DaeHee Entrée : When DaeHee Got Jealous

DaeHee Entree - When DaeHee Got Jealous Cover

4th DaeHee Entrée – When Daehee Got Jealous

Author : Eunroro13

Genre : Romance | Rating : General | Length : Oneshot

Main Casts : Kim Jongdae (EXO M Chen) & Shin Eun Hee (OC – @Eunheeshin13)

Disclaimer : Chen is belong to God, his agency, family, and fans. I just own the storyline

Please read Shin Eun Hee’s profile first before you read this fanfiction.

Eunhee’s Apartment, Dongdaemun-gu, Seoul

11th February, 2013 | 4:30 PM KST

Eunhee menekan beberapa nomor ―sebuah password― di pintu apartmentnya. Tidak berapa lama setelah pintu terbuka, gadis itu dengan terburu-terburu masuk ke dalam dan berusaha menutup pintu secepat yang ia bisa. Akan tetapi sebuah tangan berhasil menahan agar pintu tersebut tidak jadi tertutup. Ringisan terdengar dari sang pemilik tangan, ringisan kecil yang masih bisa didengar walaupun teramat pelan disuarakan. Eunhee mendecak kesal. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya ketika melihat tangan yang terjepit pintu itu. Perlahan dia melepas pegangannya pada gagang pintu dan membiarkan sosok pemilik tangan tadi ikut masuk ke dalam apartmentnya.

Chen sedikit merasa lega karena Eunhee masih mau membiarkannya masuk. Gadis itu sejak dia menjemputnya di sekolah, sama sekali tidak menunjukkan minat sedikit pun untuk bertemu dengannya. Terkesan menghindar bahkan. Eunhee berubah menjadi tidak bersemangat dan tidak seceria biasanya. Padahal sesaat sebelum mereka berdua bertemu, gadisnya itu terlihat akrab dan tersenyum lebar menikmati es krim dengan seorang namja berwajah imut. Entah siapa yang pasti namja itu juga memakai seragam yang sama. Membuat Chen yakin bahwa namja itu ada teman sekolah kekasihnya. Tapi permasalahannya sekarang bukanlah soal namja-imut-misterius itu. Melainkan masalah dimana Chen harus benar-benar menjelaskan dan meluruskan masalah kepada kekasihnya soal keacuhannya selama ini.

Di sisi lain Eunhee berhasil menjauhi Chen dengan mengurung diri di dalam kamar, memulai pergerakan untuk mengganti seragamnya dengan pakaian santai. Detik setelah ia selesai berpakaian, ia menghembuskan nafas tak bersemangatnya. Saat Chen –sosok yang ia rindukan— sudah berada tepat di hadapannya, dia tidak tahu harus bagaimana meluapkan kekesalan karena lelaki itu terus mengacuhkan pesannya belakangan ini. Terlebih lagi dia tidak tahu bagaimana mengatasi kekesalan tersebut. Bahkan ada perasaan enggan untuk mengungkapkan bahwa dirinya sangat merindukan sosok lembut Chen di sampingnya. Dia akui dia memang sangat kekanak-kanakan. Alasan mengapa ia kesal membuatnya terlihat seperti itu. Tapi ayolah! Siapa yang tahan terus-terusan diacuhkan?

Ponsel Eunhee bergetar. Dengan malas gadis itu meraih ponselnya dan melihat dengan tatapan tidak berminat ke layar. Sedetik kemudian Eunhee terkejut dan panik akibat catatan kecil di reminder ponselnya. Eunhee bergegas merapikan peralatan sekolahnya dan langsung menghambur keluar kamar menuju ruang TV. Chen yang tengah menunggu kekasihnya itu keluar terkejut saat Eunhee datang tiba-tiba dan merebut remote TV di tangannya. Eunhee dengan tidak sabaran mengganti channel sampai akhirnya dia menghembuskan nafas lega tatkala melihat program TV yang ia tunggu-tunggu belum mulai.

Chen mengerutkan keningnya melihat Eunhee yang tengah menonton siaran MBC sekarang. Setahunya saat ini bukanlah jadwal Eunhee menonton drama atau variety show favorite-nya. Chen kembali dikejutkan saat Eunhee berteriak heboh melihat apa yang ditampilkan layar TV. Chen membulatkan mulutnya tanda mengerti bahwa Eunhee nya ingin menonton Idol Star Athletic Championship. Sebuah program dimana para idol berkumpul dan berkompetisi dalam bidang olahraga. Pantas saja Eunhee histeris seperti itu. Chen menjatuhkan dirinya ke lantai, ikut duduk berselonjor bersama kekasihnya. Eunhee melihat itu semua dan melayangkan tatapan bingung ke arah kekasihnya itu.

“Aku akan menemanimu menonton, Eunbee-ah. Kenapa?” kata Chen menjawab kebingungan gadis di sampingnya.

Eunhee menggelengkan kepalanya pelan sebelum ia berbicara, “Oppa tidak sibuk? Pulanglah. Aku sudah biasa sendirian.”

Chen terdiam mendengar jawaban kekasihnya itu. Kentara sekali Eunhee nya masih kesal dan entah kenapa dirinya merasa sedih mendengarnya. Chen hanya menyunggingkan senyum tipis yang ia punya. Tangannya terangkat untuk membenarkan poni kekasihnya yang terlihat sedikit berantakan. Eunhee terdiam merasakan sentuhan lembut Chen di dahinya. Rasanya Eunhee ingin mengutuk jantungnya yang terus berdetak dengan kencang dan berharap waktu berhenti sekarang juga.

“Aku tidak sibuk. Aku akan menemanimu sampai acara ini selesai. Kau mengusirku?”

Eunhee hanya mengalihkan pandangannya kembali tertuju pada TV, memilih untuk tidak menjawab lebih lanjut apa yang dilontarkan Chen barusan. Chen hanya tersenyum melihat kekasihnya itu dan melanjutkan untuk menonton. Walaupun sesekali matanya masih melirik ke arah gadisnya itu.

Huwaaa FT ISLAND! Jonghun oppa! Aaaaaa Song Seunghyun!”

“Bora eonni! Aaaaa eonni neomu yeppeo! Fighting SISTAR! Fighting!”

Ya! Gain eonni rang Jea eonni rang! Aaaa ZE:A juga ada!! MBLAQ! Huwaaaa! Thunder oppa, saranghanda! Mir oppa! Kyaa G.O oppa! Seungho appa! Oh kyeopt!” jerit Eunhee tanpa ampun. Chen hanya bisa menatap kekasihnya tajam. Matanya begitu menyiratkan kekesalan karena gadis itu terus menjerit-jerit tak karuan. Apa itu?! Memuja-muja namja lain di hadapan kekasih sendiri. Cih.

“Omo Teentop! Niel oppa! Ricky oppa! Kyaaaa! Infinite! Myungsoo oppa! Howon oppa! Aaaaa!”

“Ya, Eunbee-ah! Suaramu bisa habis kalau berteriak terus-terusan seperti itu,” tegur Chen yang tidak digubris sama sekali oleh Eunhee. Gadisnya itu malah terus menyerukan nama idola-idolanya. Chen kesal setengah mati melihat kekasihnya itu mengabaikannya.

Tiba-tiba saja Eunhee berdiri dan berlari menuju kamarnya. Chen yang bingung, berniat menyusul kekasihnya itu ke dalam kamar. Baru saja Chen berdiri dari duduknya, Eunhee sudah datang membawa box coklat berukuran sedang berisikan lighstick dan banner group idolanya. Chen menghembuskan nafas kesal sekaligus pasrah. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Eunhee hanya menunjukkan ekspresi bingung melihat Chen yang berdiri dengan wajah yang tak beraturan. Diabaikannya lelaki itu dan memilih untuk duduk sembari memilah-milah dan mengeluarkan banner apa saja yang akan ia pakai sore ini untuk mendukung idolanya. Ah sepertinya banner Infinite saja. Eunhee sedang dalam mood ingin mendukung L hari ini. Hihihi.

Chen yang sudah kembali duduk disamping Eunhee langsung merebut banner dengan warna metal gold pearl itu. Laki-laki berkemeja biru muda itu mulai memasukkan tangannya ke dalam box dan mencari banner yang menurutnya lebih pantas untuk digunaka kekasihnya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Chen langsung menyodorkan banner itu kepada Eunhee. Gadis itu menerimanya dengan kesal, mukanya menyiratkan pernyataan tidak terima dengan apa yang Chen berikan untuknya. Beberapa detik kemudian banner berlambang EXO itu kembali ia lemparkan ke dalam box miliknya.

“Shireo! Kembalikan banner Infinite ku oppa! Aku ingin mendukung Myungsoo oppa hari ini,” pinta Eunhee seraya menggapai kembali banner yang ia inginkan.

“Tidak. Bukankah aku sudah memberikan banner lainnya untuk kau pakai? Pakai banner itu saja! Tidak ada tapi-tapian!” perintah Chen seraya menjauhkan banner ‘terlarang’ itu.

“Tidak mau! Aku ingin mendukung Infinite, oppa! Oppa saja yang mendukung EXO! Kembalikan!” tegas Eunhe tak mau kalah.

Karena kegigihannya, Eunhee pun berhasil menggapai sedikit ujung banner yang ia inginkan. Eunhee benar-benar tidak mau menurut. Kalau begitu aku juga tidak akan mengalah, decak Chen kesal. Beberapa menit berlalu hanya dengan adegan tarik-menarik banner antara sepasang kekasih yang terlihat kekanak-kanakan. Bahkan program yang mereka tonton tadi pun sudah sampai pada bagian dimana para idol memberikan dukungan mereka kepada 2 kandidat juara. Yakni, antara ZE:A Dongjun dan Infinite Hoya. Tiba saat dimana kedua namja idol tadi diwawancarai oleh seorang presenter. Mendengar nama Hoya semakin sering disebut, Eunhee memilih menyerah dari “pergulatan banner” dan memilih kembali memerhatikan TV. Chen menyeringai puas melihat gadisnya terduduk diam. Akhirnya menurut juga, batin Chen puas.

Baru sedetik Chen menghembuskan nafas lega dan kembali menonton, matanya dipaksa untuk keluar pada tempatnya saat dirinya melihat kedua idol tersebut bergantian menyingkap ujung baju mereka. Memperlihatkan hasil ‘kerja keras’ mereka selama ini. Tak ayal, seorang fangirl bernama Eunhee langsung berteriak histeris mengelu-elukan nama kedua namja tersebut.

“Astaga! Hoya oppa jja— Ya! Oppa! Lepaskan tanganmu aku ingin melih— hmmmp!“

***

Setelah berhasil menjauhkan Eunhee dari “tontonan tidak pantas” barusan, Chen akhirnya berhasil mengirim gadis itu ke dapur untuk menyiapkan makanan yang akan menemani mereka menonton TV. Sementara itu Eunhee tidak henti-hentinya mengutuk Chen yang menghilangkan kesempatannya melihat betapa tampannya Hoya, sang idola. Bahkan dia tidak bisa melihat bagian dimana Siwan dan L tengah mengambil foto selca bersama.

Ah tapi kan ada internet. Beberapa jam lagi pasti ada video mereka di Youtube, batin Eunhee.

Moodnya sedikit membaik sekarang. Setidaknya nanti dia bisa melihatnya diam-diam tanpa sepengetahuan Chen. Sementara itu Chen yang masih duduk di sofa ruang TV menyukuri bahwa menemani kekasihnya menonton acara itu adalah hal yang tepat. Pandangan laki-laki itu kini teralihkan ke arah Eunhee yang tengah menyiapkan cake dan cola di dapur. Gadis itu bisa-bisanya membuatnya cemburu setengah mati, pikirnya. Saat kembali melihat ke arah TV, laki-laki itu melihat 4Minute dan SISTAR yang saling mendapat giliran untuk diwawancarai. Seketika itu juga terbesit sebuah ‘ide cemerlang’ di benak Chen. Laki-laki itu pun menyeringai pelan. Memangnya kau saja yang bisa membuat cemburu heh, batin Chen.

Eunhee datang menghampiri sofa ruang TV dan tampak kerepotan membawa sebotol cola ukuran besar dan sepiring brownies coklat yang telah ia potong kecil-kecil. Gadis itu berdecak kesal saat Chen sama sekali tidak membantunya membawa barang-barang itu. Chen tersenyum samar melihat kekesalan kekasihnya. Saat Eunhee telah duduk kembali dan sedikit lebih tenang, laki-laki itu pun akhirnya mengajaknya bicara.

“Ya. Apa kau tidak bosan diam terus seperti ini? Arraseo. Aku minta maaf karena sudah menutup mata dan mulutmu. Tapi aku tidak menyesal,” kata Chen yang hanya dibalas Eunhee dengan sebuah dengusan.

“Mau bertaruh?” tawar laki-laki itu kemudia. Eunhee yang tidak mengerti beralih memiringkan kepalanya dan memberikan tatapan bertanya kepada kekasihnya. Chen tersenyum sebentar sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya itu.

“Di setiap game yang akan dipertandingkan nanti, mari bertaruh siapa yang akan menduduki posisi pertama. Di setiap pertandingan dan bukan hanya saat perebutan siapa yang mendapatkan medali emas. Bagaimana?”

Eunhee berpikir sejenak lalu mengangguk tanda setuju, “Geurae! Aku pasti menang. Lalu apa hadiahnya?”

“Yang menang bisa meminta hal apapun kepada yang kalah. Deal?”

Merasa hadiahnya cukup menarik dan keyakinan bahwa dia akan menang cukup tinggi, Eunhee pun setuju dan mengangguk-anggukan kepalanya penuh semangat. Chen tertawa melihat ekspresi menggemaskan kekasihnya itu. Tangannya terulur untuk mengacak pelan rambut gadisnya itu.

“Aku tidak akan kalah oppa,” ucap Eunhee percaya diri.

“Tentu saja, Nyonya Kim,” sahut Chen tanpa mengalihkan perhatiannya dari TV. Sontak pipi Eunhee memerah mendengar sebutan yang dilontarkan Chen untuknya barusan. Sial! Lelaki ini selalu tahu apa yang menjadi titik lemahnya.

***

Satu persatu para idol yang terbagi menjadi beberapa tim memasuki arena pertandingan. Salah satu dari mereka ―disinyalir sebagai ketua―  membawa bendera yang menjadi identitas tim mereka masing-masing. Tim A yang terdiri dari SHINee, EXO, dan Girl’s Day menjadi tim pertama yang memasuki arena pertandingan. Tampak Suho membawa bendera didampingi Chanyeol dan beberapa member EXO lainnya. Tak lupa empat member Girl’s Day yang membuntuti mereka dari belakang. Chen langsung bertepuk tangan. Eunhee hanya bisa memutar bola matanya jengah lalu bertepuk tangan pelan. Tidak ada Kris Gege. Tidak seru!

Saat giliran tim H yang memasuki arena, Eunhee pun bertepuk tangan dengan kencang sambil menggoyang-goyangakan boneka Shishi Mato miliknya. Gadis itu bersorak-sorak, berteriak riuh menggemakan nama-nama member B.A.P yang sekarang menjadi idolanya. Chen mendengus kesal lalu menarik lengan Eunhee dan sukses membuat gadis itu terduduk kembali di sofa. Eunhee mendecak kesal dan mencoba menurunkan emosinya dengan mendekap boneka kelinci itu erat.

Pertandingan pertama yaitu Pre-eliminaries Women’s Running 70 M. Pertandingan dimana BEG Jea, SISTAR Soyu, A-Pink Bomi, After School Nana, Miss A Min, dan SPICA Juyeon lah yang akan bertanding. Eunhee tampak tidak tertarik dengan pertandingan tersebut mengingat tidak ada satupun di antara mereka yang merupakan jagoannya. Walaupun begitu dia memilih Soyu sebagai kandidat posisi pertama. Chen tersenyum, tebakannya benar bahwa Eunhee-nya pasti akan memilih Soyu.

“Kalau begitu aku memilih Bomi-ssi. Lihatlah, postur tubuhnya sangat mendukung. Dia pasti akan memenangkan pertandingan ini. Lagipula dia sepertinya sangat lincah. Baiklah kalau begitu aku memilih Bomi-ssi saja,” balas Chen.

Eunhee mendengus kesal mendengar alasan kekasihnya memilih Bomi. Cantik, pikir Eunhee. Dia yakin sekali kalau laki-laki itu memilih Bomi karena yeoja itulah yang paling menarik perhatiannya sekarang. Tanpa sadar Eunhee mengerucutkan bibirnya sambil menggumam sebal. Chen yang melihat itu semua dari lirikan matanya hanya bisa tertawa geli dalam hati.

Pertandingan pun dimulai. Seperti yang diprediksikan oleh pemandu acara, Eunhee dan Chen, baik Bomi dan Soyu –ditambah Nana— menjadi 3 orang tercepat dalam pertandingan ini. Di sisi kanan, tepatnya di line 1, BEG Jea tampak berusaha kuat mengejar ketertinggalannya dari para yeoja idol lainnya. Eunhee dan Chen bersorak tatkala Soyu dan Bomi menyentuh garis finish hampir bersamaan. Saat rewind adegan pertandingan dengan slow motion ditampilkan, Eunhee bertepuk tangan keras karena jagoannya lah yang berhasil menjadi yang pertama.

“1-0,” ejek Eunhee kepada Chen. Laki-laki itu hanya membalas ejekan kekasihnya dengan senyum tipis. Terbukti, di 3 pertandingan selanjutnya Chen berhasil menebak semua posisi pertama dengan jitu.

Di babak eliminasi kelima, Bora yang menjadi jagoan Eunhee bertanding melawan Secret Hyosung, A-Pink Hayoung, dan Ailee. Eunhee menjerit senang saat mengetahui bahwa idolanya menang dengan mudah. Tapi tak lama setelahnya dia meringis saat melihat Bora terjatuh dan terdapat dua luka lecet di siku dan lutut.

“Aku senang bisa menebak dengan benar, tapi aku juga sedih Bora eonni mendapat luka seperti itu. Pasti sakit sekali. Padahal dia harus comeback dan fokus pada sub-groupnya,” cemas Eunhee.

“Aigoo, dia tidak apa-apa Eunbee-ah. Kau tidak perlu cemas berlebihan seperti itu, hmm.” sahut Chen sambil mengusap pelan pundak kekasihnya.

Sampai pertandingan pre-eliminary untuk idol yeoja itu berakhir pada babak ke-enam, Chen berhasil unggul menebak 4-2 dari kekasihnya.

Pertandingan dilanjutkan dengan Pre-eliminaries Men’s 70 M Running. Di pertandingan pre-eliminary pertama, Eunhee dan Chen berebut untuk menjagokan DMTN Simon. Tidak bisa dipungkiri bahwa namja itu terlihat lebih menonjol dibandingkan lawan lainnya. Akhirnya Chen pun mengalah dan memilih MBLAQ Mir sebagai jagoannya. Terang saja Eunhee bisa menyusul ketertinggalannya dan mengubah skor taruhan mereka menjadi 4-3.

Kemudian di pertandingan ketiga dimana Sehun ikut bertanding, Chen mati-matian memilih sang maknae sebagai posisi pertama.

“Kau tau maknae kami itu berlatih dengan sangat serius. Aku yakin dia pasti menang,” tutur Chen yakin. Eunhee yang mendengar hal itu hanya tertawa meremehkan.

“Aku hanya mengingatkan saja oppa. Sehun oppa akan melawan Hoya oppa. Hoya oppa bahkan punya ABS yang sangat keren. Pasti dia menang!”

“Cih! Tidak selamanya orang berotot, besar, punya ABS atau apalah itu selalu menang dengan orang yang biasa saja, Eunbee-ah. Kita lihat saja nanti.”

Mereka pun membuktikan keyakinan mereka dengan menonton pertandingan itu bersama-sama. Chen harus mengakui kalau Sehun memang kalah dibandingkan idola Eunhee. Tapi laki-laki itu senang karena apa yang ia katakan barusan benar adanya. Hoya harus puas di posisi kedua karena BTOB Minhyuk lah yang menduduki peringkat pertama.

“Benarkan apa yang ku bilang? Hahahaha. Aku tetap unggul 5-3 atas dirimu, Eunbee— aww!” jerit Chen. Eunhee yang gemas karena idolanya kalah satu peringkat akhirnya mencubit pinggang Chen. Selain kesal, hal ini juga cara terampuh agar namja cerewet itu berhenti mengoceh. Eunhee baru bisa tertawa puas saat jagoannya ZE:A Dongjun berhasil menempati posisi pertama sekaligus membuat gadis itu perlahan-lahan menyusul score Chen menjadi 5-4.

Eunhee bersorak saat mengetahui lari gawang (Hurdle) menjadi cabang yang akan dipertandingkan selanjutnya. Pertandingan pre-eliminary pertama diikuti oleh Infinite Woohyun, ZE:A Minwoo, DMTN Simon, AJAX Jaehyung, dan LED Apple Hanbyul. Merasa dalam posisi tertekan, Chen dengan cepat menyebut DMTN Simon sebagai jagoannya. Siapa cepat, dia yang dapat, imbuh Chen. Eunhee pun hanya bisa mendengus mendengarnya. Sial, dia kalah cepat! Dengan terpaksa dirinya memilih Infinite Woohyun sembari berharap agar tebakannya benar.

Eunhee menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dirinya tengah mencoba menenangkan diri saat Woohyun dinobatkan sebagai pemegang posisi kedua. Terlebih lagi saat Chen merayakan kemenangan jagoannya dengan mengacak-acak rambutnya. Laki-laki itu benar-benar senang. Dia harus selalu menebak dengan benar karena ini adalah rencananya yang ia susun semenjak tadi. Bisa gawat jadinya kalau dirinya berhasil dikalahkan oleh Eunhee. Pada akhirnya, di dua pertandingan setelahnya dimana Luhan dan Minho bertanding, Chen bisa mengatasi semuanya dan terus unggul menebak dengan kedudukan 7-5.

***

Acara tebak-menebak itu kembali dilanjutkan saat keduanya selesai menyantap makan malam yang dipesan oleh Chen. Walaupun Eunhee sempat menolak untuk beristirahat mengingat score menebaknya masih tertinggal. Sekarang acara itu telah sampai pada pertandingan Women’s High Jump. Kali ini peraturannya sedikit berubah. Eunhee maupun Chen boleh merubah jagoan mereka dan kesempatan itu hanya berlaku satu kali. Dengan catatan tidak boleh beralih menjagokan jagoan lawan.

“Cha. Kali ini kau memilih siapa Eunbee-ah? Pastikan dia benar-benar ‘bisa’ mendapatkan emas,” tekan Chen dengan seringai jahilnya.

“Tentu saja aku menjagokan Bora eonni. Dia selalu hebat dalam olahraga apapun,” bangga Eunhee. Laki-laki itu hanya tertawa mendengar jawaban kekasihnya.

“Geurom! Bora-ssi memang selalu menjadi jagoan bukan? Baiklah. Aku memilih rookie Minah-ssi saja.” kata Chen yang langsung disambut dengusan oleh Eunhee.

“Bilang saja kau memilihnya karena dia cantik dan sangat imut, oppa. Aku tau kok!”

“Eyy, uri Eunhee tidak sedang cemburu kan?” goda Chen. Eunhee membulatkan matanya, pertanda apa yang diucapkan Chen barusan begitu mengejutkannya.

“Ce—cemburu? Oppa bilang aku cemburu? Cih! Yang benar saja!” elak Eunhee. Chen hanya tertawa melihat Eunhee yang diam-diam mengelap butiran-butiran keringat di dahinya. Sebegitu susahkah mengakuinya, Shin Eunhee?

“Lihat oppa! Sudah mulai!” pekik Eunhee mengalihkan perhatian.

Chen yang memang berniat menyudahi menggoda Eunhee pun mengalihkan perhatiannya. Lompatan pertama yang harus dilalui adalah lompatan setinggi 1 m. Tampak Minah sedang bersiap-siap untuk melakukan lompatan.

“Berhasil! Good job, Minah-ssi!” teriak Chen gembira. Eunhee hanya bisa melirik tajam sembari mendesis. Laki-laki ini mau membalas dendam rupanya.

Hanya beberapa dari para idol yang bisa bertahan melompati lompatan pertama. Beberapa nama yang gagal seperti BEG Jea, Secret Hyosung, sampai nama yang cukup diperhitungkan, SISTAR Soyu. Apalagi setelah beranjak pada lompatan setinggi 1.15 m, hanya segelintir dari mereka yang berhasil termasuk jagoan Chen dan Eunhee. Pada lompatan ini Rainbow Woori harus berpuas diri dengan meraih medali perunggu. Sedangkan medali emas akan diperebutkan oleh Minah dan Bora yang tentu saja membuat mereka berdua –Eunhee dan Chen— semakin  beradu mulut siapa yang menjadi pemenang.

Palang lompat tinggi pun dipasangkan pada ketinggian 1.20 m. Minah yang mendapat giliran pertama tidak disangka-sangka berhasil melewatinya dengan sangat mulus. Bahkan terlihat Minah sendiri pun tidak percaya bahwa dia berhasil melakukannya. Seluruh anggota tim A bersorak melihat keberhasilan Minah, termasuk Chen. Eunhee yang melihat hal tersebut dibuat cemas. Dia terus berdoa agar Bora juga bisa melompat dengan baik. Dengan penuh keyakinan Eunhee melihat setiap langkah Bora. Saat Bora melompat, gadis itu mendesah kecewa saat kaki jagoannya menyenggol palang lompatan. Member tertua SISTAR itu harus berpuas diri meraih medali silver. Oh jangan lupa kalau Eunhee kalah menebak lagi.

Chen menepuk-nepuk pundak kekasihnya tanda menyemangati. Eunhee menepis tangan laki-laki itu dan memberikan tatapan membunuh miliknya, “Aku pasti bisa menebak dengan benar! Oppa jangan terlalu puas dulu. Aku pasti menang.”

“Arraseo. Aku hanya mengingatkan kalau score sekarang berubah menjadi 8-5,” kekeh Chen. Diam-diam tanpa sepengetahuan kekasihnya yang masih mengomel, Chen menekan-nekan ponselnya

Gomawo, Luhan hyung.

Laki-laki itu tersenyum puas melihat layar ponselnya. Setelahnya, dia melirik kekasihya yang dengan pelan menghabiskan brownies coklat di tangannya. Selalu cantik, pikirnya. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Sebetulnya Chen sangat ingin memeluk gadis itu, meluapkan seluruh perasaannya sambil merengkuh gadis itu ke dalam pelukan erat. Tapi ditahannya niat itu. Setidaknya tahanlah sebentar lagi, batinnya dalam hati.

Merasa sedang diperhatikan, Eunhee pun menggerakkan matanya untuk melihat ke sisi kiri. Dilihatnya Chen yang tengah memandanginya intens sambil tersenyum lembut. Kedua bola mata itu, senyuman itu, tidak—semuanya. Dia merindukan semuanya. Kejadian itu sukses membuat jantungnya berdetak semakin kencang dan pipinya dengan perlahan mulai merona. Salah tingkah, gadis itu langsung memalingkan wajah sambil menggaruk pipinya yang tak gatal. Matanya berusaha untuk terus fokus menatap layar TV di depan.

“Tao oppa!” teriak Eunhee. Chen yang tadinya masih terpaku memandangi kekasihnya pun dibuat kaget.

“Kau menjagokan Tao?” tanya Chen.

“Tentu tidak. Aku sudah tahu siapa pemenangnya lewat Twitter. Aku menjagokan Niel oppa. Tahun lalu bahkan Niel Oppa tak terkalahkan dengan lompatan 1.74 m nya. Sudahlah oppa. Kau kalah kali ini. 8-6!” seru Eunhee.

“Cih. Kalau kau bisa tahu lewat Twitter, kenapa sekarang score mu masih tertinggal, huh? Kau tidak mengikuti berita pertandingan lain?”

“Itu karena… Aish sudahlah oppa. Kau mau lanjut menonton atau tidak?!”

Chen hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya barusan. Tidak ada gunanya melanjutkan perdebatan, pikirnya. Matanya menangkap sosok Suho dan Tao yang sedang diwawancarai oleh Jokwon dan Yoseob. Leader yang satu itu benar-benar terlihat ‘berbeda’ dibandingkan dengan Tao.

Chen dan Eunhee sama-sama melongo tidak percaya melihat kelakuan Suho di layar kaca. Bahkan Jokwon dan Yoseob sendiri pun dibuat tertawa tidak percaya melihat Suho yang dengan bangga menjadi translator untuk Tao. Bagaimana tidak? Alih-alih menerjemahkan, leader EXO dengan seribu wajah itu bahkan hanya bisa mengulang pertanyaan yang sama dalam bahasa Korea. Setelahnya dia masih bisa tersenyum tidak jelas sambil memberikan tepukan di pundak Tao. Seakan memberi sinyal ‘kau paham kan maksudku’. Tao hanya tersenyum –menahan malu— mendengarnya dan menjawab sebaik yang ia bisa.

“Ah! Aku tidak bisa melihat ini,” kata Chen setelahnya.

Lompatan pertama setinggi 1.40 m berhasil dilalui Tao dengan sukses. Eunhee terkesima melihat Tao yang menurutnya sangat keren. Senyumnya langsung berubah menjadi gelak tawa saat melihat ekspresi senang Chanyeol di layar kaca. Tidakkah kalian pikir bahwa terkadang ekspresi Chanyeol mirip dengan Lee Gwangsoo?

Kembali Tao sukses di lompatan-lompatan berikutnya. Tao bahkan berhasil mengalahkan calon kuat seperti Noh Jihoon, BTOB Minhyuk, dan Teentop Ricky. Melihat Eunhee yang begitu terpaku melihat Tao melompat, hati Chen rasanya benar-benar panas. Dia tidak suka gadisnya menatap lelaki lain seperti itu. Chen baru saja akan menepuk-nepuk pipi kekasihnya kalau tidak mendengar Eunhee berbicara.

“Tao oppa sangat keren. Bahkan sama kerennya dengan Kang Taejun di drama To The Beautiful You. Tidak salah memang aku menjadi TaoRis Shipper. Mereka berdua sangat keren.”

“Tadi Myungsoo, lalu Niel, sekarang Tao. Siapa lagi yang akan kau puja selanjutnya Eunbee-ah?” desis Chen tidak suka.

“Kenapa? Mereka kan memang keren. Wajar bukan kalau aku menyukai dan memuji mereka. Selanjutnya siapa? Hmm mungkin Yongguk oppa. Hah kenapa Archery (panahan) lama sekali!” balas Eunhee. Chen menggeram tidak suka sambil menggenggam kedua tangannya erat.

“Terus saja puja mereka semua,” kata Chen sinis dan membuat Eunhee menoleh bingung kearahnya. Laki-laki itu hanya membalas tatapan Eunhee dengan ekspresi dingin miliknya. Membuat gadis itu menggeleng-geleng heran dan kembali beranjak menonton TV.

Tidak ada suara setelahnya. Mereka hanya mengatakan siapa jagoan mereka lalu memilih diam tak bersuara menonton pertandingan. Sesekali Eunhee bersorak jika idolanya menang atau terlihat di layar. Bagaimana dengan Chen? Laki-laki itu masih betah dengan kekesalannya sambil terus menatap layar TV dengan tatapan jengah. Kekesalannya seperti akan memuncak ketika melihat pertandingan selanjutnya adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu kekasihnya. Pertandingan panahan dimana 2 group idola Eunhee lah yang saling mengalahkan satu sama lain.

“Oppa dari tadi diam saja. Pertandingannya kan seru sekali.” kata Eunhee yang disambut Chen dengan memutar kedua bola matanya bosan.

“Sudahlah. Kau saja yang menonton. Aku tidak tertarik,” sahut Chen dingin.

“Wae?”

“Menurutmu?” tanya Chen balik. Eunhee mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. Ada apa dengan kekasihnya itu? Aneh sekali. Ah sudahlah. Lebih baik dia berkonsentrasi melihat kedua group idolanya bertanding.

Woohyun yang menjadi pemanah pertama untuk Infinite gagal mengumpulkan poin maksimal. Dia hanya berhasil mengumpulkan 9 poin. Beralih pada B.A.P yang menurunkan Yongguk sebagai pemanah pertama. Tentu saja membuat Eunhee menjerit histeris sambil menggoyangkan boneka matokki-nya.

“Astaga! Yongguk oppa! Tampan sekali!”

“Bang Leader! Kyaaaa!” teriak Eunhee penuh semangat.

Begitu seterusnya. Secara bergantian Eunhee meneriakkan dan memuji L, Zelo maupun Himchan. Teriakannya masih terus berlanjut sampai pada pertandingan final dimana MBLAQ –jagoan Eunhee— ditantang oleh ZE:A. Chen tetap tak bergeming dalam kebisuannya menyaksikan pertandingan itu. Dia benar-benar berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak.

Eunhee terdiam sejenak saat melihat posisi MBLAQ yang masih tertinggal di poin 38-35. Poin yang dikumpulkan Mir masih kalah banyak dibandingkan poin yang dikumpulkan Kevin dan Hyungsik. Gadis itu menggelengkan kepalanya berusaha yakin dan berdoa kalau MBLAQ pasti menang. Eunhee pun meneriakkan dukungannya kepada Thunder yang menjadi pemanah selanjutnya. Dengan penuh konsentrasi Thunder membidik sasaran. Panah pun telah dilontarkan dan berhasil menancap pada lingkaran poin 8.

Thunder kembali membidik sasaran dengan konsentrasi penuh. Eunhee yang menontonnya dengan cemas terus menggumamkan kata ‘pasti bisa’ untuk mendukung Thunder. Beberapa detik setelahnya, Eunhee bersorak kegirangan saat Thunder berhasil membidik tepat di tengah di poin 10 yang membawa MBLAQ mempertipis jarak ketertinggalan-nya dengan ZE:A. Detik-detik menegangkan saat G.O menjadi pemanah penentu apakah MBLAQ masih bisa menahan ZE:A untuk memanah sekali lagi atau terhenti sampai disitu saja. G.O memanah dan berhasil mendapatkan poin 9 yang membuat kedudukan MBLAQ dan ZE:A menjadi seri.

“Daebak! Byunghee oppa jjang! Aaaa sarang—,“ kata-kata Eunhee terputus saat Chen berjalan menuju TV, membelakanginya dan tampak menekan tombol power di TV tersebut.

Klik.

“Apa yang kau lakukan oppa? Kenapa kau mematikan TV nya?” tanya Eunhee.

“Sudah puas?”

“Ya! Tentu saja belum. MBLAQ masih har—,“

“ZE:A pemenangnya. Luhan hyung memberitahukannya kepada ku, dan tebak-tebakan ini berakhir sampai disini. Aku yang menang,” potong Chen cepat sembari kembali duduk di samping Eunhee.

“Mwo? Jadi selama menebak tadi oppa bertanya pada Luhan oppa? Ya! Bagaimana bisa oppa seperti itu?” Eunhee yang tidak terima pun mencoba berdiri hendak melontarkan protesnya, tetapi tangannya berhasil ditarik oleh Chen. Mencoba membuat kekasihnya kembali terduduk.

“Bisakah kau diam sebentar dan dengarkan aku?” pinta Chen.

“Ya! Kau cura—“

“Sebentar saja, Eunbee-ah,” potong Chen lirih.

Eunhee pun mengatupkan kedua mulutnya serapat mungkin. Tidak jadi melanjutkan protes ke hadapan namja di depannya. Dirinya lebih memilih menunduk untuk tidak bertatapan langsung dengan mata milik Chen, dan tentu saja Chen tidak menyukai hal tersebut. Perlahan-lahan tangan Chen terulur untuk mengangkat dagu milik gadisnya agar mereka bisa saling menatap satu sama lain. Sangat cantik dan selalu cantik, gumam Chen. Eunhee yang terus ditatap dalam jarak dekat seperti itu, dengan dagunya yang tertahan, tidak bisa menyembunyikan perasaan malu yang tergambar di wajahnya.

“Kau milikku.”

Sebuah kalimat singkat yang berhasil membut jantung Eunhee berdetak semakin kencang. Rona merah semakin memancar di kedua belah pipinya. Gadis itu salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa selain terus menatap laki-laki di depannya. Mulutnya seakan kaku mendengar pernyataan Chen barusan.

“Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya? Kau hanya diperbolehkan untuk menatap dan melihatku. Karena kau milikku, Eunbee-ah. Kau tidak mengerti juga?”

“Ak—aku—,” kata Eunhee yang tidak tahu harus mengatakan apa. Dirinya begitu gugup sekarang. Chen tersenyum melihat gadisnya yang terdiam. Dia beralih menangkupkan kedua tangannya di pipi merah kekasihnya itu.

“Aku tidak suka kekasihku memuji namja lain. Terlebih di hadapanku. Aku benar-benar cemburu, Eunbee-ah. Kau mengerti?” tutur Chen lembut. Eunhee yang terdiam kaku karena Chen menangkup kedua pipinya hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Dan kau kalah. Kau siap menerima hukumanmu?” tanya Chen lagi dengan seringai yang mengangkat salah satu sudut bibirnya.

“Tapi kau curang oppa! Itu tidak adil,” tolak Eunhee.

Chen refleks menggelengkan kepalanya. Tidak ada penolakan, pikirnya. Eunhee mendengus sebal. Kalau sudah seperti ini tidak ada gunanya melawan. Chen tersenyum senang saat ia merasakan gadis itu mencoba untuk menganggukkan kepala.

“Bersiaplah,” perintah Chen.

Eunhee terdiam, bingung dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Saat ia melihat wajah Chen yang semakin mendekat, panik langsung menyergapi seluruh pikirannya. Tangan Chen menangkup pipinya semakin erat, membuat gadis itu tidak bisa bergerak menghindar. Eunhee menutupkan matanya, takut dan gugup dengan apa yang akan diterimanya nanti. Satu kecupan pelan di dahinya membuat tubuhnya menegang seketika. Rasa hangat menjalar di seluruh otak, pipi, dan hatinya sekarang.

Chen tersenyum di dahi Eunhee. Tangannya beranjak untuk menarik kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Digumamkannya ‘aku mencintaimu, Eunbee-ah’ tepat di telinga sang kekasih. Chen bisa merasakan detak jantung Eunhee yang sama kencangnya dengan detak jantungnya sekarang. Sekilas Chen bisa merasakan kalau kekasihnya itu tersenyum dalam pelukannya.

“Aku tidak mengabaikan mu Eunbee-ah. Aku selalu mengawasimu dari jauh. Aku bahkan tahu kau terjatuh saat turun dari bis tempo hari lalu,” ungkap Chen. Eunhee mengerjap-ngerjapkan matanya tanda tidak percaya. Bagaimana Chen bisa tahu?

“Aku melihat kau me-retweet foto ku saat di Beijing lengkap dengan sebuah sumpahan. Setelah sampai di Korea aku baru melihatnya dan memutuskan meminjam ponsel Minseok hyung untuk mengirimi mu pesan. Aku terkejut mendapat balasannya. Kau benar-benar kesal aku mengumbar seperti itu ternyata. Sesak sekali rasanya saat kau membalas ‘aku tidak tau dan aku tidak peduli dengan orang itu’. Kau cemburu bukan?” tutur Chen yang masih terus mendekap Eunhee.

Eunhee ingat semuanya. Ia ingat betapa shock dan kesal dirinya melihat foto Chen yang membuka jaketnya. Seakan memamerkan bentuk badannya sesaat sebelum kembali menuju backstage. Eunhee awalnya merasa lega karena tidak harus terhenyak seperti kekasih Luhan, Kris, atau bahkan Kai yang terkadang memamerkan bagian tubuh mereka. Dia percaya Chen tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi ternyata Chen malah melakukannya. Walaupun hanya bagian lengan, tetap saja ia kesal. Terlebih lagi komentar-komentar yang Eunhee lihat. Rasanya benar-benar menyebalkan.

“Saat itu kita baru saja bertengkar bukan. Aku tidak mau langsung menghampiri mu dan ujung-ujungnya kita bertengkar lagi. Aku ingin menunggu sampai waktu yang tepat. Setiap hari aku mengecek Twitter dan blogmu. Tapi yang ku dapatkan hanya hal-hal tentang lelaki lain yang bahkan tidak pernah kau sebutkan sebagai idolamu sebelumnya. Aku kesal sekali, kau tau. Apalagi saat kau hanya mengirimi ku pesan bertanya soal apa Minseok hyung sibuk atau tidak. Kau itu kekasihku,” jelas Chen sambil berdecak kesal. Eunhee melepaskan dirinya dari pelukan kekasihnya itu. Mencoba menatap mata favoritenya.

“Aku bertanya seperti itu untuk mengetahui kabarmu oppa. Aku— err sedikit malu bertanya sejujurnya,” ungkap Eunhee dengan mukanya yang memerah. Chen mendesah mendengar alasan kekasihnya itu.

“Bukankah kita sudah berjanji untuk saling jujur satu sama lain, hmm? Kau lupa? Lalu siapa lelaki tadi siang?”

“Seungwoo? Dia teman sekelasku yang baru. Kami hanya makan es krim bersama karena dia membantuku mengerjakan soal ujian matematika tadi. Maafkan aku, oppa.” sesal Eunhee. Chen pun kembali membawa Eunhee ke dalam pelukannya.

“Tidak. Aku lah yang harusnya minta maaf, Eunbee-ah. Maafkan aku karena mengabaikan mu dan membuat kau kesepian.”

Eunhee mengangguk dalam diam dan hangatnya pelukan Chen. Rasanya sudah lama mereka tidak berpelukan erat seperti ini. Saling menyalurkan betapa mereka sangat saling mencintai dan merindukan satu sama lain. Beberapa menit kemudian Chen melepaskan pelukannya dan menatap Eunhee dengan mimik muka serius.

“Balik badan sana,” suruh Chen sambil berusaha memutar badan kekasihnya pelan.

“Ya! Shireo! Mengapa aku harus berbalik badan?” tanya Eunhee heran.

“Kau bau. Belum mandi kan?” jawab Chen seraya mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.

“Mworago?! Ya! Sudah sana pulang kalau begitu,” sahut Eunhee sebal. Lelaki ini benar-benar menguji kesabarannya.

“Kau ini cerewet sekali! Sudah sana balik badan!” perintah Chen sambil membalik paksa badan kekasihnya itu. Eunhee terus menggerutu dan mengerucutkan mulutnya menggambarkan ia benar-benar kesal kepada Chen. Tak berapa lama kemudian mulutnya terbuka sedikit saat merasakan sebuah benda mengitari lehernya.

“Oppa.”

“Couple item pertama kita dan hadiah ku untuk hari kasih sayang. Kau harus selalu memakainya, janji? Maafkan aku kalau ini sangat jelek,” jelas Chen setelah berhasil memasangkan kalung ke leher kekasihnya.

“Aniyo oppa. Ini bagus sekali. Aku suka. Terima kasih.”

Eunhee tersenyum memandangi cincin yang dibuat menjadi bandul kalung itu. Chen menepati janjinya memberikan barang-barang couple untuk mereka berdua, dan Eunhee sangat senang karenalaki-laki itu benar-benar mengerti seleranya. Chen tersenyum melihat kekasihnya tampak menyukai barang yang diberikannya. Syukurlah aku memilih barang yang tepat, pikir Chen. Eunhee menoleh ke arah Chen ketika laki-laki itu menusuk lembut pipinya.

“Kenapa?”

“Kau tidak berterima kasih padaku?” tanya Chen sambil menaikkan salah satu alisnya ke atas.

“Bukankah tadi aku sudah mengucapkan terima kasih? Apa kau lupa? Baiklah. Gomawo oppa!” ulang Eunhee dengan senyum manis miliknya. Chen menggeleng tidak puas yang membuat gadis itu bingung menanyakan apa sebenarnya maksud kekasihnya itu.

“Bukan itu. Kau tidak ingin memelukku atau menciumku mungkin sebagai ucapan ter— Aww! Shin Eunhee!” teriak Chen kesakitan. Apa-apaan ini? Mengapa Eunhee malah menjitak kepalanya?

“Minta saja sana sama ‘Bomi-ssi’ mu itu!” sahut Eunhee dengan pipi memerah.

“Ya! Wajarkan kalau aku minta pada kekasihku sendiri! Astaga Eunbee-ah! Kau ini benar-benar tidak romantis!” sungut Chen.

“Biarin!” balas Eunhee sambil berlari menuju dapur yang membuat Chen mendecak kesal.

“Baiklah. Aku akan meminta alamat Bomi-ssi ke man— Ya! Shin Eunhee! Berhenti melempari ku! Ya! Sakit.”

“Dasar genit! Awas kau Kim Jongdae!”

DaeHee Entrée

– Kkeut –

Iklan

7 thoughts on “DaeHee Entrée : When DaeHee Got Jealous

    • iya cemburu menguras hati memang XD *tarikvidibuatnyanyi
      jangan terus senyum2 sendiri lho ya. nanti susah wkwkwk ._.v
      eyy~ howon oppa selingkuhan kamu? dia kaka aku lho *slapped. hahaha Eunhee sebenarnya lebih suka jang dongwoo kok 😀

  1. horra kak~ aku baru baca yang ini malah belum baca yang sebelumnya 😀
    kalo ada waktu luang aku baca semua ya kak hihihi
    waks seneng liatin DaeHee cemburuan disini deh XD
    itu ISAC nya detail banget kak, njelimet tapi jjang ^^b
    eonniku jadi pilihan Chen ya (read: Bomi :D)
    keren kak \*o*/

    • makasih mella udah mau baca ^^ maaf karena komentarnya baru dibalas sekarang. hihi
      iya silahkan ^^ njelimet itu apaan yah? –a hahaha iya chen pilih si bomi. dia kan cantik soalnya ._.

      • nggak apa kak 😀
        njelimet itu…. apa ya? aku nggak ngerti sinonimnya apa kak aduhh /.\
        intinya detil banget gitu deh kekeke
        nah betul, unniku itu memang cantik :3 ahahha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s