DaeHee Entrée : On This Rainy Day

Untitled-2 

2nd DaeHee Entrée – On This Rainy Day 

Main Casts: Kim Jongdae (EXO M Chen) and Shin Eunhee (@EunheeShin13)

Other  Casts : EXO members

Recommended Song : B.A.P – Rain Sound (빗소리)

Please read Shin Eunhee’s Profile first before you read this fanfiction. Enjoy ^^ 

11th January, 2013, 5:54 PM

X Cafe, Dongdaemun-gu, Seoul

Titik demi titik hujan masih setia membasahi setiap dataran bumi bernama Seoul. Tampaknya Tuhan masih enggan menghentikannya. Entah karena alasan apa, hanya Ia seorang yang tahu. Jalanan Seoul lantas menyepi seiring dengan pejalan kaki yang memilih menyelamatkan diri berteduh di kedai atau minimarket terdekat. Seraya menikmati segelas kopi hangat. Sesekali petir menyambar seolah memperingatkan manusia yang masih enggan mencari tempat pernaungan.

Seorang yeoja dengan topi kupluk kuningnya, memakai cardigan berwarna coklat lengkap dengan kacamata yang membingkai di wajahnya, sedang asik memerhatikan jalanan di depan cafe ia berada saat ini. Di depannya secangkir cappuccino terhidang berdampingan dengan muffin coklat yang telah teriris seperempat. Bukan. Sungguh kurang kerjaan jika Eunhee ―gadis itu― memikirkan mengapa jalanan sangat sepi dan atau apa alasan hujan belum berhenti juga. Seorang laki-laki bernama Chen jauh lebih penting untuk dipikirkan menurutnya.

‘Haah~ Sedang apa dia sekarang?’ batin Eunhee. Ia tahu bahwa membatin seperti itu tidak lah menjawab pertanyaannya. Yang ada dia akan semakin penasaran. Menelpon atau setidaknya mengirimi lelaki itu pesan adalah cara yang harus dilakukannya. Mengurangi rasa penasarannya atau lebih tepatnya rasa rindu yang tengah memuncak. Tapi entah apa itu, rasanya sebagian hatinya berkata ‘Tidak, jangan menghubunginya. Kita tunggu saja sampai ia memberi kabar’.

Eunhee kembali menyesap cappuccino pesanan nya sambil melirik ponselnya. Berharap ―setidaknya― ponsel itu bergetar dan mengedipkan lampu warna-warni. Tapi sepertinya harapannya pupus. Sampai tiga potongan muffin coklat masuk ke kerongkongannya pun ponselnya tidak menunjukkan pergerakan apa-apa. Diam di tempat, tak bergetar atau bahkan menyala penuh warna. Eunhee mendesah pasrah seraya meraih ponselnya mencoba menonaktifkan. Dia sedang ingin sendiri, pikirnya. Sendiri menikmati rinai hujan di luar sana sambil berharap setelah hujan itu reda rasa rindu dalam dirinya bisa menguap, menghilang begitu saja.

***

Langit menggelap dan bintang mulai berani menampakkan dirinya di peraduan malam. 1 jam yang lalu hujan telah berhenti dan kehidupan Seoul mulai normal kembali. Eunhee beralih posisi tengah duduk di sebuah taman kecil dekat apartmentnya. Entahlah. Rasanya ia masih enggan kembali. Eunhee memilih menikmati untaian musik dari gemerisik air mancur di taman itu. Seolah mencari ketenangan di dalamnya. Karena sungguh, 1,5 jam telah berlalu hatinya tetap tak nyaman akibat rindu yang membuncah. Justru sebaliknya. Rindu itu semakin membuat hatinya menjerit-jerit tak terhingga.

Eunhee memperlihatkan ekspresi tidak suka dan penuh rasa iri saat dua orang yang tepat duduk di belakangnya tengah berbincang cukup mesra. Menggelitik gendang telinganya yang entah kenapa membuatnya panas. Pasangan itu seolah menyindir Eunhee yang sekarang tengah sendirian dan… Kesepian? Eunhee mendengus tak suka seraya mencoba mengalihkan objek penglihatannya menuju sang bulan yang masih sungkan menampakkan kesempurnaan dirinya. Seketika sekelebatan film memori terlintas di benak Eunhee. Memori dirinya, bulan, dan orang di distrik Seoul lainnya yang ia rindukan.

***

FLASHBACK

7th December, 2012, 8:05 PM

EXO-K Dormitory Balcony, Gangnam-gu, Seoul

“Kau sedang apa, Eunbee-ya?” tanya Chen ketika dirinya melihat Eunhee tengah menyendiri di balkon sambil melihat pemandangan Seoul dari sana. Eunhee yang kaget mendengar suara lembut kekasihnya itu, menoleh ringan dan tersenyum singkat.

“Aku hanya sedang menikmati pemandangan dari sini, Oppa. Aku sedang tidak ingin merusak telinga ku dengan mendengar teriakan Baekhyun Oppa.” tawa Eunhee. Chen tersenyum mendengar penuturan gadisnya. Dirinya sempat heran, khawatir, dan sedikit panik tadi karena tidak mendapati gadis kesayangannya berada di kerumunan orang-orang yang tengah bermain kartu itu.

Chen berdiri di samping gadisnya dan ikut menikmati pemandangan Seoul malam itu. Sangat indah. Tampak para bintang berkerumun mengerlap-ngerlipkan cahaya mencoba menyaingi pesona sang ratu malam. Chen dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah Eunhee yang menghembuskan nafas tak bersemangat. Chen menautkan kedua alisnya merasa janggal. Eunhee yang merasa diperhatikan berpaling menatap Chen dan bisa merasakan tuntutan penjelasan ‘ada apa’ yang diutarakan kekasihnya itu.

“Tak apa Oppa. Aku baik-baik saja kok. Oppa tidak perlu khawatir.” kata Eunhee menenangkan. Tapi Chen tidak langsung merasa puas dan lega begitu saja. Dia masih butuh penjelasan.

“Ck, Oppa! Baiklah. Aku hanya memikirkan sesuatu. Itu saja.”

“Sesuatu apa?” balas Chen cepat. Eunhee tersenyum sejenak dan menjawab rasa penasaran pria di sampingnya itu.

“Di novel yang aku baca belakangan ini, sepasang kekasih yang terpisah menyalurkan perasaan rindunya lewat bulan, Oppa. Aku heran bagaimana bisa mereka melakukannya, tapi aku percaya saja. Mereka saling melihat bulan saat mereka rindu akan pasangan. Eng, aku hanya berpikir eng… Mungkin― maksud ku kit―kita. Bagaimana cara nya menyalurkan err… Rindu itu Oppa?” tanya Eunhee dengan semburat merah yang menghiasi pipinya. Chen tertawa pelan mendengar pertanyaan kekasihnya itu. Singkat, Chen segera menjawab.

“Kita harus saling menelpon, mengirim pesan dan berbagi kabar Eunbee-ya. Katakan saja sejujurnya kalau kau merindukan ku. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Bukankah kita saling berjanji untuk terbuka akan perasaan masing-masing?”

Eunhee menggangguk pelan, “Tapi tidak setiap saat Oppa free kan? Apalagi akhir-akhir ini. Oppa dan EXO sangat sibuk. Kita tidak mungkin saling bertukar pesan setiap saat.”

“Tunggu, jadi kau merindukan ku setiap hari― ani, setiap saat Eunbee-ya?” tanya Chen dengan perasaan senang yang bergejolak di hatinya. Tapi perasaan itu sedikit ia kamuflasekan dengan nada godaan. Tepat! Eunhee menunduk menyembunyikan wajah malunya mendengar hal itu. Chen tertawa, tetapi terhenti saat dia terpikir suatu hal.

“Kau benar. Terkadang ponsel tidak selalu berada di tangan ku. Manager hyung menyimpannya. Baiklah, kita gunakan saja cara pasangan tadi.”

Eunhee mengernyitkan dahinya, “Maksud Oppa?”

“Kita salurkan rasa rindu kita lewat bulan. Aku akan menelpon mu, paling tidak memberi pesan setelahnya. Dengan melihat bulan, kita saling mengabari bahwa kita saling merindukan satu sama lain. Saling ingin mengetahui kabar satu sama lain. Dengan memandang bulan, kita diingatkan untuk segera dan secepatnya saling melepas rindu. Kau tinggal melihat bulan Eunbee-ya. Setelahnya aku akan segera dan secepatnya mengabarimu.”

“Bisakah?”

“Percayalah dengan ikatan batin kita, Eunbee-ya.”

Chen tersenyum lembut ke arah Eunhee. Entah kenapa Eunhee merasa sangat tenang melihat senyuman itu. Dalam hati dia berjanji akan berusaha sabar dan memahami kesibukan kekasihnya. Dia percaya dan berjanji menuruti untuk melihat bulan jika ia rindu akan Chen. Keduanya hanyut dalam keindahan senyum lembut yang dilemparkan satu sama lain. Setelahnya mereka berdua kembali menikmati pemandangan malam bersama-sama dalam keheningan.

Tunggu! Hening? Dorm EXO… Hening? Ah~ ternyata 14 pasang mata, EXO member dan gadis mereka tengah asik menyaksikan ‘drama’ romantis di balkon.

“Cih. Bulan? Mereka percaya hal semacam itu? Tidak ku sangka Jongdae hyung bisa seperti itu.” cibir sang maknae.

“Ssst, diamlah Sehun-ah! Tidakkah kau tau video romantis nan langka ini akan cacat dengan cibiran mu itu. Kau mau merusak bukti berharga kita? Aish! Kenapa mereka tidak berpelukan sih!” bisik Minseok dengan handycam di tangannya.

END OFF FLASHBACK

***

Eunhee tak tahan lagi untuk tidak menangis setelah memori itu melintas di benaknya. Ditambah rasa rindunya yang semakin tak terbendung.

“Kau bohong, Oppa! Aku dengan bodohnya selalu melihat bulan tapi kau tidak mengabari ku sedikitpun. Bahkan saat jarak kita hanya terpisah oleh distrik.” pekik Eunhee. Dia tak kuat lagi menahan semuanya. Hening malam dihabiskan Eunhee dengan menangis. Meluapkan rasa di hatinya yang sangat sakit, karena rindu itu belum juga terobati.

Sampai pada pukul 11 malam, Eunhee yang telah kembali berada di apartmentnya sekitar 2 jam yang lalu tampak tak berniat melakukan apapun. Makan malam pun dilewatkannya begitu saja, tak selera. Dia tengah duduk di atas kasurnya bertemankan laptop yang menyala. Bahkan malam ini dia tidak berniat memperbarui koleksi foto idolanya. Pandangan Eunhee teralih pada benda tipis berwarna putih yang tergeletak begitu saja di pinggir kasur ―ponselnya. Diraihnya ponsel itu dan mengaktifkannya. Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan menghiasi layar ponsel itu setelah baru saja dihidupkan kembali

From: Dae Oppa

Sedang apa, Eunbee-ya?

From: Dae Oppa

Eunbee, kau dimana? Mengapa pesan ku tak dibalas?

“Cih. Mengapa tak dibalas? Dia sendiri kemana saja?”

From: Dae Oppa

Shin Eun Hee, aku mohon! Katakan kau dimana sekarang? Mengapa ponsel mu tidak aktif? Aku mengkhawatirkan mu Eunbee-ya. Jebal. Balas pesan ku.

Eunhee tertawa lirih dengan uraian air mata yang kembali. membasahi pipinya. Dia tak tahu lagi apa dan bagaimana yang pasti perasaannya tengah kacau sekarang. Ponselnya bergetar menampilkan sebuah panggilan dari kontak “Dae Oppa ♡”. 3 kali panggilan itu dia abaikan sampai akhirnya dia menyerah dan mencoba mengangkatnya.

“Eunbee-ya…” panggil suara di seberang sana.

“Mwohaeyo?” sahut Eunhee dingin. Dia tidak bisa menemukan nada yang pas selain nada dingin yang barusan ia lontarkan.

Chen yang mendapati hal itu pun dibuat tersentak. Dia mendesah pelan sembari merutuki kelakuannya yang tidak mengabari Eunhee sedikitpun akhir-akhir ini. Jika boleh ia mengutarakan alasan, beberapa hari ini EXO sangat disibukkan dengan persiapan performance special mereka di GDA nanti. Belum lagi persiapan album baru mereka. Management benar-benar menuntutnya untuk fokus dan memperbanyak latihan. Sampai-sampai saat istirahat tiba, ―saking― lelahnya dia lupa meminta kembali ponselnya. Dia mengerti perasaan Eunhee dan bersalah karena itu. Dia yang berjanji tapi dia juga yang belum menepatinya. Chen mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Lelaki itu mencoba untuk menenangkan dirinya saat ia mendengar isakan kecil di ujung telepon itu.

“Uljima.” balas Chen. Seketika hening kembali mendominasi keduanya. Yang sesekali terdengar hanyalah isakan Eunhee yang begitu menyayat hati Chen. Dia telah membuat gadisnya menangis.

Keheningan yang mendominasi lama-lama membuat Chen tak tahan dan beranjak mengangkat suaranya terlebih dahulu, “Kau merindukanku?”

Hening. Eunhee tak menjawab pertanyaan itu. Bodoh! Apa maksud laki-laki ini? Tidakkah ia tahu bahwa dirinya sangat merindukan Chen? Dia anggap apa hati Eunhee? Mainan? Bodoh! Kau bodoh Kim Jongdae!

“Arrasseo. Bukalah pintu apartment mu, Eunbee-ya.”

Tawa sinis tercetak di wajah Eunhee. Kim Jongdae, kali ini apalagi?

“Jangan bercanda Chen-ssi. Kau pikir ak―”

“Buka pintunya, Shin Eunhee.” potong Chen dengan rahangnya yang mengeras. Eunhee memanggilnya dengan sebutan Chen dan bukan Oppa. Terlebih lagi embel-embel ssi. Benar-benar buruk.

Nada tegas dari perkataan Chen membuat Eunhee terkejut. Eunhee tahu persis kalau sudah begini Chen tidak mungkin main-main. Terlebih lagi mendapati apa yang dilihatnya di interkom. Laki-laki yang dirindukannya tengah berdiri di depan pintu apartmentnya dengan tangan yang masih menempelkan ponsel di telinga.

Perlahan pintu apartment itu terbuka dan memperlihatkan Chen yang dengan cepat mematikan panggilan di ponselnya. Baru beberapa detik Eunhee mengerjapkan mata, tubuhnya telah berada dalam rengkuhan hangat milik Chen. Air mata tak kuasa Eunhee bendung. Pelukan ini, betapa ia merindukan sosok yang tengah memeluknya sekarang.

“Aku merindukanmu, Eunbee-ya. Sangat. Maafkan aku baru mengabarimu. Mianhae. Uljima” lirih Chen yang semakin mengeratkan pelukannya. Tak ingin Eunhee pergi dari dekapannya. Tangisan Eunhee semakin deras. Perlahan, Eunhee membalas pelukan Chen. Eunhee ingin Chen tahu bahwa dirinya juga sama rindunya, bahkan lebih mungkin.

Di luar sana hujan mulai turun seolah ikut terharu memandang dua insan yang tengah berpelukan itu. On this rainy day, sebuah kecupan singkat nan hangat di puncak kepala Eunhee menjadi pertanda bahwa kerinduan mereka perlahan mulai terobati.

― Kkeut ―

Iklan

4 thoughts on “DaeHee Entrée : On This Rainy Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s