DaeHee Entrée : The Only One

daehee cover

3rd DaeHee Entrée – The Only One 

Main Casts: Kim Jongdae (EXO M Chen) and Shin Eunhee (@EunheeShin13)

Summary: “Aku benar-benar ingin kau hanya melihatku, menyukaiku, milikku satu-satunya. Sama halnya dengan kau yang menjadi satu-satunya di setiap hal dalam hidupku.

Please read Shin Eunhee’s Profile first before you read this fanfiction. Enjoy ^^

20th January, 2012, 10:05 AM KST

Y Apartment, Deongdaemun-gu, Seoul

Bunyi bel apartment begitu menusuk pendengaran dan telah menggema sedari tadi. Tapi gadis manis berbalut piyama pororo itu masih saja setia meringkuk di atas kasur empuknya. Lima menit dia abaikan begitu saja bunyi-bunyi yang mengganggu mimpi indahnya, tapi sepertinya dia harus kalah dengan ‘tamu’ yang bersikeras ingin pintu segera dibukakan. Dengan langkah gontai dan mata yang masih terpejam, dia mencoba menyeret kakinya untuk membuka pintu. Gerutuan dan erangan frustasi keluar dari mulut Eunhee ketika beberapa kali kakinya dengan cukup indah terantuk sofa atau meja tamu.

Tanpa merepotkan diri melihat terlebih dahulu siapa yang bertamu di interkom, Eunhee memilih untuk langsung membukakan pintu dan setelahnya segera berjalan kembali ke kamar untuk tidur. Sampai-sampai dia tidak tahu siapa yang ada di hadapan pintu sekarang. Bahkan mengabaikan teriakan sang tamu yang mencoba memanggilnya untuk tidak kembali ke kamar.

Chen ―tamu itu― mendesah pasrah mengetahui Eunhee yang belum juga memulai aktivitasnya hari ini. Dia menaruh kantung plastik berisi buah jeruk kesukaan Eunhee di meja pantry kemudian berjalan ke kamar mencoba untuk membangunkan kekasihnya. Chen merasa gugup karena baru kali ini dia memasuki area private milik Eunhee. Dia meringis ketika melihat kamar gadis berusia hampir 18 tahun yang notabene kekasihnya itu dipenuhi oleh ornamen dan barang-barang bertema pororo. Chen bahkan tersenyum kecut saat didapatinya poster besar 2AM di dekat meja belajar Eunhee. Tidak ada sama sekali poster dirinya ataupun poster EXO. Menyebalkan!

“Eunbee-ya, ireona palli. Kau tidak sadar kalau aku datang berkunjung, hmm?”

“5 menit lagi, ne? Aku baru tidur 5 jam Oppa.” pinta Eunhee masih dengan mata tertutup rapat.

Chen mengerutkan keningnya mendengar kata ‘baru tidur 5 jam’ yang dilontarkan kekasihnya barusan. Seingatnya malam tadi Eunhee berkata padanya kalau ia akan tidur setelah selesai menonton Infinite Challenge, dan ia percaya karena setelah itu Eunhee tidak mengupdate Twitternya sama sekali. Dia bahkan tidak menjawab telepon Chen atau membalas katalk, pesan, dsb. Well, bukan tolak ukur yang pas memang, tetapi menurutnya itu sudah cukup membuktikan bahwa Eunhee-nya memang sudah tidur. Tapi ternyata perkiraannya meleset.

“Bukankah kau tidur lebih awal semalam? Eunbee-ya, kau membohongiku?” tanya Chen tak percaya.

“Aniyo! Aku benar-benar tidur setelahnya, tapi hanya bertahan 30 menit. Dan itu artinya aku tidak membohongi mu Oppa.” jawab Eunhee yang masih dengan kedua mata tertutup.

Chen hanya bisa mendesah pasrah. Terlebih lagi ia dikejutkan dengan fakta bahwa Eunhee baru tidur sekitar jam 5 pagi. Jauh melampaui apa yang dibayangkannya semalam. Bayangan dimana Eunhee sudah tidur pulas saat dia dalam perjalanan pulang dari Filifina, dan besok paginya saat ia berkunjung, ia akan mendapati Eunhee tengah memasak sarapan di dapurnya. Fakta yang ia dapatkan pagi ini malah Eunhee masih bermesraan dengan selimut pororo kesayangannya.

“Eunhee-ya. Ayo bangun! Aku membawakan jeruk untuk mu. Kau pasti suka kan? Makanya ayo bangun dan setelah itu kita buat sarapan bersama. Palli ireona!” bujuk Chen.

Tidak ada respon dari Eunhee kecuali sebuah gumaman kecil khas sesorang yang sedang menikmati mimpinya. Chen mengacak rambutnya frustasi karena tak kunjung berhasil membangunkan kekasihnya itu. Chen tidak tahu lagi harus membangunkan dengan cara seperti apa. Tidak mungkin dirinya menggelitiki Eunhee atau menarik Eunhee paksa karena hal itu akan membuat Eunhee marah dan tetap saja melanjutkan tidurnya. Kemungkinan terburuk lagi Eunhee akan mengunci pintu kamarnya dan hal itu sangatlah tidak diinginkan oleh Chen. Baiklah. Mungkin ini adalah jalan terbaik, pikir Chen.

“Kalau begitu aku pulang saja ya. Kau sama sekali tidak mau bangun dan tidak mau bertemu kekasih mu kan? Cih. Kalau begitu aku pulang. Aku pulang Eunhee-ya.”

“Ya. Hati-hati di jalan, Oppa.” jawab Eunhee pelan sembari menarik selimut untuk lebih menutupi tubuhnya. Chen terdiam dan menganga tak percaya. Apa ia salah dengar? Merasa kesal Chen berjalan keluar dari kamar Eunhee sambil sesekali menengok ke belakang melihat mungkin saja Eunhee nya tengah bercanda dan kemudian telah bangun sempurna. Tapi sampai dia berada di depan pintu apartment –siap untuk keluar, tolehan terakhir Chen pun tidak menunjukkan adanya sesosok Eunhee yang berniat untuk mencegahnya pulang. Gusar, Chen pun berjalan penuh kekesalan menuju kamar Eunhee dan berteriak.

“SHIN EUNHEE!!! BANGUN SEKARANG JUGA!!!!”

***

“Oppa tidak perlu berteriak seperti itu kan. Apa tidak ada cara yang lebih manis lagi untuk membangunkan ku? Oppa sama saja dengan Gwangchul Oppa. Sama-sama menyebalkan.” gerutu Eunhee.

Dirinya sekarang telah segar kembali setelah berhasil dibangunkan oleh Chen dan dipaksa menuju ke kamar mandi. Chen tersenyum mengamati kekasihnya yang tengah menyiapkan teh di dapur. Kekasihnya tampak sangat manis dengan baju kaos pink bermotif bunga dan celana pendek santai berwarna putih.

“Lalu aku harus mencium mu agar kau bangun begitu? Bukankah tadi aku sudah membangunkan mu dengan bujukan pelan dan jeruk? Tapi kau nya saja yang tidak mau bangun Eunbee-ya.” jawab Chen. Mendengar jawaban Chen tadi rasanya tiba-tiba saja pipi Eunhee memanas. Dia tidak bisa membayangkan jika Chen benar-benar membangunkannya dengan cara menciumnya. Bisa-bisa yang ada Eunhee tidak bangun-bangun juga, tetapi semakin terlelap karena dirinya jatuh pingsan. Siapa yang tidak akan pingsan jika dicium oleh seorang namja gentle bersuara emas seperti Chen? Aish, memikirkannya semakin membuat pipi Eunhee terbakar.

Eunhee memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Chen. Dia menyibukkan dirinya di dapur untuk melakukan apa saja yang bisa ia lakukan asalkan Chen tidak melihat wajahnya yang memerah. Chen yang sebenarnya tahu bagaimana keadaan Eunhee sekarang, hanya tertawa pelan dan masih tak bergeming di atas sofa dengan sebuah majalah di tangannya. Dia sendiri merasa aneh mengapa bisa ia mengatakan hal semacam itu kepada Eunhee.

Tidak ada percakapan apapun dalam beberapa menit setelahnya. Keduanya sibuk dengan kegiatan dan perasaan malu mereka masing-masing. Sampai akhirnya Eunhee berjalan menuju sofa dimana Chen duduk dan meletakkan secangkir teh yang baru saja ia buat di atas meja tamu. Sebuah senyum terima kasih yang terlampau manis disunggingkan Chen untuk Eunhee. Eunhee yang menerima senyuman itu terdiam kikuk dan berusaha mengontrol detak jantungnya yang rasanya perlu ia konsultasikan ke dokter secepatnya. Detakannya sungguh di luar batas kewajaran.

“Jadi, bisa kau ceritakan kenapa kau tidak bisa tidur dan jam berapa kau benar-benar tidur semalam?” tanya Chen. Mereka berdua tidak mungkin menghabiskan waktu berdua dengan hanya berdiam diri bukan?

“Aku benar-benar pergi tidur setelah menonton Infinite Challenge, Oppa. Tapi seperti yang ku katakan tadi mata ku hanya terpejam sekitar 30 menit. Mungkin tidak terbiasa tidur di jam seperti itu. Aku mencoba untuk kembali tidur tapi tidak bisa. Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk menonton drama saja, Oppa. Hehehe.” jawab Eunhee sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Benarkah? Hmm tapi kenapa kau tidak membalas pesanku, Eunbee-ya?” tanya Chen penasaran sambil menyesap teh hangatnya.

“Eh? Kau mengirimi ku pesan? Seingatku sebelum aku tidur Oppa tidak membalas pesan ku lagi. Ah, aku bahkan lupa dimana menaruh handphone ku Oppa! Huwaa dimana ya?” ingat Eunhee. Matanya sibuk mengitari ruangan ia berada sekarang, berniat mencari ponselnya yang hilang. Dia benar-benar lupa dimana terakhir kali ia menyimpan ponselnya. Chen menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya itu. Dia menggapai ponselnya yang ia simpan di saku celananya. Tangannya dengan lihai menekan beberapa nomor untuk menghubungi nomor ponsel kekasihnya itu. Cara paling efektif untuk menemukan ponsel yang hilang, pikir Chen. Kening Chen berkerut saat dia mendengar nada operator yang mendengung di telinganya.

“Ponselmu tidak aktif?”

Eunhee terkejut dan semakin panik dengan keberadaan salah satu gadget kesayangannya itu, “Jinjja? Rasanya aku sudah mencharge handphone ku sampai full battery. Apa mungkin habis? Ottokhae? Ponselku…. Oppa, ottokhae? T_T”

Chen tertawa melihat kepanikan Eunhee. Dia mengacak-acak rambut kekasihnya itu dengan gemas.

“Ya, ponsel mu tidak akan kemana-mana. Mungkin terselip atau tersembunyi di ruangan apartment mu saja Eunbee-ya. Tidak mungkin ponsel itu berjalan sendiri keluar apartment ini kan? Kalau dicari pelan-pelan pasti ketemu. Tenanglah.” kekeh Chen.  Eunhee mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan dengan mulutnya yang mengerucut kesal. Ia juga tahu kalau ponselnya tidak mungkin berjalan. Tapi tetap saja ponselnya belum ditemukan!

“Cha, aku akan mencarinya sambil membereskan ruangan tamu yang ‘berantakan’ ini. Kau siapkan makanan, hmm? Kau belum sarapan kan? Aku juga. Jadi bagaimana kalau kita berbagi tugas saja?” usul Chen. Eunhee mengiyakan lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan. Chen tahu saja kalau perutnya tengah meronta-ronta minta diisi. Pikiran Eunhee menerawang pada masakan apa yang seharusnya ia masak. Sebaiknya ia memasak makanan yang simple dan mudah dibuat. Tapi ia tidak mungkin hanya memanggang roti bakar dan menggoreng telur. Terlalu simple, itu sih Chen bisa saja membuat sendiri. Eunhee ingin membuat sarapan special untuk mereka berdua pagi ini. Terlebih lagi ini sarapan pertama untuk mereka berdua. Ottokhae? Dia harus memasak apa? >_< Seandainya saja ponselnya tidak hilang, mungkin sekarang ia tengah sibuk mencari referensi masakan di internet atau menelpon Hawon sepupunya untuk meminta pendapat. Ah coba saja dia dekat dengan Changmin 2AM, lebih baik dia bertanya dengan idolanya itu saja. Kyaaaa tidak terbayang seperti apa >.<

Eunhee yang tengah asik bergelut dengan pikiran –tidak penting– nya, tidak menyadari kalau Chen berada di sampingnya sekarang, mengamati kekasihnya itu sedari tadi. Chen heran mengapa gadis yang ia sayangi itu berdiam diri mematung di depan pantry sambil terkadang tersenyum dan mengomel sendiri. Chen menepuk pundak Eunhee, membuat gadis itu terkejut dan kembali ke alam sadarnya. Eunhee menunduk menyembunyikan wajah merah meronanya yang tertangkap basah melamunkan hal-hal tidak penting. Eunhee segera menuju kulkas untuk melihat apa saja isi di dalamnya yang bisa ia masak. Barang kali dengan melihat isi kulkasnya dia bisa tahu apa saja yang ia masak nantinya.

Sepeninggalan Eunhee, Chen hanya menggeleng-geleng tak mengerti dengan tingkah laku kekasihnya hari ini. Apa mungkin karena Eunhee kurang tidur sehingga dia bertingkah aneh seperti itu? Chen menghalau pikiran-pikiran buruk itu dan kembali focus mencari ponsel Eunhee dan merapikan ruang tamu. Chen menggeleng-geleng tak percaya mendapati buku pelajaran Eunhee tersembunyi di belakang bantal sofa (-_-) Penasaran, Chen membuka halaman demi halaman buku paket itu dan tersenyum kecut saat mendapati isinya yang dipenuhi dengan kata-kata “Jinwoon Oppa Saranghae! >w<”.

Hampir saja ia menutup buku paket itu saat ia menemukan tulisan super besar dengan awan yang mengelilingi sekitarnya. Tulisan tangan kekasihnya. Tulisan yang sebenarnya biasa saja, tetapi bagi Chen itu sangat berarti untuknya.

Semangat Dae Oppa! Fighting ^^♥

Chen menutup buku itu dan mengumpulkannya di atas meja bersama buku paket lain yang ia temukan. Chen tersenyum senang karena kekasihnya sangat mendukungnya. Walaupun Eunhee tidak secara terang-terangan mengatakannya, tetapi Chen tetap bahagia. Hanya karena sebuah tulisan sederhana di buku pelajaran kekasihnya itu. Chen kembali memfokuskan diri untuk merapikan buku dan bantal yang bertebaran tidak pada tempatnya. Kemudian setelahnya dia berjalan mengambil vacuum cleaner untuk membersihkan sedikit debu yang menempel di ruangan itu.

***

Eunhee masih berkutat dengan bahan-bahan masakan yang ada di depannya. Tampak sebuah mangkuk yang terdapat rendaman beras di dalamnya dan di atas kompor terdapat sebuah panci yang ia gunakan untuk merebus air. Eunhee masih membersihkan dada ayam yang baru saja ia fillet. Akhirnya setelah mengobrak-abrik isi kulkasnya ia memutuskan untuk membuat Dakjuk. Bubur ayam kental khas Korea. Sebuah makanan sehat dan hangat yang cocok untuk disantap di pagi hari yang dingin ini. Eunhee dengan lihai mengiris bawang putih, jahe dan memotong daun bawang yang akan ia masukkan ke dalam rebusan air bersama dada ayam dan bumbu lainnya.

Dakjuk chicken porridge

‘Semoga Oppa suka memakan masakan ku ini’ pikir Eunhee dalam hati. Ia terus tersenyum sembari bersenandung kecil saat membuat sarapan untuk nya dan kekasihnya itu. Kali pertama ia memasakkan sarapan untuk kekasihnya dan karena itulah sarapan ini harus special juga lezat. Eunhee tidak sabar agar Dakjuk yang ia buat segera matang dan dicicipi oleh Chen.

Chen sendiri tengah sibuk membersihkan debu-debu dengan vacuum cleaner yang ia gunakan. Sampai saat ia menyodokkan (?) vacuum cleaner itu ke sela-sela meja tamu ia melihat sebuah benda putih panjang tersembunyi disana. Chen mematikan vacuum cleaner itu dan mencoba mengambil dan melihat apa benda putih itu. Chen tersenyum karena akhirnya ponsel Eunhee bisa ia temukan. Sesaat sebelum ia hendak memberitahu Eunhee, terbersit di pikiran Chen untuk membuka ponsel kekasihnya itu. Sebagian hatinya berkata jangan tetapi sebagian lain yang lebih mendominasi itu berhasil membujuk Chen membuka dan mengintip sedikit apa saja isi ponsel gadisnya.

Chen tersenyum karena sebagian besar kotak masuk kekasihnya berisikan pesan dari dirinya. Dia tertawa kecil membaca kembali pesan-pesan apa saja yang ia kirimkan. Dia mengerutkan kening saat ia tidak mendapati pesan balasan untuk Gwangchul –kaka Eunhee. Pesan yang menanyakan kapan Eunhee akan mengunjungi Ayah dan Ibunya di Itali. Apakah Eunhee akan pergi dalam waktu dekat? Apa Eunhee nantinya akan menetap disana dan meninggalkan dirinya? Ck, Chen! Kau terlalu jauh memikirkannya. Eunhee kan hanya akan mengunjungi Ayah dan Ibunya, dan itu wajar. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, batinnya menenangkan.

Rasa penasaran Chen semakin tinggi saat tangannya menekan icon galeri di ponsel itu. Dia membuka menu video dan terkejut mendapati kebanyakan video-video itu adalah video fancam performance EXO dengan focus gambar ada pada dirinya. Dia tidak peduli dengan Music Video 2AM yang juga mendominasi, tapi dia sudah cukup senang Eunhee ternyata benar-benar menyukai penampilannya selama ini. Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya Chen beralih kepada folder yang berisikan kumpulan foto. Dia tersenyum saat mendapati beberapa foto selca baru kekasihnya. Rasanya ia ingin mengirimkan satu di antara foto-foto itu ke ponselnya dan menyimpannya. Senyumnya perlahan menyurut saat ia mendapati foto-foto Jinwon dan Kris juga banyak disimpan oleh Eunhee. Kemana foto dirinya? Dia mencoba menghitung berapa banyak fotonya yang Eunhee simpan sampai akhirnya jantungnya berdetak sangat keras saat mendapati sebuah foto berefek B&W dengan caption Kris63.

“Da-dari mana Eunhee memiliki foto ini?” tanya Chen. Rasanya ia kesal sekali mendapati foto seperti itu berada dalam ponsel kekasihnya. Ia mungkin tidak akan sekesal dan sejengkel sekarang, err atau semarah ini mungkin jika saja foto itu ‘hanya’ foto hyungnya. Tapi posenya?

“Wah! Ponsel ku sudah ketemu yah Oppa?” kata Eunhee yang tentu saja mengagetkan Chen. Melihat ekspresi kaget dan kesal kekasihnya itu, Eunhee yakin ada sesuatu yang tidak beres terjadi sekarang. Eunhee terdiam, mengigit bibirnya pelan saat  ia berhasil melirik ke arah ponselnya dan mendapati apa yang tertera di layar.

kris63

***

“Darimana kau mendapatkan foto itu?” tanya Chen dingin. Eunhee mendesah dengan sangat pelan –takut Chen mendengarnya. Eunhee tidak mengira bahwa Chen akan mengutak-atik ponselnya dan bahkan tak pernah terlintas sekalipun pemikiran kalau Chen akan melihat foto itu. Foto yang dengan sekejap bisa benar-benar membuat Chen menjadi seperti ini. Kesal dan err… marah. Dia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menyimpan foto ‘terlarang’ itu. Yah setidaknya terlarang bagi Chen. Terlebih lagi dia lupa untuk segera menghapusnya.

“Dari fanfiction yang aku baca, Oppa. Aku tidak bermaksud apa-apa Oppa. Aku bahkan lupa belum menghapus foto itu. Mianhae.” jawab Eunhee dengan nada yang lebih terdengar seperti bisikan. Dia sangat takut kalau dirinya salah menjawab pertanyaan itu dan membuat Chen lebih dingin lagi kepadanya.

Chen mendengus mendengar jawaban Eunhee. Selama ini dia memang tahu bahwa Kris adalah bias Eunhee. Dia tidak terlalu mempermasalahkan itu karena menurutnya Eunhee tetap saja telah menjadi miliknya. Eunhee tetap kekasihnya. Tapi foto itu, bagaimana pose dan penampilan hyungnya di foto itulah yang membuat dirinya panas.

“Kau tau kau itu tidak cukup umur untuk menyimpan foto seperti itu Eunhee ya! Kau tau kan foto itu, Kris hyung… Di foto itu… Dia… Ah sudahlah!” kata Chen frustasi. Dirinya benar-benar kesal sekarang dan mencoba agar kekesalannya itu tidak meledak-ledak dan membuat kekasihnya ketakutan. Eunhee kembali memilih untuk menggumamkan kata maaf lalu diam setelahnya. Menurutnya menjawab lebih hal itu hanya akan membuat Chen semakin kesal dan masalah ini semakin runyam. Dia tau foto itu memang tidak sebaiknya ia simpan, tetapi hey! Dia sudah 17 tahun! >_<

Chen mengusap-usap mukanya mencoba menenangkan diri. Tangannya bergerak membuat layar ponsel dengan tampilan ‘panas’ di dalamnya itu kembali terlihat oleh matanya. Chen mendecak kesal dan memutuskan untuk menghapus foto itu sebelum dirinya bertambah kesal lagi. Persetan dengan anggapan dia lancang atau Eunhee setuju tidaknya ia menghapus foto itu. Foto itu baginya tidak pantas untuk Eunhee lihat terlebih lagi Eunhee simpan. Sikap protektif Chen seketika mencuat begitu saja dan Euhee sudah bisa merasakan bagaimana protektifnya kekasihnya itu.

“Baiklah. Aku sudah menghapusnya. Aku tidak peduli kau setuju atau tidak, mau marah padaku karena aku telah menghapus foto itu, terserah! Kau tidak boleh menyimpan foto itu, mengerti?”

Eunhee menggigit bibirnya berusaha untuk tidak ikut-ikutan terpancing emosi. Dia menganggukkan kepalanya teramat pelan dan seketika itu juga ia merasa seperti seorang pendosa berat. Rasanya ia ingin menangis tapi ia tahan itu semua. Ia tidak ingin terlihat lemah.

Chen meletakkan ponsel Eunhee dengan sedikit kasar di atas meja tamu. Melihat Eunhee yang mengigit bibir seperti menahan tangis membuat Chen lambat laun melunak. Dia berusaha mengabaikan sedikit rasa kesalnya walaupun sangat sulit. Diambilnya ponsel tadi, kemudian diraihnya tangan Eunhee pelan, menyuruh Eunhee untuk menggenggam ponsel itu. Eunhee hanya menatap Chen sebentar kemudian kembali menunduk memandangi ponsel di genggamannya. Rasanya campur aduk saat melihat wajah Chen. Eunhee memilih untuk terus menunduk sampai akhirnya ia terkejut Chen menariknya menuju meja makan. Eunhee dan Chen duduk berhadapan dan terlihat dimana semua masakan yang ia masak telah tersaji rapi di atas meja makan.

***

Yang terdengar sekarang hanyalah dentingan sendok dan mangkuk yang beradu saat keduanya menyendokkan Dakjuk untuk memakannya. Suasana kaku yang pasti sangat tidak nyaman mengelilingi keduanya sekarang. Tidak ada sepatah kata pun yang coba dilontarkan baik dari Chen maupun Eunhee. Keduanya sama-sama memilih diam menikmati masakan yang semakin lama semakin mendingin. Chen yang biasanya berinisiatif memulai pembicaraan juga tampak enggan membahas topik apapun agar suasana kembali menghangat seperti semula. Eunhee pun sama. Walaupun kekakuan akibat pertengkaran kecil tadi bukanlah hal yang diharapkannya, tetapi ia juga tidak tahu harus melunakkan suasana ini seperti apa. Sesekali ia melirik Chen mencoba melihat dan membaca ekspresi namja di depannya itu. Saat pandangan mereka bertemu, Eunhee langsung salah tingkah dan akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.

“Eng, masakannya, ah ani. Maksudku, apakah Dakjuk-nya… enak?” tanya Eunhee hati-hati. Chen menaikkan alisnya sebentar kemudian menjawab singkat pertanyaan itu dengan nada yang cukup datar.

“Hmm. Ya.”

Eunhee semakin menggigit bibirnya. Chen sepertinya masih kesal dengan kejadian tadi dan reaksi Chen belum memenuhi harapannya. Tapi ia tidak tahan dengan kekakuan ini. Bahkan saat mengetahui tanggapan Chen mengenai masakannya pun tidak membuat hati Eunhee tenang begitu saja.

“Oppa mau tambah lagi?” tanya Eunhee lagi. Mencoba memperpanjang pembicaraan mereka dan berharap suasana tidak nyaman ini bisa berakhir secepatnya.

“Tidak.” jawab Chen singkat.

Hati Eunhee entah kenapa terasa sakit. Eunhee tidak menyangka sarapan pertama mereka, dimana Eunhee yang memasakkan sarapan itu, suasananya bisa setidaknyaman ini. Eunhee menggeleng-geleng kepalanya kuat mencoba untuk tidak menangis. Dia meletakkan sendoknya dan memundurkan kursi yang ia duduki dengan kasar. Eunhee berdiri menatap Chen dan sepertinya emosinya sudah tidak bisa ia tahan lagi.

“Kenapa Oppa menjawab pendek-pendek seperti itu? Oppa masih kesal dengan foto tadi? Bukankah aku sudah meminta maaf dan Oppa sudah menghapusnya tadi? Tidakkah itu sudah cukup?”

“Aku tidak merasa harus menjawab pertanyaan mu dengan panjang lebar. Ya, aku tau. Tapi tetap saja aku kesal! Kau itu kekasihku dan kau malah sengaja menyimpan foto seperti itu! Bagaimana aku tidak kesal?”

“Aku kan sudah minta maaf Oppa! Dan harusnya masalah ini selesai karena Oppa sudah menghapusnya! Lagipula aku saja lupa punya foto seperti itu! Dan aku ‘tidak-sengaja’ menemukannya di fanfiction! Tidak sengaja!” balas Eunhee dengan menekankan kata ‘tidak sengaja’ agar Chen mendengarkannya dengan sebaik mungkin. Eunhee menghentakkan kedua kakinya karena kekesalannya akhirnya tersulut juga.

“Tetap saja kau menyimpannya kan? Ya! Kekasih macam apa yang menyimpan foto hyung kekasihnya yang tengah tidak berpakaian seperti itu?! Kau  itu masih kecil dan tidak pantas melihat seperti itu, kau tau!” balas Chen.

“Aku sudah 17 tahun Oppa! Dan aku sudah besar! Berhenti mengataiku masih kecil karena aku tahu mana yang pantas aku lihat dan mana yang tidak!”

“Kalau kau memang sudah besar dan tahu mana yang pantas atau tidak, tidak seharusnya kau menyimpan foto itu!”

Eunhee benar-benar frustasi menghadapi kekesalan kekasihnya itu. Demi Tuhan itu hanya sebuah foto dan masalahnya bisa berakhir sepanjang ini! Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tidak sengaja secara langsung melihatnya. Eunhee menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kasar sebelum ia kembali menjawab perkataan Chen tadi.

“Hanya karena foto itu kau mengacaukan sarapan pertama kita, Oppa?! Sarapan pertama dimana aku yang memasakkan makanannya untuk kita berdua?! Untuk apa lagi kau mempermasalahkan hal itu sampai seperti ini, Oppa? Mendiamkanku dan membiarkan suasana kaku ini terus berlanjut! Demi Tuhan! Itu hanya sebuah foto Kim Jongdae!”

“Hanya kau bilang?! Shin Eunhee! Kau sadar tidak itu foto seperti apa?! Kris hyung tidak memakai pakaian!! Kau bilang itu “hanya”?! Kau bahkan menyimpan foto lelaki lain dan hampir tidak menyimpan foto ku yang notabene ‘KEKASIHMU’! Kau bilang foto topless hyung ku dengan “hanya sebuah foto”?! Jinjja! Aku juga tidak ingin seperti ini tapi kau yang memulai! Aku tidak akan seperti ini kalau kau tidak sengaja menyimpan foto itu! Kau tau!” balas Chen tidak percaya. Mereka berdua sekarang sudah sama-sama berdiri dan saling berhadapan dengan wajah penuh emosi dan kekesalan.

“Jadi sekarang kau mau seperti apa Oppa?! Kau sudah menghapus foto itu kan?!! Lalu kau mau apalagi?!!” pekik Eunhee tak tahan. Dirinya benar-benar kesal sekarang dan sudah tidak bisa menahannya lagi.

“Ya! Aku memang sudah menghapusnya! Dan memang itu harus dihapus!! Aku masih kesal!! Kenapa? Kau pikir bagaimana kalau kau berada di posisi ku, hah? Kau pasti juga akan seperti ini, Shin Eunhee!”

“Baik! Terserah kau sekarang, Kim Jongdae-ssi! Dan kalau kau sudah selesai sebaiknya kau keluar saja, pulang ke dorm mu! Aku tidak mau didiamkan terus-menerus karena kesalahan yang aku sudah minta maaf karenanya! Kau lebih baik pulang saja, Oppa! Aku malas menyantap sarapan dengan orang yang mendiamkanku dan akhirnya berdebat tak berujung seperti ini” kata Eunhee.

Eunhee berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan teriakan –geraman– Chen yang memanggilnya. Dia membanting pintu kamarnya kemudian menguncinya. Demi Tuhan! Dia butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang.

Di luar sana Chen mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia menatap nanar makanan yang dimasak Eunhee tadi. Bahkan tidak sampai setengah dari apa yang Eunhee sajikan telah Chen cicipi. Chen juga tidak ingin suasana sarapan pertama mereka berakhir seperti ini. Dia merutuki dirinya yang tidak bisa membendung kekesalannya dan mengacaukan suasana hangat pagi ini. Chen kembali mengutuk foto ‘panas’ itu dan meneguk cepat air putih yang ada dalam gelasnya. Berharap setelahnya pikiran dan emosinya kembali seperti semula dan dia dapat menyelesaikan tuntas masalah ini dengan kepala dingin.

***

Satu jam setelah pertengkaran kecil keduanya, tidak tampak perubahan berarti yang terjadi di apartment sunyi itu. Eunhee tetap tak bergeming di dalam kamarnya. Sedangkan Chen hanya duduk terdiam di sofa ruang tamu apartment kekasihnya itu. Dakjuk yang Eunhee buat beserta beberapa makanan lain tampak masih tertata di meja makan dan tak ada perubahan kecuali suhunya yang terus menurun.

Chen bergerak membereskan meja makan. Memanaskan Dakjuk yang dimasak Eunhee setelahnya memasukkan beberapa bagian Dakjuk itu ke dalam wadah tahan panas untuk ia bawa. Chen kemudian mengambil ponsel Eunhee yang masih tergeletak di atas meja makan. Dia memandang kosong ke arah ponsel itu lalu kemudian mencoba mengutak-atik beberapa fitur di dalamnya. Chen merobek sebuah kertas di notes dekat telepon dan menuliskan beberapa patah kata untuk Eunhee. Kertas notes tadi ia tindih dengan ponsel Eunhee dan Chen tersenyum melihat apa yang ditampilkan layar ponsel kekasihnya itu.

Lelaki itu mengambil mantelnya sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada pintu kamar Eunhee yang masih saja tertutup. Rupanya sang pemilik masih enggan keluar dan masih betah berlama-lama menyendiri di dalam kamar. Kaki Chen kembali melangkah menuju ke depan pintu kamar kekasihnya sebelum akhirnya mengetuk pintu itu mencoba berinteraksi dengan orang di dalamnya.

“Eunbee-ya, aku pulang dulu. Kau cepatlah keluar dan segera habiskan sarapanmu. Aku pergi, ne.” pamit Chen lembut.

Di dalam kamar Eunhee yang hanya duduk bersandar di headboard kasurnya itu bisa mendengar pintu apartmentnya telah ditutup. Chen benar-benar sudah pulang, pikirnya. Eunhee pun melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju meja makan. Eunhee terkejut mendapati semangkuk Dakjuk dengan asap yang mengepul di atasnya tersaji bersama beberapa makanan lain, sepiring jeruk yang telah terkupas, dan tak lupa segelas lemon tea hangat di samping mangkuk itu. Tangan Eunhee bergerak meraih sebuah kertas yang di dalamnya terdapat tulisan Chen yang sangat ia kenali.

♫ DaeHee Entrée ♫

Eunbee-ya. Maafkan aku.

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengontrol kekesalanku saat melihat foto ‘itu’ ada di ponselmu. Kau tau rasanya kesal sekali mengetahui kekasihku menyimpan foto seperti itu. Ya, aku tau kau tidak mungkin berbohong atau mencarinya dengan sengaja. Tapi tetap saja aku kesal dan susah sekali menahannya. Apakah ini termasuk cemburu? Tidak penting itu cemburu atau tidak tapi aku hanya memohon satu hal. Mengertilah Eunbee-ya. Aku kesal karena aku sayang padamu. Kau tau jika aku ingin egois, aku akan melarangmu mengagumi seseorang sekalipun itu hyung ku sendiri dan menghapus semua foto atau video Jinwoon sunbaenim dan Kris Hyung yang ada di ponselmu! Aku benar-benar ingin kau hanya melihatku, menyukaiku, milikku satu-satunya. Sama halnya dengan kau yang menjadi satu-satunya di setiap hal dalam hidupku.

Terima kasih untuk sarapan lezat hari ini. Dakjuk terlezat yang pernah aku makan. Maafkan aku karena kekesalanku mengacaukan sarapan pertama kita. Tapi aku tidak akan melupakan hal ini. Sarapan pertama kita dengan kekasihku yang memasakkan makanan sangat lezat untukku. Makanlah Eunbee-ya. Aku sudah menghangatkannya dan menyiapkan semuanya untukmu. Tidak ada tapi-tapian atau nanti! Makan sekarang juga, mengerti? Ah. aku membawa beberapa makanan buatanmu ke dorm untuk makan siangku. Aku harus pamer ke hyung-hyung ku dan Kris hyung terutama! Maafkan aku, tetapi aku benar-benar ingin pamer Eunbee-ah.

Ps: Aku tidak tahu kau begitu menyukai diriku. Aku benar-benar tersanjung melihat video “Fancam Chen Fokus” memenuhi galerimu. Hahaha. Aku mencintaimu, Shin Eunhee! Melebihi hidupku.

Chen

Eunhee tak henti-hentinya tersenyum dan berulang kali membaca surat Chen untuknya. Rasanya kekesalannya menguap begitu saja dan rasa syukur meliputi dirinya dimana ia memiliki seorang kekasih yang begitu mencintainya. Terbersit rasa penyesalan telah membentak Chen tadi. Rasanya ia ingin menelpon Chen sekarang juga, mengatakan ia juga menyesal, meminta maaf, membiarkan Chen tahu kalau dirinya juga benar-benar mencintai lelaki itu. Baru saja ia menekan layar ponselnya –berusaha menghubungi kekasihnya, Eunhee terdiam melihat layar ponselnya lalu tersenyum membaca pesan yang dikirim Chen beberapa menit yang lalu.

From : Dae Oppa ❤

Nanti saja aku yang menghubungimu. Sekarang cepat habiskan sarapannya!

Eunhee menyimpan ponselnya lalu beralih menyantap Dakjuk yang ada di depannya. Diambilnya sepotong jeruk lalu dimasukkannya ke dalam mulutnya. Manisnya jeruk itu membuatnya mengingat Chen dan beberapa bulan kisah mereka berdua. Satu suapan penuh Dakjuk hangat di kerongkongannya berhasil menghangatkan kembali kisah cinta mereka berdua yang sempat mendingin, dan seteguk lemon tea hangat menetralkan kembali pahit di antara keduanya dan memaniskan lagi kisah cinta yang ada.

– KKEUT –

Iklan

4 thoughts on “DaeHee Entrée : The Only One

    • ….
      emm jujur ya aku juga dapet dari fanfiction yang aku baca. fanfiction fav aku yg main characternya Kris. bisa cari judulnya The Fear of Falling For You. Disitulah sumbernya 😀
      Foto baekhyun? Aigoo sayangnya Eunhee maupun diriku belum tertarik melihat tubuh Baek. Lagipula takut kekasihnya ngamuk. Nanti aku bisa dilemparin oreo lagi ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s