani album yang disodorkan salah satu fansnya.

“Annyeonghaseyo. Selamat datang dan terima kasih telah mendukung EXO. Siapa namamu?” tanya Chen masih fokus dengan selembar kertas di depannya. Menulis pesan singkat sebelum menandatanganinya.

“Shin Eunhee.”

“Oh, Shin Eun—“

Chen berhenti bersuara ketika menangkap sosok gadis di depannya itu. Laki-laki itu menunjukkan ekspresi tak percaya dan terkejut tentu saja. Minseok yang cukup sibuk dengan permintaan fans juga menyempatkan diri untuk menoleh dan mengernyit heran ketika melihat Eunhee tersenyum kepadanya. Minseok menggeleng-gelengkan kepalanya lalu terkekeh senang entah mengapa. Sementara itu Sehun yang baru saja bertatapan dengan Eunhee langsung terbatuk-batuk tak mengira jika gadis itu bisa hadir ke acara fan signing mereka.

“Oppa, kenapa diam saja?”

Ya? Oh. Baiklah. Shin Eunhee.” tulis Chen masih dengan gerakan kikuk akibat terkejut dengan kedatangan kekasihnya itu. “Dengan siapa kesini?”

Eunhee mengerutkan dahinya, lalu tersenyum sambil menjawab, “Dengan teman. Tenang saja. Perjalanannya menyenangkan.”

“Ah benarkah? Baguslah kalau begitu.” jawab Chen masih enggan menatap kekasihnya. Ia memilih menyibukkan diri menggoreskan penanya pada album yang baru saja gadis itu sodorkan.

“Oppa, apa hal favorite oppa di album ini?” pancing Eunhee agar Chen menatapnya.

“Hal favorite?”

Hmm.”

Chen mendongak, berhenti menulis lalu menatap wajah kekasih yang ia rindukan, “Jika aku berkata kalau kau favorite ku, apa kau percaya?”

Tak ayal Eunhee menunduk menyembunyikan wajah merah meronanya. Chen tersenyum puas, kembali menuliskan beberapa kalimat untuk fans special-nya itu. Eunhee mengambil albumnya segera, terburu-buru untuk berjabat tangan dan berniat secepat mungkin berbalik pergi. Tapi Chen menahannya dengan menggenggam tangan Eunhee lebih lama. Berusaha mencondongkan tubuh gadis itu lebih dekat agar bisa membisikkan sesuatu kepadanya.

“Tunggu aku di backstage seusai acara. Jangan pergi dulu.”

Eunhee mengangguk menurut kemudian berusaha membebaskan tangannya dari genggaman hangat Chen. Sepanjang jalan menuju backstage, Eunhee terus menundukkan kepala berusaha untuk tidak menatap mata para fans lain. Rasanya wajahnya tidak henti memerah ketika mengingat apa yang diperbuat Chen barusan. Aish, laki-laki itu ada-ada saja, pikirnya. Dengan sabar ia menghadapi godaan dari coordi eonni dan manager oppa. Eunhee berusaha sekuat mungkin menunggu Chen dan tidak berlari pulang bersama dengan oppa-nya.

“Lama menunggu?”

Eunhee mendongak lalu tersenyum ketika medapati Chen yang menyapanya. Gadis itu menggeser tubuhnya agar Chen bisa duduk bersamanya di kursi panjang. Tapi Chen menggeleng lalu menarik gadis itu keluar backstage menuju pohon besar yang cukup tertutup.

“Dengan siapa kesini? Kenapa tidak mengabariku? Kau bolos? Eunbee-ah kau berbohong padaku,” cerocos Chen dan membuat Eunhee meringis mendengarnya.

“Satu-satu oppa. Aku kesini bersama Gisuk oppa. Kalau aku kabari kan jadi tidak surprise. Eh tapi bukankah kemaren aku sudah memberi sedikit petunjuk? Dan tentu saja aku bolos. Sekali-kali tak apa kan? Hehehe,” jawab Eunhee sambil membentuk tanda “V” dengan tangannya.

“Gisuk oppa? Laki-laki?”

“Tentu saja. Aku kan memanggilnya oppa,” jawab Eunhee lagi. Eunhee bersumpah ia bisa melihat rahang Chen sedikit mengeras ketika mengetahui dirinya bersama laki-laki lain. Ya Tuhan! Gisuk bahkan hanya oppa untuknya. “Gisuk oppa sudah punya Jihye eonni, oppa. Mana mungkin aku mau berkencan dengan Gisuk oppa. Ya Tuhan.”

Chen mendelik sebal ke arah gadisnya itu, “Kau tau. Berjalan sendiri di kota orang itu berbahaya, Eunbee-ah. Lain kali kau harus mengabariku dulu, arra?” Eunhee mengangguk. Walaupun sebenarnya ia ingin menyela ucapan Chen tadi. Hey! Busan bukanlah kota asing baginya. Bahkan dia orang asli Busan. Kedua orang tua dan keluarganya pun berasal dari kota ini. Jadi Busan bukanlah ‘kota orang’ bagi Eunhee.

Chen merengkuh kekasihnya ke dalam sebuah pelukan. Tak lupa ia menghirup aroma tubuh sang gadis yang begitu memabukkan baginya. Rasanya Chen betah berlama-lama seperti ini. Tapi saat matanya menangkap sosok Minseok bersama gadis lain, perlahan Chen melepaskan pelukan itu, berkonsentrasi menatap dua insan yang terlihat sedikit janggal di matanya.

“Minseok hyung?”

Eunhee yang heran pun ikut menoleh ke arah yang Chen tatap, “Kenapa dengan Minseok oppa? Oh, bukankah gadis itu Mica?”

“Mica?”

“Hmm, sepertinya itu Mica. Nah itu Hwayong. Tunggu, apa Minseok oppa kenal mereka berdua?”

“Sepertinya begitu. Ayo kita kesana,” ajak Chen sambil menggenggam tangan Eunhee. Tapi gadis itu menghentikannya sebelum Chen berhasil menariknya pergi.

“Tidak. Aku disini saja ya? Mica dan Hwayong belum tahu apa-apa, oppa. Aku takut.”

Chen terdiam beberapa saat lalu mengangguk tanda mengerti. Diusapnya puncak kepala sang gadis lalu berpaling pergi menuju ke arah Minseok dan dua gadis itu. Eunhee melihat dari kejauhan. Beberapa kali kerumunan kecil itu melemparkan tatapan ke arahnya yang hanya ia balas dengan senyum  dan lambaian tangan seadanya. Beberapa saat kemudian kerumunan mereka pun membubarkan diri dan Chen kembali menghampirinya.

“Mereka siapanya Minseok oppa? Akrab sekali.”

“Aku yakin kau tak akan percaya, Eunbee-ah. Tapi Mica yang kau bilang itu sepertinya adik tiri Minseok hyung.”

“Apa? Adik tiri? Eyy~ Tidak mungkin.”

“Aku juga berpikir begitu tadi. Tapi itulah kenyataannya.”

Obrolan mereka terhenti sejenak ketika ponsel Eunhee berdering. Gisuk menelpon, mengingatkan kalau Eunhee sudah harus pulang, “Arraseo oppa. Aku kesana sekarang.”

“Siapa?” tanya Chen cepat ketika Eunhee memutuskan panggilan itu.

“Gisuk oppa. Kami harus segera pulang.”

“Tidak mau ikut dengan ku?” tawar Chen dengan muka memohon agar kekasihnya bisa tinggal lebih lama di sisinya.

Eunhee menggeleng, “Lain kali oppa. Aku juga tidak ingin merepotkan. Ah, aku menitipkan makanan buat kalian. Nanti dimakan yah.”

“Lihat, siapa yang merepotkan siapa huh. Kau seharusnya tidak usah memaksakan diri membuat makanan sebanyak itu untuk kami, Eunbee-ah.”

Eyy~ Tidak ada yang merepotkan dari memasak. Aku pergi dulu ya, oppa. Fighting! Nanti malam aku pasti mendengarkan kalian di radio.”

“Aku antar.”

Chen pun mengantarkan Eunhee menuju café dimana Gisuk menunggunya. Gisuk yang sedari tadi memang cemas menunggu Eunhee, kaget ketika melihat adiknya itu bersama seorang lelaki yang menggenggam tangannya. Langsung saja Eunhee melepaskan genggaman itu dan menghampiri Gisuk.

“Oppa, maaf lama menunggu.”

“Gwaenchana. Dan dia siapa?”

“Oh anyeonghaseyo. Chen ibnida.” jabat Chen seraya memperkenalkan diri. Gisuk menatapnya lekat masih dengan tatapan heran dan meneliti dengan baik.

“Ah Chen-ssi. Maksudku kau siapanya Eunhee? Kenapa kalian—“

“Oppa. Jebal,” pinta Eunhee. Chen mengernyitkan dahinya lalu menatap tak mengerti ke arah gadisnya itu.

“Arraseo. Ayo kita pulang. Chen-ssi, kami pamit dulu.”

Gisuk berjalan pergi meninggalkan keduanya menuju ke arah dimana mobil mereka terparkir. Eunhee tersenyum, menggenggam tangan kekasihnya itu beniat untuk berpamitan, “Nanti malam aku telepon ya. Jangan sampai terlambat makan dan jangan kelelahan.”

“Arra. Kau juga sampai rumah harus mengabariku eoh.” jawab Chen sembari memeluk gadisnya itu dalam. Perlahan dikecupnya puncak kepala Eunhee lalu beralih ke kening gadis itu. Rutinitas yang selalu ia lakukan jika mereka bertemu.

Hmm, aku pamit oppa.”

Chen mengangguk, menatap tiap langkah Eunhee yang mulai menjauh sampai menghilang dibalik pandangannya. Chen mendesah, berusaha tersenyum lalu kembali pulang menuju tempat acara fan signing mereka. Entahlah. Rasanya sebagian hatinya merasa kurang dan tidak rela. Diabaikannya pikiran itu lalu dengan setengah berlari menuju tempat acara secepat yang ia bisa.

***

“Kau tidak mau bercerita dia siapa?” tanya Gisuk menyelidik sesaat setelah Eunhee menaiki mobil. Eunhee pun hanya tersenyum mendengarnya.

“Sudah jelaskan siapa? Aku rasa oppa pasti sudah tahu tanpa aku jelaskan lagi.”

“Baguslah. Aku senang kau bisa melupakannya dan mencari yang baru. Kau berhutang banyak cerita padaku, Eunhee-ah.”

Eunhee mengangguk lalu terkekeh. Tangannya menggapai ke dalam tas yang ia bawa, mencoba mengambil album EXO yang belum sempat ia lihat lagi. Sejujurnya sejak tadi ia begitu penasaran dengan apa yang ditulis Chen untuknya.

Gadis itu tertawa ketika mendapati Chen menggambar tokoh pororo untuk dirinya. Terlebih ketika menemukan tulisan “Aku tak kalah baik dari hyung” tepat di bawah gambar Kris yang notabene adalah idola Eunhee. Di halaman Thanks To, Eunhee bisa melihat Chen menambahkan beberapa kalimat yang membuatnya tak bisa menyembunyikan senyum bahagia sambil mengusap-usap tulisan tersebut.

Terima kasih untuk Eunbee yang selalu mendukung ku kapan pun aku butuhkan. Aku mencintainya, tak terkecuali.

Eunhee kembali memerhatikan album itu dengan detail sampai ia mendapati tulisan panjang tepat di foto Chen mengenakan seragam sekolah yang membuatnya terlihat lebih tampan.

To: Eunbee

Aku senang sekaligus sedikit kesal kau datang. Aku kesal karena kau tidak memberitahuku dan membolos hanya untuk itu. Tapi aku senang karena kekasihku memberi kejutan semanis ini. Acara fan signing kali ini begitu berkesan. Terima kasih karena kau sudah datang. Jangan membolos lagi, mengerti? Kekeke.

Aku hanya ingin kau selalu mendukungku Eunbee-ah. Yah walaupun kau lebih mengidolakan Kris hyung, tapi tak apa –ps. aku tetap kesal sih. Aku harap kau percaya padaku dan kita harus selalu bersama apapun keadaannya. Karena aku mencintaimu, Eunbee-ah. Nan jeongmal saranghaeyo. Maafkan aku karena kita jarang bertemu, hanya bisa berkomunikasi lewat telepon. Maaf jika aku tidak bisa menjanjikan kencan indah seperti yang dilakukan oleh teman-temanmu yang lain. Tapi aku berusaha untuk membuatmu selalu bahagia. Karena tak ada hal lain yang ku inginkan selain seulas senyumyang tergambar di wajahmu. Terima kasih karena memilihku untuk berada di sampingmu. Terima kasih untuk dukungan, perhatian, dan segala hal yang kau berikan selama ini. Lebih dari cukup Eunbee-ah. Bahkan ketika aku hanya bisa menjanjikan kau bahagia bersamaku.

Dan pada akhirnya aku hanya mengucapkan, Jongdae akan selalu mencintai Eunhee sampai kapanpun itu. Sekali lagi, aku mencintaimu. Lebih dari apapun.

Chen

Air mata itu mengalir, tanpa Eunhee bisa membendungnya. Hatinya hangat. Rasa yang dulu sempat ia rasakan akhirnya bisa kembali ia rasakan. Bagaimana hangatnya perasaanmu ketika seseorang mengungkapkan bahwa ia benar-benar mencintaimu. Berkali-kali dengan senyum yang ia ulas serta air mata yang masih menuruni pipi, Eunhee terus membaca pesan itu berulang-ulang. Rasa syukur tak henti ia panjatkan dan hanya satu hal yang ia pikirkan sekarang.

Bahwa Eunhee juga mencintai Jongdae. Lebih dari apapun.

Daehee Entrée | Kkeut

Note:

  1. Seomyeon adalah salah satu nama daerah di Busan yang terkenal karena keramaiannya. Daerah ini merupakan pusat berbagai macam department store, toko buku, bar, bioskop, dsb
  2. Dongnae Pajeon merupakan pajeon atau panekuk Korea khas dari Busan sejak era Dinasti Joseon. Panekuk ini terbuat dari campuran tepung beras, tepung beras ketan, telur, gochujang, daun bawang, daging, kerang, tiram, remis, udang, dan berbagai macam seafood lainnya. Enak lho~ Kecuali kerangnya sih.
  3. Jung Gisuk dan Jihye adalah pasangan selebriti Korea yang terkenal dengan nama panggung Simon D (Supreme Team) dan Lady Jane.
  4. Migliore Building adalah salah satu lokasi berbelanja paling terkenal di kawasan Myeongdong. Tidak hanya bagi turis, orang lokal pun sering berbelanja berbagai macam kebutuhan disana. Terkenal dengan harganya yang murah dengan kualitas barang yang baik.
Iklan

4 thoughts on “DaeHee Entrée : Sweet Little Surprise

  1. tiba-tiba aku berpikir bagaimana kalo kita semua hadir di fansignnya itu. suho-injoo, hyojin-chan, kris-julie, chen-eunhee, xiu-mica dll .. xD pasti heboh jadinya…
    pesan dari jongdae juga bikin terharu, kalo junmen nulis begituan juga ke injoo bakal di pajang di ruang tamu biar semua orang liat :’

    • Wkwkwk acara fansigning nya bakalan cepet kelar karen EXO ny kabur nemuin pasangan masing2 XD Hihi lucu juga tuh buat dijadiin project ff bareng2 ^^
      Wkwkwkwk Junmen pasti lebih sweet daripada chen :”)

  2. aaaaaaaaa
    >.<
    ini bagussss
    sweet

    aku jarang nemu ff chen,
    makasih udah buat ff chen se sweet ini :'D
    g bisa berkata apa",tapi aku pengen bgt bisa jadi pacar jongdae juga xD
    wkwkwk
    sekiannn
    😀

    • Halo Daekim.. hihi dari namanya aku rasanya kenal pakai inisial siapa.
      makasih ya sudah baca dan kasih komentar 😀 aigoo, mau jadi pacar chen? tapi maaf sekali, dia suami saya lo… *digampar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s