Puzzle Tub: Unreason Point

Image

Unreason Point

Author: Marumero

Cast: Zhang Yixing (EXO-M), Shim Nayong (OC)

Genre: Drama, Romance

Length: 2900words

Rating: G

Disclaimer: OC, plot and story are mine, Zhang Yixing belongs to fans 😀

PS: Horra! Ini adalah FF debutku di EXO Girls Daily, semoga kalian menikmatinya muehehe :3

Please read Shim Na Yong’s Profile first.

Enjoy the words ^^

February 2012

Suara pluit panjang setelah empat quarter pertandingan menandakan game telah usai. Suara decit sepatu yang bergesekan dengan lantai berlapis kayu berwarna cokelat kini telah berhenti. Suara decit itu berganti dengan suara riuh penonton yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka sedikit namun memberi dukungan yang sangat maksimal. Kebanyakan dari mereka adalah teman maupun sahabat yang meluangkan waktu senggangnya demi menonton team kesayangan mereka bertanding.

Keringat mengucur deras meleleh dari pelipis, leher dan seluruh tubuh. Ucapan selamat dan pujian juga tak tertinggal, terpusat untuk seorang gadis yang masih bediri ditengah lapangan dan melakukan high five pada seluruh pemain yang ada disana. Gadis three point, pemain yang perlu dijaga ketat jika telah memasuki daerah three point dan selalu menyusahkan lawan jika lengannya telah terangkat tinggi dan mulai melambungkan bola kearah ring, gadis itu adalah Shim Nayong. Setelah menyalami seluruh kawan dan lawan, matanya melirik sekilas ke tribun penonton dan mendapati sahabatnya tengah berteriak kearahnya.

“Nayong ah, Yixing oppa telah menunggumu diluar, cepatlah!.” Li Na, gadis berwajah China itu lalu melambai-lambaikan tangannya dan melayangkan flying kiss pada Nayong.

Nayong mengangkat ibu jarinya dan membiarkan sahabatnya itu berlalu meninggalkan tribun, kemudian ia beranjak keruang ganti. Mengganti seragam basketnya dengan sehelai kaos oblong dan celana jeans. Mengelap keringat yang mengucur deras diseluruh tubuhnya dengan handuk kecil yang selalu ia bawa. Bahunya tergantung tas dan membiarkan sepatu kesayangannya tetap menempel dikaki. Sementara kakinya melangkah keluar ruangan, tangannya mulai merapikan rambut dan menguncirnya kebelakang, membiarkan udara menerpa wajah dan lehernya dengan bebas.

Pertandingan telah usai, itu artinya penantian seseorang yang sedang menunggunya diluar gedung ikut usai. Nayong mulai berjalan diluar gedung dan mencari sosok yang bisa ia tangkap tanpa sekalipun merasa kesulitan untuk mencarinya. Lelaki yang telah lama mencuri hatinya.

Tak memerlukan waktu yang lama, matanya menangkap sosok yang ia maksud dan mulai tersenyum tipis. Ia menghampiri lelaki itu dan mendengus pelan. Ternyata ia sedang tidur terduduk dibangku taman dan lelaki itu tak menyadari kedatangan Nayong.

“Ternyata kau malah tidur disini, oppa. Kenapa kau tidak masuk saja dan menonton permainanku yang sangat keren itu?” Nayong bergumam pada dirinya sendiri dan tak menghiraukan lelaki yang sedang tidur disamping tempat duduknya.

Wajahmu tetap lucu oppa, sekalipun kau sedang tidur, kekekeke. Nayong membatin dan mengamati wajah lelaki disampingnya dengan senyum yang terus terpasang. Kulitnya yang seputih salju, alisnya yang tebal, bibirnya yang penuh dan sepasang mata yang selalu memberinya kehangatan. Sementara matanya menelusuri seluruh garis wajah Yixing, ia tak menyadari mulut lelaki itu mulai bergumam dan membuyarkan lamunannya.

“Jangan memandangiku seperti itu, nanti kau jatuh cinta padaku, Nayong ah.” Matanya terbuka dan menangkap basah mata Nayong yang sejak tadi memandanginya sedang tertidur, atau pura-pura tidur.

Nayong tergelak dan menyangkal pernyataan Yixing. “Si-siapa yang memandangimu oppa, enak saja memandangimu, seperti orang kurang kerjaan saja.” Nayong membuang muka dan salah tingkah, Yixing hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Nayong.

“Baiklah, baiklah. Memang sekeren apa pertandingamu tadi? Menang?.”

“Tentu saja kami menang. Aku membuat empat three point dipertandingan kali ini.” Nayong tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih berderet rapi.

“Hanya empat? Baru juga empat Nayong ah, tapi lagakmu sudah sombong sekali. Jika kau membuat sepuluh three point baru kau boleh menyombongkan diri.” Yixing mulai membenarkan posisi duduk dan merapikan rambut ikalnya yang diterpa angin sore.

“Setidaknya aku bisa, dan hanya aku yang bisa. Karena aku spesialis, ingat? Hahahaha.” Nayong menertawakan dirinya sendiri dan membuat Yixing memutar bola matanya dengan bosan. Bosan karena sudah terlalu sering mendengarkan celotehan gadis cerewet yang suka menyombongkan diri ini.

“Cukup sesi menyombongkan dirinya.” Yixing mulai beranjak dari tempat duduk dan meregangkan tubuhnya kesamping. “Kita akan pergi kemana sore ini?”

Nayong berpikir sejenak, “Berjalan menyusuri kota, bagaimana? Suasananya sedang enak sepertinya.”

Yixing memainkan bibirnya, “Oke, ayo pergi.”

Jalanan kota cukup ramai sore itu, dipenuhi beberapa anak sekolah yang sedang berjalan-jalan sore, seperti Yixing dan Nayong, sayangnya mereka berdua bukan lagi anak sekolahan. Beberapa lainnya bertahan dibangku di sudut jalan atau mampir dikedai dan café sekitar pertokoan. Suara bising terdengar dari seluruh penjuru, menandakan keramaian yang sedang terjadi, tapi sebaliknya justru terjadi pada Yixing dan Nayong yang sejak tadi hanya jalan bersebelahan dengan keheningan yang masih belum terpecah.

Nayong masih merasa canggung pada Yixing, mengingat pertemuannya kali ini baru yang keempat kalinya. Tiga kali pertemuan saja ternyata tidak membuat kecanggungannya luntur, atau kebaikan dan keramahan Yixing belum juga membuatnya merasa leluasa. Ketika mereka mulai berbicara memang dengan sendirinya akan mengalir, tapi permulaannya itu yang membuat mereka kelihatan payah. Tak ada yang memulai terlebih dahulu, atau karena terlalu banyak pertanyaan dan kekhawatiran dibenak Nayong, seperti misalnya; bagaimana jika pertanyaanku konyol? Bagaimana jika topik yang aku bicarakan tidak menarik? Bagaimana jika ia tidak menyukai apa yang aku katakan? Bagaimana jika ia tidak merespon apa yang aku ungkapkan?

Semua kekhawatiran itu toh akhirnya hanya bertahan dibenaknya, karena ketika Yixing mulai angkat bicara dan Nayong menanggapi perkataan Yixing, semua pembicaraan mengalir begitu saja seperti air. Sesekali akhirnya giliran Nayong yang memulai pembicaraan, dan itu tak seburuk yang ia kira.

Tidak mudah sebenarnya memulai pembicaraan dengan orang yang selalu membuat canggung, tetapi juga tidak sesulit itu untuk dikhawatirkan. Nayong hanya takut memulainya. Seperti halnya ia takut untuk memulai menyukai Yixing, dan lagi-lagi, toh dia akhirnya memutuskan untuk memulai menyukai Yixing.

Yixing, seseorang yang suka bergumam aneh dan dengan segala tingkahnya selalu sukses membuat Nayong tertawa. Orang yang kini berarti dihidupnya. Bagi Nayong, Yixing bukan hanya seseorang yang dianggapnya penghibur dan orang yang disukainya, tetapi dia juga menjadi sesosok panutan yang membuatnya selalu semangat menjalani hari-hari yang bisa dibilang sangat berat –orang-orang berkata memiliki umur hampir berkepala dua akan sangat berat–  dan Nayong membuktikan itu, ketika betapa sulitnya ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Semua teman sebayanya merasakan hal yang sama, beberapa ada yang beruntung dan banyak pula yang masih kurang beruntung. Nayong salah satu yang beruntung walau nyaris terdepak dari universitasnya sekarang, Seoul National University.

Ia selalu mendengus tertawa ketika melihat nomor absen kelasnya yang diurutkan berdasarkan bersarnya nilai masuk. Nayong adalah ketiga terbawah, betapa mengenaskan. Ia telah belajar mati-matian tapi hanya mendapat posisi ketiga terbawah, jadi seperti apa otak mereka yang memiliki posisi satu, dua atau jajaran atas? Atau otak Nayongkah yang terlalu payah? Jawabannya masih belum ditemukan Nayong dan Nayongpun tidak berniat untuk mencari tahu jawabannya.

Nayong sangat bersyukur bisa mengenal atau lebih tepatnya mengetahui tentang keberadaan Yixing didunia ini, semua berkat sahabatnya, Li Na, yang telah mempertemukan matanya dengan sosok Yixing kecil dan remaja didalam layar monitor laptop. Li Na adalah adik dari pengurus fansite pendukung Yixing yang tertua, bertempat di China yaitu XingPark. Mereka telah mendukung Yixing sejak dulu, sejak Yixing mulai memukau warga Changsa ketika masih kecil, Changsa adalah kampung halaman Yixing.

Pertama kalinya mengetahui Yixing, saat itu ia sedang ditahun akhir di Woosong High School, tentu saja ia membutuhkan banyak dukungan dan semangat untuk menghadapi kelas tambahan yang sangat menguras waktu dan tenaga, tapi berkat Yixing, Nayong mulai mengatasi penyakit yang hampir dialami oleh seluruh tingkat akhir, lelah dan bosan dengan sekolah. Yixing mengajarinya untuk terus berusaha dan berjuang, membuatnya bisa melewati ujian akhir dan berhasil masuk SNU. Sama seperti perjuangan Yixing yang sebentar lagi akan terwujud, ketika akhirnya ia debut dalam grup idol baru bernama EXO.

Sudah dua teaser Yixing keluar di akun YouTube milik SM Entertaintment, itulah sebabnya mengapa Yixing sore ini menggunakan jaket bertopi dan kacamata berbingkai hitam. Semacam misi penyamaran. Membuat kamuflase pada semua orang, bukan hal yang baik jika ia mendapat rumor dari para komentator yang biasa disebut netizen bahkan sebelum debut, Yixing tak mau ambil resiko, tetapi ia memang berkeinginan menghabiskan sorenya bersama Nayong.

“Ambilah.” Yixing menyodorkan Vanilla Milkshake yang dipesannya dikedai minuman diujung jalan, walau baru tiga bulan ia menganal Nayong, pengetahuannya sudah cukup dalam dengan kebiasaan gadis itu. Seperti menyukai segala makanan dan minuman yang berbau susu rasa vanilla atau tidak suka makanan pedas karena kebetulan sama dengan dirinya sendiri.

“Terima kasih, oppa. Aku ditraktir?.” Nayong memandangi Yixing dengan keheranan karena belum sempat ia membayar, tangannya telah ditarik pergi oleh Yixing kembali kejalan.

“Kapan lagi aku bisa mentraktirmu Nayong ah, diwaktu depan belum tentu aku bisa mentraktirmu, bahkan berjalan-jalan seperti saat inipun aku tak tau apakah mungkin bisa.” Yixing menyeruput Moccachino Bloom dari gelasnya dan menatap Nayong dengan senyuman menawan.

Nayong seketika membeku melihat senyuman yang ditujukan untuknya dan mulai menyeruput milkshakenya sendiri, ia tau, menatap mata dan melihat senyuman Yixing adalah suatu hal yang akan membuat kerja jantungnya menjadi tidak normal, selalu seperti itu.

Maka setelah itu, suasana kembali hening sementara kaki mereka terus melangkah berjalan. Hingga tak sadar mereka telah sampai diujung jalan yang mulai sepi dan tak banyak orang yang berlalu-lalang.

Nayong melirik jam tangannya sekilas, waktu telah menunjukan pukul setengah lima sore. Ia melihat sekeliling dan kemudian teringat akan sesuatu hal.

“Aa! Oppa, aku harus menunjukanmu sesuatu. Kau mau ikut denganku?.” Nayong menatap Yixing, berharap mendapatkan jawaban positif dari lelaki yang sedang berdiri dihadapannya itu.

“Kemana?.” Yixing menautkan alis, penasaran ia akan dibawa kemana dan apa pula yang ingin ditunjukan oleh Nayong.

“Ikut saja denganku, oke?.” Tanpa mendengar jawaban pasti dari Yixing, Nayong telah menarik tangannya dan membawanya pergi semakin keujung jalan.

Yixing menurut dengan instruksi Nayong, ia tidak keberatan keteteran dibawa lari oleh Nayong, hanya saja nafasnya sempat terengah-engah dan akhirnya Nayong membiarkannya berjalan pelan dan melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi menempel ditangan Yixing.

“Lewat sini, oppa.” Nayong membimbingnya memasuki sebuah celah diantara toko tua yang sudah tak terpakai dan masuk kedalamnya.

“Kita akan kemana? Kau yakin ini jalannya, Nayong ah?.” Yixing mengernyit ngeri melihat celah yang berisi tumpukan kardus bekas dan beberapa box kayu yang telah usang. Diatasnya terdapat banyak ngengat dan membuatnya harus berjalan merunduk saat masuk semakin dalam kedalam celah itu.

“Tentu saja. Jangan khawatir oppa, sebentar lagi kita sampai.” Nayong memandang yixing yang memasang muka tak yakin dan mencoba meyakinkannya bahwa hal yang sedang dia lakukan cukup aman. Setidaknya dari penglihatan orang-orang yang bisa jadi mengenali sosok Yixing.

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati beberapa tikungan dicelah-celah berikutnya, akhirnya mereka sampai disebuah pintu yang dijagai oleh seorang lelaki yang sedang sibuk dengan ponsel ditangannya.

“Hai, Jack.” Sapa Nayong saat melihat lelaki penjaga pintu bernama Jack itu. Lelaki itu mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan mendapati Nayong tengah berdiri dihadapannya kemudian tersenyum lebar.

“Yonggu.. hei bagaimana sparing hari ini?.” Nayong dan Jack kemudian ber-high five dan Yixing terdiam dibelakang Nayong, memperhatikan yang sedang terjadi.

“Yeah, seperti biasa Jack, kau terlalu meremehkanku jika kau mengira kami akan kalah.”

Jack berdecak keras, kembali mendengar jawaban yang sama seperti biasanya. “Dasar gadis sombong..” Nayong terkekeh pelan dan Jack kembali meraih ponselnya. Yixing tersenyum miring, menemukan fakta bahwa gadis yang membawanya ketempat asing itu memang benar-benar senang menyombongkan diri dengan kemampuan basketnya. Tapi memang karena dia hebat, jadi Yixing tak pernah masalah menanggapinya.

Mata Jack yang tadinya telah beralih keponsel kini kembali menatap Nayong, lebih tepatnya kesosok yang sedang berdiri dibelakang Nayong.

“Pacar?.” Jack bergumam singkat, membuat perhatian Nayong yang sejak tadi masih terkekeh teralih.

“Eh?.” Nayong berbalik menatap lelaki yang sedang berdiri dibelakangnya, kemudian ia teringat dengan keberadaan Yixing. “Ah.. ini oppaku. Yixing oppa, kenalkan ini Jack, Jack ini Yixing.” Nayong mengangkat tangannya kearah Yixing dan kearah Jack secara begantian.

“Senang berkenalan denganmu, Jack.” Yixing membungkukan badan dan begitu juga Jack.

“Yixing? Kau artis baru SM kan?” Jack menatap Yixing dengan layar ponselnya secara bergantian. Kemudian tangannya terangkat menunjukan foto yang terpampang dilayar poselnya. “Ini? Lay?.”

Yixing hanya tertegun dan menjawab pertanyaan Jack dengan polos. “Iya, itu aku.” Yixing melirik Nayong, mempertanyakan apakah keberadaannya ditempatnya sekarang berdiri akan baik-baik saja, mengingat ia tidak seharusnya mendapatkan rumor dari orang luar. Nayong membalas tatapan Yixing dengan sebuah senyuman.

“Wow. Kau terlihat lebih tampan saat tatap muka daripada dilayar, by the way.” Gumam Jack. Kemudian tangannya kembali sibuk dengan layar ponselnya. Yixing hanya tersenyum dan menucapkan terima kasih dengan lirih.

Jack, it’s a secret, ok?.” Nayong berbisik pada Jack dan ia mulai melihat kekhawatiran diwajah Yixing, lalu tangannya menarik Yixing masuk kedalam pintu. Jack hanya mengangkat ibu jarinya tanpa sekalipun menatap kepergian mereka berdua dari hadapannya.

Mereka berdua kemudian masuk kedalam ruangan yang cukup gelap, hanya diterangi oleh secercah cahaya yang entah darimana sumbernya. Yixing mengerjapkan mata, mencoba mengenali tempat asing yang tertangkap oleh matanya.

“Kau yakin semua ini aman?.” Yixing mengernyit heran dengan seluruh hal baru yang dilaluinya saat ini. Telinganya mulai menangkap suara-suara yang berdengung dari suatu tempat.

Nayong kembali terkekeh, “Tenang oppa, semua yang ada disini adalah rahasia,” Nayong berbalik dan melihat wajah Yixing dengan lembut. Udara sejuk menyambut tubuh mereka dengan pelan, sedetik berikutnya mereka berdua menemukan tempat luas yang berisi kursi dengan jumlah yang banyak dan sebuah panggung besar dibagian depan, beberapa orang bediri diatasnya dengan membawa kertas. “Seperti tempat ini misalnya, ini juga sebuah rahasia.” Nayong berhenti berjalan dan berhenti sejenak ditempat mereka berdiri.

Yixing terlihat membuka mulutnya sedikit dan menatap tempat dihadapan mereka dengan takjub. “Woooow, bagaimana mungkin ada tempat yang tak terlihat sebesar ini di kota Seoul?.” Yixing melangkahkan kakinya menuruni tangga dan mengedarkan seluruh pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Nayong menyilangkan tangan didada dan tersenyum melihat Yixing terkagum-kagum.

“Tempat rahasia mana mungkin boleh diketahui orang asing?.” Nayong terkekeh pelan, menuruni tangga dan berjalan kearah bangku, membuat Yixing mengikuti dibelakangnya. Yixing terdengar tersentak dan kembali bicara.

“Jadi aku bukan orang asing?.” Nayong memilih bangku dibagian tengah dan mempersilahkan Yixing duduk dibangku yang ia tunjukan.

“Kau bukan orang asing bagiku oppa, aku bagian dari rahasia ini, jadi kau juga termasuk.” Nayong melebarkan senyum dan memamerkan giginya dalam cahaya remang-remang. Yixing hanya mengangguk mengerti dan mulai mencari posisi duduk yang nyaman.

Mata mereka berdua kemudian tertuju kepanggung, ketempat dimana beberapa orang sedang menghafalkan naskah dan seorang sutradara yang sedang mengatur-ngatur mereka.

“Ini teater yang sering kau sebut itu?.”

“Iyap!.” Nayong menjawab dengan mantap.

“Kau tidak ikut dengan mereka?.”

“Ini pertunjukkan khusus Valentine, hanya para sunbae saja yang berperan.”

Yixing terdiam mengamati, menunggu saat dimana Nayong akan menyombongkan dirinya lagi dengan seluruh hal yang hadir dihidupnya. Tapi setelah Yixing lama menunggu, Nayong tak kunjung membuka mulut, Yixing menoleh kearah Nayong dan mendapatinya sedang konsentrasi melihat latihan para pemain diatas panggung. Yixing mencoba mencari perhatian dengan melontarkan satu pertanyaan.

“Drama apa ini, Nayong ah?.” Yixing berhasil mendapat perhatiannya dan tersenyum menang.

“The Winter’s Tale.” Kemudian Nayong menceritakan seluruh isi dari drama tersebut. Menjelaskan siapa Florizel, siapa Perdita, bagaimana jalan ceritanya hingga siapa-siapa saja yang sedang memerankannya diatas panggung. Yixing kembali menemukan kesombongan disetiap kata yang diucapkan Nayong, itulah hal yang ia suka. Ketika Nayong terlarut dalam dunianya sendiri dan menumpahkannya dengan penuh kebanggaan pada orang lain. Satu sisi yang Yixing sukai dari Nayong. Ia bermulut besar.

Sebenarnya Yixing telah mengetahui seluruh cerita yang Nayong bicarakan. Ia pernah membaca cerita yang telah mendunia itu ketika masih dibangku SMA, ketika mengerjakan tugas Bahasa Inggris dari gurunya. Jadi tentu saja ia tau siapa Florizel, Perdita, Hermione hingga Dorcas si penggembala domba. Ia hanya memancing Nayong berbicara dan mendengarnya mulai menyombongkan diri. Sebenarnya Nayong bukan menyombongkan diri, tapi karena setiap kali ia menceritakan apa yang ingin ia bicarakan selalu terlihat menggebu-gebu sehingga membuatnya kelihatan sombong.

Sampai setelah cukup lama, cerita Nayongpun selesai dan kini kembali beralih kearah panggung. Hingga matanya menangkap orang yang sedang berjalan kearah mereka berdua, Nayong kemudian berdiri dan membungkuk kearahnya.

“Annyeong haseyo, Sunbaenim.” Yixing ikut berdiri dan membungkuk mengikuti Nayong.

Lelaki itu membalas Nayong dan Yixing,

“Nayong ah, sudah lama disini?.” Matanya menatap Nayong dengan teduh dan sesekali melirik Yixing.

“Sudah cukup lama, sunbaenim. Anda terlihat sedang sibuk, jadi saya hanya menontonnya dari sini.” Nayong memainkan ujung bajunya dan terlihat salah tingkah menanggapi lelaki itu. Yixing melihatnya dengan tidak senang dan diam memperhatikan sementara mereka berdua mengobrol dengan hangat, menganggap seolah-olah wujudnya tak ada.

Hingga akhirnya pembicaraan hampir selesai dan Yixing merasa agak kesal karena tidak dipedulikan.

“Baiklah, aku harus melanjutkan tugasku, jangan lupa datang tanggal 14 nanti, ne?.” Nayong mengangguk dan lelaki itu sudah hampir beranjak saat ia kembali menambahkan, “Dan jangan lupa ajak juga pacarmu. Siapa namanya?.” Yixing merasa terpanggil dan saling pandang dengan Nayong. Mulut mereka terbuka mencoba mengucapkan kata-kata.

“A.. aku..” ucapan Yixing tercekat ditenggorokan, kemudian Nayong melanjutkan.

“Di..dia bukan pacarku, sunbaenim. Dia temanku. Namanya Yixing.” Nayong mengoreksi.

Lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum melihat tingkah Yixing dan Nayong. “Ya..ya.. terserah kalian. Yang jelas jangan lupa tanggal 14, oke?.” Lelaki itu mengedipkan satu matanya dan tersenyum. Kemudian ia benar-benar berbalik meninggalkan Yixing dan Nayong yang masih terkejut dengan pernyataan tak terduga itu. Saat lelaki itu berjalan dan mulai meninggalkan bangku-bangku, ia berbalik dan berteriak, “Kalian terlihat cocok.” Yang diikuti tangannya dengan ibu jari yang terangkat.

Yixing dan Nayong saling pandang dan tersenyum sekilas.

.

Setelah mengabiskan beberapa waktu di ruang rahasia, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang dan bertemu lagi dilain kesempatan yang entah kapan itu.

Satu hal yang Nayong rasakan setelah seluruh kejadian hari ini. Perasaannya seolah-olah semakin bertambah pada Yixing dan semakin menyukainya. Tetapi disisi lain, ada alasan lain yang entah apa itu dan tak bisa ia ungkapkan mengapa ia semakin menyukai Yixing dan merasa janggal sehingga membuatnya gelisah secara bersamaan. Entah alasan apa yang membuatnya tak bisa mengungkapkan perasaannya, seperti sedang menanti sesuatu yang lain tentang Yixing.

Unreason point that I can’t confess.

Begitu juga dengan Yixing yang perasaannya tak banyak berubah setelah kejadian di ruang rahasia sebelumnya. Ia selalu menganggap Nayong adik dan menyayanginya seperti adik. Tapi mengapa ia merasa aneh dengan dirinya sendiri saat melihat Nayong berbicara dengan orang lain dan mengapa ia tercekat dan merasa ingin mengatakan bahwa ia lebih dari sekedar teman Nayong. Titik tertentu yang tak beralasan mengapa ia ingin terlihat lebih dimata Nayong dan keheranan tersendiri ketika Yixing mulai menyelipkan Nayong didalam hatinya, bersanding dengan orang lain yang masih mengisi hatinya.

Unreason point that I can’t say.

Ada poin-poin tertentu yang membuat suatu hal menjadi tidak beralasan. Alasan dari pertanyaan ‘mengapa’ dan membuatnya secara tidak langsung ingin tau apa ‘jawaban’nya.

Mungkinkah suatu saat nanti kau akan tau bahwa aku menyukaimu? –Nayong

Review readers sangat ditunggu 😀 terima kasih banyak telah membaca dan menikmati ^o^/

bboing~

Iklan

18 thoughts on “Puzzle Tub: Unreason Point

  1. anyeong..!
    akhirnya cerita couple ini hadir jugaa ^^
    I’m kinda curious about yixing-nayong storyline kkk~
    okee. disini aku suka sosok sporty-energetic Nayong .. 😀 apalagi kalo sma Yixing waaah.. jjang~
    oke, sekian. maafkan komen absurd ini /paipai/

  2. haloooo mella~ /lambai tangan bareng joonmyeon/
    Nayongnya tomboi2 gitu ya padahal aku kira girly2an /bahasa apa ini/
    xD
    tapi setidaknya aku tidak kepo lagi soal yixing-nayong’s story lagi dah

    • hallooooo bil~~~~ /kisseu bareng yixing/ eh XD
      hahaha iya ya? dia nggak tomboy” amat sih, cuma dia suka sport dan nggak bisa masak, sama ya? kekeke ya semacam itulah XD
      sip, makasih ya bil *peluk, kecup basah* 😀

  3. KAK MEL…. aku spechless.
    this girl…. err…. kurang lebih sama yang aku bayangin.
    oya sedikit banyak karena si nayong ini sekampus sama si lady, aku jadi kepikiran mempertemukan mereka someday. ^^

    • XD
      baguslah kalo dugaanmu benar, beda sama dugaanku ke Jules yang melenceng jauh muahahaha
      kamu tau dek, aku pun berpikiran sama, sampe kebawa mimpi astagah >,<
      kita bahas nanti dibelakang ya kekeke XD
      makasih reader udah RC :p lol

  4. Finally…
    aku telat baca dan komennya, ngelikenya dari kapan hari -.- parah.
    si yixing ini, gak sadar sama perasaannya apa gimana..apa emg dibuat gtu sih mella??
    atau gegara cerita lalunya sama jules -.-a
    aku bingung. jadi ayoo jelasin sebenernya ini yixing kenal jules ato nayong dlu sih…
    aaa~kepo aku 😀

    • hihihi nggak apa kak 😀
      ahhh, gimana ya? jawabannya ada beberapa di side storynya julay sebenernya kak,
      aku nggak mau bocorin ah nungguin dekdepi publish punya dia aja 😀
      penjelasan menyusul kak kekekek
      sip kak, ditunggu aja 😀
      makasih udah RC :3 /kasih channie/ 😉

  5. Ping balik: Red Dress | EXO Girl's Daily

  6. Ping balik: Puzzle Tub: Invisible | EXO Girl's Daily

  7. Ping balik: Puzzle Tub: Speak Now | EXO Girl's Daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s