Daehee Entrée : Beloved Fan

DaeHee Entrée -  Beloved Fan COVER

5th Daehee Entrée – Beloved Fan

Author : Eunroro13

Main Casts : Kim Jong Dae (EXO-M Chen), Shin Eun Hee (OC – @Eunheeshin13)

Other Casts : EXO members, Shin Gwangchul,  Shin Mi Ri (OC), Yoo Seung Woo

Genre : Romance | Length : 3.699 words | Rating : General (G)

Please read Shin Eun Hee’s Profile first!

—DaeHee Entrée | Eunroro13©2013—

“You’re my beloved fans.”

13th February, 2013 – 12:25 PM

Korea Kent Foreign School, Guui-dong, Gwangjin-gu, Seoul

Suasana kantin begitu ramai dengan sebagian siswa yang sedang mengantri menu makan siang mereka. Sebagian lagi tengah duduk bergerombol bersama teman-teman mereka sembari menikmati waktu istirahat makan siang. Tak terkecuali Eunhee dan temannya, Mi Ri. Mereka berdua menyantap kimbap dan kkakdugi bagian mereka dengan dibarengi omongan yang cukup seru. Sampai-sampai saat seseorang menatap keduanya tajam pun mereka tak menyadarinya. Orang itu cukup kesal karena tatapan mengancamnya tidak ditanggapi oleh para gadis yang sedang bergosip sedari tadi. Diletakkannya baki makanan miliknya dengan cukup kasar hingga menimbulkan suara yang cukup membuat para gadis itu menoleh ke arahnya.

“Oh, Seungwoo-ya. Ayo duduk disini,” ajak Eunhee yang tidak digubris sang lelaki bernama Seungwoo.

Ya! Kau kenapa? Mau sampai kapan kau mau berdiri disitu?” tanya Mi Ri heran. Dia dan Eunhee sama-sama mengernyitkan dahi dan bertukar pandang melihat Seungwoo yang menatap mereka dengan sedikit kesal.

“Harusnya aku yang bertanya kenapa! Kalian tega sekali meninggalkan ku sendirian di kelas!” rengek Seungwoo.

Eunhee dan Miri sama-sama mendecak pelan melihat tingkah laku sahabat mereka yang seperti perempuan manja. Eunhee dengan pandangan malasnya menatap Seungwoo yang sedari tadi terus saja melemparinya dengan tatapan kesal.

Ya! Kau itu tidur seperti orang mati kau tau! Salah sendiri saat kami bangunkan tadi kau tak bangun juga! Waktu itu berharga Seungwoo-ya.”

Kali ini giliran Seungwoo yang berdecak kesal saat Mi Ri menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Eunhee. Seungwoo mendesah pasrah dan beralih duduk di samping gadis ber-name tag Shin Eun Hee itu.

“Kau kan bisa memukulku atau apalah seperti biasanya,” gerutu Seungwoo. Eunhee dan Mi Ri pun memutar kedua bola mata mereka dan memilih untuk mengabaikan Seungwoo dan menghabiskan makan siang yang tersisa.

Beberapa menit kemudian makan siang mereka pun habis termakan dan mereka memilih untuk tetap duduk di kantin melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Sesekali Seungwoo menyela pembicaraan gadis-gadis itu dan langsung mendapatkan jitakan keras dari Eunhee maupun Mi Ri. Bagaimana tidak? Saat Eunhee atau Mi Ri tengah membicarakan kebaikan idola mereka, Seungwoo dengan juteknya menyela bahwa idola-idola tidaklah lebih baik darinya. Seungwoo bahkan dengan bangganya memuji dirinya sendiri sebagai tampan atau keren. Benar-benar menyebalkan.

“Aku juga sempat tertarik dengan EXO. Aku pikir konsep mereka cukup bagus. Tapi sayang mereka terlalu lama comeback. Aku benar-benar bosan mendengarkan lagu MAMA berulang-ulang,” kata Mi Ri.

Eunhee pun mengangguk pelan, tanpa sadar membenarkan perkataan sahabatnya itu. Diaa juga sependapat dengan Mi Ri. Hanya saja rasanya dia tak tega berkata seperti itu mengingat kedekatannya dengan member EXO yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.

“Makanya kalian dengarkan lagu ku saja. Aku sudah berduet dengan Huh Gak sunbaenim di lagu Monodrama. Kalian harus dengar suara merdu ku,” balas Seungwoo.

Ck, kau itu pede sekali Seungwoo-ya. Suara mu itu masih kalah bagus dengan suara Huh Gak,” ejek Eunhee.

Mi Ri mengangguk kemudian berkata dengan muka polosnya, “Benar. Kalau kau bukan teman ku, aku mungkin tidak tau kau itu penyanyi. Kau belum cukup terkenal.”

Sontak saja Eunhee tertawa mendengar perkataan Mi Ri dan reaksi muka Seungwoo yang merah padam menahan malu. Eunhee sebenarnya kasian melihat Seungwoo yang bersungut sedih karena ucapan Mi Ri dan tawanya. Tapi di sisi lain ucapan Mi Ri tadi benar-benar telak dan lucu sehingga dia tidak bisa menyembunyikan tawa. Eunhee menepuk bahu Seungwoo pelan setelah berhasil meredam tawa. Tangan Eunhee ditepis Seungwoo karena lelaki itu masih kesal. Eunhee terkekeh pelan melihatnya.

“Jangan marah, Seungwoo-ya. Mi Ri tidak bermaksud jahat padamu kok.”

“Tapi tidak juga harus mengatakan hal seperti itu di hadapanku kan. Kau juga Eunhee-ah. Kau menertawakan ku.”

“Mianhae Seungwoo-ya.” ucap Mi Ri tulus. Gadis itu merutuki omongannya dalam hati.

Eunhee mendesah lalu mengeluarkan ponselnya. Memainkan jarinya mencari sesuatu di dalam folder ponselnya itu. Setelah dapat, Eunhee menunjukkannya pada Seungwoo yang masih saja memberengut kesal.

Cha, lihat ini. Aku mendownload lagu mu dan menyimpannya di ponselku. Aku juga sering mendengarkannya.” bujuk Eunhee.

Hmm, aku juga. Adikku bahkan punya beberapa video performance-mu sewaktu masih di Superstar K-4. Maafkan aku. Kau cukup terkenal kok Seungwoo.” timpal Mi Ri sambil mengacungkan jempolnya untuk sahabatnya itu.

Perlahan Seungwoo menoleh kearah mereka berdua dan mulai tersenyum senang. Diambilnya ponsel Eunhee dan memainkan lagu Monodrama tadi sembari bergaya sedang memetik gitar. Eunhee dan Mi Ri tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu. Percakapan di antara mereka berlanjut cukup seru dan sesekali tawa menggema dari meja mereka.

“Ngomong-ngomong, di EXO kau suka siapa Eunhee-ah?”

Eunhee sedikit kaget dengan pertanyaan Mi Ri. Entah kenapa dia menjadi gugup menjawabnya. Setelah berpikir sejenak Eunhee menyebutkan nama Kris sebagai pilihannya. Dalam hati dia terus meminta maaf pada sosok Dae Oppa dan berharap semoga saja orang itu tidak mengetahui dan memaklumi pilihannya.

“Wah! Aku mengidolakan Luhan. Aku tidak menyangka dia 91 line. Mukanya terlalu imut untuk ukuran 91 line.”

“Kau benar. Luhan memang imut. Xiumin dan Baekhyun juga tak kalah imut.”

“Seungwoo apalagi!” timpal sebuah suara yang langsung berganti dengan suara mengaduh kesakitan. Eunhee tak sengaja menginjak kaki lelaki di sebelahnya yang langsung menggerutu kesal.

“Iya. Tapi sayang sekali Xiumin tidak terlalu terekspos. Padahal dia cukup tampan, walaupun tidak setampan Sehun menurutku.”

Diam-diam Eunhee mendesis pelan mendengar ucapan Mi Ri tadi. Baginya maknae itu tidak ada tampannya sedikitpun. Yang ada malah begitu menyebalkan apalagi kalau sudah urusan menggodanya.

“Tapi menurutku Sehun tidak se-perfect Kris.” ujar Eunhee.

“Benar. Kris memang sempurna. Ah tidak juga. Ku dengar dia suka menenteng boneka dan mengakui sebagai anaknya.”

Eunhee terkekeh pelan. Dia jadi ingat soal Ace dan bagaimana paniknya Kris saat dirinya menculik ‘anak’ sang leader itu ke supermarket. Kris begitu panik mencarinya dan menahan kekesalannya saat Eunhee mengembalikan Ace dengan muka seorang fangirl yang polos seraya meminta maaf. Kris hanya bisa menasehati Eunhee dengan sabar dan berjanji akan membolehkan membawa Ace kemana saja asalkan dengan izin. Sementara itu Chen terus saja melototinya karena Eunhee begitu jahil menurutnya.

“Yang penting dia tampan. Dia leader yang penuh kharisma. Ah! SM memang pintar memilih seorang leader!”

Mi Ri membenarkan. Seungwoo yang kesal karena tidak bisa terlibat dalam pembicaraan akhirnya menyibukkan diri dengan gadget miliknya. Bermain games setidaknya lebih baik daripada menjadi seonggok kacang, pikirnya.

“Tapi ada yang aku tidak suka di EXO.”

Eunhee terkejut mendengar pengakuan Mi Ri. Hatinya begitu was-was dan otaknya memikirkan berbagai kemungkinan nama yang akan disebut Mi Ri. Dalam hati pun dia berdoa semoga nama orang itu tidak akan disebut oleh sahabatnya.

“Si—siapa? Ke—kenapa kau tidak suka?” tanya Eunhee gugup. Oh ayolah Mi Ri. Jangan sebut nama itu. Setidaknya jangan di ha—

“Aku tidak suka Chen! Dia terlalu serius menurutku. Aku akui suaranya bagus. Tapi dia terlihat sinis. Entahlah, aku tidak suka saja.”

Eunhee tidak tahu harus menjawab apa selain dengan mimik sedikit terpaksa membulatkan mulutnya tanda mengerti. Dia tidak mungkin membela Chen di hadapan Mi Ri sekarang karena pasti Mi Ri menjadi curiga padanya. Tapi di sisi lain dia merasa tidak nyaman mendengar seseorang yang spesial untuknya tidak disukai orang. Entahlah, rasanya sedikit aneh dan bingung.

“Ak—aku pikir Chen lumayan kok. Suaranya luar biasa.”

“Ah tidak juga. Baekhyun dan D.O tak kalah bagus suaranya. Luhan apalagi. Luhan juga tampan. Ah aku benar-benar menyukai Luhan sepertinya.”

“Kalau kau bandingkan dengan Luhan tentu saja seperti itu. Menurutku Chen… Eng, de—dewasa?” kata Eunhee tak yakin.

“Dewasa apanya. Mukanya tampak tua. Kau suka padanya Eunhee?” tanya Mi Ri curiga.

Eunhee langsung menggeleng gugup. Mencoba mengatur ekspresi mukanya agar terlihat tidak terlalu mencurigakan di hadapan Mi Ri. Saat Mi Ri menyadari kalau dirinya telah mengatakan Kris sebagai idolanya, Eunhee mendesah lega. Walaupun sebagian hatinya masih merasa tak nyaman. Kekasihnya tidak disukai sahabatnya sendiri.

* * *

16th February, 2013 – 10:30 AM

Eunhee’s Apartment, Dongdaemun-gu, Seoul

From: Dae Oppa

Eunbee-ah hari ini kau ke dorm kami ya? Jam 1 siang nanti mungkin kami sudah tiba di dorm. Member yang lain ingin bertemu. Ck, menyebalkan! Kau sedang apa? Aku merindukanmu, Eunbee-ah.

Ps: Ini Baekhyun Seksi. Buat dan bawakan kami makanan yah Eunhee! Akan ku berikan kau ttd eksklusif ku sebagai hadiah. Tidak ada yang seberuntung dirimu Eunhee-ya.

Eunhee berdecak menerima pesan itu. Rasanya dia ingin muntah ketika membaca pesan yang ditulis oleh Baekhyun. Dalam hati Eunhee sempat berteriak kesenangan karena Chen merindukannya. Sama seperti dirinya sekarang, tapi terlalu malu untuk mengungkapkan terlebih dahulu. Eunhee beranjak dari kamarnya menuju dapur untuk membuat sedikit makanan yang bisa dia bawa.

Setelah sekitar dua jam berkutat di dapur dengan berbagai bahan, akhirnya Eunhee berhasil membuat dua buah makanan yang dibuatnya dalam wadah besar. Semoga cukup untuk manusia-manusia bernafsu makan besar itu, pikirnya. Dia baru saja selesai membungkus bawaannya sampai suatu suara berhasil mengagetkannya.

“Kau mau kemana membawa makanan sebanyak itu?”

Ya! Oppa mengagetkan ku saja! Urusan ku mau kemana. Oppa cerewet sekali.”

Gwangchul berusaha keras untuk tidak menjitak dahi adik satu-satunya itu, “Ya! Aku kan kakak mu! Wajar dong seorang kakak bertanya kepada adiknya. Kau itu jadi tanggung jawabku. Aku bisa dibunuh Eomma kalau nanti aku tak tahu apa-apa waktu dia bertanya.”

Eunhee mendesah pelan. Dia tidak mungkin berkata yang sebenarnya akan kemana. Bisa-bisa Gwangchul akan menahannya dan menyuruhnya memanggil Chen untuk menemuinya. Gwangchul diam-diam juga cukup protektif kepada adiknya.

“Aku akan berkunjung ke rumah teman bersama Mi Ri. Ada perayaan kecil-kecilan.”

“Makanan ini untuk apa? Memangnya temanmu itu tidak menyediakan makanan apa?”

Ya! Memangnya aku tidak boleh membuatkan temanku makanan apa? Oppa benar-benar cerewet seperti Eomma!”

“Cih! Aku cerewet demi kebaikan kita juga Eunhee-ah. Kalau terjadi apa-apa kau mau ditarik kembali ke Itali di bawah pengawasan ketat Appa? Kau dijamin tidak akan bebas dari berbagai tata krama yang menyebalkan itu. Kau mau?”

Eunhee bergidik membayangkan. Dia tidak mau kembali ke jurang ketidakbebasan itu. Bayangkan saja jika setiap hari dia disuruh memakai dress sekalipun itu di rumah. Alasannya kita tidak tahu siapa yang akan berkunjung ke rumah keluarga Eunhee yang notabene orang terkenal. Pasalnya ayahnya seorang diplomat dan ibunya seorang Pastry Chef yang cukup diperhitungkan di Itali. Kedua Eunhee cukup gerah jika pergerakannya selalu diikuti oleh seseorang yang disebut pengawal. Terlebih lagi dengan teman-teman ‘sepergaulan’ nya yang cukup membuat Eunhee tidak nyaman. Seperti boneka saja, pikirnya. Itulah mengapa Eunhee mengikuti jejak kakaknya untuk hidup terpisah dari kedua orangtuanya. Alasannya ingin mandiri yang tentu saja pada awalnya habis-habisan ditentang. Berkat bantuan Gwangchul dan janjinya untuk selalu memberikan nilai minimal B, Eunhee berada disini sekarang. Di Seoul dengan segala kebebasan yang dicarinya.

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu menurutlah denganku. Suatu saat Appa bisa saja membuat rencana tak terduga. Apa perlu kau aku antar?” tawar Gwangchul.

Eunhee mengernyitkan dahinya heran. Tidak biasanya kakaknya sebaik itu sampai ingin mengantarkannya segala, “Oppa sakit? Tumben sekali kau mau mengantarkanku.”

Gwangchul menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Eunhee semakin merasakan aura ganjil dari kakak ‘tercintanya’ itu.

“Tidak. Ya! Aku lagi baik kau malah curiga yang tidak-tidak! Aku hanya ingin menga—“

“Mi Ri sudah punya kekasih. Kau terlambat Oppa.”

Bingo! Gwangchul hanya bisa tertegun karena adiknya berhasil mengetahui apa maksud dia sebenarnya. Gwangchul bahkan sedikit terkejut karena harapannya langsung dijatuhkan oleh perkataan adiknya tadi. Bayangan-bayangan indah yang tadi disusunnya seolah buyar karena kalimat ‘sudah punya kekasih’ itu.

Eunhee menggeleng-gelengkan kepala menatap sang kakak. Kasian, batinnya. Eunhee berjalan ke arah Gwangchul lalu menepuk pundak kakaknya itu seolah menguatkan, “Oppa gagal lagi ya. Tenang saja Oppa. Masih banyak perempuan yang lain kok. Mau aku kenalkan?” goda Eunhee.

Ck, aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya Eunbo-ah. Tidak setelah sebelumnya kau menjerumuskan ku kepada noona-noona genit itu.” balas Gwangchul sambil bergidik mengingat dulu Eunhee mengenalkannya pada gurunya yang begitu genit.

“Ya sudah. Padahal tetangga sebelah sangat manis. Putih bersih dan imut sekali. Selalu memakai pita berwarna pink.”

“Benarkah?” ucap Gwangchul penasaran.

Eunhee mengangguk dan berjalan menuju pintu dengan bawaannya. Setelah memakai sepatu dan membuka pintu untuk keluar, dia melanjutkan rekomendasinya yang sempat terpotong tadi.

“Namanya Dolli. Anjing peranakan baru 7 bulan. Hahahahaha.”

Sontak saja mata Gwangchul membulat dan sadar bahwa dirinya kembali dikerjai oleh adiknya itu. Disusulnya Eunhee sampai ke depan pintu yang sudah lari terbirit-birit sambil terus tertawa puas.

Ya Shin Eunhee! Kau mau mati?! Aish! Ya! Shin Eun Hee!”

* * *

EXO Dorm, Gangnam-gu, Seoul – 15:45 PM

Benar saja setelah Eunhee datang sekitar 2 jam yang lalu, member EXO langsung mengerubungi dengan antusias terlebih saat melihat bungkusan makanan yang di bawa Eunhee. Baekhyun benar-benar memberinya ttd dengan sebuah pesan yang menurutnya begitu menjijikkan. Kesalnya lagi dirinya sedikit terlupakan karena para manusia kelaparan itu lebih sibuk berebut mencicipi makanan buatan Eunhee. Eunhee hanya bisa menghela nafas pasrah. Chen tertawa melihat ekspresi kekasihnya yang masih terlihat sebal itu.

“Terima kasih makanannya Eunbee-ah. Rasanya sudah lama tidak makan makanan rumahan.”

Eunhee mengangguk seadanya. Sedetik kemudian dia menoleh penasaran ke arah kekasihnya itu, “Memangnya kalian tidak makan di rumah?”

Chen tersenyum lalu mengusap pelan puncak kepala Eunhee, “Kami memesan makanan di luar. Mana sempat memasak di dorm dan membawanya setiap hari. Jadwal latihan benar-benar padat.”

Eunhee menatap Chen tak percaya. Tak sengaja dia menggigit bibirnya ketika memerhatikan raut wajah kekasihnya yang terlihat cukup kelelelahan. Terlebih lagi kantung mata itu. Sungguh Eunhee merasa kasian sekaligus bangga dengan perjuangan kekasihnya itu.

“Kau pasti lelah, Oppa.” lirih Eunhee.

Chen kembali tersenyum lembut ke arah Eunhee. Dia akui perkataan Eunhee benar adanya. Tapi rasanya semuanya hilang saat melihat Eunhee terlebih lagi mengetahui jika kekasihnya itu mengkhawatikannya. Perlahan tangannya menggapai Eunhee ke dalam pelukannya. Mencoba menghilangkan rasa lelahnya dengan menghirup aroma khas kekasihnya itu.

Hmm, aku lelah. Tapi tidak lagi saat kau kemari. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku Eunbee-ah.”

Eunhee mengangguk dalam dekapan Chen. Perlahan dirinya mulai membalas dekapan hangat itu dan mengusap pelan punggung kekasihnya. Beberapa menit mereka berpelukan cukup hangat tanpa menyadari sebelas pasang mata menatap iri dengan sumpit yang masih tergigit.

“Ya Tuhan! Mataku!” decak Baekhyun kesal.

“Ck ck ck. Eunhee ternyata bisa juga beradegan romantis seperti ini,” ejek Tao.

Hyung, peluk aku juga,” pinta Sehun kepada Luhan dan langsung diiyakan sang lelaki imut itu.

Ckrek. Suara kamera tiba-tiba terdengar dan berhasil memisahkan dua sejoli yang terus berpelukan sedari tadi. Sang pemilik kamera, Xiumin menyeringai jahil ke arah mereka berdua lalu dengan muka tenang menyerukan pikirannya kepada semua member.

“Foto paling mesra abad ini! Ekslusif dari Kim Min Seok! Satu foto hanya 10.000 won! Ayo siapa yang mau?”

“Aku hyung!” seru para member.

Eunhee membulatkan matanya dan langsung mengejar Xiumin yang lari terbirit-birit menyelamatkan dirinya menuju ke kamar. Blam! Eunhee yang kalah cepat langsung mengetok pintu kamar Xiumin sambil menendang-nendannya kasar.

Oppa! Hapus foto itu sekarang! Ya! Oppa!”

Chen hanya tersenyum melihat tingkah laku kekasihnya yang terbawa masuk ke dalam kejahilan para member. Tiba-tiba saja semua perasaan lelah yang ia rasakan tadi menghilang entah kemana.

* * *

Setelah berhasil memaksa Xiumin menghapus foto aib itu, Eunhee beralih untuk berkumpul bersama member lain dan kekasihnya yang tengah berkumpul di ruang tengah memandangi laptop. Penasaran, dia menggeser Sehun dan melirik ke arah layar laptop untuk melihat isinya.

“Eh? Fan café? Facebook?”

“Iya. Fans EXO terus bertambah. Ah aku senang sekali rasanya.” ujar Baekhyun berusaha menjawab rasa penasaran Eunhee.

“Coba saja ada survey yang menjawab siapa member EXO yang paling banyak fansnya. Aku penasaran seberapa banyak yang menjadi fans ku,” timpal Kai.

“Yang pasti lebih sedikit dibanding fans ku, kkamjong. Aw! Sakit Hyung!” aduh Chanyeol yang baru saja digetok kepalanya oleh Kris.

“Kau pede sekali Yeol-ah. Paling tidak aku berada di urutan ketiga jika bicara soal fans siapa yang paling banyak.” bangga Sehun.

Eunhee mendesis seraya menatap Sehun tajam. Laki-laki ini pede sekali, batinnya.

“Siapa bilang? Di sekolah ku fans mu tidak terlalu banyak kok.” ujar Eunhee yang sukses membuat Kai tertawa terbahak-bahak. Sehun menggerutu sebal sedangkan Chen menatap Sehun tidak enak. Meminta maaf akibat ucapan kekasihnya.

“Ah! Aku ada ide! Bagaimana kalau kita tanyakan ke Eunhee saja siapa member yang mempunyai fans paling banyak. Orang-orang seumuran Eunhee kan pasti banyak yang menjadi fans para idol. Nah Eunhee, kira-kira menurut mu siapa yang paling banyak mempunyai fans?”

Eunhee memasang mimik muka berpikir, “Aku pernah baca di internet kalau fans Kris Gege yang paling banyak.” ujar Eunhee yang sukses membuat Kris menepukkan tangannya tanda bahagia. Dia menang.

Chen berdecak pelan, “Jangan bohong Eunbee-ah. Itu karena kau fans Kris Hyung kan?”

Kali ini giliran Eunhee yang berdecak pelan. Chen selalu bisa membaca pikirannya dengan tepat, “Arraseo. Kris Gege ada di urutan kedua. Urutan pertama si hitam.”

Kai langsung bersorak kegirangan karena dirinya lah yang paling banyak memiliki fans menurut Eunhee. Sedetik kemudian dia baru sadar dan segera menatap Eunhee tajam, “Kau menyebutku apa tadi huh?”

Para member dan Eunhee mengabaikan pernyataan tidak terima Kai yang disebut hitam oleh Eunhee. Baekyeol yang tidak terima karena kalah tiba-tiba menyeletuk siapa member yang paling sedikit memiliki fans. Sepertinya mereka cukup yakin kalau mereka berdua bukan orangnya. Eunhee menggigit bibirnya ragu. Terlebih saat melirik Chen yang juga memandanginya penasaran.

“Eng, ak—aku juga tidak tahu pasti. Ka—kalau dari segi fanfiction sih, eng…”

“Siapa Eunhee-ya?”

“Ah molla! Kalian cek sendiri saja,” putus Eunhee berusaha mengelak.

Ya! Geotjimal! Ayolah Eunhee beritahu kami. Kami tidak marah kok.”

Eunhee tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin kan dia bilang kalau…. Jika keka— Ah! Kenapa harus masalah ini yang ditanyakan kepadanya?! Eunhee hanya bisa menatap Chen meminta bantuan. Seolah bisa membaca pikiran Eunhee, Chen pun tersenyum lalu menarik kekasihnya berusaha menyelamatkan.

“Arraseo. Aku sudah tahu. Aku akan lebih bekerja keras lagi nantinya,” kata Chen.

Eunhee terdiam begitu juga member yang lain. Seolah bisa membaca situasi sekarang Baekhyun langsung menutup laptop dan mengakhiri pembicaraan. Satu persatu para member meninggalkan ruangan itu dan meninggalkan Chen dan Eunhee disana. Eunhee terus menatap Chen sambil menggigit bibir bawahnya. Berusaha mencari raut kesedihan di wajah kekasihnya itu. Merasa diperhatikan, Chen tersenyum dan menepuk pelan kepala Eunhee.

“Aku tidak apa-apa Eunbee-ah. Kau tenang saja.”

“Tapi itu bukan tolak ukur yang akurat Oppa. Aku yakin fans Oppa juga tak kalah banyaknya! Aku juga fans Oppa.

“Bukankah kau fans Kris Hyung? Sudahlah Eunbee-ah. Aku tidak sedih sama sekali. Aku tak apa,” ucap Chen meyakinkan.

Eunhee menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Tapi Oppa dulu sempat protes aku membicarakan Kris Gege terus.”

“Hmm kalau boleh jujur aku sedikit sedih sih. Terlebih kekasihku sendiri bukan fans ku.”

Eunhee tersentak. Perasaan bersalahnya semakin menjadi-jadi. Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Chen kemudian bergumam kata maaf teramat lirih. Chen tersenyum lalu meraih dagu kekasihnya itu agar menatapnya.

Ya, kenapa kau minta maaf? Kau kan tidak salah?”

“Tapi aku—“

“Dengar Eunbee-ah. Aku memutuskan untuk menjadi penyanyi dan bergabung di EXO bukan karena aku ingin mendapatkan beribu-ribu fans. Kau salah besar jika mengira ku seperti itu. Aku sangat senang jika bernyanyi. Menyanyi adalah kegemaranku, menjadi penyanyi adalah cita-citaku. Aku sudah cukup senang jika orang-orang mau mendengarkan suaraku. Aku bernyanyi bukan karena ingin mendapatkan fans, aku bernyanyi karena aku senang dan ingin menhibur semua orang lewat lagu yang ku nyanyikan.” jelas Chen.

Eunhee tertegun mendengar penjelasan kekasihnya itu. Dalam hatinya dia berpikir sekaligus berterima kasih karena laki-laki baik hati di depannya ini adalah kekasihnya. Chen begitu dewasa pikirnya. Eunhee mau tidak mau tersenyum saat otaknya kembali mengingat apa yang diungkapkan Chen tadi. Eunhee mengangguk tanda menyetujui dan mengerti. Chen pun kembali tersenyum dan mengusap kepala kekasihnya pelan.

“Tapi aku cukup penasaran kenapa aku bisa seperti itu. Ah malang sekali.”

Oppa penasaran?”

Hmm, memangnya mengapa mereka tidak suka padaku?”

Eunhee mengernyit sangsi, “Oppa yakin ingin tahu?”

“Tentu. Ayolah Eunbee-ah. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak akan marah.”

Dengan ragu Eunhee akhirnya menjawab juga rasa penasaran kekasihnya itu, “Eng, Oppa ingat Mi Ri yang aku ceritakan dulu kan? Kata dia, eng… Oppa sedikit keliatan tu—tua.”

“Mwoya? Tua? Aku tua?” tanya Chen tidak percaya.

Eunhee mengangguk takut, “Mianhae Oppa. Tapi Mi Ri mengakui kalau suara Oppa sangat bagus.”

“Ya Tuhan. Aku bahkan termuda kedua di EXO-M.” ujar Chen masih tidak percaya.

“Maafkan aku Oppa.” lirih Eunhee. Dia benar-benar merasa tidak enak hati kepada Chen.

“Eunbee-ah. Kau kan tidak salah. Berhenti meminta maaf soal ini. Lagipula seharusnya aku yang minta maaf.”

Eunhee mendongak ke arah Chen, bingung mengapa kekasihnya itu harus meminta maaf.

“Seharusnya aku minta maaf karena aku pasti membuat mu malu di depan sahabat mu. Kekasih mu tidak disukai sahabat sendiri pasti berat untukmu. Aku minta maaf karena belum bisa menjadi kekasih yang baik, Eunbee-ah.”

Eunhee menggeleng tidak setuju. Tidak. Itu tidak benar! Baginya Chen benar-benar sempurna menjadi kekasihnya selama ini. Bahkan dirinya masih sedikit tidak percaya dengan status di antara mereka. Justru Eunhee lah yang sedikit tidak percaya diri untuk berada di samping Chen. Jika Chen menganggap dirinya seperti itu, itu semua salah besar.

Oppa! Aku tidak pernah malu. Oppa benar-benar baik untukku. Berhenti berpikiran yang tidak-tidak. Oppa tampan, mempunyai suara yang sangat bagus, dan bahkan menjadi member boyband rookie yang hebat. Aku… Aku benar-benar bangga menjadi kekasih Oppa.” tutur Eunhee.

Kali ini giliran Chen yang dibuat tertegun. Seulas senyum terukir di wajahnya karena mendengar ucapan kekasihnya itu. Chen tidak bisa memungkiri bahwa dirinya begitu senang karena Eunhee bangga pada dirinya. Chen tidak bisa untuk tidak memeluk Eunhee kala itu juga. Dirinya benar-benar bahagia memiliki Eunhee sebagai kekasihnya.

“Terima kasih Eunbee-ah.  Aku mencintaimu.”

“Nado Oppa.” balas Eunhee pelan.

Beberapa menit mereka menghabiskan waktu dengan berpelukan erat satu sama lain. Entah mengapa keduanya tiba-tiba saja merasa kalau ruangan tempat mereka berada sekarang menjadi hangat. Baik Chen maupun Eunhee benar-benar menyalurkan rasa sayang mereka lewat pelukan itu. Bahkan Chen tidak segan untuk mengecup pelan dahi kekasihnya tanda dia bersungguh-sungguh mencintai gadis itu. Jantung mereka bertalu cepat. Sebuah senyum pun tak henti merekah dari bibir keduanya.

Oppa, aku akan jadi fans mu mulai sekarang.”

Chen mengerutkan dahinya heran, “Mau menghiburku lagi? Dari dulu kau juga sering berkata seperti itu tapi lima menit kemudian kau kembali memuji-muji Kris Hyung.”

“Ani! Kali ini aku bersungguh-sungguh.” mantap Eunhee.

Chen yang tidak tahan melihat wajah yakin kekasihnya itu pun mengacak rambut Eunhee pelan. Chen tersenyum lembut. Lagi seuntai kata terima kasih dia layangkan kepada Tuhan karena Eunhee miliknya.

“Arraseo, my beloved fan.”

“Eh? Oppa tadi bilang apa?”

“Beloved fan. Kau fans yang paling aku sayangi.” goda Chen.

“Ck, Oppa berhenti menggombal. Itu tidak lucu tau.” balas Eunhee dengan muka yang memerah.

“Hahahaha siapa bilang aku menggombal? Itu kenyataan kok. Kau kan fans yang paling ku sayangi dan aku idola yang paling kau saya— Ya, Eunhee-ah! Kau mau kemana? Hey Eunbee-ah!”

“Aku mau pulang! Aku tidak mau berdekatan dengan orang gombal!”

Chen tertawa menyusul kekasihnya yang meraih pintu dengan muka merah merona. Pada akhirnya Chen berpikir bahwa setidaknya dia memiliki seorang fans yang benar-benar menyayanginya apa adanya. Yang terpenting, fans itu adalah kekasihnya. Gadis miliknya.

— DaeHee Entrée | Kkeut —

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s