SeHee’s Story : Punishment to be Love

SeHee Story—Punishment to be Love

 

Author : Lilotus

 

Cast :

Oh Sehun

Han Jaehee

 

Main cast :

Han Raehee

Park Sang Sun

a/n: 

Ini FF aku buat ngebut, eh nggak juga sih berminggu-minggu lah buatnya hehe. Tapi semoga suka ya, happy Reading ^^ don’t forget to comment. Aku juga post FF ini ke wp pribadi aku lilotus.wordpress.com kamsa o(^v^)o

 

+ + +

            “A—aku menyukaimu, Sunbae-nim. A-aku mau sunbae menjadi… pacarku”

Tangannya mencengkram T-shirt berwarna hijaunya. Kepalanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus. Ia memejamkan matanya erat dan jantungnya berdetak kencang menunggu jawaban yang akan diberikan oleh laki-laki yang berada dihadapannya ini. Ia tidak berharap lelaki ini akan menerimanya malah ia berharap lelaki yang bernama lengkap Oh Sehun ini menolaknya mentah-mentah. Ia akan sangat bersyukur akan itu.

Jika kalian ingin tau, ia melakukan hal ini bukan dilandaskan oleh cinta atau suka atau macam lainnya. Ia melakukan hal ini karena mendapat hukuman dari seniornya yang terkena tumpahan minuman yang dibawanya. Dan disinilah dia, sedang melakukan hukuman dari seniornya tersebut. Daripada harus menyukai orang yang selalu mengeluarkan hawa dingin sepertinya ia memilih menyukai lelaki culun, tidak terkenal, dan bertompel. Apa? Tunggu, yang terakhir itu hanya bohong.

Sudah sekitar 10 menit ia menghitung lelaki dihadapannya ini belum menjawab. Ia meruntuki pria itu—Sehun—dalam hati karena membuatnya pegal harus menunduk dan berdiri seperti sekarang ini. Rasanya ingin ia memarahi lelaki ini tetapi setelah ia pikir ulang kembali aneh jika seorang perempuan yang menyatakan perasaannya kepada laki-laki tetapi memarahi laki-laki itu karena lama merespon pernyataannya.

Diam-diam ia melirik jam tangan birunya dan sudah 15 menit berlalu dan itu membuatnya tidak tahan. Sambil menahan emosi ia—Han Jaehee—mengangkat kepalanya dan mendapati sosok yang bernama Sehun itu sudah tidak ada ditempat, dihadapannya, di depan matanya, dan sukses membuat mulutnya menganga.

“Di-dia—“

Amarahnya dan rasa malunya cukup membuat mulutnya kelu untuk berbicara. Tangannya terangkat untuk menjambak rambut selehernya yang berantakkan tertiup angin. Bagaimana bisa lelaki itu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan suara langkah apapun dan tanpa memberinya jawaban. Tunggu, kalau lelaki itu pergi tanpa memberikannya jawaban artinya ia ditolak secara mentah-mentah bukan? Seketika Jaehee langsung mengucap syukur dalam hati akan kenyataan itu. Tetapi sesuatu membuatnya menghentikan gerakkannya. Perlahan tangannya turun sambil menarik sebuah post it berwarna putih yang tertempel di rambutnya. Dan tulisan yang tertuang di kertas itu sukses membuat mulutnya terbuka lebar.

Perempuan yang baru berada di tingkat satu universitas Korea Selatan itu jatuh terduduk dengan kertas yang terlepas dari tangannya.

Tidak! Ini tidak mungkin, bagaimana bisa?!

Seakan tidak percaya dan menganggap semuanya mimpi, Jaehee mengambil kertas itu dan membaca tulisan itu lekat-lekat. Mendekatkan wajahnya dengan kertas itu—membacanya pelan-pelan sebelum akhirnya mendesah frustasi dan kembali mengacak rambut hitamnya.

‘Aku terima’

Ia rasa, kehidupannya akan berubah menjadi suram.

+ + +

            Dia Oh Sehun. Mahasiswa tingkat dua dari Universitas XX. Lelaki yang memiliki mata dingin, tatapan tajam, dan bibir yang tergolong kecil. Lelaki terkenal yang di puja oleh semua perempuan di universitasnya—kecuali dirinya. Lelaki yang menerima dirinya sebagai ‘kekasihnya’ dan membuatnya depresi selama beberapa jam—tidak, bukan beberapa jam mungkin selamanya ia akan depresi. Lelaki yang sebenarnya ia tidak tau dan ia tidak kenal sebelum seniornya memberikan hukuman padanya waktu itu. Bodohnya, ia menuruti perkataan seniornya itu sehingga disinilah ia, terperangkap dalam status ‘kekasih Oh Sehun’.
Sejujurnya ia tidak enak hati dengan lelaki itu yang tidak tau alasan mengapa dirinya ‘menembak’ lelaki itu tepat pada saat pergantian mata kuliah dan ia tidak tau bagaimana harus menjelaskan kepada lelaki itu. Ia kembali menghela napas.
Mungkin memang keberuntungan tidak berada dipihaknya untuk beberapa hari ini karena kemudian saat tengah berjalan ia menabrak seseorang dan membuat buku yang ia bawa jatuh. Ia meruntuki dirinya yang tidak focus saat berjalan dalam hati dan bergegas memunguti bukunya tetapi dirinya tidak kalah sigap dengan sosok yang ditabraknya. Jaehee membungkuk, mengambil bukunya, dan pergi saat setelah mengucapkan kata terimakasih kepadanya.

“Hei”

Jaehee terus berjalan dengan cepat menuju kelasnya dengan kepala tertunduk. Rasanya ingin cepat sampai kelasnya agar kejadian seperti tadi tidak terjadi lagi karena pikirannya yang tidak fokus. Tetapi tiba-tiba ia merasakan dirinya tertarik dan memutar ke arah belakangnya membuat napasnya tercekat seketika. Dihadapannya ada sosok yang paling ia tidak ingin temui hari ini—tidak, bukan hari ini tapi sampai kapanpun.
“Oh—sunbae-nim”, dia berkata dengan terbata-bata.

Lelaki itu—Oh Sehun—hanya menatapnya dengan tatapan datarnya dan tangannya masih menggenggam tangan Jaehee yang lebih kecil dari dirinya. Jaehee yang ditatap seperti itu menundukan kepalanya—takut menatap wajah lelaki dihadapannya ini. Selama beberapa menit mereka tetap dalam posisi seperti ini. Seakan tidak menyadari tatapan siswa yang berada di lorong kampus ini yang berbisik-bisik melihat mereka berdua. Disatu sisi Sehun yang entah mengapa tidak mengatakan apapun dan Jaehee yang tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun sehingga terjadilah keheningan panjang diantara mereka berdua.

Tidak tahan dengan suasana seperti ini Jaehee mengeluarkan suaranya.

“Su-sunbae-nim, bisakah kau melepaskan tanganku?”, tanyanya sambil tetap menunduk dan mencoba menarik tangannya.

Sehun tidak bergeming dan tetap menggenggam tangan Jaehee erat. Seketika Jaehee sadar, kejadian hari ini sama seperti hari kemarin—saat ia sedang menunduk dan ketika ia sadari pria itu tidak ada. Mengingat hal itu Jaehee mengangkat kepalanya dan mendapati Sehun masih menatapnya dalam seolah memasuki dirinya membuat matanya terpaku. Beberapa detik kemudian ia benar-benar merasa ingin menghilang dari dunia itu tepat ketika Sehun menempelkan bibir lelaki itu kepada dirinya dan menekannya membuat matanya terbelalak dan napasnya tercekat. Ia juga mendengar disekelilingnya terdapat pekikan tertahan dari perempuan—yang ia yakin dari penggemar Sehun—dan blizt kamera yang pasti membuatnya masuk berita paling Hot besok pagi di kampusnya.

Oh Tuhan, bisakah ia menghilang sekarang?!

+ + +

Seketika ia menjadi terkenal dalam sekejap. Selama ia berjalan menuju kelasnya semua orang—kebanyakan wanita—menatapnya tajam dan berbisik yang ia yakin membicarakan hal yang tidak baik tentangnya. Baik Sehun diancamnya lah, Sehun di guna-guna, Sehun dib la bla bla. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, locker miliknya penuh dengan pesan-pesan menumpuk yang membuatnya bergidik ngeri ketika membacanya.

Ia sudah tau inilah resiko menjadi ‘kekasih’ Sehun, apalagi ia bukan perempuan cantik atau pintar atau kaya di universitasnya.
Tepat ketika ia membalikan badannya tubuhnya terdorong kebelakang menabrak pintu locker yang terbuat dari besi itu yang sepertinya dapat membuat tulangnya retak sempurnya. Tapi untungnya itu tidak benar terjadi. Ketika ia membuka matanya didapatinya senior—yang saat itu memberinya hukuman—menatapnya dengan tatapan membunuh seakan ingin melahapnya hidup-hidup.

“Maksudmu apa hah?!”

Ia menutup matanya ketika merasakan telinganya berdengung mendengar bentakan seniornya yang membuat perhatian semua orang terpusat kepada mereka. Menonton kejadian antara dirinya dan seniornya seolah ini adalah tontonan seru nan gratis yang tidak boleh ditinggalkan.

“Mi-mianhae sunbae-nim”, cicitnya gugup.

“Maaf kau bilang?! Tidak ada gunanya untuk saat ini kau tau?! Kau apakan Sehun ku hah?!”

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak menjawab pertanyaan—yang terdengar seperti pernyataan—yang dilontarkan dari seniornya itu. Ia juga tidak tau mengapa Sunbae yang bernama Oh Sehun itu bisa menerima pernyataan cintanya—yang jelas-jelas ia tidak benar-benar menyukai Sunbaenya itu—dan menciumnya—oh, ia malu membahas hal ini—gadis sepertinya yang jelas-jelas tidak terkenal, tidak pintar, tidak cantik, atau pun kaya.

“Sa-saya juga tidak tau sunbae-nim”

“Tidak usah menjawab! Apa kau menjual dirimu kepada—Ya! Oh Sehun?!”

Jaehee mengangkat kepalanya ketika mendengar perkataan terakhir seniornya itu dan mendapati Sehun dengan tatapannya yang seperti biasa—datar dan dingin—sedang memegang tangan seniornya-nya. Tanpa ia sadari dalam hati ia bersyukur akan kehadiran Sehun yang tergolong tepat waktu. Tunggu, bersyukur? Ada apa ini?

“Sehun-a! Tepat sekali dirimu datang saat ini, sebenarnya ia itu—“

“Dia tidak menjual apapun padaku dan aku bukan milikmu”

Kalimat yang terdengar dingin itu sukses membuat mulut seniornya itu bungkam dan merubah suasana yang gaduh menjadi hening dan mencekam. Tatapan datarnya berubah menjadi menusuk—seolah menyuruh seniornya tidak membuka mulutnya—seperti pedang yang siap menghujam siapapun yang ditatapnya. Entah mungkin hanya pengelihatannya yang salah, diantara tatapan marah itu ia melihat ada tatapan lain dari lelaki dihadapannya ini tetapi ia tidak tau apa itu.

“Se-Sehuna” suara seniornya bergetar menahan tangis.

“Ayo kita pergi”

Ia terasa badannya tertarik pergi dari tempat kejadian itu. Hatinya merasa ada yang tidak sesuai dengan mereka berdua. Tapi apa?

+ + +

Ia menundukan kepalanya sambil memegang tas selempang berwarna coklat—yang belum sempat ia letakkan di kelasnya—yang berada dipangkuannya dan hanya diam. Disebelahnya Sehun juga melakukan hal yang sama. Diam sambil menatap lurus seakan menerawang jauh kedepan. Mereka berdua sedang berada di dalam mobil lelaki itu—Oh Sehun—yang sebenarnya membuat ia bingung mengapa lelaki yang memiliki rambut berwarna-warni ini membawa dirinya ke mobil lelaki itu. Sudah hampir 15 menit mereka tetap dalam keadaan hening seperti ini. Ia sendiri—yang sebenarnya tidak tahan dengan suasana seperti ini—menutup mulutnya untuk tidak bertanya apapun kepada lelaki disebelahnya karena ia yakin lelaki itu tidak sedang berada dalam mood yang baik.

“Kau tidak ingin bertanya apapun?”

“Ne?” Jaehee membeo.

“Kau tidak ingin bertanya apapun? Setelah melihat kejadian tadi?” lelaki itu mengulang pertanyaannya dan sukses membuat Jaehee berpikir.

Sebenarnya ia ingin bertanya dari tadi dan banyak sekali pertanyaan berputar dibenaknya tetapi karena melihat ekspresi lelaki disebelahnya yang seakan mengatakan bahwa ia-tidak-ingin-diganggu-sekarang ini ia mengurungkan niatnya. Dengan ragu ia menggelengkan kepalanya pelan membuat Sehun yang berada disebelahnya mendengus dan membuat pandangannya keluar jendela.

“Bertanya saja, aku tau kau mempunyai banyak pertanyaan dari ekspresimu itu”

Jaehee diam tidak membalas perkataan Sehun tetap mengkunci mulutnya rapat.

“Baiklah aku akan menjelaskannya sendiri”

Perkataan Sehun membuatnya menoleh menatap lelaki itu yang hanya menatap lurus ke depan—menunggu. Suara mesin mobil menyala terdengar di telinganya mengisi keheningan sementara di mobil Lamborghini Reventon miliknya. Lelaki itu menyalakan mesinnya tapi ia tidak melajukan mobil itu pergi. Mungkin hanya untuk menyalakan pendingin mobil agar tidak panas.

“Dia itu kekasihku—dulu”

Jaehee memutuskan untuk mendengarkan dengan seksama dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam hati ia mengangguk, sepertinya pengelihatannya tadi tidak salah. Ia seperti merasakan ada yang tidak beres diatara Sehun dan seniornya dan inilah yang tidak beres.

“Kami berpisah belum lama sekitar beberapa minggu yang lalu, ia yang memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Aku menghargai keputusannya walaupun aku.. masih menyayanginya”

“Tapi beberapa hari yang lalu ia kembali mendekat kepadaku, dan membuatku menjadi tidak nyaman dengan sikapnya tiba-tiba itu, mencoba menjauh darinya”

“Ia terus mencoba mendekat denganku seolah ingin kembali padaku. Dan saat itu kau datang—“

Sehun tidak melanjutkan kalimatnya dan membuat suasana menjadi hening. Dari cerita yang ia dengar ia mengambil kesimpulan bahwa dirinya hanya sebagai sarana pelarian agar seniornya itu tidak mendekat kepada Sehun. Menyadari hal itu ia merasakan nyeri di dadanya yang ia yakin semua orang akan merasa seperti ini jika diperlakukan seperti itu.
Rasanya ia ingin meruntuki kejadian ini. Ia datang menjalankan hukuman seniornya itu tepat ketika Oh Sehun sedang menghindar dari mantan kekasihnya yang adalah seniornya yang menghukumnya ini dan laki-laki itu menerimanya untuk menghindari mantan pacarnya itu.

“Jadi—“

Suaranya membuat Sehun menoleh ingin tau apa kalimat selanjutnya yang akan dikatakan Jaehee. Jaehee menelan ludahnya sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.

“Kau—masih menyukainya?”

Ia menatap Sehun yang sudah memalingkan wajahnya seolah menghindar dari tatapan wajahnya. Terdengar helaan napas berat dari lelaki disebelahnya ini sebelum akhirnya ia mendapat jawaban yang membuatnya—tanpa ia sadari—menahan napas.

“Aku.. tidak tau”

+ + +

            “Su-sunbaenim?!—“

Pagi ini Jaehee dikejutkan dengan kedatangan Sehun di depan rumahnya. Tepat ketika ia membuka pintu rumahnya ia sudah dikejutkan oleh Sehun yang berdiri di depan rumahnya dengan tangan yang terangkat seolah ingin mengetuk pintu. Dan sampai sekarang ia masih belum mempercayai Sehun berada di depan pintu rumahnya.

“Hai, selamat pagi”

Lelaki itu menyapanya dengan ringan sambil tersenyum tipis kepadanya—yang membuatnya mengeryit tapi tidak jadi—seolah tidak ada masalah disini tetapi memang tidak ada yang salah disini hanya dirinya yang belum percaya dengan kehadiran Sehun di rumahnya. Ia mengintip keluar dan melihat mobil yang kemarin dinaikinya terparkir indah di depan rumahnya.

“Bagaimana kau tau rumahku?”

“Mudah saja, aku bertanya kepada teman sekelasmu”

Jaehee mengangguk pelan sambil menatap Sehun dengan tatapan bingungnya. Ia baru ingat, lelaki seperti Sehun pasti dengan mudah dapat mendapatkan informasi tentang papaun, siapapun yang ia ingin ketahui. Kemudian mereka tidak melakukan apapun dan hanya diam tidak berpikir bahwa waktu terus berjalan dan mereka dapat terlambat jika semakin lama diam.

“Bagaimana jika—“

“Ya eonni-ya! Kenapa tidak—Ohh, siapa ini eonni? Pacarmu?”

Suara seorang perempuan menyela kata-kata Sehun membuat mereka berdua terkejut. Jaehee sedikit menjauhkan tubuhnya karena adiknya—Han Raehee—yang menyempilkan dirinya diantara Jaehee dan pintu ingin melihat sosok lelaki yang asing dimatanya. Sehun menatap Raehee terkejut sebelum akhirnya membungkuk untuk memperkenalkan diri.

“Selamat pagi, Oh Sehun imnida”

“Wah sopan sekali dirimu oppa, Han Raehee imnida adik dari Jaehee eonni. Hei eonni, dia ini pacarmu?”

Jaehee mendecak mendengar Raehee yang memanggil Sehun dengan panggilan ‘oppa’ dan bertanya seakan mengintrogasinya. Sekilas ia melihat Sehun yang masih diam di hadapannya dan menatapnya bingung. Ini yang ia takutkan, adiknya saja sudah seribut ini ketika bertemu dengan Sehun bagaimana jika orangtuanya yang bertemu dengan lelaki ini? Jaehee mendorong sedikit tubuh Raehee yang menyempitkan pintu.

“Ya, bu-bukan dia ini—“

“Aku namjachingu-nya”

Ia menatap Sehun dengan tatapan terkejutnya dan mendengar pekikan tidak percaya Raehee yang dapat membuatnya tuli seketika. Sehun dihadapannya tertawa geli melihat ekspresi Jaehee yang menurutnya lucu ini. Ternyata menggoda gadis ini menyenangkan juga. Tiba-tiba ia merasa ditarik dan terdengar teriakan yang tidak jelas di telinganya. Dilihatnya Jaehee yang menarik tangannya pergi dari rumah gadis itu dengan wajah merah padam. Ia terkekeh kecil sebelum akhirnya melangkah lebih cepat dari ‘gadisnya’ dan ganti menggengam tangan Jaehee yang terasa kecil ditangannya.

Dibukanya pintu mobil sebelah kanan mempersilahkan gadis itu masuk sambil memberikan senyum yang jarang sekali ia tunjukan untuk siapapun tetapi melihat gadis ini membuatnya tersenyum. Mungkin ini hanya perasaan tertarik.

+ + +

            Mereka berada di sebuah taman bermain sekarang tepatnya di Lotte Word. Karena mereka telat masuk kelas akibat Raehee—adik Jaehee—yang bertanya sangat banyak sehingga menghabiskan banyak waktu untuk mengatasinya alhasil mereka berdua—Sehun dan Jaehee—terlambat. Dan atas usulan Sehun mereka pergi ke tempat ini dengan alasan

 

‘daripada kita kembali ke rumah dan tidak melakukan apapun lebih baik kita berjalan-jalan ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu, bagaimana?’

Setelah berpikir beberapa saat Jaehee menyetujui alasan Sehun. Tetapi ia kembali diam dan menyadari, apakah ini ajakan kencan? Dengan cepat ia usir pikiran itu mengingat Sehun yang menerimanya hanya untuk menghindari seniornya.

Sehun berjalan mendekati Jaehee yang sedang duduk di salah satu bangku taman sambil kedua tangannya membawa gulali untuk mereka berdua. Setelah menaiki beberapa wahana mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Lelaki itu langsung mendudukan tubuhnya tepat disebelah Jaehee dan membuat gadis itu menoleh dan tersenyum.

“Ini untukmu”

“Wah, terimakasih Sunbae-nim”

Gadis itu langsung menikmati gulalinya sambil mengamati orang yang lalu lalang di depannya tanpa menyadari Sehun yang menatapnya lekat. Matanya menelusuri wajah Jaehee dari samping yang terlihat menarik di mata laki-laki itu. Seketika ia tersadar, ada apa ini? Mengapa ia jadi mengagumi wajah gadis yang sebenarnya hanya sebagai tempatnya menghindar. Oh, ia akui kata-kata itu terdengar jahat tapi memang itu lah sebenarnya dan gadis itu pun sudah tau karena ia sudah menjelaskannya saat itu tetapi respon gadis itu hanya diam. Lelaki itu mengalihkan pandangannya dan mulai memakan gulali yang dibelinya tadi.

“Sunbae-nim bagaimana jika—“

“Panggil aku oppa”

Jaehee menatap Sehun bingung dan juga tidak percaya akan apa yang dikatakan lelaki itu. Ia merasa seperti ada yang salah dengan pendengarannya sekarang, apakah ia tidak salah dengar tadi? Oh Sehun menyuruhnya memanggil lelaki itu dengan sebutan “oppa|? Sehun yang menyadari tatapan Jaehee berusaha untuk tidak menoleh ke arah gadis itu dan tetap menikmati gulalinya sambil berpura-pura mengamati orang yang berlalu lalang.

“Ye?”

Lelaki itu tetap memakan gulalinya kemudian menatap Jaehee yang menatapnya sama seperti perkiraannya. Membuatnya ingin tertawa namun diurungkan niatnya itu. Sehun menatap Jaehee dengan tatapan datarnya.

“Panggil aku oppa, jangan ‘sunbae’ aku ini kan pacarmu”

Ada rasa yang aneh di perut Jaehee saat mendengar Sehun mengatakan ‘pacarmu’ kepadanya seperti geli yang membuatnya tidak nyaman. Jaehee menunduk menyembunyikan wajahnya dari Sehun dan merasakan wajahnya yang tiba-tiba memanas dan pasti merah seperti kepiting yang di rebus dalam air panas. Sehun tersenyum geli melihat gelagat Jaehee kemudian menarik napas untuk menyembunyikan senyumannya.

“Ayo kita berkeliling”

Kemudian lelaki itu bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi membuat Jaehee terkejut dan ikut bangkit. Jaehee menatap Sehun yang sudah berjalan menjauh darinya lalu mengikutinya sambil berlari kecil dari belakang karena langkah besar lelaki itu. Ditatapnya punggung tegap lelaki yang bernama Oh Sehun itu dengan tatapan yang tidak menentu. Dalam hati ia berpikir, sebenarnya bagaimana perasaannya kepada Sehun yang sebenarnya?

+ + +

            “Terimakasih su—oppa yang mau mengantarku pulang”

Gadis itu membungkuk sedikit kepada Sehun yang berdiri di hadapannya—di samping pintu mobilnya. Langit semakin menggelap hanya menyisakan sedikit semburat jingga di langit. Matahari semakin tenggelam digantikan bulan yang muncul menerangi kota tetapi tidak membuat aktivitas semua orang terganggu atau terhenti, mereka kerap melakukan aktivitas walaupun sudah menjelang malam. Sehun hanya tersenyum sambil memainkan kunci mobilnya.

“Tidak masalah, aku memang harus membawamu pulang dengan selamat kan? Ha ha ha”

Ia tersenyum mendengar tawa renyah lelaki yang berada di hadapannya ini. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri Jaehee menatap wajah Sehun yang tertawa. Mata yang ikut melengkung manis, gerakkan tangan yang menutup mulut lelaki itu, dan suaranya yang membuat Jaehee diam terpaku seakan terhipnotis. Oh! Tidak tidak, apa yang ia pikirkan? Alihkan pandangan.. alihkan pandanganmu Han Jaehee! Alihkan!

Tawa Sehun terhenti ketika menyadari Jaehee yang diam menatapnya lekat-lekat. Ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis itu membuat gadis itu mengerjap kembali dalam kesadarannya dan muncul semburat merah di pipinya. Sehun terkekeh melihat wajah Jaehee membuat gadis itu meruntuki dirinya.

“A-aku pergi”

“Tunggu!”

Jaehee berhenti melangkah dan berbalik menatap Sehun yang sedang menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha tidak menatap Jaehee tetapi sesekali menatap ke arahnya.

“Ne?”

“Eum… besok aku akan menjemputmu lagi. Oke, aku pergi”

Seakan masih tidak percaya dengan pendengarannya Jaehee tetap diam di tempatnya dan menatap kosong mobil Sehun yang sudah melaju pergi meninggalkan rumahnya. Perutnya terasa geli seperti ada kupu-kupu yang beterbangan yang membuatnya ingin tersenyum. Wajahnya merah memanas. Dia memeluk tasnya dan berbalik masuk ke dalam rumahnya.

Apa… ia jatuh cinta?

+ + +

            Sehun menekan tombol berbentuk gembok di kunci mobilnya dan membuat bunyi tanda mobilnya telah terkunci. Pagi ini sesuai janjinya ia menjemput gadis itu—Jaehee—dan sesuai dengan perkiraannya gadis itu terkejut dengan kehadirannya. Ia terkekeh pelan mengingat ekspresi gadis itu dan berjalan sambil memainkan kunci mobilnya. Melihat ekspresi gadis itu entah selalu dapat membuatnya terkekeh geli mengingatnya.

Tiba-tiba langkahnya berhenti dan senyumnya memudar melihat sosok yang berdiri dihadapannya. Ia menatap tajam sosok gadis itu dan memasukan tangannya kedalam kantung celananya. Gadis itu menatapnya dengan tatapan sedihnya yang membuat Sehun mendengus dan melanjutkan langkahnya melewati gadis itu, namun dengan cepat tangan gadis itu menahannya membuat langkahnya terhenti.

“Aku mohon, kita perlu bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Dengan pelan Sehun menarik tangannya dari genggaman gadis itu tetapi gadis itu menggenggam tangannya erat dan membuatnya berdecak sebal. Ia melemparkan tatapan tajam kembali ke gadis itu namun tatapannya tidak membuat gadis itu mundur malah membalas tatapannya dengan wajah memohon.

“Sebentar, aku mohon disini saja”

Sehun menatap gadis itu yang masih menatapnya dengan tatapan memohon kemudian berdecak—membuang tatapannya dan melihat jam tangannya yang bergerak dari detik ke detik.

“Aku beri waktu lima menit”

Gadis itu tersenyum lega dan menatap Sehun yang membuang muka tidak mau menatapnya. Ia tau, gadis itu tau kalau dirinya salah. Ia pergi tanpa alasan tertentu kemudian kembali lagi seakan lelaki itu adalah mainannya dan ia pantas mendapatkan semua ini. Tetapi satu hal yang lelaki itu belum tau dan ia harus memberitahunya, tentang lelaki itu dan adik kelas yang saat itu menumpahkan minuman ke pakaiannya yang membuat semua rusak. Dan itu karena ulahnya sendiri.

“Ini tentang gadis itu”

Sehun sedikit mengeryit bingung mendengar mantan kekasihnya yang bernama Park Sang Sun yang menyebut-nyebut gadis itu yang pasti adalah Jaehee. Untuk apa gadis ini membawa-bawa Jaehee dalam urusan mereka? Sehun tetap diam mendengar kelanjutan perkataan Sang Sun. Sang Sun sendiri menatap Sehun berusaha membaca ekspresi yang akan ditunjukan lelaki dihadapannya ini. Tetapi yang ia dapati lelaki itu tetap dengan ekspresi datar dan dinginnya dan itu membuatnya tersenyum dalam hati.

Kau masih hebat dalam menyembunyikan ekspresimu Oh Sehun

 

“Ada hal yang kamu tidak tau dari dirinya”

“Apa?”

Sang Sun tersenyum penuh arti ketika mendengar Sehun sudah merespon kata-katanya yang berarti bahwa lelaki itu tertarik dengan pembicaraan ini. Walaupun lelaki itu tidak menatapnya tapi ia yakin bahwa Sehun sudah terpancing. Sang Sun bersedekap sambil menatap Sehun dengan senyum yang tetap terpasang di wajahnya.

“Dia..”

Dan semua sudah selesai sekarang.

+ + +

            Jaehee merapihkan bukunya bersiap untuk pulang. Kelasnya sudah kosong karena memang bel pulang sudah berbunyi namun dirinya tertahan oleh dosennya yang menyuruh dirinya untuk membantu barang-barang beliau ke ruangannya sehingga disinilah ia sendirian dalam kelasnya sedangkan semua temannya tidak ada yang berbaik hati untuk menemaninya. Ia menoleh keluar jendela bermaksud untuk melihat langit yang ternyata sudah menggelap—mendung—yang menandakan akan hujan besar. Dan ia semakin terburu-buru merapihkan bukunya agar tidak terjebak atau kehujanan nanti.

Tepat ketika gadis itu sudah selesai merapihkan bukunya yang besar dan membuat tasnya semakin berat, dirinya dikejutkan oleh sosok laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu kelasnya menatapnya dengan tatapan dingin dan tajamnya.

“Su-sunbaenim, kau mengejutkanku”

Sehun tidak menanggapi perkataan Jaehee dan tetap menatap gadis itu tajam. Lelaki itu semakin berjalan mendekat dan membuat Jaehee mundur sedikit demi sedikit. Gadis itu menatap Sehun dengan tatapan bingung sekaligus takut. Dan ia merasa ada yang tidak baik yang akan terjadi nanti. Sehun berhenti berjalan tepat ketika Jaehee sudah tersudut ke tembok dan membuat mereka berjarak sekitar satu meter. Jaehee mendekap buku yang tidak muat masuk ke dalam tasnya.

“Sunbaenim.. ada apa?

“Aku sudah tau, semuanya”

Jaehee mendengar suara Guntur tepat ketika Sehun mengatakan hal itu. Tangannya semakin memeluk buku tebalnya erat dan menatap Sehun dengan tatapan takut. Sehun yang menyadari tatapan itu berusaha tidak mempedulikannya. Ia sudah mendengar semua penjelasan dari Sang Sun—mantan kekasihnya—dan membuatnya marah ketika mendengar semua itu. Tapi itu yang membuatnya bingung. Mengapa dirinya merasa sakit dan sedih mendengar yang sebenarnya. Mengapa ia harus merasa seperti ini padahal pada awalnya ia tidak mempunyai perasaan apapun terhadap gadis ini?

Jaehee merasakan matanya memanas dan memburam tertutup air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia sudah tau cepat atau lambat lelaki ini akan mengetahui semuanya dan ia yakin ia seharusnya sudah siap, tetapi mengapa menjadi sesakit ini? Mengapa semua harus terkuak sekarang? Jaehee menatap Sehun yang masih menatapnya tajam namun tersirat kesedihan disana. Ia melihat Sehun menghela napas.

“Su—sunbaenim a-aku..”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan kembali. Aku minta maaf dan kita selesai”

Ia merasakan air matanya menetes jatuh membasahi lantai tepat ketika lelaki itu membalikan badannya dan beranjak keluar kelasnya pergi meninggalkannya. Gadis itu jatuh terduduk, kakinya terasa lemas dan tangisnya pecah mengisi keheningan ruangan ini dengan isakannya. Jaehee menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuat air matanya membasahi kedua tangannya.

Saat itu hujan sudah turun dengan derasnya, bunyi Guntur dan kilat yang muncul silih berganti seakan ikut merasakan kesedihannya. Mengapa ia baru menyadari sekarang? Mengapa semuanya harus terjadi sekarang? Mengapa rasanya sesakit ini bagaikan tersayat pisau tajam. Ia baru menyadari bahwa ia sudah jatuh kedalam hati lelaki itu. Jatuh sangat dalam ke hati Oh Sehun.

+ + +

            Sudah kesekian kali lelaki itu menghela napas frustasi, sudah kesekian kalinya ia melamun menatap kosong ke luar sana, dan sudah kesekian kali juga sahabatnya menegurnya—menyadarkannya. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya menarik cangkir yang berada di dekatnya dan meminumnya tanpa melihat-lihat dulu. Alhasil ia merasakan lidahnya terbakar karena panas kopi yang ia minum tadi.

“Kenapa kau tidak mengatakan kalau ini masih panas heh?”

Ia merasakan pukulan keras dikepalanya dan langsung menatap tajam temannya yang memukul kepalanya dengan majalahnya—tidak terpengaruh dengan tatapan tajam darinya.

“Kau tidak bertanya, bodoh”

Ia berdecak sebal dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk milik sahabatnya itu sambil memainkan rubric yang sudah tersusun rapih. Ia memutar, membali, memainkan rubric itu tetapi tidak tau apa yang harus ia lakukan, kemudia ia melempar rubric itu kearah lelaki yang sedang membolak-balikan majalahnya membuat laki-laki itu memelototinya tetapi tidak dihiraukannya tatapan itu. Lelaki itu menutup matanya dengan sebelah tangannya dan kembali menghela napas.

“Ya kau benar, aku memang bodoh Luhan”

Lelaki yang dipanggilnya Luhan itu—yang sedang membaca majalah—menutup majalahnya dan menatap sahabatnya yang terlihat uring-uringan tidak menentu dengan tatapan bingung sekaligus prihatin. Ia mengambil rubric yang diacak oleh sahabat sejak kecilnya itu dan merapihkannya kembali.

“Sebenarnya kau kenapa Sehun-a”

Lelaki yang ternyata Sehun kembali menghela napas. Etah sudah berapa kali ia menghela napas 10 kali? 50 kali? 100 kali? Ah terserahlah, ia tidak peduli dengan semua itu yang ia pikirkan sekarang adalah mengapa ia menjadi seperti ini semenjak kejadian beberapa hari yang lalu dan itu membuatnya sebal. Sehun menurunkan tangannya dan menatap langit langit apartemen Luhan yang berwarna putih.

“Aku bodoh, dua kali aku dibodohi oleh wanita dan yang kedua ini membuat semua yang kulihat menjadi menyebalkan kau tau”

Luhan hanya berdeham merespon perkataan ah lebih tepatnya curhatan Sehun. Ia membiarkan lelaki itu berbicara panjang lebar kemudian akan memberikan saran atau masukan, seperti biasa.

“Aku hanya menjadikannya tempat menghindar dan tidak ada perasaan apapun kepadanya tetapi mengetahui yang sebenarnya membuatku marah tidak menentu—ah, kau tidak perlu tau apa yang sebenarnya itu”

“Aku pun tidak ingin tau”

Luhan tertawa mendengar penuturan Sehun. Sama seperti biasanya lelaki yang sedang curhat ini akan berbicara lebih banyak daripada biasanya, rasanya seperti ada bagian di otaknya yang rusak sehingga membuatnya banyak berbicara seperti ini. Sehun tidak ikut tertawa bersama Luhan dan tetap menatap langit-langit apartemen dengan kosong.

“Tetapi yang aku bingung adalah, mengapa aku menjadi seperti ini? Semua ini membuatku sebal kau tau?”

Luhan meletakkan rubriknya dan melipat tangannya sambil menatap Sehun yang terlihat melamun kembali. Ia akui lelaki itu sudah seperti kakek kakek tua yang sedang memikirkan bagaimana dirinya ketika nanti sudah tidak ada di dunia. Disaat seperti ini ia terlihat seperti mahasiswa di bagian psikologi daripada mahasiswa di bagian musik. Dan sepertinya memang ia menjadi seorang psikolog untuk Oh Sehun dan itu membuatnya geli membayangkannya.

“Menurutku kau mencintainya”

Sehun sedikit melirik kearah Luhan dan terkekeh pelan kemudian kembali menatap langit-langit apartemen.

“Jangan bercanda”

“Hei aku tidak pernah bercanda, aku sedang serius sekarang”

Sehun diam seolah merenungkan perkataan Luhan. Lelaki itu—Luhan—diam dengan ekspresi seolah berpikir apa yang akan dikatakan selanjutnya kepada Sehun kemudian ia menaikan kedua bahunya karena tidak tau apa yang ingin ia katakana lagi kepada lelaki frustasi disebelahnya.

“Itu saja kesimpulanku, lalu kau mau bagaimana sekarang?”

Ia melihat Sehun yang masih diam yang terlihat seperti berpikir. Matanya sudah tidak kosong seperti orang yang tidak mempunyai nyawa yang berarti bahwa lelaki berwajah datar itu sedang berpikir. Luhan menatap Sehun menunggu respon lelaki itu kemudian terkejut ketika Sehun bangkit dan pergi keluar apartemennya. Kemudian ia tertawa melihat tingkah laku sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya itu.

+ + +

            Jaehee menatap jam waker yang sudah menunjukan pukul tiga sore. Ia mengerang kemudian menggeliat dalam selimutnya demam kali ini membuatnya tidak dapat bergerak kemanapun, ibunya menyuruhnya untuk tidur dan beristirahat dan itu membuatnya menjadi bosan setengah mati. Gadis itu menerawang ke luar jendela yang menunjukan bahwa langit cerah. Karena kejadian seperti itu dengan bodohnya ia beralan santai di tengah hujan menuju rumahnya dan berakhirlah ia disini, terbaring lemah karena demam.

Tiba-tiba ia merasa ingin menangis kembali mengingat kejadian saat itu tetapi dengan cepat ia menghapus air mata yang menggenang itu. Tidak, ia tidak boleh menangis ia harus kuat karena inilah resiko yang pantas ia dapatkan. Tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya terketuk dan wajah Raehee yang menyembul dari balik pintu kamarnya dengan senyum lebar yang membuatnya curiga.

“Eonni, ada yang ingin bertemu denganmu—ah, ayo masuk”

Jaehee segera menutup wajahnya dengan selimut ketika melihat sosok lelaki yang berdiri tepat dibelakang Raehee tidak ingin lelaki itu melihat keadaannya yang buruk ini sekarang. Dalam hati ia meruntuki Raehee yang tidak memberitahunya lebih dahulu. Kemudian ia mendengar suara pintu yang tertutup pelan-pelan dan jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Ada apa ini? Hei jantung ada apa denganmu?

Jaehee diam menunggu apa yang akan terjadi kemudian tetapi ia tidak mendengar apapun, tidak ada suara, tidak ada langkah kaki, hanya terdengar suara ac yang dinyalakan dengan suhu yang tidak terlalu rendah. Ingin memastikan Jaehee membuka selimutnya pelan-pelan dan mendapati lelaki itu berdiri di depan tempat tidurnya menatapnya dalam diam. Gadis itu kembali menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Ia kembali meruntuki kebodohannya sekarang.

“Aku tau kau tidak tertidur. Aku ingin berbicara kepadamu”

Jaehee tidak bergeming dari posisinya. Bukannya tidak mau tetapi ia belum siap bertemu dengan Sehun dengan keadaan seperti ini. Rambut acak-acakan, wajah kusam karena tidak mandi berhari-hari maka dari itu ia tidak ingin membuka selimutnya. Sehun menatap Jaehee yang tetap tidak mau membuka selimutnya. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat gelagat Jaehee yang menurutnya menggemaskan tadi tetapi untuk tidak merusak suasana ia mengurungkan niatnya. Sehun menarik bangku yang terdapat di dekat meja belajar Jaehee dan duduk disamping gadis itu. Ia menarik napas sejenak kemudian mulai berbicara.

“Maafkan aku”

Jantung Jaehee semakin berdetak cepat ketika mendengar suara Sehun yang terdengar dekat dengannya. Ia tau lelaki itu duduk tepat disebelahnya—samping tempat tidurnya—karena mendengar suara bangku belajarnya tepat dibelakang punggungnya. Sehun menatap Jaehee yang tidur dengan tatapan tenangnya.

“Aku tidak tau ada apa dengan diriku, namun setelah kejadian itu aku..rasanya aku sangat marah, sedih, perasaanku tidak menentu dan aku tau mengapa aku menjadi seperti itu”

Jaehee masih tidak bergeming dan mendengar perkataan Sehun. Tangannya mendekap bantal guling miliknya berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang berdentum keras didadanya hingga terdengar sampai ke telinganya.

“Dan aku baru menyadari bahwa—“

Sehun menelan ludahnya dan membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Ia menarik napas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya yang ia tundah. Jaehee sendiri menutup matanya menunggu kalimat yang akan Sehun katakan.

“Aku… menyukaimu”

Jaehee merasa dirinya ingin meledak dan terkejut dengan perkataan Sehun. Wajahnya langsung memerah padam mendengar perkataan Sehun yang tidak ia kira. Jantungnya semakin berdetak cepat seperti ingin keluar dari tempatnya membuat Jaehee semakin mendekap gulingnya erat.

“Mungkin sejak pertama kali ke rumahmu, aku juga tidak tau”

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap Jaehee menunggu respon gadis itu. Seketika ia merasakan udara sekelilingnya menjadi panas setelah mengatakan perasaannya kepada gadis yang terbaring di hadapannya. Menunggu sekitar 10 menit namun Jaehee tidak merespon apapun akan perkataannya membuatnya menghela napas. Ini lah jawaban yang ia dapatkan, gadis itu menolaknya.

“Baiklah, ini saja yang ingin aku katakan, aku pergi dulu. Selamat sore, cepatlah sembuh”

Tepat ketika Sehun bangkit sebuah tangan menahan tangannya dan memebuatnya menoleh. Jaehee—dengan selimut yang masih menyelimuti sekujur tubuhnya—menggenggam tangannya sambil ada sesuatu yang menempel di telapak tangannya. Ia menatap Jaehee dengan tatapan bingung. Jaehee diam sambil berusaha mengatur detak jantungnya. Ia menarik tangannya dan membuat Sehun melihat sebuah kertas berwarna kuning yang terlipat asal di telapak tangannya.

“Bacalah ketika kau sudah berada di mobilmu, sekarang pergilah”

Sehun menatap Jaehee dengan tatapan bingung kemudian berjalan keluar kamar gadis itu dan menutupnya pelan. Setelah mendengar suara pintu yang tertutup Jaehee membuka selimutnya dan duduk dengan wajah yang masih memerah dan suhu tubuhnya yang meningkat. Ia langsung turun dari tempat tidurnya dan mendapati Sehun yang baru masuk ke dalam hatinya. Jantungnya berdetak kencang sambil tangannya meremas baju tidurnya. Entah mengapa ia merasa hari ini sangat cerah.

+ + +

            Sehun menatap jendela kamar Jaehee yang terdapat di lantai dua kemudian mengalihkan pandangannya kepada kertas yang diberikan gadis itu tadi. Dengan perasaan tidak menentu lelaki itu membuka kertas itu dan membaca tulisannya lekat-lekat kemudian tersenyum lebar dan terkekeh pelan. Ia menggantungkan kertas itu ke sela-sela kaca spion dan menyalakan mesin mobilnya lalu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah gadis itu dengan senyum yang tidak hilang.

Langit terlihat sangat cerah, tidak panas namun sejuk, dan semua disekelilingnya terasa bersahabat dengannya. Diliriknya kembali kertas tersebut tepat ketika ia terjebak di lampu merah. Perjalanan cintanya baru dimulai sekarang.

END

Iklan

17 thoughts on “SeHee’s Story : Punishment to be Love

  1. Hallo 😀 Aku udah like dari kemaren2 tapi baru baca dan kasih komen sekarang. Maaf yah -_-
    Mamamama! Jangan sampai aku pindah bias ke Sehun. Dia keren banget disini Tuhan TT *plaak *fangirl labil*
    Rasanya deg2an. wkwkwk. Pas bagian sehun tahu alasan yg sebenarnya dibalik pernyataan cinta Jaehee, terus pas mereka berduaan di kamar. Uh sweet! Aku menikmati banget bacanya dari awal sampai akhir. Dan mereka akhirnya beneran jadian. Asik!
    Hmm beberapa koreksi dari aku. Jangan lupa untuk kasih tanda baca sebelum tanda petik di akhir kalimat. Terus kaya kata-kata “didada” misalnya, itu kata ‘di’ dan ‘dada’ harus dipisahin sama spasi. Karena ‘di’ disitu bukan awalan, tapi kata depan yang menunjukkan tempat kan? ._. kecuali diikutin kata kerja. Maaf ya kebanyakan bacot atau terkesan sok –a Cuma mau kasih saran hehehe ^^v
    Anyway, nice ff. Aku nungguin lanjutannya dan harus lebih manis dari yang ini ya ^^

  2. uuuu, itu post it nya sama isinya kayak yg dikasih sehun ya? :3
    unik banget mereka, jadian gara2 ‘penembakan’ hukuman xD lol. Sehee lanjut ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s